Trend Hijab : Reject Or Follow

Baju baru, alhamdulillah….. ngga baju baru, tetap alhamdulillah ya… Pas cari-cari baju lebaran kemarin, Alga  baru tau kalau di pasaran lagi gandrung yang namanya “Hijab Fatin”. Apaan tu ya? Hemm,,, ternyata istilah ini booming lantaran dipake sama Fatin Shidqia yang sekarang udah tenar nyanyi dimana-mana. Sebelum hijab ala Fatin, ternyata ada hijab  Cetarrr ala Syahrini. Segitu doang? Belum loh. Kerudung ala Zaskia juga sempat populer.  Aneka tren hijab memang makin nge-gemesin. Mulai dari yang ribet sampe yang simpel. Dari yang lilit sampe yang penuh dengan jarum peniti di kepala. Pernah nyobain?

Berrr…. Jangan coba-coba kecuali dikawal sama yang ahli, entar bisa ketusuk. Maklum, namanya juga wanita. Selalu punya sesuatu untuk dipercantik dan diotak-atik. Termasuk ‘hijab’ (penutup aurat). Lebay ngga sih ? Lebay atau tidak, tergantung sudut pandang kita menilai. Bagi dunia bisnis, adanya ‘Hijab Fatin’ dan sejenisnya, mampu menambah omzet penjualan loh. Coba cek ke  butik-butik di pasaran.

Makin ramai aja kan. Dari sisi fashion pun tampaknya senengseneng aja. Bagaimana islam memandang ? Cara islam dari jaman Nabi Saw sampai hari kiamat tidak akan berubah. Yaitu halal dan haram. Artinya, selama tren tersebut sesuai batas-batas hukum syara’ artinya boleh diikuti. Kalau udah mulai nyerempet yang  haram, harus ditinggalkan. 

Batasan aurat dari dulu sampai sekarang masih sama, yaitu : muka dan telapak tangan. Al-‘Amash meriwayatkan dari Said bin Jubair dari Ibni Abbas: “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali apa-apa yang nampak darinya”, Ibnu Abas menegaskan: “Wajah dan telapak tangan”. “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)

Jilbab, yaitu pakaian lebar dan terhulur tanpa potongan.Sebagian perempuan jahiliah apabila keluar rumah, mereka menampakkan sebagian kecantikannya, misalnya dada, leher dan rambut, sehingga mereka ini diganggu oleh laki-laki fasik plus iseng, kemudian turunlah ayat di atas yang memerintahkan kepada orang-orang perempuan mu’minah untuk menghulurkan jilbabnya itu sehingga tidak timbul fitnah. Definisi ini pada akhirnya membuat batasan khusus. Dimana jilbab syar’I itu tidak boleh membentuk tubuh alias ketat. Di ayat lainnya, ada kewajiban memakai khimar (kerudung). Sering salah kaprah loh, membedakan antara jilbab dan kerudung.

Sering disama-samain, padahal berbeda. Dalil kerudung terumat dalam firman Allah An-Nur ayat 31 :  “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  H pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…”. So, tren hijab : ditolak atau diikuti ?

Jawabnya : ‘terserah Allah aja’, artinya  ‘aku berhijab bukan karena tren atau ngga nge-tren, melainkan karena Allah semata.’ Jika kenyataannya tren hijab sekarang tidak sesuai Islam, jangan malu untuk menolak alias tidak ikut-ikutan gitu loh. Barangkali Fatin dan artis-artis lainnya belum tau tentang batasan-batasan ini. Semangat berhijab boleh aja, tapi bukan berarti kita berhenti untuk berhijab sempurna yang sebenarnya. Begitulah sikap kita sebagai muslimah sejati. Tegas, jelas dan tidak gampang terikut arus. YES YES YES! ALLAHU AKBAR![Alga Biru]

Wanita Dan Pena

Minder karena tidak berpendidiakn tinggi ? bukan lagi zamannya Lingkungan hari ini memang begitu berpihak pada gelar, status pendidikan. Tetapi pahamilah, asal kita memiliki keinginan kuat dan usaha yang keras yang tak pernah mati dayanya, sesungguhnya kita sudah tentu jauh lebih hebat dari siapa pun. Inilah diantara hikmah yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup seorang penulis wanita nasrani.

Dia adalah Agatha Christie, penulis kisah detektif yang santun dan paling terkenal di Inggris setelah Shakespeare seperti diumumkan oleh UNESCO. Saat membaca biografinya di buku “Tanpa Sekolah Tapi Sukses” (Agatha adalah orang pertama yang dibahas di buku ini) tergambar bahwa kesuksesan memang tidak membutuhkan syarat-syarat yang diberlakukan oleh lingkungan. Agatha Christie tidak pernah sekolah sama sekali di masa hidupnya.

 Tetapi ia bisa menghasilkan karya tulis yang dicetak hampir satu milyar eksemplar dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Bahkan di dalam biografinya tertulis, jika seluruh bukunya dicetak dan ditumpuk menjadi satu maka akan mencapai 20.000 tumpuk buku yang tingginya menyamai menara eiffel di Perancis.

Atau mencapai 3.400 tumpuk buku yang tingginya sama dengan puncak everest (puncak gunung tertinggi di dunia). Ciyus?! Ibunya berperan begitu penting untuk hidupnya. Semenjak kecil, ia selalu diarahkan bagaimana menuangkan isi pikiran dan perasaannya lewat sebuah tulisan. Bahkan di saat ia sakit sekali pun. Meski Agatha bilang ia yakin tidak bisa menulis, Ibunya bilang cobalah dan kau akan mengetahui hasilnya. Dan benarlah, Agatha terus menulis karena ia menyukainya dan bukan lagi terpikir untuk sebuah nobel atau penghargaan lainnya. Hanya menulis aktivitas yang paling dicintainya. Seolah-olah versi sukses yang ada di dalam kepalanya adalah tatkala ia mampu merdeka melakukan apa yang paling diinginkannya di dunia ini.

Mungkin karena memang lingkungannya yang menjadikan Agatha penulis produktif. Menurut suami dari pernikahan keduanya, setelah dibuatkan ruangan kecil khusus di pojok rumah untuk Agatha, semenjak pagi Agatha duduk hanya untuk menulis. Dan hasilnya, 6 novel rampung di satu musim. Itu dilakukannya karena ia ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri dan orang lain. Driser, tidak dapat melanjutkan sekolah bukan sebuah masalah besar. Itu bisa kita lakukan di lain waktu jika memang ilmu di sekolah tetap ingin kita rasakan.

Nggak perlu meratapi, tapi justru mesti kita tanya pada diri sendiri. Sukses seperti apa yang ingin kita wujudkan untuk usia, hidup, agama dan ummat ini? Seperti apa pun kondisi lingkungan di sekitar kita, cobalah untuk terus menuangkan dengan berani ide-ide yang ada di kepala. Bebas mengeksplorasi lingkungan yang kita sukai dan yakini, lewat tulisan sehingga orang lain bisa ikut merasakan kebaikan yang kita hasilkan. Menulislah. Menulis bukan untuk sementara melainkan selamanya. Cintai menulis. Bukan kalimat paksaan tetapi kampanye besar-besaran. Sungguh menulislah. Apalagi menulis adalah salah satu media yang cukup efektif untuk menunaikan kewajiban dakwah. Maka menulislah.

 Jadilah penulis perempuan yang tidak kalah dengan penulis-penulis sekular. Dunia ini butuh sekali para penulis hebat yang menyebarkan syi’ar Islam. Islam membutuhkan orang-orang yang tidak lagi sungkan untuk menyebarkan keimanan dan pemahaman Al-Qur’an. Kelak karya tulis sekular tidak akan lebih dari sekedar bangkai. Karena Khilafah tidak akan membiarkan tulisan yang membahayakan ‘aqidah dan mental kaum Muslimin. Tulisan adalah sebuah perlawanan. Terlebih, penamu adalah nyawa keduamu! [Hikari]

Lanjut Kuliah : demi ilmu atau gengsi ?

Percakapan dua muslimah di kantin sekolah*

Intan : Fin, bakal lanjut kemana entar abis UN ?

Fina : Rencananya sih kalau ngga ke UGM ya… ke UI

deh ! kamu?

(Dalam hati Intan, “wah keren amat”)

Intan : Oh… belum tau nih. Kayanya sih ngga

kemana-mana, bantu-bantu ibu aja di

rumah. Adik-adikku masih banyak yang

harus dibiayai.

*****

 

Percakapan seperti di atas mungkin  pernah kita denger atau bahkan dialami oleh kita. Apalagi buat  anak-anak SMA yang sedang H2C menunggu hasil UN terus mikirin  masa depannya. Jenjang terakhirnya di kampus putih abu-abu  sebagai “siswa” akan segera berakhir. Akankah ini benar-benar jadi  yang terakhir juga dalam menimba ilmu? Belum tentu. Kan ada  bangku kuliah yang sudah menunggu.  Macem-macem sih alasan orang lanjut ke jenjang  berikutnya alias masuk kampus (trus dapet gelar “mahasiswa”).  

Pertama, cari ilmu. Selanjutnya, setelah dapat ilmu, terus lulus,  yang ujung-ujungnya dapet titel. Bakal diapain tuh titel? Tentu  ijazah kelulusan dan titel tersebut berhubungan dengan  kemudahan dalam mencari pekerjaan dan menambah  penghasilan. Apalagi di era kapitalisme kaya gini. Jangankan kerja  kantoran, jadi tukang sapu aja butuh ijazah.

So, walaupun kita  orangnya pintar, jujur dan cekatan, tapi kalo nggak lengkap dengan  ijazah, siap-siap aja tereliminasi. Tuntutan pekerjaan yang biasanya bikin orang ‘maksa’  pengen kuliah. Walau biaya kuliah itu… selangiiiit! Ada juga sih  yang milih lanjut kuliah juga dalam rangka menaikkan derajat  sosial. Yup, orang yang di belakang namanya ada embel-embel  “sarjana”, dianggap lebih bergengsi dan status sosialnya lebih  tinggi. Kuliahnya belon kelar, eh terkadang gengsinya udah  berkoar-koar.   

“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di  antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu  pengetahuan beberapa derajat” (QS.Al Mujadalah:11)

Ya, Allah Swt memang memuji orang yang berilmu. Tapi  yang dimaksud bukan orang bertitel apalagi yang cuma gengsi-gengsian lho. Siapa saja yang getol belajar untuk meningkatkan  kapasitas diri, layak disebut orang berilmu. Makanya, kalo mau  lanjutin kuliah jangan jadi mahasiswa bermasalah. Jadilah generasi  intelek penebar berkah. Biar titelnya cocok dengan predikatnya  sebagai orang yang berilmu. Akur? DRISEr, biar kita bisa jadi bagian dari generasi intelek  penebar berkah, berikut tips untuk mewujudkannya.  

Ambil langkah 4P : PILIHAN, PERENCAAN, PERMODALAN,  PEMATANGAN!

  • PILIHAN Seleksi pilihan kita. Lanjut kuliah artinya kita harus siap dengan biaya, waktu yang lumayan lama di kampus, minat (jangan Cuma  ngikut ya) dan restu dari ortu. Salah satu saja tidak terpenuhi,  jalan kita bisa tersendat di tengah jalan. · PERENCAAAN Rencanakan agenda kita sesuai apa yang kita pilih. Misalnya: pilih  kampus yang sesuai dengan ‘derajat kesiapan’, supaya gampang  lulusnya. Jangan muluk-muluk, tapi juga ngga boleh pesimis.  
  • PERMODALAN Sebelum melangkah, pikirkan sumber modal. Kalau masih kurang, pikirkan darimana kira-kira bisa kita dapatkan? Dari usaha sampingan, atau beasiswa, yakinlah masih banyak pintu rezeki.  Yang penting, dipersiapkan ya segala kemungkinannya.
  • PEMATANGAN Minta dukungan orang-orang terdekat, minimal minta do’a gitu loh. Jika kita mengalami banyak tantangan, matangkan mental kita dengan amal soleh. Sedekah, Sholat malam, menjauhi  kemaksiatan dan laksanakan kewajiban.  Semua itu untuk  membangun sinyal kita kepada Allah Swt, Sang Pengatur Segala  Urusan.  Selamat merangkai masa depan! [Alga Biru]

MUSLIMAH ANTI PELECEHAN

Pada suatu siang yang cerah,   tersebutlah seorang muslimah   berkerudung mini, berbaju ketat dan  P  celana panjang nge-press body. Berjalanlah   ia melewati kerumunan cowo di simpang   jalan. Cowo usil bersiul-siul ketika sang   muslimah ‘sexy’ itu lewat sembari   berlenggok badan. Merasa ‘ditaksir’   muslimah pun membalas siulan tersebut   dengan tersenyum. Maka tampaklah bibir   merah mengembang di wajahnya.

Cowo-cowo jadi makin gemes karena aksinya   disambut. Ya, mungkin karena gemas, salah   satu dari cowo iseng itu merambah aksinya.   Ia pun mencolek pinggul sang cewe, toel   toel !!! Kontan malunya bukan kepayang.   Lalu cewe itu mempercepat lajunya   menahan malu. Pelecehan!  FENOMENA!  Kejadian seperti di atas   merupakan gambaran kecil dari tindak   pelecehan. Bahkan kasus yang lebih   dahsyat sering diliput di berbagai media.   Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap   Perempuan (Komnas Perempuan)   mengungkapkan dalam periode 1998 –   2010 telah terjadi 91.311 kasus. “Itu artinya   dalam sehari rata-rata terjadi 28 kejadian   kekerasan seksual terhadap perempuan,”   ungkap Andy Yentriyani” (23/9/2011).   

Insyaf diri, kadang kala   munculnya pelecehan karena ada umpan   dari cewe sediri loh. Atas nama kebebasan   berekspresi, kaum hawa malah mengobral   aurat dan kecantikannya. Ada cewe yang   senang digoda laki-laki, menganggap yang   ngga digoda itu ngga laku.   Weits, apa iya? Jangan-jangan, karena cewenya   murahan, makanya   dilecehkan. Padahal,   justru cewe yang   ‘eksklusif’, cowo ngga   berani macem-macem   alias iseng. Bener dong?   Ada beberapa   hal yang membuat   cewe jadi gampang   dilecehkan.

Pertama,   aurat bertebaran.   Kalau mau jujur, cewe   macam apa sih yang   biasanya auratnya   kelihatan? Dari   Sabang sampe   Merauke, dari Inggris sampe Amerika,   biasanya para pengumbar aurat ini dari   kalangan pelacur. Urat malu mereka bisa   dibeli, makanya gampang dilecehkan. Oh   Dear, janganlah kita mengumbar, sebelum   datang fitnah bagi kehormatan kita.   

Kedua, tampil menor alias tabarruj. Selain   mengumbar aurat, penyakit ‘tampil menor’   susah dicegah, sudah ditahan. Maunya   pake dandanan yang rame, penuh gairah,   lagi-lagi demi jadi pusat perhatian.   

Ketiga, suara menggoda. Suara pada   dasarnya bukan aurat. Tapi kalau digunakan   dengan mendayu-dayu, dilemah-lembutkan, bikin orang kepo alias   penasaran. Apalagi saat bicara sama   cowok, sama aja mancing setan untuk   merasuki lawan bicara. Ih ngeri ah! 

Keempat, sifat plin plan. Wanita memang   perasa, bahkan memilih jalan hidupnya   pake perasaan doang. Mau menutup aurat,   takut dibilang sok taat. Mau jaga diri,   khawatir dijauhi. Wah, gawat juga nih.   Berdayakan alam pikir kita, matang dalam   pikir insyaallah ngga plin plan dan neko-neko.   

Kelima, mental kerupuk. Hemm… Perasaan tidak islami, pikiran tidak islami,   ujung-ujungnya mental juga kaya kerupuk.   Kena angin jadi ‘anyep’, dikasi air malah   ‘melempem’. Hanya dengan islam, mental   kita setegar karang, ngga gampang   dilecehkan. Makanya ikut pengajian, biar   kita bisa lebih menjaga diri, jaga iman, dan   pastinya jaga kehormatan. Yup! Selamat   menjadi pribadi yang tangguh! [Alga Biru] 

Khilafah save muslimah

hilafah adalah institusi Islam yang  diterapkan bukan hanya untuk orang  KIslam tapi juga rahmat bagi sekalian  alam. Sebab Islam mampu menjaga  manusia dari kesengsaraan termasuk  tindak pelecehan. Ada hal yang menarik di  jaman Khilafah Abbasiyah. Konon, seorang  muslimah melewati sekumpulan prajurit  Romawi, kemudian perempuan itu  diganggu dengan disingkapkan jilbabnya  oleh para prajurit itu. Perempuan tadi  kemudian menjerit dan memanggil Khalifah  yang berkuasa saat itu, yakni al Mu’tashim  billah. “Wahai Mu’tashim di manakah  engkau?”

Jeritan itu terus merambat dan  pada akhirnya terdengar di telinga al  Mu’tashim. Segeralah beliau mengirimkan  angkatan bersenjata muslim yang kepala  pasukannya telah sampai di Amuriyah dan  ekor pasukannya masih di Baghdad.  Takluklah kota Amuriyah yang kala itu  masih berada di bawah kekuasaan Romawi  ke tangan Khilafah Islam hanya karena ingin  membela seorang perempuan.  Subhanallah. Bandingkan dengan sekarang,  berapa perempuan yang dilecehkan tapi  para penguasa muslim bungkam seribu  bahasa?! [Alga Biru]