Wanita Terjaga & Mulia Bersama Islam

Majalahdrise.com – Terlalu cetek kalo ada yang menyimpulkan kekerasan terhadap wanita karena gender. Jenis kelamin itu kodrat. Cuman orang-orang jahiliyah yang memandang sebelah mata terhadap wanita. Kalo kita tengok sejarah, pada masa peradaban Roma, kedudukan wanita disamain dengan barang dagangan. Bebas diperjualbelikan sebagai pemuas nafsu syahwat laki-laki.  Mereka menganggap perempuan yang lemah nggak produktif. Cuman jadi beban kaum laki-laki aja. Prof Will Durrant bilang “..Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roma. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang Ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya”.  Waduh!

Sementara dalam peradaban Yunani, tempat wanita di kasta ketiga (status sosial paling rendah) dalam masyarakat.  Karena orang Yunani menilai wanita sebagai makhluk yang tidak berarti dan nggak bakal dikasihi ama dewa. Saking rendahnya, seorang Hippolytus ngomong kasar pada Tuhannya. “Wahai Zeus, apakah engkau kemasukan setan ketika menimpakan kemalangan kepada kami dengan mendatangkan kaum perempuan di tengah-tengah kaum lelaki?” Deeu..segitunya?

Dalam agama Hindu, seorang istri mesti nurut abis bak kerbau dicocok hidungnya terhadap suami. Wanita nggak punya hak atas kehidupan pribadinya. Seperti dijelaskan dalam buku tentang aturan keagamaan sansekerta kuno, Draramasastra. Sementara agama Nasrani juga memandang wanita nggak jauh beda. Menurut Encyclopedia Britannica “Sejak awal, lembaga gereja telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang rendah”.

Idih, ngeri banget ya cara pandang orang-orang jahiliyah di atas terhadap wanita. Sialnya, kini cara pandang yang sama dalam kemasan emansipasi dan kesetaraan gender gencar dikampanyekan kaum feminis. Makanya kita harus hati-hati sis!

Cuman syariah Islam yang menjaga dan menghargai wanita tanpa cacat cela. Bukan yang lain. Dari awal kedatangannya, islam telah menempatkan wanita pada kedudukan yang mulia.  Fitrahnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, tak menjadikan kaum hawa terhina. Justru posisi ini adalah kehormatan yang tiada duanya.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab : 33]

Tak hanya di dalam rumah, syariah Islam membolehkan wanita untuk berkiprah di luar rumah dalam perkara yang mubah. Dengan catatan, tidak melalaikan kewajibannya sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga serta bukan dalam perkara yang diharamkan. Jadi, boleh aja muslimah berbisnis jual beli, menjalani profesi sebagai sebagai guru, dokter, perawat, peneliti, tukang jahit, atau jurnalis. Bahkan, wanita juga boleh terjun dalam dunia politik semisal memilih penguasa, memilih dan dipilih menjadi anggota majlis umat dalam pemerintahan Islam. Namun tetap, syarat dan ketentuannya berlaku ya. Ingat kewajiban utamanya sebagai ummu wa robbatul bait.

Jadi, buat yang cewek nggak usah ngiri ya ama cowok. Justru mesti bersyukur dilahirkan sebagai makhluk cantik yang dimuliakan Allah swt dan Rasul-Nya.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa`: 32)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Apakah dalam perkara amalan kami juga demikian? Jika ada seorang wanita berbuat kebaikan hanyalah dicatat untuknya separuh dari kebaikan tersebut?” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat: “Janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Sesungguhnya ini adalah keadilan dari-Ku dan Aku yang membuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462)

Kalo aturan Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah, niscaya kehidupan wanita terjamin dunia akherat. Seperti pengakuan seorang Anna Rued, penulis buku—Eastern Mail.  ia menyebutkan “Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak—yang tidak saja menyalahi kodrat—tetapi bisa menghancurkan kehor­matannya.”

Mulianya kedudukan wanita dalam Islam, karena Rasulullah SAW telah mewasiatkan untuk menjaga perempuan dan memperlakukannya dengan baik.  Sabda Rasulullah SAW: Perlakukanlah perempuan dengan baik (HR Muslim).  Islam pun menetapkan bahwa memelihara kehormatan perempuan hukumnya wajib.  Orang-orang yang terbunuh karena mempertahankan kehormatannya adalah syahid akhirat, artinya memperoleh pahala syahid mujahid di jalan Allah. Sabda Rasululah SAW: “Barang siapa yang terbunuh (dibunuh) demi keluarga, maka dia syahid “(HR.Nasai)

Tuh kan, saking dihormatinya wanita, pembelaan terhadapnya disamakan dengan pahala syahid di akhirat. Jadi, untuk driser muslimah jangan silau dengan kampanye emansipasi dan kesetaraan gender. Kesannya baik dan mengangkat derajat wanita. Padahal, dibaliknya segudang ancaman siap menghancurkan kehidupan perempuan dan keluarga.

Kita sepakat kalo cara pandang masyarakat yang merendahkan wanita emang mesti diperbaiki. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga atau di tempat kerja emang kudu dilawan. Untuk itu, ayo kita sama-sama perjuangkan hak wanita dengan getol mengkampanyekan penerapan syariah Islam oleh negara yang akan menjaga, melindungi, dan memuliakan wanita dan kehidupannya. Pasti![hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46

Melabrak Kodrat Kaum Hawa

Majalahdrise.com – Driser, kita turut prihatin dengan nasib perempuan yang hidupnya sering jadi bulan-bulanan. Seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga yang gencar menghiasi layar kaca. Siapa sih yang nggak terusik dengan berita-berita menyedihkan itu. Cuman masalahnya, apa bener gerakan feminisme layak kita jadikan kendaraan buat memperbaiki hidup kaum hawa? Kayanya kita mesti lebih jeli deh.

Kalo kita baca sejarahnya, udah keliatan kalo gerakan feminisme lahir dan berkembang di Eropa yang hidup dengan prinsip sekuler. Nggak ngasih ruang bagi aturan agama dalam kesehariannya. Otomatis, standar yang mereka pake  dalam perjuangannya adalah untung rugi dalam kacamata manusia. Jauh dari pertimbangan akherat. Hasilnya, mereka bakal ngotot untuk melabrak setiap aturan yang dianggap bisa merendahkan wanita. Termasuk aturan Islam. Nah lho?

Lemahnya posisi perempuan dalam keluarga, dianggap sebagai penyebab menjamurnya kekerasan dalam rumah tangga. Walhasil, kaum feminis gencar mengajak perempuan untuk eksis di dunia kerja. Baik sebagai buruh pabrik atau pekerja kantoran. Agar secara ekonomi tidak bergantung pada pria dalam keluarga. Label wanita karir jadi simbol kesetaraan.

Emang sih dengan bekerja, kaum hawa jadi bisa menghidupi dirinya sendiri. Namun, mandiri secara ekonomi tak berarti memperkuat posisinya di dunia kerja. Tetap saja secara fisik, wanita punya kelemahan. Kondisi ini yang sering dimanfaatkan oleh pria untuk melakukan pelecehan di tempat kerja. Buruh wanita dilecehkan oleh atasan dengan ancaman kontrak kerja tak akan diperpanjang. Atau ketika pulang kerja lembur atau shift malam, kaum hawa sering jadi sasaran korban pelecehan. Ngeri!

Di Jakarta, terdapat sekitar 80.000 orang buruh. Sebanyak 90 persen dari angka tersebut merupakan buruh wanita dan 75 persen buruh wanita yang ada di Jakarta telah mengalami kekerasan seksual. Dari catatan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan tahun 2012, terdapat 216.156 kasus kekerasan seksual. Di antaranya diterima oleh buruh wanita sebanyak 2.521. Angka itu berdasar kepada buruh wanita yang melaporkan kejadian yang dialaminya. (Megapolitan.Kompas.Com, 19/04/13).

Secara psikis, wanita bekerja merasa punya posisi yang setara bahkan lebih tinggi dalam keluarga. Karena sukses di dunia kerja atau penghasilannya melebihi suami. Sampai-sampai jadi ‘kepala’rumah tangga dalam urusan nafkah. Walhasil, sang istri nggak ngerasa penting untuk selalu tunduk pada keinginan suami. Malah kalo udah ngerasa nggak nyaman dengan pasangan, dengan mudahnya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Ngerasa nggak akan ada masalah dalam urusan keuangan. Toh, dirinya sudah berpenghasilan. Waduh!

Kesetaraan gender juga berimbas pada pola pergaulan. Laki perempuan udah nggak ada batasnya lagi. Yang udah berkeluarga atau lajang, kalo di tempat umum bebas bercengkerama. Haha hihi bin ketawa ketiwi. Bukan cuman mereka yang senang, setan juga jingkrak-jingkrak ngomporin. Biar tuh pasangan makin dalam terjerumus ke jurang kemaksiatan. Tak ayal, terjadi perselingkuhan. Ujung-ujungnya, perceraian!

