Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial

Anak sekarang sibuk

main gadget melulu, deh!”

“Ngapain, sih, kamu tiap detik

kerjaannya cuma ngecek chat

sama media sosial?”

Eits,,.jangan baper ya. Sebagai orangtua, saya sering dapat keluhan seperti di atas dari ortu yang punya  anak remaja. Nggak cuman ayah dan ibunya, terkadang kakek-nenek, ortu, atau kakaknya juga ikut-ikutan ngomel.

Gimana nggak, hari gini remaja dan gadget itu ibarat dua sejoli. Kemana aja selalu barengan. Kalo udah gitu, yang lain dicuekin. Makanya kalo ortu pada bete.  Lagi diajakin ngomong, kepalanya nunduk bukan lantaran hormat.

Tapi lagi asyik updet status. Hadeuuh..! Ya emang gitulah potret kecil ukuran 2 x 3 dari generasi millenial. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di dunia maya daripada dunia nyata. Eksistensi mereka begitu massif dengan mengupload puluhan selfie, foto makanan, dan lokasi liburan eksotis di sosmed mereka setiap minggu.

Eksis abis! Btw, udahtahu generasi millenial kan? Hah, belum?! Hadeuh…#tepokjidat. Kalo gitu kita kenalan dulu deh dengan generasi millenial. Biar bacanya nyambung. Yuk! Generasi

Millenial adalah…

Ada banyak definisi tentang  karakter Generasi Millenial yang biasa disebut millenials, tetapi yang dipakai dalam tulisan ini adalah definisi versi Strauss dan Howe (2004). Menurut definisi Strauss dan Howe, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir tahun 1982-2004 (milenium), sehingga menjadi remaja dan dewasa di era 2000-an.

Termasuk kamu dong, ya? ± Pada tahun 2014, lembaga Crowd DNA mengadakan survei online terhadap 1,000 anak muda usia 13-24 tahun di Indonesia. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa teknologi benar-benar merevolusi cara anak muda saling terhubung. Sekitar 90% dari anak muda yang disurvei tersebut mengaku menggunakan teknologi untuk terhubung dengan teman-temannya dan 78% mengaku menggunakan media sosial tiap hari.

Pastinya! Anak-anak muda Indonesia terbukti memakai smartphone seharian dan 84% dari mereka mengaku nggak bisa keluar rumah tanpanya. Mereka lebih suka “nongkrong” di dunia maya (55%) daripada di mall (47%) atau kafe (42%) dan mereka punya rasa Fear of Missing Out (FOMO) alias takut nggak update atau ketinggalan  informasi kalau nggak terhubung dengan internet.  

Masih menurut sebuah studi yang dilakukan Crowd DNA untuk Facebook di 2014, pada 11.000 remaja dari 13 negara, termasuk Indonesia ditemukan bahwa remaja Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok Generasi Millenial yaitu HyperConnected, Architects, dan Explorers.

Kehidupan generasi HyperConnected (usia 13-15 tahun) berkisar antara keluarga dan teman-teman dan teknologi terjalin dalam setiap bidang tunggal kehidupan mereka. Kelompok ini menempatkan nilai tertinggi pada media sosial dan perannya dalam kehidupan  mereka.

Sementara kelompok Architects (usia 16-19 tahun) adalah kelompok yang bergairah tentang pendidikan dan mulai berpikir tentang masa depan dan tujuan hidup mereka. Mereka adalah kelompok yang paling terbuka untuk berbagi rincian kehidupan sehari-hari mereka. Sedangkan Explorers (usia 20-24 tahun) yang menggunakan teknologi lebih dari sekedar sarana untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga, tetapi juga sebagai jalan untuk belajar tentang penyebab dan budaya global saat mereka memasuki usia dewasa.

Mereka paling banyak terlibat dengan brand dan konten dari brand. Nggak heran kalo Millenials selalu dicari dan didambakan oleh para pemasar  dan brand. Lantaran generasi ini selalu terhubung, berubah-ubah tetapi memberi pengaruh sebagai penentu tren yang dapat membuat atau menghancurkan brand. Kebayang kan kalo mereka udah pada nyerocos di dunia maya tentang pengalaman buruknya pakai sebuah brand, viral!

Konsumtif, Digital, Anti Sosial

Millenials hidup di era digital  dengan segala kecanggihan teknologinya. Dari urusan pertemanan hingga pekerjaan, mereka sangat mengandalkan gadget dan internet untuk tetap terhubung satu sama lain. Sayangnya, generasi yang lebih tua sering mencap para millennials dengan stereotype yang sama, yaitu malas dan narsis! Benarkah? Mendingan kita intip yuk ciri-cirinya.

Gaya Hidup Digital Millenials memiliki karakteristik  yang khas. Lahir di zaman TV sudah berwarna, flat, LED, dan memakai remote dengan sajian siaran tv berlangganan dengan bejibun channel informasi, olahraga dan hiburan. Sejak masa sekolah, mereka juga sudah terbiasa menggunakan handphone.

Bahkan tiap keluar edisi terbaru, mupeng pengen ganti smartphone yang super canggih dan mumpuni.  Internet menjadi kebutuhan pokok Millenials. Mereka berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun dan kapanpun. Eksistensi sosial ditentukan ‘prestasinya’ di dunia maya. Mulai dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, hingga ikut latah cantumin #hashstag yang lagi viral.

Pokokya updet banget! Wajar kalo generasi millennial juga menghabiskan hidupnya hampir senantiasa online 24/7. Menurut riset Social Lab, 58  persen generasi millennial lebih rela  kehilangan indra penciuman, dari pada akses terhadap teknologi. Generasi millennial lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar.

Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel. Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi millennial sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya.

Banyak dari kalangan millennial melakukan semua komunikasinya melalui text messaging atau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line. Akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca.

Jadi, hampir semua generasi millennial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. Konsumtif Kepercayaan yang  amat tinggi terhadap tingkat keamanan bertransaksi di dunia maya—plus menjamurnya online shop—bikin Millenials lebih konsumtif. Kadang-kadang, konsumtif BANGET.

Apalagi dengan kemudahan pembayaran non tunai alias cashless, mereka makin terhanyut dalam gaya hidup sophaholic. Tinggal pilih barang yang mau dibeli, gesek di kasir, beres. Praktis! Terbukti, menurut survei CROWD DNA, metode pembayaran favorit Millenials adalah kartu debit (38%). Pokoknya kartu debit menjadi pilihan utama, dibandingkan e-banking (5%), mobile banking (7%), ataupun  uang elektronik (4%). Egosentris Millenials terbiasa mengutarakan  pendapatnya di publik dengan bebas, entah itu pendapat positif, negatif, mendukung, ataupun menyerang. Cek aja komen di akun sosial media artis yang lagi kena kasus.

Dijamin rame komentar pro dan kontra. Mereka memang nggak ragu untuk ngeluarin uneg-unegnya dengan memuji, mencela, termasuk spammer alias jualan di publik, hihihi. Millennials dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starb*cks, padahal di kosan hanya makan mie instan. Cuek aja, yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial.

Yang penting follower-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS.

Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita! Generasi kita juga dikenal cenderung idealis, egosentris, terlampau optimis dan tidak realistis. Saat terbentur masalah cenderung berpikir pendek, cari  jalan pintas dan lari dari kenyataan sambil bernyanyi “lumpuhkanlah ingatanku…”

Kontribusi Millenials

Internet tidak hanya mengubah  gaya hidup, tapi juga peradaban dan generasi. Melalui teknologi digital, generasi millennial tumbuh kreatif, berinovasi, dan membentuk ekonomi Indonesia.

Apalagi saat ini segala aktivitas selalu bersentuhan dengan internet. Mereka menemukan caranya sendiri untuk terhubung dan terkoneksi dengan orang lain lewat media sosial, seperti Twitter, Facebook, Path dan sebagainya.

Tidak ada lagi jarak, dan semua saling terkoneksi. Mereka merubah tatanan nilai dan gaya hidup selama ini menjadi serba digital. Dengan adaptasi teknologi, ide kreatif dan orisinil untuk mengakomodir semua aktivitas mereka jadi lebih mudah.

Muncullah berbagai inovasi gaya hidup digital yang revolusioner dan melahirkan sejumlah startup di Indonesia. Nadiem Makarim, yang juga merupakan bagian dari generasi millenial, membangun startup ojek online yang menjadi sebuah solusi di tengah macetnya ibukota Jakarta.

Tidak hanya itu, Gojek yang juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan para supir ojek, telah menciptakan tren baru di Indonesia, yang mana para millennial berlomba-lomba untuk menciptakan karya yang berdampak bagi masyarakat luas.

William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, adalah salah satu yang menggerakkan perubahan di dunia ecommerce. Dimulai dengan mendapatkan investasi sebesar 100 juta dolar Amerika dari Softbank dan Sequoia, perusahaan investasi yang telah mendukung sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Google, Whatsapp, lalu William memimpin pasukan millennial di Tokopedia, untuk menciptakan nilai tambah bagi para penjual dan pelanggan Tokopedia.

Tidak hanya di perekonomian. Banyak perubahan yang dibawa oleh millennials menggunakan platform digital. Kitabisa.com yang digagas oleh Alfatih Timur bersama Vikra Ijas, misalnya membawa perubahan di ranah sosial.

Peristiwa pembakaran Masjid Tolikara pada saat shalat berjamaah Idul Fitri 2015, banyak menimbulkan keprihatinan di berbagai lapisan masyarakat. Berkat platform crowdfunding untuk sosial Kitabisa ini, Pandji Pragiwaksono berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kembali masjid tersebut sebanyak Rp 300 juta hanya dalam waktu tiga hari. Jadi, nggak ada salahnya ‘kan Millenials berkutat dengan Internet dan media sosial? Karena potensi Millenials memang bisa berkembang pesat di sana. Hobi surfing di dunia maya juga nggak bikin Millenials kehilangan “akar” di dunia nyata, kok. Setuju?

Saatnya Berkarya dan Berkontribusi!

Nggak bisa dipungkiri,  tiap generasi ada plus minusnya. Senior kita yang hidup di era generasi X atau baby  boomers, ngerasa  generasi mereka yang terbaik dan memandang sebelah mata generasi millenial. Boleh jadi, kita pun bakal melakukan hal yang sama terhadap junior kita kelak. Podo wae! Sebenernya nggak penting generasi mana yang terbaik. Lantaran beda generasi, beda lingkungan dan sarana kehidupan.

