Apa UKURAN SUKSES itu?

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

drise-online.com – Mbk, apa sich ukuran sukses bagi seorang muslim, sy selalu saja merasa gagal…(Aditya, Jkrt)

 

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Aditya yang baik,

Setiap orang berharap menjadi pribadi sukses.Kebanyakan orang mengukur kesuksesan hanya berhasil secara materi, berprestasi, popular, bergaji besar, dan memiliki pangkat yang tinggi. Inilah penilaian yang kurang tepat dalam memaknai kata sukses. Penilaian ini menyebabkan banyak orang berlomba dan tergila-gila mendapatkannya. Para remaja pun berlomba – lomba ingin menjadi artis, sebab mereka mengira dengan mendapatkan banyak uang, popularitas inilah kesuksesan.

Dik Aditya yang baik,

Islam memberikan kriteria kesuksesan. Sukses merupakan keberhasilan seseorang untuk menjadi lebih baik dari masa lalunya  “ Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung(Al Hadist).Sukses adalahsesuatu yang tidak kasat mata. Ia tidak dikarenakan melimpahnya kekayaan, dan tidak bisa dibeli dengan harta benda. Puncak kesuksesan dan keberuntungan seorang muslim adalah ketika mendapatkan ridha Allah. Ini hanya akan bisa diraih oleh seorang muslim yang senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam kesehariannya. Ia akan melakukan segala sesuatu sebaik mungkin sebab Allah menyeru seorang muslim bersungguh- sungguh melakukan segala hal dengan tetap terikat aturan Islam.

Dik Aditya yang baik,

Banyak faktor yang menyertai jalan menuju kesuksesan. Salah satunya faktor semangat. Meski kegagalan sering menghadang, bukan berarti mustahil untuk sukses. Mulailah bermimpi. Lejitkan potensi diri. Jangan takut mencoba, apalagi takut gagal. Munculkan “the best of us”. Hal terbaik yang Adik miliki, meski berbagai aral melintang. Adik pasti bisa. Tidak ada kata gagal dalam hidup ini. Sejatinya yang ada hanyalah kesuksesan yang tertunda. Meski harus jatuh bangun, Adik harus tetap semangat dan bangkit menghadainya. Tidak ada orang kalah dalam hidup ini selama ia mau berusaha dan tawakal kepada Allah. Kalau orang lain bisa, tentu Adik juga bisa karena Allah bersama kita. Jadilah seorang muslim pemenang sejati yaituseorang muslim yang terus merakit keberhasilan, meski sering menemui kegagalan. []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38

Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian I)

drise-online.com – Saat itu, sekitar pukul 02.00 dinihari EET (Eastern European Time), pesawat KLM Royal Dutch yang membawa kamidari Bandara Internasional Schippol, Amsterdam, mendarat di Bandara Internasional Atatürk Istanbul, Turki. Tak lama, supir shuttle travel hotel yang ditugaskan untuk menjemput membawa kami membelah kesunyian kota Istanbul menuju kawasan Kota Tua Sultan Ahmet,  tempat hotel kami berada. Tak jauh dari hotel terdapat sebuah Masjid kecil dengan menaranya yang tinggi, tipikal masjid-masjid Istanbul. Hotel ini juga cukup dekat dengan Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque),sehingga wajar saja bila suara adzanshubuh bersahutan memasuki kamar kami.

Pagi harinya, kami sarapan di rooftop terrace hotel yang menghadap ke Laut Marmara. Sesaat saya terhenyak, memandangi Laut Marmara yang luas membentang. Saya baru menyadari bahwa Kota Istanbul terletak di sebuah semenanjung yang diapit oleh Laut Marmaradan Laut Hitam. Selat Bosporus, sebagai salah satu jalur transportasi laut tersibuk di dunia, pun membelah kota ini menjadi dua, menguhubungkan Laut Marmara di sisi selatan dan Laut Hitam di sisi utara. Tak heran bila kota ini pernah menjadi pusat peradaban Byzantine dan Ottoman Empire (Kekhilafahan Ustmaniyah).

Saat mengikuti Bosphorus Cruising Tour, seorang guide menyebut tiga nama yang paling berpengaruh bagi pembangunan Turki. Ketiga tokoh tersebut adalah Sultan MehmedII The Conqueror (Fatih Sultan Mehmet), Suleiman The Magnificent (Kanunî Sultan Süleyman), dan Mustafa Kemal Father of the Turks (Mustafa Kemal Atatürk). Sultan Mehmet II adalah salah seorang Khalifah era Ustmaniyah yang berhasil membebaskan Konstantinopel dari Imperium Romawi (Byzantine). Selanjutnya beliau mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (sekarang dikenal dengan Istanbul) dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Khilafah Ustmaniyah. Sepanjang Khilafah Ustmaniyah berdiri, sejarah mencatat masa pemerintahan Sultan Süleyman sebagai masa puncak keemasan. Di bawah kekuasaannya, Khilafah Ustmaniyah menjadi salah satu negara terkuat di dunia yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika (semenanjung Afrika Timur). Sultan Süleymanpulalah yang menyempurnakan pembangunan Kota Istanbul dengan tatakota yang artistik dan bernafaskan Islam, hingga Napoleon Bonaparte menjulukinya sebagai ibukota bagi seluruh dunia.

Berdiri di taman kota Istanbul (Sultan Ahmet Square), dan melihat sekelilingnya, mengingatkan saya bahwa penaklukan Konstantinopel yang dilakukan Sultan Mehmet II, semata-mata karena dorongan sabda Rasulullah SAW, “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (HR Ahmad Bin Hanbal, Al-Musnad [4/335]).Beliau dan Sultan-sultan penggantinya memiliki dorongan yang sama dalam membangun Istanbul, yakni semata-mata untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Bangunan-bangunan yang masih tegak berdiri di sana menjadi bukti otentik bahwa pembangunan Istanbul sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam.

Sultan Mehmet II mengubah Hagia Sophia (Ayasofya) dari sebuah gereja menjadi Masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan kaum muslimin di Istanbul. Beliau juga membangun tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahannya, Istana Topkapi (Topkapı Sarayı), berdekatan dengan masjid ini. Sebagai penopang keberlangsungan Masjid Ayasofya, sebuah pasar yang menjadipusat perniagaan warga Istanbul pun dibangun di dekatnya. Hingga hari ini pasar tersebut masih dikenal di seluruh dunia dengan nama Covered Bazaar (Kapalıçarşı).

Dekat dengan Ayasofya terdapat tempat penyimpanan air bawah tanah terbesar di masa Byzantine, Basilica Cistern (Yerebatan Sarayı). Cistern ini mensuplai kebutuhan air penduduk Kota Konstantinopel pada masa itu. Tetapi, di masa Kekhilafahan  Ustmaniyah, tidak dipergunakan lagi. Sebagai gantinya, Sultan-Sultan yang memerintah di Istanbul dari masa ke masa, membangun fountain untuk menyediakan air bersih bagi warga Kota Istanbul. Fountain ini dibangun karena keyakinan Islam akan sifat air mengalir yang suci lagi menyucikan. Tercatat lebih dari 10.000 fountain telah dibangun, diantaranya dipergunakan untuk berwudlu dan minum para warga maupun musafir. Salah satu fountain yang terkenal dan masih berfungsi hingga sekarang adalah Fountain of Sultan Ahmet III yang berada di depan pintu gerbang Istana Topkapi. Konon fountain ini untuk menyambut para tamu Sultan (musafir).

Kebiasaan menyediakan air bersih untuk diminum para musafir, masih berlangsung hingga sekarang. Di beberapa tempat di Istanbul, terutama di pasar-pasar, tersedia tangki air minum lengkap dengan gelas plastiknya. Sehingga memudahkan para wisatawan yang kehausan. Kali pertama menjumpai tangki air minum ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segelas air langsung saya minum dan botol-botol persediaan air yang kami miliki pun saya isi penuh.

Itulah sebagian kesan saya tentang kota Istanbul yang dibangun para Sultan di masa Khilafah Ustmaniyah. Mereka (para Sultan Ustmaniy), menjadikan nilai-nilai dan ajaran Islam sebagai pondasi dalam membangun tatakota dan masyarakatnya. Pondasi inilah yang mengantarkan kekhilafahan Ustmaniyah menjadi negara kuat, besar dan berpengaruh secara internasional. Kesan saya yang lain tentang Istanbul, akan saya tuangkan dalam tulisan berikutnya. Terutama kesan yang muncul akibat kebijakan yang diterapkan tokoh ketiga yang disebut oleh tour guide yang saya ikuti, yaitu Mustafa Kemal Atatürk. Tungguin yaa…

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majlah Remaja Islam  D’rise edisi #38

Derap Rantai Episode 9

drise-online.com – “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan jaringan serta fasilitas rahasia ini. Ternyata Rasulullah memang sudah merencanakan untuk mem-futuhat Persia lewat Ubullah ini. Aku harus terus memertahankan posisiku sampai datang instruksi selanjutnya, dan itulah kalian.”

Shollu ‘ala Rasulillah, semoga Allah melimpahkan rahmat dan barokahnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam,” Mutsana memanjatkan solawat untuk Rasulullah. “Kekaisaran Persia memang batu sandungan yang amat besar untuk tersebarnya Islam, karena itu kita harus berupaya sekuat tenaga dalam menyingkirkan batu sandungan ini dengan jihad fi sabilillah.”

Aswad mengangkat tangannya dan berdoa, kemudian mengusapkannya ke wajahnya. “Selama pelaksanaan tugas rahasia ini aku diperintahkan untuk menyamar menjadi pedagang kain. Panghasilannya lumayan juga, dan bisa dijadikan sebagai penopang hidup sekaligus pendukung untuk menjalankan misi. Anggota timku yang lain ada yang menjadi tukang kayu, tukang batu, sampai pegawai administrasi Persia. Tapi sebagian besar adalah pedagang kain.”

“Jumlah tim anda ada berapa orang?” Tanya Mutsana.

“Tujuh puluh orang.”

“Subhanallah,” gumam Jabal. “Semoga Allah menambahkan barokahNya kepada anda dan tim anda.”

Mutsana memeriksa saku celananya. Dibukanya ikatan tali yang mengamankan isinya, kemudian mengeluarkan sepucuk surat kecil.

“Kami diamanahkan untuk menyerahkan surat ini kepada anda. Allah menyaksikan bahwa sekarang amanah telah kami tunaikan,” kata Mutsana.

Aswad menerima surat kecil itu dalam kedua belah tangannya. Sudah lama sekali masanya sejak dia menerima surat misinya yang pertama kali. “Terima kasih banyak. Semoga Allah memberkahi kalian.” Aswad membuka surat itu dan membacanya.

 

 

Assalamu’alaikum

Kepada saudaraku, Aswad bin Asadi

Aku telah mengutus dua orang saudara kita, yakni Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza ke Ubullah untuk menemuimu. Serahkanlah seluruh laporan temuanmu kepada mereka. Nanti merekalah yang akan membawanya kembali kepadaku.

Misi selanjutnya untukmu dan timmu adalah, lumpuhkan seluruh fasilitas pemerintahan dan militer Persia di Ubullah. Kita akan melakukan futuhat ke Persia.

Saudaramu

Abu Bakar.

 

 

 

“Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa anda akan menyerahkan sesuatu setelah membaca surat itu,” kata Mutsana. “Kami ditugaskan untuk membawa sesuatu itu kepada Khalifah.”

“Benar,” Aswad mengangguk. “Aku harus menyerahkan seluruh laporan kepada kalian, dan kalian harus mengantarkannya kepada Khalifah Abu Bakar. Semuanya sudah aku siapkan. Silakan ikut aku.”

Aswad memimpin mereka memasuki ruangan bagi tengah. Di dalam ruangan itu sudah ada dipan-dipan yang empuk dan meja-meja yang terletak di atasnya buah-buahan. Ruangan itu terlindungi dari pandangan luar.

“Silakan duduk dengan lebih nyaman, sementara aku mengambilkan seluruh laporanku,” kata Aswad sambil melayangkan lengannya.

“Terima kasih,” kata Mutsana.

Mereka segera mengempaskan tubuh mereka di atas dipan, lelah sekali rasanya. Namun rasa lelah apakah yang paling nikmat kalau bukan rasa lelah dalam mengemban amanah dari Khalifah kaum muslim. Energi mereka telah terkuras, semalaman mereka tidak tidur, ditambah lagi mereka harus dikejar-kejar seperti pencuri ayam. Jabal segera mengambil sebutir anggur hijau yang ada di atas meja, setelah membisikkan basmallah, dia menjejalkan anggur itu ke dalam mulutnya. Dia benar-benar kelaparan, sudah seharian itu mereka tidak makan.

Tak lama kemudian Aswad muncul lagi di ruangan itu dengan membawa setumpuk tebal perkamen berwarna cokelat. Dia letakkan tumpukan perkamen itu di atas meja kemudian dibungkusnya dengan sebuah tas dari kulit.

“Ini semua adalah dokumen laporan yang lengkap untuk Khalifah Abu Bakar Shiddiq,” katanya. “Dokumen ini harus kalian bawa kepada Khalifah.”

“Insya Allah,” kata Mutsana.

“Oya, bagaimana cara kalian masuk ke kota ini? Lewat gerbang utama?” Tanya Aswad.

“Kami tidak lewat gerbang utama. Tidak mungkin lewat sana,” kata Jabal.

“Benar, pemeriksaannya ketat sekali, dan kami tidak punya surat izin masuk,” tambah Mutsana.

“Memang sulit sekali mendapatkan surat izin masuk itu,” kata Aswad, “salah satu syaratnya adalah tidak boleh beragama Islam. Pemerintah Persia memang benci sekali kepada Islam. Jadi kalau begitu kalian lewat mana?”

“Kami mendaki tembok kota di sebelah barat, dan bersembunyi di Rumah Kematian,” kata Jabal. “Pasti anda tahu, rumah hantu yang ada di sebelah barat kota.”

Aswad tergelak, “Ooh, Rumah Kematian, ya semua orang yang tinggal di kota ini pasti tahu rumah itu. sebenarnya kalau kalian tahu sesuatu tentang rumah itu, kalian tidak harus repot-repot menghadapi kekacauan seperti yang baru saja kalian alami!”

“Ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38

MajalahDrise Edisi 38 : Gila Bola di Bulan Mulia

 13 Juni 2014 jadi bakal hari bersejarah bagi negeri samba. Setelah 64 tahun menunggu, akhirnya Juara dunia lima kali ini dapet giliran lagi untuk jadi tuan rumah piala dunia. Hajatan sepakbola empat tahunan yang paling ditunggu oleh jutaan bola mania, tak terkecuali di Indonesia. Arena Corinthians, Sao Paulo, Jumat (13/6/2014) dinihari WIB bergemuruh oleh ribuat penontonmenyaksikan berbagai atraksi dan tarian khas Brazil dalam pembukaan pagelaran perebutan piala Jules Rimet ini. Sebuah euforia piala dunia di atas kesenjangan sosial warga Brazil. Ironis.

Piala dunia 2014 di Brazil adalah penyelenggaraan ke 20 setelah pertama kali digelar tahun 1930. Untuk kedua kalinya, negeri Pele sang legenda sepakbola ini jadi tuan rumah. Nggak heran kalo pemerintahnya banyak berbenah untuk menyambut kedatangan team dan supporter dari 31 negara yang lolos kualifikasi. Sampe rela merogoh kocek sekitar $ 11,5 miliar atau setara 142 triliun rupiah. Ini yang memicu protes dari para penduduk pribumi yang merasa tersisihkan akibat piala dunia. Untuk sepakbola, pemerintahnya rela ngeluarin miliran duit real Brazil. Sementara untuk kesejahteraan rakyatnya, minim banget. Rakyatnya protes keras dengan mengusung tema, “We need FOOD not FOOTBALL!”

 

Kemaksiatan Merajalela

Kalo euforia sudah naik ke ubun-ubun, sering kali bikin pengidapnya lupa daratan. Ekspresi kegembiraannya diungkapkan dengan berbagai cara. Nggak peduli keliatan gokil bin tengil, orang dipaksa memaklumi. Seperti yang banyak dilakukan oleh suporter wanita yang kedapatan kamera memberikan dukungan bagi tim idolanya dengan busana seksi malah tanpa busana bagian atas alias topless! Persis kaya orang gila menari striptease di tengah jalan protokol saat jam masuk kerja. Kagak waras..!

Para penggila bola pun demikian adanya. Bukan. Kita bukan mau menyamakan para bola mania dengan orang gila. Itu fitnah. Kita cuman mau bilang, ada beberapa oknum bola mania terutama muslim yang udah kebablasan ekpresikan hobi bolanya. Dari mulai tawuran, taruhan, hingga campur baur laki perempuan yang semuanya bertabur kemaksiatan. Orang gila masih mending, kalo maksiat nggak akan ditanya di akhirat. Lah kalo penggila bola yang waras terus terhanyut kemaksiatan yang terorganisir, berabe urusannya. Bisa-bisa nggak pernah menginjakkan kaki di surga. Nah lho!

Hajatan olahraga akbar seperti piala dunia, lantaran lahir dari rahimnya orang-orang sekuler tentu nggak peduli dengan norma gama. Bahkan event akbar piala dunia nggak ada sangkut pautnya dengan agama. Bebas nilai dan bebas berekspresi. Walhasil, kemaksiatan dalam kacamata Islam pun tak merajalela selama ajang piala dunia.

Pertandingan sepakbola dengan tingkat fanatisme yang tinggi, sering kali bikin semangat suporter-nya over dosis. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.

Di Italia misalnya. Pada 2 Februari 2007, pendukung klub Catania terlibat bentrokan dengan polisi Italia. Kerusuhan yang pecah usai laga antara Catania dengan Palermo itu menewaskan seorang anggota polisi, Filippo Raciti, dan ratusan orang mengalami luka-luka. Pasca kejadian ini, kompetisi Seri A diliburkan selama satu pekan.

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung ‘Bianconeri’ dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.

Di Piala Eropa 2008, perkelahian antarsuporter merebak pascakemenangan Jerman atas Polandia, 2-0, Senin (9/6) dini hari. Bentrokan pendukung kedua kesebelasan terjadi di luar Stadion Worthersee, Austria, saat Jerman unggul 1-0 atas Polandia. Penangkapan terhadap para hooligans Jerman juga terus dilancarkan Kepolisian Austria guna mencegah terjadinya kerusuhan. Sedikitnya 100 hooligans ditangkap polisi dalam dua kali razia. Empat puluh orang di antaranya ditangkap karena mengeluarkan ejekan berbau Nazi selama pertandingan antara Jerman dan Polandia.

Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04)

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Demam Piala Dunia 2014 Brasil membuat semua pecinta taruhan bola berpesta pora.Mulai dari anak-anaksampai orang tua asyik ngomongin skor pertandingan saban harinya. Saking serunya, nggak sadar mereka terhanyut dalam ajang taruhan. Awalnya sih buat seru-seruan. Biar tebak-tebakan skor nggak cuman permainan, tapi ada hadiah yang bikin penasaran. Mulai deh taruhan yang tebakannya jitu dapat hadiah kumpulan receh atau traktiran makanan dari temen-temennya. Hadiahnya tambah gede seiring ajang kompetisi yang makin mengkerucut. Ujungnya, tebakan skor final atau negara kampiun piala dunia jadi ajang taruhan. Kalo udah kecanduan taruhan, kaya orang kehillangan akal. Sampe-sampe percaya aja ama ramalan gurita, kucing, atau binatang lainnya. Tepok jidat!

Pasar judi online selama ajang piala dunia udah jadi incaran para bandar judi. Dari tingkat lokal sampe internasional. Bandar judi di Surabaya panen mengeruk keuntungan melalui jaringan judi bola secara online waktu Piala Dunia 2010. Omzet mereka bisa mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Selama Piala Dunia Brazil, omset judi via internet ini mampu menembus nominal Rp50 juta dalam satu hari.

Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

 

Saatnya Panen Pahala, Bukan Dosa!                                                         MAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Com          

Driser, kebeneran bangetajang Piala Dunia 2014 ini bersinggungan dengan hadirnya bulan mulia yang ditunggu umat Islam sedunia. Bulan penuh pengampunan sekaligus ajang pas buat mendongkrak tabungan pahala kita. Seperti disampaikan Rasul dalam khutbahnya sebelum Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”

Bayangkan ada sebuah rumah berkah. Setiap hal positip yang dikerjakan penghuninya bakal diganjar duit segepok. Buka alas kaki dulu sebelum masuk rumah, dibayar. Ngerjain rutinitas harian mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, nyuci baju, sarapan,dan makan, semuanya dibayar. Nggak cuman itu, kalo bersihin debu  di atas meja, motongin rumput di halaman depan, atau ngerapihin perabotan dalam rumah, semuanya dibayar. Pertanyaannya, apa yang bakal kamu kerjain kalo dapet kesempatan tinggal di rumah berkah di atas selama sebulan penuh?

Kalo kamu mata duitan, pastinya nggak akan pernah melewatkan setiap detik di rumah itu tanpa kegiatan positif. Yup, kurang lebih kesempatan itulah yang ditawarkan bulan Ramadhan. Nggak keren kalo kita sebagai muslim menganggap tak ada yang istimewa dengan bulan Ramadhan. Apalagi sampe kalah antusias sama ajang piala dunia. Kebangetan.

Kita nggak dapat apa-apa untuk kebaikan di akhirat dari piala dunia 2014. Kita malah bisa terhanyut dalam suasa
na fanatisme alias ashobiyah tanpa kita sadari. Padahal jelas-jelasislam ngelarang kita bersikap ta’ashub. Bangga dan fanatik buta ama kelompok kebanggaan kita. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia. Karena kita dipaksa untuk hidup terkotak-kotak dalam kungkungan daerah, negara, atau klub sepakbola. Selain itu, fanatisme kelompok juga bisa bikin kita ngerasa beda dengan orang lain dan mempersempit pergaulan. Makanya wajar kalo agama kita nggak ngasih celah sedikitpun untuk berkembangbiaknya sikap fanatik kelompok seperti yang dilestarikan dalam ajang piala dunia. Sabda Nabi saw.: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.”(HR Abu Daud)

Suasana piala dunia bisa bikin kita terlena. Bukannya getol nyari pahala, malah ikut jadi aktifis maksiat di bulan mulia. Akibatnya, dosa berlipat ganda sementara pahala puasa hilang entah kemana. Rasul saw ngingetin kita, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan haram serta kejahilan, maka Allah tidak butuh puasanya; meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

Karena itu, sinari ramadhanmu dengan kegiatan yang ngasih manfaat dunia akherat. Ikut kajian Islam yang menjamur di bulan Ramadhan. Biar kuat iman, kuat ilmu, kuat mental, dan kuat pendirian untuk tetap istiqomah pake aturan hidup Islam. Jangan lupa, tiada hari tanpa tadarrus. Baca Al-qur’an di bulan Ramadhan jadi ladang pahala berlimpah bagi kita. Nggak ketinggalan, banyakin ngobyek ibadah ‘sampingan’. Shalat sunnah pahalanya disamain dengan shalat fardhu. Dan shalat fardhu diganjar 70 kali lipat bo! Makanya, jangan sampe kelupaan untuk sempatkan diri shalat sunat. Mulai dari shalat rawatib (sebelum dan sesudah shalat fardhu), shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat witir, dll. Terakhir, kikis sikap individualis. Di bulan suci ini, saatnya kita genjot kepedulian kita terhadap orang lain yang membutuhkan. Sisihkan uang jajan kita untuk bershadaqah. Dalam sebuah percakapan seorang shahabat bertanya: “Shodaqoh mana yang utama?”. “Shadaqoh di bulan Ramadhan..” Jawab Rasul(HR. At-Tirmidzi).

Driser, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran. Kalo tetep dibiarin, umat Islam jadi bulan-bulanan. Jadi korban diskriminasi dan kekayaannya abis dieskploitasi investor asing yang nggak tahu diri. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan.Ikut ngaji lalu sampaikan. Yuk![341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #38