RANGKAIAN EVENT TALKSHOW INSPIRATIF #YUKNGAJI

Majalahdrise.com – setelah sukses diadakan di kota  Bogor dan Jakarta, akhir bulan  Agustus kemarin event #YukNgaji  kembali diadakan di 5 kota, yaitu   Malang, Surabaya, Solo, Jogja dan  Bandung. Dalam kesempatan tersebut  Ustadz Felix Siauw dan tim # YukNgaji  akan berbagi tentang Kekuatan  Mengkaji Islam, atau “the Power of  Ngaji”.  Yups, ngaji memang bukan  aktivitas sembarangan, sebab  dengan belajar, mengkaji pemikiran  Islam, menginstall Al-Qur’an  kedalam diri kita, belajar mencintai  ilmu, belajar membenarkan amal,  maka orang yang melakukan itu  berarti telah mengawali langkah  menuju perubahan diri. Diawali oleh  perubahan diri itu, kemudian akan  mendorong pula untuk mengubah  dunia, menjadi tenpat yang lebih  baik untuk ditinggali, lebih  manusiawi untuk hidup. Perubahan  seperti ini, hanya bisa dilakukan  oleh Islam, khas terjadi pada  siapapun yang sudah diwarnai ayat-ayat Allah. Kira-kira itulah tujuan  diadakannya rangkaian event ini,  untuk mewujudkan perubahan yang  hakiki, hijrah di jalan Allah.

Roadshow event ini dimulai  di kota Malang, tanggal 22  Agustus 2015 dan bertempat di  Ballroom Ibis Styles Hotel,  Malang. Peserta yang memadati  Ballroom terlihat sangat antusias  menyimak pemaparan dari Ust.  Felix. Talkshow inspiratif  berikutnya diadakan esok  harinya di Surabaya, di Kaza Mall  Surabaya. Alhamdulillah event  ini dipadati oleh tak kurang dari  500 orang peserta yang  berkomitmen untuk mengkaji  Islam dan melakukan perubahan  ke arah yang lebih baik. Luar  biasa! Mudah-mudahan kita  semua bisa istiqomah untuk  terus berubah menjadi lebih  baik. Aamiin. []

lebih lengkap bisa di baca di majalah remaja islam drise edisi 49

 

 

Agar terjangkit virus Bibliomania

Oke D’Riser, kini saya mo berbagi  tips, agar kita gak terjangkit virus  bibliomania:

  1. Pastikan dulu apa manfaat terbaik buku bagi kamu? pasti banyak, kan? jadi siapkan diri untuk membaca dan  memahami isinya;
  2. Ambil buku fave kamu itu yang kamu yakini dapat memahami sekaligus mengamalkannya!
  3. Kalo isi buku tadi bukanlah buku yang layak diamalkan, pastikan juga kamu memilih buku tadi sekadar reference  ato pembanding agar kamu bisa  mengkritisi buku sejenis:
  4. Kalo kamu bermaksud ngoleksi, pastikan kamu pun bisa merawatnya dengan baik, jangan sampai berdebu  apalagi sampai jamuran;
  5. Tapi kudu diinget juga, kamu-kamu jangan sekadar membaca dan ngoleksi buku doang, tapi harus ada  outputnya dari hasil membaca buku-buku tadi, yaitu berkarya. Ayo kita  menulis?! Lagi dan lagi….[

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Writer isn’t Bibliomania

Majalahdrise.com – d’Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers yang kejebak jadi seorang  bibliomania! Awas lho, seorang penulis juga  bisa jadi seorang bibliomania. Maksudnya  gimana, neh?

Yok, kita jabanin bareng-bareng… Bibliomania itu sebenarnya apaan, seh?  Bibliomania itu berasal dari dua kata, yaitu  bibliotheque yang artinya perpustakaan dan  maniac yang artinya penggemar berat. Kalo  dua kosa kata itu digabung (bibliotheque  maniac) maka artinya jadi penggemar berat  perpustakaan, ya?! Nah, kalo maknanya kek  gitu, tentu sangat bagus, dunk, jika seorang  penulis itu adalah seorang bibliomania.  Seorang penulis memang kudu jadi seorang  penggemar berat buku, hobi datang ke  perpustakaan, and kegemaran kek gini sangat  berarti bagi karier kepenulisannya kelak! Namun, benarkah bibliomania itu  maknanya adalah penggemar berat  perpustakaan? Ternyata, bibliomania itu  merupakan istilah bagi para pecandu berat  buku, artinya mereka yang terkategori  bibliomania ini sangat gandrung dengan buku,  mereka tak peduli apakah buku itu mereka  baca ataukah tidak? Mereka masa bodoh,  apakah mereka ngerti isi buku ataukah tidak?  Mereka sama sekali cuek bebek dengan segala  manfaat dari buku. So, kalo gitu bibliomania itu  kek semacam virus, ya? Bisa jadi, jack!

Fakta empirik di dunia literasi, orang-orang yang terjangkit virus bibliomania ini  hanya terobsesi dengan buku, mereka  mendapatkan kepuasan tersendiri saat  mendapatkan buku ataupun mengoleksi  buku. Virus bibliomania ini kerap  menghinggapi para book collector, bahkan  booklovers seperti para penulis. Nah, lho!  Mo buktinya, gak? Saya punya  seorang kawan di komunitas interpreter  sejarah yang gila buku, khususnya buku-buku yang memiliki nilai historis tinggi, kek  buku-buku yang terbit di masa kolonial  Belanda.

di muat di majalalah remaja islam drise edisi 49

WRITER IS BOOKLOVER

Majalahdrise.com – D’Riser setelah merampungkan habits penulis di edisi kemarin, kini kita mo ngulik soal hobi penulis, yaitu berkutat dengan buku, dunia literasi dan penerbitan. Pada edisi kali ini, kita mo ngangkat soal kegemaran penulis pada buku. Jujur aja neh, hobi yang satu ini pada diri seorang penulis udah jadi kebutuhan, bukan lagi satu kewajiban. Malah, seorang kawan di komunitas penulisan pernah berceloteh, kalo dia gak nyakuin buku di tasnya, dia ngerasa gak pake celana. Halah gawat banget, kan?! Tapi, emang bener juga kok, bagi seorang penulis, buku seperti aksesoris wajib yang kudu dia bawa kemana pun dia pergi. Kamu inget, kan, di bahasan D’Rise sebelumnya, bahwa habits penulis pertama adalah membaca. So, buku adalah kawan terbaik bagi seorang penulis!

Nah, seorang penulis yang baik, pasti dia keranjingan baca and gandrung banget sama buku. Dia adalah seorang booklover, pecinta bukupaling setia. Anytime, lebih dari itu, seorang booklover bisa menjadi seorang bookcollector, lho. Dia terobsesi untuk memiliki sekaligus mengoleksi buku-buku fave. Bahkan, dia bisa sangat possesif pada bukufavoritnya. Hehehe…saking sayangnya gitu, lho sama buku!

Mo contoh yang keren soal para penggemar buku ini? D’Riser kenal sama Adam Malik, kan? Tokoh bangsa ini dikenal sebagai seorang booklover. Kecintaannya pada buku ini menghantarkannya menjadi seorang aktivis pergerakan, politisi, diplomat, duta besar, ketua DPR, bahkan menjadi orang kedua di Negeri Si Komo ini. Adam Malik menjadi RI-2 mendampingi The Smiling General memimpin bangsa ini pada 1978. Padahal, Adam Malik tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, ia hanyalah lulusan sekolah dasar!

Namun, sekalipun demikian, Adam Malik telah melahap ribuan buku yang menjadi kegemarannya sejak muda. Bahkan, dengan belajar secara otodidak melalui buku itu, Adam Malik pernah menjadi wartawan majalah Partindo dan sering menulis di Pelita Andalas. Ia juga menulis beberapa buku dan sempat diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung, Jakarta. Prestasinya bagi dunia jurnalistik negeri ini, Adam Malik menjadi inisiator berdirinya LBKN Antara. Keterampilannya berdiplomasi juga, didapatkannya dari hasil membaca. Adam Malik saat menjadi Menlu RI adalah penggagas berdirinya ASEAN. Ia pun pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, AS. And yang tak pernah ia lewatkan adalah ia masih rajin berburu buku dan mengoleksinya di perpustakaan keluarganya. Kini, sepeninggal dirinya, ribuan koleksi bukunya dihimpun dalam Museum Adam Malik.

Wah keren, kan tuh, kisah booklover bernama Adam Malik itu? Mo yang lebih keren lagi? D’Riser kenal Syaikh Tanthowy, gak? Kalo tau Universitas Al-Azhar, Kairo, pasti tau dunk, sosok Syaikh al-Azhar ini. Nah, Syaikh Tanthowy adalah sosok al-Alamah (professor doktor) di universitas Islam tertua di Mesir itu berkat keluasan tsaqafah dan ilmu pengetahuannya. Tapi, tunggu dulu, sebenernya saya gak akan cerita soal Rektor Universitas al-Azhar itu, tapi saya mo cerita orang hebat di belakangnya. Yups, ia adalah Nyonya Tanthowiy, alias istri Sang Syaikh!

Menurut pengakuan Syaikh Tanthowy, Nyonya Tanthowiy adalah sosok pendamping yang luar biasa, ia tidak hanya jadi istri salehah di dalam rumah, tapi ia juga sosok mahaguru bagi para mahasiswa al-Azhar, bahkan para mahasiswa S.3 alias program doktoral pun ikut berguru kepadanya. Padahal, jenjang pendidikan formal Nyonya Tanthowiy hanya tamat madrasah ibtidaiyah alias SD! So, ada rahasia apakah di rumah keluarga Tanthowy? Ternyata, keluarga Tanthowy mengoleksi ribuan buku yang tersimpan rapi dalam perpustakaan keluarganya. Sudah bisa ditebak, Nyonya Tanthowiy mengunyah tandas koleksi buku suaminya itu. Berkat pengetahuannya yang luas itulah, ia sering disambangi oleh para mahasiswa al-Azhar yang meminta bimbingannya dalam penulisan ilmiah, baik skripsi, tesis maupun disertasi. Bahkan, dalam beberapa persoalan fiqh, Nyonya Tanthowy sering diminta fatwanya. Ia juga kerap menulis risalah ilmiah. Keren, kan, tuh?!

Oke D’Riser, seorang penulis itu pastilah booklover, bahkan dia pun suka bergabung dengan banyak komunitas buku dan komunitas baca. Kadang, juga malah suka ikut meramaikan komunitas diskusi sebagai bagian dari open mind, sekalipun diskusinya lintas ideologi. Keberadaannya pasti mendapat aplaus karena ia dapat bertukar pikiran dengan sumber literatur yang komplet!

Saya pernah berdiskusi seru dengan seorang doktor ekonomi salah satu universitas ternama di Bandung. Saat itu saya mengkritik tajam ekonomi kapitalis liberal yang dijalankan negeri ini, sambil membongkar berbagai kerusakan yang ditimbulkannya secara historiografik. Saat itu, Si Doktor bertanya dengan nada merendahkan, ”kamu ngegoblok-goblokin sistem ekonomi kapitalis, emang kamu dah baca sumber-sumber literatur kapitalisme?”

Saya gak ngejawab pertanyaannya itu, tapi ngeluarin buku-buku, kitab sucinya para Nabi Kapitalisme, seperti The Wealth of Nations-nya Adam Smith taon 1937, The Principles of Political Economy and Taxation-nya David Ricardo taon 1938. Bahkan, saya ngeluarin antitesa dari kedua buku tersebut, Das Kapital-nya Karl Marx taon 1919 dalam bahasa Jerman, sekaligus terjemahannya dalam bahasa Inggris, Capital taon 1957. Si Doktor itu hanya melongo, ironisnya lagi pas saya tanya balik, apa dia punya semua buku tadi? Si Doktor hanya melipat muka! Makanya, jangan sok genius, Pak!

 

BOX:

Tips Menjadi Seorang Booklover

 

Oke D’Riser, kini saya mo berbagi tips, agar kamu semua-mua dapat menjadi seorang booklover, bahkan bookcollector:

  1. Kamu suka sama buku-buku apaan? gak asyik banget kan kalo kamu hobi adventures & travelogues, tapi malah ngoleksi bermacam buku soal beternak cacing, jangkrik dan kodok!
  2. Trus, kamu kudu tau penulis fave kamu. Kalo dah kepincut, kamu bakalan ngeborong semua karyanya, tuh!
  3. Pastikanjuga, apa kamu seneng sama buku-buku langka, limited edition, antik, jadul ato buku buluk, gak? kalo iya, wah siap-siap berburu harta karun, neh!
  4. Kamu juga harus tau, dimana aja kamu bisa dapetin buku-buku asyik, keren dan fave tadi. jika perlu, kamu siapin list-nya.
  5. Tapi inget, jangan cuma berburu, membaca dan ngoleksi buku aja, tapi kamu pun harus tetap berkarya. Bahkan, harus punya niat kuat melampaui buku-buku yang udah kamu baca itu!Cag, ah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48