MajalahDrise.com – Kamarnya bak kapal pecah. Gorden tertutup meminimalisir sirkulasi udara. Penerangan hanya mengandalkan lampu kamar yang bergelayut manja pada eternit kamar. Berbagai cemilan diam membisu di atas meja. Dari makanan ringan, makanan berat, minuman soda, hingga cookies dengan kemasan warna-warni yang udah terbuka di sana-sini. Dan di depan tv sambil memegang joystik, sang penghuni asyik melototin game di layar kaca. Tak ketinggalan macam-macam komik manga berserakan gak karuan. Dialah salah satu penderita penyakit psikologi, hikikomori. Kerjaannya tiap hari mengurung diri. Boro-boro berprestasi, hidupnya seolah ‘mati suri’.
Sebut saja namanya Yuto Onishi (18), asal Tokyo, sudah mengurung diri di kamarnya selama hampir tiga tahun. Yuto menghabiskan harinya dengan tidur lalu menjelajah internet di malam hari serta membaca komik Jepang alias manga. Selama mengurung diri, Yuto tak pernah berbicara dengan orang lain.
Yuto mengatakan kondisinya kemungkinan dipicu sebuah insiden saat dia duduk di bangku SMP dan gagal menjadi juara kelas. “Sekali Anda mengalaminya (hikikomori), maka Anda akan kehilangan realitas. Saya tahu hal itu tak lazim namun saya tak ingin berubah. Saya merasa aman di sana,” ujar Yuto.
Hikikomori tengah membuat galau pemerintah negeri matahari terbit. Gimana nggak, lebih dari 1 juta pemuda berprestasi Jepang seperti Yuto tiba-tiba asyik mengurung diri di dalam kamar. Bukan cuman sebentar, tapi bisa bertahun-tahun.Mereka hanya diam dikamar dan bergulat dengan dunia maya, menonton anime, baca manga, bahkan terkadang aktivitas makan dan buang air kecil dilakukan dikamar. Walau tidak punya kamar mandi mereka akan menampungnya di plastik atau botol. Ih jijay!
Hikikomori artinya menarik diri. Kebanyakan penderitanya adalah laki-laki, walau ada juga yang perempuan. Penyebabnya bisa banyak faktor. Diantaranya faktor keluarga, ketika hilangnya figur seorang ayah karena bekerja dari pagi hingga larut malam hingga tidak sempat melakukan interaksi dengan anaknya. Serta ibu yang dianggap terlalu memanjakan anaknya.
Kedua, tekanan akademik di sekolah. Penderita Hikikomori kebanyakan adalah para pria cerdas dan berkemampuan tinggi. Sebagian besar dari mereka merupakan lulusan Universitas Negeri Ternama, sehingga pasti sangat berpengaruh pada perekonomian Jepang. Sayangnya, mereka menarik diri dari tekanan kompetisi pelajar, pelaku ekonomi atau pekerja di negara yang luar biasa kompetisinya. Lantaran secara budaya anak laki-laki Jepang harus masuk ke universitas terbaik, perusahaan terbaik dan lain-lain.
Di negerinya Naruto, lowongan kerja penuh waktu atau salariman (yang menerima gaji tetap tiap bulan dan akan menikmati uang pensiun) menjadi hal yang sulit di dapat. Walau pekerjaan paruh waktu tetap banyak, tetapi kemapanan bekerja di satu perusahaan dengan gaji tetap tiap bulan dan menikmati keamanan uang pensiun merupakan angan-angan sebagian besar pemuda di Jepang.
Untuk itu, mereka harus sekolah dari pagi hingga sore kemudian dilanjutkan dengan sekolah private untuk persiapan masuk universitas hampir selama tujuh hari seminggu . Karena hanya dengan masuk universitas bergengsi (Universitas Tokyo, misalnya), mereka bisa di rekrut masuk dalam kelas pekerja tetap dan menikmati pensiun. Kalo nggak, bekerja di pekerjaan paruh waktu atau tanpa pekerjaan sama sekali, yang tidak memberikan keamanan finansial yang tetap.Ini yang bikin was-was bin H2C!
Ketiga, faktor teknologi. Kecanggihan teknologi, terutama kemudahan dalam akses internet, telah menyebabkan banyak remaja mengalami ketergantungan teknologi yang keblabasan. Semua aktifitas pertemanan dilakukan di dunia maya. Bahkan untuk berbelanja pun dilakukan secara online. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa remaja Jepang yang melakukan hikikomori adalah remaja yang anti sosial.
Driser, wajar kalo hikikomori, banyak menimpa remaja negeri doraemon. Lantaran secara budaya, ada kekosongan spiritual dalam masyarakat mereka. Materi jadi satu-satunya standar untuk mengukur kesuksesan dan kebahagian hidup. Sementara bagi seorang muslim, ridho Allah yang jadi ukuran kebahagian hidup.
Makanya, hikikomori nggak seharusnya menimpa kamu remaja muslim. Seberat apapun tekanan yang kamu tanggung, nggak ada ajarannya sampe harus mengisolasi diri. Apalagi sampai melalaikan kewajiban ibadah dan dakwah. Yang ada, justru kencengin ibadah dan dakwahnya. Deketin deh tuh pemilik segala kebahagiaan dunia akhirat, Allah swt. Biar hidup lebih tenang dan lebih pede membingkai masa depan cemerlang. Niscaya, hikikomori nggak ada dalam kamus hidup remaja muslim kaya kamu. Iya kamu..! [@hafidz341]
di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48