Derap Rantai

Episode 8

drise-online.com – Sudah hampir dipastikan bahwa Mutsana dan Jabal akan tertangkap, namun Allah berkehendak lain. Tiba-tiba, pada dinding batu gang itu, di sisi sebelah kanan, muncullah pria kurus berwajah kutil, seolah-olah tadi dia bersembunyi di balik udara yang tipis. Ternyata ada sebuah pintu rahasia di dinding batu itu yang warnanya amat serupa dengan bagian-bagian dinding yang lain, sehingga tersamarkan. Pria itu melongok dari balik pintu, kemudian melambaikan tangannya, memanggil Mutsana dan Jabal.

Seperti mendapatkan oase di tengah-tengah gurun pasir, Mutsana dan Jabal bergegas menghampiri pintu itu kemudian memasukinya. Pria berkutil buru-buru menutup pintu itu di belakang mereka. Sampailah mereka di sebuah ruangan yang gelap, cahaya matahari hanya menerobos dari sela-sela di bagian atap. Pria berkutil memimpin mereka keluar dari ruangan itu melalui sebuah pintu batu yang tersambung pada bagian belakang sebuah rumah. Kini mereka berada di sebuah dapur. Jantung mereka berdegup kencang, apakah mereka benar-benar telah selamat?

“Kalian sembunyilah di sana, di sudut ruangan ini, aku akan keluar melihat keadaan,” kata Pria berkutil.

Mutsana dan Jabal tak punya pilihan lain, mereka menurut saja pada perintah pria itu yang segera menghilang dari pandangan menuju keluar.

“Apakah dia Aswad?” Tanya Jabal, dia merapatkan punggungnya ke dinding, napasnya masih menderu.

“Semoga saja,” sahut Mutsana.

Tak lama kemudian pria itu kembali, dia terlihat lebih tenang, sepertinya bahaya telah berlalu. Dia menghampiri Mutsana dan Jabal dengan membawa dua gelas air yang menyejukkan.

“Bangunlah, keadaan sudah aman,” kata pria itu sambil menyerahkan gelasnya. “Silakan duduk!”

Dengan segelas air di tangan masing-masing, Mutsana dan Jabal duduk di kursi yang terletak di dapur itu. Setelah membisikkan nama Tuhan, mereka meminum air itu dengan rasa syukur yang berlipat-lipat. Pria itu memerhatikan gerak-gerik Mutsana dan Jabal dengan saksama, terbitlah senyum tipis di wajahnya yang buruk. Sebuah senyuman tulus yang selalu dia perlihatkan ketika dia melayani pelanggannya. Dan bukan cuma itu, tapi juga kepada semua orang.

“Alhamdulillahhh,” Jabal mengembuskan napasnya dengan lega setelah dia meneguk air segelas itu.

“Apakah anda bernama Aswad bin Asadi?” Sepertinya Mutsana sudah tidak sabar, dia langsung mengajukan pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya.

“Akhirnya kalian datang juga, sudah bertahun-tahun aku menunggu kalian. Aku Aswad bin Asadi,” sahut pria itu. Dia kembali tersenyum kepada Mutsana dan Jabal.

Ada sebuah ketenangan dan kesejukan di balik senyum Aswad. Dia melahirkan senyumnya itu dari hati dan imannya. Bahwa seorang muslim mestilah selalu memperlihatkan wajah yang berseri-seri kepada saudaranya, seperti itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Dia memang buruk rupa, tapi terpancar ketampanan dari sisi yang lain, dari jiwanya. Dan hal itu hanya bisa terjadi pada orang-orang yang selalu dekat dengan Tuhannya, serta selalu bangun di keheningan malam untuk menyatakan kepada semesta bahwa dia hanyalah hamba bagi Yang Mahapencipta.

“Terimakasih banyak telah menolong kami. Semoga Allah membalas kemuliaan hati anda. Kami amat bersyukur pada akhirnya Allah memertemukan kami dengan anda.”

“Untuk sementara ini keadaan kalian aman, tapi tidak untuk seterusnya, karena prajurit Persia mengadakan razia di mana-mana sebab mereka tahu bahwa kalian belum keluar dari kota.” Kata Aswad.

“Kami mohon bantuan anda, semoga Allah menambah barokah untuk anda,” tambah Mutsana.

“Sebetulnya tadi kami sudah melihat anda, tapi kami ditipu oleh seorang anak kecil yang menunjukkan bahwa Aswad bin Asadi adalah seorang pria bertubuh gemuk,” Jabal berkisah. “Dia langsung saja meneriaki kami sebagai muslim dan terjadilah kekacauan itu.”

“Sepertinya ciri-ciri yang kalian dapat tentang aku hanya pada wajahku, dan tanpa kalian duga, ada satu orang lagi pedagang kain yang wajahnya sejenis dengan wajahku,” Aswad tersenyum simpul sambil meraih kursi untuknya sendiri. “Tidak heran kalau lelaki itu meneriaki kalian sebagai muslim, dia adalah sainganku dalam perdagangan, dan dia sangat membenciku. Namanya Kourosh, dia sudah lama curiga bahwa aku adalah seorang orang Islam. Sebenarnya sebelum dia datang ke pasar ini, tidaklah sulit untuk menemukan aku, saudagar kain yang wajahnya kutilan adalah Aswad bin Asadi, hampir semua orang tahu itu. Ditambah lagi kalian bertanya kepada orang yang salah.”

“Sekali lagi,” kata Mutsana, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menolong kami.”

“Itu sudah kewajibanku. Aku sudah mengetahui kedatangan kalian ketika kudengar kekacauan itu di kejauhan. Ketika orang-orang berteriak sedang mengejar dua orang muslim, aku langsung bergerak. Sebenarnya aku dan timku yang menuntun kalian hingga kalian bisa berada di sini. Jika kalian hendak belok ke tempat yang salah, pasti akan ada anggota timku yang menghalangi jalan kalian agar kalian belok ke jalur yang benar, terus begitu sampai kalian tiba di gang tempat kalian bertemu denganku tadi.”

Mutsana menatap Aswad dengan serius, sementara Jabal melongo. Mereka terpesona dengan semua hal yang dikatakan Aswad.

“Sebenarnya aku kagum sekali dengan pintu rahasia tadi,” kata Jabal sambil mengangkat tangannya. “Aku sempat berpikir bahwa anda bisa terbang, atau bisa menghilang. Sebab jalan itu buntu, tapi anda tak ada di mana pun.”

“Pintu itu cuma salah satu dari pintu rahasia yang telah berhasil kami bangun,” kata Aswad.

“Sepertinya obrolan akan menjadi lebih panjang,” kata Mutsana sambil tersenyum simpul. “Aku rasa anda harus juga menceritakan misi anda kepada kami.”

Aswad menggumam, “Untuk beberapa menit ke depan keadaan masih relatif aman, insya Allah. Jadi kurasa kita bisa berbagi cerita.”

Bersambung,,,,,

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37

Antara Aku, Mama & Om Fahmi

By: Maya Dewi

 

drise-online.com – “Om bukan siapa-siapa bagiku, om gak berhak mengatur hidupku!” teriakku kepada lelaki paruh baya di hadapanku. Kubalikkan badan dan segera berlari memasuki kamar, dengan kesal kubanting pintu kamarku, braaaakkk… Dari dalam kamar, lamat-lamat kudengar suara tangisan mama diselingi suara Om Fahmi yang menenangkannya.

Aarrgh…kehadiran laki-laki itu telah membalikkan duniaku! Gara-gara dia hubunganku dengan mama jadi dingin, gara-gara dia hubunganku dengan teman-teman satu gank jadi merenggang. Dan gara-gara lelaki brengsek itu juga malam ini aku gak jadi ber-malam tahun baru-an di vila milik papanya Rani.

Dari dulu aku tidak akrab dengan adik kembar papa itu. Ya, meskipun kembar mereka berbeda 180 derajat. Papa orangnya enerjik, punya selera hidup yang tinggi dan juga bankir yang sukses. Sedangkan Om Fahmi hanya seorang peternak sapi dan domba, orangnya pendiam, dan soal selera? huh…ndeso! Aku nggak rela kedudukan papa digantikan orang seperti dia, pokoknya nggak rela!!! Bukk…bukk…bukk, kulampiaskan kekesalanku pada guling dan bantal di kasur.

***

“Vin…” Suara lembut mama membangunkanku, dengan malas kubuka mataku, “Udah pagi ya, ma?”, “Sholat Subuh dulu, yuk! Nanti boleh tidur lagi kalau masih ngantuk.”, aku langsung terduduk, kulirik jam weker di meja belajar masih menunjukkan pukul 5 pagi, “Ah…kepagian! ntar deh setengah jam lagi.” mama menahan tubuhku yang hendak rebahan lagi, “Sayang, sholatlah dulu…”, “Huuh…ya udah, deh.” Sahutku sambil ngeloyor ke kamar mandi.

Selepas sholat kudengar suara mama dan Om Fahmi sedang tilawah Al-Qur’an, hmm…lantunan suara Om merdu juga. Duuh…kok tiba-tiba aku semakin respek sama dia? Wah, ga boleh ini…kalo keterusan ntar aku jadi seperti mama, disihir sama Om jadi karung beras…hiii! Ya iyalah, gimana kagak? Mama yang dulu modis dan sering bergaya ala hijabers, sekarang pakainya gamis yang dia bilang jilbab… udah gitu kerudungnya lebar lagi! Huuh…cupu, gak oke sama sekali! Aku jadi males dijemput mama tiap pulang sekolah seperti dulu , meski sekarang ada Honda Jazz. Daripada jadi bahan cemoohan teman-temanku, mending nebeng Cindy naik Honda Vario, hehehe.

Pelan-pelan aku menyelinap keluar rumah, sambil menenteng sepatu kets aku berniat kabur ke taman kota, janji ketemuan dengan Nico yang kupacari sejak seminggu yang lalu. Kalo sampe Om tau aku punya pacar, wah…bisa kiamat deh! Bodo’ ah, lagian siapa juga yang minta pendapatnya. Aku mau menebus kekesalanku dengan bersenang-senang sama Nico pagi ini, hihihi…

Pagi itu taman kota terasa sepi, tidak seramai biasanya. Mungkin karena libur panjang, sehingga banyak warga yang memilih keluar kota atau mudik ke kampung halaman. Nico mengajakku duduk di sudut taman dekat lapangan tenis. Sejenak kami berbincang ramai, dia cukup kocak sehingga aku bisa tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba…Plakk!!! Tanganku reflek meluncur ke pipinya berbarengan dengan tangannya yang menjamahku, Nico terkejut, akupun begitu. “Vina! Berani-beraninya kamu?” Dia tampak geram. Aku mundur selangkah, “Ke…kenapa kamu menyentuhku?”Suaraku parau, antara kaget dan takut menyatu di dadaku. Dia mendekat mengulurkan tangannya padaku,

“Masak gitu aja gak boleh? Aku kan cowokmu…”

“Tapi bukan berarti kamu boleh menyentuhku…”

“Jangan sok suci, deh… ” Tatapan Nico seakan menelanjangiku

“Aku bukan cewek gampangan.” Sahutku ketus

“Hahaha…dengan pakaian seperti itu? Siapa yang akan percaya? Meski sekarang kau berkerudung, kau masih Vina yang dulu, Vina yang seksi. Aku masih terbayang bagaimana penampilanmu dengan hotpant hitammu, juga saat kamu ikut kontes cheerleaders tahun lalu…”

Mataku nanar, aku jadi tau kenapa dia gak suka melihatku dengan kerudung terjuntai menutupi dada. “Astaghfirullah…” Bisikku spontan

“Mulai ketularan papa tirimu?” Ejeknya saat mendengar bisikanku, Nico maju selangkah demi selangkah. Sedangkan aku tak bisa menghindar karena terhalang tembok di lapangan tennis. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil berdzikir, sesuatu yang akrab di telingaku sejak Om Fahmi hadir di kehidupan mama.

Bukkk… sebuah hantaman terdengar seiring teriakan kesakitan Nico. “Vina, lari!” Teriak seorang pemuda, saat kubuka mataku kulihat Azzam tengah memelintir tangan Nico yang terhuyung-huyung kesakitan. I can’t believe it… di belakang Azzam juga ada Nenek yang segera mengajakku pergi dari tempat itu.

********

Azzam, anak Om Fahmi dari almarhumah istrinya. Sejak Om Fahmi menikahi mama, dia tinggal dengan Nenek di pinggiran kota.

“Entah apa yang mendorong Nenek mengajak Azzam ke kota, ternyata firasat wanita tua ini benar.” Tutur Nenek sambil menunggu pesanan bubur ayam kami disajikan. Aku hanya bisa menunduk lesu, sementara Azzam memilih duduk berjauhan dari kami berdua.

“Vina, inilah salah satu yang mendorong Nenek memaksa Om kamu menikahi mama setelah Papa meninggal. Nenek ingin menyelamatkanmu dan Mama. Hidup kalian dahulu sangat jauh dari Islam, nenek berharap Om Fahmi bisa membimbingmu dan mama.”, aku mendongak hendak protes, tapi nenek terlanjur melanjutkan perkataannya,

“Lihat pakaianmu! Renungkan pergaulanmu!” Tegas beliau. Aku yang biasanya ngeyel hanya bisa diam, peristiwa tadi seakan skak mat bagiku. Sebuah buku berjudul “Beyond Inspiration” karya Felix Y. Siauw yang Beliau ulurkan langsung kusimpan dalam tas. Bubur ayam telah tersaji di hadapan kami, nenek berhenti bertutur. Kami pun sibuk menikmati sarapan pagi itu.

Sepanjang perjalanan pulang tidak ada obrolan apapun, sepertinya nenek memberiku waktu merenung. Dan memang benar, saat itu aku benar-benar merenung. Selama ini, hidupku hanya untuk bersenang-senang, hang out, shopping, nge-gank. Kalo ditanya tujuan hidup? Yaa…apalagi kalo bukan untuk menikmati semua yang telah diberikan Papa padaku. Papa memberiku segala kemewahan dan kebebasan menikmati masa muda.

Sholat sekedar penggugur kewajiban, Al-Qur’an hanya untuk bacaan rutin selepas Maghrib, umroh serasa wisata. Hanya itu Islam yang kupahami. Pakaian? Pergaulan? Mana kutahu kalau Islam juga mengaturnya.

Syukurlah Nenek tidak menceritakan kejadian tadi pada Mama dan Om Fahmi. Setelah berbasa-basi, aku mengurung diri di kamar. Siap menyantap PR bacaan dari Nenek. Nenek mencegah Mama yang hendak menyusulku ke kamar.

***

Aku keluar kamar tepat menjelang Dzuhur, Nenek dan Azzam sudah pulang. Om Fahmi sudah siap berangkat ke masjid. Ragu aku menegurnya, “Om…”

“Eh, Vina. Sholat yuk…” Ujarnya sambil tersenyum hangat, aku berdiri mematung. Om Fahmi melihatku dengan menyelidik, “Ada apa?” Tanyanya,

“Om, Apa benar bahwa kehidupan dunia itu ibarat penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir?” Tanyaku mengutip sebuah hadits di buku yang diberikan Nenek tadi pagi.

Om Fahmi mengernyitkan dahi lalu tersenyum, “Ya, itu hadits Rasulullah. Dan itu pasti benar.”,

“Seorang mukmin terikat dengan semua aturan Alloh di dunia, tidak bisa bebas berbuat semaunya karena dia yakin Alloh selalu mengawasi dan membalas semua perbuatannya.” Lanjutnya.

Aku tertegun, “Berarti…, aku…”

“Kamu masih bisa memilih, bersenang-senang dalam sesuatu yang semu dan sementara? Atau bahagia dalam keabadian?” Jlebb…pertanyaan retoris itu serasa menusukku.

Om Fahmi melihat jam dinding, “Sudah ya? Om mau berangkat ke masjid.” Sebelum Beliau berlalu, kuhadang langkahnya. “Om, Om janji pada Nenek untuk membimbingku. Vina ingin berubah, Om…” Ujarku sungguh-sungguh.

“Promise?” Tanyanya dengan mata terbelalak, “I promise!” Teriakku, Kami tertawa berdua. Mulai detik itu, bagiku, Om Fahmi adalah my best friend.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

 

 

 

Roman Hattin

Kisah kecamuk perang Hattin yang menentukan

direbutnya kembali Palestina oleh Shalahuddin al Ayubi.

[Djenderal 4 Arwah]

drise-online.com – Aku ingin melayani tuhan Yesus Kristus. Hal itulah yang membuatku berada di sini hari ini. Di sisi Karang Tanduk Hittin. Aku tegak kepada langit, setelah Tuhan sendiri memberi aku kehidupan sebagai manusia yang sesungguhnya.

Namaku Phillipe. Aku hanya seorang petani miskin dari Chatillon yang berharap memasuki Kerajaan Sorga. Setiap hari aku berdoa dan menjalani Pengakuan. Tidak ada lagi kedamaian dan keadilan kurasakan. Tetangga-tetanggaku dan termasuk aku menderita karena pajak tinggi. Penjualan hasil panen tidak berguna karena harga sangat murah. Maka aku sambut seruan Uskup Rene yang datang ke rumahku membawa pesan dari Paus Agung. Tuhan telah memerintahkan prajurit-prajurit Kristus untuk mempertahankan Tanah Suci dari tangan Saracen yang barbar itu. Sebab mereka membunuhi dan mengganggu Misa umat Kristus. Tuhan telah menjanjikan pengampunan, Kerajaan Sorga dan harta yang melimpah bagi mereka yang mau menjadi Prajurit Kristus. Sungguh manis janji tuhan kepada Paus yang disampaikan Uskupnya kepadaku.

Kutinggalkan ayah dan ibuku. Aku bergabung dengan pasukan yang dipimpin Reynald de Chatillon. Kami berangkat ke Palestina untuk bergabung dengan Raja Baldwin yang memimpin Takhta Suci Jerussalem. Menjaga tanah suci tempat kelahiran tuhan Yesus yang telah direbut oleh Godfroi de Boullion dari tangan kaum Saracen. Dan lebih dari segalanya yang aku mau adalah Kerajaan Sorga.

 

[[]]

 

Aku sedang berpatroli di sekitar Karak pagi itu. Tak jauh dari tempatku berpatroli, Benteng Karak berdiri kokoh. Di sisinya bukit batu dan hamparan padang rumput hijau. Langit masih biru, matahari belum datang untuk mewarnai dengan kuas emasnya. Aku berpatroli bersama sebuah grup sebanyak sepuluh personil. Derap langkah kuda-kuda kami menerbangkan debu yang dingin dan berat oleh embun. Kami berkeliling di sekitar daerah itu, dan mengamankannya dari intaian dan serangan musuh.

Beberapa ratus meter jaraknya di depan kami, terlihat sebuah rombongan sedang melintas. George, sang Komandan grup patroli, tersenyum dan memerintahkan kami untuk memacu kuda menghadang kafilah itu. Begitu banyak ketidakmengertian lagi-lagi menyeruak di kepalaku.

Sebelum kami memacu kuda kami untuk mencegat rombongan itu, aku arahkan kudaku ke hadapan George.

“Apa yang akan kita lakukan, Komandan?”, tanyaku dengan gusar. “Kita terikat perjanjian dengan Saladin..!”

“Tugas suci kita, tentu saja!”, sahutnya sambil tersenyum padaku, seakan tidak terjadi apa2. “Sekarang pergi hadang mereka, itu perintah.!”.

Kami menghadang kafilah itu. Mereka terdiri dari wanita, dan orang tua yang kebanyakan dari mereka berpakaian putih-putih. Jumlah mereka sekitar lima puluh orang, dan tak berdaya.

“Berhenti!!”, raung salah seorang prajurit. George mencabut pedangnya dan mengacungkannya ke arah kafilah itu dari atas kudanya. Seluruh kawan-kawanku mengepung kafilah itu dan mencabut pedang mereka. “Serahkan apapun yang berharga yang kalian punya, lemparkan ke sana.”.

Ketakutan menjalar di dalam hati mereka. Walau mereka lebih banyak dari kami, tetap saja mereka tidak sebanding dengan kami karena kami bersenjata. Rombongan itu setahuku adalah rombongan ibadah yang sedang berangkat ke tanah suci orang-orang Saracen di Jazirah, dan sering mengambil rute ini dalam perjalanan mereka.

“Kami hanya rombongan haji.!”, kata seorang pemuda di antara mereka yang kurasa adalah pemimpin rombongan itu. Seorang perempuan berkerudung hitam dan sangat cantik merapat ketakutan di punggung pemuda itu. “Kami tidak bersenjata dan tidak bawa banyak barang berharga!”.

“Kalau bicara lagi kutebas lehermu!!”, George mengancam. Dirapatkannya ujung pedangnya yang tajam ke leher pria itu dari atas kudanya. “Lakukan!!!”.

“Kalian terikat perjanjian dengan sultan Shalahuddin.!!”, tukas pria itu.

“Cepat lakukan!!”, ujung pedang George menggores leher pria itu.

Para penodong yang celakanya adalah teman-temanku itu makin rapat mengepung rombongan dan mengancam setiap orang dengan senjata mereka.

“Kami turuti keinginanmu, tapi setelah itu biarkan kami pergi!”, mereka semua mengumpulkan keping emas dan perak yang mereka punya, kawan-kawanku tersenyum sinis melihatnya.

Tiba-tiba datanglah beberapa orang berkuda dari arah benteng. Mereka adalah Reynald de Chatillon dan dua orang pengawalnya. Demi melihat Reynald de Chatillon yang sangar itu kurasakan ketakutan makin merasuk ke dalam hati rombongan orang-orang Saracen. Dia berhenti di hadapan kami.

“Ada apa ini??”, dengan berteriak Reynald de Chatillon mengacungkan telunjuknya kepada kami.

“Kami sedang memungut pajak jalan, Yang Mulia!!”, sahut George.

Seperti orang gila, Reynald de Chatillon tertawa terbahak-bahak tak tentu sebab. Kudanya berjalan, dia mendekati George lantas menepuk-nepuk bahunya.

Aku memacu kudaku bergegas mendekati Reynald de Chatillon. “Maaf Yang Mulia, kita terikat perjanjian dengan Saladin tentang semua ini!”.

“Tuhan telah memberi kita hak suci untuk mengambil segala yang mereka punya.”, kata Reynald de Chatillon terkekeh. “Ya, segalanya! Maka persetan dengan segala perjanjian!”.

Reynald de Chatillon tertawa terbahak-bahak keras sekali kemudian pergi begitu saja bersama dua orang pengawalnya. Kami semua tertawa, kecuali aku.

“Phillipe…!!”, teriak George. “Bawa uang itu.”.

Aku langsung turun dari kuda dan melaksanakan perintahnya. Kumasukkan keping emas dan perak itu ke dalam sebuah kantong kulit dan cepat-cepat menyingkir. George turun dari kudanya. Pedangnya masih teracung ke leher pemuda itu, si perempuan ketakutan di belakangnya. Tak kusangka, George menarik perempuan itu ke arahnya.

“Jaanggaaaannn!!!!”, teriak Pria Pemimpin rombongan Saracen itu. Perempuan itu menjerit. Pria itu hendak membela si perempuan namun George menusukkan pedangnya ke perut pria itu dan mencabutnya lagi. Darah terpancar ke tanah, pemuda itu tersungkur. George menyeret perempuan itu, dan merobek pakaiannya dengan pedang lantas memperkosanya di hadapan semua orang. Perempuan itu menjerit, meratap, menangis tak berdaya kepada Tuhannya. [bersambung..]

Di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #11

Novel Islami Bikin Keki?

oleh : Fakhirah Robbaniy

drise-online.com – Saya suka sekalee novel! Apalagi kalau lihat novel nganggur mata nggak bisa ditahan buat nggak baca, pokoknya baca deh… Nah, novel Islami juga termasuk yang gemar saya baca, mulai dari yang bahasanya renyah sampai yang bikin mengkerut dahi saya lahap deh. Apalagi temen saya suka banget beli novel yang hampir mirip-mirip judulnya. Kayak misalnya, ‘Air mata Bidadari, Senyum Bidadari, Bidadaripun Menangis’, dan masih banyak judul bidadari lainnya…(eits…ini judul hanya karangan saya aseli, jadi fiktif belaka. Tapi, kalau ada yang nemuin judul yang sama, itu tanpa kesengajaan yak…hehehehe ) karena saya tipe pembaca omnivora super alias gak pilih-pilih kalau baca. Jadi novel begitu biasanya saya lahap juga.

Sebel…sebel…sebel….Tahu nggak kenapa? Karena kebanyakan novel Islami yang saya baca, isinya bikin enek bin senep. Nih, pengarang ngerti nggak sih tentang apa yang dia tulis? Atau penerbitnya yang nggak ngerti! Sebab banyak novel yang embel-embelnya Islami, tapi bikin hati nyeri. Dan kebanyakan (eits…bukan semua lho!) ditulis begini  ‘Novel Islami Inspiratif’ ada juga yang begini, ‘Novel Islami Penggugah Spiritual’ dan juga ada ‘Novel Islami yang benar-benar mencerminkan nilai Islam,” dan banyak lainnya deh. Apalagi kalau endorsemennya  (komentar di cover buku) ditulis oleh salah seorang  kyai pesantren terkemuka, tokoh politik Islam, Dai yang sering nongkrong di tipi, penulis novel Islami lain, petinggi Universitas Islam, atau mantan santripun jadi, asal  endorsemennya  menarik. Nah, dari endorsemen berbagai tokoh inilah yang kadang-kadang bisa menipu konsumen. Soalnya, biasanya endorsemen itu isinya yang baik–baik aja, jarang kan endorsemen itu isinya maki-maki tuh novel. Coz, bisa diedit ma editornya kalau bahasanya agak negatif dan miring buat karya itu, terus nggak sedikit yang endorsemennya terlalu berbunga-bunga padahal isinya juga, hufh…sesak napas saya, silahkan kira-kira sendirilah!.

Pernah saya baca novel, cerita singkatnya kira-kira begini. Ada gadis cantik, sholihah, pinter,  baik, bla..bla..bla..(dan segala karakter malaikatnya deh) tapi dia miskin, terus akhirnya dia terpaksa membanting tulang ke kota  dan nebeng di rumah keluarga tantenya yang seorang misionaris. Nah, jendela kamar dia berhadapan sama jendela rumah sebelah, yang ternyata kamar seorang cowok yang diceritakan gaul tapi alim (coz parameternya rajin adzan di mushola komplek yang sepi dan si cewek juga rajin ke mushola gitu deh…). Nah, gaswatnya karena si cewek ini sering ngaji malem-malem dipinggir jendela yang kebuka, si cowok jadi betah ngeliatin secara diem-diem, truz… akhirnya mereka diceritakan sering berdiskusi dan mendalami masalah agama berdua. Gubrak banget, kan!

Yaelah…bung pengarang, itu namanya berkholwat, saya aja ngerti kalau berduaan malem-malem meski nggak duduk berdampingan itu termasuk berkhalwat. Jangankan malam, pagi-pagipun kalau cuma ngobrol berdua di suatu tempat dan nggak ada oranglain lagi namanya juga khalwat. Apalagi disitu juga diceritakan,  istilah pengarang ‘minta solusi’, tapi istilah saya ‘curhat’, jadi gini si cewek itu sering disiksa ma tantenya yang misionaris, lalu dia suka curhat ke cowok itu setiap malem dan si cowok yang terenyuh jadi setia menyupport dia. Sekali lagi GUBRAK banget!!! Disana aja udah kelihatan nggak Islaminya… dari tingkah mereka yang setiap hari berbagi cerita, dalih si pengarang mungkin karena masih dianggap Islami selama bukan pacaran, lhah..lhah…lhah…nggak ngerti apa kalau aktivitasnya sama aja kalau gitu… dan banyak lagi deh cerita yang saya temuin bikin geleng-geleng kepala terus. Kalau gini cerita, bisa bikin sesat yang baca kalau si pembaca nggak tahu mana yang bener, nanti bisa-bisa karena dianggap si pengarang melek Islam dan dianggap apa yang ditulisnya itu juga suatu kebenaran. Hiy…serem banget kalau banyak yang sesat gara-gara baca begituan.

Bukan cuma satu dua buku deh yang embel-embelnya Islami tapi dalemnya hoeks…nggak Islami! Banyak banget plend! Dan itu tersebar di berbagai pelosok negri. Ya Allah, saya sempat ingin menyalahkan pengarang dan penerbit serta pemberi endorsemennya. Kalau pengarang nggak ngerti Islam yang bener gimana, ditambah editornya cukup asal ngedit, terus pimpinan redaksi malah buta Islam, diperparah pemberi endorsemennya cuma muji–muji aja, dan penerbitannya hanya ngejar pangsa pasar yang lagi ngetren. Semua itu bikin isi dan mutu dijamin oleh orang yang nggak ngerti. Parahkan?!

Disaat-saat beginilah saya menjadi sedih dan berandai-andai. Seandainya pengarangnya mengerti, penerbit juga mengerti, pemberi endorsemen juga mengerti bagaimana Islam itu memenuhi segala aspek termasuk pergaulan karena Islam bukan sekedar ritual doang. Nah, seandainya lagi negara juga peduli dengan erosi mutu novel Islami begini, pasti novel yang terbit akan sesuai dengan yang seharusnya. Hiks…hiks…hiks…disaat begini kerinduan akan negara Islam yang melindungi mulai dari hal-hal besar hingga hal kecil seperti tentang mutu dan isi buku yang sesuai dengan syariat apa nggak?!,  jadi memuncak. Rindu Khilafah banget deh… Kalau negara peduli, mungkin novel-novel fiksi remaja yang beredar adalah novel yang inspiratif pembangkit keimanan, ketakwaan dan semangat juang. Bukan melulu tentang roman picisan yang bikin syahwat kita dimanja… hiks..hiks..hiks…khilafah segeralah tegak, saya rinduu sekaleee……khilafah!

 

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9