FENOMENA FATIN

Sebagian besar pemirsa televisi dalam negeri, pasti kenal Fatin. Lengkapnya  Fatin Shidqia Lubis. Cewek keturunan Batak-Betawi ini sukses mengguncang  Spanggung kontes pencarian bakat dengan talenta suara emasnya yang  membahana hingga mancanegara. Tak bisa dipungkiri memang kalau dara berusia 16  tahun ini mendadak dikenal bak roket buah performanya kala membawakan lagu  “Grenade” dan “Pumped up kicks”.

Bahkan Di website resmi Bruno Mars  terpampang video Fatin saat audisi X Factor Indonesia. Bukan hanya suara emasnya yang menarik perhatian publik. Fatin selaku  remaja musilmah, juga konsisten untuk tetap berkerudung saat unjuk gigi.

Hal ini  makin menguatkan kesan ‘islami’ pada diri Fatin. Muslimah yang bisa menembus  gemerlapnya dunia entertainment tanpa harus melepas identitas keislamannya,  yaitu kerudungnya. Pada titik inilah Fatin menjadi ‘fenomena’. Namun sebenarnya ada bahaya besar yang sedang mengintai Fatin. Dunia  entertaint adalah dunia yang sangat dekat dengan kemaksiatan. Kehidupan hedonis  tak jarang mengggiring para penghuni dunia hiburan terjun dalam pergaulan bebas,  narkotika, minum-minuman keras, dan hura-hura. Sekuat apapun seorang muslim  bertahan di dalam dunia yang bergelimang, kemungkinan besar dia akan terseret  arus juga. Karena setan akan terus menggoda.  

Keberhasilan Fatin menembus belantara dunia entertaint jangan sampa bikin  kita ternganga. Sampai lupa bahwa kewajiban menutup aurat bagi muslimah di  tempat umum, bukan cuman kerudung. Tapi juga harus dilengkapi dengan jilbab.  Dunia entertaint juga sarat dengan aktifits ikhtilat alias campur baur laki dan  perempuan yang dilarang dalam Islam. Belum lagi tuntutan tampil menarik dengan  bertabarruj tak bisa dihindari. Berpakaian tapi telanjang. Begitu kata Rasul.

 So, pikir-pikir lagi deh kalo mau ngikutin jejak Fatin dalam kontes pencarian  bakat. Kita akan sering dihadapkan pada kondisi yang memaksa kita untuk  berkompromi. Antara ketaatan dan kemaksiatan. Sialnya, setan selalu lebih unggul.  Masih lebih banyak kegiatan lain yang lebih syar’i dan berpahala buat kita. Ikut ngaji  dan aktif berdakwah adalah pilihan terbaik. Yuk![Isa

PALESTINA NEGERI MULIA YANG TERNODA

sidang Majelis Umum PBB, Kamis, 30 November 2012 dengan  suara mayoritas mensahkan peningkatan status Palestina di  PBB dari “kesatuan” jadi “negara non-anggota” sebagai  S bentuk pengakuan simbolis dan tersirat badan dunia itu  terhadap negara Palestina.

Katanya sih ini kabar gembira buat umat  Islam sedunia. Lantaran penyelesaian konflik Palestina Israel seolah  ada kemajuan dengan pengakuan dua negara merdeka di Palestina  (two state solution) seperti yang diusulkan oleh Amerika.  Padahal, nggak semulia itu niatan PBB dan negara adidaya  untuk mengakhiri krisis Palestina.

Gimanapun juga, Palestina nggak  akan pernah merdeka bin berdaulat selama bangsa kera zionis  Israel masih bercokol di sana. Karena inti masalah Palestina adalah  perampasan wilayah oleh bangsa zionis Yahudi. Bangsa tak  diundang yang urat malunya udah putus. Gimana nggak, kaum  zionis narsis itu dengan seenaknya mengusir pemilik rumah,  merampas harta bendanya, bahkan mengakui kalo tanah Palestina  adalah miliknya.

