Khilafah Jalan Menuju Kafah “amunisi pena sang juru bicara”

Hari gini nggak tahu Khilafah? Sayang bingiiiitt…. Padahal pembicaraan seputar sistem pemerintahan Islam  yang mulia ini sedang hits dimana-mana, baik yang mendukung maupun kontra. Segala daya dan tenaga sedang diupayakan untuk mengedukasi masyarakat biar paham Islam lebih dalam. Salah satu usaha satunya dengan terus menyuarakan ide khilafah sebagai solusi permasalahan umat ke tengah masyarakat.

Seperti yang kerap dilakukan oleh Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia ( Jubir HTI) yang terangkum dalam bukunya “Khilafah Jalan Menuju Kaffah”. Testimoni deras mengalir mengomentari isi buku ini. Tak kalah bikin greget, kata pengantar buku ini bahkan langsung ditorehkan Prof.Dr. Din Syamsuddin selaku Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

Ustadz Ismail Yusanto selaku jubir HTI tentu tak dapat dipisahkan dari ide sentral syariah dan khilafah. Maka sepak terjang dakwah beliau pun beriring berjalan antara ide dahsyat Khilafah dengan pergerakan organisasi ini. Tak heran, jika bab 1 buku ini memuat poin mengenal Hizbut Tahrir sebagai wadah politik di tengah umat yang lantang menyuarakan tegaknya khilafah.

Seperti apa kedudukan Hizbut Tahrir secara umum sebagai organisasi internasional maupun perkembangannya di wilayah Indonesia yang dikenal sebagai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Melangkah maju ke bab 2, kita diajak menelaah seperti apa sistem khilafah itu sebenarnya. Selama ini kesimpangsiuran seputar khilafah kerap menghiasi media massa. Tak sedikit yang bersikap antipati dan tidak adil dalam menilai.

Oleh karenanya urgen menilai khilafah dari definisinya secara syari dan  memperjuangkan tegak kembali sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan khulafar rasyidin. Buku ini membedah dengan gamblang dan sabar bagaimana wadah khilafah itu kelak berdiri di tengah kita, insyaallah. Namun sebelum membayangkan yang indah-indahnya, tentulah kita dihadapkan oleh persoalan bangsa yang sudah menumpuk banyaknya.

Dan bagaimanakah persoalan ini berdiri di hadapan konsep khilafah, buku ini memberikan pemaparannya. Jatuh bangunnya ide khilafah digulirkan terkait dengan respon umat dan tantangan zaman.  Bisa dibilang, buku ini isinya daging semua deh.

Artinya, tidak ada bagian yang tidak penting. Hampir semua sisi memiliki potensi yang selayaknya kita pahami, termasuk remaja islam yang unyu-unyu ini. Tak salah jika di bagian cover disematkan istilah “AMUNISI PENA” dari 10 tahun pergerakan sang juru bicara dalam percaturan politik islam di Indonesia bahkan dunia.  

Nah DRISEr, sayang banget deh kalau buku ini terlewatkan dari daftar buku favorit kamu. Bukunya tebal, padat informasi, penulisnya pun tidak diragukan sepak terjangnya. Jangan sampai kita lalai dan tidak ikut dalam perjuangan suci menegakkan Khilafah ala manhaj nubuwwah! Yuk! [Alga Biru]

Judul : Khilafah Jalan Menuju Kaffah
Penulis : M. Ismail Yusanto
Penerbit : Irtikaz
Jumlah Halaman : 404 halaman
Harga: Rp. 145.000

Menggapai Asa di Negri seribu Menara

Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering  menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini.  Sebelum beranjak jauh, temanteman pasti ingin tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan kang Abik lewat  novel Ayat-ayat Cintanya.

Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena  menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar  menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra. Di setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan.

Salah satunya berisi coretan dan gambargambar Universitas Al-Azhar, Kairo. Walau  bisa disebut pemalas di waktu ‘aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran ilmu alat (nahwu dan shorof)  dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran  ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah akhirnya yang membuatku sampai ke  negeri impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif.

Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes kedua langsung di ibukota Jakarta.

Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Alhamdulillah berkat rahmat Allah Ta’ala, dari seribuan calon peserta se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama, dan waktu itu aku tes di kota Jambi. Kemudian  perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir telah kami jalani dalam keadaan sehat.

Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah. Persiapanpun dimulai, setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah Minang tercinta.

Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut.

Sesampai di Mesir, aku mengalami shock culture dikarenakan banyaknya perbedaanperbedaan yang aku rasakan di saat awalawal di Mesir. Salah satunya tentu di saat  aku mulai memasuki dunia perkuliahan di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS.

Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di Universitas Al-Azhar saat itu. Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta’ala, akupun bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya.

Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar jami’ wa jami’atan. Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan mengaji (di Mesir istilahnya talaqqi) di masjid Al-Azhar dengan para masyayikh yang mumpuni di bidangnya.

Tempat untuk mengaji atau talaqqi tidak hanya di masjid Al-Azhar, ada beberapa medhiyafah yang memberikan tempat untuk menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus memberikan kita  “kunci” untuk membuka gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar Asy-Syariif itu sendiri. Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir dan Indonesia adalah dzauq atau hawa keilmuannya.

Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar  kepada Doktor-doktor di bidang agama  yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau bersungguh-sungguh. Berbicara masalah bersungguhsungguh atau malas lebih enak kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah.

Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal nanti sewaktu UAS  harus wajib datang kalau tidak ingin rasib  alias gagal dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam pengabsenannya, beberapa  kali alpha maka bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya. Inilah uniknya kampus Al-Azhar di mataku.

Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta’ala.

Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit, noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak ketolongan.

Disaat-saat imtihan atau  ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa  Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Penolong. Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di perkuliahan dan talaqqi saja, banyak juga masisir diantaranya yang bekerja dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi.

Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di sebuah warung makan, menjadi agen travel, tour guide¸bimbingan belajar dan bahkan bekerja di vila-vila mewah.  Apapun kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat, ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang didapat.

Di Mesir kaidah fokus dan balance dalam setiap pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! [Kontributor : Assa Dullah Rouf/Mesir]

Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor

Driser jika kamu sudah dapet info dari penerbit bahwa naskah tulisanmu lulus seleksi sekaligus  mereka siap nerbitin karya kreatifmu jadi buku, siap-siaplah jika editornya menghubungi kamu, minta ketemu secara langsung. Jika gak bisa kopdar, mungkin pake teknologi informasi via sosmed aja juga bisa mewakili.

Biasanya, editor (yang diwakili managing editor and senior editor) ngajak kamu brainstorming soal proses kreatifmu nulis naskah buku yang akan diterbitin itu. Selain itu, Si Editor juga bakalan ngajak diskusi, apa yang penulis inginkan dengan buku yang bakal diterbitin itu. Soal editingnya, kemasannya sampe urusan promo marketing dan yang pasti soal itungitungan kontraprestasi atas buku yang bakal terbit itu.

Apakah mau plat fee, royalty atau semi-royalty?  Kalo sudah deal, baru deh, pihak penerbit mengeluarkan SAN (surat akad naskah) jika plat fee atau SPP (surat perjanjian penerbitan) jika disepakati dengan sistem royalty atau semi royalty.  Dalam perjanjian itu, biasanya juga dicantumkan soal hak dan kewajiban yang mengikat kedua belah pihak antara penulis dengan penerbit. FYI bagi para penulis pemula, khususnya bagi yang baru pertamakali nerbitin buku, bagusnya ga usah ngeributin soal kontrapretasi itu.

ikutin saja apa maunya penerbit. Kalo kamu sudah ribet soal ginian, alamat editor males ketemu lagi sama kamu. Tapi kalo kamu sudah punya passion yang bagus (dengan buku-bukumu yang bestseller), kamu tentu punya bargain yang bagus pula, daya tawar kamu untuk minta “lebih” dan diistimewakan pun, pasti difasilitasi oleh penerbit.  Selanjutnya jika soal perjanjian ini sudah disepakati, maka Si Editor itu akan segera menggarap naskahmu itu sesuai hasil brainstorming denganmu sebagai penulisnya.

Hal ini penting bagi seorang editor untuk mengetahui latar belakang kamu menulis naskah buku yang dimaksud. Istilah redaksinya adalah review book story!  Sebelum mulai mengedit naskahmu itu, seorang editor harus memahami terlebih dahulu content dan context dari naskah buku yang akan dieksekusinya itu.

Meminjam istilah pakar perbukuan nasional, Pak Bambang Trimansyah, “seorang editor yang baik itu dia harus bisa bersetubuh dengan buku yang dieditnya…”  Kalo Si Editor sudah memahami isi naskah sekaligus pesan yang hendak penulis sampaikan dalam  bukunya itu, maka dia akan merasa nyaman dan asyik saat mengedit naskahmu itu karena dia telah konek dengan karakter tulisanmu dan apa yang kamu mau.

Perlu kamu-kamu ketahui juga, dalam mengedit naskah buku, sedikitnya ada dua orang editor yang terlibat dalam proses editingnya, yaitu senior editor dan junior editor. Bahkan, dalam beberapa kasus, chief editor dan managing editor juga bisa turun tangan. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan di meja redaksi.

Saat proses editing, para editor berpanduan pada teknik editologi yang lazim di dunia penerbitan, plus dengan bahasa selingkung yang ada di masingmasing penerbit. Mereka berbagi tugas sebagaimana job desk and skill masingmasing editor. Senior editor melakukan substantive editing (penyuntingan isi) dan mechanical editing (penyesuaian tata bahasa dan EYD), sedangkan junior editor biasanya mengerjakan mechanical editing  sekaligus proofreading ato menyelaraskan  kembali teks, khawatir ada yang terlewat  saat proses editing di tangan senior editor.

Selain mengandalkan keterampilan dalam mengedit naskah buku, para editor juga dilengkapi dengan “arsenal tempur” yang wajib bin kudu selalu ada di meja redaksi, yaitu kamus; baik kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa asing ataupun kamus bahasa daerah. Begitupun saat teknologi telah maju berkembang, kamus digital juga harus siap sedia sebagai amunisi bagi para editor. Nah kini, mungkin gak, ya, seorang penulis juga bisa berprofesi ganda jadi seorang editor? “Sangat mungkin!” itu jawaban lugas master editor di Penerbit Mizan Pustaka, Pak Hernowo Hasim. Guru editor saya ini bilang, seorang editor itu sebaiknya terampil menulis dan cakap bicara, karena dia juga punya tanggung jawab untuk ikut menyuarakan dan mempromosikan buku hasil editannya ke khalayak luas. Tuh, kan? Catat! []

Belajar Jadi Penulis sekaligus Editor

Kini, saya mo berbagi tips bagi D’Riser semua agar terampil menulis sekaligus taktis menyunting buku:  

  1. tulis sudah kelar, kalo baru bab niat mah payah dah, segera beresin dulu tulisanmu?!;  Kamu pastiin dulu naskah yang kamu  
  2. naskahnya, terus dicek dan periksa lagi naskah tulisanmu dengan baik, baca dengan sungguh-sungguh, siapin pula alat tulis jika kamu mau ngoreksi atau nambahin ini-itu;  Kalo sudah kelar nulisnya, print out deh  
  3. hasil baca and koreksiannya tadi ke dalam tulisanmu di layar PC, atau gadget yang biasa kamu pake nulis;  Kalo sudah ngerasa puas, silahkan input  
  4. sudah ngerasa nyaman sama tulisanmu, ajak orang-orang terdekatmu atau orang kepercayaanmu jadi first reader tulisanmu, jangan lupa minta masukannya;  Baca lagi, periksa lagi, koreksi lagi.
  5. Kalo difollow-up, tapi kalo dapet kritik, jangan menyerah… revisi lagi, nulis lagi, edit lagi…  Kalo dapet masukan konstruktif, segera  Selamat…kamu sudah belajar jadi seorang editor![]  

Hai Z, Masa Depan di Tanganmu

Kamu lahir antara 1995 sampai 2010? Pasti  hobi internetan, chatting, dan eksis di  media sosial. Cenderung menyukai  hal-hal berbau multimedia, gambar, foto dan video. Suka  yang serba instan dan kurang menghargai  proses. Kalianlah generasi Z. Apaan tuh?  

Sejak muncul Teori Generasi, kita dikenalkan istilah Generasi X, Y dan Z. Lengkapnya, menurut Generation  Theory ini, ada 5 generasi yang lahir setelah perang dunia kedua dengan ciri masingmasing. Pertama, Baby Boomer (lahir 1946–1964). Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara,  banyak keturunan. Tipenya adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Ini generasi yang cenderung menunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan etika. Kedua, Generasi X (lahir 19651980).

Waktu itu baru mulai adanya personal computer (PC), video games, tv kabel, dan internet. MTV dan video games sangat digemari. Mulailah muncul tingkah negatif seperti tidak hormat pada orang tua, maniak musik punk, dan kenal ganja.

Ketiga, Generasi Y (lahir 19811994). Disebut juga generasi millenium. Mulai pakai teknologi komunikasi  instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti Facebook dan Twitter.  Mereka juga suka main game online. Keempat, Generasi Z (lahir 19952010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Yup,  inilah generasi kalian.

Generasi yang nggak bisa lepas dari internet. Maunya selalu connect. Sejak kecil udah kenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih. Generasi digital yang mahir dan keranjingan ama teknologi informasi dan berbagai aplikasi.  Sangat hobi dan eksis di dunia maya. Facebook, Twitter, Instagram atau chatroom. Melalui media ini mereka bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.

Cenderung terbiasa melakukan aktivitas dalam satu waktu secara bersamaan. Sambil chatting pake ponsel, browsing dengan laptop, dan denger musik pakai headset. Pokoknya penginnya serba cepat dan instan. Pastinya ini secara nggak langsung berpengaruh pada kepribadian. Cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, egosentris dan individualis, nggak sabaran, dan nggak menghargai proses. Kalian begitu, nggak?

Ingat Dunia Nyata

Nah, udah pasti karakter Generasi  Z seperti di atas, beda banget sama orangtua kamu yang merupakan Generasi X atau Y. Makanya, kamu musti pinter-pinter menyamakan persepsi sama orangtua. Jangan segan komunikasi sama mereka.

Kalau ortu ngajak bicara, jangan dianggap nggak penting. Bagaimanapun, ortu kamu beda karakter dan sangat mengkhawatirkan perkembangan dirimu. Sebab, tantangan mengasuh, menjaga dan membesarkanmu saat ini lebih berat. Jauh lebih berat dibanding saat mereka seusia kamu.

Sebagai generasi Z, kamu kudu tetep eksis di dunia nyata. Jangan terlampau menurutkan nafsu internetanmu yang selalu menggebu. Soalnya internetan itu emang bikin lupa waktu. Ada foto, film, video dan segala keasyikan dan hiburan di sana. Jadi, kalo lagi asyik chatting, tetap kudu pasang telinga kalau-kalau ortu membutuhkanmu.  

Kamu juga musti punya etika. Sekarang banyak orang dipenjara gara-gara nggak ngerti cara bijak memanfaatkan media sosial. Atau karena saking bablasnya, malah menjadi fitnah dan membawa nama buruk orangtua. Misal, ada ABG yang posting foto-foto seksi dan bahkan porno. Na’udzubillahi min zalik.  

Generasi Islam

Jangan lupa, kamu-kamu adalah  generasi Islam. Generasi masa depan umat. Ciri-cirinya, rata-rata kamu punya namanama islami. Betul, kan? Coba cek daftar absen di kelasmu. Pasti kau temukan namanama dengan minimal tiga kata islami di sana (ini identik dengan nama orang-orang  Arab yang umumnya tiga kata).

 _ Nah, kenapa kamu diberi nama islami? Karena masa depan Islam di pundak kalian. Sepuluh, 20 atau 30 tahun mendatang, kamu-kamulah yang akan duduk sebagai pemimpin di segala bidang. Jadi dosen, kepala sekolah, pemimpin perusahaan, ahli IT, desainer, chef, sastrawan, penulis, produser, kepala proyek, kontraktor, pejabat pemerintahan, hakim dan sebagainya.

_ So, di tangan generasi kalianlah  masa depan Islam. Kelahiran kalian ke dunia ini bukan untuk mengabdi pada peradaban Barat atau Timur yang tidak Islami. Kalian disiapkan Allah SWT melalui tangan orangtua dan para pendidik, bukan untuk melanggengkan sistem sekuler kapitalisme yang ada saat ini. Bukan pula untuk menghambakan diri pada budaya China, Korea, Jepang, dll. _ Maka, persiapkanlah diri kalian supaya menjadi pribadi Islam kafah.

So, nggak usah merasa minder jika kalian memupuk diri dengan segala hal-hal yang berbau Islam saat ini. Ngaji, baca kitab-kitab fikih, hafalan Alquran, belajar Bahasa Arab, bahkan berdakwah sesuai kemampuan. Kelihatannya nggak keren di masa sekarang, dibanding remaja-remaja umumnya yang hidupnya santai dan menggilai budaya pop seperti musik, film dan konten-konten Barat atau Timur. Tapi, justru itulah kelebihan kalian. Itu berarti kalian punya visi jauh ke depan.

Karena kalianlah perubah peradaban. _ Iya, dong! Kan malu menyandang nama islami, tapi kelakuan jauh dari nilai-nilai islam. Sebab, nama itu adalah doa. Ortu kalian mendoakan agar kalian menjadi pribadi-pribadi yang saleh dan salehah. Generasi yang kelak menjadi pengabdi dan pengendali peradaban Islam. Kalau tidak menyiapkan diri dari sekarang, kapan lagi?(*)