Notifikasi Pemancing Emosi

Majalahdrise.com – Notifikasi alias pemberitahuan udah jadi bagian yang tak terpisahkan di dunia sosial media seperti facebook. Facebooker dengan sangat mudah mengetahui kalo ada pengguna lain yang ngasih komentar, nge-like, nge-tag gambar atau video. Banyaknya notifikasi, serasa jadi selebriti. Tapi apa jadinya kalo ternyata notifikasi malah memancing emosi. Masa sih?

Yoi cuy. Notifikasi itu ada yang natural ada juga yang otomatis. Notifikasi natural, berarti ada pemberitahuan friend request, komentar, atau jempol dari facebooker real human atas postingan kita. Ini wajar. Nah yang otomatis, biasanya kerjaan para spammer alias tukang nyampah di wall orang. Dengan bantuan software, para spammer ini menyebar komentar, auto tag, auto like, dan jualan sembarangan di timeline orang lain. Notifikasi model gini yang bikin bete.

Selain spammer, ada juga malware yang mendompleng notifikasi di facebook. Malware (berasal dari kata malicious dan software) adalah perangkat lunak yang di ciptakan untuk atau merusak sistem komputer atau jaringan komputer tanpa izin dari pemilik. Malware ini selain bisa menyedot koneksi internet (bikin lemot), juga bisa membajak data pribadi. Makanya harus hati-hati.

Belakangan ini, lagi rame beredar wabah malware video gadis mabuk yang bikin tengsin para facebooker. Secara gitu lho, itu preview video yang menampilkan gadis mabuk dengan posisi menggoda secara otomatis nongol di timeline kita. Bagi facebooker yang kepo, langsung aja diklik tautan video vulgar gadis mabuk yang direkomendasikan temannya. Selanjutnya, dia akan masuk ke website youtube kw dan ada pesan harus menginstall plugin untuk menjalankan video. Kalo pesan itu di klik ok, otomatis kena jebakan betmen. Browser google chrome atau mozilla firefox terinfeksi ekstension malware ini.

Extension yang digunakan dalam malware ini bernama “Atas Berita“ di Google Chrome dan “Full Screen” pada Mozilla Firefox.Kehebatan extension tersebut adalah mampu melakukan posting otomatis atau tag ke akun Facebook yang lain karena memiliki hak akses untuk membaca dan mengubah semua data pada situs yang dikunjungi.Tak lama, ini malware bakal bikin ulah dengan mengauto tag ke teman-teman kita yang isinya status video vulgar gadis mabuk tadi. Waduh… tengsin banget kan!

Makanya kita mesti hati-hati dalam mensikapi notifikasi. Cukup diliat aja dulu, jangan langsung dieksekusi. Terutama postingan yang ada tautan/link-nya. Walaupun infonya menggoda, kita harus tetap waspada. Bisa jadi itu serigala berbulu domba alias malware yang mengundang bahaya.

Biasakan cek en ricek setiap notifikasi sosial media yang kita terima. Kalo ada friend request, liat dulu profilnya. Statusnya bisa nambah kita taat apa justru memenuhi timeline kita dengan info minim manfaat. Jadikan pegangan kalo tujuan kita terjun di sosial media biar nambah ilmu, nambah harta dan pastinya nambah pahala. Kalo tiga tujuan itu nggak ada dari setiap notifikasi, abaikan saja. Setuju? Yuk! [@Hafidz341]

 

BOX:

Enyah Kau ‘Gadis Mabuk’! ^_^

  1. Cara paling mudah untuk terhindar dari masalah malware ‘gadis mabuk’:
  • Tidak mengklik tautan “Gadis Mabuk” di Facebook.
  • Cara lainnya, adalah dengan menghapus ekstensi ‘Atas Berita’ di Google Chrome.
  • Sementara untuk menghapusnya, Anda dapat klik ‘Laporkan/Hapus Tanda’ pada postingan ‘Gadis Mabuk’.
  • Jika sudah maka akan muncul pilihan menu, Pilihlah Menu bertuliskan ‘Ini Spam’.
  • Selanjutnya dari pihak Facebook memberitahukan jika proses Anda sudah selesai dan untuk selanjutnya pihak Facebook akan melakukan pengecekan.
  1. Namun, Jika sudah menjadi korban, Facebook menyarankan untuk melakukan langkah-langkah ini:
  • Buka peramban browser Anda (misal Mozilla Firefox).
  • Akses Tools -> Add-ons -> Ekstensi.
  • Setelah Anda menuju ke halaman ekstensi, tinjau daftar plug-in dan menghapus apapun yang terlihat mencurigakan di sana.
  • Klik gambar tempat sampah di sebelah kanan dan klik tombol Hapus pada kotak ‘Konfirmasi Penghapusan’.
  • Restart browser Anda
  1. Langkah lainnya, Anda juga dapat menggunakan aplikasi CCleaner, sebuah aplikasi yang dapat membersihkan browser Anda.

Setelah menjalankan langkah-langkah di atas, disarankan bagi para ‘korban’ untuk segera mengganti password akun Facebook. Ok. Selamat Mencoba! []

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #43

Merah Saga Bumi Suriah Eps. 2

Majalahdrise.com – Ku lihat beberapa ikhwan melakukan ribath di sekitar markas, ku lihat sebagian lagi melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang begitu merdu dan seolah-olah tank-tank baja yang berjajar rapi disebelah mereka juga ikut merasapi bacaan yang mereka lantunkan. Aku berjalan ke lorong sebelah, maka kudapati beberapa ikhwan sedang membuat peralatan perang, salah satunya ku lihat Hamzah seorang mahasiswa teknik sedang sibuk mendaur ulang granat-granat milik tentara Bashar Assad yang gagal meledak. Hampir setiap hari Hamzah dan timnya merakit sekitar 50 granat yang gagal meledak. Ku lihat lagi Ammar seorang remaja yang berusia 14 tahun sibuk mengotak-atik stick Ipad untuk digunakan sebagai control melempar granat. Pemandangan ini sangat kontras dengan yang ada di Indonesia, jika di Indonesia dengan keadaan yang aman saja Al-qur’an dibiarkan berdebu namun disini Al-qur’an seolah-olah menjadi bacaan wajib yang harus dibaca setiap hari. Di Indonesia banyak pemuda yang terlena dengan aktifitas dunia, namun disini banyak pemuda yang merindukan syahid di jalanNya untuk tegaknya Khilafah. Jangankan di ajak perang, pemuda Indonesia di ajak ke seminar membahas tentang Khilafah sajaterkadang masih ogah-ogahan.Maka sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan yang ada di Suriah.

Syahid Yang Menewaskan

Malam ini suasana begitu mencekam, berkali-kali aku mencoba memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Militer Suriah melakukan teror dengan beberapa kali terbang di kawasan kami. Ternyata mereka mengincar jasad Syaikh Kholid, mereka mencoba memasuki desa Mughoiriyyahyang letaknya tidak jauh dari markas kami,desa yang telah lama sepi ditingggal penduduknya mengungsi dan di desa itulah kami memakamkan jasad Syaikh Kholid beserta syuhada yang lain.Blaaam…. Suara ledakan ranjau kembali mengguncang kawasan kami, beberapa ikhwan segera melakukan penjagaan yang ketat di markas. Markas kami terletak di bawah bukit berbatu yang kami gali dan kami bangunseperti gua namun di dalamnya sepeti sebuah rumah yang penuh dengan persenjataan serta tidak terlihat dari luar. Pasukan mujahidin merangsek sembunyi-sembunyi di tengah-tengah kegelapan malam.“Allahu Akbar”…terdengar pekikan takbir dari ikhwan mujahidin yang melakukan ribath, tidak jauh dari makam Syaikh Kholid. Ternyata suara granat yang meledak itu menewaskan 15 pasukan Bashar Assad yang hendak menggali makam Syaikh Kholid, namun mereka salah gali. Mereka menggali sebuah makam yang bertuliskan nama beliau, namun sebenarnya di makam itu berisi senapan milik Syaikh Kholid. Ikhwan mujahidin sengaja menaruh ranjau di makam tersebut, sebagai ganti atas meninggalnya Syaikh Kholid. Allahu Akbar… inilah syahid yang menewaskan. Walaupun sudah syahid namun nisan yang bertuliskan nama Syaikh Kholid tetap berjasa menewaskan 15 tentara musuh atas izin Allah.

 

Merah Saga Bumi Suriah

15 Muharram 1436 H, sebuah roket dengan kaliber 25mm menghantam kawasan kami, segera kami mempersiapkan pasukan. Begitu pula misi medis dari Indonesia yang di ketua Dr.Abu Hasan juga segera siaga membantu menyelamatkan para mujahidin yang terluka.

“Ihsan… Ihsan… Ihsan…segera masuk dalam barisan” teriak Zubair kepadaku.

“Hamzah…. Siapkan granat dan bom yang kita miliki” Zubair meneriaki kepada pasukan yang membawa granat.

Aku segera masuk dalam jajaran sniper mujahidin, kami maju ke depan menuju desa thirtiyyah, desa terdekat yang diserang pasukan Bashar Assad. belum juga beranjak kami dikejutkan dengan kedatangan helikopter yang mendekat, “wusshhh…Blamm!!” Sebuah bom birmill menghantam jalur yang akan kami lalui, hal ini membuat nafas kami tercekat sesaat. Namun kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk terus maju.

Peperangan pecah dibeberapa titik di Jabal Durin, Jabal Nabi Yunus, Jabal Naubah, Ainul jauzah, dan Kifr maisyuth. Musuh bukan hanya menyusup seperti sebelum-sebelumnya tapi merangsek maju. Mereka sudah membuat perencanaan penyerbuan untuk kembali mengontrol wilayah Jabal Akrod. Pertempuran sengit berlangsung, aku pun terus maju ke depan dan bersembunyi di balik bebatuan. Ku arahkan tembakkan ke tentara musuh. Beberapa tembakan jituku mengenai dada tentara musuh, aku berlari ke depan saat Hamzah terjepit, namun duaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr itu suara terakhir yang aku dengar,,, mataku berkunang-kunang, hanya hitam kelam dalam penglihatanku, nafasku tersengal, dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada diriku.

Saat aku tersadar aku telah tergolek di rumah sakit rahasia milik mujahidin di Lathamna Hama, para petugas medis dari Indonesia menyelamatkanku saat aku terlempar terkena granat. Kakiku kiriku putus dan aku tidak bisa bangun, aku langsung menanyakan hasil dari pertempuran di Jabal Akrod. Mereka mengembangkan senyuman, yang artinya pertempuran dimenangkan para mujahidin. Mujahidin kembali menguasai wilayah tersebut, seketika ku tanyakan kondisi sahabat-sahabatku, Zubair, Hamzah, Ammar kepada Ahmad. Ahmad adalah salah satu tim medis yang menyelamatkanku, dia menyampaikan kepadaku kalau Zubair dan Hamzah syahid di jalan Allah, adapun Ammar masih belum sadarkan diri. Ahamd juga memberikan senapan milik Zubair dan surat yang sudah kotor terkena darah kepadaku.

“Ihsan… saat perang tengah berkecamuk, tiba-tiba Zubair datang kepadaku dan berpesan untuk memberikan surat ini kepada ibunya, kamu diminta untuk memberikannya jika kamu masih hidup dan Zubair berpesan agar aku memberikan senapan miliknya, jika ia lebih dulu syahid mendahului teman-temannya.” tegas Ahmad kepadaku.

“Bagaimana kondisi Zubair, kenapa ia bisa terbunuh?” tanyaku penuh tanya, karena setauku Zubair sangat ahli dalam menembak dan bersembunyi di balik semak-semak.

“Musuh mencoba menguasai Jabal Akrod, seluruh mujahidin mengeluarkan segala upaya untuk mempertahankan wilayah ini, Zubair dan pasukannya maju ke depan dengan kendaraan tank anti baja, mereka mampu memukul mundul tentara musuh sampai tentara Bashar Assad menemui kekalahan, namun tubuh Zubair penuh dengan tembakan. Allah terlalu sayang kepada Zubair dan beberapa mujahidin yang lain termasuk Hamzah, sehingga mereka dipanggil lebih dulu dari pada kita untuk menemui RabbNya. Kemenangan kali ini harus di tebus dengan jiwa-jiwa mujahidin yang darahnya membuat bumi Suriah berwarna merah saga dan menyebarkan aroma wangi penduduk surga yang menusuk jiwa” Sambung Ahmad dengan air mata yang menetes.

Tak terasa aku juga meneteskan air mata, penuh haru namun bercampur gembira. Aku yakin Zubair, Hamzah dan mujahidin-mujahidin yang lain telah berbahagia dengan syahidnya,aku iri dengan mereka yang telah lebih dulu syahid menghadap Rabbnya. Wahai Zubair tidaklah ku ucapkan selamat tinggal untukmu, melainkan sampai bertemu di SurgaNya. Aku bangga kepadamu wahai sahabat-sahabatku, di saat pemuda-pemuda yang lain sibuk akan urusan dunia, kalian menyibukkan diri dengan urusan akhirat. Sungguh tegarnya jiwa kalian yang menetang kedholiman dan peluru-peluru yang dzolim menembus dada kalian. Tapi dengan tegar kalian persembahakan jiwa raga untuk kejayaan revolusi ini. Jiwa kalian berdiri diatas kebenaran, sinaran aqidah telah menuntun kalian untuk bangkit menentang kedholiman. Alangkah sucinya ruh kalian yang telah diangkat malaikat menemui Sang Pencipta Alam. Wahai sahabat-sahabatku sekali lagi tidaklah ku ucapkan selamat tinggal namun selamat berjumpa di tempat yang penuh kebahagiaan, tunggu aku akan menyusul langkah kalian.

Beberapa hari kemudian, aku dan beberapa ikhwan mujahidin memberikan surat Zubair kepada ibunya, namun tidak ada raut kesedihan dalam wajah beliau. Justru beliau tersenyum walau sesekali meneteskan air mata, ya air mata kebahagiaan karena putranya menemui syahid di jalan membela islam. Sejenak aku langsung teringat dengan ibuku, akankah ibuku siap jika aku syahid dalam revolusi ini? Akankah ibuku juga tersenyum mengembang seperti senyum ibu Zubair? Akankah ibuku bangga akan syahid yang aku rindukan?. Aku hanya berharap ibu dan bapakku ikhlas akan langkahku dalam perjuangan ini. Andaikata gelar sarjana tidak bisa aku berikan untuk mereka, maka cukuplah gelar syahid yang aku persembahkan sebagai tanda baktiku kepada mereka berdua.Dan biarlah darahku menggores bumi Suriah dengan warna merah saga.[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

Merah Saga Bumi Suriah

Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.

“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.

Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.

Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan al-ummah turid khilafah islamiyah yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.

 

Pertempuran Di Jabal Akrod

Blaaar… sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.

“Ihsan…. Ihsan… Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.

Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.

Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.

Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.”

Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.

Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.

“Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!” seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.

Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, duaar… duaar… duaar tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan buuuuk…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.

11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.

“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.

“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat

“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.

“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.

“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.

“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.

gleeeek…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.

Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini.  lanjut…….[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

 

Korban “Cherrybelle” Tumbang, Ulama Jadi Kambing Hitam

Majalahdrise.com – Gara-gara pesta “Cherrybelle”, 16 warga Garut menjemput maut. Beruntung 4 lainnya masih bisa diselamatkan nyawanya. “Cherrybelle” di sini bukan girl band super centil itu ya, tapi sebutan untuk minuman keras (miras) oplosan. Miras itu sendiri ada yang dicampur dengan penambah energi, alhokol, lotion antinyamuk dan spirtus. Bahkan dokter curiga, ada kandungan lain yang lebih berbahaya (www.liputan6.com, 6/12/14).

Kejadian yang tak kalah luar biasa juga terjadi di Sumedang, korban miras oplosan mencapai 127 orang. Sebanyak 8 di antaranya tewas. Ditambah korban dari Depok dan Jakarta Timur, sedikitnya 33 tewas di empat kota tersebut karena mengkonsumsi minuman keras oplosan (www.rtv.co.id, 4/12/14). Nyawa melayang sia-sia di tangan barang haram.Hadeuh! *TepokJidat!

 

STANDAR GANDA

Ketika korban miras berjatuhan, semua tersentak. Menyesalkan kejadian tersebut dan mereka-reka bagaimana solusinya. Padahal kenapa kaget? Bukankah negeri ini menerapkan aturan sekuler-kapitalisme yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman? Bukankah di negeri ini miras memang sah beredar di tengah masyarakat?

Coba tengok Perpres Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Melalui peraturan itu, pemerintah mengategorikan minuman beralkohol sebagai barang dalam pengawasan. Cuma diawasi peredarannya, bukan dilarang sama sekali.Ada miras golongan A yang mengandung etil alkohol (C2H5OH) dengan kadar sampai 5%.Golongan B mengandung etanol 5-20% dan golongan C kadarnya 20-55% . Nah, Pasal 7 Perpres ini menegaskan, miras golongan A, B, dan C hanya dapat dijual di hotel, bar dan restoran yang memenuhi persyaratan. Selain itu, di toko bebas bea.

