Majalahdrise.com – Tapi sesekali saya berusaha menabahkan hati mereka dengan bercerita tentang pahala orang berpuasa, tentang bagaimana orang miskin yang kelaparan, tentang indahnya surga atau mengalihkan perhatian mereka dengan permainanhingga mereka sukses berbuka pada waktunya. Ya, setidaknya mereka sudah mulai mengenal apa itu puasa terlebih dahulu.
Di akhir Ramadhan, menurut saya adalah momen yang paling menyedihkan. Kalau di kampung dulu akhir Ramadhan banyak disibukkan dengan belanja pakaian baru, ah, tak ada lagi tradisi itu di sini. Suami tak ada jadwal cuti lebaran, tetap aktif masuk lab dan berkutat dengan setumpuk angka dan tabel2. Pakaian lebaran cukup yang bersih, sopan dan syar’i yang saya siapkan untuk anak-anak, itupun tak baru, cukup d’rise #49 September 2015 yang saya bawa dari indonesia. Bukan karena tak bisa beli baju baru yang saya sedihkan, tapi karena bayangan tak akan bisa berkumpul bersama keluarga besar di hari rayalah yang sering membuat saya menangis, menjelang hari-hari terakhir Ramadhan.
Jadinya sering-sering berskype ria, melepas kangen dengan keluarga menjadi aktivitas tambahan. Keluarga saling menguatkan kami yang sedang jauh di perantauan, untuk bersabar dengan kondisi kami sekarang. Serta tentunya tetap bersyukur dengan nikmat Ramadhan dan hari raya yang bisa kami jalani dengan sempurna. Yang sedikit membesarkan hati saya adalah teman-teman muslim lainnya di Hakodate, sama-sama saling memberikan dukungan dan kami menjalin persaudaraan yang indah layaknya keluarga.
Hingga rasa rindu pada keluarga di Indonesia sedikit terobati dengan kebersamaan itu. Itulah pengalaman puasa saya tahun lalu di Hakodate Jepang. Tahun ini sayapun menjalani puasa dengan kondisi yang sama seperti tahun lalu, hanya dengan bonus tambahan kehamilan 6 bulan. Alhamdulillah, hingga menjelang 10 hari terakhir ramadhan tahun ini, saya baru satu hari tidak berpuasa, disebabkan harus check up kandungan dan saat itu ternyata harus menjalani tes gula darah, yang mengharuskan saya membatalkan puasa.
Ternyata Allah menguatkan saya dan janin yang saya kandung untuk tetap sempurna berpuasa. Pemeriksaan kandungan terakhir, janin saya sehat, sayapun tak kurang suatu apapun, serta saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Hanya memang jadi sering mengantuk, hehehe. Semoga Allah memberi kemudahan dan kesehatan selama kehamilan ini berlangsung hingga persalinan nanti. Aamiin. Itulah sepenggal kisah saya, berpuasa di negeri matahari terbit, Jepang. Semoga banyak hal yang bisa diambil hikmahnya, terutama menambah rasa syukur dan kemantapan beriman serta beribadah. Aamiin ya rabbal ‘alamin. []
di muat majalah remaja islam drise edisi 49