HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli

Majalahdrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal habits penulis yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung!

Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus gundah akan ketidaksinkronan antara idealita yang dia punya dengan realita yang dia hadapi.Dia selalu kebelet untuk “menuangkan” apa yang dia lihat, dia dengar dan yang dia rasakan. Oleh karena itu, dia suka berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis yang memiliki tipe pelapor, layaknya seorang reporter ataupun jurnalis investigatif. Mencari kelengkapan berita adalah mutlak dibutuhkan oleh seorang reporter ataupun wartawan demi akurasi informasi yang disampaikannya. Dia dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber ataupun berdiskusi dengan para pakar di bidangnya.

Di sinilah urgensitas berdiskusi bagi seorang penulis. Apalagi bagi para pemula yang masih gagap dalam bertutur dan bernarasi dalam tulisannya. Informasi berupa fakta, data dan berita, sekaligus ilmu, pengetahuan dan tsaqafah sungguh sangat dibutuhkan demi menambah bobot tulisan yang dihasilkan. Setelah kita memiliki kebiasaan membaca sebagai habits pertama bagi seorang penulis, maka kebiasaan keduanya adalah senang berdiskusi.

Jujur saja, Bro and Sist, membaca buku ataupun literatur klasik di perpustakaan saja gak cukup bagi seorang penulis handal. Dia masih membutuhkan pendalaman materi sekaligus pengayaan dalam detil bahasan. Coba, deh, setelah membaca buku, kamu lihat daftar referensi yang disajikan Si Penulis, maka akan kamu dapatkan sejumlah buku yang menjadi bahan tulisan Si Penulis dalam menuliskan bukunya. Terkadang juga, Si Penulis mengutip sejumlah surat kabar ataupun majalah sebagai referensinya. Bahkan, dalam beberapa buku, Si Penulis juga mencantumkan teknik wawancara dan diskusi dengan tokoh-tokoh tertentusebagai referensi tulisan.

Kebiasaan senang berdiskusi ini akan jadi hal positif bagi seorang penulis, dia dapat menguliti habis satu tema tertentu dengan berbagai sudut pandang. Coba, deh, kamu buktikan sendiri, datangi seorang expert pada bidang tertentu, kemudian kamu ajak diskusi pada bidang yang dikuasainya itu. Kamu juga harus sudah siap dengan sejumlah pertanyaan untuk mendetili persoalan. Saya juga sudah membuktikan habits penulis yang kedua ini dengan mengajak diskusi para expert yang umumnya bertitel doktor dan professor. Hasilnya pun, memang langsung terasa, ilmu dan pengetahuan saya jadi semakin kaya, kualitas dan ragam tulisan saya pun semakin berkelas!

Sebagai contoh, saya pernah berdiskusi dengan seorang miltech expert yang gape persoalan teknologi militer mutakhir, dia juga mahir menguraikan kecanggihan alutsista berbagai negara produsen war machine di seluruh dunia, khususnya Amrik dan para pesaingnya dari benua Eropa. Dia juga begitu terampil menjelaskan persoalan alutsista di Dunia Islam, khususnya di negeri Si Komo ini yang sudah jauh tertinggal.

Hasil dari diskusi intens itu pun, saya dapat menyajikan secara maksimal makalah berjudul Membangun Kekuatan Militer Berbasis Ideologi Islam, sekaligusmempresentasikan secara optimal file power point dengan tema Militer dalam Islam. Bahkan, saya pun mampu untuk mempresentasikan tema Future War, sebuah kajian perang di masa depan dengan teknologi militer paling modern yang sungguh berbeda dengan analisis perang akhir zaman atau al-Malhamah al-Kubro.

Oke, deh, Bro and Sist, soal habits penulis kedua ini emang hal yang kudu dijabanin oleh para penulis. Seorang penulis yang baik, dia akan selalu merasa kekurangan ilmu. Apa yang dia dapatkan dari membaca buku, akan dia dalami dan detili lagi dengan banyak berdiskusi dengan para ahli. Tabiat positif ini akan semakin mengasah kualitas tulisannya, sekaligus mengasah keterampilannya dalam menuangkan ide, pemikiran dan pendapatnya. Bukankah, dalam berdiskusi, kita pun berbicara, bertutur, berdiplomasi, bahkan mungkin berdebat? Artinya, kebiasaansenang berdiskusi ini merupakan tabiat yang emang kudu dimiliki oleh seorang penulis. Catet, tuh?![]

 

BOX

Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu semua senang berdiskusi:

  1. Ketahui dulu, tema apa yang ingin kamu diskusikan?Kalo gak nyiapin tema, halah… alamat ngobrol ngalor ngidul, tuh!
  2. Cari tahu juga, siapa tokoh yang akan kamu ajak diskusi? Gawat banget, kan kalo kamu ngajak diskusi soal gimana sakitnya sakaratul maut kepada pasien yang divonis dokter sudah tidak ada harapan tertolong?
  3. Cari momen yang asyik buat diskusi, bayangin kalo kamu ngajak diskusi orang yang tengah emosional, wah bisa berabe, euy!
  4. Pilihlah tempat yang nyaman saat diskusi, kamu bisa milih rumah, restoataopun tempat fave yang adem, biar diskusinya juga enak tenan.
  5. Kamu harus aktif berkarya agar ada output positif dari kreativitasmu selama ini. Inget lho, ilmu tuh harus dishare pada banyak orang sebagai bagian dari amal saleh kita (ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang kita punya, jangan hanya untuk diri sendiri, apa enaknya masturbasi intelektual? Dosa, tau!

 

Dengan tetap kreatif menulis, hobi diskusimu akan menghantarkanmu jadi penulis ahli! Inget, tuh?![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44

Leave a Reply

Your email address will not be published.