Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Bagi kita sebagai seorang muslim, Nabi Muhammad saw adalah sosok yang mulia. Tak ada cacat cela karena udah dijamin oleh Allah swt kalo perkataan dan perbuatan beliau adalah wahyu yang mesti kita jadikan pegangan. Kecintaan pada Nabi Muhammad adalah bagian dari kecintaan pada Allah swt.

Nggak heran kalo para sahabat mati-matian berusaha mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri. Dalam hadits dari Anas ra. Nabi Saw bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).

Karena cinta nggak cuman kata-kata, mereka berusaha tunjukkan kecintaannya dalam perbuatan yang patut jadi teladan, diantaranya:

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abi Thalhah”. Kemudian Nabi saw. beralih ke pinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Sahal bin Saad ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda pada Khaibar: Berkata kepadaku Qutaibah bin Said, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abu Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

             Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orang-orang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasululah saw.

             Maka Rasul bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya.

             Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).” Kemudian Rasullah saw. bersabda, “Berangkatlah perlahan-lahan hingga engkau berdiri di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih)

Muhammad bin Sirin berkata: Telah berbincang-bincang segolongan laki-laki di masa Umar ra., hingga seakan-akan mereka melebihkan Umar ra. atas Abu Bakar ra., kemudian hal itu sampai kepada Umar bin Khathab r.a., lalu beliau berkata, “Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar lebih utama daripada keluarga Umar. Sungguh Rasulullah telah pergi menuju gua Tsur disertai Abu Bakar. Abu Bakar terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau.

             Hingga hal itu membuat Rasulullah penasaran, beliau pun berkata: Wahai Abu Bakar! Kenapa engkau terkadang berjalan di depanku dan terkadang di belakangku? Abu Bakar berkata: Jika aku ingat orang-orang yang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu, dan jika aku ingat orang-orang yang mengintaimu, maka aku berjalan di depanmu.

             Rasulullah saw. bersabda: Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku? Abu Bakar menjawab: Benar, demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan, maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu.

             Ketika keduanya telah sampai di gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tunggu sebentar di tempatmu wahai Rasulullah!, hingga aku membersihkan gua untukmu. Kemudian Abu Bakar pun masuk gua dan ia membersihkan (dari segala hal yang akan menggangu). Ketika ia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan sebuah lubang, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, tetap ditempatmu!, aku akan membersihkan sebuah lubang. Maka ia pun masuk gua dan membersihkan lubang itu. Kemudian berkata; silakan turun wahai Rasulullah saw., Maka Rasul pun turun.” Umar berkata, “Demi Allah, sungguh malam itu lebih utama dari pada keluarga Umar.” (HR. Hakim).

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Hisyam berkata: Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin Khathab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah!, Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi saw. berkata, “Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah benar wahai Umar.” (HR. Bukhari).

 

Cegah Dengan Khilafah

Sebagai bentuk protes terhadap penghinaan Nabi oleh media Barat, ajakan boikot terhadap produk Barat menggema di negeri-negeri Muslim. Hasilnya, emang lumayan bikin ngeper pemerintah Eropa yang takut ekonomi negaranya terancam akibat aksi boikot. Seperti yang pernah dialami negeri Viking, Denmark pasca kasus kartun Nabi saw. Sayangnya, aksi boikot produk nggak bikin mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya kapok. Apalagi dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Makanya, mereka malah makin jor-joran.

Kalo udah gini, kerasa banget deh pentingnya kehadiran institusi yang bisa menyatukan muslim sedunia. Institusi itu adalah kekhilafahan Islam seperti yang ditunjukkan para shahabat pasca Rasul wafat. Ini ditegaskan Rasul dalam sabdanya:

Sesungguhnya seorang imam—Khalifah—adalah perisai orang-orang akan menjadikannya pelindung dan berperang di belakangnya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya khilafah, mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya bakal dapet ganjaran setimpal. Penghinaan terhadap Islam atau kaum Muslimin sama dengan menabuh genderang perang. Seperti yang terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah, yaitu ketika Nuruddin Zanki menjabat sebagai wali (gubernur) Syam pada tahun 557 H. Ada pihak yang berupaya menyerang makam Rasulullah saw. Atas sepengetahuan Khalifah, Nuruddin pun bertolak ke Madinah untuk menangkap dan membunuh mereka yang menyerang makam Nabi saw. Rasain tuh!

Ketegasan Khilafah dalam menjaga kemuliaan Islam cukup bikin ngeper mereka yang hendak melecehkan Islam. Seperti diakui oleh Bernard Shaw dalam memoarnya. Bahwa pada masa Khilafah Utsmaniyah tahun 1913 M, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Rasulullah saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London.

Begitu juga yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid. Saat itu, Prancis hendak mengadakan pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera memberikan ancaman kepada Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Kalo tetep ngeyel, bakal ribut gede urusannya. Prancis pun ngeper lalu membatalkannya.

Ngerasa nggak dapet angin di Prancis, perkumpulan teater itu malah jalan ke Inggris untuk menyelenggarakan pementasan serupa. Sekali lagi, Khalifah Abdul Hamid memberikan ancaman kepada Inggris. Tapi Inggris menolak ancaman tersebut dengan alasan tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Khalifah pun ngasih ultimatum, ”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”. Akhirnya, nyali Pemerintah Inggris jadi ciut lalu menelan ludahnya sendiri tentang kebebasan dan pementasan drama itu pun dibatalkan. Makanya jangan cari gara-gara!

Driser, terbukti hanya Khilafah yang bisa membungkam kebebasan berekspresi media Barat yang doyan menghina Allah swt dan Rasul-Nya. Ayo kita sama-sama berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Biar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin tetep terjaga sepanjang masa.  Yuk! [@hafidz341]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Majalah Drise Edisi 45 : Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Dor..! Dor…! Dor…! Rentetan tembakan yang memuntahkan timah panas memecah kesunyian kantor Charlie Hebdo hari Rabu, 07 Januari lalu. Beberapa redaksi tabloid satire Prancis yang tengah menggelar rapat redaksi ini harus kehilangan nyawa ditangan dua orang berpakaian serba hitam dan bersenjata AK-47. Pasca aksi penembakan, pelaku bergegas pergi meninggalkan beberapa korban.

Dunia barat terhenyak dengan tragedi Charlie Hebdo. Aksi penembakan yang dikaitkan dengan ‘balas dendam’ pelaku terhadap pelecehan Nabi Muhammad saw yang kerap ditayangkan tabloid Perancis dalam bentuk kartun ini mengundang banyak spekulasi. Media Barat serta merta menyerang Islam sebagai agama teroris dan mengkampanyekan solidaritas terhadap kebebasan berpendapat. Walhasil, pada hari Minggunya (10/01) lebih dari 3,7 juta orang turun ke jalan sebagai bentuk dukungan dan solidaritas untuk Charlie Hebdo. Sialnya pasca penyerangan, Charlie Hebdo kembali menayangkan kartun Nabi di cover depan majalahnya dengan tulisan “Je Suis Charlie” (Kami adalah Charlie). Bukannya introspeksi malah menjadi-jadi. Parah banget kan?

 

Nabi Dihina Dimana-mana

Kalo nggak jeli dengan gencarnya media Barat yang menyudutkan Islam dalam tragedi Charlie Hebdo, bisa-bisa kita juga ikut-ikutan phobi terhadap Islam. Padahal yang terjadi, nggak seperti diberitakan media Barat. Tragedi Charlie Hebdo adalah akumulasi kekecewaan umat Islam terhadap beberapa media Barat yang kerap menghina Rasul dan Islam.

             Tahun 1989, seorang Salman Rusydi bikin buku berjudul the Satanic Verses alias ayat-ayat setan. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan ayat-ayat cinta lho. Isinya menggambarkan al-Qur’an sebagai ayat-ayat Setan. Nggak cuman itu, dia juga melecehkan isteri-isteri Nabi yang mulia. Malah ka’bah yang disucikan oleh umat Islam sepanjang hidup dilukiskan sebagai tempat mesum. Na’udzubillah! Sialnya, hingga kini Salman Rusydi enak-enakan hidup dalam perlindungan pemerintah dan dinas keamanan Inggeris.

             Kemudian pada Juli 1997, seorang wanita Yahudi Israel, Tatyana Suskin (26) membuat dan menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad. Di antaranya ada poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestina. Di kafiyeh itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Arab kata: Muhammad. Dengan pensil di kukunya, babi itu tampak tengah menulis di atas sebuah buku bernama “al-Quran”.

             Tahun 2002, penghinaan kepada Nabi Muhammad dan Islam kembali terjadi seiring dengan munculnya sebuah tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel tentang Rasul dan Miss World.

             Tahun 2005, koran Jyllands Posten Denmark memuat beberapa kartun Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu, Rasul saw digambarkan lagi bawa pedang dan menenteng bom. Terus dalam kartun lain, digambarkan Rasul sebagai orang bersorban yang di atasnya terselip bom. Januari 2006, kartun-kartun itu nongol lagi di koran Norwegia dan Prancis. Seolah nggak puas, Februari 2008 lalu kartun yang melecehkan Rasul saw itu dimuat lagi oleh sebelas media massa Denmark dan beberapa harian di Swedia, Belanda, dan Spanyol. Nantangin nih?!

 

Standar Ganda Cermin Islamophobia

Pepatah bilang, nggak ada asap kalo nggak ada api. Begitu juga dengan tragedi Charlie Hebdo. Liat sendiri kan, musuh-musuh Islam berulang kali menghinakan teladan kita Rasulullah saw. Bisa jadi mereka ngerasa, umat Islam adem-ayem aja saat Nabinya dilecehkan. Terlebih lagi, mereka punya senjata kebebasan berekspresi untuk melindungi tingkah provokasinya dimedia.

Kelompok Muslim Islam di Prancis bukan nggak pernah menempuh jalur hukum untuk memperkarakan majalah Charlie Hebdo. Namun, mantan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy malah mendukung Charlie Hebdo. Dia membenarkan tindakan majalah itu sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan berbicara. Pada 22 Maret 2007, Pengadilan Prancis menyatakan Charlie Hebdo tidak bersalah. Disitu kadang saya merasa sedih!

Padahal klaim kebebasan berekspresi Barat cuman omong kosong belaka alias punya standar ganda. Kebebasan berekspresi mereka pakai sesuai dengan kepentingannya. Kebebasan berekspresi dianggap kadaluarsa kalo mengganggu Yahudi. Tapi jika menyerang dan menistakan Islam, Nabi Muhammad saw. dan simbol-simbol Islam, kebebasan berekpresi mendadak diperpanjang masa aktifnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Buktinya, dalam kasus Dieudonne M’bala, pada Januari tahun lalu, Menteri Dalam Negeri Prancis Manuel Valls melarang M’bala melakukan pertunjukan teater dengan alasan itu anti semit atau mengolok-olok Yahudi. Mahkamah Agung Prancis pun mendukung keputusan itu. Namun, tiga tahun lalu dengan dalih menjaga kebebasan berekspresi, Mahkamah yang sama membebaskan novelis Michel Houellebecq yang menuduh Islam sebagai agama paling bodoh di dunia. Tuh kan!

Ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi saw., dianggap angin lalu. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo, Maurice Sinet, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo. Tuh kan!

Driser, bukannya kita meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu itu. Serangan itu jelas nggak bikin masalah penghinaan Nabi saw beres. Cuman sekedar ngingetin aja, agar kita bisa lebih fair melihat tragedi Charlie Hebdo. Inkonsistensi alias standar ganda media barat sering sekali terjadi. Terutama kalo udah nyangkut Islam dan umat Islam. Kondisi ini semakin menunjukkan karakter musuh-musuh Islam seperti diingatkan Allah swt dalam firman-Nya: ”Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali’Imran [3]: 118).

Makanya, percuma kalo kita ngarepin ’kepedulian’ pemerintah negara-negara Eropa untuk menindak tegas mereka yang udah melecehkan Nabi Muhammad saw. Yang ada cuman makan ati. Cape deh!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

‘Tuhan’ Bertangan Emas

Majalahdrise.com – Kita pasti tahu kisah Nabi Ibrahim yang membawa anaknya Ismail dan istrinya Hajar pindah ke Makkah. Awalnya, Makkah hanyalah sebuah lembah yang tandus, tetapi setelah memancurnya sumur zamzam, orang-orang tertarik untuk tinggal di sana. Orang-orang menganggap Ismail dan Hajar sebagai pemilik sumur zamzam itu, sehingga mereka sangat dihormati. Nabi Ibrahim dan Ismail kemudian diperintahkan membangun Ka’bah sebagai rumah Allah. Orang-orang hanya menyembah Allah, Tuhan yang Esa, dan mengamalkan agama nabi Ibrahim.

Zaman pun berganti. Tauhid yang diajarkan nabi Ibrahim dan Ismail masih tetap dipeluk dan dipegang erat-erat oleh bangsa Arab. Hanya saja telah banyak ajaran-ajaran mulia itu yang ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah keyakinan tauhid dan beberapa syiarnya saja.

Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab Ar Rahiq al Makhtoum kemudian mengisahkan, pada masa-masa itu datanglah seorang lelaki bernama Amr bin Luay. Dia adalah pemimpin bani Khuza’ah. Dia adalah seorang lelaki yang terkenal mulia, santun tutur katanya, baik budibahasanya, suka memberi, dan sangat memperhatikan urusan agama. Semua orang menyukai dan mematuhinya, karena menyangka dia adalah ulama yang terhormat dan wali yang mulia.

Pada suatu hari, Amr bin Luay berkunjung ke Negeri Syam. Di sana dia menyaksikan para penduduk Negeri Syam pada nyembah patung. Lah kemudian dia terinspirasi untuk nyembah patung juga. Dia menganggap nyembah patung itu sebuah kebenaran, karena dia mengetahui Negeri Syam adalah tempat turunnya kitab-kitab suci dan tempat diutusnya para nabi. Maka kemudian dia membawa sebuah patung dari sana yang bernama Hubal. Dia membawa patung itu ke Ka’bah dan menyembah patung itu di sana.

Penyembahan terhadap Hubal tersebar luas dengan sangat cepat hingga ke seluruh Hijaz. Hubal menjadi berhala pertama yang disembah orang Arab. Ketika Amr bin Luay membawanya pertama kali dari Syam, Hubal adalah sosok patung berbentuk manusia yang terbuat dari batu akik merah yang tangannya patah. Ketika tiba di Makkah, orang Arab membuatkan tangan dari emas untuknya.

Dari sini keliatan banget betapa bodohnya praktek penyembahan berhala. Ngapain juga nyembah tuhan yang nggak punya tangan, terus malah kita yang bikinin tangannya. Ngapain juga nyembah tuhan yang nggak bisa memberi manfaat apa-apa.

Untuk itulah Islam datang, dalam rangka membebaskan manusia dari penyembahan terhadap mahkluk (seperti Tuhan Bertangan Emas) dan mengajaknya menyembah al-Khalik Sang Pencipta (Allah subhanahu wata’ala).Karena itu banyak banget ayat Alquran yang menyatakan ungkapan minazh zhulumati ila nur, atau dari kegelapan menuju cahaya. Persis sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 257yang artinya: ”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya”.

Berbahagialah kita sebagai seorang muslim. Kebayang kalo kita hidup dalam era jahiliyah yang erat dengan penyembahan berhala, dijamin nggak masuk hitungan calon penghuni surga. Makanya penting bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam, agar tetap hidup dalam terangnya cahaya Islam dan memantaskan diri jadi penghuni surga. Mau? #YukNgaji! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli

Majalahdrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal habits penulis yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung!

Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus gundah akan ketidaksinkronan antara idealita yang dia punya dengan realita yang dia hadapi.Dia selalu kebelet untuk “menuangkan” apa yang dia lihat, dia dengar dan yang dia rasakan. Oleh karena itu, dia suka berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis yang memiliki tipe pelapor, layaknya seorang reporter ataupun jurnalis investigatif. Mencari kelengkapan berita adalah mutlak dibutuhkan oleh seorang reporter ataupun wartawan demi akurasi informasi yang disampaikannya. Dia dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber ataupun berdiskusi dengan para pakar di bidangnya.

Di sinilah urgensitas berdiskusi bagi seorang penulis. Apalagi bagi para pemula yang masih gagap dalam bertutur dan bernarasi dalam tulisannya. Informasi berupa fakta, data dan berita, sekaligus ilmu, pengetahuan dan tsaqafah sungguh sangat dibutuhkan demi menambah bobot tulisan yang dihasilkan. Setelah kita memiliki kebiasaan membaca sebagai habits pertama bagi seorang penulis, maka kebiasaan keduanya adalah senang berdiskusi.

Jujur saja, Bro and Sist, membaca buku ataupun literatur klasik di perpustakaan saja gak cukup bagi seorang penulis handal. Dia masih membutuhkan pendalaman materi sekaligus pengayaan dalam detil bahasan. Coba, deh, setelah membaca buku, kamu lihat daftar referensi yang disajikan Si Penulis, maka akan kamu dapatkan sejumlah buku yang menjadi bahan tulisan Si Penulis dalam menuliskan bukunya. Terkadang juga, Si Penulis mengutip sejumlah surat kabar ataupun majalah sebagai referensinya. Bahkan, dalam beberapa buku, Si Penulis juga mencantumkan teknik wawancara dan diskusi dengan tokoh-tokoh tertentusebagai referensi tulisan.

Kebiasaan senang berdiskusi ini akan jadi hal positif bagi seorang penulis, dia dapat menguliti habis satu tema tertentu dengan berbagai sudut pandang. Coba, deh, kamu buktikan sendiri, datangi seorang expert pada bidang tertentu, kemudian kamu ajak diskusi pada bidang yang dikuasainya itu. Kamu juga harus sudah siap dengan sejumlah pertanyaan untuk mendetili persoalan. Saya juga sudah membuktikan habits penulis yang kedua ini dengan mengajak diskusi para expert yang umumnya bertitel doktor dan professor. Hasilnya pun, memang langsung terasa, ilmu dan pengetahuan saya jadi semakin kaya, kualitas dan ragam tulisan saya pun semakin berkelas!

Sebagai contoh, saya pernah berdiskusi dengan seorang miltech expert yang gape persoalan teknologi militer mutakhir, dia juga mahir menguraikan kecanggihan alutsista berbagai negara produsen war machine di seluruh dunia, khususnya Amrik dan para pesaingnya dari benua Eropa. Dia juga begitu terampil menjelaskan persoalan alutsista di Dunia Islam, khususnya di negeri Si Komo ini yang sudah jauh tertinggal.

Hasil dari diskusi intens itu pun, saya dapat menyajikan secara maksimal makalah berjudul Membangun Kekuatan Militer Berbasis Ideologi Islam, sekaligusmempresentasikan secara optimal file power point dengan tema Militer dalam Islam. Bahkan, saya pun mampu untuk mempresentasikan tema Future War, sebuah kajian perang di masa depan dengan teknologi militer paling modern yang sungguh berbeda dengan analisis perang akhir zaman atau al-Malhamah al-Kubro.

Oke, deh, Bro and Sist, soal habits penulis kedua ini emang hal yang kudu dijabanin oleh para penulis. Seorang penulis yang baik, dia akan selalu merasa kekurangan ilmu. Apa yang dia dapatkan dari membaca buku, akan dia dalami dan detili lagi dengan banyak berdiskusi dengan para ahli. Tabiat positif ini akan semakin mengasah kualitas tulisannya, sekaligus mengasah keterampilannya dalam menuangkan ide, pemikiran dan pendapatnya. Bukankah, dalam berdiskusi, kita pun berbicara, bertutur, berdiplomasi, bahkan mungkin berdebat? Artinya, kebiasaansenang berdiskusi ini merupakan tabiat yang emang kudu dimiliki oleh seorang penulis. Catet, tuh?![]

 

BOX

Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu semua senang berdiskusi:

  1. Ketahui dulu, tema apa yang ingin kamu diskusikan?Kalo gak nyiapin tema, halah… alamat ngobrol ngalor ngidul, tuh!
  2. Cari tahu juga, siapa tokoh yang akan kamu ajak diskusi? Gawat banget, kan kalo kamu ngajak diskusi soal gimana sakitnya sakaratul maut kepada pasien yang divonis dokter sudah tidak ada harapan tertolong?
  3. Cari momen yang asyik buat diskusi, bayangin kalo kamu ngajak diskusi orang yang tengah emosional, wah bisa berabe, euy!
  4. Pilihlah tempat yang nyaman saat diskusi, kamu bisa milih rumah, restoataopun tempat fave yang adem, biar diskusinya juga enak tenan.
  5. Kamu harus aktif berkarya agar ada output positif dari kreativitasmu selama ini. Inget lho, ilmu tuh harus dishare pada banyak orang sebagai bagian dari amal saleh kita (ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang kita punya, jangan hanya untuk diri sendiri, apa enaknya masturbasi intelektual? Dosa, tau!

 

Dengan tetap kreatif menulis, hobi diskusimu akan menghantarkanmu jadi penulis ahli! Inget, tuh?![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44