Download Buletin Drise anti Vidi

Hadang Vidi, Lindungi Generasi!

Perayaan Valentine Day alias ViDi paling banyak dinanti di bulan kedua ini. Remaja en remaji sibuk kasak-kusuk cari hadiah untuk sang pujaan hati. Dari sekedar coklat, bunga, boneka cupid, sampe alat kontrasepsi. Hii….ngeri!

Kita nggak bisa berdiam diri. Apalagi cuman jadi penonton sambil sibuk mengomentari. Ayo ambil langkah nyata agar perayaan Vidi nggak ada lagi dalam kamus hidup remaja en remaji. Gempur dengan opini yang menginspirasi. Agar generasi terjaga dari pemikiran liberal dan budaya sesat yang dibenci.

Drise, sebagai majalah remaja Islam peduli dengan kondisi anak muda masa kini. Terutama mereka yang terpapar ide-ide hedonis yang salah satunya berwujud perayaan Vidi. Kami sudah siapkan sebuah buletin anti Vidi untuk dikonsumsi remaja en remaji. Sudah siap cetak dalam bentuk setengah halaman F4 bertajuk HEDONISME VALENTINES DAY!

Kami sudah siapkan dua format file bentuk CDR versi X3 jika akan diedit dan format PDF siap cetak. Kami berharap, buletin ini bisa menjadi ladang pahala kita bersama dengan menyebarkannya edisi cetaknya secara langsung atau sekedar membagikan infonya. Mari hadang vidi dan lindungi generasi! [@Hafidz341]

Link Download format CDR >>
Link Download format PDF >>

Jika buletin ini bermanfaat, silakan share informasinya.

“The world is ours”

drise-online.com – Denting bel tanda sekolah usai, berdentang. Serasa di penjara, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap siswa. Dibeberapa kelas malah terdengar teriakan-teriakan riang dan tawa lepas seolah melepas beban berat untuk hari ini. Sebentar kemudian, anak-anak telah berhamburan keluar kelas.

Oji dan Lulu baru saja usai membereskan buku dan bersiap-siap keluar ruangan ketika Rajib yang belakangan dipanggil Ajibonk, si lelaki tulang lunak yang kerjaannya ngupdate fashion untuk remaja putri dan….ah, si Ajibonk maju kedepan kelas dengan gaya gemulai sambil memegang secarik kertas dengan lengan ditekuk dan ditopang lengan sebelahnya.

“hey hey hey”, Ia menyapu ruang kelas dengan tatapan genitnya. Rambutnya yang mengikuti gaya rambut anak korea dikibas-kibaskannya kesamping. Gayanya yang gemulai mampu mengundang senyum teman-teman sekelasnya. Oji memberengut

“hey hey hey…hey Rajib Singh! Itu kertas apaan? Baca aja cepat”, Oji berkata gusar. Ia bisa menebak, jika Ajibonk datang, alamat kekacauanakan terjadi.

“ihhh, nama eike bukan Rajib Singh, Oji. Rajib. Tapi, akika lebih suka dipanggil ajibonk. Lebih ajib,gitu lhoks”, tangan kanannya yang masih memegang kertas melambai dengan gemulai

“halah…udah, baca cepet!”, Oji makin gusar. Pengen cepat-cepat pulang.

“idihhh, sabar dikit nape? eh, denger baik-baik ya. Eike bacain. Ini pengumuman khusus untuk yang update trending topic dunia ”, Ia menjeda kalimatnya. Memandang kawan-kawannya dengan tatapan genit. Melirik Oji dan Lulu dengan tatapansinis. Beberapa orang yang tak sabar segera berlalu. Yang lainnya juga sudah tak begitu tertarik. Melihat hal tersebut, Rajib buru-buru meralat.

“hey hey hey…perhatian perhatian. Tolong dengerin eike duong…jadi gini lho, pengumuman ini terkait jadwalnonton bareng worldcup 2014!”, Rajib berteriak semangat diikuti wajah cerah yang lainnya.

OjidanLulu saling tatap. “kirain apaan”, Oji nyeletuk.

“emang nape? klo ga suka bola, ya gak usah denger. Sirik aja deh. Urusin tuh Rohis kalianyang…” belum tuntas perkataan Rajib, Oji beringasan memotong kata-kata Rajib

“eh, lu..gue agak aneh juga ada ya cowok gemulai tapi suka bola? Ikut-ikutan untuk eksistensi doing? Biar dibilang gaul? Semuanya denger, Gue bukannya ngelarang nonton bola. Olahraga mah boleh-boleh aja. Gue hanya ngingetin, jangan sampai pada melalaikan kewajiban yang lain karena ikut-ikutan gila bola. Apalagi di bulan ramadhan. Banyak yang lebih bermakna untuk dilakukan dibanding ngabisin waktu buat nonton bola. Bela-belain begadang Cuma buat nunggu bola. Ga mau bela-belain begadang, buat ngabisin malam dengan nyembah Allah.Dan catet ya,catet Ajibonk, gue ga pernah sirik sama acara-acara gituan”, Ojimenuntaskan kalimatnya dan segera berlalu. BersamaLulu yang melangkah keluar di ikuti suara riuh redam teman sekelas yang ramai mengerubuti Rajib.

………………….

“Ji, Neymar tu keren banget ya?”, Lulu seperti mendesis berbicara di samping Oji.

“lu suka bola, Ul?”, Oji menghentikan langkahnya sembari memandang Lulu yang juga balik menatapnya

“nontonbola kan boleh aja, Ji. Yang penting ga melalaikan kewajiban”, sahut Lulu.

“iya sih tapi… kita juga harus mampu nunjukin pribadi yang khas Ul. Kata mas Hadi, meski sesuatu itu boleh, tapi jika berkaitan dengan konspirasi, tetap kita harus jelasin ke teman-teman, Ul. Lu kan tau sepakbola itu bikin orang melalaikan banyak hal.Malah ada yang sampai kejebak pada permainan judi. Judi dibulan ramadhan lagi”, Oji menjelaskan panjang kali lebar. Lulu hanya manggut-manggut.

“world cup sejak kapan sih, Ul?”, Oji bertanya tanpa melihat lawan bicaranya. Keduanya berjalan menyusuri trotoar meninggalkan sekolah mereka. Lulu yang sedang sibuk dengan ponselnya tak begitu menghiraukan pertanyaan Oji.

“Ul??”, Oji mengulang pertanyaannya. Kali ini tangannya sengaja menjambak rambut Lulu yang dibentuk seperti Mohawk tiarap. Ia baru sadar, ada sedikit perubahan pada gaya rambut sahabatnya.

“aihhh, Ji, jangan maen jambak-jambak gitu dooong”, Lulu memprotes sembari menata ulang rambutnyayang baru saja di obrak abrik Oji.

“eh, gaya rambut lu baru cuy!”, tangan Oji kembali bergerak, buru-buru Lulu menepisnya.

“iya dong. Lu tau? Ni gaya rambut Neymar hehehe”, jawab Lulu dengan wajah meringis. Tangan kanannya sibuk mengusap rambutnya kearah depan. Seperti ayam jago kesiram air.

Oji mengerutkan jidat. Kedua keningnya nyaris bertemu.”Neymar?Neymar? Rambut lu kayak ayam jago keluar dari salon, Ul”, Oji senyam senyum memandang Lulu yang cemberut. Ia segera meraih pundak sahabatnya. Menepuknya lalu berkata ”lu demam Ul?”

“demam? Gue sehat-sehat aja”, ia meraba tengkuknya sendiri

“demam sepakbola”,sahut Oji

“oalaaah…kalau sebagai olahraga sih gue suka-suka aja, Ji. Tapi gue ga sampai galau lho ya kalau Neymar kalah”

“iya, tapi kalau udah sampai ikut-ikutan gaya gitu juga, hati-hati, Ul, ntar kelupaan”. Tambah Oji

“ya, galah…”

‘eh, temenin gue di warung Mang Udin yah. Mau beli pesenan emak buat buka puasa ntar”

“oqeylah klo begitu, Bro”

Keduanya tertawa lepas dan sekali lagi, Oji mengobrak abrik rambut Lulu.

………………………..

Oji memasuki gang kecil yang biasa Ia lewati. Sebentar lagi waktu ashar tiba.Beberapa anak terlihat semangat menggiring bola dengan suara riuh. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah yang tak begitu luas untuk bermain. Tak jauh dari situ, sekelompok laki-laki tengah mendiskusikan piala dunia dengan tak kalahsemangatnya. Di tengah-tengah mereka terdapat kertas yang berisi jadwal piala dunia dari group A hingga group H. dari tiga besar, hingga final (hapal banget). Kertas lainnya yang juga berisi jadwal pertandingan piala dunia telah ditempel pada dinding papan pos kamling.

“finalnya kapan, Li?”, Tanya Pak Ilham

“13 Juli, Pak. di Estadio do Maracana, Rio de Janeiro”sahut Ali seperti meracau merapalkan huruf yang terpampang pada jadwal pertandingan

“tau ga, menurut Ronaldo, Brasil akan mampu menjuarai Piala Dunia. Selain karena ini dihelat di kandang sendiri, Pemain andalannya itu lho yang keren. Si Neymar”, sahut Pak eman.

“wah, kalau saya tetap megang spanyol, Mas. Bertaburan bintang. Dari gelandang,bek, ampe penyerang hehe”, Mas Karno si tukang siomay yang lagi cuti selama ramadhan ikut nimbrung.

“kalau gue, yakin jerman yang menang, Bro”, Rio anak Pak RT melengkapi arisan para lelaki di siang menjelang sore. Hingga adzan ashar terdengar, pembahasan sepakbola belum berhenti juga.Oji hanya geleng-geleng kepala. Dimana-mana, trending topic dunia saat ini satu, BOLA. Seperti kata Ajibonk.

……………..

The world is ours, lagu piala dunia ala David correydan Millane Fernandez mengalun menghentak ruangan kelas. Yang muter jelas,Rajib and the gank. Beberapa siswa ikut bersenandung.

Run like you’re born to fly
Live like you’ll never die
Beranilah bermimpi
Menggapai semua cita

We are drawn by the rhythms
That beat through our hearts
Saat kita bersama
Tunjukkan semangatmu

Pada jam istrahat ini, kebanyakan siswa memilih menghabiskan waktu di ruang kelas atau menghabiskan waktu istrahat di taman sekolah. Oji dan Lulu sendiri terlihat sibuk mendiskusikan beberapa rangkaian kegiatan Rohis selama ramadhan ini. Di sudut sana, Rajib dan beberapa anak terlihat ramai. Oji hanya sesekali memandang mereka dengan tatapan sinis.

“eh, Ji.woles aja kali.ga usah panas gitu”

“bête gue liatnya,Ul. Pada curcol aja tuh kerjanya”

“ya, tapi kata mas Hadi, kita jangan terpancing, Ji. Makin ngelunjak klo digituin mah. Tetep dengan kata-kata ahsan”, Lulu senyam senyum berusaha arif. Oji hanya mendengus.

