Pernikahan Dua Negara

Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak?  

Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu.

Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok untuk saya, tetapi menurut saya harganya masih bisa ditawar. Si abang penjual tiba-tiba nyeletuk “beli aja neng nggak usah ditawar, kan bule mah kaya-kaya”. Rasanya ingin saya colek pakai gegep.  

Bule juga sama aja seperti kita, makanannya masih karbohidrat juga. Mereka fikir setiap harinya bule mengonsumsi emas. Mentang-mentang kulit putih, mata berwarna dan rambut pirang, jadi disamakan dengan bule Amerika yang gajinya pakai dollar. But he is Turkish!

Dan orang Turki bukan orang Amerika! Lagian bule Amerika juga “enggak” semuanya kaya, ada gelandangan juga kok. Ini kok mikirnya semua bule kaya raya.  Contoh lain, kalau si bule “pulang kampung” ke Indonesia. Nah rata-rata pada rame minta oleh-oleh.

Ini kebiasaan orang Indonesia banget! Pas suami ke Indonesia, yang ditanyain pertama kali “bawa oleh-oleh ga?” nanya kabar duluan ngapa. Lah suami juga belinya pake morat-marit, walaupun harga oleholehnya murah tapi kalo dibeli dalam jumlah banyak yaa tetep aja jatuhnya mahal. Kadang mikir kalo saya mudik nggak akan bawain oleh-oleh sekalian.  Ini berbeda banget sama kebiasaan orang Turki kalau tahu kita mau berpergian.

Orang Turki biasanya mengucapkan “iyi yolculuklar”, kurang lebih artinya selamat  menikmati perjalananmu. Dan sekedar info saja, orang Turki nggak pernah loh minta oleh-oleh sama yang berpergian (terutama di keluarga saya). Duh, please banget jangan terus menganggap bule itu hidup dengan gelimangan harta. Beberapa oknum iseng juga suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ketika si bule tidak tahu apaapa, mereka bisa nipu seenaknya.

Pas suami pertamakali ke Indonesia, ada porter  yang nawarin bawain barang, suami kasih 50 ribu tapi dia minta 100 ribu. 50 ribu aja udah kebanyakan, kalo saya tahu, saya akan minta kembali uangnya dan cukup beri dia 5000 rupiah saja.

Bukannya saya pelit, saya hanya tidak bisa menerima “penipuan”. Kalo orangnya jujur, diberi 100 ribu juga kita “engga” rugi. Kalo nipu, simpatinya jadi hilang. Kalau dibiarkan terus nanti jadi kebiasaan.  Di kampung juga masih banyak orang yang punya paham seperti itu. Ada beberapa tetangga yang nyeletuk “enak dong Dea nikah sama bule, pasti banyak duitnya”, duh pengen rasanya saya ajak selfie di puncak monas deh kayanya.  

Beberapa cewek Indonesia juga ada yang keukueuh sumekeuh ingin menikah dengan bule. Alasannya biar hidup lebih makmur. Sampai-sampai tidak peduli si bule masih muda atau sudah kakek-kakek, yang penting berduit. Saya melihatnya miris. Jadi untuk mereka, harta adalah ukuran kebahagiaan. Padahal sejatinya belum tentu banyak harta menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau iya, Robbin William nggak kan milih bunuh diri buat mengakhiri hidupnya.  

Stop mikir semua bule kaya raya, itu pemikiran purba banget. Bule juga manusia, mereka makan nasi sama roti kayak kita  juga. Roti dibikin dari gandum juga kan, bukan emas. Ya memang ada kok bule yang kaya raya, tapi tidak sedikit yang hidupnya biasa-biasa saja. Jadi intinya bule sama aja seperti orang Indonesia. Yang membedakan hanya fisik dan bahasanya.

Tidak semua orang kulit putih hidup serba mewah, tinggalkanlah warisan penjajahan dulu. Hanya karena bangsa Eropa yang pernah menjajah  Indonesia adalah bangsa yang berduit jadi kita menyamaratakan mereka semua dengan generasi bule masa kini.  Yang saya rasakan menikah sama bule ya begini. Saya jadi lebih mandiri karena semua dikerjakan sendiri. Orang Indonesia masih sanggup kan menyewa asisten rumah tangga.

Di sini sewa asisten rumah tangga mahal banget, hanya orangorang super tajir aja yang punya asisten rumah tangga. Menurut saya orang  Indonesia malah  lebih banyak yang kaya raya. Banyak yang punya mobil lebih dari satu, punya rumah pribadi, kontrakan  menyebar dimana-mana, jalan-jalan ke mall terus, barang-barang di rumah branded  semua, pakaian bagus dan lainnya.  

Pengalaman Mengajarkan suami Bahasa Indonesia  

Alkhisah suami saya mengikuti tes untuk pendidikan master di salah satu universitas terkemuka di Ankara. Jurusan yang dia ambil adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan Pelajaran Asia. Suami mengikuti tes untuk jurusan Pelajaran Asia.

Dia sangat optimis bisa lolos di jurusan ini. Karena dia bercerita ke semua penguji bahwa dia punya istri orang Indonesia. Indonesia dan Malaysia adalah negara Asia yang pernah dikunjungi. Ketika penguji bertanya bahasa Asia mana yang dikuasai, dengan mantap dia bilang Bahasa Indonesia.

Para penguji meminta sertifikat kemampuan berberbahasa Indonesia dari suami. Jrengg..deg dag dur..! Suami mengiyakan membawa sertifikat tersebut.  Suami lalu meminta saya membuatkan sertifikat tersebut sesampainya di rumah.

Yaelah masbro, saya mana bisa buat sertifikat begitu. Harus dari lembaga resmi dengan tanda tangan penanggung jawab resmi pula. Akhirnya saya menawarkan alternatif mengikuti tes berbahasa Indonesia di kampus saya di Bandung.

Mungkin bisa saja sertifikat tersebut didapatkan secara online, tetapi ternyata tidak bisa saudara-saudara. Sertifikat tersebut harus didapatkan dengan datang ke tempat tes  berbahasa Indonesia di  negara Indonesia. Informasi tersebut didapatkan dari salah satu dosen saya yang sudah dekat sekali dengan saya. Kabar baiknya, sertifikat tersebut bisa didapatkan tanpa mengikuti kursus berbahasa Indonesia di lembaga resmi.  

Akhirnya demi mempersiapkan diri dalam tes tersebut, suami meminta saya untuk menjadi guru pribadinya. Hari ini saya mulai mengajari suami bahasa Indonesia, beberapa menit berlangsung sangat menarik hingga akhirnya suami menanyakan beberapa pertanyaan yang saya sulit jawab karena terlanjur lupa alias karatan kelamaan banget nggak dipelari. Makin sadar, ternyata banyak ilmu yang sudah terlupakan.

Hampir setahun saya tidak belajar dan hampir setahun saya tidak mengajar juga. Rasanya ya malu, jelas-jelas pertanyaan tersebut jawabannya ada di bidang yang saya geluti selama kuliah 4 tahun.  Intermezzo: Setelah belajar Bahasa Indonesia selama setahun penuh (yang akhirnya saya harus ikhlas kembali membuka materi kuliah selama 4 tahun), suami mencoba mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia yang diadakan oleh KBRI Ankara Turki.

Alhamdulillah keluar sebagai  juara. Hadiahnya adalah tiket pulang pergi ke Indonesia selama 5 hari, mengikuti upacara peringatan 17 agustus di Istana Negara serta kunjungan budaya ke Jakarta dan Jogjakarta bersama pemenang dari 19 negara lainnya. Alhamdulillah. Semoga pelajaran berharga ini, jadi bahan cerita kami kelak ke anak-cucu, aamiin. [Terima Kasih kepada Kak Dea Audia Kursun atas ceritanya kepada Majalah DRISE]

i am Pround To be A Moslem

London & Ramadan Mubarak

Gambar-gambar ini bukan foto di  Ramayana Department Store. Ini foto dari beberapa Hypermart di London, seperti Supermarket ASDA dan Sainsbury, yang udah sejak awal Mei pasang plang “Ramadhan Mubarak”.

Nggak jauh-jauh yang dipromokan juga mirip-mirip ala Indonesia. Sebut saja, Sirup ABC ala Londoners, minyak goreng, sembako, dan lainnya. Nggak ketinggalan NHS (Departemen Kesehatan-nya Inggris) memanfaatkan momentum Ramadan untuk kampanye stop rokok dengan menempel poster-poster Ramadan di toko-toko. Warning, Budaya kita mulai dicuri bule Gan!!! Hehe. Untung mereka nggak doyan pasang mercon. Hayo selamatkan Ramadan sampai hari terakhir. Marhaban Yaa Ramadan.

Inferiority Complex

Cerita hari ini rada sedih. Saya  ditugaskan buat jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Pas sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat asem begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”.

Hah, emangnya kenapa pikir saya. Lalu nggak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya stand dijaga perempuan”. Okeylah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan  kawan lain. Pas sudah cari-cari, eh ternyata  nggak ada yang bisa diajak tukeran. Baliklah saya ke pemilik stand dan saya sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

Saya perhatikan gerak-geriknya, lho kok rada melambai!!! Pahamlah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang  macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita nggak usah heran.  Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah).

Kok iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat-buat. Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya. Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita-wanita bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam-jam ketimbang nyamperin penjaga dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah.

Saya heran, tapi tidak terlalu heran. Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indonesia, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama shalat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu-waktu apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk  bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi nggak perlu nyiapin menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahu lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.  

Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, melulu isinya arca dan patung Bali.

Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.  “Kenapa ada patung-patun dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.  Saya terdiam nggak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali.

Dan patung-patung itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut. Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya  menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang di rumahnya menyimpan Al-Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?  Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin.

Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.  Inferiority complex. Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!! Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan. Mohon maaf bangsaku. Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar.

Nggak malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini nggak canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalu lintas dan lainnya. Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas.

Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat 5 mesjid ke segala arah penjurunya. Restoranrestoran ayam “KFC” India dan dan toko  daging halal bertebaran. Mereka nggak canggung pasang tulisan ayat Al-Quran  selebar plang Toko. Kadang gede-gede ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran.

Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia? Buat shalat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba satu jam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat di dalam mesjid. Kalo nggak, pasti saya salat di halaman mesjid, padahal mesjidnya 3 tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

Sembari memperhatikan tingkah  bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”. Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.  

Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun nggak kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi nggak kagok sama krisis identitas.  “Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana2, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.  “Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.  

“Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo. Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indonesia, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”.

 “Yes”, I said. “Apakah acara seperti ini rutin diadakan  setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”. Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini.  “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah ( Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”. “Naam”. “Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

“Aiwah”, katanya. Benar saja dia terlihat senang ada orang  Indonesia bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam-macam. Untung dia pakai bahasa Arab asli.

Umumnya kawan-kawan kami dulu orangorang Arab Maroko dan Aljazair bicara  dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.  “Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gue mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato nggak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya mo coba eksis di jalur artis.

“Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London. Orang seperti kamu harusnya  ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Nggak lama beliau pun pamit. Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri,  “Brother, will you again tomorrow?”.

 “I will, Insha Allah”. Dan beliau pun  nampak senang. Saya habiskan sisa hari berdua istri  melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah. Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.

Membumikan Al Quran Ala Pakistan

Langit selalu sama.  Ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari ini aku  menitipkan harapan yang tinggi kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru di sini, negeri seribu cahaya. Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan paling ideal, tapi tidak juga buruk.

Namun sesuatu yang menakjubkan hadir di sini.  Aku menginjakkan kaki di Pakistan tepatnya kota Islamabad guna melanjutkan studiku di bidang Islamic Banking & Finance di International Islamic University Islamabad. Sejak bulan Juli 2013 lalu aku mengawali hidup di negeri orang, yang kini sudah semester 6 dalam perkuliahan.

Pakistan tentu tidak seluas Indonesia, tapi bukan berarti perilaku dan budayanya homogen. Berbagai peristiwa politik, aneka budaya, pendekatan bahasa, memberi efek kejut bagiku pada awalnya. Namun aku cepat beradaptasi. Sesekali aku menghabiskan waktu melaksanakan hobi di bidang olahraga maupun travelling.

Hobi yang satu ini banyak juga manfaatnya. Salah satunya memudahkanku bergaul, berbaur dan mengenal bangsa-bangsa. Nilai-nilai keislaman di Pakistan memang kental. Suatu kali aku bersafar yang akhirnya membuatku hilir dari satu bagian distrik ke distrik berikutnya. Sebagai seorang pendatang dari Indonesia yang ‘apa adanya’pemandangan unik di Pakistan ini menggelitik spiritualitasku.

Bagaimana hati tidak senang, pikiran tenang, sebab banyak distrik di Pakistan lekat dengan Al-Qur’an. Masjid atau surau mereka ramai dengan para penghafal al-Quran. Baik yang masih kecil, berumur muda, dewasa, juga lansia. Kalau pemandangan seperti ini, bisa dibilang langka di Indonesia. Kecuali kita menyengajakan diri datang ke Pesantren atau saat Ramadhan tiba. Sedangkan di sini, membaca dan menghafal Al-Qur’an itu sudah seperti kebutuhan, seolah makan dan minumnya kehidupan.  

Rahasianya terletak pada pembiasaan keluarga muslim di rumah- rumah yang berlanjut kepada habits sosial.  Bisa dibilang, orang tua malu jika anaknya tidak pandai mengaji, tidak berangkat ke surau, seolah itu aib.

Bedakan dengan budaya Indonesia yang tentu masih jauh dari gambaran ini. Bukannya tidak bangga jadi orang Indonesia, tapi kita sudah sepatutnya iri dengan kebaikan orang lain, apalagi jika  sudah sampai kepada tatanan komunitas. Wah kayaknya keren ya kalau Indonesia menyalakan gerakan cinta Al-Qur’an seperti ini.

Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi salah satu tempat dimana anak-anak menghafal qur’an saya pun berkesempatan untuk sedikit sharing dengan mereka dan gurunya. Mereka mulai menghafal al-quran pada umur 5-15 tahun. Program dimulai dengan membaca huruf hijaiyah-qur’an- dan start mulai menghafal. Untuk program tahfiz maksimal 2 tahun sudah selesai 30 juz.

Di sini mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Semengara gurunya tidak ada persyaratan yang harus dia penuhi asalkan sang anak siap dan ingin bersungguh sungguh menghafal dan mengaplikasikannya di kehidupan seharihari, dengan kegiatan yang full seharian untuk menghafal quran mulai subuh hingga isya.

Satu lagi yang aku sukai dari karakteristik orang sini ialah kebiasaan mereka dalam memuliakan tamu. Tanpa memandang warna kulit, kasta sosial, maka tamu yang berhadir dijamu seperti raja layaknya saudara dekat mereka sendiri.

Makan dan minum yang enak, yang kadang mereka pun jarang menikmatinya. Sematamata ingin tamunya senang dan kerasan.  Sehingga persaudaraan akan tumbuh dengan sendirinya. Keramah-tamahan itu tentu tidak sekedar basa basi melainkan terlihat nyata.  Itu juga yang membuatku rindu dengan tempat ini.  

Bukan berarti, Pakistan sepi dari masalah ya. Pergolakan politik, kesenjangan sosial, termasuk migrasi rakyat Afghanistan ke Pakistan tentu menjadi sorotan tersendiri. Isu Sunni-Syiah juga kerap menjadi perbincangan. Pergolakan politik Pakistan yang turun naik terkait pemerintahan, namun lebih banyak menyangkut kepada keamanan, perihal terorisme.  Sudah wajar di sini apabila suatu saat datang informasi dari KBRI Islamabad untuk tidak pergi ke suatu tempat atas informasi intelejen Pakistan bahwa tempat tersebut akan terjadi penyerangan dari berbagai kelompok dengan berbagai ideologi, seperti Taliban Pakistan yang bermarkas di North Waziristan.

Tidak selesai sampai di situ, masalah refugee Afghanistan menambah tingginya tingkat kesenjangan sosial di Pakistan dikarenakan mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konflik Sunni-Syiah yang kerap terjadi ketika hari 10 Muharram dan Hari maulid nabi Muhammad SAW sering memicu insiden tembak menembak ataupun bomb blast yang  tidak dapat terhindari. Saya berkeyakinan bahwa Ilmu bisa di timba darimanapun asalnya dan ajal akan menjemput dimanapun kita berada entah di daerah yang aman maupun daerah yg bergejolak konflik seperti di Pakistan.

Namun justru ini menjadi tantangan kami semua untuk semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta dan semoga apapun tantangan yg sedang saya hadapi di sini menjadi pelajaran dan memudahkan jalan kedepannya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Aamin ya Rabbal’alamiin. [Seperti yang dituturkan Aldila Putra Ramadhan kepada Redaksi/Alga Biru]  

Menggapai Asa di Negri seribu Menara

Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering  menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini.  Sebelum beranjak jauh, temanteman pasti ingin tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan kang Abik lewat  novel Ayat-ayat Cintanya.

Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena  menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar  menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra. Di setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan.

Salah satunya berisi coretan dan gambargambar Universitas Al-Azhar, Kairo. Walau  bisa disebut pemalas di waktu ‘aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran ilmu alat (nahwu dan shorof)  dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran  ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah akhirnya yang membuatku sampai ke  negeri impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif.

Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes kedua langsung di ibukota Jakarta.

Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Alhamdulillah berkat rahmat Allah Ta’ala, dari seribuan calon peserta se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama, dan waktu itu aku tes di kota Jambi. Kemudian  perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir telah kami jalani dalam keadaan sehat.

Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah. Persiapanpun dimulai, setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah Minang tercinta.

Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut.

Sesampai di Mesir, aku mengalami shock culture dikarenakan banyaknya perbedaanperbedaan yang aku rasakan di saat awalawal di Mesir. Salah satunya tentu di saat  aku mulai memasuki dunia perkuliahan di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS.

Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di Universitas Al-Azhar saat itu. Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta’ala, akupun bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya.

Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar jami’ wa jami’atan. Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan mengaji (di Mesir istilahnya talaqqi) di masjid Al-Azhar dengan para masyayikh yang mumpuni di bidangnya.

Tempat untuk mengaji atau talaqqi tidak hanya di masjid Al-Azhar, ada beberapa medhiyafah yang memberikan tempat untuk menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus memberikan kita  “kunci” untuk membuka gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar Asy-Syariif itu sendiri. Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir dan Indonesia adalah dzauq atau hawa keilmuannya.

Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar  kepada Doktor-doktor di bidang agama  yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau bersungguh-sungguh. Berbicara masalah bersungguhsungguh atau malas lebih enak kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah.

Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal nanti sewaktu UAS  harus wajib datang kalau tidak ingin rasib  alias gagal dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam pengabsenannya, beberapa  kali alpha maka bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya. Inilah uniknya kampus Al-Azhar di mataku.

Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta’ala.

Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit, noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak ketolongan.

Disaat-saat imtihan atau  ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa  Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Penolong. Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di perkuliahan dan talaqqi saja, banyak juga masisir diantaranya yang bekerja dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi.

Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di sebuah warung makan, menjadi agen travel, tour guide¸bimbingan belajar dan bahkan bekerja di vila-vila mewah.  Apapun kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat, ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang didapat.

Di Mesir kaidah fokus dan balance dalam setiap pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! [Kontributor : Assa Dullah Rouf/Mesir]