Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah Episode 12

drise-online.com – Persaudaraan terasa amat indah dan hangat. Persaudaraan itu menembus sekat-sekat darah dan bangsa yang telah membuat manusia jadi sedemikian egois dan kerdil. Padahal tak ada seorang pun yang bisa memilih darah dan bangsanya. Islam telah menghapuskan persaudaraan hanya karena darah dan bangsa itu, menjadi persaudaraan karena aqidah, karena keyakinan. Siapa pun orangnya, yang mengakui bahwa tak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidupnya, dan menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai suriteladannya, maka dia adalah saudara. Saudara yang wajib dibantu jika dia sedang berada dalam kesulitan, dan harta serta jiwanya wajib dijaga.

“Mutsana dan Jabal, saudaraku,” Khalifah Abu Bakar Shiddiq berseri-seri menyambut Mutsana dan Jabal. Dia rentangkan kedua belah tangannya untuk memeluk kedua saudara seimannya itu. “Subhanallah walhamdulillah kalian tiba dengan selamat. Semoga Allah selalu melindungi kalian.”

“Barakallahu lakum,” kata Umar bin Khathab, wajahnya berseri-seri.

Mereka saling berpelukan dan berjabat tangan. Itulah hal amat berharga yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, jika seorang muslim bertemu saudaranya, kemudian saling berjabat tangan, maka dosa-dosanya berguguran di bawah tangan yang sedang berjabat itu.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana. “Tadi baru saja kami dari rumah Khalifah, tapi ternyata Khalifah sedang keluar.”

“Seperti biasa, pemeriksaan rutin,” sahut Abu Bakar. Terlihat gurat-gurat kelelahan terpahat di wajah Khalifah Abu Bakar. Malam itu dia mengenakan sorban putih dan mantel putih. Sebatang tongkat menjadi penopang badannya yang telah tua, namun hal itu tak mengurangi wibawanya. Ketenangan dan kebijaksanaan terpancar dari wajahnya, tubuhnya yang kurus tersamarkan oleh pakaiannya yang tebal.

“Kalian pasti lelah, lebih baik kita masuk ke dalam masjid,” Umar mengajak mereka semua.

Seorang penjaga masjid bernama Aswan datang menyambut mereka. Dialah yang mengurus unta-unta para tamu itu. Dia pulalah yang melayani kebutuhan orang-orang yang menginap di shuffah.

Abu Bakar, Umar, Mutsana, dan Jabal, duduk di bagian dalam masjid Nabawi. Di hadapan mereka telah terhidang makanan dan minuman yang disiapkan oleh Aswan. Dalam limpahan rahmat Allah mereka makan bersama di tengah keheningan malam itu. Jabal terlihat lahap sekali seolah-olah tidak makan selama bertahun-tahun. Selesai makan, Aswan datang kembali untuk merapikan gelas-gelas dan piring-piring.

“Alhamdulillah, aku bahagia sekali menyambut kedatangan kalian,” kata Abu Bakar. “Syukurlah kalian bisa tiba kembali di sini dengan selamat.”

“Alhamdulillah! Setiap misi pasti memiliki risiko dan bahaya tertentu,” tambah Umar. “Kepulangan kalian memang sudah sepatutnya disambut baik dan disyukuri terlepas bagaimana hasilnya.”

“Terima kasih banyak telah mendoakan kami. Kami berhasil menjalankan misi, dan kami telah berhasil melaksanakan seluruh amanah dari Khalifah,” kata Mutsana, dia tersenyum lebar karena melaporkan sesuatu yang baik.

“Walau pun sebenarnya hampir saja kami gagal,” timpal Jabal. “Prajurit Persia dan hampir seisi pasar Ubullah mengejar kami. Kalau bukan karena pertolongan Allah dan kesigapan dari orang-orang kita di Ubullah, pastilah kami sudah mendekam di penjara Persia menunggu eksekusi.”

“Wahai Jabal, sudahlah, yang buruk jangan diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kita sudah tiba di Madinah dengan selamat,” kata Mutsana.

“Tak apa-apa, Mutsana, ceritakanlah seluruh proses pelaksanaan misi, jangan hanya ceritakan yang enak-enak saja,” Umar menepuk bahu Mutsana.

“Benar, hal buruk pun sebenarnya penting untuk kita jadikan pelajaran,” Abu Bakar menambahkan.

“Jika Khalifah menambahkan satu hal saja tentang ciri-ciri Aswad, bahwa dia bertubuh kurus, mungkin apa yang terjadi akan sangat berbeda,” Jabal bercerita dengan menggebu-gebu sebagaimana biasa. “Karena ternyata di pasar Ubullah ada seorang pedagang kain yang kondisi wajahnya mirip dengan wajah Aswad, hanya saja tubuh orang itu gemuk. Ditambah lagi seorang anak kecil menipu kami dengan menunjukkan bahwa orang yang gemuk itu adalah Aswad, jadilah kami datang kepada orang yang salah. Tiba-tiba orang itu meneriaki kami sebagai muslim, kami pun dikejar-kejar.”

“Ternyata orang itu adalah saingan bisnis Aswad dan amat membencinya. Dia juga sudah curiga bahwa Aswad adalah muslim, sehingga dia meneriaki kami sebagai muslim karena sedang mencari Aswad,” akhirnya Mutsana ikut bercerita.

“Tapi Alhamdulillah, Aswad dan timnya dengan sigap bergerak dan berhasil menolong kami,” kata Jabal. “Mereka telah berhasil membangun fasilitas rahasia di kota Ubullah yang terdiri dari terowongan-terowongan dan jalan-jalan masuk rahasia yang akan memudahkan kita masuk ke kota itu dan menaklukkannya.”

“Kami juga telah menyerahkan surat kecil amanah dari Khalifah, langsung kepada Aswad, dan Aswad sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakannya,” kata Mutsana.

“Subhanallah walhamdulillah,” Abu Bakar mengembuskan napasnya sambil tersenyum. “Semoga Allah memberikan balasan yang banyak kepada kalian atas semua yang telah kalian lakukan.”

“Keberhasilan kalian adalah kemajuan besar bagi futuhat yang akan kita lancarkan kepada Persia,” kata Umar. “Mengetahui kekuatan musuh dan mengetahui kekuatan kita sendiri adalah salah satu jalan menuju kemenangan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meraih kemenangan itu.”

Umar bin Khathab mengenakan sorban hijau. Matanya tajam, setajam elang, dan kegigihan serta keteguhannya mengguncangkan singgasana setan, sampai-sampai tak satu setan pun berani dekat-dekat dengan Umar. Tubuhnya masih tegap dan atletis walau usianya telah cukup lanjut. Di tengah-tengah pemerintahan Khilafah Islamiyah yang sedang tumbuh itu, dia menjadi orang penting kedua setelah Khalifah Abu Bakar. Dia menduduki jabatan sebagai Mu’awin Tanfidz, wakil Khalifah untuk urusan pemerintahan.

“Aku ada bersama Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika beliau memberikan perintah rahasia itu kepada Aswad,” Abu Bakar berkisah. “Ketika aku bertemu dengannya lagi, dia mengatakan bahwa tidaklah sulit untuk menemukannya di pasar Ubullah. Tanya saja kepada sembarang orang di pasar itu tentang siapa pedagang kain yang wajahnya paling buruk, semua orang akan langsung menunjuk kepadanya. Karena itulah aku memberikan satu-satunya ciri itu kepada kalian. Ternyata ada seorang lagi yang wajahnya seperti Aswad dan aku tidak tahu sama sekali.”

“Sebenarnya kalau kami bertanya kepada orang yang tepat mungkin kejadiannya akan lain, Khalifah,” kata Mutsana. “Kami bertanya kepada seorang anak kecil, dan anak kecil itu menipu kami, dengan gegabah kami langsung saja mengikuti informasi palsu dari anak kecil itu. Kamilah yang kurang cermat dan kurang teliti. Semoga di kemudian hari tidak terjadi lagi, insya Allah.”

“Apa pun yang terjadi, semua itu adalah kehendak Allah. Kita semua telah berusaha keras untuk meraih hasil yang kita harapkan, tapi apapun yang terjadi tetaplah kehendak Allah. Yang harus kita lakukan hanya bersabar dan bersyukur. Sekarang Mutsana dan Jabal telah hadir di sini dengan sehat dan tak kurang suatu apapun, terlebih lagi kalian berhasil menjalankan misi, hal itulah yang harus kita syukuri.” Umar meneduhkan dengan suaranya yang berat dan berwibawa.

Mutsana membuka bungkusan tas kain yang ada di dekatnya, yang sedari tadi selalu dijaganya dengan ketat. Dia membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, sebuah tas kulit yang terlihat agak tebal.

“Khalifah, inilah yang diserahkan Aswad kepada kami, sebuah laporan lengkap tentang pelaksanaan misi,” katanya. “Sekarang kami sampaikan amanah ini kepada Khalifah.

“Subhanallah walhamdulillah, baiklah,” kata Abu Bakar. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia jika dikelilingi oleh orang-orang yang luarbiasa di tengah-tengah pemerintahannya! “Tentunya misi untuk kalian belum akan selesai, Mutsana, Jabal. Insya Allah besok aku akan jelaskan misi baru kalian. Kita akan segera lancarkan futuhat kepada Persia untuk mewujudkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah dahulu.”

“Tentunya kalian letih karena perjalanan jauh. Beristirahatlah, insya Allah Aswan akan mengurus semua keperluan kalian,” tambah Umar.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana….. [@sayfmuhammadisa]

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41

Finding Hikmah on Dakwah’s Trip

drise-online.com – Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor.

Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian.

“Umiiii, Mamsky hujan-hujanan tuuuuh!” teriak Dian, adik Imam yang berusia tujuh tahun, laporan pada Umi yang lagi sibuk menanggulangi titik-titik kebocoran di rumah. Menadahinya dengan baskom.

“Heh! Mamsky, Mamsky!” Imam melotot sambil mengigil di depan pintu. Sumpah! Imam sebel banget. Gara-gara adik perempuan satu-satunya itu keranjingan nonton GGS, Dian memanggilnya Mamsky. “Ambilin anduk!” perintahnya pada Dian.

