KABAR DARI LUAR : BERPUASA DI HAKODATE, JEPANG 3

Majalahdrise.com – Tapi  sesekali saya berusaha menabahkan hati  mereka dengan bercerita tentang pahala  orang berpuasa, tentang bagaimana orang  miskin yang kelaparan, tentang indahnya  surga atau mengalihkan perhatian mereka  dengan permainanhingga mereka sukses  berbuka pada waktunya. Ya, setidaknya  mereka sudah mulai mengenal apa itu puasa  terlebih dahulu.

Di akhir Ramadhan, menurut saya  adalah momen yang paling menyedihkan.  Kalau di kampung dulu akhir Ramadhan  banyak disibukkan dengan belanja pakaian  baru, ah, tak ada lagi tradisi itu di sini. Suami  tak ada jadwal cuti lebaran, tetap aktif masuk  lab dan berkutat dengan setumpuk angka  dan tabel2. Pakaian lebaran cukup yang  bersih, sopan dan syar’i yang saya siapkan  untuk anak-anak, itupun tak baru, cukup  d’rise #49 September 2015 yang saya bawa dari indonesia.  Bukan karena tak bisa beli  baju baru yang saya sedihkan,  tapi karena bayangan tak akan  bisa berkumpul bersama  keluarga besar di hari rayalah  yang sering membuat saya  menangis, menjelang hari-hari  terakhir Ramadhan.

Jadinya  sering-sering berskype ria,  melepas kangen dengan  keluarga menjadi aktivitas  tambahan.  Keluarga saling  menguatkan kami yang sedang jauh di  perantauan, untuk bersabar dengan kondisi  kami sekarang. Serta tentunya tetap  bersyukur dengan nikmat Ramadhan dan  hari raya yang bisa kami jalani dengan  sempurna. Yang sedikit membesarkan hati  saya adalah teman-teman muslim lainnya di  Hakodate, sama-sama saling memberikan  dukungan dan kami menjalin persaudaraan  yang indah layaknya keluarga.

Hingga rasa  rindu pada keluarga di Indonesia sedikit  terobati dengan kebersamaan itu. Itulah pengalaman puasa saya tahun  lalu di Hakodate Jepang. Tahun ini sayapun  menjalani puasa dengan kondisi yang sama  seperti tahun lalu, hanya dengan bonus  tambahan kehamilan 6 bulan. Alhamdulillah,  hingga menjelang 10 hari terakhir ramadhan  tahun ini, saya baru satu hari tidak berpuasa,  disebabkan harus check up kandungan dan  saat itu ternyata harus menjalani tes gula  darah, yang mengharuskan saya  membatalkan puasa.

Ternyata Allah  menguatkan saya dan janin yang saya  kandung untuk tetap sempurna berpuasa.  Pemeriksaan kandungan terakhir, janin  saya sehat, sayapun tak kurang suatu  apapun, serta saya tetap menjalankan  aktivitas seperti biasa. Hanya memang jadi  sering mengantuk, hehehe. Semoga Allah  memberi kemudahan dan kesehatan selama  kehamilan ini berlangsung hingga persalinan  nanti. Aamiin.  Itulah sepenggal kisah saya, berpuasa  di negeri matahari terbit, Jepang. Semoga  banyak hal yang bisa diambil hikmahnya,  terutama menambah rasa syukur dan  kemantapan beriman serta beribadah.  Aamiin ya rabbal ‘alamin. []

di muat majalah remaja islam drise edisi 49

Leave a Reply

Your email address will not be published.