Yup, serial Bollywood
alias film India dan sekitarnya kembali warawiri di layar kaca. Meski adegan muter
pohon udah gak ada, tapi durasinya itu lho kaya jalan kaki muterin lapangan
senayan tujuh keliling. Gempor-gempor dah melotoin televisi 2,5-4 jam!
Benar-benar ngebajak sebagian waktu para penonton, utamanya kaum hawa nihhh.
Sebelumnya, ada serial bertema sejarah yang beberapa udah di
utak-atik sejarah aslinyasepertiHatim dan Jodha Akba, Mahabaratha, Ramayana,
Sri Khrisnadll. Seolah pengen melengkapi histeria penonton tanah air, kini
hadir beberapa serial baru bertema cinta, dendam danpengorbanan.
Persis kaya telenovela yang sempat booming. Adegan -adegan yang
mengaduk emosi, alur cerita yang berliku,ditambah para pemain yang udah barang
tentu ciamik bikin kaum hawa enggan beranjak dari depan tv.Hati-hati sis!
Bollywood : Pencetak generasi dewa
Driser, namanya hiburan yang berbau indiahe itu, udah jelas kental dengan asesoris
en ritual yang dulunya cuma lekat di agama Hindu. Tapi karena udah pada mabuk
serial Bollywood, ritual yang sebenarnya cuma untuk agama hindu, sekarang kian
dekat di hati pemirsa yang muslim. Meski bukan film bertema agama, tapi
nyatanya banyak didalam film tersebutmengandung unsur-unsur yang bertentangan
dengan akidah Islam.
Lirik aja konsep di beberapa serial yang ada. Dari budayanya,
cara berdo’anya, pakaiannya, prosesi pernikahannya, hingga dialog yang kerap di
ulang seperti “demi dewa”. Yup,konsep
ketuhanannya sangat kental nyaris disemua serial tersebut. Dewa-dewa yang
mereka anggap Tuhan, digambarkan layaknya manusia dan bisa terlihat.
Misalnya Dewa Krisna yang digambarkan sebagai anak berkulit
hitam. Dewa Wisnu yang menyerupai manusia bertangan empat. Dewa Ganesha disebut
sebagai layaknya manusia berkepala gajah, bertangan empat en berbadan besar. Dewa-dewa
itu beberapa di antaranya menikah dengan manusia. Wah, jangankan orang dewasa,
anak-anak yang rata-rata doyan juga nyantap serial india ini, bisa-bisa dibuat bengkok
akidahnya sejak dini.
Kebayang kan gimana kalo Tuhan digambarkan layaknya manusia?
Menikah dengan manusia pula. Padahal kita, sebagai manusia itu gak akan sanggup
mengindera gimana wujud zat Tuhan. Haram
hukumnya bagi seorang muslim menggambarkan
bahwa Tuhan itu bertangan empat atau banyak karena Ia diketahui Maha Pengatur.
Haram juga menciptakan sosok Tuhan duduk di atas awan
gara-gara dikatakan Ia berada di atas Arsy. Logikanya nih ya, kalau Tuhan itu
menyerupai manusia yang nyata-nyata lemah ini, gimana mungkin Ia bisa mengatur
alam semesta yang sedemikian dahsyatnya. Mustahil kan? Makanya, kasihan banget
ngeliat adik-adik juga remaja seusia kamu yang udah terlanjur doyan dengan
tayangan ini. Berdo’anya bukan nyebut demi Allaah lagi tapi demi dewa. Harapannyapun
digantungkan kepada dewa, bukan kepada Allaah. Ini pengen jadi generasi Robbani
apa generasi dewa?? Parah!
Mendulang Rupiah
Selain menggadaikan akidah yang emang kerap gak diperhatikan stasiun TV, Masyarakat
yang saat ini sangat menuhankan fisik, mudah banget kesemsem dengan pemain yang
memerankan tokoh di salah satu serial. Produser yang tahu banget selera pasar milih
pemain-pemain prianya yang gantengganteng en kekar.
Pemain wanita juga dipilih yang cantik en langsing.
Harapannya, selama serial ini tayang, ibu-ibu, bapak-bapak, kakak-kakak, adik-adik, om-om, tantetante betah
melototin televisi. Biar kata waktu sholat tiba, gak akan beranjak kalau gak
mati listrik. Kalo betah nonton, berarti ratingnya naik. Kalo ratingnya naik, iklan yang masuk banyak. Iklan banyak masuk berarti duit produser en
krunya jadi tajir. Kalo duitnya bejibun, serial kayak gini akan gencar
ditayangin dan diperbanyak. Yaa kayak sekarang ini nih.
Kudu Dibenahi
Nah,Ngeliat dampaknya yang nyaris negative semua, kita layak mengajukan
protes nih kepada pengambil kebijakan. Apalagi jika udah urusan akidah. Driser.
Udah selayaknya perangkat kebijakan yang ada di negeri kita dibenahin. Kudu
lebih ketat lagi menyeleksi serial impor. Jangan sampai, serial yang ada, malah
membentuk identitas baru remaja Muslim kita. Udah digempur budaya barat, digempur juga oleh
ajaran dewa.
Alhasil, remaja kita
mengalami krisis identitas sebagai seorang Muslim. Gak bangga dengan Islam, malah bangga dengan budaya kafir dan musyrik,
dan kamu non, gak usah segitunya mend
ewakan fisik para pemainnya. Inget, yang mulia disi Allaah adalah orang bertaqwa,
bukan yang lain. Catet! [ Juanmartin]
Driser, di bulan lahirnya Ki Hajar Dewantara ini kita mau ngobrolin
tentang pendidikan. Kita penasaran, apa
sih pendapat siswa, orang tua murid, atau guru yang berkaitan dengan keadaan
pendidikan dalam negeri saat ini. Kali ini DRISE berhasil menodong mereka yang mewakili
siswa, orang tua murid dan guru. Yuk kita intip pendapatnya!
Wawancara Crew dengan Putri, selaku Siswa.
Crew: Melihat pendidikan sekarang, baik mutu
maupun sistem pendidikan, menurut kamu kayak apa?
Siswa : Tidak dapat dipungkiri Sob, bahwa sistem
pendidikan sekarang jelas banyak mengeksploitasi waktu seorang siswa yang membutuhkan
istirahat yang cukup. Kenyataan sekarang? Siswa disibukkan dengan belajar
pelajaran duniawi. Dan porsi pendidikannya hanya 2 jam saja (90 menit). Hmm, Putri ngalamin sendiri soalnya. Gimana
tenaga kita diperas untuk belajar otodidak, presentasi di depan teman-teman,
diskusi. Terakhir kupaslah.. Apa tujuan
kita belajar suatu “Mapel” . Sehingga pelajaran yang kita terima ngga
sia-sia. Sehingga muncullah komentar “Buat apa belajar sejarah, bikin ngga
bisa move on!”
Crew : Kalau boleh berkhayal, kamu pengen
sekolah dan pendidikan di Indonesia kayak gmn?
Siswa : Yang jelas Putri pengen sekolah ngga
bersikap sekuler. Sekedar mengambil pendidikan duniawi dan melepaskan unsur agama.
Ibarat belajar biologi, kaitkan bahwa ada Allah yang menciptakan kita, sehingga
kita akan faham siapakah diri ini? Dan untuk apa kita di dunia. Serta kelak bagaimana
kia harus mempertanggungjawabkan amal ibadah kita. Kan lucu ya Sob? Seandainya
agama cuma dikasih porsi 2 jam..
Crew : Menurut kamu, kalau ada yg corat coret
abis lulusan itu gmn?
Siswa : Boleh dong, kalau coret-coretnya dengan
pena diatas kertas.. Mengabadikan momen-momen dengan kawan-kawan dan pengalaman
inspiratif yang bisa dibukukan..
Sehingga dapat menginspirasi yang lain. Tapi kalau yang dicoret-coret baju?
Aduh, jangan sampai dilakukan deh
Wawancara Crew dengan salah satu orang tua murid, Bu
Neneng :
Crew : Melihat pendidikan sekarang, baik mutu maupun
sistem pendidikan, menurut ibu seperti apa?
Ortu : Kacau balau, kurikulum kerap berganti
ganti. Anak anak dibebani dengan pelajaran yg tidak penting, sementara minat dan bakat anak tidak
tergali.
Crew : Kalau ada yg corat coret abis lulusan,
menurut ibu gmn? Bagaimana seharusnya remaja kita ber ekspresi?
Ortu : Sy menyayangkan perilaku seperti itu
tapi saya juga memahami mereka, karena mereka tidak dilatih untuk mengekspresikan
kebahagiaan mereka dengan hal yg positif dan tentunya minus teladan yg baik
Crew : Apa harapan ibu untuk pendidikan Indonesia
di masa depan?
Ortu : Sistem pendidikan yang membuat anak
belajar dengan gembira dan penuh semangat untuk mempelajari sesuatu. Sehingga
anak menyambut hari sekolah dengan antusias.
Wawancara Crew dengan salah guru muda dari Cirebon, Ibu
Juwita:
Crew
: Apa yang paling meresahkan menurut
ibu di dunia pendidikan sekarang?
Bu Guru : Yang meresahkan banyak sekali kadang
merasa sedih sendiri dan bertanya dalam hati kok bisa ya pelajar kita seprti itu?
Pacaran, gaul bebas seks bebas, aborsi, narkoba, tawuran, bullying
Crew : Bagaimana sebaiknya hubungan antara
ortu dan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan?
Bu Guru
: Hubungan guru dengan murid harus tercipta rasa cinta dan rindu. Menjadi guru
yg dirindu siswa/i , guru yag merindukan siswa, dan antara guru dan siswa
saling mencintai ilmu dan menimba serta mengamalkannya. Guru yang menanamkan
aqidah Islam yg kuat dan membentuk karakter pola sikap &perilaku Islami
peserta didik. Keduanya saling bersinergi.
Sekolah tidak lepas dari peran guru. Sedang keberhasilan
secara tidak langsung dipengaruhi peran serta orang tua selaku wali murid.
Keduanya bersama merangkul anak bangsa untuk mencintai ilmu dan mendapati
falsafah yang mulia dalam mengejar ilmu. Tak semata aspek materi atau kelulusan
saja dikejar.
Harmonisasi siswa, guru, dan orang tua tak lepas dari aturan
pendidikan yang menaunginya, apakah mengarah pada sekularisme atau ditopang
oleh aqidah islam. Jika asas sekulerisme
yang menopang sistem pendidikan seperti di negeri ini, tak heran jika hasilnya memprihatinkan.
Sebaliknya, jika akidah Islam yang menopang aturan pendidikan saat ini tentu
akan lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dari negeri Kartini yang berkontribusi untuk
kebaikan Islam dan kaum Muslimin.[]
Drise sebelum kamu memutuskan ikut ngaji ada baiknya baca dulu beberapa keuntungan kalo kita ngaji
dan ikut gabung dengan anak ngaji yang kami kutip dari buletin remaja Gaul Islam
berikut:
Mengajarkan makna hidup
Kalo kita ngaji tentang Islam, nanti bakalan diajarkan tuh tentang keberadaan kita
di dunia ini. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dunia (sekaligus dengan
cara apa ngisinya), dan akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini.Nah, kalo kita
nggak ngaji atau ogah belajar, nggak bakalan tahu tentang makna hidup ini.
Itu sebabnya, kalo kita udah tahu bahwa kita adalah makhluk
Allah dan diminta untuk menyembahNya sekaligus bertakwa, maka dijamin kita
nggak bakalan bete dalam hidup ini. Jadi,
yuk kita ngaji biar tambah cerdas. Nggak usah ditunda-tunda lho, takut keburu
meninggal dan nggak sempet lagi beramal baik. Nyesel deh nantinya. Itu sebabnya,
Rasulullah saw. telah bersabda:
“Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena,
saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap
gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman,
di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih
beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (HR
Imam Bukhari dan Muslim)
Memberikan ketenangan
Komunitas anak ngaji memungkinkan
kita kagak nyeleweng dari ajaran Islam. Aktivitas seks bebas dijauhi, dengan
narkoba nggak bakalan coba-coba make, termasuk malu berbuat kriminal. Dalam
komunitas ini, kamu pun bisa menjalin hubungan baik dengan guru agama, dengan
kakak pembina pengajian, dengan teman sebaya, keluarga, bahkan dengan kawan
yang bukan berasal dari sekolah kita. Kawan kita jadi banyak dan hubungan yang
terjalin di antara kita dihiasi dengan semangat kebersamaan dalam Islam.
Asyik bukan? Coba, gimana nggak tenang hidup ini. Sayang
banget kalo sampe dilewatkan begitu saja. Jadi mulai sekarang, buat kamu yang
belum ikutan ngaji ada baiknya memutuskan untuk segera ikut ngaji dan gabung
dengan komunitas anak ngaji. Insya Allah akan memberikan ketenangan yang berarti.
Pikiran tenang, karena informasi yang masuk semuanya
bermanfaat, nggak bakalan membuat bingung dan nggak takut muncul pernyataan
atau melakukan perbuatan yang melanggar aturan masyarakat, apalagi aturan Allah
Swt. Hati pun ikut tenang karena nggak dikotori dengan perasaan-perasaan
murahan macam hasad, dengki, iri hati, sombong. Kalo pun tiba-tiba muncul penyakit hati itu, insya
Allah akan ada penawarnya. Kita bisa menyembuhkan sendiri, atau minta bantuan
teman lain. Kita bisa berbagi waktu dan perhatian untuk saling menasihati. Semoga
ya.
Menumbuhkan kreativitas
Nah, dengan gabung di komunitas anak ngaji, kita bakalan bisa mengukur dan menilai
peran apa yang bisa kita berikan untuk komunitas ini. Kita bisa ikut berpartisipasi
dalam aktivitas-aktivitas penuh arti dan memainkan peran penting. Percaya atau
tidak, sambil jalan kamu bakalan bisa ambil hikmahnya. Salah satunya, bisa
mempelajari dan mempraktikkan cara-cara menyelesaikan masalah, mengambil
keputusan, dan menentukan sasaran hidup.
Bener lho, bergaul bersama dengan komunitas anak ngaji dan
ikut serta dalam beragam kegiatan yang digelar, bikin kita bisa lebih kreatif
dalam mengatasi persoalan hidup. Maklumlah, yang namanya ngurus kegiatan itu
berarti rela mencurahkan segala upaya kita untuk kemajuan dan kepentingan
bersama. Di sinilah kreativitas akan tumbuh. Bahkan bisa lebih mendewasakan
kita dalam bersikap. Nggak percaya? Ayo gabung dengan komunitas anak ngaji!
Insya Allah nggak bakalan nyesel. Pasti!
Memupuk jiwa sosial
Jiwa sosial kita kian terlatih bagus dengan ikut ngaji dan gabung dengan komunitas anak ngaji. Karena apa? Karena kita
diajarkan dalam pengajian itu untuk peduli dengan sesama. Sikap seperti ini akan
terus tumbuh manakala kita langsung mengaplikasikannya dengan benar dan baik.
Ketika mengetahui teman ngaji sakit, kita nggak sekadar mendoakan kesembuhannya.
Tapi sebisa mungkin hadir di sampingnya untuk membantunya. Minimal adalah
menghiburnya supaya ia kembali semangat dan tidak terbebani dengan rasa
sakitnya. Selain dengan anak ngaji, jiwa sosial kita ditampilkan juga di
masyarakat secara umum.
Misalnya, kalo kebetulan di sekolah ada temen-temen dari
kalangan keluarga miskin, maka bisa kita coba bantu mereka. Bisa kita sendiri
turun dengan memberikan dana, bisa pula kita melobi ke pihak sekolah untuk
meringankan biaya pendidikan temen-temen kita itu. Bahkan bila perlu mencari
donatur lain yang bisa mengucurkan dananya bagi temen-temen kita.
Insya Allah, pelajaran ini bisa sangat berharga. Apalagi
karena jiwa sosial kita bukan untuk mencari pujian dari manusia, tapi pujian
langsung dari Allah Swt. Sehingga insya Allah lebih bernilai dan berharga. Oke
deh, mulai sekarang, nggak ada alasan untuk ogah bin malas ikut ngaji dan
gabung dengan komunitas anak ngaji. Kita tunggu deh partisipasi kamu bersama komunitas
anak ngaji. Insya Allah nggak bakalan bete. Yuk, marii..! [@Hafidz341]
Bebas euy! Spontan pelajar yang baru aja beres ngikut ujian
nasional berhamburan keluar kelas. Lepas udah tekanan ujian akhir yang selama ini bikin
sutris. Meski belum tentu lulus, yang penting udah lewat dulu ujiannya. Urusan bagus
atau pas-pasan hasilnya, belakangan aja dipikirinnya. Sekarang mah, happy!