“Dian, gera ambilin anduk buat Aa Imam,” ucap umi.

Dian manyun, kok Umi nggak marahin A Imam?Tapi, kalau udah Umi yang ngomong, terpaksa deh, nurut.Umi tersenyum simpul melihat tingkah anaknya.

***

Finding Hikmah on Dakwah Trip - drise-online.com

Pukul 13.30 WBR (Waktu Bogor Raya). Langit masih menurunkan berkahnya. Selesai membersihkan diri dan sholat Dzuhur, Imam menginvestigasi dapur. Hmm, dinginnya hujan di luar, paling pas dikombinasikan dengan mie instant rasa soto pake telor plus cabe. Dilanjutkan dengan sleepinghandsome bersama seperangkat alat tidur dibayar tuuunai. Eh ….

***

“Mam! Banguuun!”

“Siaga! Ada penyerangaan! Invasi ruang privaaat!” mendengar teriakan yang lumayan menyakitkan telinganya, Imam refleks berdiri memasang kuda-kuda. Mengira ada penyerangan sungguhan.

Buk!Imam tersuruk. Serangan tak terduga datang dari arah belakang. Hebatnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit–soalnya senjata yang digunakan cuma bantal guling kesayangannya-. Sedetik kemudian Imam menoleh untuk mencaritahu siapa pelaku penyerangan yang berani-beraninya mengganggu sleeping handsomenya ….

“Aduuuh Rif! Ngapain sih antum teriak-teriak! Nggak bisa pake cara halus banguninnya?!” Imam bersungut-sungut kesal begitu tahu pelakunya adalah Arif, teman sekelasnya, satu pengajian juga, dan yang Imam syukuriadalah mereka nggak tetanggaan. He ….

“Cara halus?! Asal antum tahu, ana udah dua puluh menit bangunin antum! Dari cara halus sampe yang sedikit nggak halus!” sahut Arif sebal.

Imam menguap, beranjak malas duduk di sebelah Arif. “Terus, antum ngapain ganggu tidur suci ana, heh?”

“Tidur suci? Tidur beruang yang kayak gitu mah!” sembur Arif, “antum lupa ya, sore ini kita kan ada rapat buat dauroh bulan depan. Makanya ana kesini, soalnya ana udah feeling antum bakalan lupa. Beneran kan feeling ana,” Arif menghentikan khotbahnya. Curiga. Ia segera menoleh ke sebelah.

“Yee, sare deui! Banguun!” Arif menyenggol lengan Imam. Membuat Imam akhirnya tersadar.

“Antum udah melakukan pelanggaran sore ini, menginvasi ruang privat ana tanpa izin,” Imam mengoceh. Antara sadar dan tidak sadar.

“Haha, mana ada invasi minta izin dulu!” Arif tertawa

“Ya udah, antum aja yang berangkat. Nanti hasilnya kasih tahu ana,” ucapnya lagi.

“Ana juga nggak berangkat kalo antum nggak berangkat,” gumam Arif sejurus kemudian berdehem. “Gimana? Nggak enak kan diinvasi? Saudara-saudara kita di Palestina lebih parah. Dari dulu sampe sekarang diinvasi sama Zionis Yahudi, ribuan nyawa syahid, tapi mereka lebih kuat dari kita. Keloyalan mereka pada Islam udah nggak perlu kita raguin lagi. Lha kita? Ngakunya sih pengemban dakwah …..”

“Pengemban dakwah juga manusia, Rif,” Imam buru-buru memotong kalimat Arif. Kalo nggak, satu jam lagi khotbahnya baru selesai.

Sahabatnya ini, memang paling bisa bikin Imam mati kutu. Imam tahulah maksud Arif. Masa kita yang keadaannya jauh lebih baik, ngaku sebagai pengemban dakwah, malah lalai sama amanah dan dakwah. Tapi, ia setuju dengan Arif. Jadi malu, barusan malas-malasan. Padahal merapatkan agenda dakwah kan juga penting. Ingat kata sahabat, kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.

Tanpa banyak omong, Imam beranjak mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Mau mandi, siap-siap sebelum Arif khotbah lagi.

***

Motor matic yang ditunggangi Imam dan Arif membelah jalan yang padat merayap serta bonus genangan air. Membuat ujung celana mereka, mau nggak mau, ikutan basah. Lagi asyik-asyiknya melaju, tiba-tiba Imam merasa ada yang nggak beres dengan motornya. Imam menepi.

“Kok berhenti, Mam?” Arif bertanya.

“Liatin ban belakang dong, Rif.”

Arif langsung melaksanakan intruksi Imam, melongok ban belakang. “Waaah, kempes, Mam! Bocor ini sih kayaknya!”

“Ya Allah …,” desis Imam.

Keduanya langsung celingukan cari-cari tukang tambal ban. Arif tersadar, “Di sini sih nggak ada tambal ban. Kayaknya di depan ada.”

Imam menghela napas, “ya udah, ana ke tambal ban dulu. Antum tunggu di sini, ya? Atau sambil jalan aja pelan-pelan. Sekalian telepon Ustadz, kita telat.”

“Ya udah, ana tunggu di sini,” Arif menyetujui.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali. “Eeh, kenapa lagi nih motor, kok nggak mau nyala?” Imam kebingungan berkali-kali men-starter motornya tapi nggak nyala-nyala.

“Ya Allah …,” desis Arif. “Bensinnya ada nggak?”

“Hehe, iya Rif, bensinnya udah di garis end,” Imam nyengir sambil garuk-garuk kepala.

“Astaghfirullah! Ini sih udah jatuh tertimpa tangga pula!” Arif menarik napas-sambil nahan emosi juga-, dasar Imam! Adaaa aja yang lupa.“Pom bensin juga masih di depaaan, Imam!”

Sabar. Sabar. Namanya juga manusia, punya kekurangan dan kelebihan. Gitu-gitu, Imam sahabatnya yang paling solid. Dengan motornya, Imam siap nganterin kemana aja. Gak itung-itungan, apalagi buat dakwah.

“Nah, berarti Allah lagi kasih kesempatan buat kita olahraga Masbro!”

“Olahraga, alesan wae!”

“Stay woles, Masbro!Ini tanda kalo Allah mencintai kita,” Imam masih nyengir. Santai menghadapi Arif yang napasnya udah kembang-kempis nahan emosi. “Innallaha ma’ashobirin …,” tambah Imam. Kalau tadi Arif sudah mengingatkan Imam, sekarang gantian Imam yang mengingatkan Arif.

Arif menghela napas. Ikut nyengir juga. That’s right, saat Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan mengujinya. Dan Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar. Hidup ini kan, emang buat diuji. Apa lagi mereka sedang dalam perjalanan untuk dakwah. Harus ekstra sabarnya. Dakwah memang butuh pengorbanan.

“Bismillaah …,” gumam keduanya.

Imam memimpin di posisi depan. Sementara Arif mendorong dari belakang.

“Semangaat! Allahuakbar!” seru Imam sambil mengangkat tangan kanannya.

“Mam, antum udah minum obat belum sih?”

“Udah, ana kan minum obat antum tadi,” sahut Imam, lagi-lagi dengan gayanya yang santai. “Ayo, Rif, semangaat! Allahu akbar!”

“Harus, ya, nyemangetinnya begitu?” Arif bergidik. Jadi khawatir beneran sama Imam.

***

Alhamdulillaah, dua puluh menit kemudian akhirnya Imam dan Arif menemukan solusi atas dua masalahnya. Allah mempertemukan mereka dengan pom bensin dan tukang tambal ban yang berdampingan. Saking semangatnya, habis ngisi bensin, mereka langsung lari ke tukang tambal ban. Eh, dasar Imam!Kok, yang lari orangnya aja? Motornya ….

“Assalamu’alaikum Ustadz…,” Imam mengucap salam. Sambil menunggu ban ditambal, Imam menelepon Ustadz. Mau ngabarin. “Iya Ustadz, afwan, kita lagi dapet bonus nih. Ban bocor, bensin habis // Oh, kitu? Alhamdulillaah // Ya, syukron, Tadz // Wa’alaikumsalam.”

“Antum kenapa? Jangan bikin ana khawatir dong, dari tadi nyengiir aja,” tanya Arif sambil merapatkan jaketnya. Menghalau dinginnya angin sore kota Bogor.

Imam malah nyengir lebar, “setelah kesulitan ada dua kemudahan. Janji Allah emang nggak pernah salah ya, Rif? Barusan Allah kasih kita pom bensin sama tukang tambal ban deketan. Sekarang, Allah mudahkan kita dengan agenda rapatnya diundur habis Maghrib. Jadi, kita nggak telat. Soalnya, yang lain juga kejebak macet.”

Arif mengerlingkan mata, “itu kata Ustadz?”

“Kata tukang bensin, tadi. Ya, kata Ustadz lah, Rif!”

“Alhamdulillaah …,” ucap Arif, “bener yang antum bilang. Janji Allah selalu benar. Setelah kesulitan ada dua kemudahan, semua umat Islam percaya sama janji Allah yang ini. Seharusnya, semua umat Islam juga percaya dengan janji kemenangan Islam. Kan, sama-sama janji Allah,” tambahnya.

“Jang, rebes bannya!” seru si Mamang tambal ban separuh baya.

“Alhamdulillah, baraha, Mang?” tanya Imam sambil merogoh sakunya.

“Tilu puluh ribu.”

“Hah?! Tilu puluh?!” Imam dan Arif shock mendengarnya. Nggak salah?!

“Hehehe, heureuy! Delapan rebu.”

Hh, Imam dan Arif menghembuskan napas lega. “Ah, si Mamang, seenaknya wae naikin harga. Untung teu jantungan urang,” ujar Imam sambil menyerahkan empat lembar uang dua ribuan.

“Ah, da’ pemerintah juga seenaknya naikin harga BBM,” sahut si Mamang, “nyesel euy, milih yang polkadot. Sama wae. Nggak mikirin rakyat kecil.”

Arif dan Imam mengerutkan dahi. Polkadot? Ari si Mamang milih naon?

“Emang nggak akan ada bedanya, Mang. Soalnya cuma beda orang aja, peraturan yang diterapin mah sama …,” Arif mencoba menjelaskan.

“Teuing. Sekarang mah, Mamang nggak mau mikirin pemerintah. Kajen jadi urusan orang-orang atas. Yang penting mah, Mamang masih bisa nyari makan buat anak-istri,” Mamang menyela tidak peduli.

Glek! Ini bukan pertama kalinya Imam dan Arif mendengar orang mengeluhkan pemerintah yang pada faktanya tidak juga pro rakyat. Mereka bosan dengan janji-janji manis sang penguasa yang manisnya kayak gulali. Sekali emut, langsung hilang.Parahnya, bukannya mencari solusi. Mereka malah memilih menjadi apatis. Cuek bebek dengan kondisi yang ada. Dan akhirnya bikin mereka jadi individualis. Cuma mikirin diri sendiri.

Ini dia pe-er besar para pengemban dakwah. Menyadarkan umat Islam tentang kebobrokan sistem yang ada, Kapitalisme beserta anak-cucunya (Demokrasi, Sekulerisme, dll). Dan menyadarkan mereka akan kewajiban untuk terikat pada ajaran Islam kaaffah. Menyeluruh. Nggak setengah-setengah. Yang hanya bisa diterapkan dengan Khilafah. Tapi, Karena yang akan kita ubah adalah umat. Jadi, pe-er besar ini nggak bisa kalau hanya dipikul per orang. Supaya bisa mengubahnya, kita harus bergabung bersama jamaah dakwah yang benar-benar memperjuangkan Islam kaaffah.

Imam dan Arif amat bersyukur telah menemukan kelompok tersebut.

“Muhun, Mang, pamit dulu. Besok kita mampir lagi, lanjutin ngobrolnya,” ujar Arif.

Berhubung sudah hampir setengah enam, mereka harus pamit. Agenda dakwah selanjutnya menunggu. Tak lupa mereka menyalami si Mamang. Tanpa banyak bicara, Imam segera memutar kunci. Ditariknya rem. Ditekannya strater. Dan, ngeeeng … kali ini tanpa hambatan.

***

Alhamdulillah. Dua puluh enam menit, lima belas detik kemudian Imam dan Arif sampai di rumah Ustadz, tempat rapat digelar. Yang lain juga sudah datang. Lengkap. Hanya satu orang yang tidak datang karena sakit.

Gimana tadi? Katanya kehabisan bensin? Bannya juga bocor? Bukannya telepon saya, biar saya dorongin pake kaki. Jadi, kalian gak usah dorong. Tiba-tiba Imam dan Arif dihujani pertanyaan. Karena perjalanan mereka yang paling dramatis di antara yang lain. Hampir-hampir mereka mau buat konferensi pers untuk mengklarifikasi.Tapi, berhubung adzan Maghrib sudah mengumandang. Mereka urungkan niat itu.

Usai shalat berjamaah, rapat pun dimulai.Adalah sekitar dua jam mereka duduk membuat lingkaran. Bertukar pikiran sambil sesekali diselingin gurauan. Saling memberi masukan. Hingga akhirnya didapati sebuah kesepakatan.

“Alhamdulillah, jadi sepakat ya, ikhwan fillah, dengan susunan acara dan panitia yang kita tentukan hari ini. Semoga Allah memudahkan urusan kita.Dan semoga nashrullah semakin dekat. Jazakumullah Khoiron Katsiran untuk antum semua yang sudah bersedia datang, meski dihadapi dengan berbagai hambatan.Kehadiran satu dari kalian adalah penguat bagi semua. Semoga itu menjadi tiket untuk kita masuk syurga ….”

Seketika suara, “amiiin,” terucap dari semua yang hadir. Imam dan Arif yang paling khusyuk mengucapkannya.Dalam hati terus merapalkan kalimat pujian serta mohon ampunan pada-Nya. Seketika menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka dalam rapat ini.Imam menyesal tadi sempat malas-malasan saat dibangunkan Arif. Begitu pula dengan Arif yang menyesal sempat menggerutu dalam hati saat perjalanannya diuji. Kelak, mereka akan melakukannya lebih baik. Karena dakwah memang butuh pengorbanan, kesabaran dan kebersamaan.

***

Oleh : Maswha Faizah

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #40

 

Derap Rantai Episode 11

drise-online.com – Jejak di atas pasir itu dibuat oleh dua ekor unta yang ditunggangi oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Langit malam yang dingin dan berbintang menaungi kepala mereka yang tertutup serban tebal. Berlapis-lapis mantel membalut tubuh mereka untuk sedikit memberikan perlawanan kepada angin gurun yang dingin. Sesekali angin itu berembus, mengibarkan selendang serban mereka, membuat mereka makin merapatkan mantel tebal itu ke tubuh mereka. Walau pun keras kondisi yang mereka hadapi, mereka senang dengan semua itu. Mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lebih senang tidur di atas pelana kuda, dan berbaring di bawah langit malam, asalkan berada di atas jalan jihad fi sabilillah.

Kelap-kelip kota Madinah yang redup telah terhampar di cakrawala mata mereka. Seolah-olah, dari kejauhan, langit malam itu adalah selimut yang amat luas, yang menutupi Madinah dan membuatnya tenggelam dalam kegelapan yang damai. Cahaya-cahaya pelita dan obor di rumah-rumah berkelap-kelip, seakan-akan gemintang bisa diraih oleh tangan manusia.

“Alhamdulillah, kita sebentar lagi sampai di Madinah,” kata Mutsana.

“Subhanallah wallahu akbar,” sahut Jabal sambil mengambil kantung air dari kulit kambing yang menggelantung di pelana untanya. Dia buka sumbatnya dan minum dari sana setelah membisikkan basmallah. Setelah rasa hausnya terobati, dia tawarkan kantung air itu kepada Mutsana.

“Terima kasih, aku tidak haus, untuk nanti saja,” katanya.

Jabal menyumbat kembali kantung air itu dan menggantungkannya di pelana unta. Tubuh mereka terombang-ambing pelan di atas pelana, seiring dengan langkah kaki unta. Angin malam berembus lagi.

“Kalau Khalifah masih terjaga, kita akan segera melapor kepada Khalifah,” instruksi Mutsana. “Tapi jika Khalifah sudah tidur, kita akan menuju masjid dan menginap di sana. Besok barulah kita melapor kepada Khalifah.”

“Siap! Tapi kurasa Khalifah belum tidur karena masih sore,” ujar Jabal. Senyum tipis terkembang di wajahnya.

Padahal puncak malam sedang tinggi-tingginya, tapi Jabal berkata ‘masih sore’. Hal itu karena Jabal mengerti benar bahwa Khalifah Abu Bakar Shiddiq pasti akan selalu menjadi orang terakhir yang tidur setiap malam. Dia tidak akan tidur sebelum memastikan rakyatnya bisa tidur dengan aman. Aman dari kelaparan karena tidak punya makanan, aman dari kedinginan karena tidak punya pakaian dan tempat bernaung, aman dari rasa sakit, dan aman dari rasa takut.

Mutsana mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya, “Yah, mungkin saja.”

Sampailah mereka di pinggir kota Madinah. Pada pintu masuk kota ada sebuah pos jaga, tempat beberapa orang prajurit menjalankan tugasnya mengamankan kota. Ketika mereka melihat ada dua orang penunggang unta yang datang, mereka segera bersiap dengan tombak dan pedang mereka. Kewaspadaan memang harus selalu mereka lakukan.

“Assalamualaikum,” kata Mutsana sambil melambaikan tangan kanannya kepada para prajurit jaga.

Jabal membuka selendang serban yang dia jadikan cadar untuk menutup wajahnya agar para prajurit bisa mengenalinya.

“Wa’alaikumussalam,” sahut salah seorang prajurit jaga. Dia memerhatikan wajah dua orang yang datang itu dengan bantuan cahaya obor yang ada di tangan kanannya. “Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza! Baru pulang dari sebuah misi?”

“Benar, saudaraku,” sahut Mutsana. “Kami hendak menemui Khalifah untuk melapor.”

“Prosedurnya, saudaraku, baru kami akan mengijinkan kalian masuk.”

Mutsana dan Jabal memeriksa tas kain yang terselempang di bahu mereka masing-masing. Mereka mengeluarkan sehelai gulungan perkamen yang terbuat dari kulit kambing. Mereka membuka gulungan itu kemudian menunjukkannya kepada prajurit jaga. Dalam keremangan malam itu para prajurit jaga memeriksa gulungan milik Mutsana dan Jabal. Cahaya obor jadi penerangan.

“Baiklah, silakan masuk, hati-hatilah, ini sudah malam, jika kalian tidak bertemu dengan Khalifah, teruslah menuju ke masjid, menginaplah di sana,” kata salah seorang prajurit jaga.

“Terima kasih, rencana kami memang begitu,” sahut Jabal.

Mereka menerima kembali gulungan perkamen mereka dan menyimpannya lagi baik-baik di tempat semula. Mereka tahu betul bahwa sebagai agen rahasia Khilafah Islamiyah, gulungan itu adalah salah satu hal yang amat penting. Gulungan itu adalah semacam tanda pengenal.

Kota Madinah telah sunyi dan sepi. Mungkin hampir seluruh penduduk kota telah larut dalam tidurnya. Mutsana dan Jabal membiarkan unta mereka berjalan saja melintasi kota. Mereka hendak langsung saja menuju kediaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Sampailah mereka di rumah sederhana milik Khalifah Abu Bakar Shiddiq yang terletak di tengah-tengah kota Madinah. Rumah yang di kala siang hari itu selalu ramai dengan rakyat yang mengadukan permasalahan mereka, kini telah sepi. Yang terlihat oleh Mutsana dan Jabal di rumah itu hanyalah seorang pelayana Khalifah Abu Bakar, Sa’ad bin Ghazwah.

“Khalifah Abu Bakar sedang tidak di rumah,” katanya. “Setiap malam beliau keluar untuk berkeliling kota Madinah.”

“Benar kan, sudah kuduga!” ujar Jabal.

“Dengan siapa?” Tanya Mutsana.

“Dengan Ibnul Khathab.”

“Berdua saja?” Tanya Mutsana lagi.

Sa’ad mengangguk.

“Seperti itulah Khalifah kaum muslim,” ujar Mutsana. “Keliling Madinah hendak mengetahui kondisi rakyat, tapi berdua saja! Bagaimana kalau ada yang berniat jahat?”

“Memang seharusnya bagaimana?” Kata Jabal asal saja sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Setidaknya pakai pengawalan, agar kalau ada kemungkinan buruk bisa segera diantisipasi.”

“Begitulah jalan berpikir agen rahasia!” Jabal tergelak sendiri dengan kata-katanya.

Pelayan Khalifah yang bernama Sa’ad itu ikut angkat bicara. “Khalifah ingin agar tindakannya setiap malam ini tidak banyak diketahui orang. Jadi beliau memutuskan bahwa berdua saja cukup.”

“Tenang saja, semoga Allah selalu melindungi Khalifah,” kata Jabal. “Kalau begitu sekarang sudah waktunya kita berangkat ke masjid, sepertinya kita tidak akan bisa menemui Khalifah malam ini. Bagaimana?”

“Baiklah, kalau begitu kami berangkat,” kata Mutsana sambil beralih kepada pria pelayan Khalifah itu.

Setelah bertukar salam mereka kembali menunggangi unta mereka dan berjalan menuju masjid. Malam semakin larut dan angin semakin dingin. Gelap kian pekat ketika semua makhluk telah kembali ke peraduannya.

Masjid Nabawi di kota Madinah adalah seperti pusat kota. Orang-orang beribadah di sana mencari ketenangan dan kebahagiaan sejati kepada Allah azza wajalla. Namun masjid itu bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga hampir untuk segala hal. Pengumpulan dan pembagian zakat dilakukan di sana, angkatan bersenjata dikumpulkan di sana, pengadilan dijalankan di sana, rakyat pun mengadukan masalah yang mereka hadapi di sana, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan. Di sekitar masjid Nabawi pun dibangun rumah singgah, yang biasa disebut shuffah.

Salah satu fungsi shuffah adalah untuk menampung para musafir yang singgah di kota Madinah. Mereka dibolehkan untuk menginap di shuffah dan segala kebutuhan mereka akan dilayani sebaik-baiknya. Mutsana dan Jabal berencana untuk menghabiskan malam dengan menginap di shuffah.

Masjid Nabawi sudah di depan mata, puja-puji kembali dipersembahkan kepada Allah dari hati Mutsana dan Jabal. Mereka hendak melepas lelah sejenak di masjid dengan melaksanakan solat sunnah dua rakaat, setelah itu merebahkan badan barang sejenak melepas penat. Namun perhatian mereka tercuri, karena mereka melihat ada yang datang ke masjid dari arah lain. Ada dua orang yang masing-masing menunggangi seekor unta sedang mendekat ke masjid Nabawi.

Mutsana dan Jabal serta dua orang penunggang unta itu tiba bersamaan di depan masjid. Mereka saling tersenyum satu sama lain setelah mereka saling mengenali. Ternyata dua orang yang datang dari arah lain tadi adalah Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathab.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40

 

Semua Untuk Emak

“Makan batu saja kamu dengan anak-anakmu itu.” Suara keras yang menyayat hati itu terdengar sampai telingaku. Ku lihat wajah emak tertunduk tanpa meneteskan air mata, berbalik arah dan memegang pundakku mengajak pergi dari rumah Bulekku itu. Aku di saat itu yang berdiri di samping emak hanya bisa terdiam terpaku memandang wajah Bulekku tanpa ekspresi. Di pintu dapur Bulekku tetap berdiri memperhatikanku yang tak mau di ajak pulang emak. “Faqih ayo pulang Nak!” Kata emak dengan suara basah menahan tangis. Aku tak mau beranjak dari tempatku berdiri. “Eh eh eh,,,Kenapa kamu terus memandang saya? Dasar anak ndak sopan. Didik anakmu itu! Makanya, kasih makan anak jangan sama beras utangan.” Omel Bulek Wiji dengan mengacung-acungkan jari telunjuknya kearahku dan emak. Akupun tersenyum dan menghampiri bulek wiji. Sedangkan emak tidak menahanku. “Kata emak, Faqih harus berbicara yang sopan dengan orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Karena itu dapat menyelamatkan kita dari rendahnya harga diri.” Kataku dengan tidak melepas seyuman dari bibirku. Emakpun mengajakku pulang.

Saat itu usiaku kelas satu MTs. Emak memang tidak pernah menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum. Semua itu emak lakukan agar anak-anaknya mendapat pendidikan agama. Meskipun aku bukanlah santri yang menetap seperti teman-temanku. Itu karena rumahku dekat dengan sekolahku. Dua tahun yang lalu Bapak meninggal. Jadi, dengan susah payah emak menghidupi sendiri ketiga anaknya dengan menjadi buruh cuci. Dari rumah ke rumah, emak menawarkan jasanya. Biasanya pakaian-pakaian kotor itu emak bawa pulang. Setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk membantu emak.

Malam ini seperti malam-malam biasanya. Dengan perut tanpa isi aku berusaha memejamkan mata. Aku memang terbiasa seperti ini. Tapi masalahnya hari ini aku puasa daud dan hanya berbuka dengan air putih saja. Ku lihat zahwa dan hudzaifah tertidur pulas. Tiba-tiba kata-kata bulek terngiang-ngiang di telingaku.padahal semua itu sudah berlalu tiga tahun yang lalu. “Astagfirlah” kataku lirih dan langsung beranjak berdiri untuk mengambil air wudhu. Setibanya di pintu dapur ku lihat emak masih mencuci sambil menangis. Di saat itulah batinku bergejolak. Rasa laparku terasa hilang terbawa oleh air mata emak. Dalam batinku aku mengatakan “Aku akan selalu berusaha membahagiakan emak dunia akhirat.” Akupun menghampiri emak. Ku peluk tubuh emak yang kurus dan kukatakan kepada emak. “Mak, suatu saat nanti Allah pasti mengangkat derajat Kita di dunia dan akhirat. Aku yakin, aku yakin mak.” Dan emak mengamini perkataanku. Di malam itu aku dan emak mencuci baju dan berbincang-bincang.

“Mak, Faqih pengen mondok tahfidz qur’an mak.” Kataku dengan mengucek baju. Emakpun hanya tersenyum. “Doakan Emak dapat uang ya qih. Insyaallah kamu bisa mondok tapi sabar ya qih.” Kata emak. “Emak jangan khawatir, ustadz Zakariya bilang akan membiayai penuh semua kebutuhanku sampai lulus Aliyah Mak.” Emakpun bersyukur dan mendo’akan Aku Agar menjadi seorang hafidz.

***

Tiga tahun telah berlalu. Aku rindu dengan adik-adikku dan terutama emak. Kuputuskan untuk mengirim surat yang kutitipkan Fardan agar menyampaikan suratku untuk emak. Dan tak lupa kuselipkan uang sebesar dua juta didalamnya. Setiap liburan memang aku tidak pernah pulang karena keterbatasan uang yang kumiliki. Ustadz Zakariya memang sering menjengukku dan memberi uang. Tapi uang itu selalu kukumpulkan selama tiga tahun ini untuk ku berikan emak saat pulang nanti. Aku dan teman-temanku yang tidak pulang ketika libur semester selalu mengadakan kegiatan untuk berdakwah di kampung-kampung atas nama Pesantren. Dan Alhamdulillah, berkat kegiatan ini aku sudah terbiasa untuk berceramah dan memberi sedikit motivasi kepada remaja-remaja yang sekolah di sekolah umum dengan menggunakan fasilitas Pesantren. Aku juga sering ikut lomba tahfidz qur’an mewakili Pesantren. Alhamdulillah, lima kali mengikuti perlombaan, tiga kali aku mendapat juara satu. Dan hadiahnya adalah uang delapan ratus ribu bagi juara satu. Dan lagi-lagi uang itu kutabung untuk emak. Alhamdulillah, aku sudah dinyatakan lulus dari Pesantren karena lulus ujian tiga puluh juz.

“Faqih, kamu sudah siap?” Tanya ustadz Zakariya. Dengan mantap kuanggukan kepalaku dan tersenyum. Seperti biasa, ustadz zakariya selalu menemaniku dalam perlombaan. Perlombaan kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Karena hanya tiga orang yang akan dipilih untuk diberi kesempatan kuliyah dimanapun dan harus siap untuk berdakwah dimanapun. Sekarang adalah giliranku. Aku tidak perduli menang atau kalah, yang kufikirkan hanyalah menjalaninya dengan baik. Alhamdulillah semua peserta sudah di uji dan sekarang tinggal menunggu pengumuman. Dua orang telah disebut, Aku hanya tertunduk pasrah. Ustadz zakariya menepuk bahuku sambil tersenyum tanda menenangkanku. “Muhammad Faqih.” Akupun mendongakkan kepala. Aku? Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ustadz zakariya merangkulku tanda meyakinkanku bahwa benar apa yang telah kudengar. Teman-temankupun bertubrukan memelukku. Akupun menangis dan sujud syukur tanda syukurku atas karunia-Nya untukku.

Setelah perlombaan itu, ustadz zakariya mengantarkanku pulang. Pulang kerumah kampung halamanku. Ku ketuk pintu rumah dengan sedikit ragu. Ku lihat ke arah ustadz zakariya dan beliau hanya menepuk pundakku tanda aku harus sedikit bersabar menunggu. “Ceklek, ceklek.” Suara kunci pintu terbuka. Dan ternyata yang membuka adalah emak. Dengan bercucuran air mata, kupeluk tubuh emak yang sekarang bertambah gemuk. Kebahagiaan menyelimuti malam kami. Emak bercerita, uang yang ku kirim dijadikan modal zahwa untuk membeli kerudung. Dan kerudung itu zahwa tawarkan kepada teman-temannya sampai mereka berlangganan. Lagi-lagi Ustadz zakariya menawarkan toko untuk disewakan. Dan akhirnya dari uang hasil toko emak gunakan untuk sehari-hari dan sedikit merenovasi rumah.

Kurebahkan badanku di malam ini dengan penuh senyuman tanpa perut kosong. Alhamdulillah ya Allah, kau tambahkan nikmat kami dikala kami bersyukur. Yakinlah, disaat cobaan menerka, seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya. Sayangilah ibumu, selagi Ia berada disisimu.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39