KITAB PALING OTENTIK

Majalahdrise.com – Beberapa waktu yang lalu dunia  sempat dihebohkan dengan  ditemukannya salinan Al-Qur’an  tertua di universitas Birmingham, Inggris.  Berdasarkan penelitian radiokarbon,  perkamen tersebut diperkirakan berusia  1370 tahun. Menurut peneliti, boleh jadi  salinan ini ditulis tak jauh dari masa Nabi Muhammad Saw hidup. Wih.

Buat kalangan akademisi, orang-orang skeptis, orientalis, ataupun non  muslim yang sekedar penasaran,  penemuan ini pastinya menarik banget,  apalagi ketika manuskrip itu dibandingkan  dengan mushaf Al-Qur’an yang kita pegang  sekarang. Tapi, bagi orang beriman seperti  kita-kita ini, ciee, penemuan manuskrip ini  pastinya nggak akan menambah ataupun  mengurangi keyakinan kita terhadap  keotentikan  Al-Qur’an dong.

Yup, bukan berarti keimanan kita ini  dogmatis alias doktrin alias “udah, yakini  ajah!”, tapi justru keimanan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah itu bersifat  rasional, alias bisa dibuktikan dengan akal  sehat.  Semua orang juga tahu, bahwa Al-Qur’an itu berbahasa Arab. Kalau ada yang  berpendapat berbeda, kayaknya orang itu  perlu dipinjami kamus bahasa arab deh.

Bahkan, Al-Qur’an sendiri pun menegaskan  bahwa kitab ini berbahasa Arab yang terang  benderang (QS An-Nahl:103). Namun  hebatnya, Al-Qur’an mempunyai  keunikan  dalam gaya pengungkapan dan susunan  katanya, yang tak didapati dalam kitab lain,  bahkan yang sekedar mendekatinya pun  nggak ada.

Lebih jauh lagi, Allah kemudian  menantang semua manusia, bahkan berikut jin dan kawan-kawannya sekalian,  untuk membuat satu surat saja yang  serupa dengan Al-Qur’an (QS Al-Baqarah:23), tapi sampai sekarang pun gak  ada yang bisa. Al-Qur’an diturunkan di  tengah-tengah bangsa yang gandrung  dengan puisi dan syair. Tapi, tak ada satu  pun dari penyair Arab yang paling handal  sekalipun, yang mampu membuat karya  seperti al-Qur’an. Inilah mukjizat Al-Qur’an. bersambung……

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Cowok Pemaaf Lebih Jantan

Majalahdrise.com – Bagi seorang muslim, memaafkan  kesalahan orang lain itu bukan berarti  membiarkan dia berbuat jahat. Atau berarti  kita lemah. Tapi justru menunjukkan  kedewasaan kita sebagai manusia. Lantaran  setiap perbuatan itu lahir karena dorongan.  Bisa jadi karena kepepet, ada kebutuhan  yang mendesak, atau tak ada pilihan yang  lebih baik. Kita coba pahami dorongannya.

Gak asal mengumbar emosi. Kalo ada yang berbuat jahat pada kita,  memang wajib membela diri. Namun bukan  berarti memelihara rasa dendam dalam  hati. Karena Allah swt memerintahkan kita  untuk jadi seorang pemaaf. Firman-Nya:  “Dan tidaklah sama kebaikan dan  kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan  cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang  yang antaramu dan antara dia ada  permusuhan seolah-olah telah menjadi teman  yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu  tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang sabar dan tidak  dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang  besar.” (Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir rahimahullahu  menerangkan: “Bila kamu berbuat baik  kepada orang yang berbuat jelek kepadamu  maka kebaikan ini akan menggiring orang  yang berlaku jahat tadi merapat denganmu,  mencintaimu, dan condong kepadamu  sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu  yang dekat.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma  mengatakan: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala  memerintahkan orang beriman untuk  bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat  diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini  maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga  mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun  tunduk kepadanya sehingga menjadi teman  yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim  4/109)

Menjadi cowok pemaaf itu lebih  jantan. Karena mampu menjinakkan hawa  nafsu yang bisa menjerumuskan manusia  pada perbuatan dosa. Makanya Allah  ngasih kompensasi yang super duper  istimewa. Rasul saw bersabda:  “Barangsiapa menahan amarahnya  padahal dia mampu untuk melakukan  –pembalasan– maka Allah Subhanahu wa  Ta’ala akan memanggilnya di hari kiamat di  hadapan para makhluk sehingga memberikan  pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia  inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu  Majah no. 3394)

Jadi cowok pemaaf itu jauh lebih  nyaman hidupnya. Lantaran cowok  pendendam kesehariannya akan selalu  bawa beban. Waktu hidupnya bisa habis  cuman buat mikirin balas dendam. Nggak  produktif. Masa depannya pun bakal  suram. Rugi! []

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

 

Islam itu Satu

Majalahdrise.com – Driser, hati-hati kesambet JIN, eh  kebawa opini Jaringan Islam Nusantara.  Tuhan kita satu. Rasul kita satu. Agama kita  juga satu. Nggak dibagi-bagi sesuai tempat  tinggal kita. Allah mengingatkan kita: Sesungguhnya umat [agama] kalian ini  adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah  Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (TQS  al-Anbiya’ [21]: 92).

Kata “ummat” pada ayat di atas  diartikan oleh para mufassir dengan agama (millah). Maknanya jelas, yakni agama kita,  Islam, itu satu. Tidak terbagi dan tidak boleh  dilabeli kata-kata yang meracuni. Kata  “ummat” itu juga bisa diartikan secara  bahasanya, yaitu umat. Karena itu Islam  adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak  ada “Islam Nusantara”, “Islam Turki”, atau  “Islam Arab”. Umat Islam pun hanya satu.  Tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat  Islam Arab” atau yang lain. Semuanya  adalah Islam dan umat Islam. Catet tuh! Karena Islam satu, nggak perlu ada  lagi label Islam pake nama daerah atau  wilayah.

Justru Islam membenci adanya  fanatisme daerah alias nasionalisme yang  bikin umat Islam terpecah belah. Nggak  peduli satu sama lain cuman lantaran beda  ras, negara atau suku. Jelas banget rasul  mengingatkan, “Bukan termasuk umatku  orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan  termasuk umatku orang yang berperang atas  dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku  orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah  (nasionalisme dan tribalisme).” (HR Abu  Dawud).

Biar nggak gampang kena jebakan  betmen Islam Nusantara, ada baiknya kita  kenal islam lebih dalam. Jangan cuman  tahu aturan ibadahnya aja. Tapi juga paham  Islam sebagai aturan hidup yang beda  dengan ajaran agama lainnya. Dengan  begitu, kita punya tameng buat menangkal  pemahaman sesat yang bisa merontokkan  akidah kita. Dan tetap bangga sebagai  muslim calon penghuni surga. Islam  Nusantara? Ke laut aja..!#YukNgaji!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Hati-Hati Sekularisasi!

MajalahDrise.com – Banyak yang ngiri dengan ajaran Islam  yang sempurna. Terutama mereka yang  belon dapat hidayah dari yang Maha Kuasa.  Musuh-musuh Islam getol mengajak umat  Islam untuk hidup sewajarnya. Nggak perlu  fanatik apalagi sampai kaku banget dengan  perubahan jaman. Salah satu caranya  dengan mengkampanyekan ide Islam nusantara.  Secara umum, Islam Nusantara  mengajak umat Islam untuk lebih terbuka  dengan kondisi, toleran terhadap ajaran  agama lain dan fleksibel dengan budaya  keindonesiaan. Muslimah nggak perlu  ngotot menutup aurat harus sempurna  dalam balutan khimar (kerudung) dan jilbab  sesuai syariat.

Ikutin aja perkembangan  fashion muslimah yang memadukan hijab  dengan legging, model punuk unta, atau  gaya jilboobs. Yang penting nutup aurat.  Nggak mesti juga anti dengan perayaan  agama lain sebagai bentuk toleransi. Toh  cuman ngasih ucapan selamat atau ikut  doa bersama aja. Atau fanatik dengan  penerapan syariah oleh negara, terima aja  konsep demokrasi yang ada.    Islam Nusantara kesannya emang  indonesia banget. Cinta tanah air gitu.  Padahal menggiring umat Islam masuk  dalam jebakan gaya hidup sekuler.

Agar  seorang muslim hidup seperti kebanyakan  penganut agama lain. Ibadahnya aja  digetolin. Kesehariannya, lepas dari aturan  agama. Saat shalat nutup aurat, giliran  sekolah mengumbar aurat. Nikah pake  aturan agama, pas nyari harta malah  menghalalkan segala cara.  Yang paling berbahaya, ketika gaya  hidup sekuler memasung kesempurnaan  syariah Islam. Ajaran Islam yang komplet  diiris-iris jadi sepihan ibadah yang mangkal  di pojokon mesjid atau musholla.

Gaung  Islam cuman kedengeran saat ramadhan.  Tapi dalam keseharian, syariah  dicampakkan.  Negara ngurus rakyatnya pake aturan  demokrasi. Ekonomi berbasis liberal bikin  invesor asing jingkrak-jingkrak kegirangan.  Gimana nggak, sumber daya alam yang  berlimpah bisa mereka privatisasi dengan  mudah. Umpan utang luar negeri, dilahap  pemerintah neo liberal. Walhasil, nilai tukar  rupiah terjun bebas tak tertahan. Bikin para  pengusaha dan pemerintah kelabakan.

Toleransi  beragama  dipake dalih  untuk  mempersempit  ruang gerak  dakwah Islam.  Pengemban  dakwah yang  istiqomah dicap  radikal. Para  pejuang syariah  dicap  fundamentalis  atau dikaitkan  dengan teroris.  Opini  penegakkan syariah dianggap memancing  konflik. Dan muslim yang tunduk dengan  gaya hidup sekularisasi dikasih gelar  moderat sesuai keinginan barat.  Ternyata, sekularisasi termasuk salah  satu yang direkomendasikan oleh Ariel  Cohen kepada AS dalam menghadapi  gerakan Islam yang mengusung syariah dan  khilafah.Menurut peneliti Amerika  keturunan Yahudi ini, salah satu cara  melawan kelompok Islam radikal adalah  dengan cara membenturkan kelompok  tersebut dengan kelompok Islam moderat.  Biar umat Islam ribut dengan sesama  saudaranya. Sementara musuh Islam tinggal  menikmati hasilnya. Hati-hati ah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49