Buku Vulgar Belajar Pacaran

majalahdrise.com – Berkedok edukasi seksual remaja, buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” ramai dikecam. Gimana nggak, banyak ajaran vulgar yang mengarahkan pada seks di luar nikah di sana. Hadeuh, kok bisa kecolongan ya?

D’Riser, sebaiknya hati-hati kalau baca buku. Jangan asal pilih, jangan asal telan mentah-mentah dan menjadikannya sebagai referensi. Nggak sedikit isi buku yang menyesatkan pembacanya kalo nggak punya filter.

Contohnya buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto. Buku berkedok psikologi remaja itu memuat bab tentang pedekate, pesaing, temen, hobi, orang tua, seks, patah hati dan mantan pacar. Dari judulnya aja udah kebayang gimana isinya: ngajak maksiat!

Buktinya, banyak banget kalimat vulgar dan cabul. Itu bisa terlihat di halaman 21, 60, 63, dan 66. Ada kalimat yang ditulis Toge seperti ini, “Aku pernah ngeseks sama dia.” Lalu, halaman 60 memuat subjudul pacar ngajak ML (making love). Toge menuliskan, “Sebetulnya wajar, kok, kalau pacar ngajak kamu ML. Wajar juga kalau kamu ngajak pacarmu ML. Itu hal naluriah alamiah.” (tempo.co, 7/2/15). Astaghfirullah, benar-benar menyesatkan!

 

Ada Ideologi Di Balik Buku

Buku, sama dengan produk lain yang juga nggak bebas nilai, seperti komik, musik dan film. Ada filosofi atau pemahaman tertentu yang ditanamkan di sana. Pemahaman seperti apa, ya tergantung ideologi penulisnya.

Semestinya, jika dia penulis muslim, maka bukunya berisi nilai-nilai Islam. Sebab jelas, nilai-nilai yang tidak islami haram untuk ditulis. Bertolak belakang dengan penulis nonmuslim, atau muslim tapi muslim KTP yang nggak mau ngaji. Jadinya ya nggak ngerti tsaqofah Islam.

Terlebih lagi kalo yang nulis itu pengemban ideologi kapitalisme-sekuler. Udah pasti, isi bukunya bakalan mengarahkan pembacanya untuk menyetujui gaya hidup sekuler. Contohnya buku yang menggeber tips-tips pacaran tadi. Padahal jelas-jelas pacaran tidak ada dalam khazanah dunia Islam.

Makanya, kamu-kamu musti punya filter untuk menyaring dan memilah buku mana yang baik, berkualitas dan tidak menyesatkan. Jangan sampai tersesat dan terbawa arus gaya hidup sekuler karena menelan bulat-bulat isi buku tersebut. Ingatlah, ada pepatah yang cukup masyur yang konon dikeluarkan oleh ulama, bahwa “barangsiapa membaca buku tanpa guru maka gurunya adalah setan.”

Yup, bener banget! Membaca buku sendirian itu bisa menyesatkan. Masih ingat kasus seorang remaja di Jakarta, Rangga (14) yang bunuh diri? Konon ia terinspirasi dari komik-komik Jepang yang di antaranya mengandung pemahaman bahwa “mati itu akan membawa pada kedamaian.” Phiuuh, bahaya banget, kan!

Lantas, apakah kita musti berhenti membaca buku karena takut disesatkan setan? Well, segitunya kalee…. Di antara jutaan buku yang beredar, karya-karya buku yang bagus dan bermutu, sarat ilmu dan manfaat juga banyak kok. Bahkan jauh lebih banyak yang mengajak pada kebaikan dibanding pada kemaksiatan. Kuncinya: selektif pilih bacaan.

 

Filter Diri

Buku adalah jendela ilmu. Banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari membaca buku. Sama banyaknya dengan paham-paham sesat yang bisa kita dapat saat membaca buku. Makanya, seorang muslim musti punya filter yang kokoh untuk menangkal paham-paham sesat yang meresap dan menjalar lewat berbagai media tersebut: buku, komik, majalah, musik dan film. Jadi, harus punya pemahaman Islam yang mantap supaya ketika membaca media tersebut akal mampu menimbang benar dan salahnya.

Contohnya, ketika mencermati buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” tadi. Bagi yang nggak paham Islam, buku ini bisa menjadi referensi penting untuk melanggengkan aktivitas pacaran. Sebaliknya bagi remaja muslim yang paham Islam, udah pasti nggak bakal tertarik sama sekali buat membeli atau membaca buku itu. Judulnya aja udah nggak sesuai dengan ajaran Islam.

Pasalnya, Islam mengharamkan pacaran. Sudah tahu kan, pacaran itu definisinya khas, yakni sepasang muda-mudi yang komitmen menjalin hubungan intim dengan didominasi aktivitas berdua-duaan (kholwat). Nah, ini kan mengajarkan maksiat. Makanya, buku itu memang pantas untuk dikecam.

 

Nasihat Untuk Penulis

Penulis buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran,” Toge Aprilianto akhirnya minta maaf telah membuat keresahan dengan buku karyanya. Ia mengaku khilaf dengan buku tersebut. Aneh ya, masa khilaf kok dalam bentuk sebuah buku?

Menulis buku itu butuh keseriusan dan kesungguhan. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran.Rangkaian kalimat demi kalimat dibuat dengan penuh perhatian. Mustahil jika menulis buku itu adalah sebuah kelalaian. Ada pertanggungjawaban dunia akhirat dalam setiap kata-katanya. Makanya, jangan asal menulis buku. Termasuk kamu-kamu, D’Riser yang hobi atau bercita-cita jadi penulis. Menulislah yang positif, membangun dan inspiratif. Masih banyak ide bagus untuk dituangkan dalam tulisan, dibanding mengajari anak-anak untuk pacaran. Apalagi jika menulis buku berisi ajakan kebaikan, menjelaskan tentang pemahaman Islam, inshaa Allah akan menjadi ladang pahala yang tak ada putusnya.

Nah, untuk menulis buku inipun dibutuhkan ilmu yang mumpuni, pemahaman yang mendetail dan jika perlu dalil-dalil yang kuat. Karya seperti ini akan bernilai manfaat bagi umat. So, jangan asal nulis buku. Apalagi jika motifnya semata-mata untuk mencari materi: biar laris, best seller dan royaltipun mengalir deras ke rekening.

Sungguh rendah jika menulis buku hanya bermotif uang. Apalagi jika menghalalkan segala cara dengan sengaja membuat buku yang kontroversial supaya laris. Ingatlah, apapun yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban. Catet! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

 

HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi

Majalahdrise.com  – D’Riser,  edisi kali ini kita mo ngebahas habits penulis yang ketiga, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang gemar meneliti. Catet ya, penulis itu hobi meneliti, menyelidiki, sekaligus mendetili sebuah persoalan hingga ia menemukan simpulan, bahkan mendapatkan jawaban atas persoalan yang ia selidiki itu. Jadi, ia meneliti sekaligus memberi solusi, bukan meneliti untuknyari masalah, apalagi kalo sampai bikin masalah baru!Gawat banget kalo gitu!

Seorang kawan di komunitas kepenulisan pernah berseloroh, bahwa penulis yang baik layaknya seorang detektif, ia adalah seorang yang peka dan peduli, ia sanggup mendeteksi gejala sosial di sekelilingnya, ia selalu tergerak untuk mencari, meneliti dan mendetili persoalan. Ia pun mampu menuliskan hasil penelitiannya dan penyidikannya, sekaligus memberikan jawaban atas persoalannya secara solutif. Wah… selorohannya itu keren juga. Bener banget, penulis tuh adalah seorang detektif!

Oleh karena itulah, seorang penulisakan berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis tipe pelapor, seperti reporter ataupun wartawan, mencari kelengkapan berita mutlak dibutuhkan oleh mereka demi akurasi informasi yang disampaikannya. Mereka dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber, berdiskusi dengan para pakar di bidangnya atau bahkan turba (turun ke bawah) untuk melihat langsung keadaan di masyarakat. Teknik menghimpun informasi ini biasa dipakai dalam jurnalisme investigatif.

Saya punya beberapa kawan reporter di beberapa surat kabar dan majalah. Salah seorangnya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Saat ia diamanahi untuk meliput latihan gabungan trimatra di lingkungan militer, ia tidak hanya menginput data dari informasi resmi para komandan. Namun, ia sengaja mencari sisi human interest para prajurit yang terlibat dalam latgab yang melibatkan kesatuan elit tempur dari masing-masing angkatan itu. Hasilnya, ia tidak hanya mampu memberitakan bagaimana kesiapan para prajurit menjaga teritorial negara kesatuan ini, namun juga mengungkap kecemburuan di antara mereka, apalagi setelah dilibatkannya pasukan burung hantu yang dibiayai Aussie dalam latgab itu.

Demikian pula bagi penulis tipe pengkaji, ia membutuhkan kajian fakta, data, dan berita yang lengkap dan akurat sebagai bahan untuk dikaji dan dianalisanya. Sebagai contoh, kawan penulisyang lain, ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Ia tergerak untuk menulis dampak sosial akibat kenaikan BBM. Sambil berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar, ia bertanya harga ini-itu kepada para pedagang, sekaligus menghimpun keluhan di antara para pembeli. Nyaris satu pekan, ia menginput bayak hal di lapangan, ia pun segera menuliskan hasil investigasinya sekaligus memberikan jawaban atas dampak sosial akibat kenaikan BBM tersebut. Ia mengajak para pembacanya tidak hanya untuk bersabar dan berhemat, tetapi juga untuk bergerak berjuang bersama-sama mengubah keadaan dengan solusi ideologis.

Jadi, Driser, kesibukan keseharian kita gak bisa dijadikan alasan kita untuk gak nulis. Lihat, tuh, ibu dengan tiga anak tadi, sambil berbelanja, ia dapat sekaligus investigasi, mengamati fakta di pasar, mendetili perkembangan harga-harga, sekaligus meneliti dampak sosialnya selama sepekan itu. Jadi, sambil menyelam minum aer! Halah… kembung, dunk?! Harusnya diganti, ding, sambil nyelam dapet kerang… kerang mutiara lagi!

Demikian pula yang dilakukan oleh Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail, syaikh mujtahid mutlaq dari al-Quds, Palestina yang diburu aparat intelejen di seluruh Timur Tengah, setelah mendirikan partai Islam ideologisnya itu, kerap mendengarkan berita-berita politik melalui radio ditempat persembunyiannya.Ia juga mengamati berbagai persoalan di negeri-negeri kaum Muslim, menganalisa permasalahan utamanya, kemudian memberikan solusinya secara praktis dan ideologis. Setiap peristiwa politis di dunia, khususnya Dunia Islam tak lepas dari analisanya, hingga aparat intelejen mengira Syaikh Abu Ibrahim ada dimana-mana karena partainya bergerak dimana-mana. So, gemar meneliti ternyata bukan hanya habits seorang penulis, namun juga tabiat seorang politisi dan pejuang revolusioner. Keren! []

 

BOX:

Tips Agar Gemar Meneliti

 

Oke driser, soal habits penulis yang ketigaini emang tabiat asasi bagipara penulis. Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu padagemar meneliti:

Pahamidulu, masalah apaan yang ingin kamu amati dan kamu teliti?Kalo gak paham masalahnya apa, malahkamu yang bakal dapat masalah baru!

Cari tahutempat atau lokasi dimana kamu akan mengamati, menyelidiki atau investigasi? Jika perlu, kamu nyiapin peta, browsing via google earth atau google map, manfaatin teknologi, cuy!

Siapin hal apa aja yang kamu butuhin di lapangan, buku catetan, alat tulis, alat rekam, etc. Jangan hanya ngandelin hapalan di memori, apalagi kalo loading memorinya lemot!

Seleksi siapa aja yang akan kamu tanyai, fakta apa aja yang akan kamu amati. Jangan sembarang orang yang kamu tanyai dan amati, fokus pada masalah yang ingin kamu selidiki.

Segera himpun apapun yang kamu dapet, apalagi info-info penting and krusial harus segera kamu catet, selanjutnya silahkan menganalisa dengan berkarya…

 

Congrat’s… kini kamu sudah jadi penulis pengkaji sekaligus peneliti, bahkan belajar jadi politisi….! Salut, angkat topi, deh![]

 

Angkatan Laut Pertama

Majalahdrise.com – Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering berkunjung ke kediaman Ummu Haram binti Milhan ra. Beliau merupakan salah satu bibi Rasulullah SAW dari pihak ibu, dan termasuk orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang beristirahat siang di kediaman Ummu Haram, beliau terbangun dan tersenyum sendiri.

Penasaran, Ummu Haram pun bertanya “Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulullah?”. Rasulullah SAW menjawab “Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut (dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya“. Ummu Haram pun berkata: “Ya Rasulullah, doakan aku agar Allah menjadikanku bagian dari pasukan tersebut”. Rasulullah pun menjawab “Engkau termasuk orang pertama yang ikut serta pada pasukan tersebut”.

Setelah Rasulullah SAW wafat, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas hingga mencapai wilayah Syria. Muawiyah ra. yang ketika itu menjadi wali/gubernur wilayah Syria menghadapi rongrongan pasukan Bizantium (Romawi Timur), yang menyerang wilayah kaum Muslimin dari laut, dengan pulau Cyprus (Qubrus) sebagai batu loncatan mereka. Demi mengatasi hal itu, Muawiyah pun memohon izin kepada Khalifah Umar bin Khattab ra. untuk menyerang pulau Cyprus. Tapi Khalifah Umar tidak memberikan izinnya karena memperhitungkan bahaya dan minimnya pengalaman kaum Muslimin dalam perang laut.

Barulah pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra., Muawiyah mendapat lampu hijau untuk menyerang pangkalan angkatan laut Bizantium di Cyprus. Muawiyah kemudian menyiapkan pasukan untuk menjalankan misi berbahaya tersebut yang diikuti oleh para shahabat, salah satunya yaitu Ubadah bin Shamit ra. Pasukan ini tercatat sebagai angkatan laut Islam yang pertama, dan penyerangan Cyprus (649 M/27 H) merupakan serangan laut pertama dalam sejarah Islam.

Termasuk yang ikut serta dalam serangan ini adalah Ummu Haram, yang merupakan istri dari Ubadah bin Shamit. Setelah kaum muslimin mengalahkan pasukan penjaga pantai dan mendarat di Cyprus, Ummu Haram terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga beliau gugur syahid karena cedera. Ummu Haram pun dimakamkan di tempat beliau meninggal.

Sementara itu, kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan dalam penyerangan Cyprus, padahal pengalaman kaum muslimin dalam perang laut bisa dibilang sangat minim. Cyprus akhirnya menyerah dan bersedia membayar jizyah per tahun sebesar 7000 dinar. Lima tahun kemudian Cyprus pun masuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam.

Setelah menaklukkan Cyprus, armada kapal kaum Muslimin kemudian bertolak menuju pulau-pulau lain di Laut Mediteran, di antaranya yaitu pulau Kreta, pulau Rodos dan sebagian besar pulau Sisilia. Dengan hadirnya angkatan laut kaum Muslimin ini, Laut Mediteran menjadi medan perang antara Daulah Khilafah Rasyidah dengan Kekaisaran Bizantium. Padahal, pada saat itu Kekaisaran Romawi Timur memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka merupakan salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya.

Salah satu perang laut yang krusial antara pasukan Islam dengan Bizantium adalah Perang Tiang Kapal atau Battle of the Masts yang juga disebut Ma’rakah Dzatus-Sawariy pada tahun 655 M. Perang ini dianggap sebagai salah satu peperangan kaum Muslimin di laut yang paling menentukan. Sekitar 200 kapal kaum Muslimin yang dipimpin Abdullah bin Sa’ad melawan 500 kapal Bizantium yang dipimpin langsung oleh kaisar Constans II. Berkat pertolongan Allah SWT, pasukan Bizantium hancur lebur bahkan sang kaisar sendiri pun hampir saja tewas kalau tidak melarikan diri.

Kemenangan-kemenangan armada Islam menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak hanya kuat di darat, tapi juga berjaya di lautan. Armada angkatan laut Islam di seluruh Laut Tengah pun menjelma menjadi pasukan terkuat dan tak terkalahkan hingga dua abad berikutnya. Subhanallah…. Dan itu semua terjadi saat kaum Muslimin hidup di bawah naungan Islam dan bingkai daulah Khilafah Islamiyah. Catet![]

di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

Goodbye ‘MBA’

Majalahdris.com – Guys, tau nggak, makin marak diberitakan di media massa tentang tingginya permintaan dari para pelajar yang udah terlanjur hamil di luar nikah, supaya dikasih keringanan dari pengadilan untuk dinikahkan. Mulai dari anak ingusan setingkat SD, SMP sampai SMA disejumlah Pengadilan Agama (PA). Sebut aja ada PA Ponorogo, PA Malang, PA Purwakarta. Nah, parahnya angka permohonan tertinggi adalah di PA Indramayu yang mencapai hingga 300-500 orang pertahun. Tinggi banget kan? Dengan nikah, para ABG ini berharap punya status meski dengan MBA (Married by Accident).

Peristiwa ini tuh ya, sebenernya cuman salah satu dari berita-berita sebelumnya. Di antaranya dari hasil riset BKKBN. BKKBN nemuin kalo separuh remaja putri yang tinggal di kota-kota besar udah kehilangan keperawanan en ngaku pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. So, pas banyak pelajar pengen minta keringanan usia nikah, ya wajar ajalah, wong bibitnya udah keliatan. Ini tuh yang dinamakan lingkaran setan.

Pemohon hampir seluruhnya adalah dari orangtua yang anaknya udah terlanjur hamil di luar nikah en terpaksa berhenti sekolah karena peraturan sekolah melarang pelajar bersekolah dalam kondisi hamil. Usia mereka muda banget, rata-rata di bawah 16 en 19 tahun. Padahal ini bertentangan dengan UU Perkawinan negara yang mensyaratkan bagi perempuan yang pengen nikah kudu berumur minimal 16 tahun dan bagi laki-laki berusia minimal 19 tahun. Masalahnya, pelanggaran terhadap UU ini bisa ditindak pidana. Makanya pihak KUA jadi puyeng en ogah nikahin pasangan yang dirasa umurnya belum cukup supaya pernikahan dini bisa dicegah. Hm, emang bisa ya?

Solusi Setengah Hati

Sobat, nggak bisa bisa dipungkiri, fenomena ini hampir bisa dipastikan penyebabnya adalah pergaulan bebas yang udah marak banget di kalangan remaja. Potensi remaja yang serba pengen tahu en selalu pengen mencoba sesuatu yang baru termasuk dalam hal hubungan seksual. Kematangan biologis yang nggak dibarengi dengan kematangan psikologis bikin remaja gampang menirukan apa pun yang mereka lihat en denger. Padahal keseharian mereka dibombardir dengan hal-hal yang berbau pornografi en pornoaksi. Pakaian yang kurang bahan alias ngumbar aurat, tayangan yang ngundang syahwat serta bacaan yang menstimulus pikiran untuk maksiat.

Trus, apa dengan nikah dini masalahnya jadi kelar? Ternyata nggak juga, Sob. Pernikahan dini yang dianggap solusi bagi muda mudi yang terpaksa nikah lantaran hamil duluan, ternyata berdampak buruk di kemudian hari. Pasangan nikah muda ini banyak juga yang akhirnya malah bercerai hanya dalam kurun 2 sampai 3 tahun. Begitulah, pada akhirnya, toh anak-anak merekalah yang jadi korban. So, nolak pernikahan dini itu bukan solusi yang tepat. Gimana mo ngelarang pernikahan dini, lha wong pernikahan Ujang eh maksudnya penyebab pernikahannya (baca: pergaulan bebas) dibiarin bahkan difasilitasi. Negara lebih mentingin para pemilik modal besar yang memproduksi bejibun tayangan-tayangan sampah en media pornografi. Negara yang udah dipasung ama kebebasan individu atas nama HAM ngebiarin night club 24 jam, tempat pelacuran, VCD porno serta TV yang nyajiin materi pornografi. Parah!

Islam Solusi Ampuh

Sobat, sebenarnya dalam diri manusia emang udah dianugerahi naluri berupa dorongan seksual terhadap lawan jenis. But, sebagaimana naluri lainnya, naluri ini nggak akan bangkit koq kalau nggak ada rangsangan dari luar. Nah yang memprihatinkan, rangsangan seksual justru terus memborbardir remaja melalui berbagai media. Ratusan situs porno bisa dibuka oleh remaja kapan aja. Tayangan televisi yang ngumbar aurat en mempertontonkan pasangan cowok cewek beradegan mesra. Lagu-lagu bersyair romantis en mengagungkan lawan jenis. So, remajalah yang kena imbasnya. Kondisi ini emang bikin nyesek.

Dalam lingkungan kehidupan, Islam mengaturnya dengan pemisahan antara kehidupan umum en kehidupan khusus. Kehidupan umum adalah suatu tempat dimana nggak perlu ada izin ketika seseorang atau siapapun orangnya ingin memasuki tempat tersebut. Kalo kehidupan khusus, sebaliknya, kudu minta ijin ama yang punya rumah. Contohnya, di rumah. Ini sesuai firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, kamu jangan memasuki rumah orang lain, sehingga kamu mendapatkan izin dan kamu mengucapkan salam kepada penghuninya.”(TQS An nur :27)

Tapi, pertemuan baik yang ada interaksinya maupun tanpa interaksi tetep diatur oleh Islam. Seperti menutup aurat en nggak berkhalwat (berdua-duaan) misalnya ditempat yang sepi antara cowok en cewek yang bukan mahrom. Ikhtilat pun ada yang boleh dilakukan dengan syarat yang dibicarain bukan hal yang diharamkan serta nggak dilakukan dengan berkhalwat.

Sob, Islam itu agama yang sempurna. Islam mampu bikin seks bebas minggat jauh-jauh, juga mencegah munculnya peluang-peluang yang mengarah ke seks bebas. Dalam Islam, seluruh anggota keluarga kudu saling mengingatkan untuk selalu menuntut ilmu agama en melaksanakannya, termasuk ilmu dan hukum Islam menyangkut pergaulan. Selain itu, negara berperan penting ngatasin masalah pergaulan seperti nerapin pemisahan antara tempat ativitas laki-laki perempuan dalam kehidupan umum en tempat-tempat tertentu. Negara juga akan melarang media massa nyetak en membuat gambar porno yang bikin syahwat belingsatan. Kalo masih ada yang melanggar juga, negara bakal jatuhin sanksi yang tegas. Kalo udah ada sistem kayak gini, remaja hamil di luar nikah, nggak akan ada lagi dalam sejarah. []

By Wita Dahlia

di muat di majalah remaja islam drise Edisi 45