“eh, jadi gimana? besok kita harus memastikan lagi ke Pak Kamarudin. Ya sekedar mengingatkan gitu, agar beliau ga lupa membuka kegiatan rohis kita lusa”, Oji beralih ke pembahasan agenda Rohis

“iya. Panitia lainnya juga kemarin udah rapat. Masing-masing divisi udah merampungkan persiapannya. Tinggal besok, kita ke Pak Kepsek”

“siip. Alhamdulillah, semoga kegiatan kita sukses ya, Ul”, Oji menatap sahabatnya dengan wajah sumringah. Sebagai ketua panitia, ia merasa sangat bertanggung jawab atas kesuksesan kegiatan tersebut.

Di sudut lain, Rajib beraksi. Ia menirukan gerakan samba yang diikuti tawa riuh siswa lainnya..Mereka menyemangati Rajib yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya hingga tiba-tiba, bukkk! Kaki Rajib tak sengaja terantuk kaki meja, tubuhnya terjerembab menghantam kursi. Beberapa teman datang membantu Rajib untuk bangkit. Oji dan Lulu ikut mengerubungi Rajib yang telah didudukkan disebuah kursi. Ia meringis. Pelipisnya lebam. Detik selanjutnya, Ia menangis layaknya anak kecil.

………………….

Pak Kamarudin, wakil kepala sekolah Oji menyetujui permintaan Rohis untuk membuka rangkaian kegiatan Rohis dibulan ramadhan. Rencananya esok hari,sebagai pembukaan, Rohis akan membuat seminar bertajuk ramadhan, tonggak perubahan. Wajah Oji dan Lulu tampak cerah. Keduanya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Ga pake lama, keduanya segera beranjak di ikuti Pak Kepsek nan baik hati. Tiba di pintu, Oji danLulu sekali lagi menyalami lelaki setengah baya itu

“makasih banyak, Pak. Semoga kegiatan Rohis ini bisa sukses”

“sayado’akan, kegiatan kalian sukses. Semoga banyak siswasiswi yang mengikutiacara ini. Saya justru salut dengan kalian”, kata Pak Kepsek sambil menepuk pundak Oji.Setengah membungkuk keduanya akhirnya meninggalkan ruang Kepsek.

………….

Pagi di hari ahad. Seluruh panitia Rohis terlihat sibuk menyiapkan keperluan acara. Mas Hadi, yangakan tampil sebagai pembicara pun sudah standby di TKP sejak pukul delapan. Yang paling cemas jelas Oji. Ketar ketir tiap melirik jam dan beralih ke deretan kursi peserta yang baru beberapa saja terisi. Hatinya ciut. Lulu sesekali menenangkan sahabatnya.

“nyantai aja, Ji. Memperjuangkan kebenaran tuga gampang”

“gue tau, Ul. Teman-teman tuga datang pasti karena nonton Bola. Tu,yang putrinya udah lumayan”, Oji berkata sepertimemelas. Lulu hanya tersenyum. Oji mengarahkan pandangannya kepada Mas Hadi yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan Pak Kamaruddin. Ia melangkah mendekati keduanya,memohon izin untuk memulai acara.

Tepat pukul 09.00, acara segera dimulai. Sambutan Pak Kepsek sungguh membangkitkan kesadaran Oji. Bahwa memperjuangkan kebenaran itu sulit. Bahwa mengajak manusia ke jalankebenaran itu ga sepi dari ujian termasuk susahnya mengajak ummat untuk menghadiri majlis ilmu. Oji menunduk, membenarkan perkataan Kepsek. “Ah, harusnya gue ga boleh apatis”, batinnya. Terlebih materi yang dikemas menarik oleh Mas Hadi. Peserta dibuat antusias karena materi yang sensitive dengan keseharian mereka. Tentang sekolah, life style, fashion hingga football yang sengaja diciptakan untuk memalingkan kaum Muslimin. Bahwa kaum muda saat ini adalah generasi plagiat. Bahwa remaja saat inilebih tertarik dengan kebudayaan barat. Bahwa seluruh upaya barat, berhasil memalingkan kaum muda. Oji seperti teriris. Lulu ga bisa berkata apa-apa. Betapa mirisnya kondisi kaum muslimin. Betapa pedihnya Rasulullah jika menyaksikan ummatnya.

Di luar sana, ratusan bahkan ribuan manusia sedang terlena dengan sepakbola. Menyela kekhusyuan ramadhan. Bulan yang senantiasa dirindukan. The world is ourstak sepenuhnya salah namun akan lebih benar jikadifahami, bahwa dunia kita adalah milik Allah. Bumi ini milik Allah. Manusia hanya numpang. Tolong, fahami kewajiban jika status kitahanya “numpang”.Bukan pemilik. [Juanmartin]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38

TELUNJUK SI MUNGIL ‘ACIFA’

By :As-syifa Azzahra Al-Mustanir.

 

drise-online.com – Disebuah pusat perbelanjaan, seorang ibu menggandeng anaknya, yang baru berusia 3 th. Beberapa pasang mata memperhatikannya. Selain pipinya yang tembem, gamis mungil dan kerudung mungil sebatas dadanya, menarik perhatian beberapa pengunjung Mall, apa lagi warna antara gamis dan kerudungnya senada, warna merah jambu.

“Dek, nanti didalam, dedek gak boleh lari-lari dan gak boleh pisah sama Ummi ya!” gadis kecil itu hanya mengangguk tanda dia setuju, mata beningnya mengerjap-ngerjap. Umminya mengangkat tubuh mungilnya, lalu memasukkannya kedalam trolley belanja. Sejurus kemudian seorang prempuan muda, berlalu dihadapannya dan Umminya, refleks dia bilang.

“Ummi kok keludung tante itu, ukulannya cama kaya’ punya dedek ya?” glekk. Katanya sambil menunjuk wanita tersebut,  wanita muda itu malu dibuatnya, dia mempercepat langkahnya.

“Kok dedek keludungnya halus campai dada mi, mbak itu kok endak?” katanya dengan khas cadel nya.

“Mungkin kain  mbaknya kurang, jadi dipakai seadanya” Kata ibunya sabar.

“Tapi kata Abi gak car’I (syar’i) Mi” Ibunya mengangguk dan tersenyum saja.

“Ummi kok meleka gandengan tangan, meleka udah nikah ya,?” katanya lagi sambil menunjuk sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran.

“Kata Abi kalau olang laki-laki ama pelempuan belduaan halus nikah dulu, kalau endak bica doca (bisa dosa)” Ibunya hanya tersenyum dan mengelus kepala gadis kecilnya.

“Mi’ kok tante itu bedaknya tebel? Umi kok enggak?” dia menunjuk lagi.

“Kan kata abi..bla.bla..bla..”

“Mi’ kok ada tante-tante yang pake’ kludung panjang, ada yang pake’ keludung pendek,” telunjuknya mengayun lagi.

“Kan kata Ummi harus bla..bla..bla” Ibunya hanya membatin Duuh! Jundi kecilku, dari tadi semua orang ditunjuki, udah jadi kritikus handal rupanya, bisa-bisa seisi Mall dia kritik semua.

Tapi dengan rasa sabar umminya menjawab pertanyaan ini itu dari putri kecilnya. Dari atas trolley Tak henti-hentinya telunjuknya mengayun kesana kemari, seolah Mall siang itu kedatangan seorang Hakim. Beberapa orang agak menjauh dari pasangan ibu dan anak tersebut, takut ditunjuk sebagai tersangka pelanggar hukum syari’at.

Dari arah berlawanan seorang ibu menyapa, beliau sedari tadi mendengar celotehan mulut mungil yang membuatnya gemas.

“Assalamu’alaykum adek” sapanya ramah. Seketika Umminya melempar senyuman kepada ibu tersebut.

“Wa’alaykumussalam” Umminya menyentuh lengannya, seolah memberi isayrat bahwa dia harus membalas salam “alaykumcalam” jawab gadis kecil.

“Namanya siapa dek? Kok pinter banget sih ?”Katanya sambil mencubit pipi tembemnya.

“Asyifa” Kata umminya lirih “acifa” gadis kecil mengikuti umminya.

“Wah pinternya berapa tahun bla..bla..bla..”

“Oh terima kasih bla..bla..bla..” Gadis kecil itu pun mulai kebosanan dengan topik umminya, dia menggerak-nggerakkan trolley mengisyaratkan kalau dia ingin segera beranjak pergi, tak mau kereta belanjanya berhenti. Tak cukup sampai disitu, dia pun menarik-narik lengan Umminya, dan sedikit merengek, tapi Umminya tak peduli dan terus berbincang dengan ibu-ibu yang baru dikenalnya. Kesal karena tidak dihiraukan, akhirnya dia berteriak,

“UMMIIIIII….. KATA ABI NDAK BOYEH (BOLEH) GOCIP LAMA-LAMA, AYO PIGI (PERGI)” Sontak Umminya Kaget dan bercampur malu, kini giliran dirinya yang dituding sebagai tersangka. Dia pun terkekeh dengan aksi protes jundi kecilnya itu, akhinya dia berpamitan dengan ibu-ibu tadi. Sambil mendorong kereta trolley dia pun membatin. Lagi-lagi kata Abi, kapan dia bilang kata ummi?.

Siang itu memang Mall agak ramai, maklumlah ini hari jum’at,  kaum adam muslim menunaikan ibadah mingguan, jadi momen ini di gunakan kaum hawa untuk berbelanja, maklumlah yang kerja kantor masih punya waktu panjang untuk istirahat siangnnya. Jadinya ya kaum hawa tumplek blek disini.

“Ummi itu kok ada mac-mac (mas-mas) cekolah, dicini? Mereka ndak jumatan ya ?” Telunjukknya mengarah ke segerombolan anak-anak sekolah yang duduk disebuah  food court.

“Mungkin mereka bukan muslim sayang, jadinya mereka ndak sholat” tapi sekilas Umminya melirik nama almamater yang tertera di seragam sekolah mereka. Ternyata mereka adalah murid MA (Madrasah Aliyah) yang cukup terkenal dikota Malang, salah satu diantaranya memiliki nama depan Muhammad, nah lho, apa mereka bukan muslim?

“Ummi ini udah jum’atan ya? Kok ndak kedengelan adzannya? Kok di Mall ndak ada adjan (adzan) mi?” Wah ini pertanyaan yang berat, tapi bismillah.

“Mungkin Yang punya Mall ini bukan orang muslim, jadi ndak kasih adzan pas waktunya shalat” jawabnya sabar.

“Kenapa bukan olang mucim (Muslim) mi?, kenapa harus bla..bla..bla” wah celotehnya bikin Umminya pusing tujuh keliling. Tahu gini syifa gak usah ku ajak belanja. Gumam Umminya dalam hati.

“Mi Kok malah diputelin (diputerin)  lagu olang (orang) bodo?” ya itu tadi sayang, kan yang punya mungkin bukan orang muslim. Umminya mengajari bahwa, lagu-lagu pop dan lagu-lagu selain lagu nasyid, dan lagu anak-anak adalah lagunya orang bodoh, karena liriknya menjauhkan anak-anak dari fitrahnya sebagai anak-anak dan seorang muslim sejati.

Sedari tadi Syifa sibuk menunjuk orang-orang yang lalu lalang, tak satupun orang yang lolos dari kritikan polosnya termasuk Umminya sendiri, mungkin dia heran dengan orang-orang disekitarnya, karena selama ini Ummi dan Abinya memberikan maklumat bahwa perempuan harus menutup aurat, laki-laki dan perempuan punya batas pergaulan, semua orang harus menjaga lisannya. Begitulah yang diajarkan kedua orang tuanya.

Dan ini memang pertama Kalinya Syifa diajak Umminya ke Mall, sebelum-sebelumnya belum pernah, karena Ummi dan Abinya tidak ingin dia memiliki sifat konsumerisme, sebenarnya Mall bukanlah tempat yang baik bagi anak-anak, karena terlalu sering mengajak anak ke Mall, malah menumbuhkan sifat konsumerisme, bahasa kerennya lapar mata. Karena Syifa dirasa sudah besar dan sudah mengerti bahasa kedua orang tuanya, Umminya memutuskan untuk mengikutsertakannya dalam perburuan mencari bahan pokok satu bulan.

Sampailah mereka di sebuah Hypermarket didalam Mall. Umminya sibuk mencari barang ini itu , sedangkan Syifa ngotot minta turun dari troleynya, tapi tak diijinkan sama Umminya. Akhirnya Syifa merajuk dan hampir menangis, terpaksa dia diturunkan sama Umminya, kalau sudah nangis wah bisa berabe kalau tangisannya meledak dikerumunan orang-orang yang berbelanja, bisa tambah repot nanti. Syifa turun dan menuntun troleynya. Lagi-lagi telunjukknya mengayun ayun bertanya ini itu. Akhirnya Ummu Syifa memiliki ide yang sangat cemerlang yang bisa mencegah Syifa berlari kesana kemari. Dia mengeluarkan 2 lembar brosur Hypermart yang mereka kunjungi

“Syifa bantu Ummi belanja ya” Syifa pun berteriak kegirangan “ Asyiiiiikkkk…..” dia melonjak-lonjak.

“Syifa harus cari barang yang seperti digambar ini” Katanya sambil menunjuk sebuah produk pasta gigi anak “Ini apa?”

“Pata didi (pasta gigi) dedek”

“ini?” ummi nya menunjuk lagi.

“Cucunya (Susunya) dedek”

“Kalau ini?”

“Kopinya abi”

“Pinter anak Ummi” Umminya mengelus kepala mungilnya. Dengan semangat Syifa mencari benda yang seperti gambar ditangannya. Dan anehnya dia tidak mengambil barang selain yang ditujukki Umminya, sekalipun itu ada biskuit kesukaannya.

“Mi dicini cemua halal?” Umminya menjawab dan mengangguk. Umminya mengajarinya untuk memilih makanan dan barang yang ada logo halal atau cangkang hijau bertuliskan Halal dari MUI. Syifa memperhatikan Umminya yang dari tadi memasukkan barang sekenanya kedalam trolley belanja, dia heran kenapa Umminya memasukkan barang sekenanya sedangkan  dia harus menuruti gambar yang ditangannya akhirnya proteslah dia.

“Ummi, kata Abi, Ummi cama cifa ndak boyeh ambil banyak-banyak” Umminya pun terkekeh dibuatnya, ketahuan kalau Umminya sedikit lapar mata, maklum ibu hamil nyidam ini itu. Akhirnya syifa diberi sedikit pengertian kalau, barang-barang kebutuhan satu bulan itu banyak,  bukan hanya yang ada di gambar yang dia pegang saja.

Tiba-tiba syifa berteriak “Ummi itu tante yang tadi, keludungnya ukulannya cama kaya dedek” sontak perempuan yang ditunjuknya itu menoleh, batinnya, anak siapa ini dari tadi sok jadi kritikus. Tapi ketika wanita itu menoleh kearah Ibu si anak tersebut, terkejutlah dia.

“Rani?” Teriaknnya, Ummu syifa diam sejenak, memperhatikan wanita modis tersebut, telujuknya mengacungkan kearah perempuan berkerudung hijau itu,  lalu berkata.

“Rhiema?” baru ingatlah dia dengan lesung pipit yang dimiliki wanita muda itu. mereka pun berteiak histeris dan saling berpelukan erat, tanda bahwa keduanya sudah lama sekali tidak berjumpa.

“Kamu apa kabar?”

“Baik kamu bla..bla..bla” Syifa cemberut memperhatikan Umminya, dia diacuhkan lagi, akhirnya syifa merengek lagi. Khas syifa, menarik lengan Umminya dan mengibas-ngibaskan gamis Umminya, tapi tak diperdulikan juga, akhirnya dia menggunakan jurus terakhirnya

“UMMI JANGAN GOCIP (GOSIP)” Teriaknya, kalau sudah begitu Umminya baru sadar. Syifa diangkat dan diperkenalkan dengan kawan lama Umminya, wanita muda itu mencium dan mecubit pipi tembem syifa.

“Baru satu Ran?”

“Mau dua malah..hehehe” mereka berdua terkekeh.

“Tantenya tabaluj (tabaruj)” Katanya sambil mengacungkan telunjukknya, Umminya sebenarnya segan, tapi kritikus kecilnya itu tak bisa dihentikan mengkritik ini dan itu. Rhima hanya tersenyum dan mencubit pipi syifa lagi.

“Eh kamu tahu enggak siapa Direktur Mall ini?” Tanya perempuan mudah yang bersolek berlebihan. Rani menggeleng

“Emang siapa Rim?” Rima clingukan, seolah dia mencari sesuatu, kepalanya menoleh kekiri dan kekanan, sesekali dia berjinjit. “Cari apa kamu Rim?” Ummu syifa keheranan.

“Kamu kenal kok sama dia, dan pastinya kamu kaget” Katanya tanpa menatap Rani “Nah itu dia” katanya sambil melambaikan tangan kepada seorang laki-laki berdasi dan berkemeja rapi khas seorang eksekutif.

“Hendra sini” Ketika Ummu syifa menoleh, betapa kagetnya dia siapa yang ada dihadapannya. Seseorang yang pernah ada dimasa lalunya, dan hampir menyerahkan hatinya, tapi itu dulu, dulu… sekali sebelum kekecewaan dia torehkan di hati Ummu syifa. Mereka saling melempar senyuman, tapi Ummu syifa tak terlalu menatapnya, malah menjaga jarak, karena kekecewaan demi kekecewaan terlintas satu persatu.

“Baru satu Ran?” Katanya sambil memandang syifa, saat laki-laki itu menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan syifa, tapi syifa menolak, dengan polosnya dia mengatakan.

“Kata Abi Bukan Muhlim, ndak boyeh” mereka semua terbahak dengan penolakan syifa.

“Wah pinter sekali” katanya sambil mengelus kepala syifa, tapi syifa menjauh dan merangkul Umminya, tanda bahwa dia tidak mau disentuh dan merasa tidak nyaman dengan laki-laki asing didepannya.

“Apa kabar Dhea?” Kata Rani tanpa basa-basi,. Tapi laki-laki itu hanya menunuduk dan tersenyum.

“Aku tidak jadi menikahinya” Ummu syifa terkejut dengan perkataannya, “Panjang ceritanya pokoknya” imbuhnya

Perlahan syifa berbisik “Capa mi?” dengan berbisik pula Umminya menjawab “Temen kuliah Ummi”

“Om yang punya Mall ini lho” Candanya kepada Syifa. Spontan syifa bilang.

“Omnya bukan muslim ya “ Katanya sambil mengacungkan telunjuknya. Hendra terbahak dibuatnya.

“Om muslim kok”

“Tapi ndak ada adjan dicini, ga bica cholat” katanya polos, lalu syifa menunjuk ini dan itu, sambil mengkritik satu persatu keadaan Mall yang dia sebutkan didepan umminya tadi

“Cifa ndak cuka” Laki-laki itu terkejut dan mengernyitkan keningnya. Dia menanyakan alasan gadis cilik itu.

“Cemuanya ndak menutup aulat (aurat), cemuanya ndak car’I (syar’i)” Laki-laki tersebut terkaget-kaget dibuatnya bagaimana bisa seorang anak balita, sudah tahu mana yang syar’I dan mana yang tidak. Sedangkan dia sendiri selama ini sudah mengacuhkan hukum-hukum islam yang dulu dia genggam erat-erat. Syifa mulai menunjuk-nunjuk lagi apa yang sedari tadi dia kritikan, dia utarakan semuanya.

“Cifa ndak mau kecini yagi (kesini lagi), nanti Allah ndak lidha (rihda)” Laki-laki itu hanya terdiam, dan betapa malunya dia didepan Umminya.

Tiba-tiba syifa berteriak “Ummi ayo pigi (pergi), kata Abi ndak boyeh cama laki-laki bukan muhlim” Rengeknya, suaranya yang keras, membuat beberapa orang refleks menoleh kearah ketiga orang yang berdiri itu. waduh gawat bisa jadi fitnah ini, syifa benar-benar merasa tidak nyaman dengan Hendra. Gumam Ummu syifa.

“Lho kan ada tante rima, sayang jadi Ummi kan ndak berduaan” kata perempuan yang berkerudung modis yang sedari tadi terdiam dan terkesima dengan pertemuan dua orang sahabatnya dulu, tapi syifa tetap merengek-rengek ingin segera pulang. Karena semua barang yang mereka butuhkan sudah terkumpul akhirnya Ibu dan anak tersebut memutuskan untuk pulang saja.

Dari belakang Hendra hanya bisa membatin. Andai gadis cilik itu darahku.

Ditengah perjalanan menuju pintu keluar Mall, Ummu syifa hanya terdiam dan sudah agak malas menjawab pertanyaan ini dan itu-nya syifa.

Saat keluar dari Mall Abinya Syifa menjemput mereka, sontak Syifa girang karena Abinya datang menjemputnya.

“Kok muka mu be-te gitu Mi, ada apa?” Tanya Ryan.

“Panjang ceritanya bi” Ummu syifa sudah lemas dan malas untuk menceritakannya, tapi kalau tidak diceritakan, pasti suaminya menanyakan terus. Tapi akhirnya ditengah perjalanan Ummu Syifa menceritakan semuanya. Ryan tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Rani.

“Wah jadi Syifa dari tadi menyebut ‘Kata Abi…kata Abi’  hehehe… emang dia anak cerdas siapa dulu donk Abinya”

Katanya bangga. Huh, kalau anaknya pinter aja mirip dia, giliran anaknya bandel mirip aku. Gumamnya Ummi syifa, tambah be-te dia,

“Sebenarnya aku nyuruh kamu ngajak syifa, biar dia juga bisa jadi reminder kamu mi’, sudah tahu anakmu sudah pinter, jadi jangan aneh-aneh,” katanya sambel setengah terkekeh

“Siapa yang aneh-aneh Bi, pertemuan itu kan gak sengaja” Katanya dengan wajah ditekuk.

“Lain kali ajak syifa aja Mi biar dia jadi pengawas Mall dan jadi pengawas mu juga hehehe…” Ryan terkekeh, tak henti-hentinya dia tertawa-tawa.

Tiba-tiba syifa memegang perut Umminya dan bertanya.

“Mi kok dipelut Ummi ada dedeknya? Kok bica mi?” glekk. Ryan menelan ludah dalam-dalam.

“Asyifa sayang, coba Tanya Abi, kan sudah ada Abi jadi sekarang coba Abi suruh jawab?” Kata Rani sambil tersenyum penuh kemenangan. Nah lho harus dari mana Ryan menjawab. Tapi Ryan tetap diam dan menatap lurus ke badan jalan.

“Lho Abi kok diam? Ayo jawab Bi katanya Syifa mirip abi hahaha….” Ryan terdiam dia berpura-pura sibuk dengan kemudinya. []

di muat di Majalah Remaja islam drise Edisi #37

Antara Aku, Mama & Om Fahmi

By: Maya Dewi

 

drise-online.com – “Om bukan siapa-siapa bagiku, om gak berhak mengatur hidupku!” teriakku kepada lelaki paruh baya di hadapanku. Kubalikkan badan dan segera berlari memasuki kamar, dengan kesal kubanting pintu kamarku, braaaakkk… Dari dalam kamar, lamat-lamat kudengar suara tangisan mama diselingi suara Om Fahmi yang menenangkannya.

Aarrgh…kehadiran laki-laki itu telah membalikkan duniaku! Gara-gara dia hubunganku dengan mama jadi dingin, gara-gara dia hubunganku dengan teman-teman satu gank jadi merenggang. Dan gara-gara lelaki brengsek itu juga malam ini aku gak jadi ber-malam tahun baru-an di vila milik papanya Rani.

Dari dulu aku tidak akrab dengan adik kembar papa itu. Ya, meskipun kembar mereka berbeda 180 derajat. Papa orangnya enerjik, punya selera hidup yang tinggi dan juga bankir yang sukses. Sedangkan Om Fahmi hanya seorang peternak sapi dan domba, orangnya pendiam, dan soal selera? huh…ndeso! Aku nggak rela kedudukan papa digantikan orang seperti dia, pokoknya nggak rela!!! Bukk…bukk…bukk, kulampiaskan kekesalanku pada guling dan bantal di kasur.

***

“Vin…” Suara lembut mama membangunkanku, dengan malas kubuka mataku, “Udah pagi ya, ma?”, “Sholat Subuh dulu, yuk! Nanti boleh tidur lagi kalau masih ngantuk.”, aku langsung terduduk, kulirik jam weker di meja belajar masih menunjukkan pukul 5 pagi, “Ah…kepagian! ntar deh setengah jam lagi.” mama menahan tubuhku yang hendak rebahan lagi, “Sayang, sholatlah dulu…”, “Huuh…ya udah, deh.” Sahutku sambil ngeloyor ke kamar mandi.

Selepas sholat kudengar suara mama dan Om Fahmi sedang tilawah Al-Qur’an, hmm…lantunan suara Om merdu juga. Duuh…kok tiba-tiba aku semakin respek sama dia? Wah, ga boleh ini…kalo keterusan ntar aku jadi seperti mama, disihir sama Om jadi karung beras…hiii! Ya iyalah, gimana kagak? Mama yang dulu modis dan sering bergaya ala hijabers, sekarang pakainya gamis yang dia bilang jilbab… udah gitu kerudungnya lebar lagi! Huuh…cupu, gak oke sama sekali! Aku jadi males dijemput mama tiap pulang sekolah seperti dulu , meski sekarang ada Honda Jazz. Daripada jadi bahan cemoohan teman-temanku, mending nebeng Cindy naik Honda Vario, hehehe.

Pelan-pelan aku menyelinap keluar rumah, sambil menenteng sepatu kets aku berniat kabur ke taman kota, janji ketemuan dengan Nico yang kupacari sejak seminggu yang lalu. Kalo sampe Om tau aku punya pacar, wah…bisa kiamat deh! Bodo’ ah, lagian siapa juga yang minta pendapatnya. Aku mau menebus kekesalanku dengan bersenang-senang sama Nico pagi ini, hihihi…

Pagi itu taman kota terasa sepi, tidak seramai biasanya. Mungkin karena libur panjang, sehingga banyak warga yang memilih keluar kota atau mudik ke kampung halaman. Nico mengajakku duduk di sudut taman dekat lapangan tenis. Sejenak kami berbincang ramai, dia cukup kocak sehingga aku bisa tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba…Plakk!!! Tanganku reflek meluncur ke pipinya berbarengan dengan tangannya yang menjamahku, Nico terkejut, akupun begitu. “Vina! Berani-beraninya kamu?” Dia tampak geram. Aku mundur selangkah, “Ke…kenapa kamu menyentuhku?”Suaraku parau, antara kaget dan takut menyatu di dadaku. Dia mendekat mengulurkan tangannya padaku,

“Masak gitu aja gak boleh? Aku kan cowokmu…”

“Tapi bukan berarti kamu boleh menyentuhku…”

“Jangan sok suci, deh… ” Tatapan Nico seakan menelanjangiku

“Aku bukan cewek gampangan.” Sahutku ketus

“Hahaha…dengan pakaian seperti itu? Siapa yang akan percaya? Meski sekarang kau berkerudung, kau masih Vina yang dulu, Vina yang seksi. Aku masih terbayang bagaimana penampilanmu dengan hotpant hitammu, juga saat kamu ikut kontes cheerleaders tahun lalu…”

Mataku nanar, aku jadi tau kenapa dia gak suka melihatku dengan kerudung terjuntai menutupi dada. “Astaghfirullah…” Bisikku spontan

“Mulai ketularan papa tirimu?” Ejeknya saat mendengar bisikanku, Nico maju selangkah demi selangkah. Sedangkan aku tak bisa menghindar karena terhalang tembok di lapangan tennis. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil berdzikir, sesuatu yang akrab di telingaku sejak Om Fahmi hadir di kehidupan mama.

Bukkk… sebuah hantaman terdengar seiring teriakan kesakitan Nico. “Vina, lari!” Teriak seorang pemuda, saat kubuka mataku kulihat Azzam tengah memelintir tangan Nico yang terhuyung-huyung kesakitan. I can’t believe it… di belakang Azzam juga ada Nenek yang segera mengajakku pergi dari tempat itu.

********

Azzam, anak Om Fahmi dari almarhumah istrinya. Sejak Om Fahmi menikahi mama, dia tinggal dengan Nenek di pinggiran kota.

“Entah apa yang mendorong Nenek mengajak Azzam ke kota, ternyata firasat wanita tua ini benar.” Tutur Nenek sambil menunggu pesanan bubur ayam kami disajikan. Aku hanya bisa menunduk lesu, sementara Azzam memilih duduk berjauhan dari kami berdua.

“Vina, inilah salah satu yang mendorong Nenek memaksa Om kamu menikahi mama setelah Papa meninggal. Nenek ingin menyelamatkanmu dan Mama. Hidup kalian dahulu sangat jauh dari Islam, nenek berharap Om Fahmi bisa membimbingmu dan mama.”, aku mendongak hendak protes, tapi nenek terlanjur melanjutkan perkataannya,

“Lihat pakaianmu! Renungkan pergaulanmu!” Tegas beliau. Aku yang biasanya ngeyel hanya bisa diam, peristiwa tadi seakan skak mat bagiku. Sebuah buku berjudul “Beyond Inspiration” karya Felix Y. Siauw yang Beliau ulurkan langsung kusimpan dalam tas. Bubur ayam telah tersaji di hadapan kami, nenek berhenti bertutur. Kami pun sibuk menikmati sarapan pagi itu.

Sepanjang perjalanan pulang tidak ada obrolan apapun, sepertinya nenek memberiku waktu merenung. Dan memang benar, saat itu aku benar-benar merenung. Selama ini, hidupku hanya untuk bersenang-senang, hang out, shopping, nge-gank. Kalo ditanya tujuan hidup? Yaa…apalagi kalo bukan untuk menikmati semua yang telah diberikan Papa padaku. Papa memberiku segala kemewahan dan kebebasan menikmati masa muda.

Sholat sekedar penggugur kewajiban, Al-Qur’an hanya untuk bacaan rutin selepas Maghrib, umroh serasa wisata. Hanya itu Islam yang kupahami. Pakaian? Pergaulan? Mana kutahu kalau Islam juga mengaturnya.

Syukurlah Nenek tidak menceritakan kejadian tadi pada Mama dan Om Fahmi. Setelah berbasa-basi, aku mengurung diri di kamar. Siap menyantap PR bacaan dari Nenek. Nenek mencegah Mama yang hendak menyusulku ke kamar.

***

Aku keluar kamar tepat menjelang Dzuhur, Nenek dan Azzam sudah pulang. Om Fahmi sudah siap berangkat ke masjid. Ragu aku menegurnya, “Om…”

“Eh, Vina. Sholat yuk…” Ujarnya sambil tersenyum hangat, aku berdiri mematung. Om Fahmi melihatku dengan menyelidik, “Ada apa?” Tanyanya,

“Om, Apa benar bahwa kehidupan dunia itu ibarat penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir?” Tanyaku mengutip sebuah hadits di buku yang diberikan Nenek tadi pagi.

Om Fahmi mengernyitkan dahi lalu tersenyum, “Ya, itu hadits Rasulullah. Dan itu pasti benar.”,

“Seorang mukmin terikat dengan semua aturan Alloh di dunia, tidak bisa bebas berbuat semaunya karena dia yakin Alloh selalu mengawasi dan membalas semua perbuatannya.” Lanjutnya.

Aku tertegun, “Berarti…, aku…”

“Kamu masih bisa memilih, bersenang-senang dalam sesuatu yang semu dan sementara? Atau bahagia dalam keabadian?” Jlebb…pertanyaan retoris itu serasa menusukku.

Om Fahmi melihat jam dinding, “Sudah ya? Om mau berangkat ke masjid.” Sebelum Beliau berlalu, kuhadang langkahnya. “Om, Om janji pada Nenek untuk membimbingku. Vina ingin berubah, Om…” Ujarku sungguh-sungguh.

“Promise?” Tanyanya dengan mata terbelalak, “I promise!” Teriakku, Kami tertawa berdua. Mulai detik itu, bagiku, Om Fahmi adalah my best friend.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36