Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti

Majalahdrise.com – Di dalam kamar Rahmat sedang mengenakan sebuah topi bewarna hitam milik ayahnya. Dia mengenakannya dengan bangga dan gagah. Sebenarnya dia tidak tahu topi itu untuk pekejaan apa.

“Siap grak!” perintahnya pada dirinya sendiri dan langsung saja dia membusungkan dadanya. Topi yang ia pakai hampir menutupi matanya karena topi itu terlalu besar.

“Hormat grak!” perintahnya lagi namun tak hanya dia saja yang mengikuti aba aba itu seseorang tiba tiba datang dan berdiri tepat dibelakangnya juga ikut hormat

“ Ayah” sahut Rahmat.

“Wah anak ayah gagah sekali dengan topi itu.” puji Ayahnya Rahmat pada anaknya itu.

“Rahmat kan ingin menjadi seorang jendral.”

“Oh ya?” tanya beliau. Tiba tiba Ayah Rahmat berdiri dengan tegak.

“Kepada jendral Rahmat hormat grak!” Beliau hormat pada anaknya itu dan sang anak pun membalasnya.

“Ayah itu rantang untuk siapa?” tanya Rahmat penasaran sambil menunjuk rantang berwarna putih yang berada tepat disamping kaki ayahnya.

“Ini untuk kakek Udin.”

“Siapa kakek Udin itu Ayah?”

“Kamu mau ikut Ayah untuk mengantarnya tidak ?”

“Mau!” jawab Rahmat antusias.

7 tahun yang lalu Ayah rahmat bekerja menjadi seorang satpam di salah satu mall ternama di kota itu namun semenjak istrinya meninggal dia berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi menjadi seorang penjual keripik singkong walau pun penghasilannya bisa di bilang kurang tapi dia tetap bersyukur karena ada kebahagian lain yang tidak bisa ia dapatkan saat bekerja menjadi satpam yaitu bisa besama lebih lama dengan anaknya itu.

Perjalanan ke rumah kakek Udin tidak terlalu jauh karena itulah mereka memutuskan untuk melakukan perjalnan hanya dengan berjaln kaki. 15 menit kemudian merekapun sampai didepan sebuah rumah yang kumuh, dinding nya ditumbuhi tanaman parasit, jendela dan pintunya pun sudh hampir lapuk.

“Assalamu’alaikum kakek Udin ” Ayah Rahmat memanggil sang pemilik rumah, tak lama orang itupun keluar hanya dengan menggunakan sarung berwarna coklat dan baju kaos oblong, dia tersenyum dan menyambut dengan ramah.

“Wa’alaikum salam eh Imam dan Rahmat, ada apa?”

“Karena ada sedikit rezki belebih saya dan Rahmat ingin memberi sedikit makanan kepada kakek , ini” Ayah Rahmat memberikan rantang itu dan di sambut oleh kakek Udin dengan senyum yang dari tadi tak pernh hilang dari wajahnya. Senyum itu membuat jiwanya tidak seperti kakek-kakek.

“Ini banyak sekali, saya jadi merepotkan” ucap beliau malu.

“Terimakasih ya Imam semoga dagangan nya makin laris.” tukas kakek.

“Terima kasih kembali, kami pulang dulu ya kek assalamu’alaikum.” Rahmat dan Ayahnya pun pulang.

“Ayah kasihan sekali ya kakek itu, rumahnya kumuh”

“Makanya kita harus selalu bersyukur atas apa yang sudah di beri Allah kepada kita caranya ya bisa seperti tadi, saling berbagi.”

“Ayah, Rahmat ngak mau jadi jendral Rahmat maunya jadi seperti ayah saja menjadi pedagang keripik singkong biar bisa berbagi seperti tadi” Rahmat berbicara dengan polos.

“Pekerjaan kamu nanti harus lebih hebat dari Ayah tetapi jadi apapun kamu nanti kamu tetap harus saing berbagi.”

“Iya ayah Rahmat janji.”

“Anak pintar” beliau memelai rambut anaknya dengan lembut.

“Habis ini temanin Ayah ke pasar beli singkong ya.”

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

Merah Saga Bumi Suriah Eps. 2

Majalahdrise.com – Ku lihat beberapa ikhwan melakukan ribath di sekitar markas, ku lihat sebagian lagi melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang begitu merdu dan seolah-olah tank-tank baja yang berjajar rapi disebelah mereka juga ikut merasapi bacaan yang mereka lantunkan. Aku berjalan ke lorong sebelah, maka kudapati beberapa ikhwan sedang membuat peralatan perang, salah satunya ku lihat Hamzah seorang mahasiswa teknik sedang sibuk mendaur ulang granat-granat milik tentara Bashar Assad yang gagal meledak. Hampir setiap hari Hamzah dan timnya merakit sekitar 50 granat yang gagal meledak. Ku lihat lagi Ammar seorang remaja yang berusia 14 tahun sibuk mengotak-atik stick Ipad untuk digunakan sebagai control melempar granat. Pemandangan ini sangat kontras dengan yang ada di Indonesia, jika di Indonesia dengan keadaan yang aman saja Al-qur’an dibiarkan berdebu namun disini Al-qur’an seolah-olah menjadi bacaan wajib yang harus dibaca setiap hari. Di Indonesia banyak pemuda yang terlena dengan aktifitas dunia, namun disini banyak pemuda yang merindukan syahid di jalanNya untuk tegaknya Khilafah. Jangankan di ajak perang, pemuda Indonesia di ajak ke seminar membahas tentang Khilafah sajaterkadang masih ogah-ogahan.Maka sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan yang ada di Suriah.

Syahid Yang Menewaskan

Malam ini suasana begitu mencekam, berkali-kali aku mencoba memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Militer Suriah melakukan teror dengan beberapa kali terbang di kawasan kami. Ternyata mereka mengincar jasad Syaikh Kholid, mereka mencoba memasuki desa Mughoiriyyahyang letaknya tidak jauh dari markas kami,desa yang telah lama sepi ditingggal penduduknya mengungsi dan di desa itulah kami memakamkan jasad Syaikh Kholid beserta syuhada yang lain.Blaaam…. Suara ledakan ranjau kembali mengguncang kawasan kami, beberapa ikhwan segera melakukan penjagaan yang ketat di markas. Markas kami terletak di bawah bukit berbatu yang kami gali dan kami bangunseperti gua namun di dalamnya sepeti sebuah rumah yang penuh dengan persenjataan serta tidak terlihat dari luar. Pasukan mujahidin merangsek sembunyi-sembunyi di tengah-tengah kegelapan malam.“Allahu Akbar”…terdengar pekikan takbir dari ikhwan mujahidin yang melakukan ribath, tidak jauh dari makam Syaikh Kholid. Ternyata suara granat yang meledak itu menewaskan 15 pasukan Bashar Assad yang hendak menggali makam Syaikh Kholid, namun mereka salah gali. Mereka menggali sebuah makam yang bertuliskan nama beliau, namun sebenarnya di makam itu berisi senapan milik Syaikh Kholid. Ikhwan mujahidin sengaja menaruh ranjau di makam tersebut, sebagai ganti atas meninggalnya Syaikh Kholid. Allahu Akbar… inilah syahid yang menewaskan. Walaupun sudah syahid namun nisan yang bertuliskan nama Syaikh Kholid tetap berjasa menewaskan 15 tentara musuh atas izin Allah.

 

Merah Saga Bumi Suriah

15 Muharram 1436 H, sebuah roket dengan kaliber 25mm menghantam kawasan kami, segera kami mempersiapkan pasukan. Begitu pula misi medis dari Indonesia yang di ketua Dr.Abu Hasan juga segera siaga membantu menyelamatkan para mujahidin yang terluka.

“Ihsan… Ihsan… Ihsan…segera masuk dalam barisan” teriak Zubair kepadaku.

“Hamzah…. Siapkan granat dan bom yang kita miliki” Zubair meneriaki kepada pasukan yang membawa granat.

Aku segera masuk dalam jajaran sniper mujahidin, kami maju ke depan menuju desa thirtiyyah, desa terdekat yang diserang pasukan Bashar Assad. belum juga beranjak kami dikejutkan dengan kedatangan helikopter yang mendekat, “wusshhh…Blamm!!” Sebuah bom birmill menghantam jalur yang akan kami lalui, hal ini membuat nafas kami tercekat sesaat. Namun kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk terus maju.

Peperangan pecah dibeberapa titik di Jabal Durin, Jabal Nabi Yunus, Jabal Naubah, Ainul jauzah, dan Kifr maisyuth. Musuh bukan hanya menyusup seperti sebelum-sebelumnya tapi merangsek maju. Mereka sudah membuat perencanaan penyerbuan untuk kembali mengontrol wilayah Jabal Akrod. Pertempuran sengit berlangsung, aku pun terus maju ke depan dan bersembunyi di balik bebatuan. Ku arahkan tembakkan ke tentara musuh. Beberapa tembakan jituku mengenai dada tentara musuh, aku berlari ke depan saat Hamzah terjepit, namun duaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr itu suara terakhir yang aku dengar,,, mataku berkunang-kunang, hanya hitam kelam dalam penglihatanku, nafasku tersengal, dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada diriku.

Saat aku tersadar aku telah tergolek di rumah sakit rahasia milik mujahidin di Lathamna Hama, para petugas medis dari Indonesia menyelamatkanku saat aku terlempar terkena granat. Kakiku kiriku putus dan aku tidak bisa bangun, aku langsung menanyakan hasil dari pertempuran di Jabal Akrod. Mereka mengembangkan senyuman, yang artinya pertempuran dimenangkan para mujahidin. Mujahidin kembali menguasai wilayah tersebut, seketika ku tanyakan kondisi sahabat-sahabatku, Zubair, Hamzah, Ammar kepada Ahmad. Ahmad adalah salah satu tim medis yang menyelamatkanku, dia menyampaikan kepadaku kalau Zubair dan Hamzah syahid di jalan Allah, adapun Ammar masih belum sadarkan diri. Ahamd juga memberikan senapan milik Zubair dan surat yang sudah kotor terkena darah kepadaku.

“Ihsan… saat perang tengah berkecamuk, tiba-tiba Zubair datang kepadaku dan berpesan untuk memberikan surat ini kepada ibunya, kamu diminta untuk memberikannya jika kamu masih hidup dan Zubair berpesan agar aku memberikan senapan miliknya, jika ia lebih dulu syahid mendahului teman-temannya.” tegas Ahmad kepadaku.

“Bagaimana kondisi Zubair, kenapa ia bisa terbunuh?” tanyaku penuh tanya, karena setauku Zubair sangat ahli dalam menembak dan bersembunyi di balik semak-semak.

“Musuh mencoba menguasai Jabal Akrod, seluruh mujahidin mengeluarkan segala upaya untuk mempertahankan wilayah ini, Zubair dan pasukannya maju ke depan dengan kendaraan tank anti baja, mereka mampu memukul mundul tentara musuh sampai tentara Bashar Assad menemui kekalahan, namun tubuh Zubair penuh dengan tembakan. Allah terlalu sayang kepada Zubair dan beberapa mujahidin yang lain termasuk Hamzah, sehingga mereka dipanggil lebih dulu dari pada kita untuk menemui RabbNya. Kemenangan kali ini harus di tebus dengan jiwa-jiwa mujahidin yang darahnya membuat bumi Suriah berwarna merah saga dan menyebarkan aroma wangi penduduk surga yang menusuk jiwa” Sambung Ahmad dengan air mata yang menetes.

Tak terasa aku juga meneteskan air mata, penuh haru namun bercampur gembira. Aku yakin Zubair, Hamzah dan mujahidin-mujahidin yang lain telah berbahagia dengan syahidnya,aku iri dengan mereka yang telah lebih dulu syahid menghadap Rabbnya. Wahai Zubair tidaklah ku ucapkan selamat tinggal untukmu, melainkan sampai bertemu di SurgaNya. Aku bangga kepadamu wahai sahabat-sahabatku, di saat pemuda-pemuda yang lain sibuk akan urusan dunia, kalian menyibukkan diri dengan urusan akhirat. Sungguh tegarnya jiwa kalian yang menetang kedholiman dan peluru-peluru yang dzolim menembus dada kalian. Tapi dengan tegar kalian persembahakan jiwa raga untuk kejayaan revolusi ini. Jiwa kalian berdiri diatas kebenaran, sinaran aqidah telah menuntun kalian untuk bangkit menentang kedholiman. Alangkah sucinya ruh kalian yang telah diangkat malaikat menemui Sang Pencipta Alam. Wahai sahabat-sahabatku sekali lagi tidaklah ku ucapkan selamat tinggal namun selamat berjumpa di tempat yang penuh kebahagiaan, tunggu aku akan menyusul langkah kalian.

Beberapa hari kemudian, aku dan beberapa ikhwan mujahidin memberikan surat Zubair kepada ibunya, namun tidak ada raut kesedihan dalam wajah beliau. Justru beliau tersenyum walau sesekali meneteskan air mata, ya air mata kebahagiaan karena putranya menemui syahid di jalan membela islam. Sejenak aku langsung teringat dengan ibuku, akankah ibuku siap jika aku syahid dalam revolusi ini? Akankah ibuku juga tersenyum mengembang seperti senyum ibu Zubair? Akankah ibuku bangga akan syahid yang aku rindukan?. Aku hanya berharap ibu dan bapakku ikhlas akan langkahku dalam perjuangan ini. Andaikata gelar sarjana tidak bisa aku berikan untuk mereka, maka cukuplah gelar syahid yang aku persembahkan sebagai tanda baktiku kepada mereka berdua.Dan biarlah darahku menggores bumi Suriah dengan warna merah saga.[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

Merah Saga Bumi Suriah

Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.

“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.

Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.

Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan al-ummah turid khilafah islamiyah yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.

 

Pertempuran Di Jabal Akrod

Blaaar… sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.

“Ihsan…. Ihsan… Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.

Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.

Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.

Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.”

Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.

Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.

“Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!” seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.

Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, duaar… duaar… duaar tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan buuuuk…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.

11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.

“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.

“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat

“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.

“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.

“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.

“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.

gleeeek…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.

Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini.  lanjut…….[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

 

Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!

 

Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat.

Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari 0 derajat celcius.

Di dekat jendela kamarnya, Haura masih termangu memandangi lekat-lekat rinai hujan yang terus-menerus menghujami genting rumahnya. Keras, mengalir, membasahi rerumputan yang terhampar di depan beranda rumahnya.

Dari jendela kamarnya, Ia pun menyaksikan sihir itu. Di matanya, Majalengka malam itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi kegundahan dan carut-marut saja.

Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana musim hujan yang membuat Majalengka malam itu begitu penuh kebimbangan. Bukan semata-mata sihir rembulan malam yang membuat Majalengka begitu hitam. Pekat. Menakutkan. Bukan semata-mata rinai hujan yang bening yang membuat Majalengka begitu dingin. Menggigil.

Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menggamangkan adalah karena musim hujan sedang bertandang di hatinya. Hujan kesedihan sedang berguyur deras di sana. Bunga bunga harap di hatinya sedang terkatup tak memekarkan indahnya. Layu.

Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah semua teman yang ada di sekolahnya senantiasa menjauhi dan memberi jarak dengannya.Karena Haura seorang perempuan yang pendek lagi buta.Ia sedih kenapa semua temanyang ada di sekolahnya,hanya memandangnya dari segi fisik tanpa melihat dari segi potensi yang dimilikinya.

Memori ingatannya berputar kembali ke suatu peristiwa, ketika Ia mengungkapkan cita-citanya di depan kelas, bahwa Ia ingin menjadi seorang dosen dan penulis buku yang mendunia. Lantas teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan mengolok-oloknya. Tanpa ampun.

“Haha, dasar pemimpi ulung! Mustahil itu terjadi! Dasar perempuan buta. Perempuan pendek!”

Setetes, dua tetes, air matanya kian mengalir, menganak sungai.

“Aku akan buktikan pada kalian. Aku bisa meraih mimpiku itu. Dan Aku pun akan buktikan. Bahwa cacatku adalah kelebihanku!” desisnya begitu yakin.

“Nak, ada apa denganmu? kok meneteskan air mata?”ucap ibunya menempelkan tangannya di atas pundak Haura. Sontak Haura kaget bukan main.

“Oh ibu, mengangetkan saja. Kirain siapa?” kaget Haura lekas menyeka air matanya.

“Nak , ibu sudah tahu masalah yang menimpamu saat ini,” kata ibunya mengawali percakapan.Haura hanya mengangguk dengan lelehan air mata mengalir dari sudut matanya.

Ibunya tersedu lantas mengayunkan telunjuknya untuk membasuh air mata anaknya yang sedari tadi terus mengalir.

“Nak, dengarkan dan camkan nasehat dari Ibu ini. Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian kitakepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara agar kita bisa ke luar dari kegelapan hidup.”

Lagi-lagi Haura hanya manggut-manggut saja. Tanpa ada kata yang ikut mengiringi. Ibunya hanya tersenyum melihatnya.

“Nak, Seringkali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Ibu yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.”pungkas ibunya kembali tersenyum.

Haura bergeming sesaat.Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya. Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

“Nak, bolehkah ibu mengajukkan sebuah cerita padamu?”ungkap ibunya memotong lirihan Haura.

“Dengan senang hati bu. Boleh,”jawab Haura menerbitkan sebuah senyuman.

“Baiklah. Dengarkan baik-baik ya. Terus Kau ambil dan simpulkan sendirihikmah yang terkandung dalam cerita yang akan ibu ceritakan. Setuju?”

“Setuju!”timpal Haura sangat antusias. Karena Ia sudah tahu, ketika Ibunya bercerita, pasti ceritanya itu berbobot dan dapat menyengat semangat hidupnya.

Ibunya merapihkan posisi duduknya, yang Ia rasa kurang nyaman.

“Alkisah. . . Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.

“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut,” ujar si perempuan.

“Apakah suamimu sudah pulang?”si lelaki berjanggut malah balik bertanya.

“Belum, dia sedang keluar,”balas si perempuan mengernyit.

“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali.”

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istrimenceritakan semuakejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian yang diceritakan si istri, lalu ia berkata pada istrinya,

“Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”

Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka yang sedari tadi tengahmenunggu, untuk masuk ke dalam.

“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,”kata laki-laki itu hampir bersamaan.

“Lho, kenapa?” tanya perempuan itu keheranan.

Salah seorang laki-laki itu berkata, “Nama dia Kekayaan,”katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya,

“dan yang ini bernama Kesuksesan,”sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya,

“sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu!?”

Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran.

“Oh…menyenangkansekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita.”

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.

“Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.

“Baiklah, ajak masuk si Cinta itu ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.” seru sang ayah.

Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu.

“Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silakan masuk!Anda menjadi tamu kita malam ini.”

Si Cinta bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.Ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepadasi Kekayaan dan si Kesuksesan.

“Maaf, Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian berdua ikut juga?”

Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan.

“Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.

Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Sebenarnya kami bisu, dan hanya si cinta yang bisa bercakap.

Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

“Dan itulah ceritanya. Semoga engkau dapat tersadar dan mata hatimu dapat terbuka. Silakan engkau sendiri nak, yang menyimpulkannya!”

Air mata Haura kembali berderai, setelah mendengarkan cerita dari ibunya. Ia sekarang tersadar, bahwa Kekayaan dan Kesuksesan bukanlahfaktor determinan dalam hidup ini. Melainkan cinta-lah yang harus ada dalam setiap perbuatan yang akan Ia lakukan.

Justru keduanya akan berbanding lurus dengan rasa cintanya pada sesama dan utamanya, rasa cintanya pada Dia yang Maha menghembuskan rasa Cinta, pada setiap hati Hamba-hamba-Nya yang beriman lagi mulia.

“Nak, sadarlah! bahwa engkau-lah berlian di hati ibu. Engkau-lah segalanya buat Ibu. Jangan dengarkan dan acuhlah! terhadap celotehan orang-orang pengecut yang sukanya menggembosi semangat hiduporang! Singkaplah tirai dogma itu nak! Kamu bisa! Ibu yakin itu!”ucap Ibunya meletup-letup bak motivator.

Semangat Haura pun seketika tersengat. Aliran darahnyaseketika mendidih. Berlian itu tersadar akan potensi yang dimilikinya. Dan tidak dimiliki orang lain. Ia tidak akan lagi mengkhianati, mengerdilkandan mempercundangi potensi yang ada. Akhirnya, Ia kembalitersenyum penuh keyakinan. Menatap dunia.

Sejurus kemudian, Ia peluk ibunya begitu erat. Air matanya Ia sembunyikan dibalik bahu perempuan yang terkuat se-jagat raya. Ibu.

 

EPILOG

 

UNTUK BERLIAN YANG TERTUTUP!

Wahai berlian yang tertutup!

Memandangmu sungguh menggetarkan mataku. Karena dirimu begitu teguh memegang prinsip hidup yang teramat fundamental.

Walau raga selalu tercaci, engkau balas dengan senyuman tulus penuh arti.

Walau petir ancaman menghujam jantungmu, engkau payungi dengan kesabaran tiada semu.

Walau kegagalan bertubi menghantam diri, engkau bersikeras bahwa kegagalan itu bukanlah akhir, namun awal dari kesuksesan diri.

Walau sumpah serapah memenuhi pundak, engkau bersihkan dengan ikhlas tanpa harus diri menyalak.

Wahai berlian yang tertutup!

Aku tak tahu kata apa yang layak aku sematkan padamu. Karena dirimu bak cahaya di atas ribuan kaca yang menyilau.

Aku tak tahu bait apa yang bisa menggambarkan tentangmu. Karena dirimu sukar tergambar oleh tinta dan kain kanvas di dunia ini.

Aku pun belum bisa bersenandung mengisahkanmu. Karena dirimu adalah bait-bait liar dan irama-irama misteri yang terus mengalunkan melodi-melodi ketegaran.

Wahai berlian yang tertutup!

Hari ini! Menit ini! Dan detik ini juga! engkau harus berani menyingkap tirai dogma yang terus meng-stagnankan hidupmu. Agar kilaumu dapat terlihat dan nantinya membawa manfaat. Agar diri tak lagi dicaci laksana makhluk kerdil yang ternista diri. Agar diri tak lagi dipandang rendah bak sebongkah sampah! Musnah!

Aku tahu. Memulai itu memanglah sulit. Tapi lebih sulit jikalau diri tak mau memulai. Mulailah sekarang juga! Tak apa, meskipun dengan langkah gontai dan merangkak. Mulailah berbenah dari hal yang dianggap kecil, karena suatu yang besar berawal dari yang kecil.

Wahai berlian yang tertutup!

Sibukkan diri dengan perkara yang menjanjikan. Agar kilaumu menjadi sapaan pengetahuan. Agar prestasi yang didambakan terasa mudah untuk didapatkan.

Ayunkan langkahmu. Singkapkan silaumu. Berjalanlah dengan kedua malaikat yang senantiasa hadir menemani langkahmu. Ajaklah mereka untuk bersenandung penuh optimis. Bersahabatlah dengan mereka. Rangkul-lah mereka. Dan bisik-kan pada mereka.

MALAIKAT. AKU BUKAN LAGI BERLIAN YANG TERTUTUP. TRAP! DAN INILAH AKU. BERLIAN YANG PENUH KEMENANGAN.

 

Kelar deh. Ploooong banget euy. Suer.J

O ya maaf ya baru di share sekarang, soalnya kemarin malem lagi disibukkan buat Liqo Syawal bersama Tokoh dan Ulama 1435 H.

Semoga temen-temen enggak pada manyun.J

di muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #41