TETAP OPTIMIS MESKI ORTU BERCERAI

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Mbk, hati sy  hancur. Ortu saya barusan bercerai. Dari dulu ortu memang sering bertengkar. Gimana dengan masa depan saya?…(Osa, Blora)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

 

Dik Osa yang baik,

Saya bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan Adik atas kondisi orang tua.  Adik tentu merasa berat menerima kenyataan ortu berpisah dan memilih hidup sendiri-sendiri. Dalam perceraian  memang anak paling terkena dampak langsung. Ada perasaan campur aduk, emosi berubah setiap saat, marah, putus asa dan menyalahkan salah satu dari mereka, atau menyalahkan diri sendiri. Merasa terbuang, takut, khawatir, minder, dan merasa pesimis dengan masa depan. Terasa hidup tidak menyenangkan.

Dik Osa yang baik,

Inilah kenyataan hidup yang harus Adik jalani. Apapun yang terjadi Life must go on. Terkadang apa yang Kita alami dalam kehidupan nggak sesuai dengan harapan. Apa yang buruk dalam pandangan Kita belum tentu buruk dalam pandangan Allah SWT. Pernikahan dilakukan dengan tujuan terwujudnya keluarga yang penuh ketenangan dan kedamaian. Jika  di dalam kehidupan berkeluarga muncul persoalan yang mengganggu ketenangan (sering bertengkar, berselisih) hingga  tidak memungkinkan kehidupan suami-istri dipertahankan kelangsungannya, maka jalan keluar bagi kedua belah pihak adalah berpisah sebagai sarana agar masing-masing bisa menjalankan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dik Osa yang baik,

Ada mantan istri, ada mantan suami, akan tetapi tidak ada mantan anak. Adik tetap mempunyai ayah dan ibu meskipun mereka berpisah. Bisa saja setelah perceraian salah satu dari ortu tinggal di tempat terpisah jauh, lain kota misalnya. Jagalah terus hubungan Adik sama ortu yang jarang Adik temui karena jarak yang jauh. Sesekali telepon, kirim sms atau e-mail singkat akan cukup menggantikan perasaan-perasaan yang hilang diantara kalian. Jangan khawatir dengan masa depan. Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan tentang apa yang Adik pikirkan. Sampaikan pada ortu kondisi ini sebenarnya membuat Adik cemas dan Adik membutuhkan support dan financial terutama untuk pendidikan, dan jangan lupa berdoa, sebab bagaimanapun beratnya ujian yang menimpa, asal Adik  ikhlas dan menyerahkan semuanya pada Allah, semuanya akan terasa ringan. “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya “ (QS. Al Baqarah : 286).

Dik Osa, tetaplah optimis, jangan biarkan Adik ikut terpuruk. Teruskan perjalanan hidup Adik. Tetaplah focus pada cita-cita dan tetaplah berjalan pada kehidupan normal. Jangan sampai terjerumus hal-hal negatif.  Semoga Allah SWT memberikan kekuatan pada Adik menghadapi ini semua. Aamiin…[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Cerita dari Formosa (Taiwan)

Majalahdrise.com – Tinggal di salah satu kota di Taiwan, Chungli, tidak membuat ane kesepian. Pasalnya banyak warga negara Indonesia yang bekerja d Negri Formosa ini. Selain itu, cukup banyak muslim asli Taiwan dan juga imigran dari Filiphina, Pakistan dan negara-negara lainnya. Mereka sudah tinggal lama, bahkan menikah dengn orang Taiwan asli. Seperti tetangga ane yang tinggal di flat lantai 3, orang Pakistan menikah dengan orang Taiwan dan sudah mempunyai 2 anak. Kapan hari, ane juga menghadiri pernikahan mbak Siti yang dulunya bekerja di sini, dengan salah satu imam masjid Chungli yang asli Taiwan.

Di sini imam masjid itu, bukan orang sembarangan tetapi orang-orang pilihan. Ya, orang yang sudah bertahun-tahun sekolah di Negeri Timur Tengah atau pun di Mesir.

Dan karena jumlah muslim yang minoritas dan semakin menurun dari tahun ke tahun, lembaga Islam di sini (kalau di Indonesia, semacam MUI) punya program untuk mengirimkan pemudanya studi di Timur Tengah. Tujuannya minimal ada yang bisa menjadi imam masjid berikutnya. Kehadiran kami, muslim dari negara lain selain menambah populasi muslim yang ada di Taiwan juga membuat sebagian orang Taiwan yang tidak pernah tahu Islam, menjadi lebih ingin tahu tentang Islam.