Driser, kita bukan bermaksud lebay bin paranoid ya ide emansipasi binti kesetaraan gender yang menjerat kaum hawa. Faktanya, bukan kemuliaan yang akan diperoleh wanita. Justru ternodanya martabat mereka. Karena segudang masalah yang menimpa wanita, bukan karena mereka kaum hawa. Tapi akibat cara pandang kaum adam yang dipengaruhi gaya hidup sekuler terhadap perempuan. Seperti diungkap oleh Nicole Kidman di atas. Jadi, salah sasaran kalo tuduhan penyebab penindasan terhadap perempuan ditujukan pada syariah Islam yang sangat memuliakan wanita. <<–CATET!

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46

MAJALAH DRISE EDISI 46 : Woman Happy With Islam

Majalahdrise.com – Ngeri juga ngeliat data kekerasan terhadap kaum hawa yang terus meningkat setiap tahunnya. Ini tercermin dari fakta-fakta terbaru yang disampaikan Komnas Perempuan Indonesia pada tanggal 24 November 2014 mengenai jumlah kekerasan terhadap kaum perempuan di Indonesia.

Sepanjang 2013, tercatat 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 4.336 kasus dari tahun 2012. Bila dihitung, dalam 3 jam setidaknya ada 2 perempuan mengalami kekerasan seksual..!

Kekerasan terhadap perempuan itu banyak sekali macamnya. Mulai dari pelecehan secara verbal dengan perkataan mesum, pelecehan secara fisik dengan meraba daerah terlarang, perkosaan, hingga human traficking alias jual beli perempuan. Bah, gawat sangat ini.

Kebayang dong, gimana nggak paranoidnya perempuan hidup di era kapitalis saat ini. Kadung dicap makhluk yang lemah, kaum hawa sering jadi korban pelecehan baik secara verbal atau pun fisik. Secara gitu lho, kaum adam udah kaya kucing kebelet kawin aja kalo ngeliat lawan jenisnya lewat di depan mata. Apalagi kalo tuh makhluk cantik pake busana minim yang bikin jakunnya pria naik turun. Bisa berabe urusannya.

Gara-gara Islam Nih!

Tingginya angka kekerasan yang menimpa perempuan emang nggak bisa dibantah. Tapi lucunya, ada pihak yang menunjukkan jarinya pada Islam sebagai penyebab menderitanya kaum hawa. Lho kok bisa? Piye iki?!

Segudang aturan Islam yang menjaga kemuliaan martabat wanita dituduh aktivis gender yang gencar memperjuangkan emansipasi sebagai biang penderitaan kaum hawa. Dalam Islam, tugas utama wanita itu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Bahasa kerennya, sebagai ummu wa robbatul bait. Otomatis, ruang geraknya lebih banyak di dalam rumah dan sekitarnya. Mulai dari ngurus anak sampai beresin rumah.

Cara berfikir dangkal kaum gender menganggap, kalo perempuan banyak di rumah pastinya bete dan ketinggalan informasi alias nggak gaul. Sehari-hari cuman berkutat di dapur, sumur, dan kasur. Nggak ada kegiatan yang produktif untuk mendatangkan materi dan gengsi. Jabatanya perumtel alias penunggu rumah teladan.

Kalo istri mau keluar rumah, Islam mengajarkan untuk meminta izin pada suami. Nggak bisa berkeliaran di sektor publik semaunya. Udah kaya tahanan rumah aja. Terus Islam juga melarang wanita jadi kepala negara, gubernur, atau walikota. Seolah memasung hak politik kaum hawa. Kecantikan perempuan seperti tak dihargai oleh Islam karena harus menutup aurat sempurna ketika keluar rumah. Nggak bisa tuh lenggak lenggok bak peragawati mengumbar uratnya memancing adrenalin lelaki. Dan satu lagi yang sering bikin sewot kaum gender, suami boleh poligami sementara istri dilarang poliandri (emangnya kucing :D). Di sini kadang aktivis gender merasa sedih.

Tuduhan ngawur aktivis feminis dan kaum gender di atas sengaja diumbar biar umat Islam terutama perempuan alergi dengan syariah Islam. Padahal justru kebobrokan ide feminis dan kesetaraan gender yang diimpor dari Barat bikin kehidupan perempuan nelangsa sepanjang hayat. Bilangnya memperjuangkan hak perempuan. Kenyataannya, merendahkan derajat perempuan.

Nicole Kidman menyatakan Hollywodd mungkin telah turut memberikan andil pada kekerasan terhadap wanita , dengan menggambarkan wanita sebagai pihak yang lemah dan menjadi objek seksual. Nicole Kidman memberikan keterangan tentang kekerasan terhadap wanita dihadapan House Foreign Affairs subcommittee (Christine Simmons, Associated Press Writer – Wed Oct 21) Catet!

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46

Islam Agama Barbar? No Way!