Banyak cara meluapkan kegembiraan untuk merayakan berakhirnya ujian nasional (UN) yang dilakukan para siswa. Namun, yang paling banyak diliput media justru yang negatif. Perilaku yang tak mencerminkan karakter pelajar yang terdidik. Bukannya menjadi bagian dari solusi, malah terhanyut dalam euforia dan menjadi bagian dari masalah. Berikut beberapa aksi pelajar yang dianggap ritual pasca ujian nasional.
1.Corat-coret Entah siapa yang pertama kali memulai, budaya corat-coret pelajar pasca UN seolah tak terpisahkan. Saat hari terakhir UN usai, para pelajar tanpa komando langsung berhamburan ke lapangan. Berteriak kegirangan sambil sibuk mencorat-coret baju seragam yang dipakai teman. Siswa siswi berlarian ke sana ke sini membubuhkan tanda tangan secara bergantian dengan spidol atau menyemprot wajah, rambut, dan seragamnya dengan pylox warna-warni.
Nggak jauh beda dengan supporter bola. Aksi ini dilakukan oleh
banyak pelajar di setiap daerah. Menurut mereka aksi corat-coret ini merupakan
ritual rutin kelulusan para siswa sebagai kenang-kenangan terakhir. Emang abis
lulus mau pada ‘pamit’?
2. Konvoi kendaraan Tak cukup dengan aksi
corat-coret, para pelajar pun turun ke jalan. Beramairamai ikut
konvoi kendaraan bermotor. Tanpa helm dan seragam penuh coretan, mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya. Bunyi klakson saling bersahutan memecah kesunyian jalan.
Tak ketinggalan, suara bising knalpot
racing mengusik kenyamanan para pengguna jalan.
Tak ayal, ada pelajar yang nekat bawa senjata tajam dan melakukan
tindakan kriminal. Mentang-mentang banyakan, berani membajak kendaraan umum hingga kontainer. Bahkan
tak sungkan memicu tawuran dengan pelajar lain yang mereka temui di jalan.
3. Pesta seks Ini
perilaku bejat yang tak patut ditiru.
Tahun lalu, puluhan siswa-siswi di Kendal
tertangkap basah berbuat mesum di salah satu tempat wisata yang sering dipake remaja
untuk mojok bareng pacarnya.
Pasca UN berakhir, pasangan pelajar tamasya ke pinggir
Pantai Muara Kencan Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Kamis
(16/4/15) hingga sore. Menjelang malam, mereka lanjut check in dan berbuat
mesum.Salah satu pelajar bernama Luluk mengaku sengaja menyewa kamar hotel usai
UN.
Selain itu, ada pula pelajar yang dengan malu-malu mengaku menyewa
hotel untuk berbuat mesum dan melakukan hubungan layaknya suami isti dengan
alasan untuk melepas ketegangan usai melaksanakan UN. Astaghfirullah!
4. Splash after class Luapan kegembiraan pasca
UN seolah jadi legalisasi digelarnya
pesta bagi remaja. Demi mengusir kepenatan, tahun lalu salah satu EO di ibukota
mengundang pelajar tingkat SMA dan sederajat untuk menghadiri ‘Splash after
Class’. Sebuah pesta bikini summer dress yang rencananya digelar di
kolam renang di hotel berbintang di Jl Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 25 April
2015 ini undangannya beredar luas via jaringan youtube dan sosial media.
Meski akhirnya dibatalkan, namun sempat menuai kritiktan
pedas dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pesta bikini, kolam
renang, campur baur cewek cowok plus minumanberalkohol sama dengan memancing
kemaksiatan. Waspadalah!
Buah Pendidikan Sekular
Kita nggak bisa nutup mata kalo sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah
sistem pendidikan yang sekularmaterialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan,
steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan
kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar
pelajar.
Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan
ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi.
Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran
dalam satu minggu. Itu pun kalo gurunya
masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…! Materi
pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin
menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya.
Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu
membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk
sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta
agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai. Pendidikan sekuler materialis tak mampu
membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk berbuat
semaunya. Budaya permisif yang serba boleh melakukan apa saja selama tidak
menggangu orang lain tercermin dalam gaya hidup idola remaja dan tayangan
sinetron yang membanjiri layar kata.
Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak
didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan. Walhasil, para
pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah
perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan
dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan
untuk menuntunnya beresin masalah.!
Cuma Taat Kalo Ada yang Liat
Salah satu hasil pendidikan sekuler di kalangan pelajar adalah mental “taat kalo diliat’.
Kalo nggak ada yang liat, terangterangan bermaksiat. Sikap mental ini tumbuh subur
lantaran empat hal: niat, sanksi, pengawasan, dan kesadaran.
Pertama, niat. Kita pasti tau kalo niat selalu ada di
balik setiap perbuatan. Terlepas apa niat itu udah direncanain jauhjauh hari
atau spontan. Untuk ketaatan pada aturan,
nggak semuanyaenjoyjalaninnya. Aturan udah kadung dianggap ngebatasin
gerak. Kalo ngadepin aturan, bawaan niatnya jelek mulu. Pikirnya, aturan ada
untuk dilanggar, bukan untuk ditaati.
Walhasil, kalo niat udah kuat, ngelanggar aturan jadi kebiasaan.
Malah perbuatan dosa pun dianggap sepele. Dari sekedar nggak shalat, nggak
nutup aurat, cabut dari sekolah, nongkrong di mall saat jam belajar, mesum
bareng pacar saat weekend, atau nge-fly untuk ngusir rasa penat. Cuma lantaran
nggak ada yang liat. Berabe kan?
Kedua, sanksi. Sebuah aturan bakal tegak en punya power
buat ngatur kalo ada sanksi yang tegas. Tanpa itu, pelajar bisa setengah-setengah
taat ama aturan. Pelajar yang bermasalah, terkadang hanya diberi peringatan
atau surat panggilan untuk orang tua. Saat kena razia oleh aparat pun, hanya
dipulangkan setelah dikasih pembinaan. Sanksi model gini sering dianggap sepele
oleh pelajar. Walhasil, nggak ada kapoknya bikin masalah.
Ketiga, pengawasan. Ketegasan sanksi nggak punya arti
tanpa pengawasan. Makanya, pengawasan yang kendor baik oleh sekolah, guru, atau
sesama siswa terhadap aturan, memancing pelajar untuk berbuat semaunya. Padahal
itu masih di dalam lingkungan sekolah. Beberapa video pelajar yang beredar di
dunia maya, bikin kita miris. Ada yang melecehkan gerakan shalat yang diiringi
lagu Maroon 5, ada aksi bully secara fisik yang dilakukan pelajar SD, atau
siswi yang merokok di dalam kelas. Kalo saja sesama siswa saling mengingatkan
atau melaporkan kejadian kepada yang berwenang, akan lain ceritanya.
Setidaknya, ada upaya untuk mencegah perilaku negatif dari pelajar.
Keempat, kesadaran. Ini gerbang terakhir sebelum
seeorang ngelanggar aturan. Niat udah kuat, sanksi nggak ketat, yang ngawasin
juga nggak ada di tempat, berarti tinggal selangkah lagi. Kalo dia sadar ada
beban moral untuk melanggar atau ngerasa bakal bikin rugi semua pihak, tentu
mikir-mikir lagi untuk nggak taat. Sayangnya, beban moral terlalu lemah untuk
mencegah pelanggaran. Di zaman nafsi-nafsi kayak sekarang, moral udah jadi almarhum.
Yang ada tinggal
kepentingan diri sendiri dan cuek dengan sekitarnya. Nggak asyik tuh! Driser,
dari keempat faktor di atas, yang terakhir kudu dapet perhatiin khusus. Yup,
soalnya kalo kesadaran seseorang dilandasi dorongan yang shahih, tentu nggak gampang
tergoda melanggar aturan. Mesti niat, sanksi, atau pengawasan udah kondusif. Di
sinilah pentingnya kita punya kesadaran shahih yang nggak cuma ngandelin beban moral.
Dan itu ada dalam Islam. Yuk!
Ngaji Bagian dari Solusi
Hanya ada satu cara untuk memperkuat kesadaran pelajar yang dilandasi
dorongan yang bener yaitu dengan ngaji. Yup, dengan mengaji kita selalu diingatkan
akan kebesaran Allah dengan sifat-sifatNya yang mulia, kelengkapan syariatNya
untuk mengatur hidup kita, dan kasih sayang Allah bagi hamba-hambaNya yang
selalu berusaha untuk taat di segala situasi dan kondisi.
Selalu pake ukuran dosa atau pahala sebelum berbuat. Sebagai
seorang muslim, kita udah sering dengar sifat-sifat Allah yang biasa dikenal
dengan sebutan asma’ul husna. Keyakinan terhadap asma’ul husna
ini yang mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt. Keimanan yang akan
melahirkan kesadaran akan adanya Allah dalam setiap perilaku kita di dunia.
Penting nih! Salah satu sifat Allah yang mulia itu adalah Maha Melihat dan Maha
Mengetahui. Itu artinya,
Allah bisa melihat dan mengetahui setiap perilaku hambaNya
baik di tempat terang maupun tempat yang tersembunyi. Termasuk mengetahui letak
semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Tuh kan, makhluk
kecil yang tak terjangkau penglihatan manusia aja dengan mudah diketahui Allah,
gimana kita yang ukurannya beberapa ratus kali lipat dari ukuran semut. Makanya
aneh kalo kita selaku muslim merasa nggak ada yang ngawasin perbuatan kita saat
berbuat maksiat.
Pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited!
Kita mungkin udah tau celah untuk lolos dari razia polantas. Ada juga yang mahir
ngibulin guru biar bisa cabut tepat waktu. Atau mungkin udah terbiasa menghilangkan
jejak agar tak terdeteksi oleh pengawasan ortu. Tapi siapa yang jamin kamu bisa
sembunyi dari pengawasan Allah? Nggak ada.
Kalo kamu ngerasa aman dan bebas ngelanggar aturan Allah
cuma lantaran Allah nggak terlihat, siap-siaplah menghadapi rasa takutmu yang
menjadi-jadi di akhirat nanti. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang
perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman:
“Demi kemuliaanKu, aku tidak akan menghimpun dua rasa
takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepadaKu di dunia,
maka Aku akan memberikannnya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dariKu
di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.”(HR
Ibnu Hibban)
Karena itu, agar kita nggak ngerasa aman dari Allah di dunia, Allah udah ngasih konsekuensi pahala dan dosa untuk ngukur ketaatan
kita pada syariatNya. Kalo kita senantiasa
taat dan ikhlas dalam ngikutin tuntunan Allah dan RasulNya di hari-hari kita, kita
bisa meraih pahala. Sebaliknya, kalo kita melanggar atau taat setengah hati
terhadap Allah, dosalah yang kita dapetin.
Semuanya bakal diperlihatkan pada kita diakhirat nanti. Disinilah
pentingnya kita ngaji. Biar melek pahala dan dosa serta sadar keberdaan surga dan
neraka yang bakal mengerem perilaku maksiat saat nggak ada yang liat.
Yuk Ngaji Tanpa Tapi
Ngaji itu hukumnya wajib. Rasulullah saw
bersabda,“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR Ibnu Majah).
Dalam hadits ini, Rasulullah saw dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu
itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja,
lho. Tuh, catet ya. Yang namanya kewajiban itu untuk dilaksanakan. Bukan malah
dihindari biar nggak jadi beban. Kewajiban ngaji sama dengan wajibnya shalat.
Tanpa tapi.
Dalam kondisi apapun, kita upayakan tetap ngaji. Ngaji bukan hanya sebatas baca alQuran tanpa
ngerti maknanya, bukan sekadar tahu hadits tanpa paham maksudnya. Ngaji juga
berarti terampil membaca fakta dan
menilainya dengan ukuran Islam dan ilmu dunia untuk menunjang utuhnya
pemahaman. Misalnya nih, kenapa sih kasus terorisme selalu dihubungkan dengan
Islam dan umatnya? Di sini kita perlu ngaji banyak hal selain ngaji seputar ajaran
Islam, yakni ilmu komunikasi, ilmu politik,
ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya.
Dukungan ilmu tersebut akan membantu menyusun kepingan puzzle
informasi dan opini dan menilainya dari sudut pandang Islam. Sehingga bisa menyimpulkan
dengan benar dan baik. Asik juga ya? Pastinya! Ayo, kapan mau ngaji? Hubungi
rohis di sekolahmu ya! Atau bergabung dengan komunitas lembaga dakwah sekolah
terdekat di kotamu. Jangan sampai hari-harimu kosong dari aktivitas mencari
ilmu. Terutama ilmu agama yang bisa bikin hidupmu penuh makna. Karena bahagia
tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat sana. #YukNgaji sampai nanti, sampai
mati tanpa tapi. Yuk! [@Hafidz341]