Merah Saga Bumi Suriah

Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.

“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.

Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.

Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan al-ummah turid khilafah islamiyah yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.

 

Pertempuran Di Jabal Akrod

Blaaar… sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.

“Ihsan…. Ihsan… Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.

Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.

Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.

Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.”

Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.

Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.

“Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!” seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.

Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, duaar… duaar… duaar tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan buuuuk…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.

11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.

“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.

“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat

“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.

“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.

“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.

“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.

gleeeek…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.

Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini.  lanjut…….[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.