Derap Rantai

Episode 7

drise-online.com – “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow

Episode 7

“Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow @sayfghazi

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

Whoever Wins, We Lose..!

drise-online.com – Kampanye sekarang aneh-aneh deh. Walaupun saya tahu, namanya juga usaha. Yaa… usaha mencari suara dengan menarik perhatian masyarakat. Yang paling mnarik perhatian saya adalah adanya foto salah satu caleg yang ditutupi wajahnya dengan topeng karakter tokusatsu Kamen Rider Faiz, caleg yang bersangkutan adalah Muchammad Faiz,ST (caleg DPRD Provinsi KalBar dari PAN). Saya tidak tahu ini editan foto atau bukan, karena saya kok gak heran juga kalau itu betulan. Sebab menurut saya kampanye sekarang memang lebih mengarah kepada iklan jualan saja. Rupanya kampanye politik sudah menjadi dagelan tersendiri. Entah apa ini indikasi kejengahan masyarakat? Sepertinya begitu ya…

Itu yang terjadi di komunitas pecinta budaya Jepang, terutama anime dan tokusatsunya. Ada yang fotonya diganti wajah Son Goku, Naruto dsb. Lebih dahulu sebelum 2014, di jejaring sosial ada parodi pasangan caleg, yaitu Bang Haji Bolot dan Malih. Lucu memang… Kepemimpinan bukan lagi hal yang dianggap serius bagi masyarakat negeri ini. Masyarakat telah kehilangan figur pemimpin sejati yang mampu melayani mereka sebagaimana seharusnya. Bang Haji Bolot dan Malih adalah tokoh lawakan, sementara Kamen Rider, Son Goku, Naruto, walaupun mereka super hero, tapi mereka hanyalah fiksi. Khayalan.

Di dunia nyata pun, di musim politik kali ini, kita masih harus menerima kenyataan diusungnya orang-orang yang bisa menaikan penjualan partai, yang notabene jauh dari ekspektasi masyarakat. Salah satunya penggandengan seleb oleh partai. Saya sangsi akan kelayakkan figur tersebut. Apalagi kalau melihat track record si artis yang minim pengalaman politik. Mau jadi apa Indonesia ke depannya? Ini bukan berarti, orang-orang yang sudah bangkotan di parpol jadi lebih terjamin lho.

Menurut saya, yang terpenting adalah visi parpol dan caleg/capres. Tentu kita semua menginginkan pemimpin yang mampu membawa Indonesia dan masyarakatnya menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin bervisi ingin memperbaiki Indonesia dengan mengusung orang-orang yang tidak mumpuni, dan lebih kepada politik pencitraan, demi kepentingan pribadi atau parpol, bukan masyarakat?

Karena selama jenis orang-orang yang diusung itu adalah yang sedemikian rupa, nasib kita tidak akan jauh berbeda dari setiap hajatan lima tahunan. Siapapun yang menang nantinya dalam pemilu, kita selaku masyarakat, tetap kalah. Hanya akan terus menjadi korban kebobrokan demokrasi dan kebijakan sekuler. Hmmm   seperti tagline dalam film Alien VS Predator: WHOEVER WINS, WE LOSE![]

By: Ranting Rizkiatinuasih, SiswiPelajar di Bekasi

di muat di majalah remaja islam Drise edisi #36

Marching band militer yang tertua

drise-online.com – D’Riser sekalian pasti udah pada ngeh dong dengan yang namanya Marching Band alias Orkes Barisan. Biasanya tuh banyak remaja en remaji yang ikut ekskul marching band di sekolahnya. Latihan berbaris bukan pasukan pengibar bendera. Lantaran masing-masing bawa alat musik. Merekalah yang disebut orkes barisan, karena memang terdiri dari barisan orang-orang yang memainkan lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik secara bersama-sama. Selain alat musiknya yang bermacem-macem, seragam dengan kombinasi warna-warni tabrak lari yang digunakan marching band selalu memancing perhatian. Kenapa nggak satu warna aja? Kok warna warni ngejreng dan agak mirip seragam militer? Jawabannya karena awalnya marching band memang dibentuk untuk mengiringi dan meningkatkan semangat pasukan yang berperang.

Marching band militer yang tertua

Tau gak si loh! Marching band militer yang tertua di dunia adalah marching band dinasti Utsmaniyah, yang di barat dikenal dengan mehter. Mehter berasal dari bahasa persia, mahtar, yang sebenarnya merujuk pada satu orang musisi, sedangkan untuk menyebut band digunakan kata mehteran atau mehterhane. Mehteran juga sering disebut sebagai janissary-band, karena merupakan bagian dari korps elit janissary.

Instrumen-instrumen standar yang dimainkan oleh mehteran adalah kos (timpani besar), davul (drum bass), zil (simbal), zurna (sejenis oboe) , boru (sejenis terompet) dan cevgan (tongkat dengan lonceng-lonceng kecil). Kostum yang dikenakan mehteran walaupun bervariasi tapi hampir selalu colorful dan ngejreng.

Konon, mehterhane pertama dikirimkan oleh sultan Seljuk Alaeddin Keykubad III kepada Osman I, Sultan pertama dinasti Utsmaniyah pada tahun 1289 M sebagai hadiah dan tahniah atas berdirinya dinasti baru tersebut. Sejak saat itu mehterhane kemudian menjadi simbol kesultanan Utsmaniyah. Band mehter paling dikenal karena penampilannya di medan perang mengiringi pasukan elit janissary. Tujuannya untuk memainkan musik yang keras hingga menciutkan nyali lawan dan sebaliknya meningkatkan semangat kawan. Maka tak heran jika musik mehter diasosiasikan dengan musik peperangan.Ketika Christian Schubart, seorang penyair Jerman mendengar musik band mehter, ia menuliskan bahwa musik yang ia dengar “sangat bernuansa perang, bahkan bisa membuat jiwa-jiwa yang pengecut mendadak jadi pemberani”.

negara-negara mencontek penggunaan marching band

driser Keberadaan mehter di medan perang ternyata memang memberi pengaruh yang hebat pada pasukan Eropa, yang belum pernah mendengar bunyi simbal dan drum yang begitu memekakkan telinga. Apalagi ditambah dengan bunyi ledakan senapan blunderbuss dan dentuman meriam, pasukan musuh pun kocar-kacir tak karuan. Makanya tak heran, negara-negara Eropa mencontek penggunaan marching band di medan perang. Augustus II dari Polandia (bertahta tahun 1697-1704) adalah penguasa pertama di Eropa yang menggunakan marching band yang terinspirasi dari mehterhane. driser Trend ini pun menyebar ke negara-negara Eropa.

Walaupun identik dengan militer, musik mehter tidak hanya dimainkan dalam peperangan lho. Mehteran juga tampil dalam berbagai upacara dan perayaan kenegaraan. Selain band resmi negara, ada juga band-band mehter non-official yang lebih kecil yang tergabung dalam guildguild. Mereka biasa tampil dalam resepsi pernikahan, juga pada saat melepas jemaah haji. Duta-duta besar dan pejabat-pejabat provinsial juga memiliki band mehter sendiri, bahkan kaum sufi pun memainkan musik mehter.

Mehteran Utsmani tampil di kota Vienna selama beberapa hari setelah ditandatanginya perjanjian Karlowitz pada tahun 1699. Selanjutnya duta-duta besar yang dikirim ke negara-negara Eropa barat membawa serta band mehter masing-masing. Abad 18 M, Eropa mulai gandrung dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Turki Utsmani. Fenomena ini dikenal dengan Turquerie, atau Turkomania. Orang-orang Eropa meminum kopi Turki dengan memakai jubah Turki. Kaum aristokrat dilukis dengan mengenakan busana khas Turki, menghiasi rumah mereka dengan motif-motif Turki, bahkan mereka membaca terjemahan “Seribu Satu Malam”, padahal bukan berasal dari Turki.

Termasuk dalam bidang musik klasik, mehter pun menancapkan pengaruhnya di Eropa. Komposer-komposer top sekelas Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven sekalipun, menelorkan karya yang terinspirasi dari, atau didesain untuk meniru musik mehter. Salah satu contohnya adalah Rondo Alla Turca, yang dikarang oleh Mozart dan Marcia Alla Turca, karangan Beethoven. Mantabs!

Memang kenyataannya sebuah negera yang kuat, pasti peradaban dan kebudayaannya akan dicontek oleh negara-negara yang lebih lemah. Makanya, sekarang ini banyak yang membebek budaya barat, itu karena negara-negara barat sedang kuat, sehingga budaya barat itu dianggap maju dan modern. Fenomena itu pula yang terjadi dahulu ketika negara Islam sedang jaya-jayanya, kebudayaannya pun menjadi trendsetter, ditiru oleh negara-negara Eropa. Semoga info ini makin menambah kecintaan kita pada kemuliaan Islam. [Ishak]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

 

Muslimah, puasa gadget yuk!

 Drise-online.com – Pada pagi yang cerah, saya tengah khidmat mengerjakan PR yang belum sempat dikelarin kemarin malam. Menit demi menit berlalu, namun tiba-tiba….

Beep….beep!

Beep…..beep!

Wah ada SMS masuk. Akhirnya saya meraih Smartphone dari atas meja dan membalas SMS masuk tersebut. Hemm… sekitar 5 menit saya pun kembali ke pekerjaan semula, melanjutkan PR. Eh, sampai mana tadi ya? Butuh waktu beberapa menit untuk kembali mengingat dan berkonsentrasi. Waktu pun berlalu. Lagi-lagi terdengar bunyi biiip biipp. Huff, apa lagi sih? Oh, ada twit baru. Bukan sekedar ngebuka, akhirnya saya pun tergoda buka timeline, ngoprak-ngoprek isinya. Ketawa baca twit lucu, emosi dengan info-info kriminal dan perasaan lainnya ikut terkocok. Selain twitter, saya pun ngebuka Facebook, ngecek WhatsUp, seru-seruan ngeblog. So, apa yang terjadi selanjutnya? Akhirnya PR yang tadinya mau dikerjain malah gagal selesai, total. Kebanyakan diinterupsi oleh social media. Ternyata gadget bukan Cuma menawarkan fitur-fitur keren, melainkan bisa jadi jebakan bagi yang tak tahan godaan.

PUASA GADGET YUK!

Gadget didefinisikan sebagai suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gadget dianggap dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya (Wilkipedia). Misalnya Handphone sekarang bukan Cuma dipakai buat SMS or nelpon doang melainkan bisa liat youtube, chat atau surfing sepuasnya. Pada dasarnya, keberadaan gadget telah membantu memudahkan kita dalam menjalani tugas. Entah itu tugas kuliah, hubungi teman, main game bahkan bayar tagihan telepon cukup dengan satu alat. Nah, karena serunya alat ini, gadget bisa bikin kita lupa diri juga loh. Misal ; tadinya asyik ngerjain tugas malah nge-gadget. Atau kita tersibukkan untuk pajang foto ‘selfie’, upload sana-sini. Lupa, bahwa kita ini muslimah yang harus dijaga kehormatannya. Pajang foto sebagai profil diri sah-sah aja, tapi kalau sampai narsis dan nagih, itu sudah lain ceritanya. Sesuatu yang berlebihan itu pasti ujung-ujungnya bawa keburukan. Iya kan, sist?

TERNYATA OH TERNYATA

Mengejutkan! Aktivitas yang terganggu oleh gadget ternyata punya dampak yang ngga maen-maen. Setiap org yang pekerjaannya sering terinterupsi, dikatakan mengalami penurunan tingkat IQ hingga 10 poin. Dan jangka panjangnya, bisa berdampak pada kesehatan yg bersumber dari stres akibat information overloaD. Puasa gadget akan membuat kita lebih fokus, menikmati pekerjaan dan tentu lebih fresh. Jangan sia-siakan waktumu gara-gara pekerjaan yang terlalaikan akibat penggunaan gadget yang kurang bijaksana. Mumpung masih sehat, masih muda dan masih punya ini-itu, maka pergunakanlah sebaik-baiknya ya. Rasulullah SAW bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits shahih). Selamat puasa gadget ya, semoga waktu hidup yang tersisa ini penuh keberkahan! [Alga Biru]

 

 

 

BOX

TIPS PUASA GADGET                          

Berikut ini beberapa jalan supaya puasa gadget terasa menyenangkan!

  1. Ketika sedang bekerja (terutama pekerjaan yang memerlukan konsentrasi), maka matikan gadget atau jauhkan dari jangkauan sehingga tidak kedengeran sama sekali
  2. Buang fitur atau aplikasi senada dari gadget. Misalnya: udah punya BBM dan WhatsUp, maka ngga perlu heboh download aplikasi sejenis semisal Line, KakaoTalk, WeChat dan lainnya
  3. Nonaktifikan sinkronasi, supaya kalau ada hal-hal baru, pekerjaan kita tidak terinterupsi. Aktifkan kembali setelah kita selesai mengerjakan tugas.
  4. Pilih teman-teman yang selalu memotivasi untuk lebih baik dan mengingatkan jika tersalah
  5. Puasa gadget bukan berarti ngga pake sama sekali loh. Melainkan mengelola dan mengatur penggunaan gadget secara bijaksana. Inga… inga… ting!! [Alga Biru]

 

Di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36