Majalahdrise.com – Driser, hati-hati kesambet JIN, eh kebawa opini Jaringan Islam Nusantara. Tuhan kita satu. Rasul kita satu. Agama kita juga satu. Nggak dibagi-bagi sesuai tempat tinggal kita. Allah mengingatkan kita: Sesungguhnya umat [agama] kalian ini adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (TQS al-Anbiya’ [21]: 92).
Kata “ummat” pada ayat di atas diartikan oleh para mufassir dengan agama (millah). Maknanya jelas, yakni agama kita, Islam, itu satu. Tidak terbagi dan tidak boleh dilabeli kata-kata yang meracuni. Kata “ummat” itu juga bisa diartikan secara bahasanya, yaitu umat. Karena itu Islam adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak ada “Islam Nusantara”, “Islam Turki”, atau “Islam Arab”. Umat Islam pun hanya satu. Tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat Islam Arab” atau yang lain. Semuanya adalah Islam dan umat Islam. Catet tuh! Karena Islam satu, nggak perlu ada lagi label Islam pake nama daerah atau wilayah.
Justru Islam membenci adanya fanatisme daerah alias nasionalisme yang bikin umat Islam terpecah belah. Nggak peduli satu sama lain cuman lantaran beda ras, negara atau suku. Jelas banget rasul mengingatkan, “Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah (nasionalisme dan tribalisme).” (HR Abu Dawud).
Biar nggak gampang kena jebakan betmen Islam Nusantara, ada baiknya kita kenal islam lebih dalam. Jangan cuman tahu aturan ibadahnya aja. Tapi juga paham Islam sebagai aturan hidup yang beda dengan ajaran agama lainnya. Dengan begitu, kita punya tameng buat menangkal pemahaman sesat yang bisa merontokkan akidah kita. Dan tetap bangga sebagai muslim calon penghuni surga. Islam Nusantara? Ke laut aja..!#YukNgaji!
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49