Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian II – Selesai)

drise-online.com – Liburan saya bersama keluarga di Istanbul, Turki, berlangsung selama 9 hari. Waktu 9 hari itu terasa sangat singkat dan tidak cukup untuk menjelajahi seluruh sudut Istanbul. Ini disebabkan kondisi saya yang sedang hamil 7 bulan pada saat itu. Sehingga tidak bisa berjalan jauh dan kurang leluasa untuk naik turun metro maupun bus kota. Tetapi waktu yang terbatas itu kami maksimalkan untuk menelusuri jejak kekhilafahan Ustmaniyah, sekaligus melihat kondisi masyarakat Istanbul secara langsung. Untuk itulah, kami mengikuti salah satu tour menelusuri Selat Bosporus. Dalam tour tersebut, pemandu kami menyebut tiga nama tokoh yang berperan penting dalam pembangunan Turki. Mereka adalah Sultan Mehmet II, Sultan Süleyman, dan Mustafa Kemal. Sosok Sultan Mehmet II dan Sultan Süleyman, sudah saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya.

Mustafa Kemal

Mustafa Kemal adalah presiden pertama Republik Turki. Dia menjadi presiden setelah Majelis Agung Nasional Turki mendeklarasikan berdirinya Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Dan Kekhalifahan Ustmaniyahsecara resmi dibubarkan tanggal 3 Maret 1924. Demi mewujudkan cita-citanya untuk membangun Turki menjadi negara yang sekuler, Mustafa Kemal kemudian memulai program revolusioner di bidang sosial dan politik. Diantaranya, mendorong kaum wanita Turki untuk menduduki jabatan vital dalam pemerintahan yang jelas-jelas terlarang dalam Islam, sebagai bentuk emansipasi perempuan. Disamping itu, dia jugamenghapus seluruh institusi hukum Islam dan menggantinya dengan institusi hukum Barat. Penghapusan sistem kalender hijriyah, penggantian seluruh huruf Arab dengan alfabet latin, bahkan pelarangan pembangunan masjid-masjid baru dan pengumandangan adzan dalam bahasa Arab. Mustafa Kemalmendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa, serta topi-topi ala Eropa untuk menggantikan hijab para muslimah. Selain itu, dia juga menggalakkan produksi minuman yang mengandung alkohol di dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara,meskipun Islam melarang keras hal tersebut.

Mustafa Kemal begitu berambisi untuk membangun masyarakat Turki sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam.Bahkan ia mengubah wajah dan fungsi Masjid agung Ayasofyayang menjadi lambang perubahan masyarakat konstantinopel yang semula diatur dengan undang-undang manusia, menjadi masyarakat baru yang diatur dengan undang-undang yang bersumber dari ALLAH SWT. Masjid ini ditutup pada tahun 1931 dan diubah fungsi menjadi sebuah museum pada Februari 1935 untuk menarik minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Turki.

Ayasofyia

Serasa tersekat diri ini, ketika selangkah demi selangkah memasuki Ayasofyia saat itu. Bagi saya, Ayasofyia adalah lambang kemenangan kaum muslimin atas dominasi imperium romawi (Byzantine) serta perwujudan janji (bisyarah) Rasulullah SAW. Semenjak masa Shahabat, kaum muslimin telah mengerahkan segala daya dan upaya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang syahid dalam jihad untuk menaklukan konstantinopel dan merebut Ayasofyia yang menjadi kebanggaan romawi. Akan tetapi, ditangan Mustafa Kemal, begitu mudahnya masjid ini beralih fungsi menjadi museum. Konon kabarnya, diperlukan waktu beberapa tahun untuk pengelupasan secara bertahap lapisan dinding dan langit-langit masjid Ayasofya agar mozaik lukisan tokoh-tokoh suci kristen peninggalan Byzantine bisa terlihat kembali. Kini, tepat di atas mimbar mihrab, terdapat sebuah mozaik lukisan perawan Maria (Virgin Mary) menggendong seorang bayi laki-laki. Bahkan bila dilihat dari salah satu pintu masuk yang berada di tengah, tampak seolah-olah mozaik lukisan tersebut diapit oleh kaligrafi bertuliskan Allah Subhanahu wa ta’alaa di pilar sebelah kanan dan Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam di pilar kiri. Penuh keingintahuan, saya kembali ke pintu masuk. Di sana terdapat beberapa partisi yang menggambarkan perjalanan sejarah Ayasofya dan proses perubahan masjid menjadi museum yang rupanya dibantu oleh pihak asing dalam pengerjaannya.

Menyusuri jalanan Kota Istanbul, saya melihat secara langsung hasil sekulerisasi yang dibangun Mustafa Kemal pada masyarakat Turki. Masjid Sultan Ahmet yang begitu megah serta dikenal di seluruh dunia dengan nama Blue Mosque itu, kini hanya dipenuhi para wisatawan. Bila waktu shalat tiba, jamaah Masjid itu hanya 2-3 shaf itupun tidak rapat. Pengunjung yang berdiri dibalik sekat kain selutut sambil memotret bagian dalam Masjid, jumlahnya lebih banyak, bahkan sampai berdesak-desakan. Masjid-masjid lain pun kondisinya sama, termasuk Masjid Yeni (New Mosque) yang berada di tepi Golden Horn (muara berbentuk tanduk diantara Selat Bosporus dan Laut Marmara). Hampir semua masjid memiliki sekat kain di tepinya sebagai tempat bagi para wisatawan yang ingin melihat kondisi dalam masjid. Masjid-masjid di Istanbul telah menjadi salah satu obyek wisata.

Restauran dan cafe-cafe sepanjang jalan maupun di pasar-pasar, hampir semuanya menjajakan minuman keras. Para pelayannya tanpa ragu memegang nampan berisi segelas minuman beralkohol sambil mengajak setiap orang yang melintas untuk memasuki restaurannya. Pengunjung restauran dan cafe-cafe itu tentu saja bukan hanya para wisatawan mancanegara, penduduk lokal Turki pun tampak menikmati minuman-minuman beralkohol tersebut. Mengingatkan saya akan cerita suami tentang teman Turkinya yang begitu antimemakan daging babi, tetapi dengan nikmat menenggak minuman beralkohol. Hal ini tentu saja menyulitkan kami selama 9 hari berada di sana dalam mencari tempat makan. Sering kali kami melangkah keluar lagi dari dalam sebuah restauran meskipun sebelumnya sudah duduk, karena melihat daftar minuman keras dalam menunya. Itu kami lakukan karena enggan melihat seorang muslim menuangkan minuman keras bagi orang lain, apalagi melihat mereka meminumnya.

Para wanita muda Turki banyak yang terlihat tanpa hijab. Hanya sedikit yang menutup aurat, itupun sebagian besar wanita paruh baya. Saya melihat geliat berhijab justru lebih semarak di Indonesia. Para wanita muda yang saya temui di metro, subway, toko-toko, maupun jalanan Istanbul tak ubahnya seperti wanita muda Eropa pada umumnya. Tak jarang terlihat beberapa diantaranya merokok sebagaimana lelaki. Meskipun demikian, sebagian besar diantara mereka sangat ramah dan suka menyapa dengan bahasa Inggris seadanya. Bahkan suka memberikan tempat duduknya kepada saya yang terlihat sedang berbadan dua. Gaya hidup muda-mudi Turki cukup bebas. Saat beristirahat di salah satu bangku taman kota Istanbul, seringkali terlihat sepasang muda-mudi duduk sambil bermesraan dengan bebas di tengah keramaian. Ironisnya yang melakukan bukan wisatawan asing, tetapi muda mudi lokal berbahasa Turki yang notabene adalah muslim.

WAJAH ISTANBUL HARI INI - DRISE-ONLINE.COM

Melihat secara langsung wajah masyarakat Istanbul hari ini menyisakan kegetiran yang mendalam di hati saya. Istanbul yang dulunya berada dalam naungan kekhilafahan Ustmaniyahmampu menjadi pusat peradaban dunia yang kuat serta disegani.Pusat kebudayaan islam itu, kini berubah hanya menjadi daerah wisata yang dibanjiri dengan tempat-tempat maksiat. Perubahan ke arah sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kemal hanya menghantarkan Turki serta kaum muslimin di seluruh dunia menjadi bangsa dan umat yang lemah. Kelak, Islam akan jaya kembali. Seperti dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah. []

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Jatuh Cinta Sejuta Rasanya

Embun pagi menembus pori

Seperti pancaran cintamu memasuki relung hati

Sore ini terwarna jingga

Begitu pula hatiku yang jatuh cinta menyala

Gara-gara jatuh cinta, seseorang yang sebenarnya nggak pinter-pinter amat nulis puisi, mendadak jadi melankolis. Muslimah yang tadinya agak tomboi dan cuek dalam berpenampilan, berubah menjadi pesolek demi meraih keanggunan di depan cowok taksiran. Satu sisi ada debar rasa, sisi lain tergelitik malu sebagai muslimah.

Salah nggak sih perasaan jatuh sakit, eh jatuh cinta? Sejuta rasanya. Nggak diundang dia datang, nggak jumpa kangen. Cinta bersifat universal, tidak hanya ditujukan pada lawan jenis, ke orang tua, ke adik, juga bagian dari cinta. Cinta merupakan penampakan dari naluri melestarikan jenis (gharizatun nau’). Tidak akan mengakibatkan kematian jika tidak dipenuhi. Nggak mati kok orang yang nge-jomblo. Nggak mati kok walau nggak pacaran. Yang ada, pacaran yang bisa membawa kematian. Karena dibakar cemburu, pacar bisa gelap mata bin hilang akal dengan melakukan tindakan kekerasan yang berujung hilangnya nyawa. Ngeri!

Walaupun saat cinta tak terpenuhi nggak bikin mati, tapi kan nggak enak, keingetan si dia terus. Gimana dong? Yup, kegelisahan ini memang harus cepat tanggap,sist. Dimaklumi kok, namanya juga manusia, pasti bisa naksir juga jatuh hati. Tapi bukan artinya bebas main hati, tetep harus hati-hati dan jaga jarak.

Bangun Cinta, Bukan Jatuh Cinta

Ibarat membangun sebuah rumah, begitu pula tentang cinta. Yang benar ialah bangun cinta, bukan jatuh karena cinta. Orang yang jatuh, akan merasa sakit dan terluka. Sedangkan orang yang membangun cinta berarti terus maju dan tumbuh menjulang dan menghasilkan sesuatu yang nyata menuju kesuksesan.

Membangun cinta memiliki syarat, yaitu kesiapan. Baik mental, spiritual, maupun materi. Bukan berarti, sang cowok bela-belain beli boneka, artinya dia siap secara mental. Tetapi siap menanggung konsekuensi cintanya. Cowok baik-baik tak cuma beri janji, tapi datangi wali, alias orang tua. Cewek baik-baik nggak mau sekadar jatuh cinta, dia membangun cintanya dengan memantaskan dirinya agar kelak cinta itu tumbuh tepat pada waktunya. Cewek sholihah membangun cinta untuk dunia dan akhirat. Tak hanya menanti sang pujaan hati, tapi juga tetap berburu ridho illahi. (@Alga_Biru_)

Box

Friend Zone

Bergaul kepada non-mahrom, memang harus jaga jarak. Kalo terhanyut kondisi khalwat (berdua-duaan) maka syetan yang ketiga di antaranya. Bakal ngomporin pasangan untuk melakukan kemaksiatan. Banyak yang secara sah nggak pacaran, tapi gesture alias gelagat bahasa tubuhnya menuju ke arah situ. Ciri-cirinya, pertama sering telponan. Tujuannya macam-macam, mulai dari yang penting sampai yang dibuat seolah-olah penting. Modus sis! Kedua, active in socmed. Ngebangunin tahajud pake sms motivasi dan segala pernak-perniknya. Hal-hal seperti ini nggak harus lintas jender alias tebar menebar pesona kepada non-mahrom. Seandainya kita sering dikirimin yang seperti ini oleh ikhwan yang keganjenan, yaudah cuekin aja. Nggak usah dilarang, nggak usah digubris, entar juga bosen sendiri. Friend zone ialah kita berteman pada sesama muslimah, berteman kepada lelaki memang murni sebatas teman, bukan main ser-seran, yang bisa-bisa malah bikin ge-er sendiri.Yuk muliakan diri kita dengan jaga pergaulan. Oce?![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Derap Rantai Episode 10

drise-online.com – “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.

“Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang tadi adalah salah satunya, dan ada pintu rahasia juga di rumah hantu itu yang dihubungkan langsung dengan tempat ini melalui terowongan. Rumah ini menjadi pusat operasi kami dan di sini pulalah pintu-pintu rahasia itu terhubung dengan pintu-pintu rahasia yang lain lewat terowongan bawah tanah. Jadi jalan pulang kalian tidak akan terlalu sulit seperti ketika kalian datang.”

Alhamdulillah wallahu akbar,” Jabal memuji Tuhan.

“Dan segala hal yang terkait dengan seluruh fasilitas rahasia yang kami bangun ini sudah terlampir di dalam peta yang kalian bawa di dalam dokumen itu,” tambah Aswad.

“Baiklah, kalau begitu kami akan segera berangkat sekarang juga,” ujar Mutsana. “Semakin cepat kami berangkat semakin baik. Kalau kami terlalu lama berada di sini, khawatir akan berakibat buruk.”

“Ya, kecepatan dan ketepatan memang sangat penting. Tapi ada baiknya kalian memasok makanan dan perbekalan dahulu dari sini untuk keperluan di jalan. Kalian pasti kelaparan. Nanti, ketika malam sudah datang, barulah kalian berangkat, aku akan memandu kalian sampai keluar tembok kota.”

Mutsana dan Jabal saling pandang, ide apalagi yang lebih baik dari ini? Mereka pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Aswad.

“Semoga Allah melindungi anda dan seluruh tim anda. Terima kasih banyak.” Kata Mutsana.

000

“Karena orang-orang di kota ini percaya bahwa reruntuhan ini berhantu, maka tempat ini menjadi titik yang aman untuk bersembunyi,” kata Aswad. “Tidak akan ada orang yang berani mendekati tempat ini, bahkan sekadar berpikir pun tidak.” Dia memimpin Mutsana dan Jabal keluar dari sebuah lubang yang ada di sebuah kamar di tengah-tengah reruntuhan Rumah Kematian.

Lubang itu ditutup oleh batu berbentuk persegi berukuran dua meter kali dua meter, yang berbaur dengan lempeng-lempeng keramik yang sudah tidak beraturan lagi di sekitarnya, menjadi semacam pintu tingkap. Pintu itu jadi tersamarkan dan tidak akan ada orang yang tahu.

“Kami bersembunyi persis di sini ketika kami datang semalam,” ujar Jabal. Dia terlihat takjub sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya. “Kalau saja kami tahu, lebih baik kami lewat sini.”

“Lebih baik jangan berkata begitu, apa yang sudah terjadi semuanya sudah ketentuan Allah, dan pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang lalu,” kata Aswad. “Rasul melarang kita untuk berkata ‘kalau saja begini, kalau saja begitu.’”

“Astaghfirullah,” gumam Jabal. “Semoga Allah mengampuni kekhilafanku.”

“Di bagian dalam sana ada pintu lagi untuk menuju keluar. Terowongan ini akan tembus di sebuah lubang di lembah sebelah barat, dan kalau sudah sampai di sana artinya tembok kota sudah kalian lintasi.”

Aswad memandu Mutsana dan Jabal memasuki bagian tengah reruntuhan itu dan menyingkap ada sebuah pintu rahasia lagi di lantai. Aswad membukakan pintu itu di tengah kegelapan untuk kedua rekannya.

“Masuklah melalui pintu ini, ikuti terus jalur terowongannya, nanti kalian akan tiba di lembah bagian barat, insya Allah,” katanya.

“Sekali lagi terima kasih banyak,” kata Mutsana, dia menjabat tangan Aswad dan memeluknya.

“Anda adalah seorang mukmin yang amat baik,” giliran Jabal yang menjabat tangan Aswad dan memeluknya. “Semoga Allah selalu meberkahi anda, insya Allah.”

“Semoga kalian berdua selamat sampai di Madinah, Allah akan melindungi kalian berdua, insya Allah. Di luar sini kita tidak boleh menyalakan lilin. Setelah berada di dalam barulah kalian menyalakan lilin,” kata Aswad. “Selamat bertugas.”

Setelah berbalas salam, Mutsana dan Jabal memasuki lubang yang gelap itu sementara Aswad menutupkan pintunya. Lilin pun mereka nyalakan seperti diperintahkan Aswad, dan mereka telusuri terowongan itu.

