Compulsive Buying Discorder

Majalahdrise.com – Driser, sempat denger kasus si  hermes seharga 950 juta? Itu lho  ‘hermes’ yang harganya nyaingin  biaya ngebangun gedung DPR-MPR itu  ternyata hanyalah “seonggok” tas yang  bernilai fantastik! Waw!  Kebayang nggak, gimana rasanya  make tas seharga 950 jeti itu? Kayanya  sayang banget deh nenteng tas segitu tanpa  dituliskan harganya segede gambreng.  Wkwkwk biar manusia sejagad pada tau  getoh kalau harga tas yang sedang kita  tenteng, seharga dengan ber-ton-ton beras  yang harganya kian mencekik. Inilah gejala  Compulsive Buying Disorder.

Apa itu Compulsive buying disorder?

Pernah nonton 5 confession of a  sophaholic? Nah, bagi yang udah pernah  nonton, pasti bakal nyambung dengan tema  rubrik female corner kali ini. Yup, seorang  sophaholic ternyata memiliki sebuah  gangguan, pemirsah! Yap, tentu saja  compulsive buying disorder ini.

Seorang sophaholic benar-benar bakal  ngalamin gangguan obsesif berupa pikiran  yang gak dapat dikendalikan secara  berulang-ulang dan selalu menghantui  untuk terus belanja dan belanja. Sampai  nyadar sendiri kalau duitnya udah abis,  ATM-nya udah terkuras, duit tabungan juga  udah megap-megap.

Anehnya, teteeep aja  pengen belanja lagi.  Uniknya lagi, pengidap gangguan ini  akan gelisah, sedih, bahkan depresi jika dalam sehari aja gak ngunjungin pusat-pusat perbelanjaan. Apalagi kalau liat iklan  diskonan bergelantungan disana dimari,  bisa-bisa gila meski urusannya gak sampai  dimasukin ke rumah sakit jiwa. Haaah,  emang segitunya? Kok bisa ya muncul  kayak gini?

Ya bisa aja, non. Penyebabnya apa?  Mmmhhh… gini, pernah gak kamu ke pusat  perbelanjaan, niatnya sih mau beli buku  pelajaran. Pernah? Pasti pernah. Pas  ngelewatin etalase accesories, mata kamu  kepincut ama deretan pulpen unik dengan  warna-warna yang menggoda, pensil  boneka, gantungan kunci unik, pernak-pernik cewek yang ciamik yang bikin kamu  gak bosen ngeliat dan mengaguminya.  Cieeehh apalagi panah diskon sedang  diarahkan ke jantung dan hati kamu hingga  berefek klepek-klepek.  Awalnya kamu mikir untuk  membenarkan gejala virus ini, “ah, kan  diskonan”.

“Kan masih ada sisa dari duit  buat beli buku pelajaran”. “Kan begini, kan  begitu”. Hoi hoi… hati-hati, sis. Panah  compulsive buying disorder diem-diem  sedang ngintai buat nembak kamu. Kalau  gak jadi beli, kamu gak bisa tidur dengan  nyaman, gelisah mikirin tuh barang cantik  jangan-jangan stock-nya udah pada abis di  gudang pertokoan. Galau!

Bijak berbelanja

Berbelanja bisa jadi hiburan tersendiri  apalagi untuk kaum hawa. Bahkan kalau  udah sampai addicted dan ngumpul bareng komunitas sosialita pemburu barang  branded, bisa-bisa bikin kepala puyeng.  Mereka puyeng bin gelisah gak bisa bobo  nyaman kalau gak belanja. Malah ada yang  sampai depresi kalau barang buruannya  keduluan dimiliki orang. Abis, limitted  edition bo!. Sayangnya sebagian kaum hawa  emang seneng bersifat seperti burung  merpati.

Seneng mamerin bulu-bulu  indahnya. Sedang kaum hawa senengnya  mamerin barang mewahnya. Bahagianya  bukan main kalau ada yang memujinya. Pas  dipuji, segera saja dagunya di angkat dengan  kemiringan enam puluh derajat, bola mata  hitam diketepikan ke samping, ngelihatnya  bukan pakai mata lagi tapi pakai hidung.

Ternyata tingkat confident manusia ternyata  bisa didongkrak dengan barang-barang  branded nan mewah dan mahal.  Yuk, usir compulsive buying disorder,  dengan bijak menimbang, yang mana kebutuhan, dan yang mana keinginan. Inget  ya Non, diluar sana, masih banyak fakir  miskin yang bahkan untuk makan sehari-hari aja susyeh, sementara dirimu, ngabisin  duit untuk sesuatu yang sebenarnya gak  penting-penting amat.

Apalagi jika  tujuannya cuman buat eksistensi diri  doang. Kemuliaan seseorang tuh gak  ditentukan ama merk barang yang ia  kenakan non, tapi ditentukan dari  ketaqwaannya.  So, buat yang berpotensi terkena  gangguan ini, kudu ngerem diri biar gak  terjerumus. Belanja sih boleh-boleh aja,  tapi kalau udah memburu barang branded  sampai gak tanggung-tanggung ngeluarin  duit banyak, kayaknya emang ada yang  kudu di instal di alam pikir kamu . Serius  nih. Instal diri dengan pemahaman Islam,  bukan yang lain. Ok? Yuk mari..!   (Juanmartin).

SOBATKU LESBI PLEASE HELP ME !

Majalahdrise.com – Beberapa bulan lalu LGBT (Lesbian,  Gay, Biseksual, Transgender)  dilegalkan di beberapa Negara  bagian di Sang Negeri Adidaya USA (United  State of America). Makin kacau, pelegalan  ini disambut gagap gempita bagi para  pendukungnya. Tak hanya di negeri  Amerika sendiri, namun menjalar ke negeri  sekitar tak terkecuali Indonesia tercinta.  Walah di Indonesia pemerintah masih  adem dengan nuansa ketimuran dan tidak  begitu ambil pusing dengan isu tersebut,  nyatanya komunitas LGBT makin  menggurita disini Dulu, kalau teman kita punya  kecenderungan maho alias banci atau gay,  selalu jadi ajang pelecehan dan dikucilkan.  Sekarang udah ngga gitu jamannya. Malah  para maho ini ingin dihormati dan jangan  sembarangan menghina kalau ngga mau  kena pasal pelecehan nama baik. Jadi  bukannya para banci ini yang disadarkan  melainkan kita yang diadili di hadapan  hukum. Serem bingiiiitsss!

SOBATKU LESBI

Pernah punya sobat sesama  cewek tapi bawaannya paranoid alias  dia enggan kita dekat dengan cewek  lain, kita perlu ditanya modusnya itu  apa. Beneran sayang banget sampe  segitunya, atau dia punya  kecenderungan yang nyeleneh?!  Kecenderungan suka sesama  perempuan alias lesbian, karena  merasa kalau cewek itu lebih lembut  dan melindungi. Ngga seperti  bergaul dengan cowok yang kadang suka kasar dan Cuma mementingkan  hasrat seksual. Akhirnya, bisa-bisa  perasaan yang tadinya normal-normal aja  menjadi cikal-bakal lesbian itu sendiri.

Jadi,  pacarannya bukan ke lawan jenis, tapi  sesama jenis. Satu sisi, kita memang diperintahkan  untuk berkumpul dan berteman pada  sesama jenis. Sebab Rasul SAW membatasi  hubungan lawan jenis hanya dalam perkara  pernikahan, jual beli, pendidikan atau  kesehatana.

Sehingga wajar kita punya  sobat cewek, bukan cowok. Tapi jadi lain  ceritanya kalau sobat cewek itu punya  gejala-gejala liwath (suka sesama jenis). Hal  itu bisa terlihat dari gaya berpakaian, atau  bahkan dari pengakuannya langsung  bahwa dia memang tertariknya pada  sesama perempuan. Plis, ini perlu  treatment khusus ya.  Teman yang punya kecenderungan  liwath ini bukan untuk dibenci, dijauhi  apalagi dicaci. Mau tidak mau, dia masih  saudara kita juga. Dia pun masih manusia yang dihargai eksistensinya. Sehingga  penanganan teman yang lesbi ini butuh  terapi para ahli. Bisa dari ustadz, psikolog  maupun tim rukyah yang terpercaya.

Tak  lupa, butuh support banget dari keluarga  dan teman-temannya. Jangan biarkan dia  berjuang sendiri, bisa-bisa dia akan mencari  sesama lesbi sebagai wujud pelampiasan  ketidakadilan ini. Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -Rahimahullah- dalam Kitabnya “Al-Kabair”   telah memasukan homoseks sebagai dosa  yang besar dan beliau berkata: “Sungguh  Allah telah menyebutkan kepada kita kisah  kaum Luth dalam beberapa tempat dalam  Al-Qur’an Al-Aziz, Allah telah membinasakan  mereka akibat perbuatan keji mereka.

Kaum  muslimin dan selain mereka dari kalangan  pemeluk agama yang ada, bersepakat  bahwa homoseks termasuk dosa besar”. Dengan melihat akan besarnya dosa  homoseks, sampai Allah -Ta’ala- menghukum  kaum Luth yang melakukan liwath dengan  hukuman yang sangat besar dan dahsyat,  membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang  membumihanguskan mereka, sehingga  kota mereka menjadi kenangan bagi kita,  Allah -Ta’ala- berkata dalam surat Al-Hijr  ayat 74: “Maka kami jadikan bagian atas kota itu  terbalik ke bawah dan kami hujani mereka  dengan batu dari tanah yang keras”. Ayat ini cukuplah jadi renungan siapa  saja, terutama yang udah ada gejala  homosek supaya segera mencari terapi  handal agar kita semua terhindar dari  murka Allah Swt yang amat pedih.  Wallahu’alam. [Alga Biru]

di muat di majalah Remaja islam drise edisi 49

‘Mati Suri’ Akibat Hikikomori

MajalahDrise.com – Kamarnya bak kapal pecah. Gorden tertutup meminimalisir sirkulasi udara. Penerangan hanya mengandalkan lampu kamar yang bergelayut manja pada eternit kamar. Berbagai cemilan diam membisu di atas meja. Dari makanan ringan, makanan berat, minuman soda, hingga cookies dengan kemasan warna-warni yang udah terbuka di sana-sini. Dan di depan tv sambil memegang joystik, sang penghuni asyik melototin game di layar kaca. Tak ketinggalan macam-macam komik manga berserakan gak karuan. Dialah salah satu penderita penyakit psikologi, hikikomori. Kerjaannya tiap hari mengurung diri. Boro-boro berprestasi, hidupnya seolah ‘mati suri’.

Sebut saja namanya Yuto Onishi (18), asal Tokyo, sudah mengurung diri di kamarnya selama hampir tiga tahun. Yuto menghabiskan harinya dengan tidur lalu menjelajah internet di malam hari serta membaca komik Jepang alias manga. Selama mengurung diri, Yuto tak pernah berbicara dengan orang lain.

Yuto mengatakan kondisinya kemungkinan dipicu sebuah insiden saat dia duduk di bangku SMP dan gagal menjadi juara kelas. “Sekali Anda mengalaminya (hikikomori), maka Anda akan kehilangan realitas. Saya tahu hal itu tak lazim namun saya tak ingin berubah. Saya merasa aman di sana,” ujar Yuto.

Hikikomori tengah membuat galau pemerintah negeri matahari terbit. Gimana nggak, lebih dari 1 juta pemuda berprestasi Jepang seperti Yuto tiba-tiba asyik mengurung diri di dalam kamar. Bukan cuman sebentar, tapi bisa bertahun-tahun.Mereka hanya diam dikamar dan bergulat dengan dunia maya, menonton anime, baca manga, bahkan terkadang aktivitas makan dan buang air kecil dilakukan dikamar. Walau tidak punya kamar mandi mereka akan menampungnya di plastik atau botol. Ih jijay!

Hikikomori artinya menarik diri. Kebanyakan penderitanya adalah laki-laki, walau ada juga yang perempuan. Penyebabnya bisa banyak faktor. Diantaranya faktor keluarga, ketika hilangnya figur seorang ayah karena bekerja dari pagi hingga larut malam hingga tidak sempat melakukan interaksi dengan anaknya. Serta ibu yang dianggap terlalu memanjakan anaknya.

Kedua, tekanan akademik di sekolah. Penderita Hikikomori kebanyakan adalah para pria cerdas dan berkemampuan tinggi. Sebagian besar dari mereka merupakan lulusan Universitas Negeri Ternama, sehingga pasti sangat berpengaruh pada perekonomian Jepang. Sayangnya, mereka menarik diri dari tekanan kompetisi pelajar, pelaku ekonomi atau pekerja di negara yang luar biasa kompetisinya. Lantaran secara budaya anak laki-laki Jepang harus masuk ke universitas terbaik, perusahaan terbaik dan lain-lain.

Di negerinya Naruto, lowongan kerja penuh waktu atau salariman (yang menerima gaji tetap tiap bulan dan akan menikmati uang pensiun) menjadi hal yang sulit di dapat. Walau pekerjaan paruh waktu tetap banyak, tetapi kemapanan bekerja di satu perusahaan dengan gaji tetap tiap bulan dan menikmati keamanan uang pensiun merupakan angan-angan sebagian besar pemuda di Jepang.

Untuk itu, mereka harus sekolah dari pagi hingga sore kemudian dilanjutkan dengan sekolah private untuk persiapan masuk universitas hampir selama tujuh hari seminggu . Karena hanya dengan masuk universitas bergengsi (Universitas Tokyo, misalnya), mereka bisa di rekrut masuk dalam kelas pekerja tetap dan menikmati pensiun. Kalo nggak, bekerja di pekerjaan paruh waktu atau tanpa pekerjaan sama sekali, yang tidak memberikan keamanan finansial yang tetap.Ini yang bikin was-was bin H2C!

Ketiga, faktor teknologi. Kecanggihan teknologi, terutama kemudahan dalam akses internet, telah menyebabkan banyak remaja mengalami ketergantungan teknologi yang keblabasan. Semua aktifitas pertemanan dilakukan di dunia maya. Bahkan untuk berbelanja pun dilakukan secara online. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa remaja Jepang yang melakukan hikikomori adalah remaja yang anti sosial.

Driser, wajar kalo hikikomori, banyak menimpa remaja negeri doraemon. Lantaran secara budaya, ada kekosongan spiritual dalam masyarakat mereka. Materi jadi satu-satunya standar untuk mengukur kesuksesan dan kebahagian hidup. Sementara bagi seorang muslim, ridho Allah yang jadi ukuran kebahagian hidup.

Makanya, hikikomori nggak seharusnya menimpa kamu remaja muslim. Seberat apapun tekanan yang kamu tanggung, nggak ada ajarannya sampe harus mengisolasi diri. Apalagi sampai melalaikan kewajiban ibadah dan dakwah. Yang ada, justru kencengin ibadah dan dakwahnya. Deketin deh tuh pemilik segala kebahagiaan dunia akhirat, Allah swt. Biar hidup lebih tenang dan lebih pede membingkai masa depan cemerlang. Niscaya, hikikomori nggak ada dalam kamus hidup remaja muslim kaya kamu. Iya kamu..! [@hafidz341]

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48

HIJAB TANPA NANTI, HIJAB TANPA TAPI

MajalahDrise.com – Ramadhan sudah berlalu. Udah pada latihan taat kan? Yang sholatnya biasanya bolong-bolong, semoga udah banyak ditambal. Yang shalatnya susah khusu’ moga makin ingat sama Allah di setiap ibadahnya. Dan tak kalah penting,yang belum berhijab, mulai latihan berhijab di momen ramadhan kemarin. Berhijab bukan tanda taat, tapi berlatih taat. Berhijab jangan kapan-kapan, bisa jadi tiba-tiba kita udah kenakan hijab kain kafan alias datangnya kematian. Hiii, serem. Ini bukan nakutin, tapi udah banyak faktanya lho. Banyak anak muda yang ‘pamit’duluan dari dunia ini dibanding usianya yang lebih tua. Itu artinya, kematian nggak pandang usia. Siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kematian selalu mengintai kita. Catet!

Berhijab bukan berarti sudah sempurna, tapi mendekati kesempurnaan. Ngga ada manusia yang pengen hidupnya sama setiap hari atau malah lebih buruk. Kata Rasul, manusia yang rugi itu kalo hari ini lebih sama dengan kemarin. Dan manusia yang celaka, kalo hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Nah, buat yang udah mulai berhijab, jangan dilepas lagi ya Sista.

Hijab kok bongkar pasang, emangnya mesin motor? Sehari berhijab, sehari lepas. Itu tanda belum siap secara mental. Lantas apa harus siap dulu? Tanda siap adalah mengenakan hijab. Ngga akan pernah siap kalau tidak dibarengi aksi. Supaya mental kuat bukan dengan melepas, tapi dengan mempertahankan. Apa sebenarnya halangan kita dalam berhijab?

Berikut beberapa alasan yang sering dijumpai kenapa terkadang para muslimah pakai hijab bongkar pasang, alias sehari pake, sehari lepas.

Pertama, takut ngga gaul. Hemm, sebenarnya niat kita berhijab untuk siapa? Jikalau  lurus karena Allah, pastilah yang ingin kita harap perhatiannya adalah Allah. Pergaulan yang akan merusak hubungan kita kepada Allah insyaallah akan dijauhkan olehNya selagi kita kuat dan menguatkan diri. Kawan yang benar, akan makin senang kalau kita berjalan ke arah yang benar. Terlepas apakah dia udah berhijab atau belum, pastinya dia dukung. Kalau tidak, yakin dia ngga bisa dijadikan teman akrab. Pertemanan itu ibarat mendekati penjual minyak wangi. Jika ia baik, maka bertambah baiklah kita. Pilih-pilih teman aja ya!

Kedua, aturan sulit di sekolah. Sebagian sekolah atau instansi tertentu ada yang sangat disiplin terhadap aturan berbusana. Dengan berbagai alasan, pihak-pihak ini membuat peraturan yang kadang tak sesuai dengan aturan busana islami. Solusinya gimana dong? Satu sisi ingin berhijab, di sisi lain lingkungan tidak mendukung. Yang pertama dilakukan ialah kita tetap berhijab, tahap selanjutnya ialah mengadakan dialog. Jangan kira, sekali berdialog masalah langsung selesai. Memang butuh dialog secara berulang dan perjuangan keras untuk meyakinkan bahwa berhijab syar’I tidak jadi kendala dalam berprestasi dan partisipasi kita dalam lingkungan. Tetap berprasangka baik, sebab sesuatu yang sudah dibangun dengan kebaikan akan mendapat kebaikan pula.

Ketiga, takut ngga eksis. Rasanya kalau udah berhijab seperti orang suci, jadi ngga bebas mau macem-macem. Nah, ini yang membuat hijabers susah move on! Tatkala hawa nafsu terpendam dan belum diarahkan. Harapannya berhijab jadi mendorong kita pada hal-hal positif, tapi jika sejak awal kita juga tidak menginginkannya malah jadi repot alias kontradiktif. Akhirnya, tak jarang yang berhijab di sekolah. Lalu pas dijemput pacar di luar sekolah, hijabnya malah dilepas. Aduh sayang banget, barusan ngumpulin pahala, tercerai berai karena eksis di hadapan pacar atau manusia. Udah gitu, pacaran tambah dosa kian berlimpah. #UdahPutusinAja biar tambah istiqomah dalam berbusana muslimah.

Keempat, takut ngga dapet jodoh. Lagi-lagi yang merusak hijab karena adanya penyakit hati dan galau hati. Gimana ceritanya berhijab ngga dapet jodoh? Sementara kenyataannya banyak yang berhijab sudah duluan nikah, hidup harmonis dan jauh dari desas-desus cinta. Jodoh dan hijab bukannya menjauhkan malahan mendekatkan. Yaitu, jodoh yang baik akan datang, jodoh yang buruk akan berbalik badan. Sesuai janji Allah, lelaki baik-baik, diperuntukkkan bagi perempuan yang baik-baik pula.

Masih banyak alasan serta kondisi yang jadi alasan bagi kita untuk taat. Ingatlah selalu niat sejak awal, perkuat dengan ilmu dan minta motivasi dari orang sekitar. Tiga pilar ini jadi fondasi  utama untuk berhijab kapanpun dimanapun, kini dan nanti. Dunia tentu akan lebih indah ketika semua muslimah bisa berhijab melaksanakan kewajiban. Berhijab bukan saja bermanfaat bagi kaum hawa, tapi juga para pria. Mata para pria akan terhindar dari maksiat pandangan alias melihat aurat yang tak sepantasnya ilihatnya. Yuk, istiqomahkan berhijab! Jangan pake nanti, jangan pake tapi, apalagi dibongkar pasang. Emangnya puzzle! Wallahu’alam [Alga Biru]

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi 48