Majalahdrise.com – Ada orang-orang yang nuduh Islam sebagai agama yang barbar, nggak beradab, dan nggak berperikemanusiaan. Mereka nuduh kayak gitu karena –katanya- Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Katanya lagi, Islam nggak kenal kompromi, siapa yang nggak mau masuk Islam pasti bakal langsung ditebas pake pedang. Apakah tuduhan-tuduhan ini benar? Yuk kita lihat apa yang terjadi pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib berawal dari sebuah khutbah dari Paus Urbanus II pada tanggal 25 November 1095 di Konsili Clermont. Pada pertemuan itu, di hadapan para kesatria, pendeta, dan orang-orang miskin, Paus menyerukan perang suci untuk melawan kaum Muslim. Paus mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja masuk Islam, yang terus merangsek maju menyerbu Anatolia. Turki Saljuk telah merebut banyak wilayah di Anatolia dari Kekaisaran Bizantium Kristen. Setelah para kesatria Kristen itu membersihkan Anatolia dari kotoran-kotoran Turki Saljuk, kewajiban mereka selanjutnya adalah berbaris rapi menuju Yerusalem dan merebut kota suci itu dari tangan bangsa kafir. Memalukan sekali jika Maka Kristus berada di tangan kaum Muslim.

Kabar tentang seruan itu pun menyebar ke mana-mana dan disambut dengan sangat antusias. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah 5 pasukan yang terdiri dari 60.000 prajurit. Pada musim gugur, gelombang pertama tadi disusul oleh sejumlah pasukan yang lebih besar lagi, sebanyak 100.000 prajurit. Pasukan-pasukan itu diiringi oleh para peziarah dan pendeta yang tidak bersenjata. Mereka semua bergerak ke arah timur.

Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib berhasil membobol Yerusalem. Mereka membunuh orang-orang Saracen (Muslim) dan orang Turki yang mereka temukan. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Besoknya, pasukan salib memanjat atap Al-Aqsha, dan membantai sekelompok kaum Muslim yang sebelumnya telah menerima perjanjian untuk dilindungi. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki berserakan di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar kakinya tidak menginjak bangkai laki-laki dan kuda. Di Kuil Sulaiman bahkan terjadi banjir darah hingga setinggi lutut. Puluhan ribu kaum Mulism dan Yahudi dibunuh ketika itu.

Kira-kira 88 tahun kemudian, pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin al Ayubi merebut kembali Yerusalem dari pasukan salib. Ribuan orang Kristen berada di dalam kota dan menunggu takdir mematikan mereka. Mereka menyangka bahwa Salahuddin akan membalas dendam kepada mereka, persis seperti ketika pasukan salib membantai umat Muslim pada tahun 1099. Tetapi Islam adalah kasih sayang bagi semesta. Salahuddin tidak melakukan pembantaian itu, padahal dia sangat mampu melakukannya. Dia malah menetapkan tebusan yang sangat rendah bagi para tawanan Kristen agar mereka sanggup membebaskan diri mereka sendiri. Ketika banyak tawanan itu yang nggak sanggup menebus dirinya sendiri, bahkan Salahuddin merogoh koceknya sendiri untuk menebus para tawanan itu. Itu pulalah yang dilakukan oleh saudaranya, Al-Adil. Apa yang dilakukan oleh pemuka Kristen malah lebih memalukan. Setelah menebus dirinya sendiri, Patriach Heraklius pergi begitu saja meninggalkan ribuan orang Kristen dengan membawa seluruh hartanya. Padahal semua hartanya itu sanggup menebus ribuan tawanan Kristen. Sungguh terlalu..!

Dari kilasan sejarah di atas, keliatan siapa sih yang sebenernya barbar dan nggak berperikemanusiaan. Kelembutan hati Shalahuddin Al-Ayubi terhadap musuh bukan semata karena pribadinya, tapi dibimbing oleh kemuliaan syariah Islam dalam adab peperangan. Padahal kalo ngikutin nafsu, bisa aja Shalahuddin menghabisi para tawanan perang salib sebagai bentuk balas dendam. Tapi untuk apa?

Islam mengajarkan umatnya untuk tetap menunjukkan akhlak mulia dalam peperangan. Diantaranya dengan tidak menghancurkan tempat ibadah atau tempat layanan publik, tidak membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak ikut dalam peperangan, tidak membunuh tua renta, melindungi tawanan, dan tidak menghabisi musuh yang sudah dalam keadaan tak berdaya. Jadi, ngaco bin ngawur kalo ada yang bilang Islam agama bar-bar. Mungkin mereka ngiri karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam. Kasian deh! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #46