Jatuh Cinta Sejuta Rasanya

Embun pagi menembus pori

Seperti pancaran cintamu memasuki relung hati

Sore ini terwarna jingga

Begitu pula hatiku yang jatuh cinta menyala

Gara-gara jatuh cinta, seseorang yang sebenarnya nggak pinter-pinter amat nulis puisi, mendadak jadi melankolis. Muslimah yang tadinya agak tomboi dan cuek dalam berpenampilan, berubah menjadi pesolek demi meraih keanggunan di depan cowok taksiran. Satu sisi ada debar rasa, sisi lain tergelitik malu sebagai muslimah.

Salah nggak sih perasaan jatuh sakit, eh jatuh cinta? Sejuta rasanya. Nggak diundang dia datang, nggak jumpa kangen. Cinta bersifat universal, tidak hanya ditujukan pada lawan jenis, ke orang tua, ke adik, juga bagian dari cinta. Cinta merupakan penampakan dari naluri melestarikan jenis (gharizatun nau’). Tidak akan mengakibatkan kematian jika tidak dipenuhi. Nggak mati kok orang yang nge-jomblo. Nggak mati kok walau nggak pacaran. Yang ada, pacaran yang bisa membawa kematian. Karena dibakar cemburu, pacar bisa gelap mata bin hilang akal dengan melakukan tindakan kekerasan yang berujung hilangnya nyawa. Ngeri!

Walaupun saat cinta tak terpenuhi nggak bikin mati, tapi kan nggak enak, keingetan si dia terus. Gimana dong? Yup, kegelisahan ini memang harus cepat tanggap,sist. Dimaklumi kok, namanya juga manusia, pasti bisa naksir juga jatuh hati. Tapi bukan artinya bebas main hati, tetep harus hati-hati dan jaga jarak.

Bangun Cinta, Bukan Jatuh Cinta

Ibarat membangun sebuah rumah, begitu pula tentang cinta. Yang benar ialah bangun cinta, bukan jatuh karena cinta. Orang yang jatuh, akan merasa sakit dan terluka. Sedangkan orang yang membangun cinta berarti terus maju dan tumbuh menjulang dan menghasilkan sesuatu yang nyata menuju kesuksesan.

Membangun cinta memiliki syarat, yaitu kesiapan. Baik mental, spiritual, maupun materi. Bukan berarti, sang cowok bela-belain beli boneka, artinya dia siap secara mental. Tetapi siap menanggung konsekuensi cintanya. Cowok baik-baik tak cuma beri janji, tapi datangi wali, alias orang tua. Cewek baik-baik nggak mau sekadar jatuh cinta, dia membangun cintanya dengan memantaskan dirinya agar kelak cinta itu tumbuh tepat pada waktunya. Cewek sholihah membangun cinta untuk dunia dan akhirat. Tak hanya menanti sang pujaan hati, tapi juga tetap berburu ridho illahi. (@Alga_Biru_)

Box

Friend Zone

Bergaul kepada non-mahrom, memang harus jaga jarak. Kalo terhanyut kondisi khalwat (berdua-duaan) maka syetan yang ketiga di antaranya. Bakal ngomporin pasangan untuk melakukan kemaksiatan. Banyak yang secara sah nggak pacaran, tapi gesture alias gelagat bahasa tubuhnya menuju ke arah situ. Ciri-cirinya, pertama sering telponan. Tujuannya macam-macam, mulai dari yang penting sampai yang dibuat seolah-olah penting. Modus sis! Kedua, active in socmed. Ngebangunin tahajud pake sms motivasi dan segala pernak-perniknya. Hal-hal seperti ini nggak harus lintas jender alias tebar menebar pesona kepada non-mahrom. Seandainya kita sering dikirimin yang seperti ini oleh ikhwan yang keganjenan, yaudah cuekin aja. Nggak usah dilarang, nggak usah digubris, entar juga bosen sendiri. Friend zone ialah kita berteman pada sesama muslimah, berteman kepada lelaki memang murni sebatas teman, bukan main ser-seran, yang bisa-bisa malah bikin ge-er sendiri.Yuk muliakan diri kita dengan jaga pergaulan. Oce?![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Leave a Reply

Your email address will not be published.