Nggak bisa dipukul rata. Yang penting, setiap generasi wajib berkontribusi. Berlomba-lomba jadi pelaku kebangkitan umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya jadi penonton yang rusuh berkomentar di dunia maya tanpa kerja nyata.  

Dan kita selaku Millenials, nggak usah baper kalo dibilangin generasi malas bin narsis oleh para pendahulu kita. Boleh jadi banyak temen-temen kita yang kelakuannya kaya gitu sebagai bawaan era digital. Nggak perlu kita capek membela diri. Yang harus kita lakukan adalah tunjukkan dengan berkarya dan berkontribusi. Show, dont tell! Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?  

Pertama, mengenal Islam lebih dalam. Buat apa? Ish…ini penting banget tahu. Biar kita nggak gampang tergoda oleh kemaksiatan digital yang merajalela. Mulai dari content porno yang mudah diakses, upload foto narsis, atau omongan semau gue di sosial media. Kalo lagi sendiri, bisikan setan menemani, dengan kekuatan akidah kita bisa jaga diri.  

Terlebih, agar tetap bisa terus berkontribusi untuk kebaikan, perlu mencari dorongan kuat yang bikin kita pantang menyerah. Itu bisa kita dapat dari dorongan akidah. Berkontribusi sampai nanti, sampai mati. Rasul mengingatkan,  “..Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kedua, aktif berdakwah di sosial media. Seperti halnya kita, teman-teman sebaya juga pada aktif di sosial media. Ada yang curcol di timeline, narsis, hingga bisnis. Biar aktifititas online mereka nggak sekedar buang waktu, sodorin deh content dakwah yang kita share. Jangan takut kehabisan bahan dakwah. Follow aja akun-akun dakwah yang oke punya. Selain kita dapat ilmu, juga insya Allah banjir pahala juga dengan membagikan nasihat mereka. Oke?

Ketiga, gali potensi. Hari gini, gampang banget kita cari ilmu dengan bantuan om google atau kepoin akun-akun bermanfaat di sosial media. Selagi masih muda, banyak kegiatan yang bisa kasih kebaikan buat masa depan kamu. Mulai cari tahu apa yang menjadi passion-mu yang bisa memberikan manfat pada lingkunganmu dan pada orangtuamu. Cari tahu, pelajari ilmunya, pahami polanya, praktekin biar keliatan hasilnya. Kita muda, kita enerjik, dan kita punya banyak ide untuk diwujudkan.

Driser, survei Crowd DNA juga menunjukkan bahwa Millenials adalah anak muda yang optimis. 92% dari anak muda yang disurvei merasa mereka bisa melihat sisi positif dalam setiap situasi, dan 86% yakin generasinya akan mengubah dunia. Karena itu, stop jadi remaja muslim yang labil. Mari mulai berkarya dan berkontribusi! [@Hafidz341]

Ngerokok kelar Hidup loe!

…Aku bukan menakutnakuti kalian. Saya cuma berkata kami adalah contoh
korban kenikmatan rokok yang mengisi waktu luang biar kita nggak stres.
Dan rasanya mantab setelah habis makan…” begitu tulisan Robby di laman
akun media sosialnya.

Robby, lengkapnya Robby Indra Wahyuda. Cowok kelahiran 12 Oktober 1988 ini mulai aktif ngepulin  asap rokok sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Akibatnya, doi divonis mengidap kanker larynk. Kanker tenggorokan akibat ngerokok sejak usia muda. Parahnya, kanker yang diidapnya sudah stadium 3. Sehingga dia terpaksa harus kehilangan pita suaranya. Nggak bisa bicara padahal dia salah satu vokalis band. Ngeri! Robby nggak tinggal diam.

Sejak Oktober 2014, Robby terlibat dalam kampanye anti rokok. Usai menjalani operasi yang meninggalkan lubang di tenggorokan akibat diangkatnya pita suara, Robby kemudian giat berkampanye antirokok. Dia kerap mengunggah fotofotonya di media sosial untuk menunjukkan betapa bahayanya dampak yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan.  Sampai akhirnya, kabar duka datang hari Selasa, 23 Juni 2015.

Di usianya yang menginjak 27 tahun, Robby menghembuskan napas terakhir setelah berjuang keras melawan kanker larynk dan paru-paru akibat kebiasaannya merokok.  Nggak cuman Robby, dari dulu rokok udah memakan banyak korban. Anggota Tim Monitoring Iklan rokok di sekitar sekolah  Hendriyani, mengatakan, sekitar 200 ribu orang di Indonesia meninggal dunia karena sakit yang disebabkan rokok.  

Parahnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok aktif terbanyak ketiga di dunia. Diperkirakan terdapat 66 juta perokok aktif di Indonesia, dan 3,9 juta diantaranya adalah anak berusia 10 sampai 14 tahun. (republika.co.id, 15/06/15) Waduh!  

Rokok Kian Menjerat Remaja

Ngerokok alias ngudud bin nyemok  udah jadi rutinitas di sekitar kita. Nggak  mandang usia, status sosial, status pendidikan, atawa jenis kelamin, rokok  temenan ama siapa aja. Nggak di kampus, warteg, sekolah, dalam rumah, atau toilet, asap rokok pun ngebul dimana-mana. Padahal dulu, nggak sembarang orang bisa ngerokok.  

