Olahraga Nabi dan sahabat

 Driser, kalo kita baca kisah teladan Nabid an para shahabat yang aktif berjihad dan menyebarkan Islam pastinya bukan cuman akidahnya yang kuat. Tapi juga mesti didukung oleh kondisi fisiknya yang super duper fit. Salah satu kegiatan yang bisa bikin badan kita sehat dan kuat, adalah olahraga. Pertanyaannya? Olahraga yang kaya gimana biasa dilakukan Nabi dan para Shahabat sehingga mereka pantang loyo di medan Jihad?

Berikut beberapa Olahraga Nabi dan sahabat diantaranya:

 

  1. Lomba Lari Cepat

Para sahabat terbiasa melakukan perlombaan lari cepat, dan Nabi saw mengizinkannya (sunnah taqririyah). Rasulullah sendiri mengadakan pertandingan dengan istrinya guna memberikan kesegaran, dan beliau juga mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana diceritakan oleh Siti Aisyah radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah bertanding dengan saya dan saya menang. Ketika saya berhenti sehingga badan saya menjadi gemuk, Rasulullah saw bertanding lagi dengan saya dan beliau menang. Lalu beliau bersabda : Kemenangan ini untuk kemenangan itu.”(HR. Ahmad dan Abu Daud). 

   2. Gulat

Rasulullah pernah bergulat dengan seorang laki-laki bernama Rukanah yang terkenal kekuatannya, dan permainan ini dilakukannya selama beberapa kali. Dalam satu hadits riwayat Abu Daud dijelaskan, “Sesungguhnya Rasulullah gulat dengan Rukanah yang terkenal kekuatannya itu, kemudian ia berkata; Domba lawan domba. Kemudian Rasulullah bergulat dan beliau bersabda : Berjanjilah denganku untuk (melakukan gulat) lagi di lain waktu. Kemudian Rasulullah bergulat seraya bersabda: Berjanjilah denganku, lalu Rasulullah saw bergulat untuk ketiga kalinya. Kemudian orang itu bertanya; apa yang harus saya katakan kepada keluargaku? Rasulullah saw menjawab: Katakan “domba telah dimakan oleh serigala, dan seekor dombapun lari.” Kemudian apa pula yang saya katakan untuk yang ketiga? Rasulullah saw menjawab : Kami tidak dapat mengalahkan kamu untuk bergulat karena itu ambillah hadiahmu.”(HR. Abu Daud). 

 

3. Memanah

Di antara hiburan yang dibenarkan oleh syara’ adalah memanah. Pada suatu saat Rasulullah shaLlalahu ‘alaihi wasallam berjalan-jalan menjumpai sekelompok sahabat yang sedang mengadakan pertandingan memanah, lalu Rasulullah bersabda : “Lemparlah panahmu itu, dan saya bersama kamu sekalian.” (HR. Bukhari).

Pertandingan memanah itu bukan sekadar hobi atau permainan semata, tetapi salah satu cara untuk mempersiapkan kekuatan  jihad sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt : “Dan bersiap-siaplah kamu sekalian untuk menghadapi mereka (musuh) dengan kekuatan yang kamu miliki.” (QS. Al Anfal : 61).

Ketika menjelaskan ayat ini, Rasulullah bersabda : “Ketahuilah bahwa yang dimaksud kekuatan itu adalah memanah, beliau mengucapkannya tiga kali.”(HR. Muslim). Di dalam hadits lain dijelaskan : “Kamu harus belajar memanah, karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (HR. Bazzar dan Thabrani).

Namun demikian, Rasulullah mengingatkan para sahabat agar tidak menjadikan binatang-binatang jinak dan sebagainya sebagai sasaran latihan, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang Arab Jahiliyah. Ibnu Umar mengatakan: “Sesungguhnya Rasulullah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran memanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Bermain Anggar

Dalam hal ini Rasulullah memperkenankan orang-orang Habasyah (Ethiopia) bermain anggar di dalam masjid Nabawi dan beliau pun membolehkan pula kepada Aisyah untuk menyaksikan permainan itu. Ketika Umar bin Khattab bermaksud melarang orang-orang Habasyah yang sedang bermain anggar, lalu Nabi saw mencegah sikap Umar itu. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain anggar di hadapan Nabi , tiba-tiba Umar masuk kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya kepada mereka. kemudian Rasulullah berkata kepada Umar : Biarkanlah mereka itu, wahai Umar.”(HR. Bukhari dan Muslim).

5. Pacuan Kuda

Hadits-hadits Nabi yang memberikan motivasi terhadap permainan pacuan kuda cukup banyak. Salah satunya adalah hadits riwayat Muslim yang berbunyi : “Sesungguhnya Rasulullah pernah mengadakan pacuan kuda dan memberi hadiah kepada pemenangnya.” (HR. Muslim)

6. Berburu

Hiburan atau permainan yang bermanfaat yang juga dibenarkan oleh Islam adalah berburu. Berburu itu hakikatnya adalah hiburan, olah raga sekaligus bekerja, baik dengan menggunakan alat seperti tombak, panah maupun menggunakan anjing buruan. Aktivitas semacam ini diperbolehkan baik dalam al-Qur’an maupun hadits Nabi .

Driser, beberapa olahraga yang biasa dilakukan Nabi dan para Shahabat di atas bisa jadi pilihan untuk mengisi waktu. Olahraga plus-plus. Badan sehat, dan punya kemampuan untuk ikut berjihad. Dengan catatan, tetap harus taat syariat. Tak mengumbar aurat atau nontonya ikhtilat. Saatnya berolahraga. Yuk![@Hafidz341, dari berbagaisumber]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS

– D’Riser, pada edisi D’Rise kali ini, kita mo ngebahas tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block.

Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan yang kita bangun.

Gak lucu, kan, kalo tulisan kita gak nyambung? Misalnya kek gini, niatnya bikin tulisan artikel bergaya deskriptif, eh saat kita nulis, kita malah keasyikan sendiri bernarasi panjang lebar. Akhirnya, tulisan kita mewujud jadi artikel naratif, malah bisa jadi feature atau yang lebih parah, jadinya kisahan faksi atau bahkan tulisan fiksi. Kacau, kan?

Selain itu, demi membangun tubuh yang dinamis dalam proses kreatif menulis, kita pun harus benar-benar memahami persoalan yang kita ajukan dalam tulisan dengan pembahasan yang kita kedepankan. Mulai persoalan keseharian maupun persoalan keumatan dan kebangsaan sampai pada pembahasan yang sistematis dan sistemis. Walah…, bahasanya ideologis bangeud, ye? Gapapa ding, kita kan mo jadi seorang yang totalitas dalam berkarya sebagai wujud aktualisasi Muslim kaffah.

Nah, soal ngebangun tubuh tulisan yang dinamis itu, dimulai dari maksud kita bikin tulisan. Jenis tulisan apa dulu yang mo kita bikin. Artinya, kita mo nulis artikel, berita, feature, fiksi atau faksi?

Kalo jenis tulisan, dah clear, lanjut deh ke outline, kita bikin kerangka tulisan agar kita punya panduan yang terarah dalam menulis. Bikin outline kek gini penting banget, lho, bagi para pemula karena akan membuat kamu-kamu terhindar dari write’s block yang sering jadi alasan kamu gak nerusin tulisan bahkan parahnya, gak nuntasin tulisan!

Makanya penting banget kita bikin outline, khususnya bagi para new comer dalam jagat kepenulisan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena faktanya banyak di antara para pemula itu yang begitu bersemangat nulis hingga mereka terjebak dengan bahasa lanturan. Tulisannya ngelantur kemana-mana, boros kosa kata dengan kalimat yang gak efektif. Nah, lho, jadi dalam menulis jangan modal semangat doang, ya?

Walah…, kita dah masuk ke area bahasa dalam pembahasan, ya?

Oke deh, sebelumnya kita mo nanya, neh, Bro and Sist D’Riser, pernah baca ato sekadar liat-liat majalah mingguan berita (MBM) TEMPO, kan? Tuh, majalah yang digawangi Goenawan Mohamad itu punya tagline atau slogan yang mereka usung sejak awal penerbitannya sebagai pemantik minat baca para penggemarnya, taglinenya kek gini, enak dibaca dan perlu.

MBM TEMPO sepertinya pengen ngikut kesuksesan the weekly newsmagazine TIME di Amrik sana yang jadi barometer pemberitaan, gak hanya di dunia Barat, tapi juga jadi rujukan media berita seluruh dunia. Coba, liat tagline TIME ini, there’s never been a better.

Terlepas dari ide maupun ideologi yang diusung kedua majalah berita tersebut, tapi tagline dua majalah yang katanya mengusung model jurnalisme investigatif itu keren-keren, ya?

Kalo diperhatikan, karakter tulisan mereka, baik itu artikel, berita, feature, etc yang nampil di majalahnya itu, emang enak dibaca, bahasanya lugas, bernas dan kaya. Oya, maksud “kaya” di sini adalah kaya dalam menyajikan fakta dan data, sekaligus “kaya” dalam bahasa. Kalo “kaya” dalam analisa. Wah, nanti dulu, soal analisa, kan,  bergantung sepenuhnya pada ideologi yang mereka usung. Jadi, cukuplah kita terkesan dengan kekayaan fakta, data dan bahasa yang mereka punya.

Coba, deh, kamu baca Catatan Pinggirnya Mas Goen di majalah TEMPO atau yang sudah dibukukan oleh Penerbit Gramedia sebanyak 6 jilid. Simak dan perhatikan cara Mas Goen memulai hingga mengakhiri tulisannya, dia menulisnya dengan bahasa yang kaya, Dewan Redaksi Majalah TEMPO ini menulis dengan energi, setiap kalimatnya penuh dengan muatan informasi.

Di sini, kita mo ngebuka soal kekayaan berbahasa ini karena dalam membangun tubuh yang dinamis, seorang penulis yang baik tentu akan memerhatikan kualitas dari bahasa yang ia pake, sekaligus dengan kalimat yang efektif alias tepat sasaran.

Bahasa yang ia pake akan menyesuaikan dengan khalayak pembacanya, bahasa yang tepat sasaran dan tepat guna, tepat kepada yang dituju dan berdampak langsung pada perubahan sikap maupun karakter pembacanya.

Kalo kita nulis untuk remaja maka bahasa yang kita pake pun, ya bahasa keseharian mereka, dunk! Kita harus tahu dunia mereka untuk menyelami kebiasaan, tabi’at dan kehidupan anak-anak muda kekinian, termasuk soal gaya berbahasa mereka yang kata penyanyi en psikolog, Tika Bisono mah, bahasa yang dinamis, sering berubah sesuai zamannya, funky… bahkan, terkesan slank alias seenaknya.

Melalui pemahaman terhadap dunia remaja dengan karakter bahasanya yang funky dan slank tadi, tentu akan memudahkan kita untuk menyapa mereka dengan bahasanya sendiri, bahasa yang mereka fahami. Di sinilah misi da’wah bi lisani qaumih sudah terpenuhi, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dimengerti kaumnya.

Nah, itulah maksud dari pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Kalo untuk pembahasan yang sistemis, gimana? Cegat di edisi D’Rise berikutnya, ya….[]

Di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #38

Perang Besar Pertama Rasulullah

 Lagi puasa, disuruh jalan puluhan kilometer ditengah sengatan terik sang mentari terus berperang. Waduh, yang bener aja! bisa-bisa perang belon mulai udah gempor duluan. Kenyataannya, hal itu pernah dilakukan para Shahabat saat perang besar pertama kaum muslimin yang terjadi di bulan Ramadhan! Wow… dahsyat!

Perang Besar Pertama Rasulullah

Perang Badar namanya. Perang terbuka terbesar yang tak terhindarkan lantaran berbagai macam gangguan, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh Islam. Penindasan itu telah berlangsung sejak sebelum hijrahnya Nabi SAW dan kaum Muslimin ke Yatsrib (Madinah). Bahkan, rumah-rumah para muhajir tersebut diduduki kaum musyrikin dan harta benda merekapun dirampas.

Maka, untuk melindungi dakwah serta kaum muslimin dari ancaman tiada henti, Rasulullah SAW pun mengirimkan beberapa kali ekspedisi dan pengintaian. Rasulullah SAW membangun aliansi dengan kabilah-kabilah di jalur perjalanan antara Makkah dan Madinah. Begitu Rasulullah SAW mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan ‘Amr bin Al-‘Ash bergerak dari Syam bersama 40 orang dengan membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhannya mencapai seribu ekor unta, maka beliau pun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak mendatanginya. Jumlah pasukan kaum muslimin pada saat itu hanya 313 orang, dengan membawa 2 ekor kuda dan 70 unta, yang dinaiki secara bergantian.

Tapi, pergerakan kaum muslimin ini rupanya  berhasil dibaca oleh Abu Sufyan, ia pun segera membelokkan jalur perjalanan dan meminta bantuan kepada penduduk Quraisy di Makkah. Mendengar hal ini kaum Quraisy pun bergegas untuk melindungi harta benda mereka, dengan membawa hampir 1000 orang pasukan dengan 100 kuda dan 170 unta. Ketika Abu Sufyan yakin bahwa kafilah dagang mereka aman, ia pun meminta pasukan Quraisy untuk pulang ke Makkah. Tapi, dengan congkak Abu Jahal menolak dan bertekad untuk meneruskan perjalanan dan menumpas pasukan Muslimin. Akhirnya kedua pasukan itu pun bertemu di sumur Badar.

Perang Badar Kubra merupakan peristiwa yang sangat penting.

Dalam Al-Qur’an surat Al Anfal, perang Badar disebut sebagai Yaumul Furqan atau Hari Pembeda (antara kebenaran dan kebatilan). Dikisahkan Rasulullah SAW berdoa “Ya Allah, orang-orang Quraisy telah datang dengan kesombongannya. Mereka ingin mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, aku bermunajat memohon janji-Mu. Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah menjadi ketetapanMu. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok yang kecil dari umat ini binasa sekarang, maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.” Saking khusyu’nya doa beliau hingga sorban di pundak beliau jatuh ke lantai, sehingga Abu Bakar pun sampai trenyuh melihatnya dan berkata “Wahai Rasulullah, cukuplah apa yang telah kau minta kepada Tuhanmu karena sesungguhnya Ia akan memberikan apa yang telah dijanjikannya kepadamu”, sambil meletakkan kembali sorban itu di pundak Rasulullah SAW.

Perang Badar menunjukkan, bahwa kaum muslimin bukanlah kaum yang cuma pintar berdoa dan “sabar” menunggu mukjizat. Selain berdoa, kaum muslimin juga bersiap sedemikian rupa demi menjemput kemenangan yang dijanjikan. Selain mengirimkan misi intelijen, Rasulullah SAW yang tiba lebih dahulu di medan perang memilih tempat yang paling strategis, yaitu di sumur Badar, dan menimbun sumur  yang akan ditempati musuh, sehingga kaum Muslimin menguasai sumber air.

Peperangan pun dimulai pada Jum’at pagi, tanggal 17 Ramadhan, yang diawali dengan duel 3 orang jawara (mubarizun) dari masing-masing kubu. Dari kubu muslimin adalah Ubaidah bin Harits, Hamzah bin  Abdul  Muththalib,  dan  Ali  bin  Abi  Thalib, sementara kubu musyrikin mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin ‘Utbah. Ketiganya tewas di tangan jawara kaum Muslimin. Setelah duel berakhir, perang total pun dimulai.

Di tengah sengitnya pertempuran, Rasulullah SAW berseru, “Wahai Abu  Bakar,  sampaikan  kabar  gembira  ini,  bahwa  pertolongan  Allah telah tiba. Ini Jibril sedang memegang tali kekang kuda yang ditungganginya berada di antara debu-debu.”. Doa Rasulullah SAW dikabulkan langsung oleh Allah SWT mengirim pasukan malaikat yang ikut berperang menumpas pasukan musyrikin. Allahuakbar!

Akhirnya, berkat persiapan, strategi, dan juga tentunya pertolongan Allah SWT, pasukan kaum muslimin yang lebih sedikit itu berhasil mengalahkan pasukan musyrikin. Tak kurang dari 70 orang pasukan musuh yang tewas dan 70 orang lainnya ditawan. Pasukan muslim juga berhasil memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit. Kemenangan pada perang Badar ini memiliki arti penting, karena semakin mengokohkan upaya dakwah Islam sehingga Islam kemudian bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Driser, peristiwa perang badar bisa jadi cermintan buat kita. Betapa kuatnya sikap dan mental kaum muslimin sampe rela berperang di bulan mulia. Itulah hasil dari pembinaan akidah yang dilakukan Rasulullah. Mungpung di bulan berkah, saatnya kita perkuat akidah juga untuk meneladani para shahabat. Ikut pengajian dan aktif berdakwah. Yuk![Ishaak]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38

Gara-Gara Gila Bola

 Bill Shankly, mantan manajer sukses Klub Liverpool pernah bilang, “Some people think football is a matter of life and death. I assure You, it’s much more serious than that,”. Yup, bagi para penggila bola, sepakbola tak sekedar permainan. Tapi sudah menjadi gaya hidup atau malah hidup itu sendiri. Gimana nggak, demi sepakbola akal sehat bisa bertekuk lutut dihadapan hawa nafsu.

Gara-Gara Gila Bola Waktu, tenaga, harta, hingga agama rela diumbar demi sepakbola. Seperti beberapa fakta berikut:

  1. Wasting time

Sebagaimana dilansir situs Bolapedia, Produsen Bir Heineken merilis penelitian bahwa mayoritas (responden) orang Inggris meluangkan lebih banyak waktu untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, membaca ulasan media, dan berdiskusi membahas hal-hal yang menyangkut sepakbola dalam obrolan keseharian. Mereka menghabiskan dua jam plus 22 menit setiap minggunya untuk nonton bola di televisi.

Orang Inggris juga sedikitnya menghabiskan 28 menit per pekan untuk mendiskusikan hasil pertandingan, gosip transfer, gol, dan aksi lainnya di lapangan. Total, penduduk Inggris menghabiskan 11 jam dan 12 menit setiap minggunya untuk sepakbola.

  1. Fighting arena

Awal Pebruari 2012, lebih 70 orang tewas dalam tawuran antar-suporter kesebelasan Al-Ahly vs Al-Masry di Port Said, Mesir. Peristiwa ini memperpanjang daftar tragedi dunia sepakbola.

Di Liga Afrika, pada 11 April 2001, laga Kaizer Chiefs kontra Orlando Pirates diStadion Ellis Park, Afrika Selatan, menewaskan 43 orang; Duel Lupopo vs Mazembe di Liga Kongo, 30 April 2001, menewaskan14 orang.

Liga Inggris tak kalah mengerikan. Laga Liverpool vs Notthingham Forestdi Stadion Hillsborough milik Sheffield,15 April 1989,menyebabkan96 suporter Liverpool tewas; Pada 9 Maret 1946, duel Bolton Wanderers vs Stoke Citydi Stadion Burden Park, menyebabkan 33 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka. Pertemuan Bradford City vs Lincoln City,di Stadion Valley Parade, 11 Mei 1985, menyebabkan 56 orang tewas.

Liga Amerika juga mengundang maut. 23 Juni 1968, duel River Plate vs Boca Juniorsdi Argentina, menewaskan 74 orang dan 150 orang terluka. 2 Januari 1971, laga Celtic vs Rangersdi Skotlandia, menewaskan 66 orang dan 140 orang lebih mengalami cedera.

Pertandingan antar-klub antar-negara juga menelan banyak korban jiwa. Laga Juventus vs Liverpool, 29 Mei 1985,di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, mematikan 39 suporter Juventus. Pada 20 Oktober 1982, laga Piala UEFA Spartak Moskwa vs Haarlem diMoskwa, menewaskan 61 orang. Bahkan, versi lain menyebut korban tewas lebih 300 orang.

Pun duel bola antar-negara, sama saja. Tanding Guatemala vs Kosta Rika, 16 Oktober 1996, menelan tumbal84 orang tewas. Pada 24 Mei 1964, laga Peru vs Argentina di babakkualifikasi olimpiade di Stadion National Lima, menewaskan 318 orang dan lebih dari 500 terluka.

  1. Agama dan keyakinan baru

Sebuah akun facebook memajang nama: Football is My Religion and St Andrews is My Church. Sorry, domba-domba Yesus jangan girang dulu, Santo Andrews itu bukan nama gereja, tapi stadion milik Klub Birmigham FC, Inggris.

Jika bola adalah agama, maka pelatih dan pemain top sepakbola pun ditahbiskan jadi ‘’nabi’’. Lionel Messi (Barcelona, Spanyol) disebut El Messiah (Juru Selamat); Gabriel Batistuta (Fiorentina, Italia), diusulkan mendapat gelar ‘’Santo’’ (Teh Holy Man). Batistuta   juga dipatungkan dari logam dan dipajang di alun-alun Kota Firenze. Bila di mata uang kertas dolar Amerika tertera kalimat ‘’In God We Trust’’, maka dalam laga Birmingham City vs Arsenal, sebagian supoter mengusung spanduk berbunyi: “In Arsene We Trust”. Arsene Wenger adalah manajer Arsenal (Inggris).

Yang ugal-ugalan tentu saja orang Argentina. Pada 30 Oktober 1998, di Kota Rosario, para fans ‘’Nabi’’ Maradona mendirikan Gereja Maradona (Iglesia Maradoniana). Kapel gereja dinamai ‘’Hand of God’’ merujuk pada gol tangan Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986. Kitab Suci mereka adalah Biografi Maradona. Mereka mengamalkan kredo ‘’10 Perintah Tuhan’’ bikinan sendiri yang berisi pepujian pada sepakbola dan Maradona.

Iglesia Maradoniana juga membuat kalender sendiri, yang diawali tahun 1960 (tahun kelahiran Maradona). Walhasil, tahun 2012 ini disebut Tahun 52 AD (After Diego).Konon, jamaah Iglesia Maradoniana di seluruh dunia kini mencapai lebih 15.000 orang.

Diantara ‘’10 Perintah Tuhan’’ agama sepakbola Argentina adalah: Cinta sepakbola atas segala sesuatu, dan menyatakan cinta tanpa syarat pada sepak bola.

Driser, sepakbola kian hari tak lagi sekedar permainan. Tapi sudah menjelma menjadi gaya hidup yang menyita sebagian besar masyarakat dunia. Tak terkecuali umat Islam. Buat non muslim, bisa jadi gara gara gila bola cuman dapet kerugian di dunia. Sementara bagi umat Islam, tekornya nembus ke akhirat. Yup, gara-gara gila bola bisa melalaikan kewajiban sekaligus menyuburkan kemaksiatan. Apalagi dalam moment piala dunia yang berbarengan dengan datangnya bulan mulia. Alamat kalah pamor tuh obral pahala yang Allah curahkan di Bulan Ampunan oleh gemerlap perebutan piala Jules Rimet. Hati-hati ah. Jangan sampe, Ramadhan lewat gitu aja gara-gara pesona piala dunia. Rugi!!! [341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38