#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?

Isu yang menyangkut SARA alias Suku, Agama, Ras dan Antar golongan sensitif banget obrolannya di tengah  masyarakat. Malah tak jarang, bisa memicu konfik saking sensitifnya. Makanya banyak yang sungkan ngomongin agama kalo udah dibawa isu SARA. Termasuk kampanye penolakan pemimpin kafir di ibukota negara, belakangan ini.  

Yup, tim sukses DKI 1 yang akan maju lagi pada pilkada, gencar menghembuskan isu SARA guna mengerem dukungan umat Islam terhadap penolakan pemimpin kafir. Padahal jelas, selama ini isu SARA berkaitan dengan tindakan diskriminasi alias ketidakadilan terhadap pihak lain karena perbedaan SARA. Padahal jelas Islam melarang bersikap tidak adil kepada orang lain karena SARA. Allah swt berfirman:

 “… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [QS. Al Maa-idah 8]

Terkait penolakan terhadap pemimpin kafir kalo dikaitkan dengan isu SARA, ya salah alamat. Lantaran penolakan itu bagian dari keyakinan agama yang menjadi hak setiap warga. Dalam Islam, Allah mengharamkan kaum Muslim dipimpin oleh orang kafir, ini kesepakatan ulama, tanpa ada perselisihan, dalilnya jelas, penunjukannya pasti.

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pelindung [pemimpin] selain orang Mukmin” [QS. an-Nisa’: 144]

Ketika Allah mengharamkan pemimpin kafir, Allah pasti juga memberi definisi, yaitu batasan dan penjelasan, tentang siapa dan kapan seseorang bisa menjadi kafir. Yang paling jelas, dalam surat Al-Bayyinah ayat 6, yang disebut Kafir yaitu 1) ahli kitab (yahudi, nasrani) dan 2) orang musyrik (selain ahli kitab, selain Muslim).

 Jadi, isu tolak pemimpin kafir bukan didasari kebencian  pada suku tertentu, ras tertentu, etnis tertentu atau bahkan agama tertentu. Menolak pemimpin kafir dasarnya adalah keterikatan seorang muslim kepada akidah Islam dan syariahnya, dimana Allah SWT telah melarang tegas kaum muslimin haram memilih pemimpim kafir. Setuju?  

Ternyata Isu SARA ini diharapkan akan memalingkan kaum muslimin dari keterikatan pada syariah Islam dalam soal kepemimpinan, khususnya pemimpin bagi kaum muslimin harus seorang muslim. Dengan isu SARA, umat di takut-takuti seolah-olah jika memilih karena dorongan akidah dan ketaatan terhadap syariah dianggap rasis dan SARA. #TolakPemimpinKafir dianggap SARA? Yang Bener Aja..! [@Hafidz341]

Selamat Yaa,,

Saat bikin tulisan ini, masih bulan syawal. Jadi gak papa ya, kita segenap redaksi  ngucapin selamat idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin kalo ada tulisan yang kurang berkenan. Dan kita doakan, driser semua dapat pahala puasa satu tahun dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal. Aamiin… Oh ya, bulan Juli kemarin juga hari pertama masuk sekolah kan ya.

Kita juga mau ngucapin, selamat menempuh hidup baru, eh petualangan baru di tempat baru bagi driser yang lanjut sekolah menengah pertama maupun menengah atas. Pesan kita cuman satu, tetap baca drise dan ajak teman-temannya untuk ikutan baca. Syukursyukur di sekolah kamu ada yang jadi pengedar Drise.

Kan bagus tuh jadi ada bahan cerita bermakna yang update tentang Islam dan dunia remaja.  Berhubung kita juga baru nongol lagi setelah libur lebaran, kita mau kasih ucapan selamat berjumpa lagi. Semoga kehadiran kita dinanti oleh remaja en remaji di belahan bumi pertiwi. Bagi kita, satu edisi nggak menyapa pembaca itu serasa satu bulan.

Yee… emang terbitnya sebulan sekali…  hehehe.. Yang pasti, kita berharap majalah drise  yang kamu pegang ini bisa menjadi bacaan alternatif yang renyah untuk remaja. Syukursyukur bisa menjadi media penghubung remaja dengan Islam. Biar generasi muda Islam, makin kenal lebih dalam dengan ajaran agamanya dan aktif berdakwah  selalu.

Jangan sampai amnesia dengan agamanya cuman lantaran dapat materi pelajaran di seolah cuman dua jam dalam seminggu.  Udah gitu aja. Selamat menikmati sajian edisi kali ini. Remaja mandiri, bukan anak mami lagi…! [@Hafidz341]

Ado Apo dengan Aleppo?

Tagar #AleppoIsBurning tiba-tiba menyeruak di banyak sudut linimasa media sosial. Halaman muka profil  Facebook jutaan orang di dunia pun kompak mengubah gambarnya menjadi warna merah polos. Sebuah warna yang menyiratkan duka dan keprihatinan mendalam.

Duka atas serangan udara yang dilakukan rezim pemerintah Suriah di Aleppo. Ado apo dengan Aleppo? Ternyata telah terjadi serangan berdarah yang dilakukan rezim pimpinan Bashar al Assad terhadap warga sipilnya sendiri di Provinsi Aleppo pada 28 April 2016.

Sialnya, tindakan barbar yang dilakukan rezim pemerintahan Assad ini dengan mengerahkan jet tempur yang melontarkan bom udaranya tepat di atas fasilitas publik. Ledakan paling fatal menghantam fasilitas medis Al Quds di Aleppo, sebuah rumah sakit spesialis penyakit anak-anak.  Serangan fatal jet tempur Russia di pagi buta yang menargetkan serangan pada fasilitas publik adalah kejahatan perang  paling sadis.

Kabar terakhir yang dikutip dari sumber Al Jazeera, Syrian Observatory for Human Rights, dalam 10 hari terakhir serangan di Aleppo sudah membunuh sedikitnya 253 warga sipil. 49 jiwa di antaranya adalah anak kecil.

Mereka, anakanak Aleppo kebanyakan tewas karena  percikan bom barrel rezim Assad yang tega menembus tubuh mungil tak bersalah. Tak  sedikit pula tubuh kecil yang terjebak dalam darurat perang itu tewas karena tertimbun reruntuhan bangunan, imbas dari ledakan bom jet tempur Assad. Driser, kita doakan saudara-saudara kita di Suriah.

Kita mohon agar mereka tak menuntut kita di akhirat akan abainya kita pada mereka. Kita mohon ampunan pada Allah atas sedikitnya perhatian kita pada mereka. Ya Allah..turunkanlah pertolonganMu bagi saudara-saudara kami di Suriah dan negeri-negeri lainnya yang mengalami penindasan. “Siapa saja yg menganiaya kekasih-Ku, maka Aku umumkan perang  kpdnya.” [Hr. Bukhari]. [@Hafidz341]

Desas Desus Densus

Siyono (33 thn). Bapak lima anak asal Klaten ini menambah daftar panjang korban ‘mesin pembunuh’  yang tak tersentuh hukum, Densus 88. Demi memerangi teroris, Detasemen Khusus ini seperti punya kekuatan super di atas Undang-undang. Nggak peduli lagi dengan prosedur hukum. Apalagi kaidah asas praduga tak bersalah terhadap tersangka teroris.

Komisioner Komnas HAM Maneger Nasution mengatakan Komnas HAM sudah menerima 118 laporan terduga teroris yang ditembak mati tanpa pemeriksaan. Ngeri! Terkait kematian Siyono, awalnya polisi menyatakan Siyono meninggal karena kelelahan setelah berkelahi melawan Densus.

Namun kemudian, polisi seperti yang dinyatakan Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Pol. Arthur Tampi kematian Siyono akibat  pendarahan di kapala disebabkan hantaman benda tumpul. Sementara pihak keluarga setelah melihat kondisi jenazah Siyono menjelaskan kemungkinan  terjadinya penyiksaan.

Saat pergantian kain kafan dari jenazah tampak ada lebam pada kedua mata, lebam berwarna biru kehitaman di pelipis, hidung patah, kepala bagian belakang masih meneteskan darah segar. Pada kedua kaki dari paha sampai mata kaki bengkak berwarna hitam. Kuku jari kaki kiri hampir lepas. Sadis! Kita  setuju, bahwa apa pun yang meneror rakyat , yang mengancam rakyat, harus kita cegah dan hentikan. Namun bukan berarti dilakukan tanpa koridor hukum. 

Adalah sangat berbahaya kalau dengan hanya tuduhan apalagi terduga terorisme , telah menjadi legalitas untuk memperlakukan seseorang dengan semena-mena, apalagi membunuhnya.  Buat om-om Densus, sekedar ngingetin firman Allah swt:

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.”(TQS. AlMâidah: 32)

Mungkin aja tingkah Densus 88 yang menzhalimi umat Islam lolos dari jeratan hukum positif. Tapi jangan mimpi luput dari hukum Allah baik di dunia apalagi akhirat. Catat![@Hafidz341]