Hampir semua teman-teman yang tinggal di sini dan dia berkerudung pasti akan mengalami pertanyaan–pertanyaan seputar hijab, makanan, sholat , dan lain-lain. Karena orang-orang di sini kebanyakan ‘penasaran’ dengan agama. Sempat terbesit dalam pikiran ane bahwa mereka tidak beragama karena kepo banget dengan agama lain. Ternyata dugaan ane tidak sepenuhnya melesat. Karena walaupun mayoritas beragama Budha dan Taoisme tetapi sebagian dari mereka hanya menganggapnya sebagai agama di kartu tanda penduduk. Seperti teman yang satu laboratorium dengan ane, yang ternyata tidak percaya dengan agama walaupun secara identitas ia beragama seperti ayah ibunya yaitu Taoisme.

Kami menyempatkan mengobrol saat jalan-jalan bersama, karena saat di laboratorium tidak mungkin kami lanekan. Karena kebiasaan orang Taiwan serius mengerjakan pekerjaannya saat di laboratorium. Hanya sesekali mengobrol bersama. Itu pun dengan suara yang tidak keras. Ditambah bahasa mandarinku yang babak belur, dan orang Taiwan tidak terlalu suka belajar bahasa Inggris. Hasilnya tidak terlalu connect. Tetapi hal itu tentu tidak boleh menjadi excuse bagi ane. Dari hasil obrolan kami, dia mulai tertarik tentang apa itu Islam dan aturan-aturannya. Saat ku bilang bahwa ane memilih Islam bukan karena orang tua, dia sangat kaget dan menyangka orang tua ane bukan muslim. Karena memilih agama sendiri bagi teman ane adalah sesuatu yang di luar kewajaran.

 

Misionaris Dimana-Mana

Sore itu, ane dan beberapa orang dari Yuanze University mengadakan circle untuk mendiskusikan Islam. Kami berkomitmen untuk selalu ada kajian rutin untuk menjalin silah ukhuwah , menambah ilmu dan agar semakin istiqomah dalam berislam. Mengalirlah cerita dari teman-temanku. Salah satunya adalah dari mbak Ani, muslimah yang baru saja berhijab ini menceritakan pengalamannya ‘berdakwah’ kepada temannya dari Negara lain .

Mbak Ani merasa sampai kewalahan menjawab pertanyaan teman-temannya yang bertanya. Tetapi kesempatan ini tidak akan dilewatkan mbak Ani. Karena kami memang harus bersaing dengan para misionaris yang sangat gencar menyebarkan misinya. Maka ane pun menyarankannya untuk rajin belajar lagi tentang Islam dan ane siap membantunya jika ia butuh jawaban-jawaban dari pertanyaan aneh teman-temannya. Kami tidak boleh menyerah hanya karena keterbatasan bahasa dan ilmu. Kami harus segera mengupgradenya karena kami tertinggal jauh dengan para misionaris yang memang aktifitas utamanya untuk ‘menyeru’.

Para misionaris biasa beroperasi di taman –taman Universitas, terminal bus , stasiun dan tempat-tempat umum lainnya. Yang luar biasa para misionaris ini menguasai bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Sehingga sangat mudah bagi mereka berkomunikasi dengan penduduk asli Taiwan maupun para pendatang. Mereka tidak menyerah walaupun ditolak dan akan memberikan ‘fasilitas’ pada mereka yang tertarik dengan agamanya.

Ini terbukti pada salah satu mahasiswa Yuan Ze yang telah ditarik ke agamanya. Teman internasional ini berasal dari Vietnam , memang dari awal dia merasa galau dengan keyakinannya. Dia merasa agamanya adalah agama yang tidak jelas dan kering. Lalu suatu hari datanglah sang misionaris di taman universitas. Ia memulai diskusi dengan menanyakan pertanyaan yang sangat krusial tentang aqidah yakni “ Bagaimana tuhanmu bisa disebut tuhan?”. Jelaslah si gadis Vietnam kelabakan dan tak bisa menjawab dengan baik. Ia pun menyampaikan kegalauannya tentang agamanya. Tentu hal itu bagai angin segar bagi sang misionaris. Dan seperti yang bisa kami tebak, sang misionaris menjadi semakin rajin mendekatinya.

Gadis Vietnam yang galau merasa mendapat jawaban dari diskusi-diskusi itu dan ditarik ke acara-acara berikutnya. Oleh sang misionaris ia juga diberi bible berbahasa Vietnam, bahasa ibunya. Gadis ini sebetulnya pernah berdiskusi dengan teman kami, Dini. Tetapi ia merasa Islam begitu ribet karena harus memakai kerudung dan tidak boleh makan sembarangan. Para misionaris ini ternyata memang didik dan dikirim khusus untuk menarik orang ke Agama Kristen. Mereka ada yang berasal dari Amerika, Eropa dan penduduk asli Taiwan.

 

Islamnya Seorang Mantan Misionaris

Kabar gembira dan hawa segar buat kami di tengah-tengah perkembangan Islam di Taiwan yang mulai stagnan. Kabar yang mengharukan itu datang dari seorang mantan misionaris yang baru masuk Islam. Sang mualaf mantan misionaris menceritakan kalau dia telah membawa banyak sekali orang asli Taiwan kepada Agama Kristen. Karena ternyata rata-rata orang Taiwan tidak memiliki Agama (atheis) walau KTP mereka beragama Budha atau Thaoisme.

Dengan intensitas mengontak , sedikit demi sedikit usahanya membuahkan hasil dan akhirnya ia mengislamkan puluhan keluarga. Saat ia masuk Islam, penyesalannya datang di belakang. Tetapi ia bercita untuk membawa mereka kepada Islam. Dan ia sangat berterimakasih kepada orang yang menjadi perantara hidayah Allah. Dari ceritanya kami menemukan satu semangat baru untuk menyebarkan Islam di bumi Formossa. Doakan kami driser…![]

By: Nur Maulidiyah (tinggal di Taiwan)

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #45

HIJAB HIJRAH MUSLIMAH

Majalahdrise.com – Senang deh. Belakangan ini, sesekali kita nonton televisi, banyak artis yang aktif mengenakan kerudung bukan karena tutuan profesi tapi memang sudah menutup aurat sesuai hukum syari. Hijab juga bukan jadi seragam pengajian tapi sehari-hari makin bangga berhijab. Mulai dari anak kecil, remaja hingga dewasa banyak yang keranjingan untuk selalu berhijab. Baik di sekolah atau lingkungan rumah. Malah di mall-mall aja mba berhijab yang lalu lalang makin cling!

Driser, berhijab ialah panggilan iman, meresap dari hati sehingga nyaman di hati. Muslimah yang taat atau berusaha untuk selalu taat, akan memompa semangat beramal sholeh ketika sudah berhijab. Itulah yang dirasakan Laudya Chynthia Bella pasca berhijab. “Sekarang aku udah jarang sih pulang larut malam. Jam 9 biasanya udah ada di rumah atau lagi di jalan mau pulang. Sengaja maupun tidak, berhijab menggiring aku pada kebaikan. Aku masih berteman dengan teman-teman lama, sebagai bonusnya ada teman-teman baruku yang berhijab yang juga menguatkan aku. Namanya juga baru ya, masih butuh disemangatin supaya istiqomah”, begitu tutur Mba cantik yang biasa main di sinetron atau film layar lebar ini.

Nah, jadi prinsipnya, wanita berhijab memang belum tentu taat,tapi wanita taat pasti berhijab. Hijab adalah awal kebaikan, akan mengundang kebaikan lain untuk datang. Inilah berkahmenjadikan islam sebagai tolak ukur perbuatan. Catet!

 

Hijab Buka-Tutup

Fenomena yang menggelitik ialah sebagian muslimah yang masih buka-tutup hijab. Bisa jadi karena satu tuntutan, desakan atau rayuan, sehingga sehari hijab dipake, sehari dibuka. Jeng, itu hijab atau portal?! Kok buka tutup, ups…. Sorry, bukannya ngeledek. Tapi kan sayang amalan yang kemarin. Sudah dibangun, dihancurkan lagi. Ngerti kok, kita semua emang lagi belajar. Hijrah dari kegelapan menuju cahaya. Pergi dari jalan yang bengkok kepada jalan yang lurus, yaitu tuntunan Allah. Mau dituntun Allah atau dituntut Syaithan?! Muslimah untuk dituntun, bukan dituntut.

Yupz, sempurnakan hijrahmu dengan istiqomah berhijab. Buang penilaian manusia, harapkan penilaian Allah saja. Sebab Dia yang sanggup membuka dan menutup hati dan mulut manusia. Pintalah padaNya supaya hanya mulut yang baik yang mendekati hati kita, ajakan yang benar yang menguatkan hijab kita.

Berhijab mantap akan menggiring kita pada sikap yang semakin islami. Selama ini jarang shalat, maka berhijab itu jadi pemicu kerinduan untuk sujud dalam sajadah. Malu pada al-Qur’an yang hanya jadi pajangan, malu pada hijab atau penutup kepalayang cuma jadi pelengkap penampilan.

Berhijab tapi masihpacaran? Malu pada malaikat Raqib Atid di samping kiri dan kananmu. Ia tidak kelihatan tapi pasti melihat kita. Malu pada Allah yang Maha Penyayang, yang selalu berikesempatan padahal selama ini kita berbuat dosa. Selamatkan pacarmu dari api neraka. Kalau pacarmu beneran sayang, masa dia ajak kamu ke neraka. Jika dia orang yang benar, dia pasti memilih surga walau resikonya kalian harus putus! Cinta adalah cinta. Jika digabung dengannafsu maka cinta akan memudah, tersisalah nafsu.Ngeri!

Supaya hijab kamu ngga buka tutup, bergabunglah dengan teman-teman yang istiqomah. Mereka kelak yang akan jadi patroli pengontrol kalau kamu khiaf atau galau. Jadikan al-Qur’an sebagai teman duduk, saat santai atau menjelang tidur. Sempatkan seminggu sekali ikut tausiah islam, sharing dengan para ustadzah. Jika sehari-harinya sudah sibuk dengan amal sholeh, dijamin maksiat minggat, ketaatan yang memuat kita kuat. Hijrahlah! Istiqomahlah! Yuk! [Alga Biru]

 

 

BOX

TANTANGAN BERHIJAB

Berikut ini momen saat aktivitas berhijab kamu mungkin akan diuji. Siapkan amunisi iman dan tawakkal kepada Allah

Dunia Kerja

Ketika kelak memilih kerja, biasanya ada tuntuntan untuk tampil cantik dan kadang-kadang disyaratkan untuk membuka aurat (hijab). Lebih baik stop! Berani berkata TIDAK! Ingat, rezeki sudah diatur oleh Allah, kita hanya berusaha, biarkan Dia datang dengan cara yang indah.

Pelangkap Identitas

Pas foto ijazah SMA sering membuat dag-dig-dug. Buka kerudung atau tidak? Kalau pakai kerudung, harus buat pernyataan ini dan itu. Kelihatannya horor banget ya? Wah, apa yang salah dengan wanita berhijab? Nah, banyaklah berkonsulitasi dengan ahlinya agar harga diri kita sebagai muslimah tetap terjaga.

Takut Ngga dapet Jodoh

Klise banget. Alasan yang dibuat-buat. Siapa bilang berhijab menjauhkan jodoh atau lelaki untuk mendekat. Percayalah, justru lelaki yang datang bukan lelaki sembarangan.Lelaki itu pastinya lelaki yang seiman dan menjaga auratmu dari yang haram memandang.

Low Exist !

Wanita berhijab tidak bisa eksis, sulit. Wanita juga ingin tampil ke depan. Hijab menghalangi wanita dalam mengeksplorasi diri. Nah, pemikiran seperti ini masih menempel di sebagian orang. Sementara di jaman sekarang ini, makin banyak bukti wanita berhijab makin berkilau, berprestasi tanpa harus mengumbar auratnya dan sekedar modal cantik semata.

[Alga Biru]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Derap Rantai Episode 16

MajalahDrise.com – Jejak-jejak kaki kuda di tengah-tengah gurun yang kering itu mengantarkan Mutsana bin Harits ke sebuah benteng. Terletak satu kilometer dari tempat jatuhnya Jabal bin Abdul’uzza. Mutsana tahu persis bahwa langkah yang diambilnya ini amat besar bahayanya. Dia takjub ketika melihat benteng itu dari balik sebongkah karang besar, dan tidak punya informasi apa-apa tentangnya. Dia tahu persis seberapa pentingnya informasi itu ketika sedang berhadapan dengan musuh.

Benteng tanah liat itu terletak di tengah-tengah sebuah lembah, dan dia dibangun di dalam sebuah jurang dengan celah yang sempit. Mutsana berada di tempat yang aman di tepi jurang itu dan menatap ke bawah untuk mengamati benteng. Hampir-hampir dia tak percaya sebab ternyata ada sebuah benteng musuh di tempat yang tidak begitu jauh dari Madinah sebagai ibukota Khilafah Islamiyah.

Mutsana mengedarkan pandangannya ke sekitar benteng itu dan menyadari ada sesuatu yang menutupi celah sempit tempatnya berada. Seperti ada sehelai kain yang amat lebar yang ujung-ujungnya terhubung dari tepi jurang yang satu ke tepi jurang lainnya. Di atas kain lebar itu ditaburi pasir-pasir gurun agar keberadaan benteng itu tersamarkan dari pandangan mata semua orang. Yang jadi masalah, Mutsana tidak tahu ke mana jalan masuk menuju benteng itu. Bagaimana cara dia menyusup ke dalam benteng sementara hari beranjak terang-benderang? Hal itu hampir mustahil. Dan dia sama sekali tidak tahu di mana Jabal disekap. Ketiadaan informasi memang sesuatu  yang amat berbahaya.

Mutsana kembali menengadah menatap langit biru yang tinggi. Dia tidak punya banyak waktu, namun dia tidak tahu pasti apa yang mesti dia lakukan. Hatinya tak henti berzikir kepada Allah, berdoa memohon kemudahan.

Tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup derap langkah kaki kuda di kejauhan. Ketika dia mengamati apa yang didengarnya, sadarlah dia ada sebuah kesempatan baik untuknya. Seorang prajurit hitam sedang berkuda dengan cepat melintasi gurun pasir. Pakaiannya yang hitam berkelebat di belakangnya, selendang serbannya menutupi sebagian wajahnya. Kali ini ada sebuah perasaan bahagia yang aneh ketika dia mengetahui kedatangan musuhnya itu. dia bergegas memersiapkan diri untuk menyambut orang yang datang itu, dia bergerak dari tempat persembunyiannya. Dia berencana menghadang prajurit hitam itu.

Mutsana telah menunggu di sebuah celah batu tepat di jalan yang akan dilewati oleh prajurit hitam itu. Dia menggenggam sebongkah batu di tangan kanannya yang akan dia lemparkan kepada musuhnya. Agar batu yang keras dan kasar itu tidak terlalu melukai musuhnya, dia bungkus batu itu dengan sehelai kain yang diambil dari serbannya. Dia bersiap-siap untuk melemparkan batu itu dari tempat persembunyiannya.

Mutsana adalah juga seorang pelempar yang ulung. Akurasi lemparannya amat tinggi, apa yang dia lempar hampir pasti mengenai sasarannya. Satu lagi kemampuan yang amat berguna yang dianugerahi Allah kepadanya.

Prajurit hitam itu semakin mendekat, tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mengintainya. Mutsana terus memerhitungkan jarak dan waktu yang tepat untuk melempar batu itu kepada sasarannya. Matanya terpicing, jemarinya bergerak, merasakan lekuk-lekuk batu yang sedang digenggamnya. Kesempatannya hanya sekali dan dia tidak boleh meleset. Hati Mutsana terus saja menggumamkan harap kepada Allah.

Saat prajurit hitam itu telah berada pada posisi yang tepat, Mutsana mengayunkan tangannya dan melemparkan batu itu tepat kepada sasaran. Batu yang dilemparkan Mutsana tepat mengenai kepala prajurit hitam itu dan membuatnya terjerembab dari kudanya. Dia terguling di atas pasir dan Mutsana segera meringkusnya beserta kudanya. Prajurit hitam itu pingsan ketika terjatuh dan dengan mudah Mutsana menyeretnya ke tempat persembunyian. Dia pun bergegas menangkap kuda milik prajurit hitam itu dan membawanya ke dalam celah.

Terbaringlah di hadapan Mutsana seorang lelaki berpakaian serba hitam, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Serbannya hitam dan hampir seluruh wajahnya tersembunyi di balik cadar hitam. Mata lelaki itu terpejam, dia tak sadarkan diri. Sebelum bertindak lebih jauh terjadap lelaki itu, Mutsana bergegas kembali kepada untanya. Dia mengambil barang-barang yang dibutuhkannya, seutas tali, kantung air, dan pedangnya.

Setelah kembali kepada tawanannya, Mutsana mencabut pedang dari sarungnya. Bilah pedang itu berkilauan ditimpa sinar mentari yang hendak naik. Dengan pedang di tangannya, Mutsana meraih kantung air lalu meneguk air di dalamnya. Dia tidak langsung menelah air itu, tapi dia membuka cadar hitam tawanannya dan menyemburkan air di mulutnya ke wajah tawanannya. Prajurit hitam itu terkejut dan langsung tersadar, namun bilah pedang Mutsana telah merapat di lehernya.

“Siapa kau?” Suara prajurit hitam itu parau. Tenggorokannya sakit, terlebih lagi kepalanya yang terkena batu sudah membengkak.

“Kau tak perlu tahu. Yang pasti sekarang kau harus menjawab semua pertanyaanku, atau pedangku ini yang akan bertanya padamu.” Ancam Mutsana.

 

000

 

Matahari terus naik menuju puncak langit. Dia tidak akan menunggu siapa pun yang tidak mau bergegas. Dia mengiringi langkah kaki seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki berpakaian hitam. Serban dan cadar hitam yang dikenakan lelaki itu membuat wajahnya tidak bisa dikenali. Orang yang ada di balik pakaian hitam itu telah berganti. Mutsana menyamar dengan mengenakan pakaian hitam milik seorang musuh yang berhasil dilumpuhkannya.

Hari itu akan menjadi hari yang panjang bagi Mutsana. Dengan segala pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Mutsana telah mendapatkan segala informasi yang dia butuhkan dari prajurit hitam yang menjadi tawanannya tadi. Kini dia lebih siap untuk menyusup ke benteng musuh yang berada di dasar sebuah lembah itu.

Mutsana memacu kudanya sekencang-kencangnya. Sebilah pedang dan sebilah belati sudah tersemat di pinggangnya, sebagai senjata yang akan melindungi dirinya dari serangan musuh. Wajahnya tertutup cadar hitam yang dikaitkannya dengan erat agar jatidirinya tidak terungkap. Angin padang pasir mengibarkan pakaiannya. Mutsana bergerak menyusuri tepian jurang itu ke arah yang malah menjauh dari benteng. Dia melarikan kudanya menghampiri sebuah gunung batu yang tinggi menentang matahari.

Derap langkah kaki kuda yang tadinya cepat kini telah berubah menjadi pelan. Mutsana menurunkan kecepatan kudanya. Sambil berjalan, dia memerhatikan gunung batu yang ada di hadapannya, yang letaknya di sebelah timur benteng. Tatapan matanya menyapu gunung batu itu dari lereng sampai ke puncaknya. Berhentilah Mutsana di hadapan gunung batu itu, dia turun dari kudanya dan berjalan terus menghampiri gunung sambil menuntun kudanya. Entah apa yang hendak dia lakukan.

Sambil berdiri dan berkacak pinggang, Mutsana memerhatikan apa yang ada di bawahnya. Rerumputan kering, kaktus, pepasir, dan kerikil, memenuhi dasar dari gunung batu itu. Pandangan mata Mutsana menyusuri setiap jengkalnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dicarinya. Hingga kemudian perhatiannya tercuri.

Tak jauh di depan Mutsana ada setumpuk batu gurun yang jika dilihat selintas hanyalah tumpukan batu biasa. Ternyata tumpukan batu-batu itu menciptakan semacam ruang untuk melindungi sesuatu yang ada di dalamnya. Mutsana membungkuk rendah dan memasukkan tangan kanannya ke dalam celah yang sepertinya telah disiapkan sejak lama. Di dalam ruang itu tangannya menyentuh sebongkah batu yang permukaannya halus sekali. Dia sendiri tidak sanggup melihat apa yang disentuhnya. Dirabanya sebongkah batu itu kemudian didorongnya ke depan. Mutsana perlu mengerahkan sejumlah besar tenaganya, karena ternyata sebongkah batu yang halus itu cukup berat saat dia hendak mendorongnya.

Angin gurun pun berembus seiring dengan gemuruh yang mendadak muncul membelah padang pasir. Dinding gunung batu yang keras dan kejam itu merekah, membuka! Sebuah gerbang pada gunung batu muncul di hadapan Mutsana… [@sayfmuhammadisa]

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45