MajalahDrise.com – Pada musim dingin, biasanya Elizabeth akan mengikat para gadis itu di batang pohon dan menelanjangi mereka. Kemudian air pun disiramkan pada tubuh para gadis itu dan mereka dibiarkan di situ hingga mati beku. Setelah musim dingin berlalu, cara-cara penyiksaan pun berubah lagi. Tubuh para gadis itu akan dilumuri madu dalam keadaan tetap terikat di batang pohon, kemudian burung-burung dan binatang-binatang lainnya akan datang lantas menggerogoti para gadis itu hidup-hidup. Mayat-mayat itu akan dilemparkan keluar dinding kastil dan menjadi makanan serigala.
Salah satu cara penyiksaan yang paling disukai Elizabeth adalah “menendang bintang.” Berlembar-lembar kertas akan dilumuri minyak dan diselipkan di sela-sela jari kaki para korban. Kertas-kertas yang sudah menempel di situ kemudian dibakar. Para korban akan menyentak-nyentak dan menendang-nendang sekuat tenaga agar kertas-kertas yang terbakar itu terlepas dari sela-sela jari kaki mereka. Namun sekuat apapun mereka melakukannya, kertas-kertas itu sudah menempel di situ, dan lidah api siap menjilat tubuh mereka kemudian mengubahnya menjadi abu.
Kekuasaan keluarga Báthory amatlah besar, dan hal itulah yang membuat kekejian yang dilakukan Elizabeth bertahan hingga bertahun-tahun. Tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya walaupun peristiwa ini amatlah besar. Puluhan hingga ratusan gadis perawan menghilang secara misterius, banyak mayat dalam kondisi mengerikan ditemukan di sekitar kastil, berembus teror-teror mencekam di pedesaan sekitar kastil, dan beredarnya ancaman-ancaman, menjadi hal-hal yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sedang terjadi sesuatu yang mengerikan di dalam kastil. Sayangnya, tidak ada yang berani bicara, apalagi bertindak. Para petani yang kehilangan anak-anak gadis mereka hanya bisa menangis pilu di rumah mereka tanpa bisa berbuat atau menuntut apa-apa. Mereka takut dengan dendam keluarga Báthory. Para bangsawan lainnya dan pihak yang berwenang pun mengabaikan semua ini.
Tiga puluh tahun berlalu dalam teror dan kengerian pada tahun 1609. Tidak ada yang berani membongkar kekejian Elizabeth, dan kenyataan pahit ini membuat Elizabeth memusnahkan satu generasi gadis perawan di wilayah sekitar kastilnya. Dia sudah kehabisan persediaan perawan untuk diperas darahnya. Maka mau tidak mau, Elizabeth memperluas jangkauan. Dia membuat semacam “sekolah kepribadian” bagi para gadis bangsawan muda, dan di sanalah akan diajarkan bagaimana mestinya bersikap seperti seorang bangsawan. Berdatanganlah gadis-gadis muda ke kastilnya, dan mereka pun hilang satu demi satu. Di titik inilah kekejian Elizabeth sampai pada akhirnya.
Ketika Elizabeth mengambil korban dari kalangan petani mungkin orang-orang mengabaikannya, tetapi tidak begitu ketika dia mengambil korban dari kalangan bangsawan. Seorang pendeta di wilayah sekitar kastil Cachtice bernama Istvan Magyari tak bisa menahan diri lagi untuk melaporkan berbagai temuannya tentang kengerian yang terjadi di kastil itu. Dia segera menghubungi otoritas setempat, yang pada awalnya mengacuhkan berbagai pengaduan yang mereka terima. Ketika yang tewas itu adalah gadis-gadis petani, mereka mengabaikannya, tetapi ketika yang tewas adalah gadis-gadis keturunan bangsawan, hal ini tak bisa lagi mereka diamkan.
Bertahun-tahun lamanya, anggota keluarga Báthory yang mengetahui kekejian Elizabeth menyembunyikan semuanya untuk mempertahankan kehormatan kebangsawanan mereka, tapi sekarang semuanya itu tidak bisa lagi. Laporan-laporan pendeta Magyari terus tersebar hingga akhirnya sampai juga di telinga Raja Hungaria, Matthias Corvinus. Maka sang raja memerintahkan seorang bangsawannya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di kastil Cachtice.
Bangsawan itu adalah Count Gyorgi Thurzo yang bergelar Lord Palatine of Hungary. Gyorgi sudah mengetahui kekejian yang dilakukan oleh Elizabeth ketika dia memimpin sebuah pasukan ke kastil Cachtice. Gyorgi adalah sepupu Elizabeth dan bahkan dia melindungi tindakan-tindakan keji Elizabeth. Namun, ketika dia datang ke kastil Cachtice pada 29 Desember 1610, matanya terbelalak, dan dia sadar bahwa kejahatan sepupunya itu lebih parah dari apa yang dia bayangkan.