Derap Rantai Episode 19

Majalahdrise.com – Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih.

“Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur.

“Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal.

Perlahan-lahan Jabal berdiri di atas dua kakinya. Kepalanya pening karena berkali-kali ditinju oleh para prajurit hitam tadi. Mutsana datang tepat waktu sehingga Jabal tidak perlu mengalami apa yang dialami oleh tawanan yang lain.

Walau berat, Jabal telah bisa berjalan sendiri. Mereka berdua menyusuri koridor-koridor panjang yang remang-remang itu.

“Kita harus bergegas,” kata Mutsana. “Tempat ini tidaklah aman bagi kita.”

“Bagaimana cara kita keluar dari tempat ini?” Tanya Jabal.

“Tak ada jalan keluar!”

Mata Jabal menatap tajam kepada Mutsana, langkahnya terhenti. Kalimat Mutsana yang pendek itu memang amat mengejutkan. “Apa maksudnya tidak ada jalan keluar?”

Mutsana menoleh ke kedua ujung lorong, dia tetap waspada akan keadaan. “Setelah seseorang masuk ke dalam sini dia tidak akan bisa keluar lagi. Tapi pasti akan selalu ada jalan keluar! Ayo!!!”

kisah sebelumnya

Tangan Mutsana menggandeng lengan Jabal untuk membantunya melangkah. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor yang gelap itu. Pelan-pelan Jabal telah sanggup berjalan sendiri tanpa perlu dipapah lagi oleh Mutsana. Tibalah salah satu hal terberat yang harus mereka lakukan, mendaki anak-anak tangga yang melingkar itu.

Beberapa kali Mutsana harus kembali memapah Jabal. Setelah memerah keringat dan mengerahkan tenaga, akhirnya mereka sampai juga di puncak tangga. Perjalanan belum berakhir, mereka melangkah lagi.

Beberapa orang prajurit hitam berpapasan dengan mereka, namun tak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada mereka. Mereka hanya mendapatkan tatapan mata penuh tanda tanya. Berbeloklah Mutsana dan Jabal, menuju ke bagian lorong yang berbatasan dengan taman yang indahnya seperti surga itu. Di ujung lorong, terkejutlah mereka berdua ketika tiba-tiba muncul sekelompok prajurit hitam. Mutsana mengenali seorang yang berdiri paling depan, dialah prajurit yang tadi disergap oleh Mutsana di tengah-tengah padang pasir.

Prajurit hitam itu mengacungkan telunjuknya lurus kepada Mutsana dan Jabal. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. “ITU MEREKAAA…”

Jantung mereka berdua mencelos, seolah-olah hendak melompat keluar. Dari ujung lorong di hadapan mereka sekelompok prajurit hitam sedang berlari mengejar mereka, sementara mereka terpenjara oleh dinding-dinding lorong. Mutsana bergerak cepat ke depan Jabal. Dia berdiri menghadap dinding yang berbatasan dengan taman, memasang kuda-kuda, berkonsentrasi kepada dinding itu, kemudian menghantamkan tendangannya ke sana. Dinding itu hancur berkeping-keping membentuk sebuah lubang besar.

Jabal melotot takjub, tapi Mutsana langsung merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam lubang di dinding itu, memasuki taman. Mereka berlari sekencang-kencangnya melintasi taman itu tanpa sempat mengagumi keindahannya. Hamparan rumputnya yang hijau sebenarnya amat lembut di kaki mereka, tapi mereka tak bisa merasakannya sebab mereka harus mengambil langkah seribu.

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Jabal bisa berlari dengan cepat, bahkan menyejajari kecepatan lari Mutsana. Mereka berlari bersisian menerjang apa pun yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, taman yang tenang dan damai itu menjadi riuh. Para prajurit hitam yang mengejar di belakang mereka berteriak-teriak.

“TANGKAP MEREKAAA…!!! JANGAN BIARKAN LOLOSSS…”

Para pemuda yang sedang duduk di taman sambil mendengarkan tausiyah dari sang orangtua itu langsung tersentak kaget. Mereka melihat ada dua orang lelaki menghambur ke hadapan mereka sambil berteriak, merekalah Mutsana dan Jabal. Sang Orangtua terlihat heran, alis dan dahinya yang mengkilap berkerut. Tongkatnya teracung sambil meracaukan sesuatu yang tak jelas.

Mutsana mengangkat kepalannya dan menghantamkan tinjunya ke hidung sang Orangtua hingga Orangtua itu jatuh terjengkang dan pingsan. Sementara Jabal mengenali seorang pemuda yang ada di hadapannya, pemuda dengan luka di betis yang berhasil mengelabuinya dan Mutsana di tengah-tengah gurun. Tanpa pikir panjang, Jabal menabrakkan badannya yang besar dan berat ke tubuh pemuda yang sedang duduk di atas rumput itu. Tubuh Jabal menimpa tubuh pemuda itu dan pemuda-pemuda lain yang ada di sekitarnya, persis seperti bola bowling menghantam bidak-bidak pin di ujung lintasan.

Mutsana dan Jabal melanjutkan pelarian mereka melintasi taman indah yang disorot cahaya matahari itu, sementara semakin banyak orang yang mengejar mereka. Taman yang tadinya tenang itu menjadi ribut.

Taman itu berbentuk persegi, disorot langsung sinar matahari, dan sepertinya dia berada di tengah-tengah benteng dengan dikelilingi tembok. Bunga-bunga beraneka warna yang jarang terlihat di daratan Arab bertumbuhan di taman itu. Di sudut-sudutnya ada pilar-pilar tinggi yang berukir dan dilapisi sulur-sulur tumbuhan. Seluruh dasarnya ditutupi rerumputan yang hijau, benar-benar meniru taman surga. Ada sebuah sungai berair jernih yang membentang di tengah-tengah taman itu, dan ke sanalah Mutsana dan Jabal sedang menuju.

Ketika mereka sudah mendekati tepian sungai, mereka menghentikan langkah mereka. Mutsana dan Jabal saling pandang, kemudian mereka menoleh ke belakang mereka hanya untuk mengetahui seolah-olah seisi benteng itu kini sedang mengejar mereka saking banyaknya para pengejar itu. Para pengejar itu semakin dekat.

“Sekarang apa? Jatuhkan diri ke sungai?” Tanya Jabal dengan gusar.

Mata Mutsana terbuka lebar menatap aliran sungai yang deras itu. “Ikuti aku!!!”

Mutsana melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras itu. Tak menunggu lama, Jabal segera melompat mengikuti perintah Mutsana sambil memekikkan takbir. Aliran sungai yang cepat luas itu dengan sigap menyeret tubuh mereka berdua. Mati-matian Mutsana dan Jabal menggerakkan tubuh mereka agar tetap berada di atas air. Mereka membiarkan saja tubuh mereka hanyut dibawa aliran sungai.

Di tepian sungai, para pengejar itu sudah ramai menyoraki Mutsana dan Jabal, namun mereka tidak berani menceburkan diri mereka ke dalam sungai. Mereka mengatakan berbagai hal yang tidak bisa dipahami oleh Mutsana dan Jabal.

Tubuh Mutsana dan Jabal terombang-ambing di atas aliran air yang deras. Mereka menahan napas dan membuka mulut mereka kemudian bernapas dari sana. Di hadapan mereka tegaklah dinding pembatas taman, mereka akan segera terbentur dengan keras ke dinding itu. Namun yang terjadi tidak terduga. Ada lubang menganga di dinding itu, sebuah lubang besar yang gelap. Aliran air sungainya jatuh ke dalam bumi, terjun bebas ke dalam ceruk gelap yang dasarnya tak kelihatan. Tubuh Mutsana dan Jabal terjatuh ditelan kegelapan.

Bersambung

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48

Jadi Muslim Full Time!

Majalahdrise.com – Islam nggak pernah kenal yang namanya kehidupan sekuler. Jangankan kenalan, dicombalingin aja ogah. Sumpeh lho. Lantaran nggak ada sedikitpun kebaikan yang ditelorkan dari gaya hidup sekuler bagi umat Islam. Yang ada justru kemuliaan Islam bakal diinjak-injak kalo Islam disamain dengan agama lain yang cuman ngatur ibadah ritual semata. Allah swt berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Ayat di atas menjelaskan pada kita kalo ajaran Islam itu udah sempurna. Tanpa cacat bin cela. Ajaran Islam punya aturan komplit tentang ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, militer, atau politik sebagaimana kelengkapan aturan ibadah dalam Islam. Semua aturan ini ngasih kebaikan pada manusia di dunia juga di akhirat. Makanya Allah swt memerintahkan umat Islam untuk jadi muslim full time. Terikat dengan aturan Islam dimana saja, kapan saja, dan lagi ngapain aja. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Penting kita catet dan tanam dalam diri kalo pengawasan Allah swt terhadap perbuatan kita itu lintas waktu dan lintas tempat. Nggak ada bedanya antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Jangan dipikir kalo pahala Allah swt cuman bisa kita dapetin di mesjid, majelis ta’lim, atau dipanen saat bulan Ramadhan aja. Keliru tuh. Yang bener, di mana aja dan kapan aja, pahala bisa kita raih asalkan ngikutin aturan hidup Islam.

Kenapa kita mesti ngotot pake aturan hidup Islam? Lantaran setiap amal sholeh yang berbuah pahala maupun amal salah yang berbuah dosa selama hidup di dunia, bakal ada itung-itungannya di akhirat kelak. Kalo saldonya surplus pahala, tiket surga di tangan kita. Sebaliknya, kalo surplus dosa, ya IDL alias Itu Derita Loe di neraka. Nggak deh!

Nah driser, buang jauh-jauh deh mental insyaf sesaat dalam diri kita. Kalo ramadhan kemaren ibadahnya getol, giatin juga di bulan laen. Kalo puasa kemaren sukses menjinakkan hawa nafsu, terusin di bulan berikutnya. Kalo sebelum syawal kita aktif ikut kajian Islam, sekarang jangan ampe kendor. Semuanya kudu dipertahankan terus biar jadi muslim full time yang disayang Allah swt. mau kan? Terus kalo iman kita kedodoran dihantam gaya hidup sekuler di sekitar kita, jangan kembali maksiat ya. Tapi perkuat benteng akidah dengan mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji, Insya Allah gak akan rugi. #YukNgaji! [@hafidz341]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Bulan Ramadhan, Cuman Tren Tahunan

Majalahdrise.com – Bagi masyarakat Barat, kehidupan sekuler itu udah lazim. Yang namanya agama itu, urusannya pribadi banget jadi siapa aja bebas gonta-ganti agama atau malah tidak beragama. Siapa peduli. Kalopun eksis, agama cuman ada di tempat ibadah, saat peringatan hari besar agama, atau dalam upacara pemakaman. Diluar itu, agama kudu minggat dari keseharian. Kalo manusia mau ngapain aja jalanin hidupnya, Tuhan nggak boleh ikut campur ngatur ini-itu. Kecuali kalo manusia jenuh dengan pola hidup materialis yang bikin jiwa kosong melongpong, biasanya baru inget Tuhan biar hatinya ngerasa plong. Itulah nasib agama dalam kehidupan sekuler. Cuman pelengkap doang. Kalo lagi butuh, dicari. Kalo udah nggak butuh, dikucilkan.

Sialnya, bukan cuman masyarakat barat, umat Islam juga banyak yang ikut-ikutan bergaya hidup sekuler dalam kesehariannya. Mereka pikir, ada waktunya berbuat untuk dunia, ada waktunya beribadah untuk akhirat. Kalo lagi di kantor, di sekolah, di tempat hiburan atau di tempat-tempat umum, itu waktunya manusia ngejar kesenangan dunia. Nggak mau ambil pusing dengan aturan agama. Sebaliknya, kalo lagi shalat, puasa ramadhan, atau menunaikan ibadah haji, itu waktunya beribadah. Sementara urusan dunia ditinggalin dulu.

Akhirnya, banyak umat Islam yang hidupnya nggak konsisten pake aturan agama. Syariah islam cuman dianggap penting kalo berurusan dengan ibadah ritual atau masalah keluarga yang berhubungan dengan perkara waris, nikah, talak, cerai, rujuk. Ketika melaksanakan shalat, aurat tertutup rapat. Giliran berangkat ke tempat kerja atau sekolah, auratnya diobral kemana-mana. Saat pergi ke tanah suci, berhati-hati agar semua rukun haji terpenuhi. Tapi dalam menjalankan usaha, menghalalkan segala cara. Dalam urusan ibadah, kita getol sampe pol. Dalam pergaulan malah bebas nggak kenal aturan.

Rupanya, praktek hidup sekular yang udah menghapus jejak-jejak Ramadhan dalam diri mayoritas remaja muslim. Apalagi lingkungan sekitar udah nggak nyetel lagi dengan nuansa ibadah. Sebulan penuh latihan mengendalikan hawa nafsu seolah tak berbekas. Kaya gitu deh jadinya kalo Ramadhan hanya sekedar tren tahunan. Bulan suci disambut dengan sukacita lantaran ada udang dibalik bakwan. Pihak media berlomba-lomba mendulang rupiah di bulan berkah. Setelah berkahnya abis, amalan ramadhan boro-boro dilirik di bulan laen. Dah nggak trendy. Gaya hidup sekuler inilah salah satu bentuk penjajahan budaya barat yang sering luput dari perhatian kita. Remaja muslim dijauhkan dari aturan Islam. Dan kondisi umat Islampun makin terpuruk.

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Hati-hati Bikin Dosa Baru

MajalahDrise.com – Pasca Ramadhan, lingkungan sekitar kita kembali menunjukkan identitas aslinya yang jauh dari nuansa kehidupan Islam. Tontonan religius yang sebelumnya gencar memadati jam tayang premium perlahan mulai hilang ditelan hiburan yang mengumbar gaya hidup hedonis. Kegiatan pengajian yang biasa mengisi hari-hari ramadhan baik di sekolah atau di tempat kerja udah nggak keliatan lagi. Lantunan ayat suci atau nada dering islami yang sering terdengar pun mulai digeser popularitasnya oleh irama lagu-lagu pop. Yup, nadi kehidupan sekular di sekitar kita kembali berdenyut.

Bahkan, saya sempat dapat pengumuman banyaknya orang hilang dari mesjid setelah ramadhan berlalu. Syaf-syaf shalat yang tadinya penuh tinggal sisa dua baris. Itu juga plus imam. Lantunan ayat suci yang kerap mengisi ruang mesjid, tak terdengar lagi. Termasuk yang biasanya pada numpang tidur siang pun tak meninggalkan jejak.

Pengaruh lingkungan sekuler emang dahsyat. Terutama terhadap diri remaja yang gampang gonta-ganti kulit, eh sikap. Prinsipnya dalam berbuat masih sering ngeliat kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Yang lagi trendy, itu yang suka dijadiin pegangan. Perkara pantas atau enggak, itu urusan belakangan. Yang penting nggak ketinggalan jaman dan nggak terkucil dari pergaulan. Makanya nggak heran kalo puasa banyak yang mendadak insyaf dan perhatian ama kegiatan Islam. Karena temen-temennya juga banyak yang mendadak alim. Mulai dari yang getol ikut pengajian sampe busana muslimah yang nggak pernah ketinggalan. Sayangnya setelah lebaran, mayoritas remaja pada sibuk balik ke alamnya masing-masing.

Mereka yang doyan olahraga, sempet ngurangin jadwal latihannya saat puasa. Kini digeber abis-abisan tuh kelenjar keringat. Mereka yang hoby nyicipin makanan, mulai lagi memanjakan lidahnya. Padahal puasa kemaren, setengah hidup nahan nafsu makannya. Remaja putri yang perhatian dengan perkembangan fashion pada cuek dengan menanggalkan busana muslimahnya yang menutup aurat. Sebagai gantinya, dipake deh tuh baju irit bahan model tang top, t-shirt super mini, rok pendek super seksi, atau celana jeans super pendek. Berlomba-lomba mengumbar aurat nandingin kucing yang jalan-jalan gak pake baju.

Dalam urusan cinta, gaya pacaran remaja juga kembali liar. Setelah sempet jaga jarak aman saat ramadhan, ketemu lebaran serasa nyampe garis finish. Terusnya bisa bebas mengekspresikan cintanya. Jalan bareng lagi, mojok lagi berduaan di tempat sepi, pegangan tangan lagi sambil usap-usap bin remas, ya pokoknya begituan deh. Kegiatan baku syahwat yang mendekati zina. Boro-boro inget dosa, apalagi batal puasa. Padahal Allah swt pasti ngeliat dan malaikat Raqib-Atid pasti mencatat. Bakal dapet angka merah tuh di yaumul hisab nanti.

Kaum hawa yang suka ngegos juga mulai keliatan rame lagi membongkar kantong belanjaan gosipnya. Kumpul bareng bigos-bigos laen ngomongin temennya yang salah kostum, tren fashion, sampe isu seleb yang gonta-ganti pasangan. Kedengerannya seru banget sambil cekakak-cekikik-cekukuk. Lupa deh ama bahaya gosip yang bisa bikin bibir dower, hati dipenuhi rasa dengki, dan mental kebal dari rasa syukur. Udah gitu dosa lagi. Idih, mau-maunya!

Budaya premanisme yang sering ditunjukkin kaum adam kembali eksis. Kalo ada masalah, beresinnya pake bogem mentah. Tawuran pelajar di perempatan jalan atau kekerasan saat ospek yang memakan korban lagi-lagi ngisi headline surat kabar. Cacian dan makian juga kerap terdengar saat mengumbar emosi. Kesinggung dikit, langsung nyolot. Perasaan sabar yang dikumpulin saat puasa, habis dalam sekejap terbakar api esmosi.

Hmmm….miris juga ya ngeliat kondisi model gini. Remaja insyaf sesaat di bulan Ramadhan doang. Padahal idealnya, kita tetep kudu mengendalikan nafsu syahwat meski ramadhan udah lewat. Bukan malah aktif lagi bermaksiat. Hati-hati bikin dosa baru!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48