Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising

Drise jika naskah-naskahmu sering  dikembaliin alias gagal total masuk ke penerbit, sedangkan kamu  begitu ngebet bukumu pengen ada yang terbit, kagak ada salahnya nyoba jasa penerbit indie label alias indie publishing. Walah, apaan neh, ya?

 Indie publishing sebenernya kayak jasa penerbitan buku pada umumnya, tapi ga pake label alias kagak di bawah payung industri penerbitan gede (perusahaan penerbitan mayor).

Trus juga, kamu bakal diminta ikutan berkontribusi extra dalam penerbitan bukumu itu, bisa berupa duit ataupun jasa. Pokoknya, kamu bakal dibikin ngerasa sibuk dengan bukumu yang terbit itu…secara kamu sendiri yang ngebet bukumu itu terbit, kan? Jadi, wajar dunk, ada perhatian lebih gitu lho, tapi “jadi baper”, ya?

Woles aja, dah! Penerbit indie beda banget sama penerbit mayor yang dimiliki oleh perusahaan penerbitan besar. Penerbit indie ga punya nama dan modal gede yang jadi magnet para penulis berlomba ngirim naskahnya.

Trus kalo penerbit mayor, bukubukunya juga pasti berISBN and berISSN, pegawainya aja punya spesialisasi masingmasing, ada editor, proofreader, layouter, designer cover, tim produksi, tim distribusi, tim promosi, tim marketing, etc yang semuanya bekerjasama bikin bukumu layak baca, layak terbit, layak mejeng di semua toko buku, and so pasti bikin performa penjualan bukunya terdongkrak.

Orangorang kreatif di penerbitan itulah yang mikir and ngerjain bukumu sampe ke para  pembacanya. Kamu tinggal senyum aja nerima royaltynya tiap kwartal ato semester. Sedangkan penerbit indie, kamu harus ikutan kerja… eR I satu bilang, ”ayo kerja, kerja dan kerja?!” peace..

Selain itu, kalo bukumu diterbitkan penerbit mayor, bukumu bisa dicetak ribuan eksemplar agar dapat mensupply ratusan toko buku dalam jaringannya, bahkan bisa memasok hingga ribuan kios buku mungil di pelosok daerah karena mereka punya tim distribusi and sirkulasi yang tepercaya, plus bisa mejeng pula di website toko buku online.

Apalagi, kalo penerbit mayor itu bermain pula di website digitalbooks, mereka bisa jualan buku versi digitalnya. Waouw! Kalo di penerbit indie, jangan ngarep! Kecuali kalo kamu emang niat banget full kerja demi penerbitan bukumu itu, Brouw?!

Nah, ketauan kan, gimana kalo nerbitin buku di penerbit indie tersebut? Kamu pasti diminta untuk ikut berkontribusi. Lantaran penerbit indie modalnya kecil, minim tenaga redaksional, bahkan ga punya tim marketing yang benar-benar profesional. Mereka biasanya menerbitkan buku dengan oplag sedikit  dan dipasarkan di komunitas terbatas pula.

Simpelnya, indie publishing lebih pada menyediakan jasa untuk menerbitkan naskahmu jadi buku. Mereka menerbitkan buku berdasarkan apa yang kamu pesan. Kalo kamu minta produknya lebih berkelas, tentu nilai jasanya juga akan ikutan naik.

Nah, disitulah kamu harus ikut berkontribusi extra, duit dan jasa!  Tapi, kamu jangan berkecil hati dulu. D’riser tentu orang-orang cerdas and kreatif, kan? Kamu-kamu kudu tau juga, nerbitin buku di penerbit indie ada nilai positifnya juga lho.

Selain ngajarin kamu bekerja keras, ikut bertanggungjawab penuh sama kualitas performa bukumu, kamu juga bisa belajar mengelola penerbitan, secara kamu emang mantengin terus proses penerbitannya.

Kamu bisa belajar ngurus ISBN ke perpusnas, kamu bisa ikut ngitung hapepe alias harga pokok produksi, terus kalo kamu ngerasa mampu untuk ngedit, ngelayout, ngedesain, nyetak atopun ikutan ngejual bukunya…hayo jangan ragu ambil peranmu di situ biar bea produknya bisa kamu tekan and kamu bisa maenin harga jualnya di pasar. Mo contoh hebat soal indie publishing ini, ga Bro and Sist?

Kamu tahu Sayf Muhammad Isa, kan? Kalo ga kenal kebangetan dah, secara dia emang redaktur majalah ini juga! Nah, Bang Isa yang kondang dengan dwilogi Sabil yang diterbitin Mizan ini, mengawali karier kepenulisannya dengan menerbitkan buku secara indie label hingga penerbit mayor seperti Mizan dan Al-Fatih Press pun tertarik untuk minta tanda tangan Bang Isa agar naskahnya bisa di.re-publish sama mereka. Congrat’s! 

 Tips bekerjasama dengan indi Label

Nah kini, saya mo berbagi tips bagi  D’Riser, gimana kalo mo kerjasama nerbitin buku secara indie label:  

1._ Kamu emang niat banget nerbitin buku, sedangkan naskahmu ga bisa diterbitin sama penerbit mayor;  

2._ Pastiin juga, kamu punya modal lebih untuk itu, mulai duit, jasa atopun sdm yang bisa kamu kerahin untuk optimalisasi bukumu itu;  

3._ Kamu juga kudu siap mempertanggungjawabkan performa bukumu itu, baik soal kemasan sampe pemasarannya;  

4._ Siap-siap aja, jika penerbit mayor tibatiba ada yang tertarik me-republish  atau bahkan mengakuisisi buku indie labelmu itu, bahkan bukan hanya penerbit yang tertarik, bisa jadi bukumu difilmkan oleh para sineas, why not gitu lho?;  

5._ Jangan nekad nerbitin buku doang, tapi kamu juga harus punya tekad kuat buat nulis lagi, lebih kreatif and lebih produktif. Hayo, ah, nulis?!

15 Tips Penulis Pemula

Biasanya penulis pemula seperti kamu dan saya kebingungan harus mulai darimana untuk  meningkatkan kemampuan menulis.  Itu merupakan permasalahan yang sepele.  Namun, jika kita bisa membuat susunan yang sistematis tentang bagaimana memulai tulisan, maka kita bisa dengan mudah menerapkannya untuk bisa mengasah kemampuan kita dalam menulis.  Oleh karena itu, berikut tips-tips menulis untuk pemula agar bisa kamu gunakan berlatih menulis.  

Mulailah dengan menulis apa yang kamu lakukan.  

Setiap orang pasti memiliki aktivitas keseharian yang berbedabeda.  kamu bisa menuliskan semuanya dalam satu artikel atau memilah-milah mana kegiatan yang menarik untuk dituliskan.  Bagi penulis pemula seperti kita, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagaimana menyajikan aktivitas kita menjadi menarik untuk diceritakan.  Jadi,

tips menulis untuk pemula yang pertama

adalah tulislah apa yang kamu rasakan, yang kamu lihat, yang kamu dengar, yang kamu makan, dan yang kamu kerjakan menjadi sebuah cerita utuh untuk dibaca. Meskipun terlihat mudah, menuliskan pengalaman kedalam bentuk tulisan sangatlah membutuhkan kerja otak yang lumayan berat.  Bukan menulis satu artikel saja, tetapi menuliskannya setiap hari secara teratur.   Oleh karena itu,

tips menulis untuk pemula yang kedua adalah disiplinlah menulis setiap hari. Untuk memudahkan kamu berlatih menulis, buatlah sebuah blog atau buku diary. Ingat, jangan menuliskan sesuatu yang terlalu panjang karena kita sebagai pemula akan merasa kesulitan untuk tetap fokus pada topik.   

Tips menulis untuk pemula yang ketiga adalah menulislah dengan kata-kata yang sederhana.  Jangan berbelit-belit. Semua itu tidak akan berguna jika kamu tidak memiliki niat untuk belajar menulis yang baik dan benar.   Oleh karena itu,

tips menulis untuk pemula yang keempat adalah menulislah sungguh-sungguh.  Jangan malas dan menunda-nunda kegiatan menulis kamu.

Bagaimana menyajikan tulisannya?

 Kamu tidak perlu khawatir tentang bagaimana menyajikan setiap tulisannya.  Jika kamu melakukan keempat tips menulis sebelumnya selama 2 bulan penuh, kamu akan menemukan gaya menulis kamu sendiri.   

Tips menulis untuk pemula yang kelima adalah jangan mengikuti gaya  bahasa orang lain.  Gaya bahasa kamu akan tercipta dengan sendirinya jika kamu tidak meniru orang lain. Apalah arti tulisan yang bagus jika itu berisi kebohongan yang kamu sajikan demi meraih popularitas.   

Tips menulis untuk pemula yang keenam adalah tunjukan integritas kamu dengan menulis yang jujur.  Agar pembaca merasa nyaman,

maka tips menulis yang ketujuh adalah lakukan pembagian paragraf.  Berlatihlah menyusun paragraf dengan baik.  Kapan kamu menyajikan paragraf panjang dan kapan harus menyajikan paragraf pendek. Pembaca terkadang merasa bosan jika kamu menyajikan artikel seperti text book.   

Tips menulis untuk pemula yang kedelapan adalah gunakan bahasa yang komunikatif.  Buatlah tulisan seakan-akan kamu berhadapan dengan pembaca. Disuatu waktu, mungkin kamu terlalu bersemangat dalam menulis sehingga tanpa kamu sadari tulisan kamu keluar dari topik.  Hal ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh pemula dan memang pantas untuk dimaklumi.   Meskipun demikian, saya tetap memasukannya ke dalam

tips menulis untuk pemula yang kesembilan adalah Menulislah dengan spesifik berdasarkan judul yang telah kamu buat. Tulisan yang mengambang jauh dari topik akan membuat pembaca merasa tertipu dan kurang nyaman saat membaca tulisan kamu.  Dan

tips menulis untuk pemula yang kesepuluh adalah menulislah dengan informasi yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Motivasi menulis dan mengembangkan kemampuan menulis kamu Setelah kamu mampu menciptakan kebiasaan menulis yang baik, kini saatnya membaca motivasi menulis dan bagaimana mengasah tulisan kamu agar berkembang dan semakin tajam.  

Tips menulis untuk pemula yang kesebelas adalah biasakan mencari informasi dulu dengan membaca sebelum  menulis.  Informasi dan pengetahuan bisa digunakan untuk membuat kalimat jenius yang disukai pembaca.  Biasakanlah

tips menulis untuk pemula yang kedua belas yaitu menulis tanpa mengedit.  Itu disebabkan saat menulis kamu butuh konsentrasi penuh untuk menyusun kata per kata.  Jika kamu mampu usahakan menulis apa adanya, selesaikan tulisan dulu baru melakukan editing. Sebagian orang terkadang terlalu sulit menuangkan segala ide-ide hebat dipikiran mereka dalam bentuk tulisan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya.   

Tips menulis untuk pemula yang ketiga belas adalah menulislah sebagaimana kamu berbicara.  Buatlah seolah-olah kamu berbicara dengan orang lain ketika menulis sehingga tidak ada ide yang terlewat untuk dituliskan.  Cobalah

tips menulis untuk pemula yang keempat belas dengan menjawab pertanyaan apa alasan kamu menulis? Tulislah pada satu paragraf utuh tujuan kamu menulis.  Kemudian bacalah kembali ketika kamu merasa lelah atau sedang tidak mood menulis.  Ini adalah motivasi bagi kamu untuk segera bangkit dan kembali semangat.  Dan

tips menulis untuk pemula yang terakhir tanamkan pada pikiran kamu bahwa siapa pun bisa menulis asal mau giat berlatih.  Menulis merupakan kemampuan yang membutuhkan kerja keras.  Bukan sekedar bakat.  

Selamat menulis! ^_^[@hafidz341, diolah dHari berbagai sumber]

Mengenalkan Dunia Penerbitan #4 : Promo Marketing Buku

DRiser, jika bukumu itu termasuk produk unggulan di penerbit itu, kamu bakalan digadang-gadang ke  seantero jagat buat aktif promoin sekaligus jualin bukumu itu. Kok, bisa? Bisa dunk! Gini ta’ jelasin, ya?

Pertama, periksa lagi surat perjanjian penerbitan yang kamu signing sebelom bukumu itu terbit. Perhatiin, deh, di salah satu point perjanjiannya (biasanya) tertulis bahwa pihak penerbit berhak untuk mencetak buku diluar kesepakatan jumlah penerbitan sebanyak 50 s.d 500 exp.  Di point itu juga diungkapkan bahwa cetakan tersebut dimaksudkan untuk keperluan promo marketing buku yang terbit. Bahkan, dijelaskan pula, jika pihak penerbit malah menjual produk tersebut, maka kamu sebagai penulisnya pun berhak untuk mendapatkan royalty ato bagi hasil dari hasil penjualan buku tersebut.

Kedua, kamu berhak dapet penjelasan dari pihak penerbit atas pertanyaan tadi. Kalo ga dikasi tau, kamu kudu nanya sama editor yang bertanggungjawab atas bukumu itu. Kemana saja alokasi promo marketing bukumu itu?

Tapi seh, biasanya mereka pasti ngasi penjelasan sebelom SPP bukumu itu kamu tandatangani. Bukumu yang dicetak lebih itu untuk keperluan promo marketing, seperti ngasi bukti cetak terbit sama kamu sebagai penulisnya, sample buat pihak penerbit, pracetak and percetakan, promo buat media dan instansi, hadiah bagi peresensi bukumu di media, door prize saat ada diskusi buku atopun acara-acara open table lainnya.

Nah, itu baru sebagian  saja agenda rutin promo marketing. Di luar itu, kamu bisa nanya langsung sama pihak penerbitnya, kayak gemana kalo bukumu dialih bahasakan, dipentaskan ato disinetronkan dan difilmkan? de.el.el.  

Ketiga, kamu harus mafhum juga, ada buku-buku tertentu yang ga bisa dibiarin saja nampang di rak toko buku karena ada tipe buku yang harus dibicarain, didiskusiin ato malah bisa dikulitin untuk mendongkrak performa penjualannya. Kayak buku filsafat ato buku-buku daras laennya, termasuk buku-buku bertema sejarah and buku-buku yang bikin kita berkerut kening memeras pikiran untuk mencernanya.  Pada beberapa jenis buku, acara  promo marketingnya dikemas dengan model training atopun sharing motivasi dan inspirasi.

Wuiih…bagi-bagi ilmu sekaligus jualan buku… So, jangan biarin bukumu manyun di toko buku ya, ntar kamu juga ikut-ikutan manyun bukumu ga laku. Ga kuku… Ini contoh promo marketing. D’Riser tahu buku  Api Sejarah 1 dan 2 yang ditulis oleh Prof. Drs. H. Ahmad Mansur Suryanegara itu? Buku yang didapuk sebagai buku nasional bestseller dan diganjar sebagai buku terbaik dalam Islamic Book Fair 2007 oleh Ikapi Jakarta ini awalnya diragukan bisa bersaing di pasar karena gada ceritanya buku bertema sejarah laris manis di pasar perbukuan nasional.

Namun, saat itu penerbit berani melempar buku tersebut ke pasar dengan rencana promo marketing yang sudah disiapin secara mateng. Saya yang saat itu diamanahi membidani penerbitan buku Api Sejarah ikut terlibat merumuskan ajang promo marketingnya dengan pihak penulis, bahkan ikut seruseruan bareng penulis roadshow ke  berbagai kota besar di Indonesia. Hasilnya pun, luar biasa… buku Api Sejarah 1 dan 2 tercatat sebagai satusatunya buku sejarah di negeri ini yang laku keras dalam tempo satu bulan, sekaligus repeat order kurang dari tiga bulan…!

TIPS MARKETING BUKU

Nah kini, saya mo berbagi tips bagi D’Riser semua agar semakin terpacu nulis buku, sekaligus bisa tampil  maksimal ikut promo marketing buku-bukunya:  

1 Kamu kudu nyusun strategi promo marketing apa saja, jika bukumu dah pasti  terbit?! Kamu bisa bikin review buku, resensi buku, diskusi buku, ato bahkan seminar soal tema ato sub-tema menarik dalam bukumu;

 2 Pastiin juga, tim promo marketing dari pihak penerbit punya rencana apa buat  mempromosikan bukumu itu. Kan, bisa dipadu padankan dengan semua rencana kamu, simbiosis mutualismo gitu, lho;  

3 Kamu juga kudu nyiapin kawan-kawan tim kreatif yang bisa support ajang promo  marketing bukumu, bisa komunitas baca ato komunitas tulis yang kamu bergiat di sana, bisa juga teman-teman sukarelawan yang bisa kamu ajak kerjasama, pokoknya dibikin asyiklah;  

4 Jangan sungkan ikut ngelobi pihak-pihak laen demi suksesnya promo marketing  bukumu itu. Kamu bisa pedekate sama pihak toko buku agar bisa bantu ngadain acara promo marketingnya, pedekate pula ke pihak perpustakaan, skula, PeTe, pesantren, masjid, ato bahkan pengelola kebon binatang, jika mo diskusi buku di sana…secara buku kamu itu bicara dunia binatang, fabel ato berlatar dunia marga satwa misalnya;  

5 Jangan cepet puas dengan apa yang kamu dapet dari hasil promo marketing yang  gilang gemilang, tapi teruslah menulis….[

Menangkap Inspirasi Dengan Diary

Menulis adalah sebuah aktiitas intelektual yang keren banget. Saat menulis, kita tengah  menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati ke dalam media tulisan agar orang-orang yang baca tulisan kita tercerahkan.Jadi ladang pahala deh.

 Karena penting bangetnya menulis, banyak ulama yang menghabiskan separuh umurnya untuk menulis berbagai kitab. Mereka ngerti banget bahwa menulis akan membuat ilmu menjadi lebih bertahan lama. Ilmu akan bisa tetap dinikmati dan dimanfaatkan walaupun para ulama itu telah wafat bertahun-tahun lalu. Karenanya buku menjadi warisan luar biasa dari para ulama. Sekarang ini kita masih bisa memperoleh keluasan ilmu Imam Syafi’i, itu karena beliau menulis buku.

Coba kalo dulu beliau cuma mengajar saja kepada murid-muridnya, dan tidak menulis buku, tentunya ilmu beliau tidak akan bisa dinikmati sedemikian banyak orang hingga  jaman sekarang ini. Karena itulah menulis buku jadi penting banget. Ah nulis buku kan susah. Tebel dan bakalan capek nulisnya. Kalo mandeg di tengah-tengah gimana? Kalo inspirasinya mampet gimana? Yang kayak gini nih yang menghambat D’riser untuk mulai menulis buku.

Padahal semua keluhan itu cuma ilusi yang dihembuskan setan agar kita nggak mau mulai menulis. Semua itu cuman ketakutan yang nggak beralasan. Yuk kita bahas soal inspirasi. Menulis emang perlu inspirasi. Dengan kata lain, nulis itu perlu ide, lha kalo nggak ada ide terus kita mau nulis apa?! Terus dari mana sih kita mendapatkan inspirasi ini? Sebenernya jawabannya cukup sederhana lho. Kehidupan ini adalah inspirasi.

Selama kita masih hidup maka pastilah kita akan selalu mendapatkan banyak inspirasi untuk dituliskan. Salah satu hal yang paling luar biasa yang diciptakan Allah Swt. adalah kehidupan ini. Allah nggak akan pernah menciptakan hal yang sia-sia dan nggak ada gunanya, makanya kehidupan adalah sesuatu yang amat luar biasa. Hidup setiap orang udah diciptakan Allah dengan luar biasa, termasuk kita semua, hidup D’rises juga.

Dengan kata lain, lihat deh  kehidupan kita, dari hal-hal yang paling sederhana, perhatikan, amati, dan kita akan menemukan bahwa di sana bertaburan hal-hal yang luar biasa yang amat layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebagai awal yang baik, mulailah menulis hal-hal sederhana dalam kehidupan kita. Kita bisa menuliskan betapa indahnya Allah membentuk wajah kita. Kita juga bisa menuliskan orang-orang yang ada di sekitar kita: ayah, ibu, adik, kakak, dan keluarga kita yang lainnya. Bagaimana keadaan kamar kita juga bisa dituangkan. Pergaulan dengan temanteman di sekolah atau cara ngaja guruguru kita yang killer juga bisa dituliskan. Dari sini, kita sudah mulai menulis catatan harian yang bahasa gaulnya disebut diary.

Eit, jangan minder dulu, nulis diary bukan cuma kebiasaan anak gaul labil yang nggak tentu arah. Nulis diary adalah sebuah kebiasaan intelektual yang keren banget lho. Orang-orang besar dalam sejarah umat manusia biasanya nulis diary, dan di dalam diary itulah mereka menumpahkan segala keluh-kesah dan pemikiran mereka tentang kemajuan dan perlawanan terhadap tirani. Diary pulalah yang akan merekam sepak terjang dan perjuangan mereka hingga lembar-lembar terdalam.

Dari menulis pengalaman-pengalaman kita seharihari aja kita udah bisa bikin berlembarlembar buku lho. Dan kebiasaan ini kemudian dijadikan starting point untuk menulis bentuk-bentuk tulisan lainnya, yang tentu saja bakalan lebih mudah kita kerjakan karena sudah terbiasa dari nulis diary. Eksplorasi  inspirasi pun jadi lebih mudah karena kita udah menempa pengalaman dari nulis diary. Ada lho orang yang catatan hariannya diterbitkan menjadi buku, dan bahkan diary itu mengungkap fakta-fakta sejarah dan kondisi sosial pada zaman hidup penulisnya.

Seperti ‘The Diary of Anne Frank’, catatan harian seorang gadis remaja yang tinggal di Amsterdam pada masa Nazi Jerman menyerang Belanda. Dari catan hariannya yang berhasil lolos dari Perang Dunia Kedua itulah kita jadi tahu bagaimana romantika dalam persembunyian. Diary itu pula yang mengungkapkan bagaimana orangorang pada zaman itu menyelamatkan diri dari pembantaian Nazi Jerman.

Di negara kita, sebut saja Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Indonesia dari etnis China yang menjadi aktifis pada masa pemberontakan PKI dan peralihan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Diary-nyayang bertajuk Catatan Harian Seorang Demonstran mengungkap berbagai kondisi sosialpolitik pada zaman itu, dan sudah lama diterbitkan. Berdasarkan diary itu pulalah sebuah film layar lebar dibuat. Dia telah menjadikan hidup dan  kehidupannya sendiri sebagai sumber  inspirasi dan kemudian menuangkannya dalam tulisan. Dari sekarang yuk kita mulai menulis. Jangan kebanyakan mikir, mulai aja nulis di buku harian. Yuk![]