Cara Menenangkan Hati

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Mbak, akhir-akhir ini hati saya galau, gelisah

tidak tahu kenapa. Saya sudah coba refreshing

dengan jalan-jalan, rekreasi, tapi tetap saya

merasa gelisah. Gimana menghilangkan

kegelisahan ini? (Wafa, Kalsel)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Wafa yang baik, Hati merupakan karunia yang diberikan  Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Dengannya Kita dapat merasa senang, bahagia, sedih, kecewa, bangga dan lain sebagainya. Dengannya pula kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Dalam kehidupan sehari hari kita sering dilanda rasa gelisah dan cemas akibat tekanan hidup dan berbagai masalah yang menimpa. Saat gelisah berarti hati Kita merasa tidak tentram, merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, dan cemas. Kegelisahan terjadi karena adanya keridaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang sesungguhnya.  

Kadangkala seseorang dilanda kecemasan dan kekuatiran dengan penyebab yang tidak jelas, tidak diketahui atau tidak disadarinya. Kegelisahan yang meliputi seseorang sering mengganggu aktifitasnya.

Saat ia gelisah, akan menjadikannya tidak bisa konsentrasi sepenuh hati mengerjakan sesuatu, bahkan bisa jadi tugasnya terbengkalai.

 Dik Wafa yang baik, Hal pertama ketika Kita mengalami  kegelisahan adalah mencari tahu penyebab kegelisahan kita. Jika Kita telah menemukannya, maka hilangkanlah penyebab tersebut. Semisal, Kita gelisah sebab berkata kasar ke orang tua, maka setelah menyadari sebab kegelisahan Kita, segeralah untuk meminta maaf kepada mereka.

Terkadang Kita telah menyadari sebab kegelisahan Kita, akan tetapi terasa tidak kuasa untuk menghadapi dan menyelesaikan cobaan yang menjadi sebab kegelisahan.   Dalam kondisi ini bersabarlah. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Sabar dapat menenangkan hati, dan menstabilkan pikiran akibat beban yang berat. Adukan semua masalah hanya kepada Allah SWT, karena Dialah sebaik-baik penolong bagi hamba-Nya.  Dik Wafa yang baik,  Senantisalah berpikir positif (positive  thinking).

Hal ini akan membantu Kita mengatasi rasa gelisah yang sedang melanda. Dengan berpikir positif, maka segala kesulitan dan masalah yang ada akan lebih mudah untuk dihadapi. Berpikirlah positif,  akan selalu ada kemudahan di setiap kesulitan.

Yakinlah bahwa Allah SWT memberikan ujian pada Kita untuk menguji keimanan Kita, dan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, serta pasti dapat Kita lalui.

 “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).  

Dik Wafa yang baik, Ketika kegelisahan menyelimuti hati,  mendekat pada Allah SWT adalah cara yang paling tepat untuk mengatasinya. Mendekat kepada Allah SWT, yang menciptakan Kita dan mengurus seluruh keperluan hamba-Nya. Mendekat kepada-Nya yaitu dengan senantiasa mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, termasuk memperbanyak ibadah ruhiyah.

Bisa dengan meningkatkan kualitas shalat wajib Kita, menambah shalat sunah, membaca Al Qur’an, membasahi lisan, hati dan perbuatan dengan berdzikir. 

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Itulah beberapa hal yang bisa Kita lakukan untuk mengatasi kegelisahan. Semoga hati Kita selalu dalam ketenangan, karena sesungguhnya Allah bersama kita.  Allahumma aamiin.. []

Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial

Anak sekarang sibuk

main gadget melulu, deh!”

“Ngapain, sih, kamu tiap detik

kerjaannya cuma ngecek chat

sama media sosial?”

Eits,,.jangan baper ya. Sebagai orangtua, saya sering dapat keluhan seperti di atas dari ortu yang punya  anak remaja. Nggak cuman ayah dan ibunya, terkadang kakek-nenek, ortu, atau kakaknya juga ikut-ikutan ngomel.

Gimana nggak, hari gini remaja dan gadget itu ibarat dua sejoli. Kemana aja selalu barengan. Kalo udah gitu, yang lain dicuekin. Makanya kalo ortu pada bete.  Lagi diajakin ngomong, kepalanya nunduk bukan lantaran hormat.

Tapi lagi asyik updet status. Hadeuuh..! Ya emang gitulah potret kecil ukuran 2 x 3 dari generasi millenial. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di dunia maya daripada dunia nyata. Eksistensi mereka begitu massif dengan mengupload puluhan selfie, foto makanan, dan lokasi liburan eksotis di sosmed mereka setiap minggu.

Eksis abis! Btw, udahtahu generasi millenial kan? Hah, belum?! Hadeuh…#tepokjidat. Kalo gitu kita kenalan dulu deh dengan generasi millenial. Biar bacanya nyambung. Yuk! Generasi

Millenial adalah…

Ada banyak definisi tentang  karakter Generasi Millenial yang biasa disebut millenials, tetapi yang dipakai dalam tulisan ini adalah definisi versi Strauss dan Howe (2004). Menurut definisi Strauss dan Howe, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir tahun 1982-2004 (milenium), sehingga menjadi remaja dan dewasa di era 2000-an.

Termasuk kamu dong, ya? ± Pada tahun 2014, lembaga Crowd DNA mengadakan survei online terhadap 1,000 anak muda usia 13-24 tahun di Indonesia. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa teknologi benar-benar merevolusi cara anak muda saling terhubung. Sekitar 90% dari anak muda yang disurvei tersebut mengaku menggunakan teknologi untuk terhubung dengan teman-temannya dan 78% mengaku menggunakan media sosial tiap hari.

Pastinya! Anak-anak muda Indonesia terbukti memakai smartphone seharian dan 84% dari mereka mengaku nggak bisa keluar rumah tanpanya. Mereka lebih suka “nongkrong” di dunia maya (55%) daripada di mall (47%) atau kafe (42%) dan mereka punya rasa Fear of Missing Out (FOMO) alias takut nggak update atau ketinggalan  informasi kalau nggak terhubung dengan internet.  

Masih menurut sebuah studi yang dilakukan Crowd DNA untuk Facebook di 2014, pada 11.000 remaja dari 13 negara, termasuk Indonesia ditemukan bahwa remaja Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok Generasi Millenial yaitu HyperConnected, Architects, dan Explorers.

Kehidupan generasi HyperConnected (usia 13-15 tahun) berkisar antara keluarga dan teman-teman dan teknologi terjalin dalam setiap bidang tunggal kehidupan mereka. Kelompok ini menempatkan nilai tertinggi pada media sosial dan perannya dalam kehidupan  mereka.

Sementara kelompok Architects (usia 16-19 tahun) adalah kelompok yang bergairah tentang pendidikan dan mulai berpikir tentang masa depan dan tujuan hidup mereka. Mereka adalah kelompok yang paling terbuka untuk berbagi rincian kehidupan sehari-hari mereka. Sedangkan Explorers (usia 20-24 tahun) yang menggunakan teknologi lebih dari sekedar sarana untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga, tetapi juga sebagai jalan untuk belajar tentang penyebab dan budaya global saat mereka memasuki usia dewasa.

Mereka paling banyak terlibat dengan brand dan konten dari brand. Nggak heran kalo Millenials selalu dicari dan didambakan oleh para pemasar  dan brand. Lantaran generasi ini selalu terhubung, berubah-ubah tetapi memberi pengaruh sebagai penentu tren yang dapat membuat atau menghancurkan brand. Kebayang kan kalo mereka udah pada nyerocos di dunia maya tentang pengalaman buruknya pakai sebuah brand, viral!

Konsumtif, Digital, Anti Sosial

Millenials hidup di era digital  dengan segala kecanggihan teknologinya. Dari urusan pertemanan hingga pekerjaan, mereka sangat mengandalkan gadget dan internet untuk tetap terhubung satu sama lain. Sayangnya, generasi yang lebih tua sering mencap para millennials dengan stereotype yang sama, yaitu malas dan narsis! Benarkah? Mendingan kita intip yuk ciri-cirinya.

Gaya Hidup Digital Millenials memiliki karakteristik  yang khas. Lahir di zaman TV sudah berwarna, flat, LED, dan memakai remote dengan sajian siaran tv berlangganan dengan bejibun channel informasi, olahraga dan hiburan. Sejak masa sekolah, mereka juga sudah terbiasa menggunakan handphone.

Bahkan tiap keluar edisi terbaru, mupeng pengen ganti smartphone yang super canggih dan mumpuni.  Internet menjadi kebutuhan pokok Millenials. Mereka berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun dan kapanpun. Eksistensi sosial ditentukan ‘prestasinya’ di dunia maya. Mulai dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, hingga ikut latah cantumin #hashstag yang lagi viral.

Pokokya updet banget! Wajar kalo generasi millennial juga menghabiskan hidupnya hampir senantiasa online 24/7. Menurut riset Social Lab, 58  persen generasi millennial lebih rela  kehilangan indra penciuman, dari pada akses terhadap teknologi. Generasi millennial lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar.

Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel. Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi millennial sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya.

Banyak dari kalangan millennial melakukan semua komunikasinya melalui text messaging atau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line. Akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca.

Jadi, hampir semua generasi millennial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. Konsumtif Kepercayaan yang  amat tinggi terhadap tingkat keamanan bertransaksi di dunia maya—plus menjamurnya online shop—bikin Millenials lebih konsumtif. Kadang-kadang, konsumtif BANGET.

Apalagi dengan kemudahan pembayaran non tunai alias cashless, mereka makin terhanyut dalam gaya hidup sophaholic. Tinggal pilih barang yang mau dibeli, gesek di kasir, beres. Praktis! Terbukti, menurut survei CROWD DNA, metode pembayaran favorit Millenials adalah kartu debit (38%). Pokoknya kartu debit menjadi pilihan utama, dibandingkan e-banking (5%), mobile banking (7%), ataupun  uang elektronik (4%). Egosentris Millenials terbiasa mengutarakan  pendapatnya di publik dengan bebas, entah itu pendapat positif, negatif, mendukung, ataupun menyerang. Cek aja komen di akun sosial media artis yang lagi kena kasus.

Dijamin rame komentar pro dan kontra. Mereka memang nggak ragu untuk ngeluarin uneg-unegnya dengan memuji, mencela, termasuk spammer alias jualan di publik, hihihi. Millennials dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starb*cks, padahal di kosan hanya makan mie instan. Cuek aja, yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial.

Yang penting follower-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS.

Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita! Generasi kita juga dikenal cenderung idealis, egosentris, terlampau optimis dan tidak realistis. Saat terbentur masalah cenderung berpikir pendek, cari  jalan pintas dan lari dari kenyataan sambil bernyanyi “lumpuhkanlah ingatanku…”

Kontribusi Millenials

Internet tidak hanya mengubah  gaya hidup, tapi juga peradaban dan generasi. Melalui teknologi digital, generasi millennial tumbuh kreatif, berinovasi, dan membentuk ekonomi Indonesia.

Apalagi saat ini segala aktivitas selalu bersentuhan dengan internet. Mereka menemukan caranya sendiri untuk terhubung dan terkoneksi dengan orang lain lewat media sosial, seperti Twitter, Facebook, Path dan sebagainya.

Tidak ada lagi jarak, dan semua saling terkoneksi. Mereka merubah tatanan nilai dan gaya hidup selama ini menjadi serba digital. Dengan adaptasi teknologi, ide kreatif dan orisinil untuk mengakomodir semua aktivitas mereka jadi lebih mudah.

Muncullah berbagai inovasi gaya hidup digital yang revolusioner dan melahirkan sejumlah startup di Indonesia. Nadiem Makarim, yang juga merupakan bagian dari generasi millenial, membangun startup ojek online yang menjadi sebuah solusi di tengah macetnya ibukota Jakarta.

Tidak hanya itu, Gojek yang juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan para supir ojek, telah menciptakan tren baru di Indonesia, yang mana para millennial berlomba-lomba untuk menciptakan karya yang berdampak bagi masyarakat luas.

William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, adalah salah satu yang menggerakkan perubahan di dunia ecommerce. Dimulai dengan mendapatkan investasi sebesar 100 juta dolar Amerika dari Softbank dan Sequoia, perusahaan investasi yang telah mendukung sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Google, Whatsapp, lalu William memimpin pasukan millennial di Tokopedia, untuk menciptakan nilai tambah bagi para penjual dan pelanggan Tokopedia.

Tidak hanya di perekonomian. Banyak perubahan yang dibawa oleh millennials menggunakan platform digital. Kitabisa.com yang digagas oleh Alfatih Timur bersama Vikra Ijas, misalnya membawa perubahan di ranah sosial.

Peristiwa pembakaran Masjid Tolikara pada saat shalat berjamaah Idul Fitri 2015, banyak menimbulkan keprihatinan di berbagai lapisan masyarakat. Berkat platform crowdfunding untuk sosial Kitabisa ini, Pandji Pragiwaksono berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kembali masjid tersebut sebanyak Rp 300 juta hanya dalam waktu tiga hari. Jadi, nggak ada salahnya ‘kan Millenials berkutat dengan Internet dan media sosial? Karena potensi Millenials memang bisa berkembang pesat di sana. Hobi surfing di dunia maya juga nggak bikin Millenials kehilangan “akar” di dunia nyata, kok. Setuju?

Saatnya Berkarya dan Berkontribusi!

Nggak bisa dipungkiri,  tiap generasi ada plus minusnya. Senior kita yang hidup di era generasi X atau baby  boomers, ngerasa  generasi mereka yang terbaik dan memandang sebelah mata generasi millenial. Boleh jadi, kita pun bakal melakukan hal yang sama terhadap junior kita kelak. Podo wae! Sebenernya nggak penting generasi mana yang terbaik. Lantaran beda generasi, beda lingkungan dan sarana kehidupan.

Nggak bisa dipukul rata. Yang penting, setiap generasi wajib berkontribusi. Berlomba-lomba jadi pelaku kebangkitan umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya jadi penonton yang rusuh berkomentar di dunia maya tanpa kerja nyata.  

Dan kita selaku Millenials, nggak usah baper kalo dibilangin generasi malas bin narsis oleh para pendahulu kita. Boleh jadi banyak temen-temen kita yang kelakuannya kaya gitu sebagai bawaan era digital. Nggak perlu kita capek membela diri. Yang harus kita lakukan adalah tunjukkan dengan berkarya dan berkontribusi. Show, dont tell! Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?  

Pertama, mengenal Islam lebih dalam. Buat apa? Ish…ini penting banget tahu. Biar kita nggak gampang tergoda oleh kemaksiatan digital yang merajalela. Mulai dari content porno yang mudah diakses, upload foto narsis, atau omongan semau gue di sosial media. Kalo lagi sendiri, bisikan setan menemani, dengan kekuatan akidah kita bisa jaga diri.  

Terlebih, agar tetap bisa terus berkontribusi untuk kebaikan, perlu mencari dorongan kuat yang bikin kita pantang menyerah. Itu bisa kita dapat dari dorongan akidah. Berkontribusi sampai nanti, sampai mati. Rasul mengingatkan,  “..Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kedua, aktif berdakwah di sosial media. Seperti halnya kita, teman-teman sebaya juga pada aktif di sosial media. Ada yang curcol di timeline, narsis, hingga bisnis. Biar aktifititas online mereka nggak sekedar buang waktu, sodorin deh content dakwah yang kita share. Jangan takut kehabisan bahan dakwah. Follow aja akun-akun dakwah yang oke punya. Selain kita dapat ilmu, juga insya Allah banjir pahala juga dengan membagikan nasihat mereka. Oke?

Ketiga, gali potensi. Hari gini, gampang banget kita cari ilmu dengan bantuan om google atau kepoin akun-akun bermanfaat di sosial media. Selagi masih muda, banyak kegiatan yang bisa kasih kebaikan buat masa depan kamu. Mulai cari tahu apa yang menjadi passion-mu yang bisa memberikan manfat pada lingkunganmu dan pada orangtuamu. Cari tahu, pelajari ilmunya, pahami polanya, praktekin biar keliatan hasilnya. Kita muda, kita enerjik, dan kita punya banyak ide untuk diwujudkan.

Driser, survei Crowd DNA juga menunjukkan bahwa Millenials adalah anak muda yang optimis. 92% dari anak muda yang disurvei merasa mereka bisa melihat sisi positif dalam setiap situasi, dan 86% yakin generasinya akan mengubah dunia. Karena itu, stop jadi remaja muslim yang labil. Mari mulai berkarya dan berkontribusi! [@Hafidz341]

#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?

Isu yang menyangkut SARA alias Suku, Agama, Ras dan Antar golongan sensitif banget obrolannya di tengah  masyarakat. Malah tak jarang, bisa memicu konfik saking sensitifnya. Makanya banyak yang sungkan ngomongin agama kalo udah dibawa isu SARA. Termasuk kampanye penolakan pemimpin kafir di ibukota negara, belakangan ini.  

Yup, tim sukses DKI 1 yang akan maju lagi pada pilkada, gencar menghembuskan isu SARA guna mengerem dukungan umat Islam terhadap penolakan pemimpin kafir. Padahal jelas, selama ini isu SARA berkaitan dengan tindakan diskriminasi alias ketidakadilan terhadap pihak lain karena perbedaan SARA. Padahal jelas Islam melarang bersikap tidak adil kepada orang lain karena SARA. Allah swt berfirman:

 “… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [QS. Al Maa-idah 8]

Terkait penolakan terhadap pemimpin kafir kalo dikaitkan dengan isu SARA, ya salah alamat. Lantaran penolakan itu bagian dari keyakinan agama yang menjadi hak setiap warga. Dalam Islam, Allah mengharamkan kaum Muslim dipimpin oleh orang kafir, ini kesepakatan ulama, tanpa ada perselisihan, dalilnya jelas, penunjukannya pasti.

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pelindung [pemimpin] selain orang Mukmin” [QS. an-Nisa’: 144]

Ketika Allah mengharamkan pemimpin kafir, Allah pasti juga memberi definisi, yaitu batasan dan penjelasan, tentang siapa dan kapan seseorang bisa menjadi kafir. Yang paling jelas, dalam surat Al-Bayyinah ayat 6, yang disebut Kafir yaitu 1) ahli kitab (yahudi, nasrani) dan 2) orang musyrik (selain ahli kitab, selain Muslim).

 Jadi, isu tolak pemimpin kafir bukan didasari kebencian  pada suku tertentu, ras tertentu, etnis tertentu atau bahkan agama tertentu. Menolak pemimpin kafir dasarnya adalah keterikatan seorang muslim kepada akidah Islam dan syariahnya, dimana Allah SWT telah melarang tegas kaum muslimin haram memilih pemimpim kafir. Setuju?  

Ternyata Isu SARA ini diharapkan akan memalingkan kaum muslimin dari keterikatan pada syariah Islam dalam soal kepemimpinan, khususnya pemimpin bagi kaum muslimin harus seorang muslim. Dengan isu SARA, umat di takut-takuti seolah-olah jika memilih karena dorongan akidah dan ketaatan terhadap syariah dianggap rasis dan SARA. #TolakPemimpinKafir dianggap SARA? Yang Bener Aja..! [@Hafidz341]

Pernikahan Dua Negara

Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak?  

Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu.

Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok untuk saya, tetapi menurut saya harganya masih bisa ditawar. Si abang penjual tiba-tiba nyeletuk “beli aja neng nggak usah ditawar, kan bule mah kaya-kaya”. Rasanya ingin saya colek pakai gegep.  

Bule juga sama aja seperti kita, makanannya masih karbohidrat juga. Mereka fikir setiap harinya bule mengonsumsi emas. Mentang-mentang kulit putih, mata berwarna dan rambut pirang, jadi disamakan dengan bule Amerika yang gajinya pakai dollar. But he is Turkish!

Dan orang Turki bukan orang Amerika! Lagian bule Amerika juga “enggak” semuanya kaya, ada gelandangan juga kok. Ini kok mikirnya semua bule kaya raya.  Contoh lain, kalau si bule “pulang kampung” ke Indonesia. Nah rata-rata pada rame minta oleh-oleh.

Ini kebiasaan orang Indonesia banget! Pas suami ke Indonesia, yang ditanyain pertama kali “bawa oleh-oleh ga?” nanya kabar duluan ngapa. Lah suami juga belinya pake morat-marit, walaupun harga oleholehnya murah tapi kalo dibeli dalam jumlah banyak yaa tetep aja jatuhnya mahal. Kadang mikir kalo saya mudik nggak akan bawain oleh-oleh sekalian.  Ini berbeda banget sama kebiasaan orang Turki kalau tahu kita mau berpergian.

Orang Turki biasanya mengucapkan “iyi yolculuklar”, kurang lebih artinya selamat  menikmati perjalananmu. Dan sekedar info saja, orang Turki nggak pernah loh minta oleh-oleh sama yang berpergian (terutama di keluarga saya). Duh, please banget jangan terus menganggap bule itu hidup dengan gelimangan harta. Beberapa oknum iseng juga suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ketika si bule tidak tahu apaapa, mereka bisa nipu seenaknya.

Pas suami pertamakali ke Indonesia, ada porter  yang nawarin bawain barang, suami kasih 50 ribu tapi dia minta 100 ribu. 50 ribu aja udah kebanyakan, kalo saya tahu, saya akan minta kembali uangnya dan cukup beri dia 5000 rupiah saja.

Bukannya saya pelit, saya hanya tidak bisa menerima “penipuan”. Kalo orangnya jujur, diberi 100 ribu juga kita “engga” rugi. Kalo nipu, simpatinya jadi hilang. Kalau dibiarkan terus nanti jadi kebiasaan.  Di kampung juga masih banyak orang yang punya paham seperti itu. Ada beberapa tetangga yang nyeletuk “enak dong Dea nikah sama bule, pasti banyak duitnya”, duh pengen rasanya saya ajak selfie di puncak monas deh kayanya.  

Beberapa cewek Indonesia juga ada yang keukueuh sumekeuh ingin menikah dengan bule. Alasannya biar hidup lebih makmur. Sampai-sampai tidak peduli si bule masih muda atau sudah kakek-kakek, yang penting berduit. Saya melihatnya miris. Jadi untuk mereka, harta adalah ukuran kebahagiaan. Padahal sejatinya belum tentu banyak harta menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau iya, Robbin William nggak kan milih bunuh diri buat mengakhiri hidupnya.  

Stop mikir semua bule kaya raya, itu pemikiran purba banget. Bule juga manusia, mereka makan nasi sama roti kayak kita  juga. Roti dibikin dari gandum juga kan, bukan emas. Ya memang ada kok bule yang kaya raya, tapi tidak sedikit yang hidupnya biasa-biasa saja. Jadi intinya bule sama aja seperti orang Indonesia. Yang membedakan hanya fisik dan bahasanya.

Tidak semua orang kulit putih hidup serba mewah, tinggalkanlah warisan penjajahan dulu. Hanya karena bangsa Eropa yang pernah menjajah  Indonesia adalah bangsa yang berduit jadi kita menyamaratakan mereka semua dengan generasi bule masa kini.  Yang saya rasakan menikah sama bule ya begini. Saya jadi lebih mandiri karena semua dikerjakan sendiri. Orang Indonesia masih sanggup kan menyewa asisten rumah tangga.

Di sini sewa asisten rumah tangga mahal banget, hanya orangorang super tajir aja yang punya asisten rumah tangga. Menurut saya orang  Indonesia malah  lebih banyak yang kaya raya. Banyak yang punya mobil lebih dari satu, punya rumah pribadi, kontrakan  menyebar dimana-mana, jalan-jalan ke mall terus, barang-barang di rumah branded  semua, pakaian bagus dan lainnya.  

Pengalaman Mengajarkan suami Bahasa Indonesia  

Alkhisah suami saya mengikuti tes untuk pendidikan master di salah satu universitas terkemuka di Ankara. Jurusan yang dia ambil adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan Pelajaran Asia. Suami mengikuti tes untuk jurusan Pelajaran Asia.

Dia sangat optimis bisa lolos di jurusan ini. Karena dia bercerita ke semua penguji bahwa dia punya istri orang Indonesia. Indonesia dan Malaysia adalah negara Asia yang pernah dikunjungi. Ketika penguji bertanya bahasa Asia mana yang dikuasai, dengan mantap dia bilang Bahasa Indonesia.

Para penguji meminta sertifikat kemampuan berberbahasa Indonesia dari suami. Jrengg..deg dag dur..! Suami mengiyakan membawa sertifikat tersebut.  Suami lalu meminta saya membuatkan sertifikat tersebut sesampainya di rumah.

Yaelah masbro, saya mana bisa buat sertifikat begitu. Harus dari lembaga resmi dengan tanda tangan penanggung jawab resmi pula. Akhirnya saya menawarkan alternatif mengikuti tes berbahasa Indonesia di kampus saya di Bandung.

Mungkin bisa saja sertifikat tersebut didapatkan secara online, tetapi ternyata tidak bisa saudara-saudara. Sertifikat tersebut harus didapatkan dengan datang ke tempat tes  berbahasa Indonesia di  negara Indonesia. Informasi tersebut didapatkan dari salah satu dosen saya yang sudah dekat sekali dengan saya. Kabar baiknya, sertifikat tersebut bisa didapatkan tanpa mengikuti kursus berbahasa Indonesia di lembaga resmi.  

Akhirnya demi mempersiapkan diri dalam tes tersebut, suami meminta saya untuk menjadi guru pribadinya. Hari ini saya mulai mengajari suami bahasa Indonesia, beberapa menit berlangsung sangat menarik hingga akhirnya suami menanyakan beberapa pertanyaan yang saya sulit jawab karena terlanjur lupa alias karatan kelamaan banget nggak dipelari. Makin sadar, ternyata banyak ilmu yang sudah terlupakan.

Hampir setahun saya tidak belajar dan hampir setahun saya tidak mengajar juga. Rasanya ya malu, jelas-jelas pertanyaan tersebut jawabannya ada di bidang yang saya geluti selama kuliah 4 tahun.  Intermezzo: Setelah belajar Bahasa Indonesia selama setahun penuh (yang akhirnya saya harus ikhlas kembali membuka materi kuliah selama 4 tahun), suami mencoba mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia yang diadakan oleh KBRI Ankara Turki.

Alhamdulillah keluar sebagai  juara. Hadiahnya adalah tiket pulang pergi ke Indonesia selama 5 hari, mengikuti upacara peringatan 17 agustus di Istana Negara serta kunjungan budaya ke Jakarta dan Jogjakarta bersama pemenang dari 19 negara lainnya. Alhamdulillah. Semoga pelajaran berharga ini, jadi bahan cerita kami kelak ke anak-cucu, aamiin. [Terima Kasih kepada Kak Dea Audia Kursun atas ceritanya kepada Majalah DRISE]