Derap Rantai Episode 19

Majalahdrise.com – Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih.

“Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur.

“Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal.

Perlahan-lahan Jabal berdiri di atas dua kakinya. Kepalanya pening karena berkali-kali ditinju oleh para prajurit hitam tadi. Mutsana datang tepat waktu sehingga Jabal tidak perlu mengalami apa yang dialami oleh tawanan yang lain.

Walau berat, Jabal telah bisa berjalan sendiri. Mereka berdua menyusuri koridor-koridor panjang yang remang-remang itu.

“Kita harus bergegas,” kata Mutsana. “Tempat ini tidaklah aman bagi kita.”

“Bagaimana cara kita keluar dari tempat ini?” Tanya Jabal.

“Tak ada jalan keluar!”

Mata Jabal menatap tajam kepada Mutsana, langkahnya terhenti. Kalimat Mutsana yang pendek itu memang amat mengejutkan. “Apa maksudnya tidak ada jalan keluar?”

Mutsana menoleh ke kedua ujung lorong, dia tetap waspada akan keadaan. “Setelah seseorang masuk ke dalam sini dia tidak akan bisa keluar lagi. Tapi pasti akan selalu ada jalan keluar! Ayo!!!”

kisah sebelumnya

Tangan Mutsana menggandeng lengan Jabal untuk membantunya melangkah. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor yang gelap itu. Pelan-pelan Jabal telah sanggup berjalan sendiri tanpa perlu dipapah lagi oleh Mutsana. Tibalah salah satu hal terberat yang harus mereka lakukan, mendaki anak-anak tangga yang melingkar itu.

Beberapa kali Mutsana harus kembali memapah Jabal. Setelah memerah keringat dan mengerahkan tenaga, akhirnya mereka sampai juga di puncak tangga. Perjalanan belum berakhir, mereka melangkah lagi.

Beberapa orang prajurit hitam berpapasan dengan mereka, namun tak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada mereka. Mereka hanya mendapatkan tatapan mata penuh tanda tanya. Berbeloklah Mutsana dan Jabal, menuju ke bagian lorong yang berbatasan dengan taman yang indahnya seperti surga itu. Di ujung lorong, terkejutlah mereka berdua ketika tiba-tiba muncul sekelompok prajurit hitam. Mutsana mengenali seorang yang berdiri paling depan, dialah prajurit yang tadi disergap oleh Mutsana di tengah-tengah padang pasir.

Prajurit hitam itu mengacungkan telunjuknya lurus kepada Mutsana dan Jabal. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. “ITU MEREKAAA…”

Jantung mereka berdua mencelos, seolah-olah hendak melompat keluar. Dari ujung lorong di hadapan mereka sekelompok prajurit hitam sedang berlari mengejar mereka, sementara mereka terpenjara oleh dinding-dinding lorong. Mutsana bergerak cepat ke depan Jabal. Dia berdiri menghadap dinding yang berbatasan dengan taman, memasang kuda-kuda, berkonsentrasi kepada dinding itu, kemudian menghantamkan tendangannya ke sana. Dinding itu hancur berkeping-keping membentuk sebuah lubang besar.

Jabal melotot takjub, tapi Mutsana langsung merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam lubang di dinding itu, memasuki taman. Mereka berlari sekencang-kencangnya melintasi taman itu tanpa sempat mengagumi keindahannya. Hamparan rumputnya yang hijau sebenarnya amat lembut di kaki mereka, tapi mereka tak bisa merasakannya sebab mereka harus mengambil langkah seribu.

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Jabal bisa berlari dengan cepat, bahkan menyejajari kecepatan lari Mutsana. Mereka berlari bersisian menerjang apa pun yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, taman yang tenang dan damai itu menjadi riuh. Para prajurit hitam yang mengejar di belakang mereka berteriak-teriak.

“TANGKAP MEREKAAA…!!! JANGAN BIARKAN LOLOSSS…”

Para pemuda yang sedang duduk di taman sambil mendengarkan tausiyah dari sang orangtua itu langsung tersentak kaget. Mereka melihat ada dua orang lelaki menghambur ke hadapan mereka sambil berteriak, merekalah Mutsana dan Jabal. Sang Orangtua terlihat heran, alis dan dahinya yang mengkilap berkerut. Tongkatnya teracung sambil meracaukan sesuatu yang tak jelas.

Mutsana mengangkat kepalannya dan menghantamkan tinjunya ke hidung sang Orangtua hingga Orangtua itu jatuh terjengkang dan pingsan. Sementara Jabal mengenali seorang pemuda yang ada di hadapannya, pemuda dengan luka di betis yang berhasil mengelabuinya dan Mutsana di tengah-tengah gurun. Tanpa pikir panjang, Jabal menabrakkan badannya yang besar dan berat ke tubuh pemuda yang sedang duduk di atas rumput itu. Tubuh Jabal menimpa tubuh pemuda itu dan pemuda-pemuda lain yang ada di sekitarnya, persis seperti bola bowling menghantam bidak-bidak pin di ujung lintasan.

Mutsana dan Jabal melanjutkan pelarian mereka melintasi taman indah yang disorot cahaya matahari itu, sementara semakin banyak orang yang mengejar mereka. Taman yang tadinya tenang itu menjadi ribut.

Taman itu berbentuk persegi, disorot langsung sinar matahari, dan sepertinya dia berada di tengah-tengah benteng dengan dikelilingi tembok. Bunga-bunga beraneka warna yang jarang terlihat di daratan Arab bertumbuhan di taman itu. Di sudut-sudutnya ada pilar-pilar tinggi yang berukir dan dilapisi sulur-sulur tumbuhan. Seluruh dasarnya ditutupi rerumputan yang hijau, benar-benar meniru taman surga. Ada sebuah sungai berair jernih yang membentang di tengah-tengah taman itu, dan ke sanalah Mutsana dan Jabal sedang menuju.

Ketika mereka sudah mendekati tepian sungai, mereka menghentikan langkah mereka. Mutsana dan Jabal saling pandang, kemudian mereka menoleh ke belakang mereka hanya untuk mengetahui seolah-olah seisi benteng itu kini sedang mengejar mereka saking banyaknya para pengejar itu. Para pengejar itu semakin dekat.

“Sekarang apa? Jatuhkan diri ke sungai?” Tanya Jabal dengan gusar.

Mata Mutsana terbuka lebar menatap aliran sungai yang deras itu. “Ikuti aku!!!”

Mutsana melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras itu. Tak menunggu lama, Jabal segera melompat mengikuti perintah Mutsana sambil memekikkan takbir. Aliran sungai yang cepat luas itu dengan sigap menyeret tubuh mereka berdua. Mati-matian Mutsana dan Jabal menggerakkan tubuh mereka agar tetap berada di atas air. Mereka membiarkan saja tubuh mereka hanyut dibawa aliran sungai.

Di tepian sungai, para pengejar itu sudah ramai menyoraki Mutsana dan Jabal, namun mereka tidak berani menceburkan diri mereka ke dalam sungai. Mereka mengatakan berbagai hal yang tidak bisa dipahami oleh Mutsana dan Jabal.

Tubuh Mutsana dan Jabal terombang-ambing di atas aliran air yang deras. Mereka menahan napas dan membuka mulut mereka kemudian bernapas dari sana. Di hadapan mereka tegaklah dinding pembatas taman, mereka akan segera terbentur dengan keras ke dinding itu. Namun yang terjadi tidak terduga. Ada lubang menganga di dinding itu, sebuah lubang besar yang gelap. Aliran air sungainya jatuh ke dalam bumi, terjun bebas ke dalam ceruk gelap yang dasarnya tak kelihatan. Tubuh Mutsana dan Jabal terjatuh ditelan kegelapan.

Bersambung

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48

Merah Saga Bumi Suriah

Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.

“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.

Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.

Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan al-ummah turid khilafah islamiyah yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.

 

Pertempuran Di Jabal Akrod

Blaaar… sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.

“Ihsan…. Ihsan… Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.

Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.

Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.

Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.”

Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.

Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.

“Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!” seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.

Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, duaar… duaar… duaar tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan buuuuk…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.

11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.

“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.

“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat

“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.

“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.

“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.

“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.

gleeeek…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.

Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini.  lanjut…….[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

 

Derap Rantai Episode 13

Majalahdrise.com – Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu Bakar Shiddiq memerintahkan kepada mereka untuk keluar dari Madinah menuju arah Yamamah. Misi apa lagi yang telah mereka terima?

“Seperti biasa,” kata Mutsana, “Kita sudah keluar dari Madinah, kita harus membuka surat Khalifah.”

“Baiklah,” gumam Jabal.

Mereka dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus, yang ketika itu sang gurun pasir masih ramah karena hari masih pagi. Langit sudah cukup terang dan berwarna biru tapi matahari belum keluar dari balik cakrawala. Namun tak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa jam saja, padang pasir itu akan menjadi ganas. Gunung-gunung cadas yang diam membisu tegak di kiri-kanan jalan. Batu-batu dan kerikil menjadi penghias mata, menggantikan rerumputan. Hampir tak ada yang hidup di padang pasir itu, kecuali binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang sudah tercipta untuk hidup di sana.

“Ayo kita menepi,” kata Mutsana.

Dia dan Jabal berbelok sejenak ke tepi jalan, mendekat pada sebuah gunung karang yang tertutup oleh pasir. Ada bagian yang kasar pada permukaan gunung karang itu, sebagian halus karena terkikis angin semenjak waktu yang tidak bisa diduga-duga. Mereka turun dari unta masing-masing dan mengikatkannya ke sebatang pohon kurma kering yang merana di dekat gunung karang itu, mereka mencari tempat yang agak tersembunyi. Kehati-hatian dan kewaspadaan harus selalu ada di setiap langkah mereka.

Setelah duduk bersandar pada batu karang, Mutsana mengeluarkan surat dari Khalifah. Dibukanya amplop pembungkus surat itu, yang bagian tutupnya disegel lilin berwarna merah dengan stempel Khilafah Islamiyah tercetak di atasnya. Stempel itu adalah cincin Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang di atasnya terukir lafaz “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Setelah Rasulullah wafat, cincin stempel kenegaraan itu kemudian dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Sepucuk surat yang lebih kecil melompat keluar, persis seperti misi mereka sebelumnya. Jabal memungut surat itu yang terjatuh di dekatnya dan mengangkatnya di depan dadanya.

“Ada surat kecil lagi,” gumamnya.

Mutsana memerhatikan surat itu dan berdeham. Entah apa maksud dari dehamnya itu. Dia kembali beralih kepada surat yang besar.

“Baiklah, akan kubacakan,” kata Mutsana, sambil memerhatikan surat yang sudah terhampar di hadapannya.

 

 

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada Saudaraku,

Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza,

Pergilah kalian ke Yamamah dalam waktu dua hari. Temuilah komandan kita, Khalid bin Walid, yang telah selesai betugas memberantas Musailamah al Kadzab, kemudian serahkan surat kecil yang aku lampirkan di surat kalian.

Surat kecil itu amat penting untuk segera berada di tangan Khalid, sebab itulah yang menentukan dimulainya futuhat pertama kita ke Persia. Semoga Allah selalu bersama kalian, insya Allah. Bakarlah surat ini, setelah kalian memahami isinya.

Saudaramu,

Khalifaturasulillah

Abu Bakar

Wassalamuaialaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

 

“Sepertinya misi kali ini cukup mudah,” kata Jabal, “Hanya mengantarkan surat.”

“Sesuatu yang kelihatan mudah tidak akan menjadi mudah jika Allah berkehendak menyulitkannya, begitu juga sebaliknya,” kata Mutsana. “Intinya, kita hanya bisa bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala agar mempermudah misi kita. Memohon kemudahan dariNya adalah hal yang amat penting.”

Mereka menengadahkan tangan ke langit, memohon pertolongan kepada Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Tidaklah makhluk memiliki kuasa apa-apa, kecuali apa yang dikehendaki Allah saja.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illabillah,” seru Mutsana, “Semoga Allah memberikan kemudahan serta keselamatan bagi kita semua. Sebab tanpa hal itu kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.”

Setelah membakar surat sebagaimana perintah dan mengamankan surat kecil di dalam saku celana, Mutsana dan Jabal melompat ke punggung unta mereka masing-masing, kemudian memacunya selagi hari masih pagi.

Terhamparlah jejak cepat kaki unta di atas butiran-butiran pasir. Angin dingin berembus lagi seiring dengan melatanya ular-ular dan kadal-kadal. Mutsana dan Jabal menggenggam erat tali kekang unta-unta itu untuk mengendalikan pacunya. Mereka sedang berada dalam sebuah misi penting.

Matahari pun terbit dan membuat bayang-bayang menghitam panjang. Dari balik gunung-gunung karang dia muncul dengan gagah dan berwibawa. Seakan-akan dia sajalah yang ditunggu oleh seluruh makhluk selaksa alam. Dia memancarkan energi kepada semesta sejak dahulu kala.

Satu jam telah berlalu sejak Mutsana dan Jabal meninggalkan Madinah. Pelita matahari semakin terik dan mengalirkan bulir-bulir keringat di wajah mereka. Fatamorgana makin mengambang dan apa yang terlihat di depan seolah-olah hanya khayalan. Mereka mengatur kecepatan pacu unta-unta mereka agar mereka bisa selalu bersisian, hingga tiba-tiba mata Mutsana menangkap sebuah bayangan.

Jauh di depan sana, di antara fatamorgana, dia melihat ada seseorang. Hatinya bertanya-tanya apakah yang sedang dia saksikan adalah kenyataan atau khayalan. Dia berteriak kepada Jabal untuk mengalahkan deru angin.

“Ada orang di depan! Kau melihatnya??”

“Aku melihatnya,” seru Jabal. Ternyata dia pun melihat apa yang dilihat Mutsana. “Tapi kita belum tahu apa yang kita lihat itu benar atau tidak.”

Mereka memacu unta-unta mereka agar berlari semakin cepat. Dan semakin dekat mereka dengan apa yang mereka lihat, kian nyata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah tipuan fatamorgana.

Bersambung…

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

 

 

Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!

 

Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat.

Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari 0 derajat celcius.

Di dekat jendela kamarnya, Haura masih termangu memandangi lekat-lekat rinai hujan yang terus-menerus menghujami genting rumahnya. Keras, mengalir, membasahi rerumputan yang terhampar di depan beranda rumahnya.

Dari jendela kamarnya, Ia pun menyaksikan sihir itu. Di matanya, Majalengka malam itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi kegundahan dan carut-marut saja.

Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana musim hujan yang membuat Majalengka malam itu begitu penuh kebimbangan. Bukan semata-mata sihir rembulan malam yang membuat Majalengka begitu hitam. Pekat. Menakutkan. Bukan semata-mata rinai hujan yang bening yang membuat Majalengka begitu dingin. Menggigil.

Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menggamangkan adalah karena musim hujan sedang bertandang di hatinya. Hujan kesedihan sedang berguyur deras di sana. Bunga bunga harap di hatinya sedang terkatup tak memekarkan indahnya. Layu.

Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah semua teman yang ada di sekolahnya senantiasa menjauhi dan memberi jarak dengannya.Karena Haura seorang perempuan yang pendek lagi buta.Ia sedih kenapa semua temanyang ada di sekolahnya,hanya memandangnya dari segi fisik tanpa melihat dari segi potensi yang dimilikinya.

Memori ingatannya berputar kembali ke suatu peristiwa, ketika Ia mengungkapkan cita-citanya di depan kelas, bahwa Ia ingin menjadi seorang dosen dan penulis buku yang mendunia. Lantas teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan mengolok-oloknya. Tanpa ampun.

“Haha, dasar pemimpi ulung! Mustahil itu terjadi! Dasar perempuan buta. Perempuan pendek!”

Setetes, dua tetes, air matanya kian mengalir, menganak sungai.

“Aku akan buktikan pada kalian. Aku bisa meraih mimpiku itu. Dan Aku pun akan buktikan. Bahwa cacatku adalah kelebihanku!” desisnya begitu yakin.

“Nak, ada apa denganmu? kok meneteskan air mata?”ucap ibunya menempelkan tangannya di atas pundak Haura. Sontak Haura kaget bukan main.

“Oh ibu, mengangetkan saja. Kirain siapa?” kaget Haura lekas menyeka air matanya.

“Nak , ibu sudah tahu masalah yang menimpamu saat ini,” kata ibunya mengawali percakapan.Haura hanya mengangguk dengan lelehan air mata mengalir dari sudut matanya.

Ibunya tersedu lantas mengayunkan telunjuknya untuk membasuh air mata anaknya yang sedari tadi terus mengalir.

“Nak, dengarkan dan camkan nasehat dari Ibu ini. Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian kitakepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara agar kita bisa ke luar dari kegelapan hidup.”

Lagi-lagi Haura hanya manggut-manggut saja. Tanpa ada kata yang ikut mengiringi. Ibunya hanya tersenyum melihatnya.

“Nak, Seringkali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Ibu yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.”pungkas ibunya kembali tersenyum.

Haura bergeming sesaat.Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya. Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

“Nak, bolehkah ibu mengajukkan sebuah cerita padamu?”ungkap ibunya memotong lirihan Haura.

“Dengan senang hati bu. Boleh,”jawab Haura menerbitkan sebuah senyuman.

“Baiklah. Dengarkan baik-baik ya. Terus Kau ambil dan simpulkan sendirihikmah yang terkandung dalam cerita yang akan ibu ceritakan. Setuju?”

“Setuju!”timpal Haura sangat antusias. Karena Ia sudah tahu, ketika Ibunya bercerita, pasti ceritanya itu berbobot dan dapat menyengat semangat hidupnya.

Ibunya merapihkan posisi duduknya, yang Ia rasa kurang nyaman.

“Alkisah. . . Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.

“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut,” ujar si perempuan.

“Apakah suamimu sudah pulang?”si lelaki berjanggut malah balik bertanya.

“Belum, dia sedang keluar,”balas si perempuan mengernyit.

“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali.”

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istrimenceritakan semuakejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian yang diceritakan si istri, lalu ia berkata pada istrinya,

“Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”

Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka yang sedari tadi tengahmenunggu, untuk masuk ke dalam.

“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,”kata laki-laki itu hampir bersamaan.

“Lho, kenapa?” tanya perempuan itu keheranan.

Salah seorang laki-laki itu berkata, “Nama dia Kekayaan,”katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya,

“dan yang ini bernama Kesuksesan,”sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya,

“sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu!?”

Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran.

“Oh…menyenangkansekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita.”

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.

“Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.

“Baiklah, ajak masuk si Cinta itu ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.” seru sang ayah.

Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu.

“Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silakan masuk!Anda menjadi tamu kita malam ini.”

Si Cinta bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.Ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepadasi Kekayaan dan si Kesuksesan.

“Maaf, Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian berdua ikut juga?”

Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan.

“Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.

Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Sebenarnya kami bisu, dan hanya si cinta yang bisa bercakap.

Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

“Dan itulah ceritanya. Semoga engkau dapat tersadar dan mata hatimu dapat terbuka. Silakan engkau sendiri nak, yang menyimpulkannya!”

Air mata Haura kembali berderai, setelah mendengarkan cerita dari ibunya. Ia sekarang tersadar, bahwa Kekayaan dan Kesuksesan bukanlahfaktor determinan dalam hidup ini. Melainkan cinta-lah yang harus ada dalam setiap perbuatan yang akan Ia lakukan.

Justru keduanya akan berbanding lurus dengan rasa cintanya pada sesama dan utamanya, rasa cintanya pada Dia yang Maha menghembuskan rasa Cinta, pada setiap hati Hamba-hamba-Nya yang beriman lagi mulia.

“Nak, sadarlah! bahwa engkau-lah berlian di hati ibu. Engkau-lah segalanya buat Ibu. Jangan dengarkan dan acuhlah! terhadap celotehan orang-orang pengecut yang sukanya menggembosi semangat hiduporang! Singkaplah tirai dogma itu nak! Kamu bisa! Ibu yakin itu!”ucap Ibunya meletup-letup bak motivator.

Semangat Haura pun seketika tersengat. Aliran darahnyaseketika mendidih. Berlian itu tersadar akan potensi yang dimilikinya. Dan tidak dimiliki orang lain. Ia tidak akan lagi mengkhianati, mengerdilkandan mempercundangi potensi yang ada. Akhirnya, Ia kembalitersenyum penuh keyakinan. Menatap dunia.

Sejurus kemudian, Ia peluk ibunya begitu erat. Air matanya Ia sembunyikan dibalik bahu perempuan yang terkuat se-jagat raya. Ibu.

 

EPILOG

 

UNTUK BERLIAN YANG TERTUTUP!

Wahai berlian yang tertutup!

Memandangmu sungguh menggetarkan mataku. Karena dirimu begitu teguh memegang prinsip hidup yang teramat fundamental.

Walau raga selalu tercaci, engkau balas dengan senyuman tulus penuh arti.

Walau petir ancaman menghujam jantungmu, engkau payungi dengan kesabaran tiada semu.

Walau kegagalan bertubi menghantam diri, engkau bersikeras bahwa kegagalan itu bukanlah akhir, namun awal dari kesuksesan diri.

Walau sumpah serapah memenuhi pundak, engkau bersihkan dengan ikhlas tanpa harus diri menyalak.

Wahai berlian yang tertutup!

Aku tak tahu kata apa yang layak aku sematkan padamu. Karena dirimu bak cahaya di atas ribuan kaca yang menyilau.

Aku tak tahu bait apa yang bisa menggambarkan tentangmu. Karena dirimu sukar tergambar oleh tinta dan kain kanvas di dunia ini.

Aku pun belum bisa bersenandung mengisahkanmu. Karena dirimu adalah bait-bait liar dan irama-irama misteri yang terus mengalunkan melodi-melodi ketegaran.

Wahai berlian yang tertutup!

Hari ini! Menit ini! Dan detik ini juga! engkau harus berani menyingkap tirai dogma yang terus meng-stagnankan hidupmu. Agar kilaumu dapat terlihat dan nantinya membawa manfaat. Agar diri tak lagi dicaci laksana makhluk kerdil yang ternista diri. Agar diri tak lagi dipandang rendah bak sebongkah sampah! Musnah!

Aku tahu. Memulai itu memanglah sulit. Tapi lebih sulit jikalau diri tak mau memulai. Mulailah sekarang juga! Tak apa, meskipun dengan langkah gontai dan merangkak. Mulailah berbenah dari hal yang dianggap kecil, karena suatu yang besar berawal dari yang kecil.

Wahai berlian yang tertutup!

Sibukkan diri dengan perkara yang menjanjikan. Agar kilaumu menjadi sapaan pengetahuan. Agar prestasi yang didambakan terasa mudah untuk didapatkan.

Ayunkan langkahmu. Singkapkan silaumu. Berjalanlah dengan kedua malaikat yang senantiasa hadir menemani langkahmu. Ajaklah mereka untuk bersenandung penuh optimis. Bersahabatlah dengan mereka. Rangkul-lah mereka. Dan bisik-kan pada mereka.

MALAIKAT. AKU BUKAN LAGI BERLIAN YANG TERTUTUP. TRAP! DAN INILAH AKU. BERLIAN YANG PENUH KEMENANGAN.

 

Kelar deh. Ploooong banget euy. Suer.J

O ya maaf ya baru di share sekarang, soalnya kemarin malem lagi disibukkan buat Liqo Syawal bersama Tokoh dan Ulama 1435 H.

Semoga temen-temen enggak pada manyun.J

di muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #41