Awkarin Bukanlah Kita

Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya:  doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena  postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran.

Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang vulgar.  Herannya, penduduk dunia maya tergila-gila memujanya. Mungkin karena ia sangat mewakili anak muda. Di saat remaja seusianya ragu-ragu dan malu mengekspresikan kebebasannya (entah karena jaim, segen ama temen dan takut dimarahi ortu), Awkarin melakukkannya tanpa beban. Berjiwa muda dan bergaya bebas.

Padahal, waktu masih SMP ke sekolah nutup aurat rapi jali. Masih lugu, imut dan polos banget. Lalu bertransformasi jadi “liar” seperti sekarang. Tanpa takut dan ragu.  Eits, tentu saja tulisan ini nggak bermaksud nge-judge si Awkarin. Udah cukup kok yang nyinyirin dia. Kita doakan aja, doi segera menemukan hidayah dan kembali polos seperti sedia kala.

Tulisan ini cuma mau ngingetin kamu-kamu, supaya jangan sampai terkena Awkarin effect. Apalagi sampai jadi “Awkarin-Awkarin” selanjutnya yang memenuhi sampah media sosial.

Salah Identitas

D’Riser, usia belasan seperti kamu,  pastinya belum punya banyak pengalaman hidup. Masih hobi ‘haha-hihi’ dengan mencoba berbagai identitas diri. Terkadang, kamu sengaja cari role model untuk mengekspresikan jati diri itu.  Sosok idola seperti artis, mungkin “terlalu” tinggi dijangkau. Terlalu idealis untuk menjadi role model di dunia nyata. Terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu populer dan terlalu sempurna.

Tetapi tidak demikian jika role model itu adalah sosok orang kebanyakan. Tak heran bila Awkarin, yang notabene berangkat dari gadis biasa kebanyakan, sontak jadi idola.  Anak-anak muda merasa sangat bisa seperti Awkarin, karena relatif lebih “mudah”. Tinggal bergaya lebih kece dan sedikit pede. Bagi anak muda kebanyakan, Awkarin adalah dirinya. Itu sebabnya langsung dijadikan panutan.

 Apalagi para fans yang rata-rata remaja SMP dan SMA itu, memang masih punya pemikiran yang labil. Buktinya, tiap postingan doi, terutama saat bersama pacarnya yang intim, langsung menghimpun ribuan like. Komentar para followernya juga mendukung, seperti:

 “OMG, relationship goals banget!” Efek Awkarin,

akan semakin membeludak remaja yang bergaya bebas, eksis dan narsis dengan vulgar di media sosial. Memang masih banyak orang-orang terkenal yang lebih bejat dari dirinya yang juga menebar keburukan.

Tetapi, tidak boleh menutup mata bahwa dia telah terlanjur menjadi inspirasi. Sengaja atau tidak sengaja, niat atau tidak niat, sedikit atau banyak pasti ada yang menirunya.  

Waraslah

Kamu, ya, kamu, jangan pernah  bermimpi menjadi Awkarin. Benar, kamu emang remaja dan berjiwa muda. Tapi, bukan remaja gaul. Kamu adalah remaja muslim. Beda. Kalau masih terbersit dalam hatimu keinginan menjadi seperti Awkarin, itu mimpi buruk. Kamu butuh pertolongan. Pertama, perbaiki otakmu.

Pemahamanmu. Ngaji yang bener. Biar tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang sesuai Islam, mana yang bertentangan dengan Islam. Berpose seksi, mengumpat, merokok, minum alkohol dan pacaran bukanlah ajaran Islam.

Dosa. Kedua, mintalah nasihat. Orangtua jangan dimusuhi. Ayah ibu jangan dijauhi. Remaja sepertimu, membutuhkan support lingkungan yang baik. Orang-orang yang baik. Orang yang lebih pengalaman yang bisa mengarahkan hidupmu. Jangan sampai kelak masa mudamu jadi penyesalan. Hari ini, banyak orang dewasa yang menyesali masa suram remajanya.

