OfficeLess: Kerja Tanpa Ngantor

Semenjak internet bisa diakses dengan mudah, banyak pekerjaan kantoran yang bisa diberesin tanpa harus keluar rumah. Kondisi ini melahirkan fenomena officeless yang makin populer. Bekerja tanpa harus ngantor setiap hari. Emang bisa? Pastinya!

Penelitian dari Regus Global Economic Indicator memperlihatkan 48% dari 26 ribu manajer di 90 negara berbeda mengaku sudah tak lagi bekerja di kantor. Berikut lima alasan mengapa kantor tak diperlukan lagi untuk bekerja:

1. Perusahaan lebih hemat

Selama ini, banyak perusahaan menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk membeli properti untuk para pegawai. Perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Kanada, saat ini bermimpi untuk membuat para pekerjanya bisa bekerja darimana saja dan tak perlu pergi ke kantor.Perusahaan bisa berhemat, tidak lagi menghabiskan uang untuk keperluan kantor, internet, peralatan kantor dan lainnya.

2. Pegawai bisa menghemat waktu

Perjalanan ke kantor merupakan masalah besar bagi banyak pegawai di seluruh dunia. Menurut laporan dari Biro Sensus Amerika Serikat, sekitar 600 ribu pekerja di sana menghabiskan waktu 90 menit hanya untuk mencapai tempat kerjanya.Tanpa harus pergi ke kantor dan bekerja dari rumah, para pegawai dapat menghemat banyak waktu.

3. Pegawai lebih produktif

Terdapat sejumlah laporan yang membuktikan bahwa para pekerja yang bekerja dari rumah jauh lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di kantor. Menurut Global Workplace Analytics, sekitar US$ 600 miliar terbuang percuma karena produktivitas pegawai terganggu akibat harus bepergian di kantor.

4. Meningkatkan kualitas hidup pegawai

Beberapa tahun lalu, para peneliti di Umea University di Swedia menemukan pasangan yang bercerai karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja ke kantor. Bekerja dan perjalanan ke kantor merupakan salah satu yang menyebabkan para pegawai merasa stres.

5. Banyak tempat kerja baru

Lokasi apapun bisa menjadi tempat kerja yang potensial termasuk kedai kopi, rumah, atau di mana saja melalui sambungan internet. Tanpa kantor, para pegawai dapat menyediakan banyak tempat dengan suasana baru.

Driser, kalo di negeri kita tampaknya alasan kuat untuk menerapkan konsep officeless bagi karyawan adalah kemacetan di kota-kota besar selain perkembangan teknologi informasi. Kebayang nggak, kalo udah kejebak macet di ibukota, bisa tua dijalan. Masuk kantor bisa kesiangan atau klien bisnis bisa kabur lantaran kita telat meeting. Kemacetan khususnya di ibukota disebabkan angka pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terus membludak.

Tahun 2010, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sudah mencapai angka 6,7 juta unit, dengan komposisi kendaraan roda dua mencapai 4,3 juta unit dan kendaraan roda empat 2,4 juta unit. Kenaikan jumlah kendaraan bermotor mencapai 0,8 persen per bulan atau 11 persen per tahun. Berdasarkan data yang ada, rasio jumlah kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum adalah 98 persen berbanding 2 persen!

Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang makin tinggi ini, kecepatan rata-rata lalu lintas di Jakarta hanya 20 kilometer per jam. Dengan kata lain, 60 persen waktu warga Jakarta dihabiskan di tengah kemacetan. Kerugian ekonomi akibat macet mencapai Rp27,76 triliun!

Nah driser, setelah tren paperless alias tanpa kertas dalam menyelesaikan banyak kerjaan administrasi dengan bantuan teknologi informasi, kini officeless mulai banyak dilirik. Karena yang penting adalah hasil kerjanya, bukan cuman kehadiran di kantor. Orang bule bilang, paid by result not paid by attendance. Paling ke kantor cuman buat meeting. Asyik kan. Mau? Dari sekarang, asah deh tuh skill dan ilmu yg berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi. Biar kelak bisa rasain indahnya kerja office less. Ingat ya, officeless not jobless. Watau! [@Hafidz341]

 

BOX

Kerja Tanpa Harus Ngantor…

Pembuatan website

Zaman serba online, maka kebutuhan akan sebuah situs pun terus mengalami peningkatan. Dari yang ecek-ecek sampai yang profesional, pasarnya nggak pernah abis. Apalagi dengan kehadiran CMS alias Content Management System, bikin website serasa bikin Mie. 3 menit jadi!

Content Writer

Penulis konten atau content writer yang bermodalkan kemampuan menulis dan membaca serta faktor pendukung berupa akses internet dan komputer banyak dicari lho. Banyak peluang menjadi ghost writer penulis beken atau freelance di penerbitan.

Admin Sosial Media

Kerjaan admin sosial media banyak dicarioleh perusahaan kecil ataupun besar yang ingin eksis di jejaring sosial. Nggak mesti ngantor, yang penting follower naik dan jumlah liker membludak.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40

Finding Hikmah on Dakwah’s Trip

drise-online.com – Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor.

Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian.

“Umiiii, Mamsky hujan-hujanan tuuuuh!” teriak Dian, adik Imam yang berusia tujuh tahun, laporan pada Umi yang lagi sibuk menanggulangi titik-titik kebocoran di rumah. Menadahinya dengan baskom.

“Heh! Mamsky, Mamsky!” Imam melotot sambil mengigil di depan pintu. Sumpah! Imam sebel banget. Gara-gara adik perempuan satu-satunya itu keranjingan nonton GGS, Dian memanggilnya Mamsky. “Ambilin anduk!” perintahnya pada Dian.

“Dian, gera ambilin anduk buat Aa Imam,” ucap umi.

Dian manyun, kok Umi nggak marahin A Imam?Tapi, kalau udah Umi yang ngomong, terpaksa deh, nurut.Umi tersenyum simpul melihat tingkah anaknya.

***

Finding Hikmah on Dakwah Trip - drise-online.com

Pukul 13.30 WBR (Waktu Bogor Raya). Langit masih menurunkan berkahnya. Selesai membersihkan diri dan sholat Dzuhur, Imam menginvestigasi dapur. Hmm, dinginnya hujan di luar, paling pas dikombinasikan dengan mie instant rasa soto pake telor plus cabe. Dilanjutkan dengan sleepinghandsome bersama seperangkat alat tidur dibayar tuuunai. Eh ….

***

“Mam! Banguuun!”

“Siaga! Ada penyerangaan! Invasi ruang privaaat!” mendengar teriakan yang lumayan menyakitkan telinganya, Imam refleks berdiri memasang kuda-kuda. Mengira ada penyerangan sungguhan.

Buk!Imam tersuruk. Serangan tak terduga datang dari arah belakang. Hebatnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit–soalnya senjata yang digunakan cuma bantal guling kesayangannya-. Sedetik kemudian Imam menoleh untuk mencaritahu siapa pelaku penyerangan yang berani-beraninya mengganggu sleeping handsomenya ….

“Aduuuh Rif! Ngapain sih antum teriak-teriak! Nggak bisa pake cara halus banguninnya?!” Imam bersungut-sungut kesal begitu tahu pelakunya adalah Arif, teman sekelasnya, satu pengajian juga, dan yang Imam syukuriadalah mereka nggak tetanggaan. He ….

“Cara halus?! Asal antum tahu, ana udah dua puluh menit bangunin antum! Dari cara halus sampe yang sedikit nggak halus!” sahut Arif sebal.

Imam menguap, beranjak malas duduk di sebelah Arif. “Terus, antum ngapain ganggu tidur suci ana, heh?”

“Tidur suci? Tidur beruang yang kayak gitu mah!” sembur Arif, “antum lupa ya, sore ini kita kan ada rapat buat dauroh bulan depan. Makanya ana kesini, soalnya ana udah feeling antum bakalan lupa. Beneran kan feeling ana,” Arif menghentikan khotbahnya. Curiga. Ia segera menoleh ke sebelah.

“Yee, sare deui! Banguun!” Arif menyenggol lengan Imam. Membuat Imam akhirnya tersadar.

“Antum udah melakukan pelanggaran sore ini, menginvasi ruang privat ana tanpa izin,” Imam mengoceh. Antara sadar dan tidak sadar.

“Haha, mana ada invasi minta izin dulu!” Arif tertawa

“Ya udah, antum aja yang berangkat. Nanti hasilnya kasih tahu ana,” ucapnya lagi.

“Ana juga nggak berangkat kalo antum nggak berangkat,” gumam Arif sejurus kemudian berdehem. “Gimana? Nggak enak kan diinvasi? Saudara-saudara kita di Palestina lebih parah. Dari dulu sampe sekarang diinvasi sama Zionis Yahudi, ribuan nyawa syahid, tapi mereka lebih kuat dari kita. Keloyalan mereka pada Islam udah nggak perlu kita raguin lagi. Lha kita? Ngakunya sih pengemban dakwah …..”

“Pengemban dakwah juga manusia, Rif,” Imam buru-buru memotong kalimat Arif. Kalo nggak, satu jam lagi khotbahnya baru selesai.

Sahabatnya ini, memang paling bisa bikin Imam mati kutu. Imam tahulah maksud Arif. Masa kita yang keadaannya jauh lebih baik, ngaku sebagai pengemban dakwah, malah lalai sama amanah dan dakwah. Tapi, ia setuju dengan Arif. Jadi malu, barusan malas-malasan. Padahal merapatkan agenda dakwah kan juga penting. Ingat kata sahabat, kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.

Tanpa banyak omong, Imam beranjak mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Mau mandi, siap-siap sebelum Arif khotbah lagi.

***

Motor matic yang ditunggangi Imam dan Arif membelah jalan yang padat merayap serta bonus genangan air. Membuat ujung celana mereka, mau nggak mau, ikutan basah. Lagi asyik-asyiknya melaju, tiba-tiba Imam merasa ada yang nggak beres dengan motornya. Imam menepi.

“Kok berhenti, Mam?” Arif bertanya.

“Liatin ban belakang dong, Rif.”

Arif langsung melaksanakan intruksi Imam, melongok ban belakang. “Waaah, kempes, Mam! Bocor ini sih kayaknya!”

“Ya Allah …,” desis Imam.

Keduanya langsung celingukan cari-cari tukang tambal ban. Arif tersadar, “Di sini sih nggak ada tambal ban. Kayaknya di depan ada.”

Imam menghela napas, “ya udah, ana ke tambal ban dulu. Antum tunggu di sini, ya? Atau sambil jalan aja pelan-pelan. Sekalian telepon Ustadz, kita telat.”

“Ya udah, ana tunggu di sini,” Arif menyetujui.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali. “Eeh, kenapa lagi nih motor, kok nggak mau nyala?” Imam kebingungan berkali-kali men-starter motornya tapi nggak nyala-nyala.

“Ya Allah …,” desis Arif. “Bensinnya ada nggak?”

“Hehe, iya Rif, bensinnya udah di garis end,” Imam nyengir sambil garuk-garuk kepala.

“Astaghfirullah! Ini sih udah jatuh tertimpa tangga pula!” Arif menarik napas-sambil nahan emosi juga-, dasar Imam! Adaaa aja yang lupa.“Pom bensin juga masih di depaaan, Imam!”

Sabar. Sabar. Namanya juga manusia, punya kekurangan dan kelebihan. Gitu-gitu, Imam sahabatnya yang paling solid. Dengan motornya, Imam siap nganterin kemana aja. Gak itung-itungan, apalagi buat dakwah.

“Nah, berarti Allah lagi kasih kesempatan buat kita olahraga Masbro!”

“Olahraga, alesan wae!”

“Stay woles, Masbro!Ini tanda kalo Allah mencintai kita,” Imam masih nyengir. Santai menghadapi Arif yang napasnya udah kembang-kempis nahan emosi. “Innallaha ma’ashobirin …,” tambah Imam. Kalau tadi Arif sudah mengingatkan Imam, sekarang gantian Imam yang mengingatkan Arif.

Arif menghela napas. Ikut nyengir juga. That’s right, saat Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan mengujinya. Dan Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar. Hidup ini kan, emang buat diuji. Apa lagi mereka sedang dalam perjalanan untuk dakwah. Harus ekstra sabarnya. Dakwah memang butuh pengorbanan.

“Bismillaah …,” gumam keduanya.

Imam memimpin di posisi depan. Sementara Arif mendorong dari belakang.

“Semangaat! Allahuakbar!” seru Imam sambil mengangkat tangan kanannya.

“Mam, antum udah minum obat belum sih?”

“Udah, ana kan minum obat antum tadi,” sahut Imam, lagi-lagi dengan gayanya yang santai. “Ayo, Rif, semangaat! Allahu akbar!”

“Harus, ya, nyemangetinnya begitu?” Arif bergidik. Jadi khawatir beneran sama Imam.

***

Alhamdulillaah, dua puluh menit kemudian akhirnya Imam dan Arif menemukan solusi atas dua masalahnya. Allah mempertemukan mereka dengan pom bensin dan tukang tambal ban yang berdampingan. Saking semangatnya, habis ngisi bensin, mereka langsung lari ke tukang tambal ban. Eh, dasar Imam!Kok, yang lari orangnya aja? Motornya ….

“Assalamu’alaikum Ustadz…,” Imam mengucap salam. Sambil menunggu ban ditambal, Imam menelepon Ustadz. Mau ngabarin. “Iya Ustadz, afwan, kita lagi dapet bonus nih. Ban bocor, bensin habis // Oh, kitu? Alhamdulillaah // Ya, syukron, Tadz // Wa’alaikumsalam.”

“Antum kenapa? Jangan bikin ana khawatir dong, dari tadi nyengiir aja,” tanya Arif sambil merapatkan jaketnya. Menghalau dinginnya angin sore kota Bogor.

Imam malah nyengir lebar, “setelah kesulitan ada dua kemudahan. Janji Allah emang nggak pernah salah ya, Rif? Barusan Allah kasih kita pom bensin sama tukang tambal ban deketan. Sekarang, Allah mudahkan kita dengan agenda rapatnya diundur habis Maghrib. Jadi, kita nggak telat. Soalnya, yang lain juga kejebak macet.”

Arif mengerlingkan mata, “itu kata Ustadz?”

“Kata tukang bensin, tadi. Ya, kata Ustadz lah, Rif!”

“Alhamdulillaah …,” ucap Arif, “bener yang antum bilang. Janji Allah selalu benar. Setelah kesulitan ada dua kemudahan, semua umat Islam percaya sama janji Allah yang ini. Seharusnya, semua umat Islam juga percaya dengan janji kemenangan Islam. Kan, sama-sama janji Allah,” tambahnya.

“Jang, rebes bannya!” seru si Mamang tambal ban separuh baya.

“Alhamdulillah, baraha, Mang?” tanya Imam sambil merogoh sakunya.

“Tilu puluh ribu.”

“Hah?! Tilu puluh?!” Imam dan Arif shock mendengarnya. Nggak salah?!

“Hehehe, heureuy! Delapan rebu.”

Hh, Imam dan Arif menghembuskan napas lega. “Ah, si Mamang, seenaknya wae naikin harga. Untung teu jantungan urang,” ujar Imam sambil menyerahkan empat lembar uang dua ribuan.

“Ah, da’ pemerintah juga seenaknya naikin harga BBM,” sahut si Mamang, “nyesel euy, milih yang polkadot. Sama wae. Nggak mikirin rakyat kecil.”

Arif dan Imam mengerutkan dahi. Polkadot? Ari si Mamang milih naon?

“Emang nggak akan ada bedanya, Mang. Soalnya cuma beda orang aja, peraturan yang diterapin mah sama …,” Arif mencoba menjelaskan.

“Teuing. Sekarang mah, Mamang nggak mau mikirin pemerintah. Kajen jadi urusan orang-orang atas. Yang penting mah, Mamang masih bisa nyari makan buat anak-istri,” Mamang menyela tidak peduli.

Glek! Ini bukan pertama kalinya Imam dan Arif mendengar orang mengeluhkan pemerintah yang pada faktanya tidak juga pro rakyat. Mereka bosan dengan janji-janji manis sang penguasa yang manisnya kayak gulali. Sekali emut, langsung hilang.Parahnya, bukannya mencari solusi. Mereka malah memilih menjadi apatis. Cuek bebek dengan kondisi yang ada. Dan akhirnya bikin mereka jadi individualis. Cuma mikirin diri sendiri.

Ini dia pe-er besar para pengemban dakwah. Menyadarkan umat Islam tentang kebobrokan sistem yang ada, Kapitalisme beserta anak-cucunya (Demokrasi, Sekulerisme, dll). Dan menyadarkan mereka akan kewajiban untuk terikat pada ajaran Islam kaaffah. Menyeluruh. Nggak setengah-setengah. Yang hanya bisa diterapkan dengan Khilafah. Tapi, Karena yang akan kita ubah adalah umat. Jadi, pe-er besar ini nggak bisa kalau hanya dipikul per orang. Supaya bisa mengubahnya, kita harus bergabung bersama jamaah dakwah yang benar-benar memperjuangkan Islam kaaffah.

Imam dan Arif amat bersyukur telah menemukan kelompok tersebut.

“Muhun, Mang, pamit dulu. Besok kita mampir lagi, lanjutin ngobrolnya,” ujar Arif.

Berhubung sudah hampir setengah enam, mereka harus pamit. Agenda dakwah selanjutnya menunggu. Tak lupa mereka menyalami si Mamang. Tanpa banyak bicara, Imam segera memutar kunci. Ditariknya rem. Ditekannya strater. Dan, ngeeeng … kali ini tanpa hambatan.

***

Alhamdulillah. Dua puluh enam menit, lima belas detik kemudian Imam dan Arif sampai di rumah Ustadz, tempat rapat digelar. Yang lain juga sudah datang. Lengkap. Hanya satu orang yang tidak datang karena sakit.

Gimana tadi? Katanya kehabisan bensin? Bannya juga bocor? Bukannya telepon saya, biar saya dorongin pake kaki. Jadi, kalian gak usah dorong. Tiba-tiba Imam dan Arif dihujani pertanyaan. Karena perjalanan mereka yang paling dramatis di antara yang lain. Hampir-hampir mereka mau buat konferensi pers untuk mengklarifikasi.Tapi, berhubung adzan Maghrib sudah mengumandang. Mereka urungkan niat itu.

Usai shalat berjamaah, rapat pun dimulai.Adalah sekitar dua jam mereka duduk membuat lingkaran. Bertukar pikiran sambil sesekali diselingin gurauan. Saling memberi masukan. Hingga akhirnya didapati sebuah kesepakatan.

“Alhamdulillah, jadi sepakat ya, ikhwan fillah, dengan susunan acara dan panitia yang kita tentukan hari ini. Semoga Allah memudahkan urusan kita.Dan semoga nashrullah semakin dekat. Jazakumullah Khoiron Katsiran untuk antum semua yang sudah bersedia datang, meski dihadapi dengan berbagai hambatan.Kehadiran satu dari kalian adalah penguat bagi semua. Semoga itu menjadi tiket untuk kita masuk syurga ….”

Seketika suara, “amiiin,” terucap dari semua yang hadir. Imam dan Arif yang paling khusyuk mengucapkannya.Dalam hati terus merapalkan kalimat pujian serta mohon ampunan pada-Nya. Seketika menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka dalam rapat ini.Imam menyesal tadi sempat malas-malasan saat dibangunkan Arif. Begitu pula dengan Arif yang menyesal sempat menggerutu dalam hati saat perjalanannya diuji. Kelak, mereka akan melakukannya lebih baik. Karena dakwah memang butuh pengorbanan, kesabaran dan kebersamaan.

***

Oleh : Maswha Faizah

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #40

 

Nikah Beda Agama, Apa Kata Dunia?

drise-online.com – D’Riser, kalau kamu punya ayah-ibu beda agama, kira-kira gimana rasanya? Kalau ayah kamu ngajak ke gereja, ibu ngajak ke masjid, kamu ikut yang mana? Bingung kan? Pastinya. Apalagi kalau kamu sendiri yang ngalami, nikah dengan pasangan beda agama.

Nah, isu nikah beda agama ini kemarin sempet santer tuh di media-media. Pemicunya, ada lima WNI yang mengajukan judicial review UU Perkawinan yang menyatakan perkawinan beda agama tidak sah. Mereka menilai Pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang dinilai berpotensi merugikan hak konstitusional mereka. Hal ini karena para pemuda itu ingin perkawinannya kelak sah walau ada kemungkinan pasangan mereka berbeda agama (detik.com, 04/09/14).

Tentu saja, sebagai umat muslim kita menolak keras jika pernikahan beda agama dibolehkan. Islam jelas-jelas melarang pernikahan beda agama, dimana laki-lakinya nonmuslim dan perempuannya muslim. Kenapa? Bahaya! Agama akan semakin tersingkirkan dari kancah kehidupan. Sekarang saja, diantara hukum-hukum syariat Islam yang masih diterapkan salah satunya ya cuma hukum perkawinan ini. Lah kalau nikah udah nggak lagi berlandaskan agama, terus apa peran agama? Terus nanti nikahnya pake tata cara apa? Akad ijab-qabul nggak bakal kepake lagi? Habis deh!

Orang yang mau nikah bakal serampangan banget nyari pasangan. Soalnya nggak perlu mikir landasan agama, kan? Wong beda agama bisa nikah, ya udah main tubruk aja siapapun dengan alasan udah kadung cinta. Padahal, kalo itu dilakukan oleh seorang muslim, pastinya pernikahannya nggak sah alias zina.Nauduzibillah min dzalik.

Bahaya lainnya, jelas negara ini akan semakin sekuler dan liberal. Kalau sampai nikah beda agama dibolehkan, nanti bakal muncul pula tuntutan nyeleneh lainnya. Misalnya agar nikah sesama jenis juga dibolehkan. Iya dong, supaya para penggemar sesama jenis itu tidak terzalimi hak konsitusinya. Begitu alasannya. Gawat!

 

Fakta Bukan Alasan

Memang, dunia ini sekarang begitu global. Nggak ada sekat-sekat lagi. Pergaulan makin tanpa batas, menembus dinding agama, ras, golongan, suku bangsa, bahasa dan negara. Banyak perempuan Indonesia yang nikah dengan pria beda agama, misalnya bule-bule asli Barat sono. Konon, karena orang Barat emang demen ama perempuan pribumi yang berkulit eksotis (halah..!).

Sebaliknya, perempuan Indonesia begitu bangga bila menikah dengan pria-pria berkulit pucat dan berambut pirang itu. Selain ganteng, biasanya juga tajir. Makanya, nggak mikirin lagi soal agama. Asal merasa klik, suka sama suka, langsung aja nikah.

Ini karena proses pencarian pasangannya menggunakan cara-cara sekuler, yakni pacaran. Fakta seperti ini nggak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan nikah beda agama. Seharusnya, kalau dia muslim yang takwa, sejak dari awal pencarian jodoh emang hanya membuka diri untuk menjalin interaksi dengan penganut agama yang sama saja. Hanya mau taaruf dengan yang seagama. Jadi, peluang untuk mendapatkan jodoh dengan orang yang beda agama udah tertutup dengan sendirinya.

Mungkin ada yang berdalih, “udah takdir gue dapat jodoh beda agama.” No, jangan berlindung di balik takdir. Sebab, ikhtiar pencarian pasangan hidup itu adalah wilayah yang dikuasai manusia, dimana sejak awal manusia bisa menentukan pilihannya sendiri.

Terlebih lagi Islam mengajarkan agar memilih pasangan berdasarkan agamanya. Itu syarat paling utama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah karena agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim). Ingat tuh, rugi. Ruginya dunia-akhirat. Betul?!

 

Konsekuensi Akhirat

D’Riser, nikah itu bukan hanya buat kesenangan duniawi semata, tapi juga akhirat. Nikah itu fase hidup yang agung. Konsekuensi dari sebuah pernikahan bernilai pahala dan dosa. Sampai-sampai Islam mengatakan, menikah itu adalah menyempurnakan separuh dari diin (agama). Kenapa? Sebab banyak banget syariat Islam yang baru bisa ditegakkan di tengah-tengah rumah tangga.

Semisal, bagi suami, dia baru dapet pahala kalau kerja buat nafkahi istri-anak. Beda konsekuensinya waktu kerja buat makan dia sendiri saat bujangan. Demikian pula buat seorang istri, dia bakal dapet pahala jika melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus suami dan anak-anaknya. Beda waktu gadis dulu.

Makanya, Islam pun mengatur hal-hal detail tentang kerumah-tanggaan dengan syariatnya, demi keharmonisan keluarga, kelanggengan dan kebahagiaan bersama. Misal, ketika sepasang suami istri hendak memadu kasih (hush…jangan dibayangkan, ya!), ada doanya. Nah kalo beda agama, apa lantas nggak pake doa?

Terus kalo udah punya anak, mau diajari agama apa anaknya? Diajari kedua agama orangtuanya? Kalo iya, justru ini bahaya selanjutnya. Yakni, proses pemurtadan. Ya, nikah beda agama bakal membuka peluang besar-besaran untuk terjadinya pemurtadan. Kalau nggak pasangannya yang berhasil diseret ke agama bukan Islam (ingat kasus Asmirandah), paling tidak anak-anaknya kelak.

So, intinya, akan jadi masalah kalau pasangan nikah beda agama. Nanti biduk rumah tangga ini mau dilabuhkan ke mana? Ibarat naik sebuah kapal, nahkoda dan seluruh penumpang musti sepakat tuh kapal mau dijalankan sampai ke mana? Nah kalau nggak satu visi, gimana kapal bisa sampai tujuan?

Makanya #YukNgaji!

Setiap muslim yang saleh, pastinya pengin dong kelak menjadi imam sholat bagi istri dan anak-anaknya. Demikian pula seorang muslimah yang salehah, pasti bangga banget kalau bisa diimami suami tercintanya. Habis itu cium tangannya, doa dan tadarus bersama. Keindahan ini nggak bakal terwujud kalau nikah tanpa landasan agama.

So, kalo ada orang yang maksain diri nikah dengan pasangan yang beda agama, bisa dipastikan dia belum paham agamanya sendiri. Belum saleh-salehah. Belum kaffah. Belum ngaji. Dijamin pula, orang seperti itu pasti nikahnya hanya sekadar nafsu, yang disembunyikan dalam tameng cinta. Makanya, kamu jangan sampai seperti itu. Ya, kamu..!#YukNgaji..![Asri]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40

 

Cowok Bigos!

Cowok Bigos!

drise-online.com Biasanya, yang jadi bigos alias “biang gosip” itu cewek. Bisanya kalo para cewek udah pada ngumpul, masing-masing langsung bongkar belanjaan gosipnya. Tapi di jaman sekarang-mungkin karena pengaruh emansipasi- cowok juga pada hobi ngerumpi.Ya ngobrol ngalor ngidul wetan gitu deh. Ngaku aja!

Secara bahasa, gosip bisadiartikan sebagai sebuah perbuatan membicarakan orang lain ketika orang yang dibicarakan itu tidak hadir di tengah-tengah pembicaraan. Hal-hal yang dibicarakan biasanya adalah hal buruk tentang orang itu.Karena cuman keburukan yang makin di gosik makin sip. Makanya dinamakan gosip. Untuk urusan yang satu ini, kaum hawa emang jagonya.

Hal ini diungkapkan oleh Eko A. Meinarno, S.Psi., MSi., dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dalam penelitiannya tentang gosip. Pada tahun 2010, Eko meneliti sebanyak 250 remaja tentang gosip. Para pesertanya adalah mahasiswa universitas negeri maupun swasta dari berbagai kota di Indonesia, dengan komposisi 125 orang perempuan dan 125 orang laki-laki. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan memang lebih suka bergosip daripada laki-laki.

Tapi tetaplah walaupun secara statistik cewek lebih unggul, karena sekarang ini gosip sudah jadi gaya hidup, pasti akan banyak kita temukan cowok yang doyan gosip. Laurent Begue, psikolog asal Prancis, mengatakan bahwa bergosip adalah ‘guilty pleasure’. Banyak orang yang tahu bahwa ngegosip itu nggak semestinya dilakukan, tapi justru banyak orang yang melakukannya, termasuk para cowok.

Ngegosip juga ternyata bisa bikin orang kecanduan lho! Seperti yang diungkapkan oleh jurnalis dan kritikus senior Inggris, Nicholas Lezard. Dia mengatakan bahwa bergosip itu menghadirkan hasrat berperilaku yang tidak akan dapat memuaskan. Itulah sebabnya orang akan terus bergosip karena mereka tidak akan puas jika hanya bergosip sekali. Nah lho!

Lebih lanjut lagi, Laurent Begue menjelaskan bahwa bergosip itu memang sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. “Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hal itu (bergosip) bisa berisiko menciptakan rasa ketidakpercayaan,” ujar Begue seperti dikutip dari detikhealth.

Sayangnya, kalau dulu orang bakal malu banget kalau mendapat gelar “bigos”, tapi sekarang ngegosip udah jadi bagian dari gaya hidup. Berbagai infotainment yang ditayangkan di tivi telah membuat pergeseran nilai. Sekarang orang malah berlomba-lomba bergosip, bahkan para cowok. Memalukan!!

Apa yang disampaikan oleh Allah di dalam Alquran jelas banget melarang kita untuk bergosipa alias ngomongin kejelekan orang lain. Di dalam surat Alhujurat bahkan disebutkan orang yang membicarakan aib saudaranya itu sama saja sedang memakan bangkai saudaranya. Jijay bajay. Allah swt berfirman,

““Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah imandan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hujurat ayat 11).

Cowok Bigos! drise-online.com

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat ayat 12).

Driser, masih banyak aktifitas lain yang lebih bermanfaat daripada ngomongin orang lain. Apalagi buat cowok, nggak banget deh. Mending waktu dan energinya dipake buat mengasah potensi diri. Biar bisa banyak memberikan manfaat untuk orang lain dan berkontribusi untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Yuk! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI #40