Membumikan Al Quran Ala Pakistan

Langit selalu sama.  Ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari ini aku  menitipkan harapan yang tinggi kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru di sini, negeri seribu cahaya. Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan paling ideal, tapi tidak juga buruk.

Namun sesuatu yang menakjubkan hadir di sini.  Aku menginjakkan kaki di Pakistan tepatnya kota Islamabad guna melanjutkan studiku di bidang Islamic Banking & Finance di International Islamic University Islamabad. Sejak bulan Juli 2013 lalu aku mengawali hidup di negeri orang, yang kini sudah semester 6 dalam perkuliahan.

Pakistan tentu tidak seluas Indonesia, tapi bukan berarti perilaku dan budayanya homogen. Berbagai peristiwa politik, aneka budaya, pendekatan bahasa, memberi efek kejut bagiku pada awalnya. Namun aku cepat beradaptasi. Sesekali aku menghabiskan waktu melaksanakan hobi di bidang olahraga maupun travelling.

Hobi yang satu ini banyak juga manfaatnya. Salah satunya memudahkanku bergaul, berbaur dan mengenal bangsa-bangsa. Nilai-nilai keislaman di Pakistan memang kental. Suatu kali aku bersafar yang akhirnya membuatku hilir dari satu bagian distrik ke distrik berikutnya. Sebagai seorang pendatang dari Indonesia yang ‘apa adanya’pemandangan unik di Pakistan ini menggelitik spiritualitasku.

Bagaimana hati tidak senang, pikiran tenang, sebab banyak distrik di Pakistan lekat dengan Al-Qur’an. Masjid atau surau mereka ramai dengan para penghafal al-Quran. Baik yang masih kecil, berumur muda, dewasa, juga lansia. Kalau pemandangan seperti ini, bisa dibilang langka di Indonesia. Kecuali kita menyengajakan diri datang ke Pesantren atau saat Ramadhan tiba. Sedangkan di sini, membaca dan menghafal Al-Qur’an itu sudah seperti kebutuhan, seolah makan dan minumnya kehidupan.  

Rahasianya terletak pada pembiasaan keluarga muslim di rumah- rumah yang berlanjut kepada habits sosial.  Bisa dibilang, orang tua malu jika anaknya tidak pandai mengaji, tidak berangkat ke surau, seolah itu aib.

Bedakan dengan budaya Indonesia yang tentu masih jauh dari gambaran ini. Bukannya tidak bangga jadi orang Indonesia, tapi kita sudah sepatutnya iri dengan kebaikan orang lain, apalagi jika  sudah sampai kepada tatanan komunitas. Wah kayaknya keren ya kalau Indonesia menyalakan gerakan cinta Al-Qur’an seperti ini.

Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi salah satu tempat dimana anak-anak menghafal qur’an saya pun berkesempatan untuk sedikit sharing dengan mereka dan gurunya. Mereka mulai menghafal al-quran pada umur 5-15 tahun. Program dimulai dengan membaca huruf hijaiyah-qur’an- dan start mulai menghafal. Untuk program tahfiz maksimal 2 tahun sudah selesai 30 juz.

Di sini mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Semengara gurunya tidak ada persyaratan yang harus dia penuhi asalkan sang anak siap dan ingin bersungguh sungguh menghafal dan mengaplikasikannya di kehidupan seharihari, dengan kegiatan yang full seharian untuk menghafal quran mulai subuh hingga isya.

Satu lagi yang aku sukai dari karakteristik orang sini ialah kebiasaan mereka dalam memuliakan tamu. Tanpa memandang warna kulit, kasta sosial, maka tamu yang berhadir dijamu seperti raja layaknya saudara dekat mereka sendiri.

Makan dan minum yang enak, yang kadang mereka pun jarang menikmatinya. Sematamata ingin tamunya senang dan kerasan.  Sehingga persaudaraan akan tumbuh dengan sendirinya. Keramah-tamahan itu tentu tidak sekedar basa basi melainkan terlihat nyata.  Itu juga yang membuatku rindu dengan tempat ini.  

Bukan berarti, Pakistan sepi dari masalah ya. Pergolakan politik, kesenjangan sosial, termasuk migrasi rakyat Afghanistan ke Pakistan tentu menjadi sorotan tersendiri. Isu Sunni-Syiah juga kerap menjadi perbincangan. Pergolakan politik Pakistan yang turun naik terkait pemerintahan, namun lebih banyak menyangkut kepada keamanan, perihal terorisme.  Sudah wajar di sini apabila suatu saat datang informasi dari KBRI Islamabad untuk tidak pergi ke suatu tempat atas informasi intelejen Pakistan bahwa tempat tersebut akan terjadi penyerangan dari berbagai kelompok dengan berbagai ideologi, seperti Taliban Pakistan yang bermarkas di North Waziristan.

Tidak selesai sampai di situ, masalah refugee Afghanistan menambah tingginya tingkat kesenjangan sosial di Pakistan dikarenakan mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konflik Sunni-Syiah yang kerap terjadi ketika hari 10 Muharram dan Hari maulid nabi Muhammad SAW sering memicu insiden tembak menembak ataupun bomb blast yang  tidak dapat terhindari. Saya berkeyakinan bahwa Ilmu bisa di timba darimanapun asalnya dan ajal akan menjemput dimanapun kita berada entah di daerah yang aman maupun daerah yg bergejolak konflik seperti di Pakistan.

Namun justru ini menjadi tantangan kami semua untuk semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta dan semoga apapun tantangan yg sedang saya hadapi di sini menjadi pelajaran dan memudahkan jalan kedepannya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Aamin ya Rabbal’alamiin. [Seperti yang dituturkan Aldila Putra Ramadhan kepada Redaksi/Alga Biru]  

Menangkap Inspirasi Dengan Diary

Menulis adalah sebuah aktiitas intelektual yang keren banget. Saat menulis, kita tengah  menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati ke dalam media tulisan agar orang-orang yang baca tulisan kita tercerahkan.Jadi ladang pahala deh.

 Karena penting bangetnya menulis, banyak ulama yang menghabiskan separuh umurnya untuk menulis berbagai kitab. Mereka ngerti banget bahwa menulis akan membuat ilmu menjadi lebih bertahan lama. Ilmu akan bisa tetap dinikmati dan dimanfaatkan walaupun para ulama itu telah wafat bertahun-tahun lalu. Karenanya buku menjadi warisan luar biasa dari para ulama. Sekarang ini kita masih bisa memperoleh keluasan ilmu Imam Syafi’i, itu karena beliau menulis buku.

Coba kalo dulu beliau cuma mengajar saja kepada murid-muridnya, dan tidak menulis buku, tentunya ilmu beliau tidak akan bisa dinikmati sedemikian banyak orang hingga  jaman sekarang ini. Karena itulah menulis buku jadi penting banget. Ah nulis buku kan susah. Tebel dan bakalan capek nulisnya. Kalo mandeg di tengah-tengah gimana? Kalo inspirasinya mampet gimana? Yang kayak gini nih yang menghambat D’riser untuk mulai menulis buku.

Padahal semua keluhan itu cuma ilusi yang dihembuskan setan agar kita nggak mau mulai menulis. Semua itu cuman ketakutan yang nggak beralasan. Yuk kita bahas soal inspirasi. Menulis emang perlu inspirasi. Dengan kata lain, nulis itu perlu ide, lha kalo nggak ada ide terus kita mau nulis apa?! Terus dari mana sih kita mendapatkan inspirasi ini? Sebenernya jawabannya cukup sederhana lho. Kehidupan ini adalah inspirasi.

Selama kita masih hidup maka pastilah kita akan selalu mendapatkan banyak inspirasi untuk dituliskan. Salah satu hal yang paling luar biasa yang diciptakan Allah Swt. adalah kehidupan ini. Allah nggak akan pernah menciptakan hal yang sia-sia dan nggak ada gunanya, makanya kehidupan adalah sesuatu yang amat luar biasa. Hidup setiap orang udah diciptakan Allah dengan luar biasa, termasuk kita semua, hidup D’rises juga.

Dengan kata lain, lihat deh  kehidupan kita, dari hal-hal yang paling sederhana, perhatikan, amati, dan kita akan menemukan bahwa di sana bertaburan hal-hal yang luar biasa yang amat layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebagai awal yang baik, mulailah menulis hal-hal sederhana dalam kehidupan kita. Kita bisa menuliskan betapa indahnya Allah membentuk wajah kita. Kita juga bisa menuliskan orang-orang yang ada di sekitar kita: ayah, ibu, adik, kakak, dan keluarga kita yang lainnya. Bagaimana keadaan kamar kita juga bisa dituangkan. Pergaulan dengan temanteman di sekolah atau cara ngaja guruguru kita yang killer juga bisa dituliskan. Dari sini, kita sudah mulai menulis catatan harian yang bahasa gaulnya disebut diary.

Eit, jangan minder dulu, nulis diary bukan cuma kebiasaan anak gaul labil yang nggak tentu arah. Nulis diary adalah sebuah kebiasaan intelektual yang keren banget lho. Orang-orang besar dalam sejarah umat manusia biasanya nulis diary, dan di dalam diary itulah mereka menumpahkan segala keluh-kesah dan pemikiran mereka tentang kemajuan dan perlawanan terhadap tirani. Diary pulalah yang akan merekam sepak terjang dan perjuangan mereka hingga lembar-lembar terdalam.

Dari menulis pengalaman-pengalaman kita seharihari aja kita udah bisa bikin berlembarlembar buku lho. Dan kebiasaan ini kemudian dijadikan starting point untuk menulis bentuk-bentuk tulisan lainnya, yang tentu saja bakalan lebih mudah kita kerjakan karena sudah terbiasa dari nulis diary. Eksplorasi  inspirasi pun jadi lebih mudah karena kita udah menempa pengalaman dari nulis diary. Ada lho orang yang catatan hariannya diterbitkan menjadi buku, dan bahkan diary itu mengungkap fakta-fakta sejarah dan kondisi sosial pada zaman hidup penulisnya.

Seperti ‘The Diary of Anne Frank’, catatan harian seorang gadis remaja yang tinggal di Amsterdam pada masa Nazi Jerman menyerang Belanda. Dari catan hariannya yang berhasil lolos dari Perang Dunia Kedua itulah kita jadi tahu bagaimana romantika dalam persembunyian. Diary itu pula yang mengungkapkan bagaimana orangorang pada zaman itu menyelamatkan diri dari pembantaian Nazi Jerman.

Di negara kita, sebut saja Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Indonesia dari etnis China yang menjadi aktifis pada masa pemberontakan PKI dan peralihan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Diary-nyayang bertajuk Catatan Harian Seorang Demonstran mengungkap berbagai kondisi sosialpolitik pada zaman itu, dan sudah lama diterbitkan. Berdasarkan diary itu pulalah sebuah film layar lebar dibuat. Dia telah menjadikan hidup dan  kehidupannya sendiri sebagai sumber  inspirasi dan kemudian menuangkannya dalam tulisan. Dari sekarang yuk kita mulai menulis. Jangan kebanyakan mikir, mulai aja nulis di buku harian. Yuk![]

Cara Menyikapi Orang yang mengejek Kita

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Saya siswi SMP, di kelas saya berupaya untuk dakwah pada teman, namun lama-kelamaan saya menjadi di asingkan atau terasingkan, teman semua memandang saya “sebelah mata”, tapi saya berusaha sabar dan mengambil hikmahnya. Bagaimana cara menyikapi orang yang mengejek kita, apakah hanya dengan diam saja? (Nisa, Bajarmasin)

 Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik  Nisa yang baik, Alhamdulillah, di usia Adik yang masih  muda sudah ikut serta berdakwah, menyerukan Islam kepada teman-teman. Dakwah adalah aktivitas mulia, amanah dari Allah SWT untuk seluruh kaum muslimin. Para Nabi dan Rasul mulia dikarenakan amanah dakwah ini, begitu pula kaum muslimin yang melaksanakannya akan diberikan kemuliaan sebagaimana mereka. Berdakwah, menyeru kepada Islam adalah sebaik-baik perkataan.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan dan berkata “Sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushilat ( 41) :33).

Allah SWT menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang melakukan aktivitas dakwah.  Dik Nisa yang baik,  Saya bisa merasakan apa yang Adik rasakan. Merasa sedih dan kecewa dengan sikap teman-teman.  Rasulullah saw bersabda Islam pertama kali datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.

Sosok mulia Rasulullah pun tidak lepas dari ejekan saat mendakwahkan Islam.  Sudah menjadi Sunatullah ketika kita mengajak pada kebaikan, maka akan ada respon yang beragam dari orang. Sebagian menerima, dan sebagian lainnya menolak dan menganggap apa yang kita sampaikan asing alias “aneh”, sebab Islam memang sudah sangat jauh dari benak dan kehidupan kaum muslimin saat ini. Saat diejek, tentu ada perasaan kita yang tidak rela dan tidak terima. Ini adalah hal yang wajar, dikarenakan manusia mempunyai perasaan (naluri) mempertahankan diri ketika ada sesuatu yang mengusiknya.  

Subhanallah, selama ini Adik sudah berusaha untuk bersabar dan mengambil hikmah dari sikap teman tersebut. Itulah sikap terbaik seorang muslim. Ketika diejek tidak terpancing emosi, tidak membalas, tetapi bersabar menghadapinya. Allah SWT memerintahkan kita untuk bersabar dan  tidak menghiraukan sikap mereka 

Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukup Allah sebagai pelindung ”(QS. Al-Ahzab: 48).

Kesabaran membuahkan pahala yang besar dari Allah SWT. Jadikan sikap teman yang negatif sebagai ujian untuk meningkatkan derajat kemuliaan Adik di hadapan Allah SWT.  Dik Nisa yang baik, Allah SWT melarang mengejek, mencela  orang lain. “Janganlah mencela karena bisa jadi yang dicela lebih baik dari yang mencela” (Q.S. AlHujaraat ayat 11).

Saat teman mengejek, jawablah dengan bahasa yang positif dan cobalah secara  khusus mengajaknya berbincang untuk mencari informasi penyebab ia mengejek kita, dan meluruskan pemahamannya yang salah terhadap aktivitas dakwah yang kita lakukan.  Berilah pemahaman bagaimana pandangan Allah SWT terhadap aktivitas mengejek, bisa berbincang secara langsung, memberinya buku Islam atau menjelaskan lewat medsos.

Nasihat kita diterima atau tidak, tetaplah bersikap baik pada mereka.  Do’akanlah orang yang mengejek kita dengan kebaikan. Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia” (QS. Fushilat : 34)

Wallahu’alam…

Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri

Seolah hanya malam yang suram yang  mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb. Tak ada siang  sama sekali, tak ada cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada setan. Mereka memang sudah bergandengan tangan. Seorang Menkheperesseneb memang harus begitu, dialah penguasa Heka tertinggi di seluruh negeri Mesir.

Dialah orang kedua setelah Fir’aun sendiri. Menkheperesseneb harus selalu menyertai sang raja, dan menopang tiraninya. Separuh kekuasaan seorang Fir’aun bisa saja runtuh, jika tidak ada seorang Menkheperesseneb di sisinya. Dan menghilangnya Menkheperesseneb adalah sebuah guncangan besar bagi Ramesses dan seluruh Mesir. Nama aslinya Bakhoum Fanoush. Dialah Hekau terhebat yang menjadi kepercayaan Ramesses, dia seorang Menkheperesseneb.

Dialah penyihir paling mahir dalam derajat yang paling dimuliakan. Seharusnya dia selalu menyertai Ramesses, dan berdiamnya dia di tepian Sungai Nil yang sunyi, bukanlah tanpa alasan. Bakhoum adalah seorang lelaki yang gagah. Tubuhnya kekar dalam balutan kulit cokelat khas orang Qibthi. Wajahnya tampan, pada awalnya, tetapi setiap ritual Heka yang  dilakukannya sejak sekian lama selalu menuntut pengorbanan. Maka wajahnya yang tampan tinggallah impian, yang tersisa hanyalah mata yang membelalak besar di bawah alis yang tebal.

 Hidungnya sekadar mencuat dan bengkok dengan bulu hidung yang gondrong, melanggar garis batas di lubang hidungnya. Bibirnya yang besar dan monyong dibingkai garis wajah yang keras berbentuk trapesium. Tak ada sehelai pun kumis atau janggut pada wajah yang amat tidak karuan itu, yang ada hanya bulu hidung, yang kalau tertiup semilir angin dia melambai-lambai. Sang Hekau berdiri tegang di depan pintu gubugnya.

Dia menengadah ke langit malam, sementara tangannya mencekik leher seekor anak kambing hitam kuat-kuat. Saat matanya terbeliak ke arah bintang, cengkeraman tangannya pada leher anak kambing yang malam itu semakin kuat, sementara tangannya yang lain menggenggam moncong anak kambing itu agar tidak mengembik. Bibir Bakhoum mulai bergerak-gerak, merapalkan mantra yang dianggapnya suci, sementara tangannya yang mencengkeram terlihat gemetar saking kuatnya. Leher anak kambing yang malang itu pun patah, nyawanya telah pupus. Tetapi kemudian Bakhoum mengangkat bangkai anak kambing itu ke wajahnya, lalu dia gigit leher anak kambing itu dengan beringas. Seperti seekor serigala gurun yang sedang  mencabik-cabik mangsanya.

Darah pun berhamburan di mana, mengucur dari lubang di leher anak kambing itu. Bakhoum pun melangkah mundur, sambil membiarkan darah yang mengucur itu membasahi tanah di sekitar gubugnya. Dia sedang membuat garis darah di sekeliling gubugnya. Ritual itulah yang membuatnya tidak pernah ditemukan selama sepuluh tahun. Asalkan dia berada di dalam lingkaran darah itu, dia akan aman. Hanyalah orang-orang yang diinginkannya saja yang bisa menemuinya. Namun dia tidak akan bisa menghindarkan diri dari datangnya suatu hari yang akan membuatnya terkejut setengah mati. 000 Tak banyak kata yang keluar dari mulut Bakhoum.

Seorang Menkheperesseneb memang ditakdirkan hidup di dunia yang sunyi. Dia hampir tidak mengenali bahasa manusia lagi, hanya bahasa setan. Ketika dia masih berada di sisi Ramesses pun dia tidak banyak bicara, tidak pula banyak muncul di tengah orangorang, dan dia terus hidup di belakang bayang-bayang. Dia hanya muncul ketika  diperlukan. Bakhoum sedang duduk bersila di hadapan perapian dalam gubugnya.

Kedua tangannya terletak di atas pahanya, dan pakaian putih panjang itu masih dikenakannya. Dia menatap ke dalam api yang  menggelora itu seakan-akan bicara dengannya. Pendar-pendar api menari-nari di bola matanya, menyiratkan kesesatan yang suram. Tiba-tiba dia tersenyum, dan senyum itu penuh dengan rahasia. Apakah ada sesosok setan yang sedang bicara padanya? Tetapi tiba-tiba alisnya yang tebal melengkung dan dahinya berkerut. Sikap itu diikuti gelengan pelan, seolah ada sesuatu yang dikatakan setan itu yang tidak bisa diterimanya.

“Tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan aku,” gumamnya pelan. “Siapakah hekau di Mesir ini yang lebih kuat dari aku?” Keheningan kembali merajalela, yang ada hanya retih-retih di perapian. Tampang Bakhoum makin tidak enak dilihat, raut yang penuh tanda tanya tadi kini telah berubah menjadi air wajah yang kesal dan tidak terima. Tiba-tiba Bakhoum bangkit dengan gusar dan menjungkirbalikkan meja di dekatnya. Meja itu penuh dengan barangbarang dan benda-benda sihir. Gubug yang sudah berantakan itu kini menjadi makin porak-poranda.

“TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARIKU!!!” Pekik Bakhoum. “TIDAK ADA!!!” Telunjuk Bakhoum teracung lurus kepada perapian, padahal dia hanya sendirian di dalam gubug itu. Jika tidak ada  orang di sana, maka kata-katanya ditujukan kepada setan. Dan  setan itu, mungkin saja, hadir di perapian.  “AKAN AKU MUSNAHKAN DIA!” Bakhoum berkacak pinggang. “AKAN AKU BUNUH DIA DENGAN HEKA TERKUAT. AKU TIDAK PEDULI SIAPA PUN DIA!!!” Meletuplah perapian itu, seolah ada seseorang yang meniupnya. Namun Bakhoum tidak gentar, dia tetapi berdiri gagah di depan perapian. Lagi-lagi dia menuding-nuding kobaran api.

“JANGAN PERNAH KAU HALANGI AKU!!! TUGASMU ADALAH MENDUKUNG AKU SEPENUHNYA! SAMPAIKAN KEPADA ANUBIS BAHWA AKU BERTEKUK LUTUT PADANYA, MEMOHON PERLINDUNGANNYA!” Kesunyian pun meremang, merayapi permukaan kembali. Bakhoum terdiam, detak kayu bakar yang dimakan api seakan kalimat-kalimat setan. Air wajah Bakhoum makin kecut, tiba-tiba dia membelalak dan suaranya mengguntur memenuhi ruangan itu.

“TIDAKKAH KAU BISA BERHENTI?!!! JANGAN TAHAN AKU LAGI! TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARI AKU!” Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Bakhoum dan perapian itu, tetapi tiba-tiba sebuah senyum terkembang dari bibirnya yang hitam dan keras, dan terdengar pintu gubug itu digedor dari luar. Bakhoum menoleh ke arah pintu dan menghampirinya. Tangannya terarah kepada gagang pintu dan dibukanya.

Tepat di ambang pintu ada sekelompok prajurit berkuda yang menatap tajam kepada Bakhoum. Ahli heka itu berdiri gagah di hadapan mereka seolah mengetahui siapa mereka semua. Turunlah salah seorang dari mereka dari kudanya dan menghadap Bakhoum. “Akhirnya kami berhasil menemukan Anda, Yang Mulia Menkheperesseneb,”

“Bagaimana kabarmu, Haman?” Tanya Bakhoum. “Kami berjuang mati-matian untuk menemukan Anda, dan kami bersusahpayah melakukannya. Leher kami taruhannya jika tidak menemukan Anda.” Haman berlutut di hadapan Bakhoum dan semua prajurit turun dari kudanya, kemudian melakukan hal yang sama.”  “Ada orang yang datang mengacau di Thebes?” Kata Bakhoum. “Benar, Yang Mulia,” sahut Haman.

 “Namanya Musa.” “Benar, Yang Mulia.” Rasa kagum  kembali bersemi di dalam hati Haman. Dia belum sama sekali menyampaikan apa tujuan kedatangan mereka, tetapi Bakhoum sudah tahu. Menkheperesseneb memang luar biasa. “Aku cukup penasaran, kalian bisa menemukan aku, tetapi kalian tidak perlu mengatakannya kepadaku,” Bakhoum mengangkat tangan kirinya, dan semua orang menyaksikan apa yang dia lakukan.

Tangan kanan Bakhoum pun terangkat, diarahkannya ke dadanya dan ditekannya di sana. Mendadak pecah suara jeritan yang muram dari tengah-tengah prajurit Mesir itu. Semuanya terlonjak kaget. Suara jerit itu kemudian silih berganti dengan suara muntah yang mengerikan, seakan seisi perut keluar dari kerongkongan. Keluarlah seseorang yang melangkah tergopoh-gopoh dan membungkuk sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Di depan barisan prajurit, orang itu ambruk dengan memuntahkan darah. Bukan cuma darah, tetapi juga berbagai hal menjijikkan lainnya, isi perutnya, berikut cacing-cacing dan belatung.

Dan orang itu tak asing lagi. “Yang… Mulia… aaaahhkkk!” “Aku percaya padamu, Ramzi, tapi  kau mengkhianatiku. Inilah ganjaran untukmu.” Haman terbelalak melihat apa yang terjadi pada Ramzi Yassa. “Dialah orang yang memberitahu keberadaan Anda!” “Aku tahu!” Sahut Bakhoum sambil mendelik kepada Haman. Dan jawaban pendek itu menancapkan kengerian di hati Haman, bahwa lelaki di hadapannya adalah Hekau terbesar yang pernah dimiliki Mesir.

Pastilah Musa takkan kuat melawan Hekau terhebat ini! Tetapi bahkan setan pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Takkan ada yang menyangka, keputusan apa yang akan diambil oleh Hekau terbesar itu.[]