Dulu, mereka juga labil seperti kamu. Banyak melakukan trial and error. Salah gaul, hura-hura, hihi-haha. Kini, sungguh tak mudah menghapus jejak-jejak  kejahiliyahan itu. Apalagi, jika terlanjur direkam media sosial.

Misal, ada artis yang sudah menutup aurat, sangat menyesal karena tak mampu menghapus foto-foto pamer auratnya yang terlanjur tersebar seantero jagat. Ada istri yang sudah bahagia bersama suami tercinta, goyah rumah tangganya garagara sepotong foto mesra dengan sang mantan yang masih gentayangan.  Maka, sungguh kamu membutuhkan nasihat dan dukungan dari orang-orang baik di sekitarmu.

Supaya kamu ‘waras’ sejak muda. Supaya kamu saleh secepatnya. Kalau bisa dan harus, tak perlu mengalami masa-masa kejahiliyahan. Karena, itu cuma buang-buang tenaga. Menebar kontroversi, sharing lebay dan mempertontonkan kejahiliyahan di media sosial memperpanjang daftar dosa. Semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan.

Bukan hanya di hadapan para penduduk dunia maya, apalagi guru atau orangtua, lebih dari itu Allah SWT menyaksikannya. Ingatlah! Sekali menebar keburukan, lalu ditiru, saat bertobat, mungkin saja sudah terlambat. Persis seperti memaku kayu, lalu kau cabuti lagi paku-paku itu, lubang yang menganga tak akan bisa tertutup kembali. Jadi, tak usahlah bermimpi eksis seperti Awkarin. Karena, Awkarin bukanlah kita.(*)

Pake iman bukan POkemon

Tetiba dunia disibukkan para monster. Yang pemain sibuk nangkepi, yang nggak main sibuk mengingatkan  bahayanya. Sebab, udah banyak korban berjatuhan. Para pejabat militer bahkan mengingatkan kemungkinan aksi intelijen di balik demam Pokemon Go.

Waduh! Ini urusan games kok jadi meleber mengglobal lebay begini, ya? Ada apa sebenarnya?

 _ Pokemon Go memadukan peta dunia nyata dengan peta virtual. Pemain kudu mendatangi lokasi tertentu di dunia nyata, temukan monster yang muncul di dunia digital, tangkap, poin. Itu yang bikin beda dengan game lainnya. Serunya beda. Kepuasannya beda.

 _ So, meski baru resmi diluncurkan di 3 negara, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, hebohnya sudah mendunia. Usernya sudah ada di mana-mana. Bikin down server Niantic yang merilisnya. Lebih heboh lagi, dilaporkan pula korban-korban berjatuhan. Gara-gara main game itu di tempat umum, ada yang jadi korban kecelakaan. Ada yang tersesat di terowongan. Ada yang dirampok, dll.

_ Di Indonesia, meski belum resmi diluncurkan di sini, pemainnya juga sudah bejibun. Pejabat hingga militer pun sudah mengingatkan bahayanya. Termasuk dugaan, permainan ini jadi ajang spionase untuk mencuri peta lokasi-lokasi strategis dan rahasia sebuah negara. Maka, dilarang memainkan di tempat-tempat strategis milik negara.  

Peradaban Main-main

_ Saat ini, dunia dalam kungkungan peradaban sekuler-liberal. Peradaban ini sangat mendewakan hiburan. Entertaiment. Games. Film. Musik. Video. Bola. Media Sosial. Itu semua adalah hiburan. Dibangun sama pentingnya dengan pembangunan bidang lainnya.

_ Maka, produk-produk hiburan seperti game akan terus diproduksi demi merangsang hormon dopamin yang membuat para penggilanya merasa bahagia. Nah,  Pokemon Go hanyalah salah satunya. Maka,  sejak generasi millenium hingga hari ini, hiburan jadi ruh bagi manusia modern. Kebutuhan pokok.

_ Berjam-jam usia manusia habis untuk menikmati hiburan. Bermiliar rupiah peredaran uang menggelembung di dunia hiburan. Menyedot sumber daya keuangan umat dunia. Lihat saja gaya hidup kaum  penghibur yang lebih makmur dibanding ilmuwan, misalnya.

  _ Pokemon Go pun tak lepas dari lingkaran setan kapitalisasi di dunia hiburan. Ujung-ujungnya uang. Perusahaan pemilik merek Pokemon Go, Nintendo dipastikan mengeruk keuntungan berlipat. Antara lain dari penjualan benda-benda yang jadi kebutuhan berburu dan mesti dibeli menggunakan uang sungguhan. Juga, rencana Nintendo untuk menciptakan iklan virtual di lokasi penangkapan Pokemon.

_ Di ranah user pun, saat ini penjualan akun Pokemon Go sudah mulai marak. Para gamer maniac yang sukses menangkap banyak monster, menjual akunnya kepada para pengguna game yang malas bersusah payah. Bahkan, acara di Amerika Serikat “Ripley’s Believe It or Not” siap mengganjar pemain yang berhasil menangkap Pokemon langka dengan hadiah 5.000 dolar AS atau Rp65 jutaan (liputan6.com, 18/7/16).

 _ Belum lagi bisnis lain yang turut terkerek seiring popularitas Pokemon Go. Sebentar lagi, stiker, kartu permainan, monopoli, sampul buku tulis, tas sekolah, kaos main atau baju tidur anak, sarung bantal-guling, boneka, bahkan mukena sekalipun, bakal bertaburan karakter Pokemon. Menjajah alam bawah sadar kita.

_ Well, ajaran sekuler memang berpikir bahwa hidup ini hanya main-main saja. Beruntung bisa kaya, kalau miskin ya nasib. Beruntung bisa baik, kalau jadi orang jahat, ya takdir. Beruntung bisa masuk surga, kalau masuk neraka, gimana entar. Yang penting di dunia bersenang-senang. Main-main. Ada sih yang serius, ya itu tadi,  serius memikirkan bagaimana kesenangan ini terus berlangsung langgeng.  

Peradaban Serius

 _ Tentu beda banget sama konsep peradaban yang dibangun ideologi Islam. Islam membangun masyarakat serius, tidak memainkan hidup. Sejak Rasulullah SAW diutus hingga eksinya peradaban Islam 1.300 tahun lebih, umat manusia tak pernah dimanjakan dengan permainan. Paling-paling permainan tradisional di berbagai tradisi, tempat rehat dari  aktivitas. Tapi, tidak diorganisir dan dihebohkan hingga berujung uang.

 _ Maka, pemuda dulu nggak hobi main. Hobinya belajar. Haus ilmu. Nggak ada yang menghabiskan umurnya sekadar nongrong main gaple. Apalagi main games, nonton film, dengerin musik, mantengin film, dll. Hasilnya? Pemuda saat itu tangguhtangguh. Hebat. Pintar. Saleh. Berguna buat umat. 

_ Usia muda udah jadi ulama sekaligus ilmuwan. Sastrawan plus agamawan. Pengajar juga penulis. Kaya tapi dermawan. Pintar juga berakhlak. Jauh bumi dan langit dibanding remaja produk peradaban sekuler saat ini.

 _ So, terlepas dari dampak negatifnya, Pokemon Go seharusnya tidak menjadi bagian penting bagi kehidupan kaum muslim. Nggak butuh permainan yang menyita waktu dan buang-buang energi. Buat apa? Manfaat positifnya apa?

_ Nambah pinter nggak, nambah saleh nggak. Boro-boro nambah iman, jamin surga juga nggak. Makanya, pikir-pikir dulu deh kalo mau nangkep Pokemon. Mending manfaatkan waktu buat nangkep yang jelasjelas aja deh. Surga. Dan itu bisanya pake  iman, bukan pake Pokemon. [Asri]

Celebriy Culture Melanda Remaja

Sejak entertaiment menyelundup dalam gaya hidup masyarakat Indonesia, seolah tiada hari tanpa  memelototi dunia artis. Dunia hiburan kian memesona remaja. Musik, film dan idola menjadi isu penting. Usianya habis demi mendapatkan kenikmatan dari panggung hiburan. Telinganya tak lepas dari lantunan ‘ayat-ayat’ cinta penyanyi idolanya.

Mulutnya basah menyenandungkan lirik lagu yang sedang hits. Matanya tak berkejap sedikitpun dari adegan-adegan film kegemaran. Rela berkorban harta demi memperkaya idola. Merogoh jutaan rupiah demi konser yang memanggungkan sang idola dan mengoleksi pernak-perniknya. Budaya “ngartis” ini pun kian menjadi-jadi di media sosial. Karena, kini para fans bukan saja bisa memelototi idolanya, bahkan bisa menjelma menjadi idola itu sendiri.

Ya, media sosial membuka mimpi bagi siapa saja untuk terkenal.  Banyak yang telah sukses terkenal berkat Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, Path, Vlog (video blog) dan sejenisnya. Ada yang eksis karena talentanya, tak sedikit yang karena kenyeleneh-annya. Aksi-aksi memalukan, dan bahkan aib, diumbar demi mendongkrak  volume followers.

Menaikkan popularitas. Karena, makin populer makin banyak job. Makin kaya. Inilah celebrity culture, di mana popularitas dan uang adalah tujuan. Kebahagiaan hidup. Itulah yang diimpikan remaja yang tumbuh dalam budaya sekuler ini. Apakah ini potret generasi harapan bangsa?

Merusak Mental

Orientasi hidup materialistik ini  merusak arah pandang remaja. Kepungan celebrity culture lambat laun membuat kecanduan. Merasa ketinggalan informasi jika belum up date info-info terkini dunia keartisan. Merasa terasing dari pergaulan jika tak kenal nama-nama orang terkenal yang jadi perbincangan.  Merasa tak nyambung dari obrolan jika tak mengikuti alur film-sinetron yang kejar tayang. Maka, remaja menghabiskan waktunya untuk mengikuti isu-isu seputar dunia hiburan saja. Minim kreativitas dan aktivitas.

Efek negatifnya, pecandu dunia hiburan ini akan jauh dari ajaran agamanya. Kian tak khusyu’ dan bahkan ogah-ogahan menegakkan salat, karena telah lelah untuk berleha-leha. Enggan melantunkan ayat-ayat suci Alquran, karena volume telinganya sudah overload dengan lagu-lagu cinta. Enggan mengkaji Islam, karena isi kepalanya sudah dijejali ‘kajian-kajian’ entertaiment dari berbagai media.   Sementara bagi remaja yang ‘sukses’ populer secara instan, kerap mengidap sindrom orang terkenal. Tidak siap mental. Stres. Depresi.

Mereka menyangka sangat nikmat menjadi populer. Iya, awalnya. Banyak job dan dikejar uang. Tapi, itu harus dibayar dengan tekanan kerja gila-gilaan. Eksploitasi tenaga dan pikiran. Dikejar-kejar penggemar, digosipkan, dan di-bully para pembenci.  Orang baru ngetop ini pun dilumuri kepura-puraan. Pencitraan. Harus tampak  a sempurna. Menjaga penampilan, fisik, dan diet ketat. Menjaga sikap, berusaha selalu tersenyum dan tak asal bertutur kata. Pokoknya harus menjaga imaje terusterusan.

Tak bisa tampil apa adanya. Tak  bisa menjadi diri sendiri. Bagi yang tak kuat, larilah ke halhal negatif. Obat-obatan terlarang kerap  dianggap bisa mendongrak rasa percaya diri. Tak heran bila dunia keartisan ditengarai  dekat dengan narkoba. Ada juga yang memilih melarikan diri dengan pesta-pesta di dunia gemerlap yang menyedot habis kekayaannya. Juga, melakukan kekonyolankekonyolan yang kontraproduktif bagi eksistensinya. Bunuh diri misalnya.  

Pelemahan SDM

Serangan budaya selebritas adalah  ancaman bahaya bagi generasi bangsa yang gencar dilakukan untuk melemahkan SDM umat muslim. Remaja yang terkungkung racun celebrity culture, hanya menjadi manusia rendah kualitasnya.

Bagaimana mereka bisa serius membina diri menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul, jika hanya fokus pada kesenangan individual?  Padahal, pembangunan sebuah masyarakat sangat tergantung pada SDMnya yang tidak dilahirkan dengan kualitas prima begitu saja.

SDM dibentuk dari hasil treatment manusia itu sendiri. SDM yang harus digembleng, dibina, dididik, diarahkan dan dibentuk menjadi manusia-manusia terbaik. Manusia yang kelak mampu menjalankan sistem terbaik.

Pejuang Islam

Kamu, ya, kamu, jangan sampai  teracuni budaya ngartis ini. Kalian adalah calon pemimpin dambaan umat. Penerus penegak peradaban mulia, yakni peradaban Islam. Bebaskan diri dari penghambaan terhadap budaya selebritas. Bersihkan nilainilai materialistik yang mengganggu konsentrasi dalam pembinaan.  Gembleng menjadi pejuang Islam, bukan pejuang sekulerisme.

Jadilah generasi berkualitas seperti generasi di masa Rasulullah, para sahabat, tabiin dan tabiut. Memang, saat ini tak mudah melahirkan generasi berkualitas sekaliber sahabat itu. Mengapa? Karena sistemnya masih sekuler. Itulah mengapa generasi muda saat ini wajib menjadi pejuang untuk meruntuhkan sistem sekuler dan mengganti dengan sistem Islam. Yuk merapat!(*)

Aku Tandai Kau, Nepotisme!

Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD  pada polwan yang menghentikan mobilnya saat konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully netizen. Akibatnya vatal.  Dara cantik itu shock dan bahkan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Terlepas itu memang qodho, diduga sang ayah tak tahan dengan berita di media yang terus memojokkan putrinya. Tragis. Tanpa bermaksud ikut mem-bully, banyak pelajaran dari kasus ini. Pertama, pentingnya menaati peraturan apapun agar berujung pada kebaikan. Kedua, pentingnya menjaga perilaku dan etika di manapun berada. Ketiga, betapa mengakarnya budaya nepotisme hingga menginveksi otak remaja.    

Taat Aturan 

Perilaku remaja yang biasa  merayakan berakhirnya UN dengan hurahura, sudah banyak dikupas. Misal, merayakan di jalan raya dengan konvoi  kendaraan yang mengganggu pengguna jalan lain. Padahal, siapapun wajib menaati aturan berlalulintas. Ini memang kita sesalkan. Ingat, di manapun kita berada, harus selalu disiplin menerapkan aturan. Selama aturan itu tidak bertentangan dengan perintah dan larang Allah SWT, mengapa harus dilanggar?

Tertib dalam berkendaraan, sabar dalam antrean,  menaati rambu-rambu lalu lintas, dan mengikuti prosedur dalam segala urusan, pasti akan membawa kebaikan.  Jangan coba-coba melanggar.  Selain berpotensi membahayakan diri, juga membahayakan orang lain. Kita tidak perlu takut berhadapan dengan siapapun asal melakukan tindakan yang benar. Apalagi “cuma” berhadapan dengan polisi. Selama kita tertib mengikuti aturan, tidak perlu gentar. Sehingga, tidak pada tempatnya jika ada aparat yang berusaha menegakkan ketertiban, malah jadi tumpahan kemarahan. Yang salah siapa, yang marah siapa!   

‘Paparazi’ Malaikat 

Pelajaran selanjutnya adalah, sebagai  muslim, kita musti menjaga perilaku. Ingat, saat ini banyak paparazi di sekitar kita. Hampir semua orang mengantongi smartphone di saku atau tasnya. Mereka tanpa perlu menjadi wartawan, sewaktu-waktu siap melaporkan peristiwa on the spot. Memotret candid, menghasilkan liputan amatir di media sosial yang berpotensi booming. Tanpa izin.  Jadi, waspadalah. Selalu hati-hati di ruang publik. Kita memang bukan siapa-siapa, tapi salah sedikit saja, bisa jadi “artis” dadakan. Mendadak terkenal.  Mendadak di-bully. Karena, yang paling gampang booming itu adalah jika perilaku minus yang tersorot kamera. Jangan sampai, deh! Lebih dari itu, kita musti ingat, “kamera” malaikat selalu on setiap saat.

Merekam dan mencatat seluruh aksi kita tanpa jeda. Real. Tak bisa diedit, apalagi dihapus. Itulah yang kelak jadi pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya. Tanpa bisa mengelak.  Nah, waskat inilah yang mustinya mendorong kita untuk selalu on the track. Nggak iseng, nggak usil. Selalu mengendalikan emosi. Menjaga akhlak, sopan santun dan etika. Menjaga aurat. Menjaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan sampai ulah kita membawa efek buruk bagi orang tua yang kita sayangi. Jadi, terapkan waskat alias pengawasan melekat. Ingat selalu pengawasan dari para malaikat, agar tidak terjerumus berbuat maksiat. Hanya dengan itu seluruh aktivitas kita akan bermanfaat.  

Cermin Nepotisme

Kasus SD juga jadi cermin buat para  orangtua dan penguasa di negeri sekuler ini. Sistem demokrasi yang diterapkan, mengajarkan nepotisme yang begitu mendarah daging. Sampai-sampai ditiru remaja. Ya, nepotisme alias perkoncoan atau perkoneksian. Fasilitas terbaik, kemudahan dan layanan prioritas akan diberikan kepada orang ngetop, orang penting, pejabat tinggi dan orang kaya; tentu beserta anak cucu tujuh turunannya. Asal ada rekomendasi atau ketebelece, urusan beres. Apalagi ditambah pelicin, lebih cepet lagi beresnya.  Misal, kalau kamu anak gubernur, pasti diprioritaskan masuk sekolah terbaik. Dipercepat urusan administrasinya. Tidak diharuskan antre. Kalau melanggar nggak dihukum. Kalau berbuat salah dimaklumi.

Gitu seterusnya. Pokoknya segala urusan dipermudah. Bahkan, sekadar mencatut nama orang penting saja, kalau bisa bikin keder aparat, urusan bakal selamat.  Kondisi itu bertolak belakang banget dengan rakyat jelata kebanyakan. Contoh, kalo penghina lambang negara orang biasa atau aktivis dakwah, langsung deh jeblosin ke penjara. Dianggap makar. Giliran yang menghina lambang negara artis, eh, malah diangkat jadi duta lambang negara itu.   

Tampaknya, sikap nepotisme itulah yang menjalar deras di dalam tubuh SD. Entah siapa yang menurunkannya, tentu kontribusi dari sistem demokrasi ini juga. Karena, sikap nepotisme kayak gitu bukan hanya monopoli SD, bukan? Banyak orang yang melakukannya. SD bisa jadi hanya terinspirasi orang-orang dewasa di sekitarnya yang secara langsung maupun tidak telah mengajarkannya.

 Jadi, orang-orang dewasa, memang harus berkaca. Ini salah mereka juga. Salah menerapkan nepotisme. Salah menerapkan demokrasi. Jadi, kita tandai saja sistem salah ini dan buang rame-rame. Supaya nggak ada lagi SD-SD lainnya yang berbuat khilaf.Catet![asri