Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian II – Selesai)

drise-online.com – Liburan saya bersama keluarga di Istanbul, Turki, berlangsung selama 9 hari. Waktu 9 hari itu terasa sangat singkat dan tidak cukup untuk menjelajahi seluruh sudut Istanbul. Ini disebabkan kondisi saya yang sedang hamil 7 bulan pada saat itu. Sehingga tidak bisa berjalan jauh dan kurang leluasa untuk naik turun metro maupun bus kota. Tetapi waktu yang terbatas itu kami maksimalkan untuk menelusuri jejak kekhilafahan Ustmaniyah, sekaligus melihat kondisi masyarakat Istanbul secara langsung. Untuk itulah, kami mengikuti salah satu tour menelusuri Selat Bosporus. Dalam tour tersebut, pemandu kami menyebut tiga nama tokoh yang berperan penting dalam pembangunan Turki. Mereka adalah Sultan Mehmet II, Sultan Süleyman, dan Mustafa Kemal. Sosok Sultan Mehmet II dan Sultan Süleyman, sudah saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya.

Mustafa Kemal

Mustafa Kemal adalah presiden pertama Republik Turki. Dia menjadi presiden setelah Majelis Agung Nasional Turki mendeklarasikan berdirinya Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Dan Kekhalifahan Ustmaniyahsecara resmi dibubarkan tanggal 3 Maret 1924. Demi mewujudkan cita-citanya untuk membangun Turki menjadi negara yang sekuler, Mustafa Kemal kemudian memulai program revolusioner di bidang sosial dan politik. Diantaranya, mendorong kaum wanita Turki untuk menduduki jabatan vital dalam pemerintahan yang jelas-jelas terlarang dalam Islam, sebagai bentuk emansipasi perempuan. Disamping itu, dia jugamenghapus seluruh institusi hukum Islam dan menggantinya dengan institusi hukum Barat. Penghapusan sistem kalender hijriyah, penggantian seluruh huruf Arab dengan alfabet latin, bahkan pelarangan pembangunan masjid-masjid baru dan pengumandangan adzan dalam bahasa Arab. Mustafa Kemalmendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa, serta topi-topi ala Eropa untuk menggantikan hijab para muslimah. Selain itu, dia juga menggalakkan produksi minuman yang mengandung alkohol di dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara,meskipun Islam melarang keras hal tersebut.

Mustafa Kemal begitu berambisi untuk membangun masyarakat Turki sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam.Bahkan ia mengubah wajah dan fungsi Masjid agung Ayasofyayang menjadi lambang perubahan masyarakat konstantinopel yang semula diatur dengan undang-undang manusia, menjadi masyarakat baru yang diatur dengan undang-undang yang bersumber dari ALLAH SWT. Masjid ini ditutup pada tahun 1931 dan diubah fungsi menjadi sebuah museum pada Februari 1935 untuk menarik minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Turki.

Ayasofyia

Serasa tersekat diri ini, ketika selangkah demi selangkah memasuki Ayasofyia saat itu. Bagi saya, Ayasofyia adalah lambang kemenangan kaum muslimin atas dominasi imperium romawi (Byzantine) serta perwujudan janji (bisyarah) Rasulullah SAW. Semenjak masa Shahabat, kaum muslimin telah mengerahkan segala daya dan upaya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang syahid dalam jihad untuk menaklukan konstantinopel dan merebut Ayasofyia yang menjadi kebanggaan romawi. Akan tetapi, ditangan Mustafa Kemal, begitu mudahnya masjid ini beralih fungsi menjadi museum. Konon kabarnya, diperlukan waktu beberapa tahun untuk pengelupasan secara bertahap lapisan dinding dan langit-langit masjid Ayasofya agar mozaik lukisan tokoh-tokoh suci kristen peninggalan Byzantine bisa terlihat kembali. Kini, tepat di atas mimbar mihrab, terdapat sebuah mozaik lukisan perawan Maria (Virgin Mary) menggendong seorang bayi laki-laki. Bahkan bila dilihat dari salah satu pintu masuk yang berada di tengah, tampak seolah-olah mozaik lukisan tersebut diapit oleh kaligrafi bertuliskan Allah Subhanahu wa ta’alaa di pilar sebelah kanan dan Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam di pilar kiri. Penuh keingintahuan, saya kembali ke pintu masuk. Di sana terdapat beberapa partisi yang menggambarkan perjalanan sejarah Ayasofya dan proses perubahan masjid menjadi museum yang rupanya dibantu oleh pihak asing dalam pengerjaannya.

Menyusuri jalanan Kota Istanbul, saya melihat secara langsung hasil sekulerisasi yang dibangun Mustafa Kemal pada masyarakat Turki. Masjid Sultan Ahmet yang begitu megah serta dikenal di seluruh dunia dengan nama Blue Mosque itu, kini hanya dipenuhi para wisatawan. Bila waktu shalat tiba, jamaah Masjid itu hanya 2-3 shaf itupun tidak rapat. Pengunjung yang berdiri dibalik sekat kain selutut sambil memotret bagian dalam Masjid, jumlahnya lebih banyak, bahkan sampai berdesak-desakan. Masjid-masjid lain pun kondisinya sama, termasuk Masjid Yeni (New Mosque) yang berada di tepi Golden Horn (muara berbentuk tanduk diantara Selat Bosporus dan Laut Marmara). Hampir semua masjid memiliki sekat kain di tepinya sebagai tempat bagi para wisatawan yang ingin melihat kondisi dalam masjid. Masjid-masjid di Istanbul telah menjadi salah satu obyek wisata.

Restauran dan cafe-cafe sepanjang jalan maupun di pasar-pasar, hampir semuanya menjajakan minuman keras. Para pelayannya tanpa ragu memegang nampan berisi segelas minuman beralkohol sambil mengajak setiap orang yang melintas untuk memasuki restaurannya. Pengunjung restauran dan cafe-cafe itu tentu saja bukan hanya para wisatawan mancanegara, penduduk lokal Turki pun tampak menikmati minuman-minuman beralkohol tersebut. Mengingatkan saya akan cerita suami tentang teman Turkinya yang begitu antimemakan daging babi, tetapi dengan nikmat menenggak minuman beralkohol. Hal ini tentu saja menyulitkan kami selama 9 hari berada di sana dalam mencari tempat makan. Sering kali kami melangkah keluar lagi dari dalam sebuah restauran meskipun sebelumnya sudah duduk, karena melihat daftar minuman keras dalam menunya. Itu kami lakukan karena enggan melihat seorang muslim menuangkan minuman keras bagi orang lain, apalagi melihat mereka meminumnya.

Para wanita muda Turki banyak yang terlihat tanpa hijab. Hanya sedikit yang menutup aurat, itupun sebagian besar wanita paruh baya. Saya melihat geliat berhijab justru lebih semarak di Indonesia. Para wanita muda yang saya temui di metro, subway, toko-toko, maupun jalanan Istanbul tak ubahnya seperti wanita muda Eropa pada umumnya. Tak jarang terlihat beberapa diantaranya merokok sebagaimana lelaki. Meskipun demikian, sebagian besar diantara mereka sangat ramah dan suka menyapa dengan bahasa Inggris seadanya. Bahkan suka memberikan tempat duduknya kepada saya yang terlihat sedang berbadan dua. Gaya hidup muda-mudi Turki cukup bebas. Saat beristirahat di salah satu bangku taman kota Istanbul, seringkali terlihat sepasang muda-mudi duduk sambil bermesraan dengan bebas di tengah keramaian. Ironisnya yang melakukan bukan wisatawan asing, tetapi muda mudi lokal berbahasa Turki yang notabene adalah muslim.

WAJAH ISTANBUL HARI INI - DRISE-ONLINE.COM

Melihat secara langsung wajah masyarakat Istanbul hari ini menyisakan kegetiran yang mendalam di hati saya. Istanbul yang dulunya berada dalam naungan kekhilafahan Ustmaniyahmampu menjadi pusat peradaban dunia yang kuat serta disegani.Pusat kebudayaan islam itu, kini berubah hanya menjadi daerah wisata yang dibanjiri dengan tempat-tempat maksiat. Perubahan ke arah sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kemal hanya menghantarkan Turki serta kaum muslimin di seluruh dunia menjadi bangsa dan umat yang lemah. Kelak, Islam akan jaya kembali. Seperti dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah. []

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39