MajalahDrise.com – Banyak yang ngiri dengan ajaran Islam yang sempurna. Terutama mereka yang belon dapat hidayah dari yang Maha Kuasa. Musuh-musuh Islam getol mengajak umat Islam untuk hidup sewajarnya. Nggak perlu fanatik apalagi sampai kaku banget dengan perubahan jaman. Salah satu caranya dengan mengkampanyekan ide Islam nusantara. Secara umum, Islam Nusantara mengajak umat Islam untuk lebih terbuka dengan kondisi, toleran terhadap ajaran agama lain dan fleksibel dengan budaya keindonesiaan. Muslimah nggak perlu ngotot menutup aurat harus sempurna dalam balutan khimar (kerudung) dan jilbab sesuai syariat.
Ikutin aja perkembangan fashion muslimah yang memadukan hijab dengan legging, model punuk unta, atau gaya jilboobs. Yang penting nutup aurat. Nggak mesti juga anti dengan perayaan agama lain sebagai bentuk toleransi. Toh cuman ngasih ucapan selamat atau ikut doa bersama aja. Atau fanatik dengan penerapan syariah oleh negara, terima aja konsep demokrasi yang ada. Islam Nusantara kesannya emang indonesia banget. Cinta tanah air gitu. Padahal menggiring umat Islam masuk dalam jebakan gaya hidup sekuler.
Agar seorang muslim hidup seperti kebanyakan penganut agama lain. Ibadahnya aja digetolin. Kesehariannya, lepas dari aturan agama. Saat shalat nutup aurat, giliran sekolah mengumbar aurat. Nikah pake aturan agama, pas nyari harta malah menghalalkan segala cara. Yang paling berbahaya, ketika gaya hidup sekuler memasung kesempurnaan syariah Islam. Ajaran Islam yang komplet diiris-iris jadi sepihan ibadah yang mangkal di pojokon mesjid atau musholla.
Gaung Islam cuman kedengeran saat ramadhan. Tapi dalam keseharian, syariah dicampakkan. Negara ngurus rakyatnya pake aturan demokrasi. Ekonomi berbasis liberal bikin invesor asing jingkrak-jingkrak kegirangan. Gimana nggak, sumber daya alam yang berlimpah bisa mereka privatisasi dengan mudah. Umpan utang luar negeri, dilahap pemerintah neo liberal. Walhasil, nilai tukar rupiah terjun bebas tak tertahan. Bikin para pengusaha dan pemerintah kelabakan.
Toleransi beragama dipake dalih untuk mempersempit ruang gerak dakwah Islam. Pengemban dakwah yang istiqomah dicap radikal. Para pejuang syariah dicap fundamentalis atau dikaitkan dengan teroris. Opini penegakkan syariah dianggap memancing konflik. Dan muslim yang tunduk dengan gaya hidup sekularisasi dikasih gelar moderat sesuai keinginan barat. Ternyata, sekularisasi termasuk salah satu yang direkomendasikan oleh Ariel Cohen kepada AS dalam menghadapi gerakan Islam yang mengusung syariah dan khilafah.Menurut peneliti Amerika keturunan Yahudi ini, salah satu cara melawan kelompok Islam radikal adalah dengan cara membenturkan kelompok tersebut dengan kelompok Islam moderat. Biar umat Islam ribut dengan sesama saudaranya. Sementara musuh Islam tinggal menikmati hasilnya. Hati-hati ah!
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49