Hmm, soal miras ini, pemerintah memang menerapkan standar ganda. Di hotel-hotel berbintang, diskotek, kafe dan mal-mal besar boleh, tapi miras di level wong cilik dilarang. Agen miras digerebek. Warung penjual miras dibekuk. Pemadat dari kolong jembatan ditangkap.

Memang, mungkin ada yang ngeles, miras yang beredar kan diawasi kadarnya. Jadi aman dikonsumsi.Sedangkan yang oplosan, itu sama sekali tidak ada jaminan aman untuk dikonsumsi. Makanya, orang tewas gara-gara pesta miras hanya terjadi pada rakyat kecil yang nenggak miras oplosan.

Yah, sama saja Sobat! Keberadaan miras oplosan merajalela, dikarenakan rakyat kecil tidak sanggup membeli miras premium yang harganya selangit. Iyalah, belinya saja harus ke minimarket, mal, bar atau hotel. Mana sanggup. Jadi, tak ada miras original, oplosanpun jadi.

Lagipula, siapa bilang pengaruh buruk miras hanya bersumber dari yang oplosan? Pemabuk dari kalangan berduit, yakni pecinta dugem di bar, diskotek atau hotel-hotel, juga tak sedikit yang menimbulkan petaka. Masih ingat dengan tragedi Tugu Tani dengan pelaku Afriani? Habis pesta miras dan narkoba di diskotek, perempuan itu menabrak pejalan kaki hingga menewaskan 9 orang dan melukai 4 orang lainnya. Kasus sejenis kemudian susul-menyusul tiada habis. Jadi, kurang bukti apalagi atas kemudharatan miras?

Dus, sumber masalahnya adalah: kenapa miras dilegalkan.Padahal, udah tahu miras membawa bahaya, bikin mabuk, hilang akal dan bahkan hilang nyawa. Seandainya miras dilarang, tidak legal, tentu tidak akan ada ceritanya orang mati gara-gara miras. Betul apa benar?

 

UMARA vs ULAMA

Lebih aneh, ada segelintir pihak yang menyalahkan kalangan ulama. “Kejadian di Garut misalnya, ini kan kota santri, kota religius, kiai dan ulama banyak di situ. Jadi bagaimana ini, pada kemana mereka,” kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Achyar, di Bandung (www.okezone.com, 6/12/14)

Menurutnya, peran kiai dan ulama jelas sentral bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat yang tenteram. Tapi itu pun jika kiai dan ulama mampu menjalankan peran dengan baik di masyarakat. “Kemungkaran itu bisa diminimalisir atau dihilangkan kalau ulama hadir di situ (di masyarakat). Tapi hadirnya ulama bukan untuk sekadar diam,” tuturnya.

Memang, ia juga menggarisbawahi, pemerintah pun harus memberi dukungan. Sebab apa yang terjadi saat ini tak lepas dari pemerintah yang tidak menjadikan agama sebagai tuntunan utama. “Saya melihat ini akibat pemerintah tidak menjadikan agama sebagai kaidah penuntun dalam menjalankan roda pemerintahan. Kalau agama tidak dijadikan kaidah penuntun, kemungkaran apapun bisa bebas. Dari perspektif sufistik, negara kalau begini terus tinggal menunggu kehancuran,” tandas Rafani (idem).

Padahal, jelas pemegang juara salah nomor satu adalah pemerintah, pemimpin alias umaro yang melegalkan miras. Seandainya tidak dilegalkan, kemudian ada hukuman keras bagi siapa saja yang berhubungan dengan barang haram itu, baik sebagai pelaku bisnis atau peminum, niscaya masyarakat akan pikir-pikir dulu sebelum membeli dan atau menenggak miras.

Jadi, umara alias pemimpin itulah yang bertanggungjawab penuh. Umara hendaklah menjadikan Islam sebagai pedoman dalam menerapkan seluruh kebijakan. Islam menjelaskan, barang terkategori khamr itu haram. Berapapun kadarnya, tetap tidak boleh diproduksi dan dijual-belikan. Jelas, kan?

Sementara ulama, tugasnya “hanyalah” amar makruf nahi munkar. Namanya berdakwah, tidak memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan. Mengajak kebaikan, kalau orangnya mau bagus. Mencegah kemungkaran, yang punya tangan ya umaro. Ulama sebagai penjaga akidah umat sebatas menyampaikan kebenaran. Jadi, ketika korban miras bergelimpangan, jangan salahkan masyarakat. Apalagi mengkambinghitamkan ulama yang aktif memerangi maksiat. Salah tunjuk jari tuh!(*)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #43