Ganteng Under Skin

MajalahDrise.com – Jantan ngga selalu identik dengan kekerasan. Keren juga ngga mesti lekat sama muka tampan. Karena sejatinya, kegantengan hakiki itu terletak di bawah kulit. Ciyus?!

Yup, kalo di dunia wanita ada istilah inner beauty untuk menggambarkan kecantikan tak sekedar paras eye catching atau bodi bak gitar spanyol. Maka di kalangan kaum adam pun ada sosok inner handsome. Nggak umum sih. Tapi diakui, pria yang memiliki inner handsome itu banyak menarik perhatian lawan jenisnya.

Beda dengan kalangan metroseksual yang doyan dandan dan mendewakan penampilan. Inner handsome justru mengembalikan kaum pria pada khittah alias fitrahnya. Sebagai pekerja yang dekat dengan dunia ‘keras’dan ‘kasar’ tanpa harus kehilangan sisi gentlenya.

Kata Kuncinya, Sholeh!

Emang sih, punya wajah ganteng buat cowok adalah idaman. Apalagi kalo ditunjang ama bodi six pack yg atletis. Ga mesti menduplikasi bodinya Ade Rai. Yang penting proporsional. Gak terlalu mirip papan penggilesan cucian. Tapi tetap harus ditunjang dengan tampang yang nyaman dilihat. Ini yang sering jadi standar kaum adam untuk mengukur level kekerenan sesama mereka.

Sayangnya, standar fisik yang sering dipake untuk ngukur level kegantengan kaum adam sering bikin lupa diri. Saking ngebetnya dengan penampilan yang sempurna, lupa dengan kelakuannya yang seadanya. Sombong, arogan, semau gue, dan gaya hidupnya hedonis. Parasnya sih bagus. Tapi tingkah polahnya minus!

Bukannya simpati, orang-orang juga bakal antipati dibuatnya. Jengkel, kesel, bin bete kalo deket dengan dia. Lantaran saat berinteraksi dengan lingkungan, bukan tampang dan body yang dilihat. Tapi perilakunya yang dinilai. Apakah keberadaannya ngasih manfaat buat lingkungan atau justru mafsadat (kerusakan). Kalo manfaat yang selalu ditebarnya, so pasti pada respect bin segan. Tapi sebaliknya kalo mafsadat, ketidakhadirannya bakal disyukuri. Nah lho!

Inner handsome itu cerminan dari adalah firman Allah Swt. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa diantaramu”. (Al Hujurat: 13).

Rasulullah saw pun juga udah ngingetin kita bahwa kebaikan itu nggak dilihat dari penampilan, tapi dari isi hati. Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu’anhu, dia mengatakan bahwa Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak melihat fisik dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati [dan amal perbuatan] kalian.” (HR. Muslim no.2564)

Dan ternyata penampilan pun nggak ngejamin perilaku sempunya juga selaras lho. Bisa jadi cuman kamuflase aja. Buktinya nggak ada penipu yang penampilannya asal-asalan. Rata-rata berpenampilan necis bin rapih supaya meyakinkan calon korbannya.

So, sebenernya kata kunci yang mesti ada untuk melahirkan inner handsome itu cuman satu, sholeh. Udah itu aja! [@hafidz341]

 

BOX

Tips Pancarkan Inner Handsome

Inner handsome itu dilahirkan, bukan pencitraan. Selama kita komitmen meneladani Rasulullah, insya Allah inner handsome bakal nongol dengan sendirinya. Berikut beberapa karakter yang bisa melahirkan inner handsome.

  1. So pasti, cowok yang beriman alias bertakwa bakal punya aura kegantengan yang berbeda. Perilakunya selalu bertujuan untuk dapetin ridho Allah. Dengan sendirinya, nggak bikin rugi sekitarnya. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”(QS: Maryam Ayat: 96)
  2. Cowok jujur bukan modus pengen dihargai. Tapi semata jujur karena Allah. Walau kejujuran terkadang tak sejalan dengan kebaikan dimata manusia, tapi dihadapan Allah punya nilai istimewa. Dari Abdullah ibn Mas’ud, dari Rasulullah saw. bersabda:“Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga….” (HR. Bukhari)
  3. Bermanfaat bagi orang lain. Tak hanya eksis, tapi juga bermanfaat. Ini cowok idola yang dikangenin orang-orang disekitarnya. Penilaian orang lain bukan lagi fokus pada fisik dan penampilan, tapi kontribusinya untuk kebaikan. Rasul saw bersabda, “…Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
  4. Cowok penyabar bukan bermental chicken bin penakut. Tapi berusaha mengendalikan emosinya biar nggak salah kaprah.“Dan orang-orang yang menahan amarahnyaserta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan(QS Ali ‘Imran:134)
  5. Punya prinsip. Cowok plin-plan itu bikin dirinya kaya bunglon yang gak punyapendirian. Kalo untuk urusan selera sih, mungkin aja gak masalah menyesuikan dengan kebanyakan. Tapi kalo berkaitan dengan perilaku, entar dulu. Cowok yang punya prinsip lebih keliatan dewasa dan mandiri dibanding para pecundang yang doyan menjilat muka. Jijay deh!
  6. Kegiatan mulia yang satu ini turut membangun inner handsome pada diri remaja muslim. Lantaran ngaji, tak sekedar baca quran. Tapi mengenal Islam lebih dalam. Agar cara berfikir dan bertindaknya nggak liar kaya hewan. []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47

 

Catatan Penting dari Negeri Viking

Majalahdrise.com – Menjadi bagian dari komunitas Islam di denmark adalah pengalaman mengharukan bahagia untuk saya pribadi. Saya masih bisa membayangkan bagaimana kehangatan dan guncangan perasaan yang saya rasakan saat pertamakalinya menghadiri kajian mingguan yang di selenggarakan Sister-sister di Copenhagen. Disana juga saya seakan menyelami dunia impian saat-saat Negeri-negeri Muslim disatukan dalam Khilafah. Saya bertemu, berpelukan dan saling berbagi cerita dengan saudara-saudara yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya, namun kami seperti dibesarkan dengan moral dan pemahaman yang sama, disatukan dengan bahasabahasa khas kitab yang sama-sama kami pahami hanya dengan menghadiri Halaqa.

 Sekilas Tentang Kehidupan Muslim di Denmark

Mayoritas Imigran Muslim pertamakali sampai ke Denmark sekitar tahun 1980-an sebagai Refugeedan Pekerja yang selanjutnya menetap di Denmark. Umumnya mereka berasal dari Negara-negara Tukri, Iraq, Bosnia, Pakistan, Lebanon, Yugoslavia, Maroko, Somalia dan Afganistan. Saat ini Muslim yang menetap di Denmark adalah generasi kedua artinya mereka lahir dan besar di Denmark, dengan kata lain sebenarnya mereka berbudaya dan berbahasa Denmark tetapi tidak putih dan berambut pirang. Maka mustahil bila berharap bahwa mereka dapat membaca dan menulis bahasa Arab dengan fasih atau memahami Islam dengan baik.

Danesdikenal sebagai pribadi tertutup dan tidak menyukai semua jenis imigran, tidak hanya yang beragaman Islam. Sebab Denmark memiliki sistem pensejahteraan warga yang terbangun rapi dari pajak yang diperoleh Negara. Seperti Negara Scandinavia lain, Para orang tua, Ibu yang tidak bekerja dan Pengangguran dari negara manapun namun legal tinggal di Denmark mendapatkan uang dari pemerintah daerah (Kommune)untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Hal ini kadang menimbulkan dengungan-dengungan yang menyatakan bahwa Negara Scandinavia pada umumnya sebagai negara yang lebih Islami daripada Negeri-negeri Muslim lainya. Namun perlu diperhatikan bahwa, memiliki status pengangguran adalah hal yang sangat hina di sini, ketinggian dan kehormatan diukur dari karir dan pekerjaan yang dipegang. Mudah ditemui Pengangguran dan Orang tua yang telah renta meneguk bir, menjadi pasien pengunjung setia psikiatri untuk memperoleh happy pilkarena perasaan tekanan hidup yang tidak memiliki arti atas status tanpa pekerjaan mereka.

Pemerintah Denmark sedemikian rupa dapat mengatur bagaimana financial sebuah keluarga yang baik sulit dibangun dengan one income. Artinya kedua Orang tua harus sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan standar hidup masyarakat Denmark. Bahkan, Pemerintah akan senang hati membantu biaya daycareuntuk anak-anak yang orangtuanya dengan kondisi tersebut. Hal ini menjadi sebuah dilemma dan tekanan tersendiri bagi Ibu Muslim yang ingin mendidik anak-anaknya dengan TsaqafahIslam.

Nilai keberadaan Muslim di Denmark memang didukung pemerintah Denmark karena keberadaannya yang mendukung perekonomian. Terkisah sejak adanya warung-warung yang dikelola Muslim yang senantiasa beroperasi di hari-hari libur dan setiap hari Minggu, memudahkan masyarakat memperoleh stok makanan dan susu yang habis di hari libur. Umumnya Supermarket di Denmark akan tutup di hari Minggu. Prestasi inilah yang sering disebut-sebut Pemerintah atas dukungannya kepada warga Muslim. Dilain pihak, jelas terlihat bahwa ada gelombang besar masyarakat Denmark yang tidak menyukai Islam. Telah dilakukan survey bahwa 50% Danes menginginkan pembatasan jumlah warga Muslim di Denmark.

Disisi lain, kenyataan pahit yang harus diterima Muslim di Denmark adalah harus siap menerima pasangan gay. Pasangan gay di sini menikah secara legal, memiliki anak dan anak-anak mereka akan bergaul dengan anak-anak Muslim. Hal lain, shower bagi anak laki-laki dan perempuan di kelas-kelas renang disamakan artinya berada dalam ruang yang sama dan bercampur baur. Begitu juga toilet unisex untuk pria dan wanita sebagai pembekalan paham gender equality sejak dini.

Alhamdulillah, sejak 19 Juni 2014, telah diresmikan pendirian mesjid terbesar di Denmark meski mengumandangkan adzan di tempat umum masih dilarang. Masjid ini bernama Hamad Bin Khalifa, pembiayaanya didukung penuh Qatar dengan menghabiskan dana sebesar 150 juta krone atau sekitar 300 milyar rupiah. Selain Masjid ini, saat tinggal disini saya banyak menemukan masjid-masjid kecil yang berdiri random di wilayah Denmark dengan fungsi berbeda dan diperuntukan untuk komunitas Muslim yang berbeda juga, seperti Masjid Somalia, artinya jamaahnya pada umumnya warga keturunan Somalia atau Masjid Turkey yang sering dikunjungi warga keturunan Tukrey dll.

Akhir-akhir ini, isu seputar tingginya (mencapai 8%) warga asli Denmark memeluk Islam menajadi headline di beberapa surat kabar ternama di Denmark. Gelombang peningkatan jumlah ini, sebenarnya tidak direncanakan oleh komunitas Islam di Denmark. Komunitas Islam itu sendiri sudah sangat kewalahan mengedukasi Muslim itu sendiri untuk teguh memegang Islam dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari. Para Mualaf biasanya adalah mereka yang menyadari tidak mendapat kebahagian dan depresi atas standar kehidupan disekitar mereka yang akhirnya merasa kosong dan berburu alternatif-alternatif konsep hidup lain.

Driser, berbahagialah kita yang terlahir sebagai muslim. Jangan sampai disia-siakan kenikmatan terbesar ini. Biar hidup gak terasa kosong melompong bin kering kerontang kaya seperti dirasakan para penduduk negara Denmark. Kenali Islam lebih dalam, biar hidup kita adem dan menginspirasi. Yuk![]

Arwita Yunianti!, tinggal di Hillerød, Denmark!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47

Mama Sosialita

Majalahdrise.com – “Gadget Mama keren. Ngga kalah dengan punyaku yang baru dibeli papa seminggu lalu. Mama punya akun facebook dan twitter, bahkan rajin update status tiap hari.  OMG, bahkan belakangan ini Mama aktif selfie di Instagram.  Aku jadi kenal pergaulan Mama. Ngga hanya ibu-ibu komplek atau istri dari rekan kerja papa, tapi juga anggota arisan seminggu sekali.  Uang iuran member-nya, setara dengan uang jajan aku selama sebulan. Belum lagi pertemuan arisan yang kadang di resto, malah pernah  juga di hotel. Serba mewah, cenderung berlebihan. Bingung, sebenarnya yang masuk masa remaja, aku atau mama ya? Geleng-geleng kepala di buatnya.”

Pernah dengar curhat kaya gitu? Curhat karena mama yang terlalu gaul. Trus nekat pengen gabung sosialita walau uang sebenarnya pas-pasan. Nyatanya, yang pengen eksis bukan cuma remaja aja. Ibu-ibu kita di rumah perlu eksis di hadapan komunitasnya.

Siapa Mama, pasti udah tau luar dan dalamnya. Dialah yang mengayomi sejak lahir sampai sebesar sekarang. Eits, seperti apa Mama dan keinginannya, tetap Mama yang lebih memahami. Sebagai anak, kita bisa menerawang obsesi Mama berdasarkan teman sepermainan Mama. Bukan bermaksud mengusik Mama loh, ini wujud kepedulian seorang anak. Indah banget, andai Mama dan kita satu visi. Kalau pergaulan Mama sampai ke arah negatif, kita juga nih yang runyam. Catet!

Apaan sih Sosialita?

Sosialita ialah tren masa kini dalam melakukan  hubungan sosial dengan orang lain. Saling bertemu, curhat, tukar pikiran, dan sejenisnya. Kegiatannya, bisa positif, bisa negatif, tergantung  manusia di dalamnya. Belakangan ini, istilah ‘sosialita’ makin bergeser seiring dengan tren hedonisme di tengah kita. Sosialita jadi kecenderungan para wanitan usia dewasa muda ke atas terutama mereka yang dinilai kaya, menunjukkan esksistensinya. Wujudnya bisa macem-macem, mulai dari pakaian, tas bermerek yang dipakai, sepatu gonta-ganti, sampai bertabur perhiasan, yang pastinya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Berapa ya kira-kira? Bervariasi, bisa belasan hingga puluhan juta. Gleg!

Di tengah hidup kebanyakan orang yang kekurangan, empati  kita harusnya terbujuk untuk tidak andil dalam ajang pamer kekayaan atau sikap berlebih-lebihan dalam mengeksiskan diri. Lain cerita, jika komunitas yang ada memang punya visi dan misi positif yang jelas dan terarah. Nggak  sekedar kumpul-kumpul. Ibu kita bisa keren juga kok. Tengoklah fakta di lapangan. Ada ibu-ibu doyan nulis, karyanya melimpah dan menginspirasi orang banyak. Ada pula komunitas ibu pejuang syariah dan khilafah yang menggerakkan para ibu untuk turut andil dalam perubahan peradaban menuju kemuliaan. Apalagi  jika bisa sama-sama berjalan bareng Mama. Meski beda umur dan gaya, tapi satu barisan perjuangan dan berkarya menggapai ridho Allah Swt. Asiknya tiada banding.

Buat teman-teman yang mamanya udah terlanjut gabung dengan sosialita, yaudah buru-buru antisipasi  supaya sosialitas menjadi komunitas pro syariah. Sehingga isinya tak hanya ibu yang pintar bergaya yang turun dari mobil mewah. Isinya ialah para ibu yang mewah dalam berpikir, memilih jalan hidup dan empati tinggi. Bikin aksi nyata dan membanggakan semua orang. So, bukan menjauhi komunitas, saatnya mewarnai komunitas dengan geliat islam kaffah, Wah, beratttt…! Belum apa-apa jangan dianggap berat. Ingat pahala yang menanti di hadapanNya. Mantaplah ! [Alga Biru]

 

GOOD COMMUNITY

Hidup tanpa komunitas kayanya ‘basi’ dan kuper ya… Nah, supaya hidupmu keren, gabung  di komunitas yang baik dan terarah ya. Berikut segmen komunitas yang bisa kamu pilih!

  1. Muslimah dan gerakan cinta membaca

Salah satu hal positif yang perlu dikembangkan ialah kebiasaan hidup membaca. Kita perlu komunitas untuk berbagi bacaan yang bagus dan mempertahankan pola hidup yang bermaanfaat ini. Sebab membaca ialah jendela ilmu pengetahuan

  1. Menulis untuk perubahan

Belum lengkap membaca tanpa menulis. So, yang giat membaca biasanya akan tergoda untuk melahirkan tulisan. Pastikan yang kita tulis berkontribusi untuk perubahan. Eits, pena bisa lebih tajam dari pedang loh!

  1. Remaja cinta qur’an

Salah satunya ialah  gerakan One Day One Juz (ODOJ). Indahnya jika remaja kita bisa jadi remaja ODOJ, yang mendengar dapat pahala, juga yang membacanya. Yang menyebarkan dan mengamalkannya?! Pasti lebih besar lagi pahalanya. Yuk gabung!

  1. Remaja Pro Syariah

Remaja butuh komunitas dalam menjaga imannya. Remaja butuh figur dari kalangan remaja sendiri untuk menyuarakan indahnya islam kepada sesama remaja. Remaja pro syariah akan jadi agen berkilau yang menyuarakan syariat. Pastikan kamu di dalamnya ya, Sist![]

di muat di majalah remaja islam Drise Edisi 47

 

Lahirkan Pelajar Hebat!

Majalahdrise.com – Kalo kita telusuri jejak rekam perjalanan para pelajar berprestasi, dapet deh benang merahnya kalo kesuksesan mereka ditunjang dengan lingkungan sekitarnya. Ada yang berasal dari sekolah dengan fasilitas pembelajaran yang super lengkap. Ada juga yang terpilih jadi siswa binaan masuk dalam karantina untuk mengasah kemampuannya.

Selain kemampuan pribadi, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pencapaian para pelajar berprestasi. Kalo kita ngeliat kondisi pendidikan dalam negeri, ngelus dada juga. Masih banyak lembaga pendidikan formal yang hidup segan mati pun enggan. Yang penting kegiatan belajar mengajar tetap jalan meski minim fasilitas bahkan nombokin biaya operasional. Ngenes!

Kalo negara kita tetap bertahan dengan aturan demokrasi sekuler kaya sekarang untukngatur rakyatnya, maka bibit-bibit pelajar hebat makin sulit ditemui. Lantaran kurikulum pendidikan sekuler menggiring siswa untuk menjadi pelajar instant yang berorientasi pada prestasi hasil belajar. Bukan proses pembelajarannya. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan cerdas (chritical thinking) siswa pada mem… mem… memble! Daya analisisnya tumpul.

Sebaliknya, saat negara ngurus rakyat dengan aturan Islam justru para pelajar hebat lahir di setiap tempat. Untuk ngukur kualias pelajar, Islam nggak menjadikan nilai ujian tulis sebagai satu-satunya tolok ukur. Karena ujian tulis hanya akan mematikan daya cipta dan kreatifitas siswa alias nggak produktif di tengah perkembangan ilmu pengetahuan. Ujian tulis juga bisa mendorong masyarakat mengarahkan cita-citanya hanya untuk meraih gelar pendidikan tanpa dilihat kemampuannya dalam mengajar, berijtihad, berfatwa, dan berkreasi. Kalo udah gini, kebangkitan pemikiran dan materi yang menjadi tujuan pendidikan makin jauh.

Sebagai evaluasi siswa, dalam pendidikan Islam dikenal teknik munadhoroh (diskusi). Ini semacam ujian lisan bagi pelajar untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami dan kreatifitasnya dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dia pelajari. Teknik diskusi ini nggak dibatasi oleh waktu. Tergantung dari kesiapan anak didik. Dan hasil diskusi ini, anak didik diberikan semacam ijazah atau bentuk pengakuan tertulis dari guru terhadap kecakapan muridnya.

Untuk menunjang peningkatan mutu pelajar, kelengkapan sarana dan prasaran pendidikan dijamin oleh negara. Mulai dari perpustakaan yang lengkap, asrama yang disertai jaminan sandang dan pangan, aula untuk ceramah, kertas dan tinta, pemandian umum, serta rumah sakit dan dokter-dokter. Semuanya disediakan gratis..tis..tis… bagi para siswa dan penuntut ilmu. Seperti dicontohkan Khalifah al-Muntashir yang mendirikan Madrasah al-Mustanshiriah di kota Baghdad.

Malah bukan cuman fasilitas gratis, siswa juga dikasih beasiswa alias pendidikan bebas biaya. Inilah salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan rakyatnya. Rasul saw bersabda: “Imam yang diangkat untuk memimpin manusia itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya).” [HR. Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah bin Umar r.a.].

Hasilnya, para pelajar menjadi ilmuwan yang menjadi pelopor kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa. Seperti Harrani as-Sabi al-Battani (Al Battaniseorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab (858-929 M). Al Battani berhasil menemukan sejumlah persamaan trigonometri dan memecahkan persamaan sin x = a cos x. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Atau Ibn al-Haytham (Alhazen). Ia lahir tahun 965 M di Basra kemudian meninggal tahun 1040 M di Kairo. Dikenal sebagai bapak optik modern karena penemuan dan karya-karyanya di bidang ilmu optik dan pencahayaan benda. Penemuan itu menjadi cikal bakal kamera yang masih digunakan sampai sekarang ini.

Jadi, kalo pemerintah kita pengen meningkatkan mutu pendidikan, bisa bercermin pada sistem pendidikan Islam. Lebih bagus lagi kalo pemerintah nggak cuman ngaca, tapi pake sistem pendidikan Islam untuk melahirkan para pelajar hebatdunia akhirat. Saatnya keluar dari jeratan pendidikan kapitalis sekuler dan beralih pada sistem pendidikan Islamdalam bingkai daulah khilafah islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Yuk! [hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise 47