Agar terjangkit virus Bibliomania

Oke D’Riser, kini saya mo berbagi  tips, agar kita gak terjangkit virus  bibliomania:

  1. Pastikan dulu apa manfaat terbaik buku bagi kamu? pasti banyak, kan? jadi siapkan diri untuk membaca dan  memahami isinya;
  2. Ambil buku fave kamu itu yang kamu yakini dapat memahami sekaligus mengamalkannya!
  3. Kalo isi buku tadi bukanlah buku yang layak diamalkan, pastikan juga kamu memilih buku tadi sekadar reference  ato pembanding agar kamu bisa  mengkritisi buku sejenis:
  4. Kalo kamu bermaksud ngoleksi, pastikan kamu pun bisa merawatnya dengan baik, jangan sampai berdebu  apalagi sampai jamuran;
  5. Tapi kudu diinget juga, kamu-kamu jangan sekadar membaca dan ngoleksi buku doang, tapi harus ada  outputnya dari hasil membaca buku-buku tadi, yaitu berkarya. Ayo kita  menulis?! Lagi dan lagi….[

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Writer isn’t Bibliomania 2

Majalahdrise.com – Saat maen ke rumahnya yang juga  bergaya kolonial, saya dibuat takjub  menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya  yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu  berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya  buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah!  Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800.  Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu  rela ngeluarin jutaan rupiah duitnya demi  mendapatkan semua buku klasik tersebut.  Dia ngaku gemar berburu buku buluk  (sebuah istilah yang ngetrend di kalangan  para kolektor dan kurator untuk menyebut  buku lama ato jadul) itu, setelah  menggandrungi kajian teosofi yang populer  di masa pemerintahan Hindia Belanda.  Buku-buku bertema teosofi dari beragam  bahasa di bawah taon 1950, pasti dia embat  untuk dikoleksi di perpustakaan pribadinya.  Namun, saat saya bertanya apakah  dia membaca semua buku koleksiannya itu?

Kawan saya itu hanya menjawab  diplomatis dengan senyum dan  gelengan kepala. Dia mengaku  tak punya kemampuan untuk  membaca semua buku  berbahasa asing tadi, dia hanya  tetarik untuk berburu dan  mengoleksinya saja. Saat saya  iseng bertanya, bolehkah saya  memiliki atau membeli salah  satu buku koleksinya itu, dengan  tanggap dia menyatakan tidak  akan pernah melepas bukunya itu dengan  harga berapapun! Nah, lho?!

Jujur aja neh, kekaguman saya langsung  nguap begitu saja. Kawan di komunitas interpreter sejarah ini hanya memperlakukan  buku sebatas koleksi tanpa mengambil manfaat  dari buku tersebut. Ia tidak dapat memahami  isi buku koleksiannya itu karena tidak mampu  membacanya, ia tidak mengerti bahasanya. Ia  hanya terobsesi untuk memilikinya saja. Kawan  saya ini sudah terjangkit virus bibliomania! Trus, apakah seorang penulis juga dapat  terjangkit virus bibliomania kek tadi? Hehehe…  seorang penulis yang gandrung sama buku  sebagai bagian dari habitsnya itu, sangat  mungkin terjangkit virus bibliomania ini,  ngoleksi buku tanpa tahu isinya, nyimpen  banyak buku tanpa sedikit pun membacanya!

Nah, bibliomania itu tak selayaknya  menghinggapi para penulis karena bagi  seorang penulis, buku adalah kawan setia  untuk menyelami ilmu dan mendalami  pengetahuan, buku bukanlah sekadar pajangan  yang hanya menghiasi rak-rak perpustakaan,  namun buku adalah amunisi paling dahsyat  yang dimiliki oleh para penulis. Catet, ya?! []

di muat di majalah Remaja islam Drise 49

Islam itu Satu

Majalahdrise.com – Driser, hati-hati kesambet JIN, eh  kebawa opini Jaringan Islam Nusantara.  Tuhan kita satu. Rasul kita satu. Agama kita  juga satu. Nggak dibagi-bagi sesuai tempat  tinggal kita. Allah mengingatkan kita: Sesungguhnya umat [agama] kalian ini  adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah  Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (TQS  al-Anbiya’ [21]: 92).

Kata “ummat” pada ayat di atas  diartikan oleh para mufassir dengan agama (millah). Maknanya jelas, yakni agama kita,  Islam, itu satu. Tidak terbagi dan tidak boleh  dilabeli kata-kata yang meracuni. Kata  “ummat” itu juga bisa diartikan secara  bahasanya, yaitu umat. Karena itu Islam  adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak  ada “Islam Nusantara”, “Islam Turki”, atau  “Islam Arab”. Umat Islam pun hanya satu.  Tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat  Islam Arab” atau yang lain. Semuanya  adalah Islam dan umat Islam. Catet tuh! Karena Islam satu, nggak perlu ada  lagi label Islam pake nama daerah atau  wilayah.

Justru Islam membenci adanya  fanatisme daerah alias nasionalisme yang  bikin umat Islam terpecah belah. Nggak  peduli satu sama lain cuman lantaran beda  ras, negara atau suku. Jelas banget rasul  mengingatkan, “Bukan termasuk umatku  orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan  termasuk umatku orang yang berperang atas  dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku  orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah  (nasionalisme dan tribalisme).” (HR Abu  Dawud).

Biar nggak gampang kena jebakan  betmen Islam Nusantara, ada baiknya kita  kenal islam lebih dalam. Jangan cuman  tahu aturan ibadahnya aja. Tapi juga paham  Islam sebagai aturan hidup yang beda  dengan ajaran agama lainnya. Dengan  begitu, kita punya tameng buat menangkal  pemahaman sesat yang bisa merontokkan  akidah kita. Dan tetap bangga sebagai  muslim calon penghuni surga. Islam  Nusantara? Ke laut aja..!#YukNgaji!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49