Tinggi dan lebar terowongan itu masing-masing hanya dua meter, cukup sempit. Bagian tepi dan atapnya disangga oleh balok-balok kayu yang tebal agar terowongan yang beralas dan beratap tanah itu tidak runtuh. Mulut Mutsana dan Jabal terkatup diam, mereka tidak bicara apa-apa sepanjang perjalanan. Sementara hati mereka tetap menggumamkan zikir kepada Allah azza wajalla.

Perjalanan melintasi terowongan itu terasa panjang, walau pun datar-datar saja. Mereka merasa bahwa mereka sedang melintasi sebagian kota Ubullah dan denyut aktifitas kota itu ada di atas mereka. Setelah kira-kira setengah jam berjalan, mereka melihat cahaya redup di depan mereka.

“Itu ujung terowongan,” kata Mutsana, dia berjalan di depan. Sementara Jabal mengikuti di belakangnya.

Cahaya redup bintang gemintang menerobos masuk dari celah. Pintu keluar itu tertutup sebongkah batu besar.

“Pintunya tertutup,” kata Jabal. “Bagaimana mungkin Aswad menuntun kita pada jalan buntu seperti ini?”

“Jangan su’uzhon dulu, mungkin saja Ini sekadar kamuflase,” ujar Mutsana. “Kita coba geser saja.”

Mutsana dan Jabal meletakkan lilin mereka di lantai terowongan. Mereka mengerahkan tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tanpa diduga, batu besar itu bergerak dengan mudah, mereka hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga. Mereka segera keluar dari terowongan itu, membentanglah langit malam yang ditaburi bintang-bintang di hadapan mereka. Udara segar segera memenuhi paru-paru mereka setelah mereka merasakan betapa tipisnya udara di dalam terowongan.

Mereka kembali menggeser batu besar itu ke tempatnya semula, agar lubang rahasia itu tetap tersembunyi. Mutsana menengadah ke langit malam, dia tahu, Allah dzat yang tidak pernah tidur sedang menyaksikannya mengemban amanah, dia naikkan kedua belah tangannya. Jabal mengikuti apa yang dilakukan komandannya itu.

“Ya Allah, ya Robbi, tidaklah segala sesuatu terjadi melainkan karena kuasa dan kehendakMu! Terima kasih karena telah memberikan keberhasilan pada kami dalam menjalankan misi ini. Mohon selalu berkahi langkah kami, tetapkan kami di atas jalan yang lurus. Subhanallah walhamdulillah.”

Kedua agen rahasia itu segera merendahkan tubuh mereka, kemudian tersungkur di atas tanah, bersujud kepada Tuhan seru sekalian alam. [@sayfmuhammadisa]

Bersambung…

di  muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #39

Majalah Drise Edisi 39 : We Are The Champion

Dor…..!! bunyi tanda pertandingan dimulai terdengar memekakkan telinga. Sang juara langsung berlari sekuat tenaga. Samping kiri kanan, depan belakang, jutaan pesaingnya pun tak mau kalah. Mereka semua berlomba menuju garis finish menjemput hadiah berupa pasangan pujaan hatinya. Berbagai rintangan di depan mata tak menyurutkan semangatnya. Satu per satu lawan tandingnya berguguran. Hingga dia berhasil menemukan cinta sejatinya. Berhasil memeluknya. Berhasil membuahinya hingga lahirlah kamu. Iya kamuu!

 Juara Sejak Lahir

Gak perlu dijelasin panjang lebar tentang asal muasal kita dilihat dari sisi biologis. Yang pasti, pembuahan sperma pada sel telur yang mengawali proses reproduksi. Normalnya, cuman dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur. Masalahnya, ketika pria ejakulasi, sekitar 100-300 juta sperma masuk ke dalam vagina wanita dengan kecepatan sekitar 45 km/jam. Maaf ya kalo bahasanya, dianggal vulgar. Biar jelas aja. Kalo pake bahasa penyamaran, entar malah banyak pertanyaan. Kasian guru biologinya. 😀

Adu cepat mencapai sel telur itu kompetisi hidup dan mati. Lantaran setiap sperma unik secara genetik. Artinya nggak ada cerita dua sperma yang mengandung rangkaian gen yang sama persis. Jutaan sperma individual tersebut kini harus saling adu cepat untuk membuahi sel telur. Balapan lari!

Perjalanan menuju sel telur adalah perjalanan yang berbahaya. Fear factor mah lewat. Inilah mengapa sperma diproduksi dalam jumlah sangat banyak. Untuk berhasil membuahi sel telur, sperma harus mampu bertahan dalam lingkungan vagina wanita dan serviks alias leher rahim. Keasaman lingkungan di sana melindungi wanita dari bakteri dan serangan infeksi yang berbahaya, tapi lingkungan ini juga berbahaya bagi sperma. Sperma yang lemah atau rusak tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Tepar!

Bayangin, dari sekian juta sperma hanya 5% saja yang akan berhasil mencapai serviks. Dari 5 % tersebut, hanya sekitar 200 sperma saja yang bisa mencapai saluran Fallopi wanita. Sperma yang berhasil mencapai saMAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Comluran ini berarti telah menempuh perjalanan setengah jauh, yang dibandingkan dengan panjang sperma itu sendiri, sama dengan beberapa ratus kilometer perjalanan. Mantabs!

Dari 200 sperma hanya sedikit yang bisa meneruskan perjalanan hingga bagian luar sel telur. Dari sperma-sperma tersebut, hanya satu yang akan berhasil menembus permukaan sel telur, meninggalkan ekornya di luar, inilah yang disebut pembuahan. Pada saat itu juga, permukaan sel telur akan menjadi tak tertembus oleh sperma lainnya. Udah full booked!

Setelah serangkaian perubahan komplek, yaitu 7 hari setelah pembuahan, sel telur tadi tertanam di dinding rahim. Pada saat inilah kehamilan terjadi. Terus janin berkembang selama  9 bulan 10 hari hingga tiba waktunya kita melihat dunia. Tangis bayi memecah kesunyian ruang bersalin. Tangis harus membasahi pipi orang tua kita. Alhamdulilaah…

Berbahagialah kita yang sukses nongol melihat dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena bukan cuman 9 bulan 10 hari kita ngendon di perut ibu tersayang. Jauh sebelum itu terjadi, kita telah berhasil memenangkan sebuah kompetisi hidup dan mati. Kamu bersaing dengan ratusan juta benih yang juga ingin lahir ke dunia. Itulah proses reproduksi yang jarang kita ketahui. Jadi sebenarnya, kita sudah jadi juara sejak lahir. Yes!

 Juara Dunia Akhirat

Sebagai seorang remaja muslim yang kiyut bin sholeh, kita layak menyandang gelar juara dunia akhirat. Lantaran Allah swt udah ngasih predikat umat terbaik pada kaum muslimin seperti dalam firman-Nya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.(QS. Ali-Imran [3]: 110)

Pengertian umat terbaik adalah umat yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi umat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan, ”seseorang bangkit dan menuju Nabi saw ketika beliau berada ddalam mimbar, lalu bertanya: ’Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?’, Beliau bersabda: ’Manusia yang paling baik adalah yang paling tenang, paling bertakwa, paling giat menyuruh kepada yang makruf (kebaikan), paling gencar melarang kemungkaran (keburukan), dan paling rajin silaturahmi.’”  Ini kan umat Islam banget!

Sebagai umat pilihan, kita punya peluang besar untuk menikmati surga. Sementara Allah swt justru menutup pintu syurga bagi orang-orang kafir dan ahli kitab seperti disebutkan dalam surat Al-bayyinah ayat 8. Makanya, teteplah bangga sebagai muslim hingga akhir hayat. Kita sudah menjadi juara dunia akhirat. Rasullulah saw mengingatkan:

”Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka raihlah kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir serta memberikan kepada manusia sesuatu yag dia sendiri ingin diberi sesuatu yang seperti itu.”(HR. Ahmad)

Beruntung sekali kita sebagai muslim yang termasuk umat pilihan dan berpeluang besar menikmati syurga-Nya di akhirat kelak. Jadi, nggak ada alasan dong bagi kita untuk minder dengan Islam. Justru kita mesti bangga menjadi bagian dari umat juara. Otreh?!

Eits, tetep jaga hati dong. Bangga bukan berati angkuh lho. Dalam kamu besar bahasa Indonesia tercantum jelas perbedaan antara bangga dan sombong. Bangga adalah besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan). Sementara sombong dalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah. Beda banget kan!

Kebanggaan kita sebagai muslim tidak lantas menjadikan kita sombong. Justru sifat angkuh bin congkak hanya akan menodai keislaman kita. Rasulullah saw bersabda:

”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi. Seorang lelaki berkata, ”Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yuag menukai pakaian yang bagus dan sandal yang agus (bagaimana orang itu?, penj).” Rasulullah bersabda, ”Sesunguhnya Allah itu Maha Indah mdan Allah mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.”(HR. Muslim).

Dalam catatan sejarah penerapan hukum Islam oleh negara juga tidak menunjukkan adanya diskriminasi terhadap penganut agama lain. Seperti pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau memberikan keamanan bagi penduduk Elya (al-Quds) penganut kristen. Jaminan tersebut berupa keamanan terhadap diri, gereja, dan agama mereka. Mereka tidak pernah dipaksa terkait dengan agama mereka. Khalifah Umar pun menetapkan semua rakyat tidak boleh menyakiti mereka (Al-Baladzury, Futûh al-Buldan).

Ini senada seirama dengan sabda Rasul saw: ”Siapa yang menzalimi non-Muslim yang telah melakukan perjanjian atau meremehkannya, membebaninya di luar batas kemampuan, mengambil sesuatu tanpa kerelaannya, maka aku menjadi musuhnya pada hari Kiamat.”(HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Sekarang makin jelas dong kalo bangga nggak sodaraan ama sombong. Nggak juga temenan ama ujub bin narsis. Bangga dengan Islam itu mulia, kalo sombong? Justru tercela!

Be Your Self Aja…

Belon afdhol kalo rasa bangga cuman mangkal di dalam hati. Kebanggaan mesti dikasih ekspresi tanpa mengurangi porsi sikap rendah hati. Untuk menjaga biar rasa bangga tetep hadir tanpa cela, ekspresi yang ditunjukkan juga nggak boleh basi. Apalagi sampe ngasih kesempatan sifat riya ikutan nyempil di hati. Cukup kebanggaan itu kita tunjukkan seperti cita rasa khas muslim sejati.

Sebagai pribadi, kita adalah makhluk terbaik yang Allah ciptakan dengan segala plus dan minusnya. Gak perlu minder dengan kekurangan diri kita. Karena kita sang jawara. Dan gak perlu juga sombong dengan kelebihan diri kita. Karena masih banyak yang lebih baik dari kita. Yang penting, jadilah diri sendiri. Tunjukan kalo kita memang layak menjadi juara sesuai dengan kemampuan kita. Gak mesti sama seperti orang lain. Tiap orang kan punya keahlian yang berbeda. Makanya kenali potensi diri lalu ukir prestasi. Tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa.

Sebagai muslim sejati, pastinya percaya akan kebaikan yang diperoleh saat kita taat ama aturan Allah swt. Apalagi kelemahan kita sebagai manusia gak tau dengan akurat apa yang terbaik buat diri kita. Terkadang kita pikir pacaran itu bermanfaat, gak taunya malah menjerumuskan kita dalam jeratan nafsu syahwat. Terkadang kita pikir nutup aurat itu cupu (culun punya), kenyataannya menjadikan martabat diri kita lebih mulia. Makanya Allah swt menurunkan risalah Islam untuk memuliakan manusia.

Sebagai ekspresi kebanggaan terhadap Islam yang jempolan, udah sewajarnya kalo kita tunduk dan ikhlas ngikutin aturan hidup Islam. Nggak pake nyari-nyari alasan biar lolos dari kewajiban taat ama Allah dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman yang artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata”.(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ekspresi kebanggaan juga wajib kita tunjukkan dengan memupuk kepedulian kita terhadap Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Sebagai juara sejak lahir, kita pasti bisa kasih kontribusi terbaik untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Rasul saw bersabda: ”Siapa saja di pagi hari tidak memikirkan masalah kaum Muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka (kaum Muslimin)(HR. Al-Hakim).

Driser, udah saatnya kita berani nunjukkin kebanggan sebagai pribadi juara dan generasi muda Islam. Nggak malu-malu kucing lagi menampilkan cita rasa Muslim yang gaul, syar’i, dan mabda’i. Siap menjadi garda terdepan sebagai pembela Islam. Serta tak gentar menghadapi resiko yang menghadang idealisme Islam. Biar semuanya bisa dijalani, perlu persiapan matang dengan getol mengenali Islam lebih dalam. Sehingga kita bisa berteriak lantang, Yes, we are the champion! [@Hafidz341]

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39