Waktu di SMP, temen-temen pada ngumpet di belakang sekolah pas jam istirahat agar bisa ngisep rokok. Satu batang dikeroyok rame-rame biar cepet abis dan irit. Abis itu, pada beli permen penyegar mulut untuk ngilangin bau asbak, eh rokok. Padahal mah, boro-boro wangi. Apalagi kalo dari pagi belon sikat gigi. Rokok + permen + ‘bau naga’. Whueks..!

Menurut data terbaru Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014, 18,3 persen pelajar Indonesia sudah punya kebiasaan merokok, dengan 33,9 persen berjenis lakilaki dan 2,5 persen perempuan. GYTS 2014 dilakukan pada pelajar tingkat SLTP berusia 13-15 tahun. GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok  sejak sebelum usia 7 tahun.

Itu kan setara  kelas 2 SD! (cnnindonesia.com, 31/05/2015) Berdasarkan penelitian di Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini adalah coba-coba, pengaruh teman, untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika bergaul dengan teman, teladan orang tua, dan ingin terlihat lebih gagah kaya dalam iklan ( Jambi Online,11/01/03).

Rupanya tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama kalangan anak cowok. Kalo ada temennya yang anti rokok,  dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!

Nggak cuman anak cowok, remaja putri juga mulai banyak yang deket ama lintingan tembakau. Sebuah riset menemukan, rata-rata remaja merokok agar berat badannya turun dan langsing! Riset ini dirilis oleh Profesor Jenny O’Dea dari Universitas Sydney, Australia seperti dilansir ABC News Online, Rabu (13/7/2005).

Keinginan ingin langsing itu diakui oleh 3% remaja perokok berusia 11 hingga 14 tahun dan 7% pada gadis muda sekitar 20 tahun yang dirisetnya (Detik.com, 13/07/05). Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif.

Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok.

Masuk akal dong kalo anak didik ikut meniru. Betul? Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho (Kompas, 09/11/07).

Hasilnya, penelitian Komnas Anak Jakarta menunjukan bahwa 99,7% remaja Jakarta terpapar iklan rokok lewat televisi; 36,7% terpapar iklan baliho di jalan dan media cetak; dan 81% pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok. Dan sialnya, justeru kegiatan remaja yang paling banyak didukung sepenuh hati oleh industri rokok. Lantaran bagi produsen rokok, remaja adalah calon pelanggan tetap di hari esok.

Dukungannya juga nggak setengah-setengah, dari promosi acara hingga pembagian rokok gratis di ‘TKP’. Otomatis makin tak ada alasan bagi remaja untuk ‘musuhan’ ama rokok. Padahal kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya.

Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas. Dengan modal 2000 perak aja bisa dapet sebatang. Atau kalo lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Gimana bisa berhenti kalo kebutuhannya selalu terpenuhi dengan mudah dan murah!

Rokok dan Kesehatan Kita

Label peringatan akan bahaya rokok  jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, ditemukan pada aki mobil; karbon monoksida yang ditemukan pada asap knalpot mobil; serta toluen yang juga dipakai sebagai pelarut industri. Gile bener, emangnya tubuh kita tempat sampah? Selain kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut.

Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok.

Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut (Gizi.net, 06/03/2003) . Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi kalo udah tua. Makalah ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, SpJP., menyebutkan rokok meningkatkan risiko terkena disfungsi ereksi hingga 50% -terutama berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah (Rileks.com, 18/02/03) .

Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko 21% terkena kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Demikian hasil penelitian Dr Janet E Olson dari Mayo Clinic College of  Medicine di Rochester Minnesota (AS) yang dipublikasikan dalam ‘the journal, Mayo Clinic Proceedings’ ( JakNews.com, 16/12/05).

Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian yang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung terus meningkat. Di Indonesia sendiri, menurut Demografi Universitas Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata  per tahunnya.

Dan angka kematian ini secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 juta orang di tahun 2030, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari negara berkembang. Demikian menurut data Organisasi Paru Internasional (World Lung Foundation/WLF) (Kompas.com, 02/02/03) .

Driser, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan. Bahaya rokok nggak jadi berkurang dengan diturunkannya kadar tar dan nikotin. Yang ada, merokok produk ini cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Masih ngeyel ngerokok? Kelar hidup loe! [@Hafidz341]

Majalah Drise edisi 59 : Bukan ‘anak Mami’

Gadis berkerudung itu tak mampu menahan air matanya saat melihat nilai  UN-nya awal Juni 2013 lalu. Perempuan berkacama itu tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena keberhasilannya mendapatkan nilai tertinggi di daerahnya dan termasuk tiga besar Se-Provinsi.  

Bahkan, Ia meraih nilai sempurna UN untuk mata pelajaran matematika. Mata pelajaran yang selama ini menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Impiannya melanjutkan pendidikan ke salah satu SMA di Ibukota pun terwujud.  Kini, siswi berprestasi yang baru saja lulus SMA itu muncul lagi menjadi selebgram. Sayangnya, tak ada kerudung dan kacamata.

Berbusana seksi, rambut pirang dan tato besar di lengan kanannya menghiasi penampilannya. Kontras banget dengan penampilannya tiga tahun lalu. Potret pergaulannya yang hedon, kerap menghiasi akun instagramnya.

Gaya pacaran yang vulgar, merokok, clubbing hingga pesta pora seolah menjadi simbol pergaulan remaja masa kini.   Sialnya, banyak remaja en remaji yang mengidolakan putri dari pasangan dokter ini. Kisah cintanya bak telenovela yang menjadi viral di youtube, dianggap remaja sebagai cerminan #relationshipgoal.

Meski endingnya, putus setelah lima bulan melakoni ajang baku syahwat dengan pacarnya.  Kamu penasaran siapa orangnya? Cari sendiri aja ya. Yang pasti, meski menuai banyak kecaman di dunia maya dan panen cacian di sosial media, dia tetap remaja. Sebuah potret pencarian jatidiri yang salah kaprah. Gaul, trendy, nakal, bitchy.

Bad example. Ada orang tua yang memaklumi karena pernah mengalami, tak sedikit emak-emak yang menyayangkan karena banyak remaja yang mengidolakan.  Padahal, hal-hal nyeleneh yang dia banggakan dan agungkan: body, outfit, gaul, ratu nongkrong, dan asyik – sama sekali bukan apa-apa. Nggak ada yang bisa dimanfaatkan untuk mengarungi rumah tangga dan jadi ibu.

Semua itu sudah nggak penting sama sekali. Lenyap begitu saja  seiring saya menjalani babak dan peran baru dalam hidup. You’re so young and you still have a long journey ahead of you. Setuju?

 Aku Bukan Anak Mami Lagi..

Nggak papa sih kalo remaja  pengen mandiri. Nggak mau dijulukin anak mami. Bagus malah. Biar saat dewasa, udah terbiasa hidup mandiri. Tapi, biar nggak salah kaprah, ada baiknya kita pahami dulu, seperti apa sih remaja mandiri itu? Menurut pakar psikologi, Reber (1985), remaja mandiri diartikan sebagai suatu sikap otonomi , dimana seseorang secara bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain.

Lalu dikuatkan oleh Kartini dan Dali (1987), remaja yang mandiri memiliki hasrat dan keinginan untuk mengerjakan sesuatu bagi diri sendiri. Jadi, remaja mandiri adalah perwujudan dari sikap dan perilaku yang mampu mengatasi hambatan atau masalah serta melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Nggak cuman mandi sendiri, tapi juga dalam beberapa hal berikut.  Yang pertama, emosi (perasaan).

Emosi merupakan suatu kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantung kepada emosi orang lain. Sebagai remaja yang mandiri, selayaknya mampu untuk mengendalikan emosi untuk bersikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.  

Yang kedua, ekonomi. Ekonomi yang dimaksudkan sebagai kemampuan mengatur kebutuhan yang bersifat mandiri  dan tidak memiliki ketergantungan kepada keadaan ekonomi orangtuanya.

Yang ketiga, intelektual. Intelektual sebagai upaya perwujudan kemampuan untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Kemandirian secara intelektual, tidak bergantung kepada orang lain ketika dihadapkan dengan permasalahan yang dialaminya. Selain itu, sudah memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan. Yang terakhir, kemandirian sosial. Kemampuan  melakukan interaksi sosial dengan orang lain dan tidak menunggu reaksi dari orang lain. Hal tersebut, diiringi dengan kreatifitas dan inisiatif dalam perwujudan sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, kebayang kan sekarang. Remaja mandiri bukan semata-mata memenuhi kebutuhan secara fisik (usia), melainkan kemampuan belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusan sendiri dan bertanggungjawab.  

Yang jadi pertanyaan, kalo ada remaja bilang bukan anak mami lagi tapi bertingkah semaunya, nggak peduli dengan omongan orang, bahasanya kasar tak terkendali, emosinya meledak-ledak udah gitu dengan seenaknya mengumbar fotofoto pribadi yang ‘vulgar’ di sosial media, beneran mandiri atau lupa diri? Yang kaya gini justru anak mami tulen.

Childish.  Gimana ortu bisa ngasih kepercayaan untuk hidup mandiri kalo perilakunya kekanak-kanakan?  

Jadi Remaja Mandiri? Ini yang Bener!

Kemandirian bagi remaja, emang udah haknya. Nggak boleh dibatasi, tapi dibimbing jangan sampai mereka lupa diri. Apalagi sampai nggak tahu diri. Karena remaja mandiri, justru lebih peduli. Baik terhadap dirinya, lingkungan, dan terutama masa depannya.  Bagi remaja muslim, mandiri itu sebuah kepastian. Udah sunatullah kamu pasti dapat giliran. Nggak mesti nunggu lulus SD atau SMP untuk bisa mandiri.

Islam udah jelas ngasih petunjuk kapan kamu harus udah mandiri. Dimulai ketika kamu memasuki usia baligh. Usia baligh dalam islam adalah petunjuk bagi kita untuk lebih bertanggung jawab dengan kehidupan sendiri. Karena sejak saat itu, itung-itungan pahala dan dosa yang dicatat oleh malaikat raqib dan atid udah mulai.

Dari Ali juga dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang : orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga ihtilam, dan orang gila hingga berakal” (HR. Abu Dawud).

Udah tahu kan ciri-ciri usia baligh? Untuk anak cowok, ciri-cirinya ihtilam atau mimpi basah keluar air mani. Dalilnya disebutkan dalam Al-Qur’an, dimana Allah ta’ala berfirman:

“Dan bila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), maka hendaklah mereka meminta ijin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta ijin,” (QS. An Nuur : 59 )

Kalo anak cewek, dapat haidh atau menstruasi. Jangan tanya saya seperti apa rasanya haidh, karena saya belon pernah ngalamin. Hehehe…yang pasti, kedua ciri di atas menjadi awal kamu untuk belajar menjadi remaja mandiri yang bertanggung jawab atas kehidupannya baik di dunia maupun akhirat.  

Jadi, hal pertama yang harus kita pahami kenapa menjadi remaja mandiri karena ini perintah Allah. Agar kita ambil tanggung jawab setiap perkataan dan perbuatan kita di dunia. Nggak pake nyari kambing hitam atas kesalahan yang diperbuat.

Allah swt berfirman, “Tiap-tiap dari (individu) bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al-Mudatstsir, 14: 38)

Kedua, istiqomah dalam kebaikan, tegas menolak kemaksiatan. Remaja mandiri punya prinsip dalam bergaul. Remaja sekarang pergaulannya terjangkiti wabah sekuler. Pacaran, busana seksi, merokok, narkoba, hingga seks bebas. It’s okay to be different. Nggak ikut-ikutan seperti mereka bukan berarti nggak keren. Justru kita lebih mandiri karena punya sikap terbaik. Nggak gampang kehasut omongan orang. Tak mudah kebawa-bawa maksiat. Toh yang kita kejar ridho Allah, bukan ridho teman.  

Ketiga, bermanfaat bagi orang lain. Remaja mandiri nggak egois yang cuman mikirin dirinya sendiri. Justru dia aktif membantu orang lain. Usianya yang sudah dewasa memaksa dia untuk berfikir, gimana caranya agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

 Mungkin dia aktif bergabung di organisasi, baik di sekolah maupun di  masyarakat. Nggak mesti jadi ketuanya, yang penting bisa turut berkontribusi untuk kebaikan orang lain. Baik secara sosial kemanusian, maupun untuk mengingatkan dalam kebenaran.  

Keempat, bantu ortu. Remaja mandiri itu meringankan beban orang tua. Kalo punya adik, bantu ngurusin adikadiknya. Kalo ekonomi orang tua paspasan, bisa cari sambilan untuk membiayai kehidupannya sendiri. Syukur-syukur bisa bantu biaya anggota keluarga yang lain. Kalo orangtua berkecukupan, belajar mengatur keuangan. Yang pasti, berusaha untuk melepaskan ketergantungan  terhadap pihak lain. Terutama anak cowok  ya. Kalo anak cewek, bantu ortu dalam rangka memantaskan diri jadi istri dan ibu rumah tangga.  

Kelima, create your own future. Masa depan kita, buka orang lain yang nentuin. Tapi diri kita sendiri. Remaja mandiri ngeh banget tuh. Makanya, dia bakal pake waktu hidupnya seoptimal mungkin untuk membentuk masa depannya. Tak pernah berhenti belajar, ngasah skill, dan mengaji.  Udah sunatullah kalo masa depan itu akibat dari masa kini.

Dan masa kini adalah akibat dari masa lalu. Itu artinya, kalo semasa muda leha-leha alamat masa depan suram gak karuan. Kalo masa muda foya-foya, bisa jadi masa depan tinggal penyesalan. Kecuali di  tengah jalan insaf, terus berbenah diri. Masalahnya, belum tentu kita nyampe tengah jalan. Kalo malaikat ijroil keburu menjemput, cuman dosa yang kita dapat.  Makanya, remaja mandiri mulai dari sekarang membangun kebiasaan baik.

Dari sejak tidur hingga tidur lagi. Ibadahya digetolin, demi menjemput masa depan akhirat gemilang. Potensi terus digali biar masa depan dunia sesuai harapan orangtua. Berusaha mengukir prestasi, baik di sekolah atau dalam dakwah. Keep learn, grow, and fun. Teruslah belajar, berkembang, dengan perasaan bahagia.  Seperti dicontohkan oleh sahabat Zaid bin Tsabit. Saat zaid berusia 13 tahun, dia pengen ikut berjihad.

Tapi kata Rasul, masih terlalu belia. Akhirnya Rasul menugaskan Zaid untuk belajar bahasa Yahudi dan tulisan Ibrani. Karena kemampuannya, Zaid dipercaya menjadi sekretaris Rasul saw terutama dalam berkomunikasi dengan kaum Yahudi. Josh! Wuiih..ideal banget tuh kriteria remaja mandirinya. Emang ada yang kaya gitu? Ya bisa jadi kamu salah satunya.

Gak susah kok menjadi remaja mandiri, asalkan ada kemauan dibarengi dengan ilmu yang diamalkan. Kalo memang ngerasa udah besar, bukan anak mami lagi, butuh privasi, tetap harus jaga diri. Biar nggak kebablasan dan jadi omongan. Kuncinya, ikut ngaji biar semua aspek kemandirian kamu jadi  terasah. Baik emosi, ekonomi, sosial, maupun intelektual.

Semuanya sudah ada dalam Islam. Tinggal kita yang harus siap menjemputnya dengan mengenal Islam lebih dalam dan mengamalkannya. Ayo..kamu pasti bisa menjadi remaja mandiri. #YukNgaji! [@Hafidz341]

Majalah Drise edisi 58 : Ramadhan Optimizer

Ramadhan kehadirannya selalu dinanti jutaan umat islam  sedunia. Pahalanya yang diobral habis- habisan bikin bulan suci ini selalu istimewa. Makanya sayang ketika kita dikasih kesempatan untuk tetap bernapas hingga ramadhan tiba, tapi gak ada perubahan  kaya ramadhan-ramadhan sebelumnya.

Coba simak cuplikan khotbah Rasulullah SAW menjelang bulan Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A. “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hariharinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

 “Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”

 “Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini. _

“Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, dia akan berhasil melewati shiraatalmustaqim, pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orangorang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pemeriksaannya di hari kiamat. “Barang siapa yang menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murkanya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya di hari berjumpa denganNya, dan barang siapa yang menyambungkan tali silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya  pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan barang siapa yang memutuskan silaturahmi  di bulan ini, Allah akan memutuskan dia dari rahmat-Nya. “Siapa yang melakukan salat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu di bulan yang lain.

 “Barang siapa yang memperbanyak salawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan Al-Quran di bulan-bulan yang lain.

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkan-nya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

Tuh kan, banyak banget amal sholeh yang berbuah pahala berlipat di bulan ramadhan. Pertanyaannya, gimana ramadhan kamu, apakah termasuk salah satu type remaja di bawah ini?

Tiga Type Remaja Ramadhan

Suatu hari disebuah kerajaan  islam, raja mengumpulkan tiga prajurit pilihannya. Raja membagikan tiga buah kantong besar kepada masing-masing prajurit dan memerintahkan mereka agar mengisinya dengan makanan dan buahbuahan pilihan. Tiga prajurit itu bergegas  pergi untuk memenuhi apa yang diperintahkan sang raja. Prajurit yang pertama merasa heran dengan apa yang diperintahkan raja.

” Ah, buat apa aku capek-capek mencari makanan dan buah-buahan untuk memenuhi kantong ini. Di kerajaan kan sudah banyak makanan dan buah-buahan. Lebih baik aku isi kantong ini dengan rumput dan daun. Toh nanti raja juga tidak akan membuka kantong ini dan menanyakan isinya”, gumamnya. Lalu prajurit ini pergi ke alun-alun kerajaan dan memenuhi kantong yang dibawanya dengan rumput dan sampah. Beres!

Prajurit yang kedua dengan setengah hati melakukan perintah rajanya. Kantong yang dibawanya sebagian diisi dengan makanan dan buah-buahan yang terjatuh yang sudah busuk dan sisa makan kelelawar. Sebagian lagi diisi dengan rumput dan daun-daun kering agar kantong yang dibawanya kelihatan penuh. Prajurit yang ketiga dengan sungguh-sungguh berusaha menjalankan perintah raja. Lalu ia pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan pilihan dan masih segar. Ia memanjat pohon untuk mengambil buah terbaik yang masih segar dan ranum.

Meski harus disengat lebah dan dikerubutin semut merah, ia berusaha tunaikan amanah sebaik mungkin. Pada hari yang ditentukan tiga prajurit ini menghadap sang raja. Bener aja, raja cuman ngeliat kantong yang dibawa tiga prajuritnya telah terisi penuh dan nggak kepo untuk cari tahu apa isinya. Raja lalu memerintahkan masing-masing prajurit untuk memakan hasil pencariannya. Sekarang.

Zonk..!!! kebayang dong gimana mimik wajah masing-masing prajurit. Prajurit yang ketiga mungkin nggak masalah karena dia telah mengisi kantongnya penuh dengan makanan dan buah-buahan segar. Lahap lah dia makan. Prajurit yang kedua sedikit menyesal karena dia harus makan buah-buahan yang busuk dan sisa kelelawar.

Weks…! Dan yang paling menyesal adalah prajurit yang pertama. Dia harus memaksa dirinya menikmati rumput dan sampah yang dikumpulkannya. Hueks..!!! Sahabat, kisah raja dan prajurit di atas mengingatkan kita tentang keseharian remaja di bulan Ramadhan. Perintah sang raja adalah ayat Allah yang mewajibkan shaum ramadhan. Sementara para prajurit adalah hamba-Nya termasuk kita selaku remaja yang terkena kewajiban puasa.

Kantong yang diberikan Raja adalah umur / usia manusia di dunia. Dan hari pengumpulan itu adalah yaumul hisab remaja muslim yang maksimalis. Selalu teringat khutbah Rasul saw di atas dan berusaha memberikan yang terbaik untuk mengisi keseharian Ramadhan yang setahun sekali datangnya.  Prajurit yang kedua adalah remaja muslim yang minimalis. Kewajiban yang penting terlaksana nggak meski berikan yang terbaik. Apalagi sampai ngotot dengan amalan sunah. Pikirnya, yang wajib aja udah alhamdulillah.

Tambahan pahalanya, kapan-kapan aja. Waktunya habis untuk kegiatan yang minim manfaat meski bukan maksiat.  Sementara prajurit yang pertama adalah muslim yang formalitas. Apapun yang dikerjainnya selama ramadhan, biar diliat orang bagus. Ceritanya ikut sahur, tapi giliran siang ketika terik membakar kulit, mampir ke warung remang-remang dengan sembunyi-sembunyi untuk sekedar melepas dahaga. Shalat tarawihnya juga unik, cukup awal dan akhir aja. Tengahtengahnya mundur teratur dari barisan. Terus gabung kembali nongol pas shalat witir. 

Driser, kita punya pilihan mau jadi prajurit yang mana selama jalanin ramadhan. Apapun pilihannya, masingmasing ada itungannya. Dan hasilnya bakal kembali sama kita juga nanti di akhirat.  Kita sekedar ngingetin aja, kalo jadi prajurit  yang pertama alamat nyesel poll di yaumul hisab nanti. Kantong pahalanya kosong  melongpong dan kantong dosanya full. Bisa-bisa mendekam di neraka lebih lama. Ngeri! Sementara kalo jadi prajurit yang kedua, dijamin galau tingkat dewa. Lantaran kantong pahala dan kantong dosanya imbang atau malah tipis selisihnya kebanyakan dosa. Merasa cukup dengan tunaikan puasa ramadhan aja.

Tapi untuk kewajiban dakwah atau nutup aurat sempurna lewat semuanya. Apalagi ibadah sunah, nggak dilirik. Di akhirat cuman ngisep jempol ngeliat muslim yang lain masuk surga lebih cepat sementara dirinya harus dibilas dulu di neraka. Ngiler dot kom! Kalo kita mau meraih keberkahan ramadhan, jadilah prajurit yang ketiga, remaja muslim maksimalis.

Mungpung Allah ngasih kesempatan kita menikmati bulan mulia. Jadikan ajang untuk memanen pahala mengikis dosa. Mulailah belajar mengerjakan aktivitas sesuai status hukumnya. Yang wajib segera dilaksanakan. Yang sunnah dimaksimalkan. Yang makruh dikurangi. Yang haram langsung ditinggalkan. Dan yang mubah pilih yang berbuah pahala. Dengan begitu, waktu akan membantumu memenuhi kantong pahala selama hidup di dunia. Bukan malah membunuhmu dengan kegiatan yang minim manfaat, cenderung maksiat dan berbuah dosa. Nggak lah yauw..!

Ramadhan Optimizer

Agar ramadhan yang kita jalani  tahun ini lebih bernilai, kita harus membiasakan ngerjain amaliyah yang bisa menjadi ladang pahala berlimpah seperti yang  dicontohkan Rasulullah saw di bulan Ramadhan:

1. Berinteraksi dengan Al Quran Ramadhan adalah bulan  diturunkannya Al Quran (QS.2:185) untuk menjadi pedoman manusia dari segala macam aktifitasnya di dunia. Rasul lebih sering membacanya pada bulan Ramadhan. Iman Az Zuhri pernah berkata : “Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al Quran.” . Target khatam 30 juz ya!

2. Qiyam Ramadhan (Shalat Terawih) Ibadah yang sangat ditekan  Rasulullah saw di malam Ramadhan adalah Qiyamu Ramadhan. Qiyam Ramadhan diisi dengan shalat malam atau yang biasa dikenal dengan shalat tarawih. Rasulullah bersabda: “ Barang siapa yang melakukan qiyam Romadon dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘aliahi) nggak pake bolong ya!

3.  Memperbanyak Dzikir, Do’a dan Istighfar Bulan Ramadhan adalah bulan keberkahan dimana kebaikan pahalanya dilipatgandakan, oleh karena itu jangan membiarkan waktu sia-sia tanpa aktifitas yang berarti. Diantara aktifitas yang sangat penting dan berbobot tinggi, namun ringan dilakukan oleh umat Islam adalah memperbanyak dzikir, do’a dan istighfar. Bahkan do’a orang-orang yang berpuasa sangat mustajab, maka perbanyaklah berdo’a untuk kebaikan dirinya dan umat Islam yang lain, khususnya yang sedang ditimpa kesulitan dan musibah.

4. Shadaqah, Infak dan Zakat Dalam sebuah hadits disebutkan :  “Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR Al Baihaqi, Al Khatib dan At Tirmidzi) Dan salah satu bentuk shodaqoh yang dianjurkan adalah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orangorang yang berpuasa. Seperti sabda beliau: “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada  orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

5. Menuntut Ilmu dan Menyampaikannya Bulan Ramadhan adalah saat yang  paling baik untuk menuntut ilmu ke-Islaman dan mendalaminya. Banyak kegiatan keislaman dan biasanya semangat mengaji sedang menggelora. Sambut dan manfaatkan untuk mengenal islam lebih dalam.  

6. I’tikaf I’tikaf adalah puncak ibadah di  bulan Ramadhan. Dan I’tikaf adalah tetap tinggal di masjid taqqarrub kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala aktifitas keduniaan. Dan inilah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan Ramadhan, disebutkan dalam hadits : “ Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya” (HR Bukhari dan Muslim).

7. Mencari Lailatul Qadar Lailatul Qadar (malam kemuliaan)  merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Islam melalui Rasulnya saw. Malam ini nilainya lebih baik dari seribu bulan biasa. Ketika kita beramal di malam itu berarti seperti beramal dalam seribu bulan. Malam kemuliaan itu waktunya dirahasiakan Allah swt.

Oleh karena itu  Rasulullah saw menganjurkan untuk mencarinya di 10 maam terakhir sambil itikaf.  Nah driser, udah kebayang khan apa yang mesti dilakukan untuk mengoptimalkan ramadhan. Mari kita sama-sama berlomba dalam berburu pahala dan kebaikan selama bulan Ramadhan untuk meraih predikat takwa. Jadilah muslim maximizer. Yuk ah derr..! [341]