MAJALAH REMA ISLAM DRISE EDISI 48 : Jangan Balik Maksiat Ya..!

MajalahDrise.com – Ramadhan telah berlalu. Ada yang berduka, tak sedikit yang bersukacita. Mereka yang bersedih, nggak rela putus hubungan dengan nyamuk, eh Ramadhan. Persis kaya remaja kasmaran yang ditinggal pergi pujaan hatinya. Duh…kerasa banget sedihnya. Gimana nggak, cuman di bulan Ramadhan Allah swt ngobral pahala nggak ada abisnya. Cuman di bulan Ramadhan juga Allah swt buka pintu ampunan dan hidayah selebar-lebarnya. Jarang-jarang kita dapetin kesempatan langka itu di bulan laen. Apalagi tahun depan belum tentu kita masih bisa ‘nge-date’ bareng bulan mulia ini. Who knows.

Eits…the show must go on. Gitu kata pepatah. Waktu bakal terus berjalan nggak pake nengok ke belakang meski orang-orang pada manggil biar tuh waktu balik lagi. Ini udah sunatullah. Ramadhan mesti pergi dan berganti Syawal. Setelah sebulan puasa, ketemu deh ama Idul Fitri. Hari spesial yang berlimpah penganan mak nyos khas lebaran. Hari yang pas buat maaf-maafan. Dan momen yang indah untuk jalan-jalan. Berkunjung ke sanak kerabat, bersilaturahmi dengan sahabat, atau piknik ke tempat-tempat yang asyik. Mumpung libur panjang.

Manisnya Kemenangan Kembali ke Fitrah

Idul fitri identik dengan hari kemenangan. Selama satu bulan, kita ikut dalam pertandingan melawan hawa nafsu. Setiap hari kita jaga tuh perkataan maupun perbuatan agar nggak bocorin puasa maupun pahalanya. Kegiatan gosip dijauhin. Godain lawan jenis ditahan. Pacaran apalagi, stop dulu. Biar siap kasih jawaban saat silaturahmi lebaran lalu ditanya, kapan nikah, eh… puasanya poll nggak?Pastinya!

Kemenangan idul fitri itu istimewa banget. Karena cuman dirasakan oleh mereka yang bener-bener puasa saat ramadhan. Ibarat ikut lomba marathon, saat pistol tanda mulai dibunyikan kita berlari dan terus berlari. Sampe akhirnya dada kita menyentuh garis finish. Lega banget rasanya. Kerasa manisnya kemenangan setelah bermandi peluh lelah perjuangan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Oh ya, satu lagi. Pasca satu bulan berpuasa, kaum muslim juga kembali fitrah. Ibarat bayi yang baru lahir, secarik kertas putih, polos tanpa cacat cela. Itu artinya, kalo amal ibadah puasa kita benar, ikhlas dan diterima Alah swt insya Allah dosa-dosa kita diampuni. Dan saat lebaran, catatan amal kita bersih dari dosa. Amin banget dong.

Makanya, berbahagialah kamu yang puasanya poll anti bocor. Bagi remaji yang nggak cacap lantaran kedatangan tamu berinisial “H” tiap bulannya, jangan lupa ganti. Biar kalo ketemu Ramadhan berikutnya nggak punya utang puasa. Tapi…. Bukan berarti abis puasa kita merdeka mau ngapain saja. Idih..kaya anak kecil aja.

Sayang banget kalo pasca ramadhan kita kembali maksiat. Kaya yang nggak bersyukur banget sama Allah yang udah kasih kesempatan bisa mendulang keberkahan saat ramadhan kemaren. Kalo bener sudah jadi pemenang, gak perlu mundur jadi pecundang. Tapi siapkan badan dan getol menimba ilmu. Biar semangat taat ramadhan tetap menyala meski bukan di bulan mulia. Oke?

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Idul Fitri ala Rasulullah

Majalahdrise.com – Siapa sih yang nggak seneng sama Idul Fitri? Hari besar yang dirayakan setiap tanggal 1 Syawal ini emang ditunggu-tunggu banget. Secara karena ini adalah hari kemenangan bagi kita semua yang udah berjuang menunaikan ibadah shaum Ramadhan selama sebulan, ada banyak makanan, kue, dan hal-hal seru lainnya. Satu hal yang juga ditunggu adalah bagi-bagi duitnya. Pasti ini nih yang juga kamu tunggu-tunggu, hayo ngaku! Hehehe.

Buat kita yang masih usia sekolah tentunya bakalan punya banyak duit karena biasanya sodara-sodara bakal bagi-bagi duit. Hanya saja tradisi bagi-bagi duit ini nggak bisa disamakan dengan angpao dan nggak boleh juga disebut bagi-bagi angpao. Karena istilah angpao adalah istilah khusus yang udah terkait erat dengan tradisi dan keyakinan agama lain, dan kita sebagai Muslim terlarang untuk menggunakannya.

Pada awalnya, setiap perayaan Tahun Baru Imlek, biasanya etnis Tionghoa akan bagi-bagi angpao pada anak-anak dengan tujuan untuk mengusir setan yang bernama “Sui”. Setan Sui ini setiap tengah malam menjelang Tahun Baru Imlek bakal datang untuk menyentuh dahi anak-anak. Biasanya korban setan Sui ini akan menjadi gelisah, jadi mewek melulu, dan bakalan sakit, menggigil dan demam. Akibat selanjutnya, anak yang disentuh setan Sui ini akan menjadi anak yang bodoh. Nah, untuk menangkal setan Sui ini, akan diletakkan sekantung uang receh yang dibungkus dengan kertas merah di bawah bantal yang dipakai anak-anak. Cara ini diyakini sukses mengusir setan Sui dan pada perkembangan selanjutnya menjadi tradisi sampai sekarang. Karena itulah, bagi-bagi duit pas Idul Fitri nggak boleh disebut bagi-bagi angpao. Catat ya!

Idul Fitri ala Rasulullah

Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau menemukan bahwa penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang bernama Nairuz dan Mahrajan. Pada kedua hari raya ini, mereka bersenang-senang dan bermain-main. Kota Madinah menjadi ramai dengan suara musik dan senda-gurau. Ketika ditelusuri, kedua hari raya ini ternyata berakar dari tradisi orang Persia yang menyembah api dan menganut agama Zoroaster. Maka Rasulullah saw. menghapuskan kedua hari raya Persia ini dan menggantikannya dengan dua hari raya yang jauh lebih baik, Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha,” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Pastinya kita jarang yang tahu bahwa Perang Badar itu terjadi pada bulan Ramadhan, dan kebayang nggak bahwa Rasulullah dan para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa. Tantangan yang kita hadapi saat ini nggak seberapa jika dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi Rasulullah dan para sahabat. Di sono tuh tanah Arab bro, panas dan gersang. Kebayang nggak sih gimana rasanya kalau kita berperang di tengah-tengah gurun, pas puasa lagi! Perang Badar adalah peperangan skala besar pertama yang terjadi dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

Idul Fitri pertama yang dirayakan umat Islam adalah pasca Perang Badar ini. Jadi pada hari raya pertama ini, umat Islam merayakan dua kemenangan besar, yaitu kemenangan melawan hawa nafsu sekaligus kemenangan melawan orang-orang kafir. Menang melawan setan dari bangsa jin dan bangsa manusia.

Salah satu riwayat mengisahkan bahwa saat itu umat Islam merayakan Idul Fitri dengan masih membawa luka-luka dari Perang Badar. Luka-luka itu masih belum kering dan terkadang masih mengucurkan darah. Rasulullah saw. sendiri dalam keadaan luka-luka dan sangat letih. Ketika beliau harus menyampaikan khutbah Idul Fitri di atas mimbar, beliau harus bersandar pada tubuh Bilal bin Rabah saking letihnya.

Selain Perang Badar, Penaklukan Makkah juga terjadi ketika umat Islam sedang berpuasa, yakni tanggal 11 Desember 629 Masehi atau 18 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Pada Idul Fitri tahun itu, umat Islam kembali merasakan kebahagiaan berkumpul dengan sanak keluarga yang dulunya ditinggalkan di Makkah. Kampung halaman telah kembali dan penindasan kafir Qurais telah sirna. Semoga Idul Fitri yang kita rayakan benar-benar menjadi kemenangan hakiki kita di dunia dan akhirat, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat mengisinya dengan aktifitas-aktifitas yang membawa kemenangan. [sayf].

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48

 

HABITS PENULIS #5 Menjalin Komunitas

Majalahdrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas habits penulis kelima alias yang terakhir, yaitu seorang penulis itu harus punya komunitas ato mampu menjalin komunitas. Sesungguhnya, seorang penulis yang baik tentu dia ingin selalu berbagi sekaligus mengembangkan karier kepenulisannya. Salah satu di antaranya dengan terlibat aktif dalam komunitas kepenulisan atau komunitas yang terkait erat dengan dunia literasi, baik komunitas buku, maupun komunitas baca.

Dengan kita memiliki komunitas, selain bersilaturahmi, kita juga akan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik karena saat kita terlibat aktif di komunitas, kita akan mendapatkan kawan-kawan yang memiliki habits yang sama, kreativitas yang sama, bahkan ide ato ideologi yang sama. Jadi, kita nggak ngerasa sendirian saat menerjuni gelanggang yang sama karena kita punya kawan seiring, seirama, bahkan seperjuangan. Bahkan, saat kita mengalami stagnasi pun, ada kawan-kawan yang siap membantu, menyemangati atau bahkan mengompori kita untuk bangkit dan kembali berkarya.

Selain itu, saat aktif dalam komunitas, kita akan selalu mendapati kawan berbagi dan berdiskusi tentang kreativitas yang sedang dan sama-sama digeluti. Contohnya gini, saat booming fiksi Islami pertengahan tahun 2000-an yang dipelopori komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), Mas Harry Haris Hendrayana yang kondang dengan nama pena Gola Gong pun terpacu untuk menulis tema religius tanpa menghilangkan karakteristiknya yang bernuansa adventures. Mas Gong pun intens berdiskusi dengan kawan-kawan FLP dan hasilnya, lahirlah novelet Al-Bahri, si anak samudera.

Saat saya bertanya tentang kreativitasnya menulis Al-Bahri itu, Mas Gong mengaku bahwa sosok Al-Bahri itu dimaksudkan untuk mengobati kerinduan para penggemarnya akan sosok Si Roy. Sebelumnya, Mas Gong emang kondang dengan novel Balada Si Roy. Sebuah novel anak muda yang dimaksudkan juga untuk menandingi Catatan Si Boy. Sedangkan dalam novelet Al-Bahri-nya itu, Mas Gong mengemasnya dengan nuansa Islami. Setelah sukses dengan novelet itu, Mas Gong pun semakin kreatif menghasilkan karya-karya religiusnya, di antaranya adalah trilogi Pada-Mu Aku Bersimpuh yang naskahnya tidak hanya dibukukan, namun juga diangkat ke atas pita seluloid alias difilmkan. Keren!

Ternyata, gak hanya Mas Gong yang tersulut untuk menghasilkan karya-karya religius, demikian pula halnya dengan kawan-kawan penulis lainnya yang tergabung di Alpen Prosa (Aliansi Penulis Pro Syari’ah) ataupun Asosiasi Penulis Ideologis (API) Islam yang diarsiteki oleh Felix Y. Siauw dan Sayf M. Isa. Termasuk juga Adi Wijaya dan kawan-kawannya di Senada (Sekolah Pena Dakwah), mereka menjadikan komunitasnya untuk mengkader para penulis muda, sekaligus menghasilkan karya.

So, seorang penulis yang baik tentu akan memahami betul urgensi dari komunitas kepenulisan ini karena melalui komunitasnya ini, dia dan juga para penulis lainnya akan selalu memiliki tantangan baru saat ide-ide bermunculan ketika mereka berdiskusi dengan sesama penulis, mereka akan selalu mendapat kompetitor positif dalam berkarya. Jujur aja, neh, saat ketemu dengan sesama penulis pun, saya kerap ditanya, sedang nulis buku apaan? ato lagi terlibat dalam proyek penulisan dimana? dan pertanyaan sejenis itu lainnya. Nah, kalo ditanya kek geto, semangat nulis pun pasti langsung tersulut. Ntar kalian buktiin aja sendiri, ya….

Nah, lho, bener banget komen kawan saya tadi bahwa dengan banyak menjalin komunitas itu, selain bersilaturahmi, juga pasti banyak mendatangkan rezeki. Maksudnya adalah dengan banyak ketemu orang, ketemu banyak relasi, ketemu sesama penulis, dapat banyak ide untuk berkarya, trus juga menghasilkan banyak karya yang diterbitkan dan dibukukan. Waow… rezeki pun langsung berdatangan kepada kita…. duh bahagianya. Kerennya lagi, gak hanya itu, teman-teman wartawan dan reporter yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kerap saling membantu saat salah seorang anggotanya berkasus di pengadilan. Asyik kan? Makanya jangan sungkan untuk gabung dengan komunitas kepenulisan. Kalo skill kamu dalam menuangkan pikiran dalam tulisan pengen makin terasah. Catet!

Oke, Bro and Sist, di edisi D’Rise y.a.d kita akan membahas tema-tema kepenulisan yang menarik lainnya…. tunggu tanggal penerbitannya, ya?![]

 

 

BOX:

Jalin Komunitas Yuk!

Oke, D’Riser, kini saya akan berbagi tips agar kamu mampu menjalin komunitas untuk mengasah keterampilan menulismu, sekaligus mengembangkan karier kepenulisanmu:

  1. Pastikan dulu kamu mo aktif di komunitas kepenulisan yang mana? mo di komunitas penulis buku anak, remaja ato dewasa? so, jangan salah milih, ya?;
  2. Trus, komunitasnya yang populer ato yang religius? ga asyik banget kan, kalo kita mo nulis tema-tema Islami tapi ngumpul bareng dengan para penulis liberal yang mengusung ide sepilis dengan jargon l’art pour l’art;
  3. Pilihlah komunitas yang juga punya sistem pembinaan dan kaderisasinya biar keterampilan kita ada penerusnya, geto lho;
  4. Jangan sungkan sharing ide dan kreativitas, kalo kamu males ato pelit berbagi, halah alamat dijauhin, tuh! karena silaturahmi ato silah ukhuwah itu sekaligus silah fikriyah;
  5. Tetap aktif berkarya, biar kamu dan komunitasmu semakin eksis dan berkibar.

di muat di majalah remaja islam Drise Edisi 47

 

Muhammad Shiddiq Ilham Noor “…bukan hanya agent of Change, remaja adalah architec of Change!”

MajalahDrise.com – Segudang prestasi pernah diraihnya. Mulai dari juara lomba penulisan Essay tingkat Propinsi hingga lomba Karya Ilmiah tingkat nasional. Hobynya dalam berorganisasi mencatatkan namanya dalam berbagai kepengurusan di sekolahnya. Bahkan sempat mengantarkanya untuk ikut studi kepemimpinan di negeri kanguru. Dicky, begitu ia biasa disapa. Salah satu siswa berprestasi yang duduk di bangku SMA Islam Terpadu Insantama Bogor. Kang Isa dari Drise, berkesempatan ngobrol dengan doi seputar kondisi pelajar saat ini. Kita simak yuk!

Biasanya setelah UN banyak remaja yang pawai dan corat-coret baju seragamnya. Komentar Dicky?

Wah, kalau ditanya tentang kondisi  remaja saat ini, jelas kita semua akan menjawab tanpa ragu bahwa remaja sedang sakit kronis, kacau balau, dan gak punya arah.Banyak dari saudara-saudara kita yang identitasnya gak jelas karena mudah terbawa arus yang dicekokan oleh peradaban sekuler ini. Gambarannyaseperti kertas dengan mudah terbawa angin. Hanya dengan dasar tak mau dibilang cupu(gak gaul) atau dibilang kuper mereka mengejar semua hal yang membuat eksis. Kalaulagi nge-trend boyband, kerjaanya koleksi lagu/poster boyband. Kalaulagi nge-trend BB (blackbarry), dengan susah payah minta orangtua untuk membelikan BB. Pastrend ganti jadi android, semua remaja berbondong-bondong beli android. Bahkanbatu akik! Yang kalau dulu cuma bapak-bapak, sekarang remaja juga ikut-ikutan, karena lagi nge-trend dan itu semua akan terus berlanjut karena mereka gak punya arah.

Oke, buat sebagian orang contoh tadi memang masih simpel dan cuma kasus sehari-hari. Tapisayangnya kehilangan arah ini menyebabkan dampak yang lebih besar dari sekedar remaja mengejar ‘trend’ yang akhirnya bisa kita katakan remaja sedang sakit kronis. Gimana enggak, ada berapa puluh remaja yang meninggal berkaitan aksi geng motor? Beraparatus remaja yang meninggal karena melakukan tawuran? Beraparatus ribu remaja yang melakukan aborsi akibat seks bebas? Berapajuta remaja yang hidupnya berantakan akibat menggunakan narkoba? Berapabelas juta yang merusak otaknya dengan menyaksikan video porno? Dan itu semua masih sebagian kecil dari permasalahan remaja. Belumditambah bullying, rokok,penyakit dan lain lain. Makatidak salah kalau remaja dikatakan dalam keadaan sakit dan kacau balau.

Untuk coret-coret baju setelah UN, hal ini sepertinya sudah menjadi tradisi turun-temurun kakak kelas-adik kelas. Daritradisi coret-coret baju dapat dikatakan kalau sebagian dari saudara-saudara kita memiliki sifat hura-hura dan cuek pada sekitar. Danhal itu hasil dari terjebaknya saudara-saudara kita dalam kehidupan masa kini yang telah rusak akibat gaya hidup sekuler. Dan sekali lagi ini adalah akibat dari remaja yang tidak memiliki arah dan pijakan dalam bertindak, tidak memiliki penerang dalam mengarungi gelapnya dunia. Dan akhirya berakhir dengan sifat hura-hura mencoret-coret pakaian.

 Ada kasus pelajar yang ‘pesta seks’ setelah selesai UN. Bagaimana menurut Dicky?

Ya, ini juga sebuah budaya tak beradab yang sudah dijadikan tradisi dengan alasan meluapkan rasa senang setelah menyelesaikan ulangan terakhir dalam pendidikan 12 tahun. Banyakdari saudara-saudara kita akhirnya kelewatan batas. Padahaltanpa memperhatikan apapun, pesta seks adalah budaya yang ‘hewani’. Bahkan jauh-jauh hari Islam sudah mengharamkan dengan tegas zina walau hanya mendekatinya dengan cara pacaran. Lalu dengan ngotot sebagian dari kita (remaja) mengatakan kalau masih bisa menahan diri dalam berpacaran. Ternyata hasilnya, budaya seks bebas ini. Allah swt sudah mengingatkan kita, Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isrâ 17)

 Menurut Dicky, sosok pelajar yang baik itu kaya gimana sih?

Menurut saya teman-teman remaja itu dibagi ke beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang telah terjebak dalam kehidupan sekuler yang menjadi pelaku-pelaku bermasalah sebagian besar remaja. Kedua, mereka yang tidak melakukan kerusakan/kebodohan dalam berperilaku tetapi cuek bebek terhadap sekitar, tidak peduli terhadap nasib generasi-generasinya yang sesama dan hanya peduli pada urusan sendiri. Danyang ketiga adalah mereka yang tidak terjebak bahakan malah menjadi remaja yang peduli terhadap sekitar, peduli untuk memperbaiki kerusakan generasinya. Mereka selalu gelisah pada kerusakan yang terjadi pada remaja saat ini. Dan sadar bahwa perbaikannya adalah dengan menghapus kehidupan sekuler dan mengembalikan islam sebagai cahaya kehidupan. Islam sebagai pijakan dan penerang dalam bertindaknya remaja. Dan kelompok ketiga inilah yang menjadi remaja ideal yang seharusnya.

 Bagaimana cara kita memperbaiki kondisi remaja saat ini?

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka” (QS. Ar-ra’du: 11). Untuk memperbaiki kondisi remaja saat ini satu-satunya cara adalah dengan membentuk kelompok remaja yang ketiga tadi. Dengan begitu akan banyak agen-agen remaja yang peduli untuk memperbaiki sesama remaja, makin banyak yang peduli, maka akan makin banyak remaja yang terselamatkan. Dan tentu kuncinya adalah mengajak para remaja untuk kembali kepada cahaya dunia yaitu islam. Yang dengan itu mereka akan mendapat penerangan dalam gelapnya dunia. Karena jelas Islam sudah memberikan kunci keselamatan untuk para remaja dalam mengarungi hidupdan dalam mencari jati diri. Sehingga akan lahir kembali kembali generasi seperti para sahabat Ali bin Abi Thalib, Muhammad alFatih, Zaid bin Tabit, Aisyah binti Abu Bakar dll.

 

Saat ini, kehidupan kita lekat dengan aturan kapitalisme. Menurut Dicky, seberapa bsar aturan ini mempengaruhi remaja?

Sangat dalam. Kapitalisme dengan senjata sekularisme sudah berhasil mengacau balau kondisi remaja saat ini melalui food, film, fashion, dan fun. Remaja jadi terpengaruh dengan budaya barat yang membuang-buang umur. Semua lini kehidupan remaja sudah dimasukin berbagai aturan kapitalisme

 

Menurut Dicky, bagaimana Islam memandang remaja dan memperbaiki kondisinya?

Remaja adalah para manusia yang sudah baligh maka sudah terbebani hukum. Artinya, remaja adalah manusia yang perbuatannya sudah terikat dengan hukum Allah. Maka sudah seharusnya kita sebagai remaja selalu memiliki islam dalam bersandar untuk bertindak melakukan aktivitas sehari-hari. Remaja adalah generasi pelanjut generasi sekarang. Bukanhanya agent of change remaja adalah architec of change. Yang seharusnya bukan menjadi beban dalam kehidupan bermasyarakat melainkan pembawa ide pembaharu dan selanjutnya akan jadi leader di tengah masyarakat. Remaja seharusnya pembawa peringatan terhadap masyarakat rusak. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki remaja  agar mau menjadi perubah adalah membentuk remaja kelompok ketiga yang intinya adalah mau untuk melakukan dakwah. Pendakwahyang dapat menjadi dokter dari penyakit kronis, pendakwah yang menjadi penertib kekacau balauan, dan pendakwah yang menjadi penerang bagi yang tak punya arah. Kitabutuh remaja yang mau berdakwah. Obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri!

Driser, semoga oborolan drise dengan Dicky di atas ngasih banyak inspirasi. Bener banget apa yang dikatakan Dicky, obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri. Remaja yang harus berubah. Remaja yang harus berani berbenah cara berpikir dan berperilakunya agar sesuai dengan Islam. Sehingga bisa melahirkan generasi yang peduli dengan lingkungan dan aktif berdakwah. Saat itulah mereka akan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. #YukNgaji, sampai nanti sampai mati!

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 47