Heka Episode 07 : Anak yang Retak

Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh  para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang  ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan.

Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun telinga di lehernya; ada juga yang berkulit hitam legam tetapi bersarung sutra putih; Ada juga yang lehernya panjang dan kurus, tetapi leher ringkih itu digelantungi banyak sekali kalung manik-manik. Bermacam ragam penampilan para Hekau itu. Setiap Hekau yang melihat rombongan Bakhoum melintas, maka mereka akan berlutut dengan penuh pemujaan.

Mereka paham seberapa mulianya derajat Hekau yang ada di hadapan mereka, walaupun hampir semuanya belum pernah melihat Bakhoum sebelumnya. Entah bagaimana caranya, seorang Menkheperesseneb pasti akan langsung dikenali seorang Hekau, walau mereka belum pernah bertemu. Maka, pada hari itu, jalan-jalan di Thebes dipenuhi oleh para Hekau dari penjuru Mesir, dan di jalan-jalan yang dilintasi oleh rombongan Bakhoum, para ahli sihir itu berlutut di pinggirpinggir jalan.

Haman terheran saat memerhatikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sedari tadi tatapan matanya menyapu orang-orang yang sedang bersujud di tepian jalan itu. Sesekali dia melirik kepada Bakhoum yang tetap gagah dan menatap lurus ke depan, seolah orang-orang yang bersujud itu tak ada saja. Kenyataan ini lagi-lagi mendorong Haman untuk melemparkan pertanyaan yang sebenarnya masih banyak bersemayam di batinnya.

“Yang Mulia, ada beberapa hal yang  hendak aku tanyakan.” Bakhoum hanya mengangguk sambil  tetap menatap ke depan. “Jika Yang Mulia berkenan menceritakan,  apakah alasan Yang Mulia pergi dari Thebes sepuluh tahun yang lalu?” Tentu saja Bakhoum tidak langsung menjawab. Dia tetap membatu dengan tatapan kosong ke depan.

Haman menjadi ragu, apakah tadi Bakhoum mendengar kata-katanya? Tetapi Haman tetap diam. Dia tidak mengulangi pertanyaannya. Jika dia mendapatkan jawaban, maka mujur baginya. Jika dia tidak mendapat jawaban apa-apa, tidak ada ruginya. Satu hal yang cukup sering disaksikan Haman adalah Bakhoum yang selalu diam, seolah membeku.

Kejadian itu berulang berkali-kali, hingga Haman menyadari bahwa sikap itu sudah menjadi bagian dari diri sang Menkheperesseneb. Banyak bergaul dengan setan tentunya akan mempengaruhi kondisi jiwa dan raga, itulan konsekuensi yang harus diterima seluruh Hekau. Perlahan kembali Bakhoum menoleh kepada Haman yang berkuda di sisinya. Dia selalu begitu ketika dia hendak bicara kepada Haman. “Aku dan Ramesses berbeda pendapat.”

 “Maaf, Yang Mulia, berbeda pendapat?” Alis Haman mengernyit. Bakhoum mengangguk pelan. “Kami berbeda pendapat dan aku tidak bisa menerimanya.” “Kalau boleh tahu, berbeda pendapat tentang apa, Yang Mulia?” “Ramesses tidak mau mendengar katakataku tentang Asiyah.” Haman tertunduk sambil membelalak.

Dia tidak tahu sama sekali tentang apa alasan perginya Menkheperesseneb sepuluh tahun yang lalu. Bahkan semua orang pun tidak tahu, sebab tiba-tiba saja peristiwa itu terjadi dan alasannya hanya diketahui Ramesses. Dan sekarang, dia akan mendapatkan sebuah kehormatan besar untuk menjadi orang pertama, dari semua orang di Mesir, yang akan mengetahui alasan sebenarnya tentang menghilangnya Menkheperesseneb.

Bakhoum melanjutkan. “Berkali-kali sudah aku katakan padanya, Asiyah akan jadi bencana pada pemerintahan dan kekuasaannya. Tapi Ramesses tidak mau mendengar. Dia tergila-gila pada Asiyah, padahal putra Anubis berbisik bahwa Asiyah akan menyemaikan kekacauan.” “Dan ramalan itu benar-benar terjadi, Yang Mulia,” kata Haman sambil menerawang.

 “Asiyahlah yang menemukan bayi itu di dalam sebuah peti di Sungai Nil, dan Asiyah pulalah yang membujuk Yang Mulia Fir’aun untuk memelihara bayi itu karena sudah sedemikian lama mereka tidak dikaruniai anak. Bayi itu pun tumbuh besar, dan sekarang dia datang hendak mengacaukan segalanya. Dialah Musa.”

“Sekarang aku yang diperintahkan untuk membereskan semua kekacauan ini?! Dari dulu Ramesses memang begitu, selalu aku yang tertimpa masalah karena dia.” Naik-turun pelan tubuh Bakhoum dibuaikan angin pagi. Punggung kuda yang kokoh menopangnya di atas pelana, jajaran orang-orang yang bersujud kepada Bakhoum masih sangat panjang. “Aku pun memberi peringatan kepada Ramesses tentang bayi itu,” kata Bakhoum.

 “Tetapi, lagi-lagi, dia tidak mau mendengarnya. Dia seperti binatang ternak yang sedang dibawa ke tukang jagal, dan Asiyah yang menuntunnya kepada kematiannya. Lalu apa gunanya kehadiranku kalau kata-kataku tidak didengar?” Haman mengangguk pelan dan mengembuskan napas perlahan. Dia merasakan keprihatinan yang dalam. Orang-orang masih saja berjajar dalam sujud kepada Menkheperesseneb.

000

Istana Fir’aun di Thebes terangbenderang. Ratusan lilin dan obor mengusir kegelapan di sana dan menguarkan keagungan.  Dinding-dindingnya yang kokoh dengan emas dan pualam menyempurnakan kemegahan  seorang Fir’aun, Ramesses. Dia duduk di tas singgasananya yang mentereng di ruang  singgasana luas.

 Pada sisi kanan dan kiri singgasana itu ada budak-budak yang memegang kipas-kipas besar, mengembuskan hawa sejuk kepada Ramesses. Kipas-kipas itu bergagang panjang, terbuat dari bulu-bulu burung merak. Ramesses bertopang dagu pada lengan kursi singgasana. Memang benar bahwa dia bisa duduk dengan nyaman di sana, tetapi kenyamanan kursi singgasana itu tidak bisa menyamankan hatinya yang bergemuruh.

Seluruh bagian kursi singgasana itu terbuat dari emas. Besar dan megah, yang dipercantik dengan kristal-kristal dan batu berlian. Bungabunga yang indah menghias setiap sisinya, dan bunga-bunga itu diganti setiap hari oleh para  pelayan istana.

 Tetapi, sekali lagi, kemewahan itu tidak bisa menyelamatkannya dari segala kekhawatiran. Ramesses tetap bertopang dagu dalam diam. Matanya menatap kosong ke kejauhan, kepada sesuatu yang tidak kelihatan, masa depan.

Dia bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi setelah malam pertaruhannya dengan Musa? Dialah yang menantang Musa untuk beradu ilmu Heka, dan dia tidak bisa lari darinya. Dia mengetahui bahwa ibukotanya telah dipenuhi oleh para Hekau, tetapi tetap saja hatinya waswas. Sebuah kesadaran hinggap dalam hatinya bahwa Musa bukanlah orang sembarangan. Dalam diam itu pulalah Ramesses memperhitungkan berbagai kemungkinan.

Kalau ribuan penyihir yang dipanggilnya ke Thebes itu bisa mengalahkan Musa, berarti tak ada masalah. Ramesses tidak pernah peduli bagaimana caranya memenangkan sesuatu, apakah adil atau tidak adil, dia tidak pernah pertimbangkan hal itu. Yang penting dia menang. Yang jadi masalah adalah, bagaimana jadinya kalau ternyata dia kalah? Sudah pasti kemuliaannya akan hancur, dan kekalahan itu akan membuat semua orang melihat bahwa kekuatan dan kekuasaannya tak ada apa-apanya, sebab Musa seorang diri saja sanggup mengalahkannya.

Dan kenyataan bahwa dia akan kalah itulah yang membuatnya duduk dalam gundah di singgasananya yang mentereng. Tiba-tiba lamunan Ramesses terpecah karena seorang prajurit datang menghadap sambil bersujud kepadanya. “Yang Mulia, rombongan Haman telah datang, dan Menkheperesseneb ada bersamanya.” “Kalau begitu cepatlah bawa mereka menghadapku.”[]

Heka Eps 06

“Dia utusan!” Seolah dilahirkan oleh malam, sosok  hitam itu berdiri di hadapan semua orang dengan pongah. Tak ada siapa pun yang mengenalnya, kecuali Menkheperesseneb. Rasa heran bersemayam di dalam hati, namun mulut tetap terkunci ketika peristiwa yang mistis itu terjadi: Bakhoum berhadapan dengan sosok bertudung dan berjubah hitam itu, yang kehadirannya samar-samar di tengah kegelapan malam.

Dan seolah sudah saling mengenal, mereka membicarakan sesuatu yang tiada dimengerti seorang pun. Bakhoum mengernyitkan alisnya yang tebal, yang hampir bersambung di atas hidungnya. Hal terakhir yang disampaikan si Hitam itu tidak dia mengerti. “Utusan? Utusan siapa?” “Utusan dari Dia yang memiliki  kekuatan amat besar, dan kau takkan sanggup menandinginya.”

Bakhoum terkekeh. “Kita tidak akan tahu kalau belum dicoba.” “Jangan main-main dengan Musa. Kalau kau menghadapinya, maka kehancuran bukan hanya milikmu, tetapi juga aku, dan kita semua.”

“Menyingkirlah!” Tatapan tajam Bakhoum seolah menembus jubah hitam itu. “Aku berlepas diri darimu, Menkheperesseneb!” Ankh Dalam Heka Mundurlah si Hitam, selangkah demi selangkah, semua orang memerhatikan gerakannya. Tak lama kemudian kegelapan malam mengelilinginya lalu dia tak kelihatan lagi. Bakhoum berbalik perlahan menuju kudanya, mendaki pelana dan duduk di atas punggung kuda.

Dia menoleh kepada Haman yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Kita akan berbelok sebentar di Hierakonpolis,” kata Bakhoum. “Untuk apa, Yang Mulia,” sahut Haman agak gugup. “Kita harus segera tiba di Thebes sebelum Hari Raya Sed. Singgah di Hierakonpolis akan menunda kita cukup lama.” “Aku harus menjemput seseorang, dan hal ini pun berhubungan erat dengan kemenangan kita melawan Musa. Jika kita mempercepat langkah kita, maka kita tidak akan terlambat! Aku yakin itu.”

Haman tak bisa bicara apa-apa lagi jika Menkheperesseneb sudah memutuskan sesuatu. Dia menoleh ke belakang, kepada seluruh pasukannya yang menunggu dengan jantung berdegup kencang setelah terjadinya peristiwa misterius tadi. Diayunkannya tangan kanannya untuk memerintahkan mereka segera bergerak. Rombongan pun melanjutkan perjalanan, walau malam semakin kelam.

“Mohon ampun, Yang Mulia, siapakah orang berpakaian hitam tadi?” Dengan berat, akhirnya Haman bertanya juga. Pandangan Bakhoum tetap terarah ke depan, sementara tubuhnya naik-turun seiring gerakan hewan tunggangannya. “Putra Anubis,” sahutnya pendek.

000

 “Mohon ampun, Yang Mulia, apakah tujuan kita sebenarnya ke Hierakonpolis?”

Haman terlihat segan dan gugup setiap kali mengajukan pertanyaan kepada Bakhoum. Seakan dia takut bahwa pertanyaan itu akan menyinggung sang Menkheperesseneb, dan kalau hal itu sudah terjadi, dikutuklah dia menjadi kodok atau kutu. “Kita akan menemui seseorang,” kata Bakhoum, seperti biasa, tatapan matanya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya menggenggam tali kekang kuda.

Dia memang benar-benar jarang bicara. Jika tidak ada yang bertanya lebih dulu, maka dia tidak akan bicara seharian. Memang menyebalkan sekali dekat-dekat dengan orang seperti ini. Tetapi itulah yang dirasakan Haman. Mau tak mau, dia harus selalu menyertai di sekitar Bakhoum, dan sikap Bakhoum yang kaku dan diam benar-benar menyiksanya.

Di sisi lain, dia harus benar-benar hati-hati jika hendak mengajukan pertanyaan. “Siapakah orang yang hendak kita temui ini, Yang Mulia?” Tanya Haman lagi. Bakhoum tak langsung menjawabnya, tatapannya tetap lurus ke depan dan matanya tidak berkedip. Haman melirik ke wajah Bakhoum, dan berbagai dugaan berseliweran di hatinya.

Dia merasa bahwa sang Menkheperesseneb sedang berada dalam keadaan trans karena tubuhnya diam dan kaku. “Yang Mulia…!” Panggil Haman. “Yang Mulia!” Tiba-tiba Bakhoum menoleh kepada Haman. “Kita akan ke tempat Tuthre Hasse.” “Siapakah dia, Yang Mulia?” Rasa ingin tahu di hati Haman memang besar.

“Dia Menkheperesseneb sebelum aku.” Ada rasa terkejut yang sunyi di hati Haman saat mendapati kata-kata Bakhoum barusan. Di dunia ini hanya boleh ada satu orang saja Menkheperesseneb, tidak boleh ada dua orang. Setiap Menkheperesseneb mesti mengangkat seorang murid dan harus benar-benar mengajarinya Heka, untuk pada akhirnya mereka berdua akan mengadu kemampuan Heka dan si murid  harus mengalahkan gurunya.

Dan taruhannya adalah nyawa. “Berarti Menkheperesseneb yang sebelumnya belum mati, Yang Mulia?” “Aku mengasihaninya,” sahut Bakhoum. “Aku tahu dia berjasa besar dalam hidupku, dan kemampuannya cukup hebat, dan aku tahu suatu saat dia pasti ada gunanya. Seperti sekarang ini!” “Berarti kita menemuinya untuk memintanya bertempur bersama melawan Musa?” “Itulah rencananya.”

“Apakah Musa sehebat itu, hingga  harus dihadapi oleh dua orang Menkheperesseneb?” “Sudah kubilang ini untuk jaga-jaga. Lebih baik kita benar-benar mempersiapkan diri daripada bertemu dengan kehancuran kita.” “Itu jugalah yang dikatakan oleh orang berbaju hitam malam lalu,” ada serat ketakutan di dalam suara Haman.

 “Dia memperingatkan kita akan bahaya Musa.” “Tidak ada Hekau yang lebih kuat dari aku di negeri Mesir ini,” mendeliklah Bakhoum kepada Haman. “Jangan kau ragukan itu! Orang-orang yang ragu akan mendapatkan ganjarannya.”

 “Ampuni aku, Yang Mulia!” Haman menunduk ketakutan. 000 Malam kembali meremang ketika rombongan prajurit Mesir itu berada di hadapan sebuah gubug di Hierakonpolis. Seluruh prajurit mengepung gubug itu, sementara Haman dan Bakhoum berdiri tegak di depan pintunya yang sederhana.

Pintu-pintu perlahan-lahan membuka dan menyembullah kepala seorang lelaki tua dari sela-selanya. Lelaki tua itu melangkah keluar dan berdiri dengan gagah, walaupun bungkuk, di hadapan para pria yang tegap itu. Kepalanya botak dan keriput, dan keriput di wajahnya tak kalah dalamnya. Alis, kumis, dan janggutnya sudah memutih semua, dan dia terlihat ringkih sekali.

Namun raut wajahnya sangat angkuh, seolah menyatakan kepada semua agar jangan sembarangan terhadapnya. “Kalian semua jangan mengasihani orang tua ini,” kata Bakhoum tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah lelaki tua itu.

“Dia tidak selemah kelihatannya. Dia adalah ular berbisa yang licik dan penuh muslihat. Sudah banyak orang yang mati di bawah mantranya.” “Apa yang kau inginkan, Bakhoum?” Lelaki tua itu akhirnya buka suara. “Tentu saja aku datang untuk sesuatu yang amat kau sukai, Tuthre,” sahut Bakhoum.

“Kau sendiri tahu, aku sudah pensiun,” Tuthre menggeleng pelan. “Selama dia masih hidup, tak ada kata pensiun bagi Menkheperesseneb.” “Aku tidak pernah lagi melakukan Heka.” “Jangan berdusta padaku.” Hubungan guru dan murid itu  sepertinya tidak akur. Haman bergantian menatap Bakhoum dan Tuthre yang saling melemparkan perkataan.

Para prajurit tetap siaga di sekeliling mereka. “Kau harus ikut aku ke Thebes,” kata Bakhoum dengan angkuh. “Karena kita harus menghadapi seorang Hekau bernama Musa.” “Apa yang disampaikan putra Anubis padamu?” Seru Tuthre.

“Dia memberiku peringatan.” “Apa yang dia katakan?” Ulang  Tuthre. “Dia memperingatkan aku tentang  Musa.”

“Apa yang dia bilang tentang Musa?” “Musa bukanlah Hekau, tetapi  utusan.” “Kalau putra Anubis berkata begitu,  seharusnya jangan kauabaikan.” Bakhoum menggeleng pelan.  “Pembicaraan ini harus dihentikan. Kau harus ikut denganku, dan kita akan beradu ilmu Heka dengan Musa.” “Kau dengar sendiri bahwa dia bukan Hekau. Dia adalah utusan.”

 “Aku tidak peduli. Yang kutahu, dia memakai Heka ular dan cahaya.” Tuthre tua terkekeh, dan seolah seluruh tubuhnya yang ringkih akan runtuh karena kekehnya itu. “Ternyata ilmumu memang belum ada apa-apanya, Bakhoum. Ternyata kau belum paham apa yang disampaikan putra Anubis.”

 “Aku tidak butuh hal itu! Yang  kutahu, kau harus ikut denganku ke Thebes dan kita akan melawan Musa.” Tuhre terkekeh lagi.

 “Percayalah, aku akan ikut denganmu. Tetapi dengarlah katakataku, sebagaimana kau mendengarkannya dulu saat masih berguru kepadaku.” Kesunyian yang menyusul kemudian membuat semua orang menunggu. Bahkan Bakhoum pun menatap tajam kepada Hekau tua itu dan memerhatikan.

“Ketahuilah ini, jika memang orang yang kausebut itu adalah utusan, maka tidak ada hekau yang bisa mengalahkan utusan. Aku memang belum pernah bertemu dengan seorang utusan, tetapi cukuplah aku percaya apa yang pernah dikatakan putra Anubis. Dia pernah berkata hal yang sama padaku, sekali.”

Kalimat terakhir Tuthre mengingatkan Bakhoum pada cerita Haman. Pada malam yang lalu, Haman berkata bahwa Musa melakukan segalanya itu tanpa merapalkan mantra sedikit pun. Bibirnya tidak terlihat komat-kamit, padahal semua Heka haruslah merapalkan mantra. Tuthre melanjutkan. “Kau selalu tidak sudi mempelajari sejarah, Bakhoum.

Kau malas belajar sejarah. Padahal untuk menjadi Hekau terkuat haruslah menggandeng sejarah. Sejarah amat penting agar kau bisa menggunakan Heka dengan tepat, agar kautahu siapa musuhmu dan tahu bagaimana cara mengalahkannya. Tetapi kau malas belajar sejarah, sehingga kau tak tahu apa-apa tentang para utusan.

Kau takkan pernah bisa mengukur seberapa dalam kekuatan para utusan, sebab mereka bukanlah Hekau. Keberadaan para utusan memang tidak banyak disebut di dalam kitab-kitab Heka, tetapi mereka ada. Dan kita tidak boleh mengabaikannya. Aku bersedia ikut denganmu, lebih karena rasa penasaranku tentang seperti apakah seorang utusan itu. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bawalah aku!”

 “Kau akan melihatnya, orang tua, siapakah yang terkuat, aku ataukah Musa!” Bakhoum menatap tajam Menkheperesseneb tua itu.[]

HEKA Eps 05

Derap kaki kuda didekap selimut  malam. Hanyalah malam, malam yang kelam. Kesuramannya tak  tertandingi, dan Heka membuatnya lebih muram lagi. Sebuah perjalanan yang mistis ditempuh oleh prajurit Mesir, bersama Hekau terkuat, Menkheperesseneb, Bakhoum Fanoush. Haman memberi Bakhoum seekor kuda, dan di jajaran terdepan, tubuhnya naikturun pelan seiring dengan gerak punggung kuda.

Haman dan Bakhoum berkuda bersisian, di belakang mereka berbaris panjang prajurit Mesir yang gagah perkasa. Malam yang dingin membalut bumi Mesir, semilir angin membuatnya lebih memilukan lagi. Haman mengenakan sehelai mantel bulu yang tebal dan hangat, yang menjadi lambang kesenjangan antara dia dengan prajuritnya.

Mantel bulu yang menggelorakan racun iri-dengki di hati prajuritnya, sebab di tengah malam yang dingin itu mereka bertelanjang dada. Yang mereka kenakan hanyalah sehelai sarung putih yang panjang hingga ke lutut, yang diikat sabuk khas prajurit Mesir.

Walaupun mereka memiliki otot yang tebal, dada yang bidang, dan semangat membara, tetapi kalau terus-menerus dihantam hawa dinginnya malam dengan bertelanjang dada, prajurit perkasa mana yang akan tahan? Menkheperesseneb tetap diam, sediam malam. Sejak perjalanan itu dimulai, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Dia hanya menatap ke depan, dan hanyalah kedipan pelan kelopak matanya yang menandakan bahwa dia masih di sana. Sikap diam Bakhoum membuat Haman merasa canggung. Sekali-sekali Haman melirik kepada Bakhoum, dan senyapnya malam membuatnya bisa mendengar embusan napas Bakhoum yang pelan. Ada sejuta pertanyaan di benaknya tentang Menkheperesseneb itu, dan sedari tadi pertanyaan-pertanyaan itu menggedor-gedor sanubarinya. Tiap waktu berlalu, dirinya makin tak kuat menahan gelora, dia hendak bertanya. “Yang Mulia, udara malam sangat dingin, silakan Yang Mulia mengenakan mantel bulu ini,” kata Haman.

Menawarkan mantel dirasanya menjadi awal yang baik untuk membuka pembicaraan. Bakhoum tetap diam. Matanya tetap menatap ke depan, seolah sama sekali tidak mendengar kata-kata Haman. Beberapa detik kemudian barulah dia menoleh dengan misterius ke sisi kirinya, kepada Haman. Tampangnya masam, dan dari sudut matanya yang tajam dia menatap Haman. “Aku tidak butuh mantel itu,” suara Bakhoum pelan dan tenang. “Kau lebih membutuhkannya daripada aku.” Haman kembali melirik kepada Bakhoum, dan kembali hatinya disesaki tanda tanya yang baru. Dia melihat Bakhoum hanya mengenakan sehelai baju putih  dengan lengan panjang.

Pakaian itu panjang hingga ke betisnya, dan sesekali semilir angin datang, pakaian itu berkibar perlahan. Tetapi dengan pakaian setipis itu, Bakhoum terlihat biasa-biasa saja, padahal hawa malam amatlah dingin. Penawaran Haman tentang mantel sudah gagal, namun pembicaraan sudah terbuka dan dia akan menyusulnya dengan pertanyaanpertanyaan di dalam hatinya. “Yang Mulia, kita harus tiba di Thebes sebelum Hari Raya Sed,” kata Haman.

 “Karena hari itulah yang telah dijanjikan untuk menjadi hari pertempuran dengan Musa.” “Bagus sekali, itu hari yang tepat.” Bakhoum tetap memandang lurus ke depan. Tidak menoleh sama sekali. “Dari perhitunganku, kita akan sampai di Thebes seminggu sebelum Hari Raya Sed, kalau perjalanan kita lancarlancar saja.” Kesunyian malam meremang saat mereka semua terdiam.

Bakhoum sedikit sekali bicara, dan hal itu membuat Haman kesulitan untuk selalu memancing pembicaraan. Masih lebih baik bicara dengan burung beo daripada bicara dengan orang yang ogah-ogahan bicara. Tetapi tibatiba suara Bakhoum memecah kesenyapan. “Orang seperti apa Musa?” Tanyanya, namun wajahnya tetap terarah ke depan.

“Dia Hekau hebat, Yang Mulia,” sahut Haman. “Heka apa yang dipakainya?” “Ular dan cahaya!” “Apa yang dia lemparkan?” “Tongkat!” “Mantranya kuat!” “Tidak, Yang Mulia,” gumam Haman. “Apa maksudmu?” Kali ini Bakhoum  menoleh kepada Haman. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Haman menggeleng. “Musa tidak merapalkan mantra.” “Tidak mungkin,” sergah Bakhoum.

“Setiap Heka pasti merapalkan mantra.” “Tapi kami tidak melihat itu, Yang Mulia,” kata Haman. “Pada kedatangannya yang lalu, dia meluncurkan semua Heka begitu saja. Aku sengaja memerhatikan bibirnya, tapi aku tidak melihat bibirnya komat-kamit merapalkan mantra.” “Tidak mungkin, tidak mungkin,” Bakhoum menggeleng pelan. “Setiap Heka pasti merapalkan mantra, dan setiap mantra mesti diucapkan walau hanya dengan bisikan.”

“Tetapi itulah yang aku saksikan,” Haman memastikan. “Aku sangat yakin, Yang Mulia, penglihatanku tidak mungkin salah. Selain aku, masih ada banyak lagi pejabat istana yang menyaksikannya, bahkan Fir’aun sendiri.” Tiba-tiba perjalanan mereka terhenti. Di tengah jalan muncul sosok berpakaian hitam dengan tudung di kepalanya yang karena kehadirannya, mau tak mau, Haman harus menghentikan langkah kudanya dan langkah seluruh pasukan. “HEI, SIAPA KAU?!!!” Bentak Haman sambil mencabut pedangnya.

Tetapi Bakhoum segera mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan Haman. Tatapan matanya tetap tertuju kepada sosok berpakaian hitam yang menghadang jalan mereka itu. Sementara Haman terbengong-bengong sambil melirik kepada Bakhoum. Kesunyian kembali bangkit saat semuanya terdiam menyaksikan Menkheperesseneb turun dari kudanya dan menghampiri sosok hitam yang menghadang itu. Ada perasaan tenang yang aneh di hati Haman karena mendapati hadirnya Bakhoum di tengah-tengah mereka.

Seorang Menkheperessebeb, Hekau terkuat, tentunya tak ada seorang pun yang sanggup mencelakainya. Tidak pula sosok hitam di depan itu. Bakhoum berdiri tegak di hadpan sosok hitam itu. Jarak mereka hanya dua meter, dan sosok hitam itu menunduk dalam-dalam sehingga wajahnya tertutup tudung. Misteri menyelimuti sosok hitam itu sebagaimana jubah hitam yang dipakainya. “Apalagi yang kau mau?” Suara Bakhoum pelan. Sunyi-senyap benar-benar mencekam, sehingga walaupun Bakhoum memelankan suaranya, Haman dan prajurit di barisan terdepan tetap bisa mendengar kata-katanya dengan baik.

 “Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?” Kata Bakhoum lagi. Figur hitam itu tetap diam saja. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari dirinya. Tudung hitam itu menyamarkan identitasnya. Tetapi dari semua kalimat yang diucapkan Bakhoum, sepertinya dia telah mengenal si Hitam itu sejak lama.

“Menyingkirlah dari jalanku! Jangan halangi aku!” Untuk pertama kalinya, sosok hitam itu bersuara. Serak dan parau, seperti sebuah suara yang sudah berkarat dan sudah lama sekali tidak ditarik keluar.  “Jangan menyombongkan dirimu di hadapanku, Menkheperesseneb!” Kata si Hitam. Sebuah senyum yang kelam terbit di wajah buruk Bakhoum.

 “Kau semakin berani saja bicara. Apakah kau sudah lupa siapa dirimu? Kalau tidak ada aku, kau sudah mati.” “Aku menyertaimu, karena Anubis memerintahkannya,” sahut sosok hitam itu. “Karena perintah itu pulalah sampai detik ini aku masih menyertaimu. Dan kehadiranku di sini untuk menlindungimu dan memberimu peringatan.”

 “Tugasmu memang melindungi dan memberi peringatan, tetapi bukan menghalangiku. Aku akan tetap menghadapi Musa. Akulah Hekau terhebat. Jadi jangan halangi aku.” “Dengan menempuh jalan ini, kau akan jatuh pada perang yang takkan bisa kaumenangkan. Ketahuilah, Musa bukanlah Hekau.” “Kalau Musa bukan Hekau, lalu dia itu apa?” Sergah Bakhoum. “Dia utusan!” [bersambung…]

Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri

Seolah hanya malam yang suram yang  mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb. Tak ada siang  sama sekali, tak ada cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada setan. Mereka memang sudah bergandengan tangan. Seorang Menkheperesseneb memang harus begitu, dialah penguasa Heka tertinggi di seluruh negeri Mesir.

Dialah orang kedua setelah Fir’aun sendiri. Menkheperesseneb harus selalu menyertai sang raja, dan menopang tiraninya. Separuh kekuasaan seorang Fir’aun bisa saja runtuh, jika tidak ada seorang Menkheperesseneb di sisinya. Dan menghilangnya Menkheperesseneb adalah sebuah guncangan besar bagi Ramesses dan seluruh Mesir. Nama aslinya Bakhoum Fanoush. Dialah Hekau terhebat yang menjadi kepercayaan Ramesses, dia seorang Menkheperesseneb.

Dialah penyihir paling mahir dalam derajat yang paling dimuliakan. Seharusnya dia selalu menyertai Ramesses, dan berdiamnya dia di tepian Sungai Nil yang sunyi, bukanlah tanpa alasan. Bakhoum adalah seorang lelaki yang gagah. Tubuhnya kekar dalam balutan kulit cokelat khas orang Qibthi. Wajahnya tampan, pada awalnya, tetapi setiap ritual Heka yang  dilakukannya sejak sekian lama selalu menuntut pengorbanan. Maka wajahnya yang tampan tinggallah impian, yang tersisa hanyalah mata yang membelalak besar di bawah alis yang tebal.

 Hidungnya sekadar mencuat dan bengkok dengan bulu hidung yang gondrong, melanggar garis batas di lubang hidungnya. Bibirnya yang besar dan monyong dibingkai garis wajah yang keras berbentuk trapesium. Tak ada sehelai pun kumis atau janggut pada wajah yang amat tidak karuan itu, yang ada hanya bulu hidung, yang kalau tertiup semilir angin dia melambai-lambai. Sang Hekau berdiri tegang di depan pintu gubugnya.

Dia menengadah ke langit malam, sementara tangannya mencekik leher seekor anak kambing hitam kuat-kuat. Saat matanya terbeliak ke arah bintang, cengkeraman tangannya pada leher anak kambing yang malam itu semakin kuat, sementara tangannya yang lain menggenggam moncong anak kambing itu agar tidak mengembik. Bibir Bakhoum mulai bergerak-gerak, merapalkan mantra yang dianggapnya suci, sementara tangannya yang mencengkeram terlihat gemetar saking kuatnya. Leher anak kambing yang malang itu pun patah, nyawanya telah pupus. Tetapi kemudian Bakhoum mengangkat bangkai anak kambing itu ke wajahnya, lalu dia gigit leher anak kambing itu dengan beringas. Seperti seekor serigala gurun yang sedang  mencabik-cabik mangsanya.

Darah pun berhamburan di mana, mengucur dari lubang di leher anak kambing itu. Bakhoum pun melangkah mundur, sambil membiarkan darah yang mengucur itu membasahi tanah di sekitar gubugnya. Dia sedang membuat garis darah di sekeliling gubugnya. Ritual itulah yang membuatnya tidak pernah ditemukan selama sepuluh tahun. Asalkan dia berada di dalam lingkaran darah itu, dia akan aman. Hanyalah orang-orang yang diinginkannya saja yang bisa menemuinya. Namun dia tidak akan bisa menghindarkan diri dari datangnya suatu hari yang akan membuatnya terkejut setengah mati. 000 Tak banyak kata yang keluar dari mulut Bakhoum.

Seorang Menkheperesseneb memang ditakdirkan hidup di dunia yang sunyi. Dia hampir tidak mengenali bahasa manusia lagi, hanya bahasa setan. Ketika dia masih berada di sisi Ramesses pun dia tidak banyak bicara, tidak pula banyak muncul di tengah orangorang, dan dia terus hidup di belakang bayang-bayang. Dia hanya muncul ketika  diperlukan. Bakhoum sedang duduk bersila di hadapan perapian dalam gubugnya.

Kedua tangannya terletak di atas pahanya, dan pakaian putih panjang itu masih dikenakannya. Dia menatap ke dalam api yang  menggelora itu seakan-akan bicara dengannya. Pendar-pendar api menari-nari di bola matanya, menyiratkan kesesatan yang suram. Tiba-tiba dia tersenyum, dan senyum itu penuh dengan rahasia. Apakah ada sesosok setan yang sedang bicara padanya? Tetapi tiba-tiba alisnya yang tebal melengkung dan dahinya berkerut. Sikap itu diikuti gelengan pelan, seolah ada sesuatu yang dikatakan setan itu yang tidak bisa diterimanya.

“Tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan aku,” gumamnya pelan. “Siapakah hekau di Mesir ini yang lebih kuat dari aku?” Keheningan kembali merajalela, yang ada hanya retih-retih di perapian. Tampang Bakhoum makin tidak enak dilihat, raut yang penuh tanda tanya tadi kini telah berubah menjadi air wajah yang kesal dan tidak terima. Tiba-tiba Bakhoum bangkit dengan gusar dan menjungkirbalikkan meja di dekatnya. Meja itu penuh dengan barangbarang dan benda-benda sihir. Gubug yang sudah berantakan itu kini menjadi makin porak-poranda.

“TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARIKU!!!” Pekik Bakhoum. “TIDAK ADA!!!” Telunjuk Bakhoum teracung lurus kepada perapian, padahal dia hanya sendirian di dalam gubug itu. Jika tidak ada  orang di sana, maka kata-katanya ditujukan kepada setan. Dan  setan itu, mungkin saja, hadir di perapian.  “AKAN AKU MUSNAHKAN DIA!” Bakhoum berkacak pinggang. “AKAN AKU BUNUH DIA DENGAN HEKA TERKUAT. AKU TIDAK PEDULI SIAPA PUN DIA!!!” Meletuplah perapian itu, seolah ada seseorang yang meniupnya. Namun Bakhoum tidak gentar, dia tetapi berdiri gagah di depan perapian. Lagi-lagi dia menuding-nuding kobaran api.

“JANGAN PERNAH KAU HALANGI AKU!!! TUGASMU ADALAH MENDUKUNG AKU SEPENUHNYA! SAMPAIKAN KEPADA ANUBIS BAHWA AKU BERTEKUK LUTUT PADANYA, MEMOHON PERLINDUNGANNYA!” Kesunyian pun meremang, merayapi permukaan kembali. Bakhoum terdiam, detak kayu bakar yang dimakan api seakan kalimat-kalimat setan. Air wajah Bakhoum makin kecut, tiba-tiba dia membelalak dan suaranya mengguntur memenuhi ruangan itu.

“TIDAKKAH KAU BISA BERHENTI?!!! JANGAN TAHAN AKU LAGI! TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARI AKU!” Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Bakhoum dan perapian itu, tetapi tiba-tiba sebuah senyum terkembang dari bibirnya yang hitam dan keras, dan terdengar pintu gubug itu digedor dari luar. Bakhoum menoleh ke arah pintu dan menghampirinya. Tangannya terarah kepada gagang pintu dan dibukanya.

Tepat di ambang pintu ada sekelompok prajurit berkuda yang menatap tajam kepada Bakhoum. Ahli heka itu berdiri gagah di hadapan mereka seolah mengetahui siapa mereka semua. Turunlah salah seorang dari mereka dari kudanya dan menghadap Bakhoum. “Akhirnya kami berhasil menemukan Anda, Yang Mulia Menkheperesseneb,”

“Bagaimana kabarmu, Haman?” Tanya Bakhoum. “Kami berjuang mati-matian untuk menemukan Anda, dan kami bersusahpayah melakukannya. Leher kami taruhannya jika tidak menemukan Anda.” Haman berlutut di hadapan Bakhoum dan semua prajurit turun dari kudanya, kemudian melakukan hal yang sama.”  “Ada orang yang datang mengacau di Thebes?” Kata Bakhoum. “Benar, Yang Mulia,” sahut Haman.

 “Namanya Musa.” “Benar, Yang Mulia.” Rasa kagum  kembali bersemi di dalam hati Haman. Dia belum sama sekali menyampaikan apa tujuan kedatangan mereka, tetapi Bakhoum sudah tahu. Menkheperesseneb memang luar biasa. “Aku cukup penasaran, kalian bisa menemukan aku, tetapi kalian tidak perlu mengatakannya kepadaku,” Bakhoum mengangkat tangan kirinya, dan semua orang menyaksikan apa yang dia lakukan.

Tangan kanan Bakhoum pun terangkat, diarahkannya ke dadanya dan ditekannya di sana. Mendadak pecah suara jeritan yang muram dari tengah-tengah prajurit Mesir itu. Semuanya terlonjak kaget. Suara jerit itu kemudian silih berganti dengan suara muntah yang mengerikan, seakan seisi perut keluar dari kerongkongan. Keluarlah seseorang yang melangkah tergopoh-gopoh dan membungkuk sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Di depan barisan prajurit, orang itu ambruk dengan memuntahkan darah. Bukan cuma darah, tetapi juga berbagai hal menjijikkan lainnya, isi perutnya, berikut cacing-cacing dan belatung.

Dan orang itu tak asing lagi. “Yang… Mulia… aaaahhkkk!” “Aku percaya padamu, Ramzi, tapi  kau mengkhianatiku. Inilah ganjaran untukmu.” Haman terbelalak melihat apa yang terjadi pada Ramzi Yassa. “Dialah orang yang memberitahu keberadaan Anda!” “Aku tahu!” Sahut Bakhoum sambil mendelik kepada Haman. Dan jawaban pendek itu menancapkan kengerian di hati Haman, bahwa lelaki di hadapannya adalah Hekau terbesar yang pernah dimiliki Mesir.

Pastilah Musa takkan kuat melawan Hekau terhebat ini! Tetapi bahkan setan pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Takkan ada yang menyangka, keputusan apa yang akan diambil oleh Hekau terbesar itu.[]