Matinya Seorang Paus

MajalahDrise.com – Mungkin kawan-kawan akan merasa aneh dengan judul di atas. Kok Matinya ‘Seorang’ Paus, kan harusnya pakai ‘seekor’, karena paus adalah mamalia laut terbesar yang suka nongol ke permukaan dan menyemburkan air dari lubang di atas kepalanya. Tapi saya serius kok dengan judul di atas, hehehe, karena Paus yang saya maksud di sini bukan paus yang ada di laut, tetapi pemimpin spiritual Kristen Katolik sedunia yang berpusat di Vatikan. Bisa aja deh ah!

Periode teokrasi Kepausan ini sering kali dipandang sebagai abad kegelapan di dunia barat. Karena pada masa inilah berkembang pesat berbagai penindasan kepada umat manusia, begitu juga pembunuhan, penyiksaan, kebejatan, dan hal-hal tidak manusiawi lainnya. Para Paus sering kali berganti terlalu cepat dan terlalu sering, ada banyak ada banyak juga Paus yang dicekik, diracun, dan dimutilasi.

Pada abad ke-9 dan 10 Masehi ada sebuah periode yang disebut para sejarawan sebagai ‘pornokrasi’. Tahta Suci Santo Petrus dikendalikan oleh Paus-Paus yang berada di bawah kendali pelacur-pelacur dan kekasih gelap. Pada era ini kuat sekali terjadi tarik-menarik kepentingan dan pengaruh antara keluarga-keluarga berpengaruh di Italia. Akibatnya, banyak sekali Paus yang tewas dibunuh.

Pada 882 Masehi, misalnya, Paus Yohanes VIII diracun oleh lawan politiknya. Tetapi karena setelah diracun dia tidak mati juga, para pembunuh itu memukuli kepalanya sampai pecah. Biar cepet! Pada abad 10 Masehi, Paus Stefanus IX menderita nasib yang amat mengerikan karena matanya dicungkil, bibir dan lidahnya dipotong, begitu juga kedua tangannya. Ajaibnya, dia masih bertahan hidup, die hard banget. Dia berhasil meloloskan diri dan tidak pernah nongol lagi di hadapan publik. Pada 964 Masehi, Paus Benediktus V melarikan diri ke Konstantinopel bersama harta benda Kepausan. Dia minggat lantaran kepergok menggoda seorang gadis ABG. Benediktus memang seorang lelaki yang boros dan suka foya-foya, maka harta yang dibawanya dalam waktu singkat segera habis. Dia pun kembali lagi ke Roma dan kembali menjalankan hobinya yang nggak beres. Lagi-lagi dia ngegodain bini orang hingga kemudian dia dibunuh oleh si suami yang cemburu dan dendam habis-habisan kepada sang Paus. Si Suami menikam tubuh Benediktus hingga 100 tusukan dan membuang mayatnya ke lubang jamban.

Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah

Episode 14

MajalahDrise.com – Semakin dekat Mutsana dan Jabal dengan apa yang mereka sangka mereka lihat, semakin jelas bahwa pandangan mereka tidak tertipu. Ada seorang lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah gersangnya padang pasir, lelaki itu sepertinya sedang merintih kesakitan. Jarak mereka dengan lelaki itu semakin dekat, tinggal tiga puluh lima meter lagi.

Tiba-tiba Jabal melambaikan tangannya sambil mengepal. Memberi tanda agar Mutsana segera menghentikan derap langkah untanya. Mutsana terkesiap dan mereka segera menarik tali kekang unta kuat-kuat hingga kedua unta itu berhenti.

Mutsana dan Jabal memicingkan mata mereka untuk meningkatkan daya pandang. Di tengah-tengah padang pasir yang kosong dan gersang itu ada seorang lelaki yang sedang duduk dan kelihatannya sedang merintih kesakitan. Mutsana dan Jabal berhenti dengan tetap menjaga jarak aman dari laki-laki itu, sebab mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang agen rahasia memang harus seperti itulah cara mereka bertindak.

“Ada seorang lelaki yang sepertinya sedang membutuhkan pertolongan,” kata Mutsana.

Sayup-sayup mulai terdengar suara lelaki itu meminta tolong. Sebelah tangannya melambai pelan kepada Mutsana dan Jabal, sebelah tangannya yang lain menopang tubuhnya.

“Aku meminta kita berhenti karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jabal, “Kita tidak tahu siapa dia dan kondisi apa yang sedang terjadi padanya.”

“Dia melambai pada kita, dia meminta pertolongan kita,” kata Mutsana.

“Tunggu dulu,” Jabal menoleh ke sekelilingnya. Dia memerhatikan keadaan sekitarnya. Dia sapukan pandangannya kepada pasir-pasir dan gunung-gunung yang kokoh itu, seolah-olah ingin sekali mengetahui apa yang ada di balik semua itu. Salah satu tangannya melindungi matanya dari sinar matahari yang menyilaukan, matanya terpicing jauh. Namun tidak ada apa-apa, padang pasir tetaplah kosong, gunung-gunung cadasnya tetap bisu. “Aku curiga kepada orang itu. Lebih baik kita terus saja.”

Mutsana menggeleng sambil melipat tangan di depan dadanya. “Bagaimana mungkin kita terus saja, sementara ada orang di depan mata kita membutuhkan pertolongan kita?”

Jabal mendengus, dia sendiri bingung tentang apa yang mesti mereka lakukan. Salah satu sisi hatinya amat ingin menolong orang itu, tapi sisi hatinya yang sebelah lagi berkata lain, mungkin ada sebuah jebakan. “Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kita tidak tahu apa-apa tentang orang itu.”

“Justru karena kita belum tahu, maka kita mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.Jika kita tetap di sini kita tidak akan mengetahui apa-apa. Lihatlah, dia membutuhkan pertolongan kita.”

“Aku khawatir ada jebakan yang sedang dipersiapkan untuk kita,” Jabal mengembuskan napasnya. Dia benar-benar kebingungan.

“Jebakan apa? Dengan menggunakan orang itu? Aku rasa tidak, orang itu pasti terjatuh dari kudanya, mungkin kakinya patah atau terluka.”

“Kita tidak tahu pasti tentang hal itu,” sergah Jabal.

“Karena itulah kita harus ke sana dan segera menolongnya,” kata Mutsana.

Dengan enggan akhirnya Jabal sepakat dengan komandannya. Mereka memacu unta mereka untuk menghampiri seorang lelaki di tengah-tengah padang pasir itu. Semakin mereka mendekat semakin jelaslah apa yang terjadi pada lelaki itu. Sementara Jabal tak henti menoleh ke sekelilingnya untuk memantau keadaan yang tetap saja terlihat sepi.

Seorang lelaki terjatuh di atas pasir, dia merintih karena kaki kanannya berlumuran darah. “Tolong aku… Tolong!”

Lelaki itu masih muda. Kulitnya cokelat dengan hidung bengkok dan janggut yang lebat.Pakaiannya berwarna biru, dia tidak memakai serban dan rambutnya berantakan. Keringat yang bercucuran di wajahnya menyiratkan rasa sakit yang amat sangat. Lukanya menganga di bagian betis sebelah kanan. Mutsana segera melompat dari untanya kemudian berlutut di sisi lelaki itu. Jabal masih tetap saja meneliti keadaan sekitar.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Mutsana pada lelaki itu.

“Aku terjatuh dari kuda… Kakiku terluka karena terbentur batu, tolong aku,” ratapnya.

“Jabal, tolonglah!” Kata Mutsana. “Balut lukanya.”

Jabal segera menyobek selendang serbannya dan berlutut kepada luka di kaki lelaki itu. Dia menyeka darah di luka itu dan kemudian terkejut. Dia curiga tentang sesuatu di luka itu. Jabal melirik dengan penuh sangka kepada lelaki itu.

“Ini bukan luka terbentur batu,” kata Jabal pada Mutsana. “Ini luka sayatan pedang.”

Sekilas saja, terhamparlah sebaris senyum kecut di wajah lelaki itu. Tiba-tiba gemuruh menyeruak dari gunung-gunung batu di sekitarnya. seolah-olah gunung-gunung terbelah dan dari sela-selanya keluarlah pasukan berkuda yang bergerak cepat hendak mengepung Mutsana dan Jabal. Pasukan berkuda itu berpakaian hitam-hitam dan wajah mereka yang sangar menjadikan semuanya lebih mengerikan.

Tanpa bicara, kedua agen rahasia itu segera mengabaikan lelaki yang terluka tadi dan memacu unta-unta mereka, melarikan diri. Pecahlah sebuah kejar-kejaran yang mematikan. Seluruh pasukan berkuda berpakaian hitam itu mengacungkan pedang dan tombak. Mereka bersorak dan bersiul-siul tak tentu, dan padang pasir yang sunyi menjadi riuh.

Mutsana dan Jabal pun mencabut pedang mereka masing-masing. Apa pun yang terjadi, mereka bertekad untuk tetap melawan sampai akhir. Mutsana membungkuk di atas punggung untanya dengan penuh deru. Tangan kirinya menggenggam tali kekang unta, sementara tangan kanannya menyatu dengan pedang. Jabal mengguncang tali kekang untanya kuat-kuat untuk menambah kecepatan larinya. Orang-orang berpakaian hitam itu mengejar di belakang mereka.

Seorang prajurit hitam yang berkuda paling depan berhasil mendekati Mutsana. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya agar dapat menyusul kecepatan unta Mutsana. Tangan kanannya bersiap dengan tombak terhunus. Ketika posisinya sudah sejajar di sisi kiri Mutsana, prajurit hitam itu menusukkan tombaknya kepada Mutsana. Angin menderu dan pecah karena tebasan tombak. Dengan mata setajam mata elang, Mutsana mengelak dengan membungkukkan tubuhnya lebih rendah di atas punggung untanya. Dalam posisi yang sulit dan dengan susah-payah, Mutsana mengangkat pedangnya dan menebas ke tangan prajurit hitam itu. Lepaslah tangan prajurit hitam itu dan tombaknya terhempas di atas pasir. Kemudian dia terjatuh dari kudanya dan terjerembab di gurun.

“JANGAN SAMPAI LOLOSSS!!!” Salah seorang dari pasukan hitam itu, yang sepertinya pemimpinnya, memberikan komando.

Para pengejar itu semakin mendekat. Mutsana dan Jabal hampir-hampir terkejar, namun mereka tak akan pernah berhenti berjuang…

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

Kegiatan Mandi Darah Elizabeth

Majalahdrise.com – Di aula utama, Gyorgi melihat ada mayat seorang gadis. Di dekatnya ada lagi tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka, yang mengerikan ternyata gadis itu masih hidup. Pada ruang-ruang tahanan ditemukan lebih banyak lagi mayat gadis-gadis, diantara mereka ada yang sekarat. Yang lebih mengerikan adalah apa yang terlihat di ruang bawah tanah kastil Cachtice. Ada banyak gadis yang digantung dengan posisi kepala di bawah, pada tubuh mereka terlihat luka-luka menganga dengan darah yang masih menetes dan ditampung pada ember-ember besar di bawahnya. Sepertinya semua itu adalah untuk kegiatan mandi darah Elizabeth. Gyorgi memerintahkan agar bagian lantai ruang bawah tanah itu digali, dan ditemukanlah 50 mayat lagi dalam kondisi yang amat mengerikan. Kastil mimpi buruk itu pun digeledah, dan ditemukanlah sebuah buku catatan milik Elizabeth yang memuat daftar korban kekejiannya, yang mencapai angka 650 orang. Maka Gyorgi segera meringkus Elizabeth dan seluruh anteknya. Pengadilan pun digelar, walaupun amat sangat tidak adil.

Beberapa antek Elizabeth adalah: Dorottya Szentes (dikenal sebagai Dorko); Ilona Jo; Katarina Beneczky (perempuan tukang cuci; dan seorang kerdil bernama Janos Ujvary (dikenal sebagai Iblis atau Ficzko). Seorang anak buah Elizabeth yang bernama Erzsi Majorova berhasil melarikan diri ketika penangkapan itu terjadi, namun dia berhasil ditemukan dan kemudian ditangkap. Seluruh anak buah Elizabeth itu pun digiring ke pengadilan, dan mereka semua harus menerima seluruh dakwaan dan menanggung seluruh hukuman, sementara Elizabeth sendiri hanya dijadikan tahanan rumah. Elizabeth tidak pernah datang ke hadapan meja hijau. Ada tekanan yang cukup kuat dari raja Matthias Corvinus untuk menghadirkan Elizabeth ke pengadilan. Sepertinya dia hendak membuktikan bahwa dia berkuasa penuh atas seluruh bangsawannya dan hendak memperlihatkan bahwa keluarga Báthory yang amat berpengaruh itu tidak bisa macam-macam dengannya. Namun berbagai lobi yang dilakukan Gyorgi berhasil membuat Elizabeth tetap sebagai tahanan rumah, padahal 200 orang saksi amat memberatkannya dan amat banyak pula bukti yang memperlihatkan betapa kejinya dia. Pada serangkaian pengadilan itu terungkap lebih jauh tentang betapa jahatnya Elizabeth. Seperti nasib malang yang menimpa seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pola.

Seperti dikisahkan Brenda Ralph Lewis, pengadilan pertama bagi antek-antek Elizabeth digelar pada 7 Januari 1611. Sidang ini dihadiri oleh 20 orang hakim yang diketuai oleh Theodosius Syrmiensis Szulo. Pada sidang ini dihadirkanlah berbagai bukti dan saksi yang kesemuanya memberatkan para tertuduh termasuk Elizabeth sendiri. Dihadirkanlah seorang saksi, pelayan Elizabeth, namanya Zussana. Dia berkata bahwa Elizabeth memiliki buku catatan yang merekam semua korbannya, tentang nama-nama mereka, tentang berbagai tindak penyiksaan atas mereka dan bagaimana kondisi saat mereka mati. Namun wujud buku ini tidak pernah diperlihatkan. Dalam sidang ini pula terungkap bagaimana sadisnya kematian Pola.

Pola adalah seorang gadis berusia 12 tahun. Antek-antek Elizabeth menculiknya dan menjebloskannya ke dalam penjara di Kastil Cachtice, tetapi dia berhasil melarikan diri. Sayangnya, Dorko dan Ilona Jo berhasil menangkapnya kembali dan menghadapkannya kepada Elizabeth yang murka. Elizabeth kemudian memerintahkan untuk memasukkan Pola ke dalam sebuah kerangkeng berbentuk bola, yang bagian dalamnya memiliki duri-duri yang runcing. Dorko dan Ilona Jo menarik bola besi berduri itu dengan tambang dan katrol sementara Pola terombang-ambing di dalamnya sembil menjerit dan merintih karena duri-duri itu mulai menusuk-nusuk tubuhnya. Di bawah, si orang kerdil Fizcko menarik talinya sehingga membuat bola itu berputar dan berayun, tubuh Pola yang malang jelas saja semakin tertusuk duri-duri dari besi dan terus teriris-iris hingga dia mati.

Walaupun dalam keadaan sakit, hobi Elizabeth untuk menyiksa orang tetap saja berjalan. Dia duduk di atas ranjangnya dan mengawasi Dorko yang menyeret-nyeret seorang gadis. Begitu gadis itu didekatkan kepadanya, segeralah digigitnya pipi gadis itu hingga dagingnya lepas dan darah berhamburan ke mana-mana. Belum puas, Elizabeth menggigit pundak dan payudara gadis malang itu hingga daging-dagingnya lepas dan berdarah-darah.

Dalam persidangan itu, Dorko dan Ilona Jo dinyatakan sebagai penyihir. Jari-jari mereka kemudian dipatahkan oleh sebuah tang yang dibakar hingga menjadi merah, kemudian mereka dibakar hidup-hidup, seperti kematian para penyihir. Fizcko dipandang hanya memiliki sedikit kesalahan, namun dia juga dieksekusi dengan dipenggal dan tubuhnya dibakar hingga menjadi abu. Erzsi Majorova pun dieksekusi, dan hanya Katarina Beneczky yang lolos dari kematian, tetapi dia harus mendekam di dalam penjara seumur hidupnya.

Keluarga Báthory yang berkuasa itu masih tetap saja membela Elizabeth, walaupun mereka tetap memandang bahwa Elizabeth adalah aib dan telah mencorengkan arang ke wajah keluarga. Elizabeth tetap dikurung di kamarnya sendiri di kastil Cachtice. Pintu kamarnya disegel dan hanya disisakan celah kecil untuk memasukkan makanan dan minuman. Dia hidup di sana dan tidak pernah keluar. Tiga tahun lamanya harus dijalani Elizabeth dalam keadaan terpenjara seperi itu, hingga malaikat maut datang mengunjunginya dan mencabut nyawanya. Pada 21 Agustus 1614 dia ditemukan di dalam kamarnya dalam keadaan menelungkup dengan wajah tersungkur di lantai. Rezim terornya pun berakhir.

TAMAT

Elizabeth Begitu Memuja Kecantikannya.

Majalahdrise.com – Dia seringkali menghabiskan waktu yang lama untuk duduk di depan cermin dan merias diri. Di situlah dia mengagumi parasnya sendiri. Seiring berjalannya waktu jelas saja usianya jadi semakin tua, saat itulah terjadi sesuatu yang paling ditakuti kaum wanita: muncul kerutan di wajah. Kecantikannya yang mulai pudar karena munculnya kerutan itu tentu saja menjadi mimpi buruk di siang bolong bagi Elizabeth.

Suatu hari, Elizabeth sedang duduk di depan cermin dan seorang pelayan wanita berdiri di belakangnya sambil menyisirkan rambut Elizabeth yang panjang. Tanpa sengaja, si pelayan menarik rambut Elizabeth dengan sisir di tangannya dan bangsawan itu mengaduh. Elizabeth murka dan menampar wajah pelayan itu sekeras-kerasnya hingga darah membuncah dari hidung si pelayan. Darah pun menetes ke punggung tangan pelayan itu dan Elizabeth menyaksikan semuanya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba bagian kulit yang tertumpah oleh darah itu terlihat kembali meremaja di mata Elizabeth. Sebuah gagasan gila segera muncul dalam benaknya, jika seluruh tubuhnya dilumuri darah perawan, maka dia akan selalu muda dan cantik.

Elizabeth segera mencengkeram tangan pelayannya yang malang dan memerintahkan agar lehernya disayat. Darah segar pun memancar dan ditampung di sebuah tong. Elizabeth segera masuk ke dalam tong itu dan mandi darah perawan selagi masih hangat. Berbagai isu pun berembus bahwa dia tidak mencukupkan diri pada mandi darah saja, tetapi juga menyeruput darah tadi dan memakan daging para perawan yang malang itu, demi mempertahankan kemulusan kulit dan kemudaannya.

Wanita bangsawan yang sadis ini semakin liar. Awalnya satu per satu pelayannya yang masih perawan menjadi korbannya. Dia mempekerjakan lima orang pelayan yang paling dipercayai untuk membantunya melaksanakan hobinya yang kejam dan tidak masuk akal itu. Para pelayannya yang lain tidak berani buka mulut untuk membongkar keanehan dan kesadisan majikan mereka. Jika ada yang berani macam-macam, maka mereka akan menerima hukuman yang amat kejam. Elizabeth pernah menjahit mulut seorang pelayan yang banyak bicara. Para gadis pelayan itu dipukuli hingga berdarah-darah, dan tubuhnya digosok daun jelatang yang menyengat.

Semakin hari berlalu, Elizabeth semakin pintar menyiksa orang. Berbagai cara dia lakukan untuk menjalankan kesenangannya itu dan apa yang disebutkan tadi belumlah seberapa. Pelayan yang dituduh mencuri akan ditelanjangi dan keping logam yang panas membara akan ditempelkan ke kulit mereka. Bisa kita bayangkan bagaimana jeritan pilu para pelayan yang malang itu. Namun seorang pelayan tidak perlu melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan perlakuan keji seperti itu, Elizabeth bisa dengan bebas berbuat apa saja kepada siapa pun pelayannya. Dia memilih sekehendak hati pelayan yang ingin disiksa atau dibunuhnya. Dia pernah memecahkan kepala seorang pelayan dengan menekan kedua pipinya, hingga otaknya berhamburan dan lehernya terbelah. Dia begitu terobsesi pada jeritan dan kematian.

Elizabeth pun mengoleksi berbagai alat penyiksaan yang mengerikan. Dia punya penjepit dan tang yang digunakan untuk mengupas kulit gadis-gadis yang disiksanya, setelah sebelumnya alat-alat itu dibakar hingga merah membara. Dia juga punya kerangkeng dengan duri-duri yang akan menusuk para gadis itu hidup-hidup. Tongkat-tongkat besi panas pun dia gunakan untuk menandai kulit korbannya. Dia seringkali membakar korbannya, sementara dia mengawasi dengan penuh perhatian, seolah jeritan-jeritan kesakitan itu adalah simfoni yang indah di telinganya. Ferenc Nadasdy, suami Elizabeth, yang telah terbiasa dengan medan perang, pun keluar dari ruang penyiksaan itu dan tidak sanggup menyaksikan kengerian itu.

bersambung….