Majalahdrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas habits penulis kelima alias yang terakhir, yaitu seorang penulis itu harus punya komunitas ato mampu menjalin komunitas. Sesungguhnya, seorang penulis yang baik tentu dia ingin selalu berbagi sekaligus mengembangkan karier kepenulisannya. Salah satu di antaranya dengan terlibat aktif dalam komunitas kepenulisan atau komunitas yang terkait erat dengan dunia literasi, baik komunitas buku, maupun komunitas baca.
Dengan kita memiliki komunitas, selain bersilaturahmi, kita juga akan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik karena saat kita terlibat aktif di komunitas, kita akan mendapatkan kawan-kawan yang memiliki habits yang sama, kreativitas yang sama, bahkan ide ato ideologi yang sama. Jadi, kita nggak ngerasa sendirian saat menerjuni gelanggang yang sama karena kita punya kawan seiring, seirama, bahkan seperjuangan. Bahkan, saat kita mengalami stagnasi pun, ada kawan-kawan yang siap membantu, menyemangati atau bahkan mengompori kita untuk bangkit dan kembali berkarya.
Selain itu, saat aktif dalam komunitas, kita akan selalu mendapati kawan berbagi dan berdiskusi tentang kreativitas yang sedang dan sama-sama digeluti. Contohnya gini, saat booming fiksi Islami pertengahan tahun 2000-an yang dipelopori komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), Mas Harry Haris Hendrayana yang kondang dengan nama pena Gola Gong pun terpacu untuk menulis tema religius tanpa menghilangkan karakteristiknya yang bernuansa adventures. Mas Gong pun intens berdiskusi dengan kawan-kawan FLP dan hasilnya, lahirlah novelet Al-Bahri, si anak samudera.
Saat saya bertanya tentang kreativitasnya menulis Al-Bahri itu, Mas Gong mengaku bahwa sosok Al-Bahri itu dimaksudkan untuk mengobati kerinduan para penggemarnya akan sosok Si Roy. Sebelumnya, Mas Gong emang kondang dengan novel Balada Si Roy. Sebuah novel anak muda yang dimaksudkan juga untuk menandingi Catatan Si Boy. Sedangkan dalam novelet Al-Bahri-nya itu, Mas Gong mengemasnya dengan nuansa Islami. Setelah sukses dengan novelet itu, Mas Gong pun semakin kreatif menghasilkan karya-karya religiusnya, di antaranya adalah trilogi Pada-Mu Aku Bersimpuh yang naskahnya tidak hanya dibukukan, namun juga diangkat ke atas pita seluloid alias difilmkan. Keren!
Ternyata, gak hanya Mas Gong yang tersulut untuk menghasilkan karya-karya religius, demikian pula halnya dengan kawan-kawan penulis lainnya yang tergabung di Alpen Prosa (Aliansi Penulis Pro Syari’ah) ataupun Asosiasi Penulis Ideologis (API) Islam yang diarsiteki oleh Felix Y. Siauw dan Sayf M. Isa. Termasuk juga Adi Wijaya dan kawan-kawannya di Senada (Sekolah Pena Dakwah), mereka menjadikan komunitasnya untuk mengkader para penulis muda, sekaligus menghasilkan karya.
So, seorang penulis yang baik tentu akan memahami betul urgensi dari komunitas kepenulisan ini karena melalui komunitasnya ini, dia dan juga para penulis lainnya akan selalu memiliki tantangan baru saat ide-ide bermunculan ketika mereka berdiskusi dengan sesama penulis, mereka akan selalu mendapat kompetitor positif dalam berkarya. Jujur aja, neh, saat ketemu dengan sesama penulis pun, saya kerap ditanya, sedang nulis buku apaan? ato lagi terlibat dalam proyek penulisan dimana? dan pertanyaan sejenis itu lainnya. Nah, kalo ditanya kek geto, semangat nulis pun pasti langsung tersulut. Ntar kalian buktiin aja sendiri, ya….
Nah, lho, bener banget komen kawan saya tadi bahwa dengan banyak menjalin komunitas itu, selain bersilaturahmi, juga pasti banyak mendatangkan rezeki. Maksudnya adalah dengan banyak ketemu orang, ketemu banyak relasi, ketemu sesama penulis, dapat banyak ide untuk berkarya, trus juga menghasilkan banyak karya yang diterbitkan dan dibukukan. Waow… rezeki pun langsung berdatangan kepada kita…. duh bahagianya. Kerennya lagi, gak hanya itu, teman-teman wartawan dan reporter yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kerap saling membantu saat salah seorang anggotanya berkasus di pengadilan. Asyik kan? Makanya jangan sungkan untuk gabung dengan komunitas kepenulisan. Kalo skill kamu dalam menuangkan pikiran dalam tulisan pengen makin terasah. Catet!
Oke, Bro and Sist, di edisi D’Rise y.a.d kita akan membahas tema-tema kepenulisan yang menarik lainnya…. tunggu tanggal penerbitannya, ya?![]
BOX:
Jalin Komunitas Yuk!
Oke, D’Riser, kini saya akan berbagi tips agar kamu mampu menjalin komunitas untuk mengasah keterampilan menulismu, sekaligus mengembangkan karier kepenulisanmu:
- Pastikan dulu kamu mo aktif di komunitas kepenulisan yang mana? mo di komunitas penulis buku anak, remaja ato dewasa? so, jangan salah milih, ya?;
- Trus, komunitasnya yang populer ato yang religius? ga asyik banget kan, kalo kita mo nulis tema-tema Islami tapi ngumpul bareng dengan para penulis liberal yang mengusung ide sepilis dengan jargon l’art pour l’art;
- Pilihlah komunitas yang juga punya sistem pembinaan dan kaderisasinya biar keterampilan kita ada penerusnya, geto lho;
- Jangan sungkan sharing ide dan kreativitas, kalo kamu males ato pelit berbagi, halah alamat dijauhin, tuh! karena silaturahmi ato silah ukhuwah itu sekaligus silah fikriyah;
- Tetap aktif berkarya, biar kamu dan komunitasmu semakin eksis dan berkibar.
di muat di majalah remaja islam Drise Edisi 47