Cerita dari Formosa (Taiwan)

Majalahdrise.com – Tinggal di salah satu kota di Taiwan, Chungli, tidak membuat ane kesepian. Pasalnya banyak warga negara Indonesia yang bekerja d Negri Formosa ini. Selain itu, cukup banyak muslim asli Taiwan dan juga imigran dari Filiphina, Pakistan dan negara-negara lainnya. Mereka sudah tinggal lama, bahkan menikah dengn orang Taiwan asli. Seperti tetangga ane yang tinggal di flat lantai 3, orang Pakistan menikah dengan orang Taiwan dan sudah mempunyai 2 anak. Kapan hari, ane juga menghadiri pernikahan mbak Siti yang dulunya bekerja di sini, dengan salah satu imam masjid Chungli yang asli Taiwan.

Di sini imam masjid itu, bukan orang sembarangan tetapi orang-orang pilihan. Ya, orang yang sudah bertahun-tahun sekolah di Negeri Timur Tengah atau pun di Mesir.

Dan karena jumlah muslim yang minoritas dan semakin menurun dari tahun ke tahun, lembaga Islam di sini (kalau di Indonesia, semacam MUI) punya program untuk mengirimkan pemudanya studi di Timur Tengah. Tujuannya minimal ada yang bisa menjadi imam masjid berikutnya. Kehadiran kami, muslim dari negara lain selain menambah populasi muslim yang ada di Taiwan juga membuat sebagian orang Taiwan yang tidak pernah tahu Islam, menjadi lebih ingin tahu tentang Islam.

Hampir semua teman-teman yang tinggal di sini dan dia berkerudung pasti akan mengalami pertanyaan–pertanyaan seputar hijab, makanan, sholat , dan lain-lain. Karena orang-orang di sini kebanyakan ‘penasaran’ dengan agama. Sempat terbesit dalam pikiran ane bahwa mereka tidak beragama karena kepo banget dengan agama lain. Ternyata dugaan ane tidak sepenuhnya melesat. Karena walaupun mayoritas beragama Budha dan Taoisme tetapi sebagian dari mereka hanya menganggapnya sebagai agama di kartu tanda penduduk. Seperti teman yang satu laboratorium dengan ane, yang ternyata tidak percaya dengan agama walaupun secara identitas ia beragama seperti ayah ibunya yaitu Taoisme.

Kami menyempatkan mengobrol saat jalan-jalan bersama, karena saat di laboratorium tidak mungkin kami lanekan. Karena kebiasaan orang Taiwan serius mengerjakan pekerjaannya saat di laboratorium. Hanya sesekali mengobrol bersama. Itu pun dengan suara yang tidak keras. Ditambah bahasa mandarinku yang babak belur, dan orang Taiwan tidak terlalu suka belajar bahasa Inggris. Hasilnya tidak terlalu connect. Tetapi hal itu tentu tidak boleh menjadi excuse bagi ane. Dari hasil obrolan kami, dia mulai tertarik tentang apa itu Islam dan aturan-aturannya. Saat ku bilang bahwa ane memilih Islam bukan karena orang tua, dia sangat kaget dan menyangka orang tua ane bukan muslim. Karena memilih agama sendiri bagi teman ane adalah sesuatu yang di luar kewajaran.

 

Misionaris Dimana-Mana

Sore itu, ane dan beberapa orang dari Yuanze University mengadakan circle untuk mendiskusikan Islam. Kami berkomitmen untuk selalu ada kajian rutin untuk menjalin silah ukhuwah , menambah ilmu dan agar semakin istiqomah dalam berislam. Mengalirlah cerita dari teman-temanku. Salah satunya adalah dari mbak Ani, muslimah yang baru saja berhijab ini menceritakan pengalamannya ‘berdakwah’ kepada temannya dari Negara lain .

Mbak Ani merasa sampai kewalahan menjawab pertanyaan teman-temannya yang bertanya. Tetapi kesempatan ini tidak akan dilewatkan mbak Ani. Karena kami memang harus bersaing dengan para misionaris yang sangat gencar menyebarkan misinya. Maka ane pun menyarankannya untuk rajin belajar lagi tentang Islam dan ane siap membantunya jika ia butuh jawaban-jawaban dari pertanyaan aneh teman-temannya. Kami tidak boleh menyerah hanya karena keterbatasan bahasa dan ilmu. Kami harus segera mengupgradenya karena kami tertinggal jauh dengan para misionaris yang memang aktifitas utamanya untuk ‘menyeru’.

Para misionaris biasa beroperasi di taman –taman Universitas, terminal bus , stasiun dan tempat-tempat umum lainnya. Yang luar biasa para misionaris ini menguasai bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Sehingga sangat mudah bagi mereka berkomunikasi dengan penduduk asli Taiwan maupun para pendatang. Mereka tidak menyerah walaupun ditolak dan akan memberikan ‘fasilitas’ pada mereka yang tertarik dengan agamanya.

Ini terbukti pada salah satu mahasiswa Yuan Ze yang telah ditarik ke agamanya. Teman internasional ini berasal dari Vietnam , memang dari awal dia merasa galau dengan keyakinannya. Dia merasa agamanya adalah agama yang tidak jelas dan kering. Lalu suatu hari datanglah sang misionaris di taman universitas. Ia memulai diskusi dengan menanyakan pertanyaan yang sangat krusial tentang aqidah yakni “ Bagaimana tuhanmu bisa disebut tuhan?”. Jelaslah si gadis Vietnam kelabakan dan tak bisa menjawab dengan baik. Ia pun menyampaikan kegalauannya tentang agamanya. Tentu hal itu bagai angin segar bagi sang misionaris. Dan seperti yang bisa kami tebak, sang misionaris menjadi semakin rajin mendekatinya.

Gadis Vietnam yang galau merasa mendapat jawaban dari diskusi-diskusi itu dan ditarik ke acara-acara berikutnya. Oleh sang misionaris ia juga diberi bible berbahasa Vietnam, bahasa ibunya. Gadis ini sebetulnya pernah berdiskusi dengan teman kami, Dini. Tetapi ia merasa Islam begitu ribet karena harus memakai kerudung dan tidak boleh makan sembarangan. Para misionaris ini ternyata memang didik dan dikirim khusus untuk menarik orang ke Agama Kristen. Mereka ada yang berasal dari Amerika, Eropa dan penduduk asli Taiwan.

 

Islamnya Seorang Mantan Misionaris

Kabar gembira dan hawa segar buat kami di tengah-tengah perkembangan Islam di Taiwan yang mulai stagnan. Kabar yang mengharukan itu datang dari seorang mantan misionaris yang baru masuk Islam. Sang mualaf mantan misionaris menceritakan kalau dia telah membawa banyak sekali orang asli Taiwan kepada Agama Kristen. Karena ternyata rata-rata orang Taiwan tidak memiliki Agama (atheis) walau KTP mereka beragama Budha atau Thaoisme.

Dengan intensitas mengontak , sedikit demi sedikit usahanya membuahkan hasil dan akhirnya ia mengislamkan puluhan keluarga. Saat ia masuk Islam, penyesalannya datang di belakang. Tetapi ia bercita untuk membawa mereka kepada Islam. Dan ia sangat berterimakasih kepada orang yang menjadi perantara hidayah Allah. Dari ceritanya kami menemukan satu semangat baru untuk menyebarkan Islam di bumi Formossa. Doakan kami driser…![]

By: Nur Maulidiyah (tinggal di Taiwan)

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #45