MajalahDrise Edisi 38 : Gila Bola di Bulan Mulia

 13 Juni 2014 jadi bakal hari bersejarah bagi negeri samba. Setelah 64 tahun menunggu, akhirnya Juara dunia lima kali ini dapet giliran lagi untuk jadi tuan rumah piala dunia. Hajatan sepakbola empat tahunan yang paling ditunggu oleh jutaan bola mania, tak terkecuali di Indonesia. Arena Corinthians, Sao Paulo, Jumat (13/6/2014) dinihari WIB bergemuruh oleh ribuat penontonmenyaksikan berbagai atraksi dan tarian khas Brazil dalam pembukaan pagelaran perebutan piala Jules Rimet ini. Sebuah euforia piala dunia di atas kesenjangan sosial warga Brazil. Ironis.

Piala dunia 2014 di Brazil adalah penyelenggaraan ke 20 setelah pertama kali digelar tahun 1930. Untuk kedua kalinya, negeri Pele sang legenda sepakbola ini jadi tuan rumah. Nggak heran kalo pemerintahnya banyak berbenah untuk menyambut kedatangan team dan supporter dari 31 negara yang lolos kualifikasi. Sampe rela merogoh kocek sekitar $ 11,5 miliar atau setara 142 triliun rupiah. Ini yang memicu protes dari para penduduk pribumi yang merasa tersisihkan akibat piala dunia. Untuk sepakbola, pemerintahnya rela ngeluarin miliran duit real Brazil. Sementara untuk kesejahteraan rakyatnya, minim banget. Rakyatnya protes keras dengan mengusung tema, “We need FOOD not FOOTBALL!”

 

Kemaksiatan Merajalela

Kalo euforia sudah naik ke ubun-ubun, sering kali bikin pengidapnya lupa daratan. Ekspresi kegembiraannya diungkapkan dengan berbagai cara. Nggak peduli keliatan gokil bin tengil, orang dipaksa memaklumi. Seperti yang banyak dilakukan oleh suporter wanita yang kedapatan kamera memberikan dukungan bagi tim idolanya dengan busana seksi malah tanpa busana bagian atas alias topless! Persis kaya orang gila menari striptease di tengah jalan protokol saat jam masuk kerja. Kagak waras..!

Para penggila bola pun demikian adanya. Bukan. Kita bukan mau menyamakan para bola mania dengan orang gila. Itu fitnah. Kita cuman mau bilang, ada beberapa oknum bola mania terutama muslim yang udah kebablasan ekpresikan hobi bolanya. Dari mulai tawuran, taruhan, hingga campur baur laki perempuan yang semuanya bertabur kemaksiatan. Orang gila masih mending, kalo maksiat nggak akan ditanya di akhirat. Lah kalo penggila bola yang waras terus terhanyut kemaksiatan yang terorganisir, berabe urusannya. Bisa-bisa nggak pernah menginjakkan kaki di surga. Nah lho!

Hajatan olahraga akbar seperti piala dunia, lantaran lahir dari rahimnya orang-orang sekuler tentu nggak peduli dengan norma gama. Bahkan event akbar piala dunia nggak ada sangkut pautnya dengan agama. Bebas nilai dan bebas berekspresi. Walhasil, kemaksiatan dalam kacamata Islam pun tak merajalela selama ajang piala dunia.

Pertandingan sepakbola dengan tingkat fanatisme yang tinggi, sering kali bikin semangat suporter-nya over dosis. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.

Di Italia misalnya. Pada 2 Februari 2007, pendukung klub Catania terlibat bentrokan dengan polisi Italia. Kerusuhan yang pecah usai laga antara Catania dengan Palermo itu menewaskan seorang anggota polisi, Filippo Raciti, dan ratusan orang mengalami luka-luka. Pasca kejadian ini, kompetisi Seri A diliburkan selama satu pekan.

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung ‘Bianconeri’ dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.

Di Piala Eropa 2008, perkelahian antarsuporter merebak pascakemenangan Jerman atas Polandia, 2-0, Senin (9/6) dini hari. Bentrokan pendukung kedua kesebelasan terjadi di luar Stadion Worthersee, Austria, saat Jerman unggul 1-0 atas Polandia. Penangkapan terhadap para hooligans Jerman juga terus dilancarkan Kepolisian Austria guna mencegah terjadinya kerusuhan. Sedikitnya 100 hooligans ditangkap polisi dalam dua kali razia. Empat puluh orang di antaranya ditangkap karena mengeluarkan ejekan berbau Nazi selama pertandingan antara Jerman dan Polandia.

Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04)

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Demam Piala Dunia 2014 Brasil membuat semua pecinta taruhan bola berpesta pora.Mulai dari anak-anaksampai orang tua asyik ngomongin skor pertandingan saban harinya. Saking serunya, nggak sadar mereka terhanyut dalam ajang taruhan. Awalnya sih buat seru-seruan. Biar tebak-tebakan skor nggak cuman permainan, tapi ada hadiah yang bikin penasaran. Mulai deh taruhan yang tebakannya jitu dapat hadiah kumpulan receh atau traktiran makanan dari temen-temennya. Hadiahnya tambah gede seiring ajang kompetisi yang makin mengkerucut. Ujungnya, tebakan skor final atau negara kampiun piala dunia jadi ajang taruhan. Kalo udah kecanduan taruhan, kaya orang kehillangan akal. Sampe-sampe percaya aja ama ramalan gurita, kucing, atau binatang lainnya. Tepok jidat!

Pasar judi online selama ajang piala dunia udah jadi incaran para bandar judi. Dari tingkat lokal sampe internasional. Bandar judi di Surabaya panen mengeruk keuntungan melalui jaringan judi bola secara online waktu Piala Dunia 2010. Omzet mereka bisa mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Selama Piala Dunia Brazil, omset judi via internet ini mampu menembus nominal Rp50 juta dalam satu hari.

Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

 

Saatnya Panen Pahala, Bukan Dosa!                                                         MAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Com          

Driser, kebeneran bangetajang Piala Dunia 2014 ini bersinggungan dengan hadirnya bulan mulia yang ditunggu umat Islam sedunia. Bulan penuh pengampunan sekaligus ajang pas buat mendongkrak tabungan pahala kita. Seperti disampaikan Rasul dalam khutbahnya sebelum Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”

Bayangkan ada sebuah rumah berkah. Setiap hal positip yang dikerjakan penghuninya bakal diganjar duit segepok. Buka alas kaki dulu sebelum masuk rumah, dibayar. Ngerjain rutinitas harian mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, nyuci baju, sarapan,dan makan, semuanya dibayar. Nggak cuman itu, kalo bersihin debu  di atas meja, motongin rumput di halaman depan, atau ngerapihin perabotan dalam rumah, semuanya dibayar. Pertanyaannya, apa yang bakal kamu kerjain kalo dapet kesempatan tinggal di rumah berkah di atas selama sebulan penuh?

Kalo kamu mata duitan, pastinya nggak akan pernah melewatkan setiap detik di rumah itu tanpa kegiatan positif. Yup, kurang lebih kesempatan itulah yang ditawarkan bulan Ramadhan. Nggak keren kalo kita sebagai muslim menganggap tak ada yang istimewa dengan bulan Ramadhan. Apalagi sampe kalah antusias sama ajang piala dunia. Kebangetan.

Kita nggak dapat apa-apa untuk kebaikan di akhirat dari piala dunia 2014. Kita malah bisa terhanyut dalam suasa
na fanatisme alias ashobiyah tanpa kita sadari. Padahal jelas-jelasislam ngelarang kita bersikap ta’ashub. Bangga dan fanatik buta ama kelompok kebanggaan kita. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia. Karena kita dipaksa untuk hidup terkotak-kotak dalam kungkungan daerah, negara, atau klub sepakbola. Selain itu, fanatisme kelompok juga bisa bikin kita ngerasa beda dengan orang lain dan mempersempit pergaulan. Makanya wajar kalo agama kita nggak ngasih celah sedikitpun untuk berkembangbiaknya sikap fanatik kelompok seperti yang dilestarikan dalam ajang piala dunia. Sabda Nabi saw.: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.”(HR Abu Daud)

Suasana piala dunia bisa bikin kita terlena. Bukannya getol nyari pahala, malah ikut jadi aktifis maksiat di bulan mulia. Akibatnya, dosa berlipat ganda sementara pahala puasa hilang entah kemana. Rasul saw ngingetin kita, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan haram serta kejahilan, maka Allah tidak butuh puasanya; meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

Karena itu, sinari ramadhanmu dengan kegiatan yang ngasih manfaat dunia akherat. Ikut kajian Islam yang menjamur di bulan Ramadhan. Biar kuat iman, kuat ilmu, kuat mental, dan kuat pendirian untuk tetap istiqomah pake aturan hidup Islam. Jangan lupa, tiada hari tanpa tadarrus. Baca Al-qur’an di bulan Ramadhan jadi ladang pahala berlimpah bagi kita. Nggak ketinggalan, banyakin ngobyek ibadah ‘sampingan’. Shalat sunnah pahalanya disamain dengan shalat fardhu. Dan shalat fardhu diganjar 70 kali lipat bo! Makanya, jangan sampe kelupaan untuk sempatkan diri shalat sunat. Mulai dari shalat rawatib (sebelum dan sesudah shalat fardhu), shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat witir, dll. Terakhir, kikis sikap individualis. Di bulan suci ini, saatnya kita genjot kepedulian kita terhadap orang lain yang membutuhkan. Sisihkan uang jajan kita untuk bershadaqah. Dalam sebuah percakapan seorang shahabat bertanya: “Shodaqoh mana yang utama?”. “Shadaqoh di bulan Ramadhan..” Jawab Rasul(HR. At-Tirmidzi).

Driser, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran. Kalo tetep dibiarin, umat Islam jadi bulan-bulanan. Jadi korban diskriminasi dan kekayaannya abis dieskploitasi investor asing yang nggak tahu diri. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan.Ikut ngaji lalu sampaikan. Yuk![341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #38