Umi di mana abi ? By Ridha Sriwahyuni

Malkah Qafishah menahan rasa sakit di perutnya. Di  penjara Al- Majdal tubuhnya yang ringkih semakin  Mlemah oleh penderitaan demi penderitaan yang ia  terima. Hanya lirih dzikir di bibirnya yang sunyi mampu  menjadi penguat hidupnya dan bayi yang telah delapan bulan  berada di rahimnya. Sudah hampir sepuluh bulan ia ditahan di  penjara itu.

Ia sendiri tidak tahu apa salahnya. Kata mereka  Malkah dituduh hendak melakukan bom bunuh diri. Ia  ditangkap oleh tentara Israel pada tengah malam di rumahnya  di kota Nablus. Di dalam penjara Malkah menerima siksaan-  siksaan yang tidak manusiawi. “ Haus…haus…air…air…” rintih Malkah. Kaki dan kedua  tangannya yang diborgol membuat Malkah yang lemah tidak  dapat berbuat apa- apa. Seorang tentara Israel membuka pintu sel. Sel yang  sangat sempit, hanya berukuran dua meter persegi, kotor,  dingin dan tidak mempunyai ventilasi.

Di lantai terdapat  lubang yang digunakan untuk buang air yang baunya amat  busuk. Tempat buang air itu terletak di samping tempat tidur  yang basah. Dinding sel yang berwarna bau- abu sudah rusak  sehingga untuk bersandar saja tidak bisa. Tentara itu memasang wajah sangar saat mendengar  rintihan Malkah yang kehausan. “ Kau haus, heh? “ Malkah mengangguk pelan. Tentara Israel itu mengambil sebuah gelas plastik di  pojok sel lalu mengencinginya.  “ Minum ini ! “ serunya kepada Malkah sambil  menyodorkan gelas yang berisi air kencingnya sendiri. “ Tidak! Semoga Allah melaknatmu !  “

“ Apa? Kau tidak mau?  “

“ Aku tidak mau!  “

“ Kalau kau tidak mau meminumnya aku akan  menendang perutmu dan aku akan menginjak- injaknya  hingga  bayimu keluar dalam keadaan hancur “ Malkah Qafishah merinding mendengar ancaman itu.  Ia teringat pada rekannya Fatimah Ghazalah yang dibantai  oleh tentara Israel saat sedang hamil. Fatimah berikut bayinya  yang masih dalam kandungan tewas seketika. Malkah tidak  ingin bayi dirahimnya tersakiti oleh tentara laknatullah.  Meskipun bayi itu tidak ia inginkan. Malkah memandang Yahudi itu dengan penuh kebencian.  Mereka adalah orang- orang yang tidak mempunyai  prikemanusiaan. Sejak tahun 1946 sampai saat ini mereka tidak  henti melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina.  Pembantaian itu bukan dilakukan pada kelompok bersenjata, tapi  pada warga sipil yang tidak berdosa.

Pembantaian King David di  tahun 1946, Pembantaian Baldat Al-Shaikh pada tahun1947,  Pembantaian Yehida, Pembantaian Khisas, Pembantaian Qazaza,  Pembantaian Hotel Semirami, Pembantaian di Qibya, Pembantaian  Kafr Qasem, Pembantaian Qana,dan lainnya telah membunuh ratus  ribuan warga. Tidak peduli ia wanita, anak- anak atau orang tua.  Mereka beringas seperti serigala yang selalu kelaparan. Hati  Malkah perih, teringat saat ia menyaksikan sendiri ibu dan ayahnya  dibantai di depan matanya pada pembantaian Qana tahun 1996.

Ketika itu umur Malkah masih delapan tahun. Tentara Israel  mematahkan leher ayahnya dengan tongkat dan menembaki  ibunya. Sementara Malkah dibawa lari oleh kakeknya sehingga  jiwanya terselamatkan. Namun pembunuhan terhadap  orangtuanya itu selalu menjadi mimpi buruk baginya yang  membuat ia murung sepanjang hari. “ Minum! “ tentara yahudi itu menempelkan mulut gelas ke  bibr Malkah. Aroma air seni yang busuk membuat Malkah mual. Ia  ingin menepis gelas itu, namun tangan dan kedua kaki Malkah yang  diborgol membuatnya tidak dapat berkutik. “ Ayo minum “ ! tentara iasrel itu memaksakan air seninya  yang telah ditampung dalam gelas masuk ke dalam mulut Malkah. “ Fuuh !“ Malkah meludahkan air seni yang masuk ke  mulutnya hingga mengenai muka tentara Israel tersebut. “ Kurang Ajar! Kubunuh kau ? “ seru tentara itu dengan  nada penuh amarah. Malkah menatap tentara itu dengan mata berapi- api. “ Bunuhlah aku! Aku tidak takut mati ! kematian lebih  baik bagiku daripada hidup dalam bulan- bulanan kalian hai  orang- orang yang terlaknat “ ! Malkah tidak gentar mendengar  ancaman tentara itu. “Bangsat ! “  si tentara  menendang perut Malkah lalu  pergi keluar sel, menutup pintu sel dengan bunyi yang sangat  keras memekakkan telinga. Malkah memejamkan mata menahan sakit dan perih  yang ia rasakan pada perutnya.  “ Allahu Akbar…” lirihnya dan sel itupun berubah gelap.

***

Malam itu Malkah Qafishah merasakan bahwa waktunya  melahirkan sudah tiba. Air ketuban telah menetes. Wajahnya  pucat menahan sakit. Malkah berteriak memanggil- manggil  tentara Israel agar segera membawanya ke rumah sakit. Awalnya  mereka tidak peduli. Malkah memohon seraya menjelaskan siapa  bayi itu sesungguhnya. Tentara Israel itupun membawa Malkah  ke rumah sakit  dengan pengawasan ketat. Mungkin ia boleh  sedikit bersyukur mendapat kesempatan melahirkan di rumah  sakit, sebab banyak rekannya yang dilarang oleh tentara Yahudi  mendapat pertolongan medis saat persalinan hingga bayi- bayi  mereka meninggal. Malkah melakukan proses persalinan dengan tangan  tetap terikat. Tak berapa lama kemudian lahir seorang bayi laki-  laki dengan selamat. Dalam keadaan yang sangat lemah itu  Malkah teringat kejadian- kejadian yang menimpanya selama di  penjara. Termasuk perihal bayinya itu hingga membuatnya tak  ingin menatap sang bayi. Namun naluri keibuannya tidak sanggup  menahan rasa cinta terhadap sesosok makhluk mungil yang  keluar dari rahimnya iru. Perasaan Malkah hancur. Didekapnya  bayi mungil itu denga penuh kasih. Cinta telah menghabiskan  segala dendamnya.

***

“ Ummi, dimana Abi? Apakah Abi dibunuh oleh tentara  Israel yang kejam itu? katakanlah Ummi…jika benar, aku akan  membalas perbuatan mereka. Aku akan membunuh Yahudi yang  terkutuk itu” Malkah menatap Hasan dengan mata berkaca- kaca. Bayi  merah yang ia lahirkan sepuluh tahun lalu itu sekarang semakin  cerdas. Ia selalu menanyakan asal- usul ayahnya.  “ Ummi…kenapa Ummi menangis? Apakah Abi masih  hidup, Ummi? Hasan ingin bertemu dengan Abi. Hasan ingin  melihat wajah Abi walau hanya sekali…” Malkah memeluk Hasan. Ia sangat menyayangi putra  satu- satunya itu. “ Ummi, apakah Abi dibunuh oleh tentara Israel itu  seperti abi teman- teman Hasan? “ Malkah masih diam. Ia mencoba menguasai perasaanya. “ Nak…” Malkah menatap Hasan dengan penuh  kelembutan. “ Jujurlah Ummi…Hasan sudah besar. Hasan berhak tahu  siapa Abi Hasan.  “

“ Anakku…Abimu adalah tentara Israel itu “ Hasan kaget mendengar penuturan Malkah, ibunya. “ Tidak mungkin, Ummi…tidak mungkin Abi Hasan orang  jahat itu. Ummi hanya bercanda kan? “ Malkah menangis. Hasan menghaspus air mata Malkah  dengan jari- jarinya yang mungil. “ Ummi…kenapa Ummi menangis? Maafkan Hasan kalau  kata- kata Hasan membuat Ummi sedih…Ummi jangan  menangis…” Malkah menggenggam jari- jari Hasan yang menyentuh  air matanya lalu menciumnya dengan penuh kasih. “ Nak, mungkin sudah saatnya kamu tahu. Dulu Ummi  dipenjara dengan tuduhan akan melakukan bom bunuh diri.  Disana Ummi disiksa dengan amat kejam. Tak hanya siksaan fisik,  nak…Ummi diperkosa oleh tentara Israel itu. Hingga akhirnya  Ummi hamil dan melahirkan engkau. Ayahmu adalah tentara  yang memperkosa Ummi, nak  “

“ Ummi…jadi aku adalah anak tentara Yahudi yang jahat  itu, Ummi? “ Malkah diam. Seharusnya bocah sekecil itu tidak perlu  tahu apa sebenarnya yang telah menimpa dirinya.  Hasan memeluk Malkah semakin erat. “ Kenapa Ummi mau merawat dan membesarkan bayi dari musuh Ummi sendiri? “ Malkah tersentak. Ia tidak menyangka Hasan akan  berkata seperti itu. “ Nak, jangan bertanya seperti itu. Kamu adalah  amanah Allah yang harus Ummi jaga. Itu adalah kewajiban  Ummi sebagai seorang ibu. “

“ Tapi Hasan adalah anak Israel yang telah  memperkosa Ummi. Anak musuh kita. Anak musuh agama  dan bangsa kita. Anak orang yang telah membunuh banyak  saudara kita.  “

“ Kamu tidak salah apa- apa nak. Kamu adalah anak  Ummi yang baik “

“ Terima kasih Ummi. Hasan janji akan membela  Ummi. Membela bangsa dan agama kita “

***

Tentara Israel kembali melakukan penyerangan.  Mereka membom rumah- rumah dan tempat ibadah. Mereka  menembaki dan membunuh warga sipil. Mereka beringas lagi.  Para serigala itu haus darah lagi. Pada malam yang mencekam itu Hasan selalu  berlindung di balik dekapan ibunya. Ia mendengar jelas suara  bom dan tembakan. Ia melihat kepulan asap di langit kotanya.  Sementara Malkah tidak melepaskan pelukannya pada Hasan.  Ia tahu anaknya itu sedang berada dalam ketakutan. Ia akan  melindunginya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Pintu rumah Malkah didobrak. Dua orang tentara  Israel berada di depan mukanya dengan menghadangkan  senjata. Hasan ketakutan. Ia bersembunyi di belakang  Malkah. Wajah Malkah pucat. Ia tahu maut sebentar lagi akan  menjemputnya. Entahlah, tanpa dosa apa- apa Yahudi itu  mulai membidikkan senjata, bersiap- siap membunuh  Malkah. “ Terkutuk kalian! Jangan bunuh Ummiku ! “  Hasan  maju dari balik tubuh Malkah. Ia berseru sambil  melemparkan batu- batu kecil ke wajah dua tentara Israel itu. “ Pergi kalian! Jangan ganggu Ummiku…” Hasan terus  melempari mereka. Rupanya ia telah lama menyediakan batu-  batu untuk menyerang tentara Israel.  “ Hasan, jangan nak…kembali kesini dekat  Ummi..mereka bisa membunuhmu  “

“ Jangan takut, Ummi…aku akan membela Ummi…” Tentara itu jadi kelimpungan menghadapi serangan  Hasan. Batu- batu Hasan mengenai mata mereka sehingga  membuat mereka kepayahan. “ Kurang ajar kau bocah kecil! Mati kau ! “ seru salah  seorang tentara lalu melemparkan timah panas ke tubuh  Hasan. Sebuah peluru menembus dada Hasan. Darah  bercucuran. Tubuh kecil itu ambruk seketika. “ Hasan…anakku…” Malkah segera menghamburkan  diri pada Hasan. Lantas ia memeluk tubuh putranya yang  talah berlumuran darah. “ Ummi…jangan menangis. “

“Iya nak…jangan tinggalkan Ummi, nak… “

“ Iklhlaskan kepegian Hasan menghadap Allah. Hasan  ingin melindungi Ummi dari kekejaman mereka. Hasan tidak  rela mereka menyakiti Ummi lagi.  “

“ Ummi mencintaimu, anakku…” Ummi…apakah Allah mau memasukkan anak seorang  tentara israel yang jahat ke surga ? Malkah tidak dapat membendung air matanya. “ Anakku, percayalah, Allah akan memberikan pahala  syahid untukmu. Engkau telah membela Ummi dan telah  memerangi Yahudi laknatullah. Engkau akan mencium bau  surga, anakku…” Setelah itu Malkah tidak lagi merasakan desah nafas  dan detak jantung Hasan.[] ***

Dua cangkir kopi bagian 2

Majalahdrise.com – Nuri, satu nama yang selalu hinggap bertahun-tahun di masa kecilnya, serta satu nama yang selalu terlupa bertahun-tahun sekarang.Thoriq sering bertabrak pandang dengan gadis itu, hanya saling memberi seutas senyum, berlalu, tanpa ada sepatah-katapun mengucur dari mulut. Gadis berambut cepak,yang selalu mengenakan baju terfavorit kaos bergambar batman, bersama merayap naik ke atap rumah.

Segera Thoriq mengambil buku catatan, lembaran yang kosong, merobeknya, meremas hingga membentuk seperti bola. Bidikan tajam.. Pluk!

“Yes, kena!”

Kaca jendela itu terbentur bola kertas yang besar, menyisakan bunyi berdebam. Siluet perempuan hadir, berdiri tegak, dalam kaca jendela dengan cahaya yang temaram. Jendela itu membuka. Wajah Nuri melongok.

“Hai, Nur. Lama nggak jumpa. Lama nggak ngobrol. Kamu bisa keluar sebentar, nggak? Ke depan pagar rumahmu.” Sapa Thoriq agak kikuk.

Nuri mengangguk.

Gadis cilik itu sudah besar. Tak terlihat lagi rambut cepak, terbalut jilbab yang menjulur sampai ke perut. Tak ada lagi kaos bergambar batman, terganti jaket tebal dan rok panjang sampai ke tumit, serta kaos kaki.Mata Nuri menatap ke jalan, sepi. Sedang Thoriq tak berani menatap pada gadis yang duduk mematung berjarak tiga meter dari tempat ia duduk matanya terbang ke langit. Hembusan napasnya bergelung-gelung, lautan bintang yang indah.

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang..”2Thoriq berucap lirih, kagum.

Nuri melakukan hal yang sama, menatap dan berucap ke arah langit. “Dan hari yang dijanjikan.”3

Thoriq tersenyum, menyambung potongan-potongan ayat yang indah. “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan..”4

“Subhanallah,” Komentar Nuri. Mata indah itu berkaca-kaca.

“Baru pertama kali lihat?” Tanya Thoriq mengusap tengkuknya yang sakit, karena terlalu lama menataplangit.

“Iya. Antum?” Nuri melempar balik tanya.

“Sama sih. Oh iya, mau kopi?” Thoriq mengangkat dua cangkir kopi, yang dibawanya dari dapur.

“Boleh..,” Nuri mengambil secangkir, memegang telinga cangkir berwarna putih tulang. “.., jadi.. Bagaimana kabar antum?Rekan panjat atap dan lompat jendela kamar?” Tanyanya mengulum tawa.

Thoriq tertawa, menegak kopi. “Alhamdulillah, baik. Lebih baik. Masa-masa jahiliyah udah lewat, Ukhti.” Ia menatap lautan bintang, “Walaupun kemiskinan ilmu terus-terusan ada.”

“Ana suka liat teman seperti ini, kok. Ciyee.. Sekarang lebih alim, ya?” Ejek Nuri, juga menegak kopi. “Ana sering lihat antum berjamaah di mesjid. Bener-bener sholat ‘kan? Nggak jadi agen nyolong sendal?”

Thoriq membelalakkan mata, “Oi! Jangan su’udzon! Tapi.. Kok anti tau? Hahaha.. Pengalaman jangan dibagi, dong!”

“Hihi. Seneng deh, kumpul-kumpul lagi.” Kata Nuri membuang pandang. “Sayangnya, kita nggak bisa sedekat dulu.”

“He-eh. Serasa reunian, walaupun rumah kita berdekatan dan sering ketemu. Cuma nggak ngobrol, lima tahun..”

Bintang berkedip samar, tak tampak. Semilir angin mendesah lirih.

“Iya, ya. Lima tahun..” Nuri mencoba mengulang kata-kata. Menancapkannya dalam hati. Lima tahun? Selama itu nggak ngobrol sama sahabat yang udah sama-sama dari lahir..

“Ana juga suka liat Nuri si rambut cepakdan kaos gambar batman berubah jadi seorang akhwat yang rapi menutup aurat.Keep istiqomah, yaa..”

“Doakan terus aja. Antum juga. Tetap istiqomah berjamaah di mesjid. Pahala dua puluh tujuh derajat, lumayan menambah amal di timbangan sewaktu di yaumi mizan..”

“Na’am, Kakak Ketua Akhwat..” Thoriq memberi hormat seperti seorang jenderal.

Nuri tertawa, “Siiiip deh, Kakak Ketua Umum..”

Mereka tertawa bersama.

“Apa kabar, ya? Langit sore yang dulu sering kita pandangin sama-sama. Liat matahari terbenam, terus buru-buru turun pake kesandung dan lompat ke tangga di dapur anticepat-cepat mengambil wudhu, dan lomba lari sampai ke mesjid buat sholat maghrib..” Celetuk Thoriq, setelah jeda diam sehabis tawa.

“Antum lupa? Genteng ana sering di ganti, karena kita yang jingkrak-jingkrak di atap rumah.” Kata Nuri membayangkan gentengnya yang kebanyakan penyok dan jadi bocor.

Thoriq terkekeh. “Yah, curhat lagi doi. Hmm, udah dulu, ya. Bentar lagi shubuh. Cuma kita berdua, nanti ketiganya?–”

“–Setaannnnnn!!!”

Langkah mereka berhamburan, berlari ke halaman rumah masing-masing. Di depan pintu, mereka saling pandang dari kejauhan, dalam remang-remang lampu jalan.

“Jangan lupa qiyamul lail-nya.” Nuri mengingatkan, yang disambut dengan dua jempol dari Thoriq.

Mereka masuk ke dalam rumah, dengan dada yang berdebar.

“Dia makin sholehah.” Ucap Thoriq, memegang jantungnya yang berdetak lebih laju.

“Ngapain, Bro? Jam segini diluar.” TanyaBang Umar, mata tajam itu tak lepas dari televisi.

“Nyari angin segar aja, Bang.” Jawab Thoriq.

“Kakak nyari angin? Aku mau kentut, nih. Mau? Nggak usah lagi nyari anginnya diluar.” Suara cempreng si bungsu Jamal langsung dibekap mulut mungil itu oleh Abi.

“Dia makin sholeh.” Tutur Nuri menggelar sajadah. Sedang dengkuran dua adik dan dua orang tuanya mengiringinya untuk memilinkan doa ke atas langit.

Keran terbuka, air deras mengalir. Sealiran dengan air yang berdesir di dadanya, Thoriq tertegun sejenak. Meluruskan niat, pembuktian cinta seorang hamba. Bukan karena satu akhwat yang membuat dada berdebar mengingatkannya sepuluh menit lalu. Aliran air keran menyentuh lantai keramik, melompat-melompat berkecipak. Thoriq mulai berwudhu.

Teriakan keras mengguncang rumah itu: “GOL!!!!!”

Dua cangkir kopi itu terlupa, masih tergeletak sunyi di pinggir jalan. Isi yang tandas.Berampas hitam. Warna seputih tulang. Angin malam membuat dua cangkir kopi berembun, seperti embun yang menyatu dengan bola mata Nuri. (*)

Keterangan:

1:Al-Insaan ayat 26

2-4: Al-Buruj 1-3

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Dua cangkir kopi

By: Qatrunnada Hulwah

Kepada malam,

Aku tak mampu berkata banyak,

Mengapa dunia tak mau terlelap?

Aku ingin mengintip mimpi,

Namun bunga tak mau mengajak,

Bersikeras tetap mekar di luar kepala,

Mengapa mata tak bisa berhenti menatap?

Rembulan telah enggan,

Menyuapkan dongeng sebelum kantuk,

Bintang-gemintang telah menggeleng,

Menyanyikan syair sebelum dengkur,

 

(Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.)1

 

Asap obat nyamuk membumbung di udara, mencolek cuping hidung hinga terbatuk-batuk. Thoriq meletakkan secangkir kopi hangat di depan buku-buku belajarnya, ia menggaruk kepalanya gusar. Ingin tidur lagi tapi tidak bisa. Ia merindukan tidurnya tiga jam yang lalu. Dengung nyamuk yang menyebalkan. Suhu kamar yang begitu panas. Dan, yang paling meresahkan; suara ribut di ruang tengah. Ekor matanya melirik jam dinding, pukul 02.00 dini hari. Ia menghela napas. Gara-gara sepak bola dengan copa del rey, seisi rumah kecuali dirinya nongkrong di depan teveuntuk begadang.

Thoriq tersenyum kecut, ia tak suka dan tak ingin pura-pura suka bola. Trauma masa lalu. Beni kecil berpakaian merah putih, menendang benda bundar menampar telak pipinya. Keras. Riuh-rendah sorakan teman-teman. Thoriq kecil malu, tak bergerak. Air matanya menetes, dan tangisan adalah suatu aib bagi kaum adam. Itu kenangan paling buruk dalam hidupnya.

Pikirannya mencelat sampai kemana-mana. Tiga cangkir kopi yang telah tandas isinya, tertata rapi di meja belajarnya. Detak jam dinding bergemuruh lirih. Tentang Bu Hanum yang mengomelinya karena tugas dikumpul terlambat, tentang motornya yang manja minta didorong karena mogok, tentang mentoring bersama ikhwan-ikhwan yang membuatnya terus-terusan minder.

Minder? Sejak kapan perasaan itu mengungkung dirinya, serta hatinya? Pertama kali langkahnya menginjak teras mushola, bergabung dengan lingkaran para ikhwan untuk membahas semua aspek keislaman, maka saat itu ia mengambil keputusan yang cukup besar. Meninggalkan semua kesalahannya di masa putih-biru. Mana ada ikhwan suka balapan liar? Mana ada ikhwan suka ngegodain cewek-cewek seksi? Mana ada ikhwan sukagame daripada al-qur’an? Ia tercengang, suatu hari menjadi seorang ketua pelaksana sebuah seminar yang diadakan oleh Kelompok Studi Islam di sekolahnya. Mendapati dalam bayang cermin, bahwa kini ia sudah, (ehem) agak sedikit alim. Perubahan yang lumayan besar. Minder dan semangat belajar tertohok, ketika didapatinya ikhwan-ikhwan yang luar biasa dalam lingkaran taman syurga di mushola sekolah. Ada Fariz yang adzan dan tilawahnya merdu. Ada Fuad yang menyampaikan materi seperti seorang kyai yang menggebu-gebu dakwahnya. Ada Furqon yang tak pernah ketinggalan shaum senin-kamis, waktu tahajjud, waktu dhuha, dan dzikir petang-sore. Ada Rachmad yang gadhul basharnya top markotop. Dan, Thoriq.. Seorang ikhwan yang selalu dibakar semangatnya oleh Kakak murobbi mereka. Ia yang terbata-bata membaca al-qur’an, ia yang masih grogi dan tidak jelas menyampaikan materi, ia yang sering batal shaum sunnah, ia yang sering ketiduran waktu tahajjud, ia yang lebih memilih nongkrong di kantin daripada waktu dhuha di mushola, ia yang hobi main Clash of clans daripada dzikir pagi-petang, ia punya manik-manik mata yang suka curi-curi pandang kepada akhwat..

Thoriq terhenyak, tangan kanannya meraih secangkir kopi, lagi. Soal-soal fisika menantinya, mencengkeram erat bola matanya, menyakitkan kepala! Ia menyandarkan punggung di bangku, tubuhnya merosot, tatapan matanya terpaku pada gorden jendela. Angin malam beringsut masuk, hingga gorden jendela itu terbuka. Thoriq menyingkap gorden jendela. Dadanya sedikit bergetar, terguncang pelan. Dilihatnya sebuah jendela, ingatannya memantul dalam kenangan. Terayun-ayun, menggantung di pelupuk matanya.

Jendela.. Merah muda. Berjarak sepuluh meter dari jendela kamarnya. Cahaya temaram berpendar di kaca jendela kamar itu.Kenangan itu memantul-mantul dalam otaknya, menggantung dalam ingatan yang mendekam sudah lama. Jendela yang sering ia masuki di siang hari, anak nakal. Jendela yang sering ia tengok, sepulang sekolah. Bersama gadis cilik berambut cepak, memakai baju terfavorit kaos bergambar batman. Jendela yang digunakan sebagai jalan pintas, menuju tangga, merayap ke atap rumah.Berdua menatap langit sore, berceloteh menukar cerita, dan mengucapkan kalimat-kalimat harapan yang berakhir dengan kata “aamiin“.

Kenangan itu merangkak, mengerak di masing-masing kepala. Waktu terus bergerak. Langit sore yang semakin jingga, pertukaran cerita yang semakin meremaja, dan harapan-harapan yang sudah tak ingin diungkapkan lagi. Cukup di simpan dalam sudut hati. Rapat-rapat. Sampai salah satu dari mereka berhenti melompati jendela, berhenti merayap ke atap rumah, berhenti bersama. Masa putih-biru yang berbeda, memaksa mereka berpisah.Lama-kelamaan, kenangan masa kecil itu hilang. Seolah hanya bayangan mimpi saat mata terpejam sebentar. Indah.. Namun, hei, kita hidup tidak melulu di masa lalu, ‘kan?

besambung…..

di muat di majalah remaja islam Drise edisi 48

Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2

MajalahDrise.com – Pagi ini Rahmat sedang menonton tv sambil meminum susu di cangkir kecilnya sedang sang Ayah menggoreng keripik keripik yang nantinya akan di jual. Sebenarnya Rahmat sangat ingin membantu Ayahnya itu namun Ayahnya selalu melarangnya karena takut nanti Rahmat terkena pecikan minyak.

“Rahmat di atas meja makan ada rantang putih, tolong antarkan ke kakek Udin ya, kamu masih ingatkan rumah kakek di mana” teriak Ayah Rahmat dari dapur.

Tanpa aba aba lagi Rahmat langsung pergi, dia sangat semangat menerima perintah tesebut. Walaupun untuk membawa rantang itu dia sedikit keberatan tapi dia tidak merasa terbebani. Namun dalam perjaanan itu dia melihat ada seorang pengemis yang sudah tua terduduk dengan tangan memengangi perut Rahmat penasaran dengan nenek itu.

“ Nek, nenek kenapa? Kok nenek duduk disini sendirian?”

“Nenek tidak punya rumah dan perut nenek lapar sekali dari kemaren nenek belum makan” jawab nenek itu lirih menahan lapar.

Rahmat bingung harus bebuat apa, dia sama sekali tidak membawa uang, jika dia memberikan rantang yang berisi makanan ini kepada nenek lalu bagai mana dengan kakaek Udin mungkin saja beliau juga kelaparan. Tapi dia membuang semua pertanyaan yang membuatnya ragu tadi dan memberikan makanan itu pada nenek.

“Ini untuk nenek”

Nenek itu makan dengan lahapnya sampai kekenyangan dan tak lupa beliau mengucap kan terima kasih. Rahmat tersenyum bahagia karena bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan tapi bagai mana jika Ayah tahu kalau maknan itu tidak di antar ke rumah kakek Udin, bisa bisa Ayah marah. Namun Rahmat mendapatkan sebuah ide.

Diam-diam Rahmat masuk ke dalam rumah dan memecahkan tabungan berbentuk ayam miliknya. Namun, suara pecahan tabungan itu sampai ke dapur dan membuat Ayah Rahmat panik.

“Rahmat ada apa? Rahmat!” dengan tergesa beliau lari menuju kamar Rahmat

“Ayah!” Rahmat menunduk dan ketakutan dia merasa benar-benar bersalah telah melakukan ini.

“Lho kok tabungan kamu dipecah?” Ayah Rahmat bingung, kenapa tabungan yang sangat disayangi Rahmat tiba tiba bisa pecah seperti itu.

“Anu…”

“Apa?” mendekati Rahmat.

“Itu Ayah….”

“Itu apa?”

“Ayah, Rahmat minta maaf karena makanan tadi tidak Rahmat antar ke kakek Udin.”

“Lalu kamu kasih ke siapa?”

“Ada nenek yang kelaparan di pinggir jalan, Rahmat kasihan dengan nenek itu Ayah. Jadi makanan itu Rahmat berikan ke nenek itu. Maafin Rahmat ya Ayah. Rahmat tidak akan melakukan hal itu lagi”

“Lho kok gitu. Apa yang kamu lakukan itu baik. Justru Ayah senang kamu memberikan makanan itu kepada nenek yang kamu temui di pinggir jalan tadi. Lalu kenapa kamu memecahkan tabungan kamu bukannya kamu sayang sekali dengan tabungan ini”

“Rahmat ingin mengganti dan membelikan makanan untuk kakek Udin jadi Rahmat memecahkan tabungannya. Ayah tidak marah kan?”

Ayah Rahmat mengambil uang yang berhamburan di lantai “kamu tidak perlu menggantinya dengan uang kamu. Di dapur nasi dan lauk masih banyak jadi kita bisa mengantar dan memberi kakek Udin. Ayah sudah selesai menggoreng keripik jadi kita bisa mengantar makanan itu bersama sama!”

“Benar Ayah?”

“Iya”

********************

21 tahun sudah kejadian itu berlalu namun memorinya masih tersimpan jelas. Usaha keripik singkong milik Ayahnya itu berkembang dengan pesat. Namun tak lama setelah Rahmat menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah, Ayahnya meninggal. Walaupun beliau sudah tiada, kebaikanya masih tersimpan dalam diri Rahmat dan akan diteruskan oleh anaknya itu. Cita cita kecilnya itu tidak terwujud namun tak perlu menjadi seorang pemimpin besar untuk bisa saling berbagi. Baginya menjadi seorang pemimpin untuk dirinya sendiripun sudah cukup dan yang terpenting adalah saling berbagi. Setiap dua minggu sekali dia mendatangi panti asuhan untuk berbagi apa saja yang dapat dia berikan terkadang uang atau hiburan untuk anak anak yang merindukan kasih sayang dari orang tuanya. Dia ingin anak-anak lain juga merasakan kasih sayang yang telah ayahnya berikan kepadanya.[]

di muat di Majalah remaja Islam drise Edisi 45