Majalahdrise.com – Saat maen ke rumahnya yang juga bergaya kolonial, saya dibuat takjub menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah! Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800. Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu rela ngeluarin jutaan rupiah duitnya demi mendapatkan semua buku klasik tersebut. Dia ngaku gemar berburu buku buluk (sebuah istilah yang ngetrend di kalangan para kolektor dan kurator untuk menyebut buku lama ato jadul) itu, setelah menggandrungi kajian teosofi yang populer di masa pemerintahan Hindia Belanda. Buku-buku bertema teosofi dari beragam bahasa di bawah taon 1950, pasti dia embat untuk dikoleksi di perpustakaan pribadinya. Namun, saat saya bertanya apakah dia membaca semua buku koleksiannya itu?
Kawan saya itu hanya menjawab diplomatis dengan senyum dan gelengan kepala. Dia mengaku tak punya kemampuan untuk membaca semua buku berbahasa asing tadi, dia hanya tetarik untuk berburu dan mengoleksinya saja. Saat saya iseng bertanya, bolehkah saya memiliki atau membeli salah satu buku koleksinya itu, dengan tanggap dia menyatakan tidak akan pernah melepas bukunya itu dengan harga berapapun! Nah, lho?!
Jujur aja neh, kekaguman saya langsung nguap begitu saja. Kawan di komunitas interpreter sejarah ini hanya memperlakukan buku sebatas koleksi tanpa mengambil manfaat dari buku tersebut. Ia tidak dapat memahami isi buku koleksiannya itu karena tidak mampu membacanya, ia tidak mengerti bahasanya. Ia hanya terobsesi untuk memilikinya saja. Kawan saya ini sudah terjangkit virus bibliomania! Trus, apakah seorang penulis juga dapat terjangkit virus bibliomania kek tadi? Hehehe… seorang penulis yang gandrung sama buku sebagai bagian dari habitsnya itu, sangat mungkin terjangkit virus bibliomania ini, ngoleksi buku tanpa tahu isinya, nyimpen banyak buku tanpa sedikit pun membacanya!
Nah, bibliomania itu tak selayaknya menghinggapi para penulis karena bagi seorang penulis, buku adalah kawan setia untuk menyelami ilmu dan mendalami pengetahuan, buku bukanlah sekadar pajangan yang hanya menghiasi rak-rak perpustakaan, namun buku adalah amunisi paling dahsyat yang dimiliki oleh para penulis. Catet, ya?! []
di muat di majalah Remaja islam Drise 49