 Idih, gak malu apa ngaku-aku tanah milik orang? Kemuliaan Negeri Palestina Konflik berkepanjangan di jalur Gaza dan sekitarnya selalu  memicu solidaritas muslim sedunia. Mulai dari pengiriman bantuan  obat, makanan, kemanusiaan, hingga relawan jihad. Penggalangan  aksi solidaritas gencar digelar karena tanah Palestina memiliki  status yang cukup istimewa dalam sejarah Islam. Mau tahu atau  mau tahu banget? Berikut diantaranya:  

  1. Di Palestina ada Masjid al Aqsha al Mubarak. Masjid al Aqsha merupakan qiblat pertama kaum muslimin sebelum dialihkan ke Ka’bah. Disunnahkan untuk pergi dan mengunjungi masjid al-Aqsha. Shalat di dalamnya dilipatgandakan  sampai 500 kali shalat di masjid lain. Rasulullah saw bersabda,  “Shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100 ribu kali shalat,  dan shalat di masjid saya sebanding dengan 1000 kali shalat, dan  shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) sebanding dengan 500 kali  shalat.”  
  2. Palestina adalah tanah yang diberkati Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sesuai dengan apa  yang ditegaskan dalam al Quran  al Karim. “Maha Suci Allah, yang  telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil  Aqsha yang telah Kami berkahi  sekelilingnya agar Kami  perlihatkan kepadanya  sebagian tanda-tanda  kebesaran Kami. Sesungguhnya  Dia adalah Maha Mendengar  lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Israa’: 1)
  3. Palestina adalah tanah suci. Ini berdasarkan nash al Quran, di mana Allah swt  berfirman lewat lisan Nabi Musa  ‘alaihis salam,  Artinya: “Hai  kaumku, masuklah ke tanah suci  (Palestina) yang telah ditentukan  Allah bagimu, dan janganlah  kamu lari kebelakang (karena  kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang  yang merugi.”
  4. Palestina adalah tempat isra’nya Nabi Muhammad saw. Allah swt telah memilih Palestina sebagai tempat isra’nya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu  bermi’raj ke langit. Dengan peristiwa ini Allah memuliakan dan  mengagungkan Masjidil Aqsha dan tanah Palestina, dengan  menjadikan Baitul Maqdis sebagai pintu menuju langit. Di  Masjidil Aqsha Allah kumpulkan para nabi bersama Nabi  Muhammad saw untuk shalat berjama’ah yang diimami oleh  beliau.  

Drise, demikian beberapa kemuliaan yang Allah berikan  pada negeri Palestina. Kebangetan kalo ada umat Islam yang  nggak peduli dengan krisis Palestina. Diragukan tuh  keislamannya.  Asal-Muasal Konflik Palestina Palestina berada di bawah kekuasaan Islam saat Umar bin  Khathab ra berhasil menaklukkannya pada tahun 15 H dan  menerima (kunci)-nya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka  menyepakati perjanjian masyhur, yaitu perjanjian Umariyah, yang  di antara isinya (atas permintaan orang Nasrani yang tinggal di  sana) adalah:

“Tidak boleh satu orang Yahudi pun untuk tinggal  di daerah Palestina”. Catet tuh! Pada masa pemerintahan khilafah Abdul Hamid, kaum  Yahudi yang nggak punya tempat tinggal (idih, kayak gelandangan  aja…) berusaha menjadikan Palestina sebagai tempat mukimnya.  Dengan bantuan Inggris, mereka berupaya memicu timbulnya  krisis keuangan di Negara Khilafah Ustmaniyah.

Lalu Hertzl,  pemimpin senior Yahudi saat itu (1901 M), menawarkan  sejumlah uang kepada Khalifah untuk memulihkan ekonomi  Daulah Khilafah. Tapi dengan syarat, kaum Yahudi dibolehkan  tinggal di Palestina.  Namun, Khalifah Abdul Hamid  dengan tegas menolak tawaran Hertz.  Beliau menjawab: “Sungguh aku tidak  bisa melepaskan bumi Palestina walau  hanya sejengkal. Bumi itu bukan  milikku, melainkan milik umat Islam.  

Bangsaku telah berjihad dalam  mempertahankan bumi tersebut dan  telah menyiraminya dengan darah-darah mereka. Lalu Yahudi itu  meminta untuk orang-orang mereka,  dan jika negara Khilafah suatu hari  hancur, maka sungguh mereka pada  saat itu akan dapat mengambil  Palestina secara cuma-cuma. Namun,  selama aku masih hidup,  tertanamnya pisau bedah pada  tubuhku lebih ringan bagiku daripada menyaksikan Palestina  terlepas dari Negara Khilafah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi.  Sungguh aku tidak akan setuju untuk mencabik-cabik tubuh kita  sendiri, padahal kita masih hidup.” Pada tahun 1917 (menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah)  dalam perang dunia I, Inggris berhasil menduduki Palestina. Lalu  Inggris menetapkan sebuah Perjanjian Balfour.

 Isinya, Inggris  menjanjikan kepada Yahudi untuk dapat menduduki Palestina dan  mendirikan negara bagi mereka di sana.  Usai perang dunia II, PBB seolah mengamini rencana Inggris  dengan mengeluarkan resolusi No. 181 tanggal 29/10/1947. Isi  resolusi itu, menetapkan pembagian daerah Palestina menjadi dua,  antara penduduknya dan kaum pendatang yang merampasnya. Lalu  Inggris merekayasa perang antara para penguasa Arab yang  menjadi bonekanya, dengan Yahudi sebagai bentuk penolakan  pendirian negara Yahudi di Palestina. Padahal hasil akhirnya sudah  ditentukan oleh Inggris. Yahudi sebagai pemenang sehingga bisa  mendeklarasikan negaranya pada tanggal 05 Mei 1948 dengan  menguasai sebagian besar wilayah Palestina.

 Sialnya, PBB yang katanya penjaga perdamaian dunia malah  memasukkan negara penjajah Israel sebagai anggota PBB pada  tanggal 18 Maret 1949. Nggak heran kalo Israel makin belagu  karena dilindungi oleh AS, Inggris, dan PBB. Huh, beraninya pake  bodyguard! Solusi Tuntas Hanya Dengan Islam! Gemes juga ngeliat konflik di jalur Gaza yang makin banyak  makan korban jiwa. Untuk kesekian kalinya Palestina berurai darah  dan air mata. Sejak 1946 hingga 2012, hujan mesiu dan desingan  peluru tak berhenti berburu mangsa. Saling bersahutan dengan  jeritan wanita yang diperkosa, pria dewasa yang tak bersenjata,  hingga anak dan balita yang meregang nyawa. Sampai kapankah  noda ini akan sirna? Bagaimana solusi total masalah Palestina? Dan  kepada siapakah ummat Islam bisa berharap?  Kepada PBB? Mustahil! Karena justru PBB adalah organisasi  yang melegalisasi pengakuan terhadap negara Israel. Coba cek,  sampai sekarang PBB nggak pernah ngasih sanksi kejahatan perang  yang telah dilakukan oleh AS dan Israel. Kepada AS?, No Way!

Karena negeri Paman Sam yang selama  ini menganak emaskan dan getol kirim bantuan baik secara fisik  dan pengaruh pada Israel. Obama dalam pidatonya di AIPAC  dengan jelas menyampaikan “Saya berjanji kepada Anda, bahwa  saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas  apapun, untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel, tapi juga  menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan  mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu”, dia pun  menjamin dana 50 juta dolar AS untuk membantu persenjataan  Israel.  Kepada organisasi HAM dan Demokrasi? Omong Kosong!  

Karena HAM dan Demokrasi adalah alat barat yang berstandar  ganda dan hanya digunakan untuk menyudutkan kaum muslim.  HAM ada ketika iraq dilengserkan untuk kepentingan minyak AS,  tetapi HAM hilang ketika ribuan muslim Palestina dibantai.  Demokrasi didengungkan dalam pemilihan presiden AS tetapi  bisu saat ummat Islam menginginkan dipimpin oleh sistem Islam. Kepada OKI (Organisasi Konferensi Islam)? Kacrut!

Karena  OKI hanya terdiri dari pengecut-pengecut yang berkumpul karena  ada kepentingan selain Islam dan sudah menjadi rahasia umum  bahwa mereka hanyalah boneka yang digerakkan AS. Arab Saudi  tidak pernah menggunakan perlengkapan senjatanya yang  bejibun untuk membela Palestina. Mesir malah menutup pintu  Rafah yang berhubungan langsung dengan Gaza serta  menangkapi aktivis Islam yang membela saudara mereka di  Palestina. Catet ya, masalah Palestina akan tuntas jika dan hanya jika  bangsa Zionis Yahudi angkat kaki dari bumi Palestina. Untuk itu,  cuma ada dua solusi paling jitu yang ditawarkan Islam.  Pertama, Jihad. Hanya jihad bahasa yang dimengerti oleh  kaum zionis.

Bukan meja perundingan, resolusi PBB, atau  gencatan senjata. Karena semua itu hanya akan menjadikan  bangsa kera itu makin belagu. Allah swt berfirman: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi  kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena  sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang  melampaui batas. (QS. Al-Baqarah [2]: 190) Kedua, Khilafah selaku Kepemimpinan Global bagi Kaum  Muslim. Khilafah-lah yang akan memimpin dan mengkomandoi  1,5 milyar kaum muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Yang  akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan  tanah kaum muslim. Rosulullah SAW bersabda:  “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat al-Khilafah telah  turun di bumi yang disucikan (al-quds) maka akan reda  kegoncangan, huru-hara dan perkara-perkara besar.” (HR. Hakim  dgn isnad shohih).

Nah driser, udah jelas dong hanya jihad dan khilafah yang  akan menyelesaikan krisis Palestina. Bukan yang lain. Coret dah  pilihan PBB, AS, Gencatan Senjata, Two State Nation atau OKI  dalam penawaran solusi. Mari arahkan perjuangan kita sama-sama menuju tegaknya kembali khilafah Khilafah Islam yang telah  dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Gak pake lama ya.  Berangkaat…! [341, dari berbagai sumber]

Untuk Siapa Kenaikan BBM?

Kenaikan harga BBM selalunya bikin senewen. Lantaran naeknya harga BBM otomatis  memicu kenaikan harga-harga barang dan jasa yang sangat penting buat kebutuhan  Kkita sehari-hari. D’Rise sempet nodong beberapa driser untuk minta pendapatnya  soal kenaikan harga BBM.

“Kebanyakan harga bahan pokok makanan ikut naik, ongkos naik, angkutan umum  juga jadi ikut naik,” kata Tsaqifah az Zahra. Cewek asal Bandung ini sangat menyayangkan  kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Doi nggak setuju banget kalo harga  BBM dinaikin, karena bisa menyengsarakan rakyat kecil.

Wah keren banget kawan kita ini,  masih mau mikirin rakyat kecil. Lain lagi dengan Ajeng, cewek asal Sragen ini bilang bahwa BBM bisa turun lagi  harganya kalo pemerintah punya hati. Sayangnya hati itulah yang nggak dipunyai  pemerintah, hehehe. Kalo kata kawan kita yang punya nickname Sang pembebas dan  tinggal di Makassar, harga BBM itu nggak bakalan turun, malah bakal terus naik kalo  sistemnya masih kapitalis.

Wah ngeri nian!  Obrolan D’RISE di atas senada dengan hasil survei terbaru dari LSI (Lingkaran Survei  Indonesia) yang mendapatkan sebanyak 86,6% rakyat Indonesia nggak setuju harga BBM  dinaikin. Ya jelas aja nggak setuju, karena kenaikan harga BBM ini bakal membawa  kesengsaraan baru buat rakyat yang dari dulu emang udah sengsara.

Emangnya kenapa sih kok pemerintah kebelet banget mau naikin harga BBM? Kalo  kata Tsaqifah, mungkin ada yang mau nyari untung atau bisa juga karena emang BBM-nya  yang udah langka. Ajeng lain lagi, dia bilang mungkin karena pemerintah banyak utangnya,  sumber dana yang lain lagi seret, jadinya BBM deh yang jadi korban. Komentar Sang  Pembebas lebih nyelekit lagi, katanya karena di sistem kapitalis itu emang nggak akan ada  kebijakan yang menguntungkan rakyat. Waduhh… Untuk mendukung kebijakan menaikan harga BBM ini pemerintah menyodorkan  seribu satu alasan (banyak alasan gitu deh).

Katanya subsidi BBM itu membebani APBN  (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), subsidi nggak tepat sasaran, harga minyak  dunia naik, dan sebagainya. Buat kita yang nggak ngerti cara ngitung APBN itu bisa jadi  kecele, dan bakal menganggap alasan pemerintah itu bisa diterima. Padahal kalo diteliti  lagi lebih dalam, alasan-alasan itu banyak banget kebohongan publiknya. Wah sampe  segitunya? Beneran! Anggaran subsidi BBM membengkak dari Rp. 129,7 triliun menjadi Rp. 160 triliun.

Emang bener terjadi peningkatan, tapi sebenernya subsidi BBM itu nggak seberapa jika  dibandingkan dengan belanja birokrasi. Antara rentang tahun 2005 – 2012 belanja  birokrasi naik sekitar 400%, yaitu dari Rp. 187 triliun menjadi Rp. 733 triliun. Apaan aja tuh  belanja birokrasi: ongkos kunjungan (jalan2) aparat pemerintah keluar negeri, naikin gaji  PNS (tanpa perbaikan kinerja PNS), beli baju dinas, renovasi banggar, bikin toilet, bikin  tempat parkir, bikin kalender, dan banyak lagi.

Selain itu pengeluaran yang sukses  membebani APBN adalah pembayaran utang dan bunganya. Katanya subsidi BBM pun salah sasaran, sebab banyak dinikmati oleh mobil berplat  hitam milik orang kaya. Padahal data pemerintah sendiri (data BPS tahun 2010)  menyebutkan bahwa BBM bersubsidi itu sebanyak 65% digunakan oleh kalangan  menengah ke bawah. Hanya 2% saja orang kaya yang menggunakan BBM bersubsidi.

Driser, makin jelas kalo kenaikan BBM bukan untuk kebaikan rakyat. Lalu untuk  siapa? Selidik punya selidik ternyata untuk mensukseskan liberalisasi minyak dan gas  (migas) sesuai permintaan IMF dan para investor asing yang menguasai sumber daya alam  minyak bumi di negeri kita. Para investor yang rakus itu, mau ngecer produk bbm mereka  melalui SPBU-SPBU pinggir jalan. Sayangnya harga BBM mereka kemahalan dibandingkan  pertamina.

So, biar pemerintah gak direcokin ama para investor asing dan IMF, harga BBM  dalan negeri dinaekin biar mendekati harga BBM para investor asing. Kok tega-teganya ya  pemerintah yang dipilih rakyat lebih memikirkan kepentingan asing daripada kepentingan  rakyatnya sendiri. Masih percaya ama pemerintah jahat model gini? [Isa]

Kebangkitan Islam : Just the matter of time

Sejak awal tahun 2011 lalu, gelombang kebangkitan  umat Islam bergejolak di Timur Tengah. Kondisi ini  Sbisa kita cium dari kejatuhan beberapa kepala negara  yang memerintah dengan tangan besi. Di awali dari  tumbangnya Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, mundurnya  Mubarak di Mesir, hingga berakhirnya rezim represif  Gadzafi secara tragis di Libya.

 

Saat ini beberapa wilayah  masih terus bergolak seperti Yaman dan Suriah. Malah  negara-negara yang selama ini dikenal benar-benar ‘under  control’ penguasanya pun dipastikan akan turut bergoyang  seperti Yordania, Saudi Arabia, Bahraian, dan lain-lain.  Tinggal tunggu waktu aja.  Gencarnya opini penerapan syariah Islam yang  mengisi ruang pemberitaan media massa nasional maupun  internasional, bikin masyarakat melek tentang jalan  kebaikan yang ditawarkan Islam untuk mengatasi  kebobrokan aturan sekuler kapitalis yang selama ini  mengatur kehidupan mereka. Bukan cuman melek, umat  Islam juga bergerak menuntut perubahan. Ini yang terjadi  dalam rangkaian aksi di Tunisia, Suriah, Libanon, atau  Mesir.

 

Gimanapun juga, Umat adalah pemilik sejati  kekuasaan. Sekuat apapun dukungan asing terhadap  sebuah rezim, jika umat telah bergerak untuk mengambil  alih kekuasaan, rezim tersebut akan jatuh. Kena deh!

Status Perubahan Hakiki: Pending! Siapa yang nggak sumringah ngeliat tanda-tanda  kebangkitan Islam dan kaum Muslimin makin menguat di  Timur Tengah. Sayangnya arah kebangkitan belum berada  di jalur perubahan yang hakiki. Lantaran tuntutan  mayoritas umat Islam masih sebatas pada pergantian  rezim. Belum menyentuh persoalan dasarnya, yakni sistem  yang diterapkan. Kejadiannya persis saat aksi  penumbangan rezim order baru di negeri kita. Semua  masyarakat bersatu untuk menuntut lengsernya RI-1 yang  udah berkuasa selama 32 tahun.

 

Namun setelah lengser,  era pemerintah selanjutnya gak banyak ngasih kebaikan  buat masyarakat. Karena yang diganti cuman orang yang  duduk di pemerintah aja. Sementara sistem yang dipake  buat ngatur rakyatnya, masih stay tune dengan kapitalis  sekuler. Podo wae! Perubahan yang hakiki di negeri-negeri Islam  seharusnya mengandung 2 (dua) unsur utama agar  arahnya benar; Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah  maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk  mendirikan negara Khilafah, yang akan menerapkan Islam  secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam  dengan jihad ke luar negeri. Kedua, menolak secara total  segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan  tidak minta bantuan kepada asing. (Al-Waie [Arab], No  291, Rabiul Akhir 1432/ Maret 2011, hlm. 4).

 

Sementara yang tengah terjadi di Timur Tengah,  hanyalah ganti sosok penguasa aja, bukan perubahan  sistem menjadi negara Khilafah. Artinya, unsur pertama  tidak terpenuhi. Unsur kedua juga tidak terpenuhi karena  intervensi Barat, khususnya dari Amerika, Inggris, dan  Prancis telah berlangsung baik di Tunisia, Mesir, Libia  maupun; juga di negeri-negeri yang sedang bergolak kini,  yaitu di Yaman dan Suriah. Negara Barat segala  kecanggihan politiknya sukses membajak arah perubahan  Timur Tengah ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.  Berbagai cara digunakan Barat untuk membajak arah  perubahan ini. Yang terpenting ada 5 (lima) cara.

Pertama:  memanfaatkan politisi boneka.

Kedua: memberikan  bantuan ekonomi (utang).

Ketiga: melakukan intervensi  militer.

Keempat: mempropagandakan Islam moderat.

Kelima: mengendalikan media massa guna mempengaruhi  opini publik.

 

Nggak jelasnya arah perubahan yang  dikehendaki oleh umat Islam di Timur Tengah dengan jeli  dimanfaatkan oleh negara adi daya.  Media-media Barat mengopinikan bahwa rakyat di  Timur Tengah menuntut dilakukan demokratisasi dan  liberalisasi. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam aksi itu  pun tokoh-tokoh sekular, liberal, dan pro Barat, seperti  Muhammad Elbaradei, Amr Mousa, dan sebagainya.  Padahal tuntutan demokratisasi dan liberalisasi itu  bohongan, setidaknya bukan menjadi arus utama.  Sebaliknya, masyair dan syiar Islam justru sangat  menonjol. Tuntutan penerapan syariah juga banyak  disuarakan di tengah kerumunan massa di Lapangan Tahrir  Kairo, Alexandria dan wilayah-wilayah Mesir lainnya.  Demikian pula yang terjadi di Yaman, Suriah, Libya, dan  lain-lain. Tapi semuanya ditutup-tutupi oleh musuh-musuh  Islam yang menguasai media massa. Untuk melakukan perubahan hakiki, setidaknya ada  tiga pemahaman yang harus dimiliki.

Pertama:  pemahaman mengenai buruknya realitas yang sedang  berlangsung.

Kedua: pemahaman tentang realitas yang  menjadi penggantinya, yakni sistem yang menjadi  alternatifnya.

Ketiga: metode yang tepat untuk melakukan  perubahan itu. Nah, dua hal terakhir ini yang belum dimiliki secara  sempurna. Akibatnya, perubahan hakiki tidak terjadi.  Bahkan seperti yang kita saksikan, tuntutan mereka bisa  dibajak dan dibelokkan oleh negara-negara penjajah.  Capek deh!

 

Secercah Harapan, Sebuah Keniscayaan Negara Barat yang urat malunya udah putus, boleh  aja ngaku-ngaku paling berjasa mendorong perubahan di  Timur Tengah. Amerika, Inggris, dan Prancis yang paranoid  dengan kebangkitan Islam silahkan aja membajak  perubahan di Timur Tengah. Namun demikian, ada hal  yang nggak bisa mereka klaim apalagi dibajak, yaitu  kesadaran umat akan kebobrokan sistem Kapitalis sekuler.

 

Realitas ini dapat melahirkan keberanian pada diri umat  untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar. Sebuah pesan yang jelas bergemuruh di jalanan kota  Sanaa setelah sholat Jumat (10/2), saat puluhan ribu  demonstran Yaman menyatakan bahwa revolusi mereka  akan terus berlanjut hingga orang-orang Yaman yakin  terhadap semua tuntutan mereka. Para pengunjuk rasa  juga menyatakan bahwa pemilu presiden mendatang  adalah rencana para kapitalis yang bertujuan untuk  memalingkan tuntutan rakyat Yaman yang sebenarnya  sehingga banyak diantara mereka mengumumkan tidak  akan berpartisipasi dalam pemilu, dan akan terus turun ke  jalan untuk menyerukan jatuhnya kapitalisme dan  kebangkitan Islam. Sementara Franklin Lamb, seorang pengamat dan  pengacara internasional mengatakan, kebangkitan Islam  saat ini begitu luas dan begitu dalam.

 

Gerakan ini tidak  hanya terjadi di Timur tengah dan Asia, namun juga  mempengaruhi publik Amerika Serikat, Eropa dan berbagai  belahan dunia pada umumnya. Protes juga menyebar ke  AS dan Eropa, di mana demonstran bangkit untuk  melawan kapitalisme dan korporatisme. Sedangkan di sisi  lain ekonomi Islam terus mendapat perhatian dunia barat  menjawab sistem ekonomi baru ke depan. (republika.co.id,  29/1/2012).

 

Driser, secara i’tiqadi, kita yakin bahwa kekuasan  hakiki di tangan Allah SWT. Dialah yang memberikan atau  mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Kekuasaan, sebagaimana umur manusia, juga ada ajalnya.  Nggak ada yang awet. Sekuat apa pun kekuasaan itu  dipertahankan, kalo udah waktunya, bakal lengser juga.  Inilah yang dialami oleh para penguasa Timur Tengah dan  lainnya. Kita juga yakin kuadrat kalo janji pertolongan Allah  SWT seperti disebutkan dalam QS an-Nur [24]: 55 bakal  kejadian.

 

Kabar gembira tentang tegaknya Khilafah juga  udah diberitakan dalam banyak Hadis Nabi saw. Salah  satunya dalam riwayat Ahmad, Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah akan datang setelah masa mulk[an] jabriyyan  (penguasa diktator), mulk[an] ‘adhdh[an] (penguasa yang  menggigit).  Belum lagi fakta yang ada di depan mata  menunjukkan kehancuran Ideologi Sosialisme. Dan  Kapitalisme juga sudah gonjang-ganjing, keropos dan  banyak dikritik karena terbukti gagal  mensejahterakan manusia. Orang kafir saja ada  yang yakin tegaknya Khilafah.

 

Michael Loreyev,  direktur sebuah perusahaan dan Wakil Presiden  Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua  Duma (Rusia Assembly) memprediksi pada tahun  2020 akan muncul beberapa negara besar di  dunia. Salah satunya adalah Khilafah. Ini juga  sejalan dengan prediksi The National Intelligence  Counted menyebut kemungkinan munculnya  Khilafah baru pada tahun 2020.

 

So, udah seharusnya janji Allah dan kabar  gembira tentang kemenangan Islam dari  Rasulullah serta prediksi dari lembaga penelitian  orang kafir ditambah keseriusan negara-negara  kafir penjajah yang melakukan berbagai cara  untuk menghalangi perjuangan Khilafah semakin  menguatkan keyakinan kita bahwa mereka  kebangkitan Islam yang ditandai dengan tegaknya  Khilafah bukan utopia alias khayalan semata,  namun sebuah keniscayaan yang pasti terjadi.  Just a matter of time! [341]

 

Di muat di majalah drise edisi 20